Tidak Memahami Konotasi Sabda Nabi SAW, Bahwa Khilafah Itu Hanya Berjalan 30 Tahun, Kesalahan Logika Idrus Ramli, ke 5 dari 17

Tidak Memahami Konotasi Sabda Nabi SAW, Bahwa Khilafah Itu Hanya Berjalan 30 Tahun, Kesalahan Logika Idrus Ramli, ke 5 dari 17


Oleh : Ust. Abulwafa Romli
Idrus Ramli Berkata:
 “Pertama, dalam hadits Nabi SAW telah dinubuwatkan bahwa kepemimpinan khilafah hanya berjalan 30 tahun sejak wafatnya beliau. Selanjutnya umat Islam akan dipimpin oleh sistem kerajaan. Hal ini sebagaimana keterangan yang akan kami kemukakan pada bagian berikutnya. Berdasarkan hadits tersebut, banyak ulama salaf memakruhkan menyebut khalifah untuk para penguasa setelah Sayidina Hasan bin Aliradhiyallahu ‘anhuma. Dalam konteks ini, al-Imam al-Qalqasyandi (756-821/1355-1418 M) berkata:

وأما من ينطلق عليه اسم الخليفة فقد ذهب جماعة من أئمة السلف منهم أحمد بن حنبل رحمه الله إلى كراهة إطلاق اسم الخليفة على من بعد الحسن بن على رضي الله عنهما فيما حكاه النحاس وغيره محتجين بما رواه أبو داود والترمذي من حديث سفينة أن رسول الله صلى الله عنه وسلم قال الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك قال سعيد بن جهمان ثم قال لى سفينة أمسك خلافة أبي بكر وخلافة عمر وخلافة عثمان ثم قال أمسك خلافة علي وخلافة الحسن فوجدناها ثلاثين سنة قال سعيد فقلت له إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم قال كذب بنو الزرقاء هم ملوك من شر الملوك

Adapun orang-orang yang dapat menyandang nama khalifah, maka sekelompok dari para imam generasi salaf, antara lain Ahmad bin Hanbal rahimahullah, berpendapat memakruhkan mengucapkan nama khalifah untuk para penguasa setelah Sayidina Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma -(maksudnya sejak Muawiyah bin Abi Sufyan)-, dalam informasi yang diceritakan oleh Imam al-Nahhas dan lainnya. Mereka berhujah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Tirmidzi, dari Safinah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Khilafah setelahku berjalan selama 30 tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan”. Sa’id bin Jumhan berkata: “Lalu Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah masa khilafahnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian hitunglah masa khilafahnya Hasan bin Ali. Maka akan kita dapati semuanya tiga puluh tahun”. Sa’id berkata: “Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya orang-orang Bani Umayyah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka”. Safinah menjawab: “Mereka telah berbohong. Sebenarnya mereka para raja, dan termasuk seburuk-buruk para raja”. (Jurus Ampuh Membungkam HTI, hal. 1-3).

Dan ketika menjawab sebuat kronologi pertanyaan pada bukunya:

“DPP HTI menganggap pernyataan anda keliru bahwa kekhilafahan umat Islam hanya berlangsung tiga puluh tahun, berdasarkan satu hadits, padahal ada hadits lain yang menyatakan bahwa khilafah berjumlah dua belas orang. Bagaimana tanggapan anda?”.

Idrus Ramli berkata:

“DPP HTI menyalahkan pendapat saya, karena mereka kurang banyak belajar kitab-kitab hadits dan akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Pada dasarnya ada dua hadits tentang khilafah yang isinya berbeda secara substansial (dari aspek matan). Hadits pertama, menyatakan bahwa khilafah sesudah Nabi SAW hanya berlangsung 30 tahun:

عن سعيد بن جمهان قال حدثني سفينة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك ثم قال لي سفينة أمسك خلافة أبي بكر ثم قال وخلافة عمر وخلافة عثمان ثم قال لي أمسك خلافة علي قال فوجدناها ثلاثين سنة قال سعيد فقلت له إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم قال كذبوا بنو الزرقاء بل هم ملوك من شر الملوك.

“Sa’id bin Jumhan berkata: “Safinah menyampaikan hadits kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pemerintahan khilafah pada umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan.” Lalu Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah masa kekhilafahan Abu Bakar (2 tahun), Umar (10 tahun) dan Utsman (12 tahun).” Safinah berkata lagi kepadaku: “Tambahkan dengan masa khilafahnya Ali (6 tahun). Ternyata semuanya tiga puluh tahun.” Sa’id berkata: “Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya Bani Umayah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka.” Safinah menjawab: “Mereka (Bani Umayah) telah berbohong. Justru mereka adalah para raja, yang tergolong seburuk-buruk para raja”. (HR Ahmad, [20910] dan Tirmidzi, [2152]).

Hadits di atas sangat jelas, bahwa masa khilafah dalam Islam, hanya berhenti pada masa pemerintahan khalifah keempat, Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, sebagai penyempurna masa tiga puluh tahun pasca wafatnya Rasulullah SAW. Sedangkan pemimpin sesudahnya pada hakekatnya adalah para raja, bukan khalifah, meskipun mereka mengklaim dan menyandang gelar khalifah.

Hadits kedua, menyatakan bahwa umat Islam akan tetap kuat sampai dipimpin oleh 12 orang khalifah. Hadits tersebut teksnya begini:

عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إن هذا الأمر لا ينقضي حتى يمضي فيهم اثنا عشر خليفة كلهم من قريش.

“Jabir bin Samurah ra berkata: “Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya agama ini tidak akan punah kekuatannya sehingga dilalui oleh dua belas orang khalifah yang kesemuanya dari suku Quraisy”. (HR. Muslim, [3393]).

Hadits kedua ini sepertinya bertentangan dengan hadits pertama. Hadits pertama mengisyaratkan bahwa khilafah hanya berhenti pada periode kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra, sedangkan penguasa berikutnya adalah para raja. Sementara hadits kedua, menegaskan bahwa khalifah yang menjadi simbol kekuatan umat Islam ada dua belas. Pertentangan antara kedua hadits ini sangat jelas.

Dalam ilmu ushul fikih, ketika seseorang menghadapi dua hadits yang bertentangan, maka langkah yang harus diambil pertama kali, adalah metode jam’u atau penggabungan antara kedua hadits tersebut. Dari metode ini akhirnya disimpulkan bahwa khilafah nubuwwah itu hanya berlangsung 30 tahun, yaitu masa-masa pemerintahan shahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra. Berdasarkan hadist ini, keempat khalifah tersebut diakui sebagai Khulafaur Rasyidin. Sedangkan para khalifah sesudah mereka, mulai dari dinasti Umayah, Abbasiyah sampai yang terakhir Utsmaniyah, walaupun secara formal mereka disebut khalifah, tetapi pada faktanya adalah raja. Dalam konteks ini, al-Imam al-Baihaqi (384-458 H/994-1066 M) berkata:

وأخبرهم النبي صلى الله عليه وسلم بمدة بقاء الخلفاء بعده، وأشار إلى الملوك الذين يكونون بعدهم من بني أمية، ثم بني العباس فكانوا كما قال.

“Nabi SAW telah mengabarkan kepada umatnya tentang masa kepemimpinan para khalifah sesudahnya, dan mengisyaratkan tentang masa kepemimpinan raja-raja sesudah mereka dari kaum Bani Umayah, kemudian Bani Abbas, dan ternyata mereka seperti apa yang telah beliau sabdakan”. (Al-Baihaqi, al-I’tiqad wa al-Hidayah ila Sabil al-Rasyad, (Riyadh, Dar al-Fadhilah, 1999), hal. 401-403, (edisi Ahmad Abu al-‘Ainain)).

Pernyataan al-Baihaqi di atas sangat tegas, bahwa penguasa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah adalah para raja, bukan para khalifah. Selanjutnya al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi berkata:

باب تسمية الخلفاء الذين نبه رسول الله صلى الله عليه وسلم على خلافتهم بعده وعلى مدة بقائهم، ثم روى عن سعيد بن جمهان عن سفينة، مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك قال لي سفينة: أمسك خلافة أبي بكر وخلافة عمر وخلافة عثمان وخلافة علي فنظرنا فوجدناها ثلاثين سنة.

“Bab menjelaskan nama para khalifah yang telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW tentang kekhilafahan mereka sepeninggalnya serta masa kelangsungan mereka. (Kemudian al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya) dari Sa’id bin Jumhan, dari Safinah, maula (budak yang dimerdekakan oleh) Rasulullah SAW berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Khilafah di dalam umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu kerajaan.” Safinah berkata kepadaku: “Kamu hitung khilafahnya Abu Bakar, khilafahnya Umar, khilafahnya Utsman dan khilafahnya Ali, lalu kita lihat, maka kita dapati tiga puluh tahun” ( Ibid, hal. 467).

Lebih tegas lagi, al-Imam Muhyissunnah al-Baghawi al-Syafi’i (436-510 H/1044-1117 M) berkata:

قوله : الخلافة ثلاثون سنة قال حميد بن زنجوية : يريد أن الخلافة حق الخلافة إنما هي للذين صدقوا هذا الاسم بأعمالهم ، وتمسكوا بسنة رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) من بعده ، فإذا خالفوا السنة ، وبدلوا السيرة ، فهم حينئذ ملوك ، وإن كانت أساميهم الخلفاء ، ولا بأس أن يسمى القائم بأمور المسلمين أمير المؤمنين والخلفاء ، وإن كان مخالفا لبعض سير أئمة العدل لقيامه بأمر المؤمنين وسمع المؤمنين له.

“Sabda Nabi SAW: “Khilafah berlangsung tiga puluh tahun”, Humaid bin Zanjawaih berkata, maksudnya bahwa khilafah yang sebenarnya hanya terjadi bagi orang-orang yang sesuai dengan nama ini dengan tindakan dan perbuatan, dan mereka berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah SAW sesudahnya. Apabila mereka telah menyalahi sunnah dan mengganti perjalanan hidupnya, maka mereka disebut para raja, meskipun nama mereka disebut khalifah. Boleh memberi nama orang yang menjadi penguasa kaum Muslimin dengan nama amirul mukminin dan khalifah, meskipun ia menyalahi perjalanan hidup para pemimpin yang adil, karena ia menguasai urusan kaum beriman dan mereka pun tunduk kepadanya”. (Muhyissunnah al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, (Beirut, al-Maktab al-Islami, 1983), juz 14, hal. 75, (edisi Syu’aib al-Arauth)).

Pernyatan al-Baghawi di atas menyimpulkan, bahwa penguasa yang tidak mengikuti sunnah dalam menjalankan roda pemerintahannya, pada hakekatnya adalah raja, meskipun ia dipanggil khalifah. Oleh karena itu, para ulama menganggap khalifah Muawiyah ra sebagai raja pertama dalam Islam. Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi (849-911 H/1445-1505 M) berkata:

أخرج ابن أبي شيبة في المصنف عن سعيد بن جمهان قال : قلت لسفينة : إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم قال : كذب بنو الزرقاء بل هم ملوك من أشد الملوك و أول الملوك معاوية .

“Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab al-Mushannaf dari Sa’id bin Jumhan. Ia berkata: “Aku berkata kepada sahabat Safinah: “Sesungguhnya Bani Umayah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka”. Safinah menjawab: “Mereka (Bani Umayah) berbohong. Justru mereka adalah para raja, diantara raja-raja yang paling kejam. Sedangkan raja pertama adalah Muawiyah”. ( Al-Hafizh al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, (Beirut, Dar al-Fikri), hal 185).

Dalam hadits di atas, Safinah ra seorang sahabat Nabi SAW, menegaskan bahwa penguasa Bani Umayah itu pada dasarnya adalah para raja dan bukan khalifah. Sedangkan raja pertama dalam Islam adalah Muawiyah bin Abi Sufyan ra. Dalam konteks ini, al-Imam al-Munawi (952-1031 H/1545-1622 M) juga menegaskan dalam kitabnya Faidh al-Qadir:

( الخلافة  بعدي في أمتي ثلاثون سنة ) قال الحافظ في الفتح : أراد بالخلافة خلافة النبوة وأما معاوية ومن بعده فعلى طريقة الملوك ولو سموا خلفاء قالوا : لم يكن في الثلاثين إلا الخلفاء الأربعة وأيام الحسن… ( ثم ملك بعد ذلك ) وفي رواية ثم يكون ملكا أي يصير ملكا لأن اسم الخلافة إنما هو لمن صدق عليه هذا الاسم بعمله للسنة والمخالفون ملوك وإن تسموا بالخلفاء وأخرج البيهقي في المدخل عن سفينة أن أول الملوك معاوية.

“(Khilafah sesudahku di dalam umatku berjalan tiga puluh tahun). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Barri: “Nabi SAW bermaksud dengan khilafah dalam hadits ini khilafah nubuwwah. Adapun Muawiyah dan penguasa sesudahnya, maka mengikuti sistem para raja, meskipun mereka dinamakan khalifah”. Para ulama berkata: “Masa tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi SAW hanya berlangsung dalam kekuasaan khalifah yang empat dan hari-hari pemerintahan Sayidina Hasan… (Kemudian setelah itu berganti kerajaan). Karena nama khilafah itu hanya benar bagi orang yang sesuai dengan nama tersebut dengan cara mengamalkan sunnah. Adapun para penguasa yang menyalahi sunnah, mereka adalah para raja meskipun menamakan dirinya khalifah. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam al-Madkhal dari Safinah, bahwa raja pertama adalah Muawiyah”. (Abdurrauf al-Munawi, Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, [Baeirut, Dar al-Ma’rifah, 1972], juz 3, hal. 509).
Pernyataan di atas menegaskan bahwa para ulama Ahlussunnah Wa-Jama’ah sepakat dan tidak ada yang meralat pernyataan sahabat Safinah ra di atas bahwa Muawiyah adalah raja pertama dalam Islam, karena sesuai dengan hadits Nabi SAW.
… …. ….

Pada bagian selanjutnya, al-Imam Ali al-Qari berkata:

وروى البخاري في تاريخه والحاكم عن أبي هريرة الخلافة بالمدينة والملك بالشام ففيه تنبيه على أن الخلافة الحقيقية ما توجد في مكان صاحب النبوة على اتفاق جمهور الصحابة من أهل الحل والعقد وأنه لا عبرة في الحقيقة بأهل الحل والعقد في غير ذلك المكان ومن أمثال غير ذلك الزمان وإنما ينعقد بطريق التسلط التي تسمى ملكا للضرورة الداعية إلى نظام حال العامة ولئلا يؤدي إلى الفتنة الطامة والله تعالى أعلم. {مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح – (15 / 357)}.

“Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh-nya dan al-Hakim dari Abu Hurairah: “Khilafah itu di Madinah, sedangkan kerajaan di Syam”. Dalam hadis ini ada peringatan bahwa khilafah yang sesungguhnya adalah khilafah yang ada ditempat Nabi SAW (Madinah) atas kesepakatan mayoritas sahabat dari ahlul halli wal ‘aqdi. Dan sebenarnya ahlul halli wal ‘aqdi di selain tempat tersebut dan orang-orang selain masa tersebut tidaklah dianggap khilafah, di mana kekuasaannya hanya terjadi melalui cara perebutan yang dinamakan kerajaan, karena alasan darurat yang mengajak untuk mengatur kondisi masyarakat dan agar tidak membawa pada fitnah yang besar. Wallahu ‘lam”. (Ibid, juz 10, hal. 22).

Pernyataan al-Imam Ali al-Qari di atas menjelaskan bahwa khilafah yang sesungguhnya hanya terjadi pada masa-masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin dan hari-hari pemerintahan Sayidina Hasan bin Ali ra, dimana khilafah mereka dibaiat di Madinah dan dilakukan oleh mayoritas sahabat dari kalangan ahlul halli wal aqdi. Sedangkan penguasa sesudah mereka, sejak Muawiyah bin Abi Sufyan, disebut dengan raja yang menjalankan pemerintahan dengan sistem kerajaan dan pusat pemerintahannya di Syam, sesuai dengan hadits Abu Hurairah tersebut.

Di sisi lain, Muawiyah sendiri juga mengakui kalau dirinya seorang raja, dan bukan seorang khalifah. Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi berkata:

وأخرج البيهقي عن أبي بكرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: خلافة نبوة ثلاثون عاما، ثم يؤتي الله الملك من يشاء، فقال معاوية: قد رضينا بالملك.

“Al-Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah, yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Khilafah kenabian berjalan selama 30 tahun. Kemudian Allah akan memberikan kerajaan kepada orang yang Dia kehendaki”. Muawiyah berkata: “Kami rela menerima kerajaan (bukan khilafah).” (Al-Hafidh al-Suyuthi, al-Khashaish al-Kubra, [Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1985], juz 2, hal. 178; dan Syiakh Yusuf bin Ismail al-Nabhani, Hujjatullah ‘ala al-‘Alamin fi Mu’jizat Sayyidil Mursalin, [Beirut, Dar al-Fikr, tt], hal. 528).

Riwayat di atas menegaskan bahwa Muawiyah rela dan menerima kalu dirinya dianggap sebgai seorang raja, dan bukan seorang khalifah. Sudah barang tentu akan sangat lucu, apabila Muawiyah mengakui kalau dirinya seorang raja, sementara teman-teman aktivis HTI, bersikeras berpandangan bahwa Muawiyah bukan raja, akan tetapi seorang khalifah.
… … …
Dalam riwayat diatas cukup jelas, bahwa sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash ra memanggil Muawiyah dengan panggilan raja, bukan panggilan khalifah. Oleh karena itu, para ulama salaf menganggap masa kekhilafahan sesudah Nabi SAW berhenti pada masa khilafah Ali bin Abi Thalib ra. Imam Sufyan al-Tsauri (97-161 H/716-778 M) berkata:

عن عَباد السماك قال سمعت سفيان الثوري يقول الخلفاء خمسة أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وعمر بن عبد العزيز رضي الله عنهم ومن سواهم فهو مبتزٌّ .

“Abbad al-Sammak berkata: “Aku mendengar Sufyan al-Tsauri berkata: “Para khalifah itu ada lima, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz ra, selain mereka adalah para perampas kekuasaan”. (Sunan Abi Daud [4633], dan Ibnu Abi Hati al-Razi, Adab al-Syafi’iy wa Manaqibuh, [Beirut, Dal al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003], hal. 146).

Senada dengan pandangan Imam Sufyan al-Tsauri, adalah pandangan Imam al-Syafi’iy (150-204 H/767-820 M). Beliau berkata:

عن حرملة، قال: سمعت الشافعي يقول: الخلفاء خمسة أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وعمر بن عبد العزيز رضي الله عنهم.

“Harmalah berkata: “Aku mendengar al-Syafi’i berkata: “Para khalifah itu ada lima, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz ra.” (Ibnu Abi Hatim al-Rozi, Adab al-Syafi’iy wa Manaqibuh, hal. 145; al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’iy, [Kairo, Maktabah Dar al-Turats, tt], juz I, hal. 448, [edisi Ahmad Shaqr]; Ibn Abdil Barr, al-Intiqa’ fi Fadhail al-Aimmah al-Tsalatsah al-Fuqaha’, (Beirut, Dal al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010), hal. 82; dan al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, [Beirut, Muassasah al-Risalah, 1993], juz X, hal. 20).

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H/780-855 M), salah satu ulama salaf dan pendiri madzhab Hanbali, juga berpandangan sama. Beliau berkata:

عن الميموني قال: سمعت أحمد بن حنبل وقيل: إلى ما تذهب في الخلافة؟ قال: أبو بكر وعمر وعثمان وعلي، فقيل له: كأنك تذهب إلى حديث سفينة؟ قال: أذهب إلى حديث سفينة وإلى شيئ آخر.

“Al-Maimuni berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Hanbal ditanya: “Kemana pandangan anda tentang khilafah?” Ia menjawab: “Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” Lalu ia ditanya lagi: “Sepertinya anda mengikuti hadits Safinah?” Ia menjawab: “Aku mengikuti hadits Safinah dan yang lain.” (Al-Baihaqi, al-I’tiqad wa al-Hidayah ila sabil al-Rasyad, hal. 469).

Tiga riwayat diatas memberikan pengertian bahwa para ulama salaf yang shaleh, sekaliber Imam Sufyan Tsauri, Imam al-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal hanya mengakui kekhilafahan Khulafaur Rasyidin dan khalifah Umar bin Abdul Aziz radliyallohu ‘anhum. Dan sebelumnya telah kami kemukakan bahwa banyak ulama salaf yang memakruhkan menyebut khalifah kepada penguasa setelah Sayidina Hasan bin Ali radliyallohu ‘anhuma”. (Jurus Ampuh Membungkam HTI, hal. 8 – 24).

SANGGAHAN:
Sesungguhnya yang tidak adil, kacau, negatif dan destruktif , adalah pemikiran Idrus Ramli yang tidak dapat memahami berbagai pernyataan ulama terkait khilafah ‘ala minhajil muluk, yaitu khilafah Bani Umayah dimana Muawiyah sebagai khalifah pertamanya. Ia membentur-benturkan berbagai pernyataan ulama antara satu dengan yang lainnya. Padahal masalahnya tidak serumit yang disampaikannya. Bahkan ketika cara berpikir Idrus Ramli yang kacau itu dibenarkan, maka akan terdapat ratusan ulama yang disalahkan, hanya karena mengatakan bahwa Muawiyah dan para penguasa  setelahnya sebagai khalifah yang sah secara syar’iy, yang di antaranya adalah Imam Suyuthi dalam kitab Tarikh al-Khulafa’-nya, dimana beliau telah menyebut para penguasa sejak Muawiyah sampai seterusnya sebagai para khalifah, kecuali khilafah Fathimiyyah yang dianggapnya tidak sah.
Padahal kalau kita mau berpikir adil, positif dan produktif, maka langkah yang harus diambil adalah:

Pertama, mengkompromikan hadits Nabi SAW yang menyatakan khilafah itu hanya 30 tahun, dan hadits yang menyatakan akan ada dua belas khalifah. Bahwa yang dikehendaki oleh hadits yang pertama adalah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, atau khilafah yang masih murni berpegang teguh kepada manhaj nubuwwah,  yaitu khilafah rosyidah mahdiyyah. Sedangkan yang dikehendaki oleh hadits kedua adalah para khalifah gabungan dari khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dan khilafah yang sudah menyimpang dari minhaj nubuwwah dan mengikuti minhaj muluk, tetapi hanya terkait sistem warits atau putra mahkotanya, bukan dalam seluruh sistemnya sehingga menjadi menjadi kerajaan (mulkiyyah). Ini menunjukkan bahwa bahwa Nabi SAW juga telah menyebut kepemimpinan pasca al-khulafa’ ar-rosyidiin dengan sebutan khalifah, bukan dengan sebutan raja. Apakah Idrus Ramli berani menyalahkan Nabi saw yang menyebut selain al-khulafa al-rosyidin dengan sebutan para khalifah, dengan dalil pernyataan ulama, seperti Imam Ahmad, yang memakruhkan menyebut khalifah kepada selain al-khulafa al-rasyidin?

Kedua, adalah cabang dari langkah pertama, ketika dua hadits di atas yang kontradiksi bisa dikompromikan, maka sama halnya dengan pernyataan ulama juga bisa dikompromikan, sehingga tidak ada ulama yang disalahkan, apalagi disesatkan. Ulama yang menyatakan bahwa khilafah itu hanya 30 tahun, maksudnya adalah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Ulama yang mengatakah bahwa penguasa sejak Muawiyah adalah para raja, maksudnya adalah khalifah yang sudah seperti raja dalam hal mewaritskan kekuasaannya, bukan berarti raja sesungguhnya, karena sistem pemerintahannya masih tetap sistem khilafah. Dan tidak ada satu ulamapun yang mengatakan, bahwa sistem pemerintahan Muawiyah dan seterusnya adalah sistem kerajaan atau teokrasi (mulkiyyah), kecuali segelintir ulama liberal seperti Ali Abdurraziq dll. Dan ulama yang mengatakan bahwa para penguasa sejak Muawiyah adalah para khalifah, maksudnya adalah sama dengan sebelumnya, yaitu khalifah yang menjalankan sistem khilafah, meskipun sedikit menyimpang. Dengan demikian, kedua pihak tidak ada yang disalahkan, keduanya sama benarnya. Pihak yang mengatakan Muawiyah sebagai raja (seperti raja) dalilnya adalah hadits pertama yang mengatakan khilafah hanya 30 tahun dan setelahnya adalah kerajaan, sedang pihak yang mengatakan Muawiyah adalah khalifah dalilnya adalah hadits kedua yang mengatakan akan ada 12 khalifah yang semuanya dari Quraisy. Padahal khilafah ‘ala minhaj nubuwwah hanya sampai Ali atau Hasan bin Ali, berarti sisanya adalah khilafah ‘ala minhaj muluk, tapi Nabi SAW masih menyebutnya sebagai khalifah. Ini juga berarti, bahwa sistemnya masih tetap sistem khilafah, bukan mulkiyyah.

Ketiga, langkah pendukung, Seperti pernyataan al-Baghawi al-Syafi’i (436-510 H/1044-1117 M), yang telah disampaikan oleh Idrus Ramli:

… … ولا بأس أن يسمى القائم بأمور المسلمين أمير المؤمنين والخلفاء ، وإن كان مخالفا لبعض سير أئمة العدل لقيامه بأمر المؤمنين وسمع المؤمنين له.

“… … Boleh-boleh saja memberi nama orang yang menjadi penguasa kaum Muslimin dengan nama amirul mukminin dan khalifah, meskipun ia menyalahi sebagian perjalanan hidup para pemimpin yang adil, karena ia menguasai urusan kaum beriman dan mereka pun tunduk kepadanya”. (Muhyissunnah al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, [Beirut, al-Maktab al-Islami, 1983], juz 14, hal. 75, [edisi Syu’aib al-Arauth]).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa yang tidak dijalankan oleh khalifah hanya sebagian perjalanan hidup para imam yang adil, seperti sistem warits, bukan semuanya. Akan tetapi kata “sebagian” ini telah dibuang oleh Idrus Ramli dalam terjemahannya. Dan Imam Suyuthi berkata:

قلت: وعلى هذا فقد وجد من الاثني عشر خليفة، الخلفاء الأربعة والحسن ومعاوية وابن الزبير وعمر بن عبد العزيز، هؤلاء ثمانية، ويحتمل أن يضم إليهم المهتدي من العباسيين لأنه فيهم كعمر بن عبد العزيز في بني أمية، وكذلك الطاهر لما أوتيه من العدل، وبقى الاثنان المنتظران أحدهما المهدي لأنه من آل بيت محمد صلى الله عليه وسلم.

“Saya (al-Suyuthi) berkata: Atas dasar pendapat ini, dari dua belas khalifah telah ada para khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Hasan, Muawiyah, Ibnu Zubair, Umar bin Abdul Aziz, mereka adalah delapan khalifah. Dan dapat dikumpulkan kepada mereka, al-Muhtadi dari para khalifah Bani Abbas (khilafah abbasyiyyah), karena pada mereka ia seperti Umar bin Abdul Aziz pada Bani Umayah. Begitu pula at-Thahir, karena keadilannya. Dan masih tersisa dua khalifah yang dinanti-nantikan, salah satunya adalah Imam Mahdi, karena beliau termasuk keturunan Muhammad SAW”. (Imam Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, juz 1, hal. 83, Maktabah Syamilah).

Pernyataan Imam Suyuthi di atas jelas sekali menamai Muawiyah dll. Sebagai para khalifah. Apakah Idrus Ramli berani mengatakan bahwa Imam Suyuthi telah menerjang hukum makruh menamai mereka dengan khalifah? Dan Imam Sufyan al-Tsauri (97-161 H/716-778 M) berkata:

عن عَباد السماك قال سمعت سفيان الثوري يقول الخلفاء خمسة أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وعمر بن عبد العزيز رضي الله عنهم ومن سواهم فهو مبتزٌّ .

“Abbad al-Sammak berkata: “Aku mendengar Sufyan al-Tsauri berkata: “Para khalifah itu ada lima, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz ra, selain mereka adalah para perampas kekuasaan”. (Sunan Abi Daud [4633], dan Ibnu Abi Hati al-Razi, Adab al-Syafi’iy wa Manaqibuh, [Beirut, Dal al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003], hal. 146).

Senada dengan pandangan Imam Sufyan al-Tsauri, adalah pandangan Imam al-Syafi’iy (150-204 H/767-820 M). Beliau berkata:

عن حرملة، قال: سمعت الشافعي يقول: الخلفاء خمسة أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وعمر بن عبد العزيز رضي الله عنهم.

“Harmalah berkata: “Aku mendengar al-Syafi’i berkata: “Para khalifah itu ada lima, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz ra.” (Ibnu Abi Hatim al-Rozi, Adab al-Syafi’iy wa Manaqibuh, hal. 145; al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’iy, [Kairo, Maktabah Dar al-Turats, tt], juz I, hal. 448, [edisi Ahmad Shaqr]; Ibn Abdil Barr, al-Intiqa’ fi Fadhail al-Aimmah al-Tsalatsah al-Fuqaha’, [Beirut, Dal al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010], hal. 82; dan al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, [Beirut, Muassasah al-Risalah, 1993], juz X, hal. 20).

Pernyataan Sufyan al-Tsauri dan Imam al-Syafi’iy yang menjuluki Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, ini menunjukkan atas kebolehan menamai para penguasa kaum muslim sejak khilafah Bani Umayyah sampai khilafah Utsmaniyyah dengan nama khalifah, sebagaimana Nabi SAW juga telah menyebutkan akan datangnya dua belas khalifah. Apakah Idrus Ramli juga berani menyalahkan Imam Sufyan al-Tsauri dan Imam al-Syafi’iy yang menjuluki Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, dan apakah kedua imam itu telah menerjang hukum makruh? Apalagi kalau kita membandingkan Muawiyah sebagai sahabat yang adil dengan Umar bin Abdul Aziz, tentu lebih utama Muawiyah.

Sedangkan terkait pernyataan ulama yang menyebut Bani Umayah dengan sebutan seburuk-buruk atau sekeras-keras para raja, dan raja pertamanya adalah Muawiyah. Maka sebagai keingkaran mereka terhadap khilafah Bani Umayah yang telah merubah khilafah ‘ala minhajin nubuwah menjadi khilafah ‘ala minhajil muluk dalam hal waritsnya. Padahal kesalahan Muawiyah itu hanya satu, yaitu mewariskan jabatan khalifah kepada anaknya, sedang hukum yang dijalankannya tetap hukum Islam dan sistemnya tetap khilafah. Maka dapat kita bayangkan, seandainya para ulama tersebut menyaksikan kondisi kita saat ini, dimana para penguasanya di sampaing sudah tidak memakai sistem khilafah, juga telah menerapkan hukum-hukum kufur dalam pemerintahannya. Maka saya yakin dengan seyakin-yakinnya, para ulama itu akan inkar dengan seingkar-ingkarnya dan mengkafir-kafirkannya, melebihi keingkaran mereka terhadap Bani Umayah yang di dalamnya ada Muawiyah. Sebagaimana telah saya sampaikan pada buku Membongkar Pemikiran Aswaja Topeng, bantahan atas buku Idrus Ramli, Hizbut Tahrir dalam Sorotan.

Dan lebih tidak konsisten dan sangat konyol dan lucu, Idrus Ramli sendiri juga telah menyebut sistem yang dijalankan oleh Muawiyah dan seterusnya sampai khilafah ‘Utsmaniyyah di Turki dengan sebutan khilafah, bukan mulkiyyah (kerajaan/teokrasi). Sekarang perhatikan pernyataan Idrus Ramli berikut: “Akan tetapi setelah jatuhnya khilafah Islamiyah pada abad yang lalu, dan umat Islam tidak lagi memiliki pemimpin tunggal…”. (Jurus Ampuh Membungkam HTI, hal. 115). Dan berbagai pernyataannya yang lain.

Maka apakah Idrus Ramli tidak malu mengatakan, “bahwa Muawiyah rela dan menerima kalau dirinya dianggap sebagai seorang raja, dan bukan seorang khalifah. Sudah barang tentu akan sangat lucu, apabila Muawiyah mengakui kalau dirinya seorang raja, sementara teman-teman aktivis HTI, bersikeras berpandangan bahwa Muawiyah bukan raja, akan tetapi seorang khalifah”. (Jurus Ampuh Membungkam HTI, hal.20-21). Padahal di atas, Nabi saw dan para ulama, termasuk Imam Suyuthi, juga telah menyebut Muawiyah dan Umar bin Abdul Aziz dll. sebagai khalifah.[syariahpublication/voa-khilafah.tk]

Korespondensi Khalifah Bani Umayyah Dengan Raja dan Ratu di Nusantara


Voice of KhilafahM.Hariwijaya  dalam bukunya yang berjudul “Wali Sanga Penyebar Islam di Nusantara” menuliskan mengenai seorang ratu di Pulau Jawa yang masuk Islam. Dia adalah Ratu Shima yang beristana di Kalingga yang berada di daerah Jepara. Ratu Shima diketahui masuk Islam karena pada masa Bani Umayyah, seorang Khalifah yaitu Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari tahun 99-101 H dijumpai bertukar surat dengan Ratu Shima. Sampai saat ini, surat-surat mereka tersimpan dengan baik di MUSEUM GRANADA, SPANYOL. (Masykur Arif, Sejarah Lengkap Wali Sanga, 2013.)


Terkait korespondensi Ratu Sima dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz tersebut. Mari kita telusuri ekspedisi pos di masa itu sehingga bisa terjalin hubungan korespondensi seperti yang dilakukan oleh mereka maupun Raja Srindavarman dari Kerajaan Sriwijaya di Jambi atau sebelumnya dari Kerajaan Sriwijaya yang pernah berkorespondensi kepada Khalifah Mu’awiyah.

Dari dua tokoh kerajaan di nusantara tersebut yang berkorespondensi dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah maupun sebelumnya kepada Khalifah Mu’awiyah dari Kerajaan Sriwijaya juga bisa kita tarik kesimpulan bahwa di masa itu ternyata telah ada jawatan pos walau mungkin sistem posnya belum seperti yang kita dapati saat ini yang sudah canggih dan lebih cepat sampai kiriman surat atau lainnya. 

Jawatan pos sudah ada di masa Khilafah Bani Umayah. Wikipedia menyebutkan bahwa di masa Khilafah Bani Abbasiyah jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. 

Sistem pos hasil karya dunia Muslim disebut caliph Mu'awiyya. Pelayanannya dinamakan barid, diambil dari nama menara yang dibangun untuk melindungi jalan yang dilalui oleh kurir. Sebelum hingga selama abad pertengahan, merpati rumah digunakan sebagai pengantar surat. Ini didasari oleh perilaku alami hewan ini, dimana ketika dia jauh dari rumah/sarangnya, burung merpati bisa menemukan arah untuk pulang. Pesan kemudian diikatkan pada kaki. Selain merpati, dalam sejarah, pesan juga dikirimkan dengan menggunakan papan seluncur, balon, roket, dan macam-macam alat lainnya.

Korespondensi para khalifah bahkan Rasulullah saw ialah dalam upaya penyebarluasan dakwah Islam yang merupakan prinsip politik luar negeri negara Khilafah Islam dalam membangun hubungannya dengan negara-negara lain, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya, dan sebagainya. Pada semua bidang itu, dakwah Islam harus dijadikan asas bagi setiap tindakan dan kebijakan.

Adapun yang menjadi dalil bahwa dakwah Islam (penyebarluasan Islam) sebagai prinsip hubungan luar negeri adalah kenyataan bahwa Rasulullah saw. diutus untuk seluruh umat manusia. Allah Swt. berfirman:

”Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), selain kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan” (QS. Saba' [34]:28).

Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua” (QS. al-A'raaf [7]: 158).

Semua ini menunjukkan prinsip politik luar negeri Islam adalah mengemban dakwah Islam sehingga Islam tersebar luas ke seluruh dunia.

Tokoh-Tokoh Terkait Dalam Korespondensi Dengan Khalifah Bani Umayyah 

» Muawiyah bin Abu Sufyan 

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Bani Umayyah (bahasa Arab: بنو أمية, Banu Umayyah, Dinasti Umayyah) atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya (beribukota di Damaskus) ; serta dari 756 sampai 1031 di Kordoba,Spanyol sebagai Kekhalifahan Kordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah I.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi'ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejakHasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, berbai'at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy'ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan ulung.

» Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul-Aziz (bahasa Arab: عمر بن عبد العزيز, bergelar Umar II, lahir pada tahun 63H / 682 – Februari 720; umur 37–38 tahun)[1] adalah khalifah Bani Umayyah ke-8 yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan merupakan keturunan dari khalifahsebelumnya, tetapi ditunjuk langsung, dimana ia merupakan sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman.

» Ratu Shima

Patung Ratu Shima
Ratu Shima adalah ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur.

Bahkan Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putra mahkotanya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.

Awal mulanya, pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemasyhuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada seorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya walau kemudian hanya memotong kaki sang putera mahkota.[Drs. R. Soekmono, (1973 edisi cetak ulang ke-5 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 37.]

Dalam majalah Eramuslim Digest edisi 10 disebutkan bahwa tidak lama setelah Sri Indravarman bersyahadat, pada tahun 726 M, Raja Jay Sima dari Kalingga (Jepara, Jawa Tengah), putera dari Ratu Sima juga memeluk agama Islam.

» Raja Srindravarman

Sri Maharaja Indra Warmadewa atau Sri Indrawarman merupakan seorang maharaja Sriwijaya, yang namanya dikenal dalam kronik Tiongkok sebagai Shih-li-t-'o-pa-mo. Munculnya nama Maharaja Sriwijaya Sri Indrawarman berdasarkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718.

Kitab al Hayawan
Tercatat Raja Sriwijaya pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. S.Fatimi, seorang sejarawan Malaysia menulis dan dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Islam Nusantara tahun 2002 bahwa ada dua buah surat yang kemungkinan besar ditulis oleh Raja Sriwijaya untuk Khalifah di Tanah Arab. Bagian pembukaan dari surat pertama dikutip oleh al Jahiz dalam bukunya Kitab al Hayawan (Buku Fauna) berdasarkan 3 rantai isnad.
Surat pertama dikirim kepada Muawiyyah, dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (arsip) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umayr yang disampaikan kepada Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang kemudian disampaikan kepada Al-Haytsam bin Adi. Al-Jahiz yang mendengar surat itu dari Al-Haytsam menceriterakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:
Dari Raja Al-Hind yang kebun binatangnya berisikan ribuan gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani ribuan putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu - kepada Muawiyah….
Buzur bin Shahriyar al Ramhurmui pada tahun 1000 Masehi menulis sebuah kitab yang menggambarkan betapa di zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim. Perkampungan itu berdiri di dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Hanya karena hubungan yang teramat baik dengan Dunia Islam, Sriwijaya membolehkan warganya yang memeluk agama Islam hidup dalam damai dan memiliki perkampungannya sendiri di mana di dalamnya berlaku syariat Islam. Jadi semacam daerah istimewa.
Sementara surat kedua—yang terdokumentasikan dalam buku tulisan Ibnu 'Abd Rabbih (246-329 H/860-940 M) berjudul Al 'Iqd al Farid (“Kalung Istimewa”)—isinya lebih lengkap karena di dalamnya terdapat pembukaan dan isi, memperlihatkan betapa mewahnya Maharaja dan kerajaannya. Berikut surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
"Dari Raja sekalian para raja (Malik al Amlak) yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman gaharu, rempah wangi, pala, dan kapur barus, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab (Khalifah Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku."
Ini adalah surat dari Raja Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang baru raja diangkat menggantikan Khalifah Sulaiman (715-717 M).

Khalifah Sulaiman merupakan khalifah yang memerintahkan Thariq Bin Ziyad membebaskan Spanyol. Pada masa kekuasaannya yang hanya selama dua tahun, Khalifah Sulaiman telah memberangkatkan satu armada persahabatan berkekuatan 35 kapal perang dari Teluk Persia menuju pelabuhan Muara Sabak (Jambi) yang saat itu merupakan pelabuhan besar di dalam lingkungan Kerajaan Sriwijaya. Armada tersebut transit di Gujarat dan juga di Peureulak (Aceh), sebelum akhirnya memasuki pusat Kerajaan Zabag atau Sribuza (Sriwijaya).  

Raja Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah pada tahun 100 H (718 M). Ia meminta dikirimkan dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga mengutus salah seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya, Sri Indravarman, seperti yang diminta olehnya. Tatkala mengetahui segala hal tentang Islam, Raja Sriwijaya ini tertarik. Hatinya tersentuh hidayah. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu akhirnya mengucap dua kalimat syahadat masuk Islam menjadi seorang muallaf. Sejak itu Kerajaan Sriwijaya Jambi pun disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha. 
Uang Koin Kerajaan Sriwijaya (Sribuza) Islam

Data-data tentang Islamnya Raja Sriwijaya memang begitu minim. Namun besar kemungkinan, Sri Indravarman mengalami penolakan yang sangat hebat dari lingkungan istana, sehingga raja-raja setelahnya kembali berasal dari kalangan Budha. 

H. Zainal Abidin Ahmad hanya mencatat: “Perkembangan Islam yang begitu ramainya mendapat pukulan yang dahsyat semenjak Kaisar-Kaisar Cina dari Dinasti Tang, dan juga Raja-Raja Sriwijaya dari Dinasti Syailendra melakukan kezaliman dan pemaksaan keagamaan.”‘

Ibnu Taghribirdi dalam bukunya al Nujum al Zahirah fi Muluk Misr wa al Qahirah (“Perbintangan Terang Raja Mesir dan Kairo”) mempunyai tambahan untuk akhir surat kepada Khalifah Umar tersebut: “Saya mengirim hadiah jebat (musk), batu ratna, dupa dan barus. Terimalah dari saudara Islammu.”


Diperkirakan surat di atas diterima Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 100H atau 717 M, di mana Sriwijaya tengah dirajai oleh Sri Indrawarman. Walau dalam surat itu bertulis “saudara Islammu” namun belum ada bukti peninggalan bahwa Sri Indrawarman sendiri (pernah) memeluk Islam. Khalifah Umar bin Abdul-Aziz sendiri kemungkinan besar memberikan hadiah untuk utusan Sriwijaya dan mereka kembali dengan membawa hadiah zanji (budak wanita berkulit hitam).

Membaca surat Maharaja Sriwijaya tersebut membuat kita semakin yakin bahwa sang maharaja sangat percaya diri dan penuh rasa keingintahuan mengenai segala perkembangan dunia internasional kala itu—salah satunya agama Islam yang baru muncul seabad pada waktu itu. karena, sebagaimana dimaklumi, bahwa para pelaut dan pedagang Sriwijaya (dan Nusantara lainnya) telah menjalin hubungan perniagaan dengan pedagang Timur Tengah, India, dan Cina, dengan Selat Malaka sebagai jalur sutra.

Ada satu hal lain yang bisa disimpulkan dari adanya surat-surat Raja Sriwijaya kepada dua khalifah Bani Umayyah tersebut, yakni persentuhan orang Sriwijaya (Melayu) dengan ajaran Islam. Selain sumber Arab yang ditulis oleh Ibn Hordadzbeh sejak tahun 844-848 M mengenai Sriwijaya, surat-surat tadi mencerminkan betapa Islam telah dikenal, setidaknya, oleh raja Sriwijaya pada abad ke-8, lima abad sebelum Kerajaan Samudra Pasai berdiri di ujung barat Sumatra. Di sini timbul dugaan bahwa terdapat kemungkinan bahwa setidaknya, sejak abad ke-8 M, ada sejumlah rakyat Sriwijaya (Sumatra) yang telah memeluk Islam walau dalam jumlah yang sangat kecil—selain pedagang-pedagang Arab dan Persia yang bermukim, baik untuk sementara atau seterusnya, di pesisir-pesisir utara Sumatra.

Dan bila memang demikian, maka bukan hal mencengangkan jika penduduk Sumatra (Melayu) telah lebih dulu memeluk  Islam jauh sebelum Wali Sanga menyebarkan ajaran tersebut di Jawa. Tak hanya di sumatera, seperti disebutkan M.Hariwijaya dalam bukunya Wali Sanga Penyebar Islam di Nusantara, seperti dikutip oleh Masykur Arif dalam bukunya Sejarah Lengkap Wali Sanga, Mei 2013. bahwa Masyarakat Jawa sebelum datangnya Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik/Makdum Ibrahim Asmarakandi), sudah sedikit banyak mengenal agama Islam. Hal ini didasarkan pada adanya seorang raja di Pulau Jawa yg masuk Islam, yaitu Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga di Jepara-Jawa Tengah.


Memasuki abad ke-14 M, Sriwijaya memasuki masa muram. Invasi Majapahit (1377) atas Sriwijaya menghancurkan kerajaan besar ini. Akibatnya banyak bandar mulai melepaskan diri dan menjadi otonom. Raja, adipati, atau penguasa setempat yang telah memeluk Islam kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan Islam kecil. Beberapa kerajaan Islam di Utara Sumatera pada akhirnya bergabung menjadi Kesultanan Aceh Darussalam. [dari berbagai sumber | www.voa-khilafah.com | @alfatihzone1453]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL