Ribuan ABG Ternyata Tidak Bahagia, Ada Apa?

Ribuan ABG Ternyata Tidak Bahagia, Ada Apa?

Dari hasil penelitian, diketahui sekitar 500 ribu anak-anak di bawah 15 tahun di Inggris ternyata tidak bahagia. Dari hasil riset Good Childhood pada 6.000 anak-anak berusia 8-15 tahun, terungkap kisah tentang anak-anak di masa modern ini dan saran supaya hidup mereka lebih indah. Yang mencemaskan, dari riset ini adalah satu dari 11 anak mengaku tidak bahagia dengan hidup mereka. Riset itu juga mencuatkan kenyataan bahwa akar dari kebahagiaan untuk anak-anak adalah rasa tenang dan nyaman di rumah. Di sisi lain, mereka juga menyatakan benda-benda tertentu punya dampak signifikan seperti kehadiran iPod, televisi kabel, dan ‘baju keren’ untuk membuat anak-anak senang. Kendati begitu, lembaga tesebut menegaskan bahwa kualitas hubungan anak dan keluarga jauh lebih penting. Ketenangan dan rasa damai dari rumah tak kalah utama. Anak-anak yang mengalami perubahan atau guncangan dalam keluarga dua kali berpeluang mengalami penurunan kualitas hidup. Secara keseluruhan, anak-anak yang tinggal dengan orang tua kandung dalam satu rumah punya peluang berkembang lebih baik ketimbang anak-anak yang tinggal dengan keluarga asuh yang lain. Bagaimana dengan keluarga Anda? (republika.co.id, 13/01/2012)
Kehidupan modern liberal ternyata telah mengakibatkan kehidupan keluarga menjadi hampa.  Bagaimanapun, hubungan kasih sayang orang tua ke anak tidak bisa digantikan oleh benda-benda elektronik, karena kasih sayang melibatkan perasaan, emosi, perhatian yang tidak bisa dilakukan oleh benda mati. Aturan Islam telah menetapkan bahwa  wanita yang telah menikah berkewajiban sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.  Ibu yang bertugas mengasuh mendidik dan menjaga putra-putrinya, memberikan kasih sayang kepada keluarga, sehingga tercipta keluarga yang harmonis dan bahagia.  Dus, menjadikan aturan Islam dalam berkeluarga adalah suatu keniscayaan, bagi orang yang mendamba bahagia di dunia maupun di akherat.

Pemborosan Anggaran Cermin Kegagalan Demokrasi

Problem multidimensi mulai kelaparan dan kekurangan gizi, kemiskinan, kemelaratan, kebanjiran, dsb tengah mendera masayrakat dan mendatangkan kesengsaraan dan malapetaka bagi mereka. Satu contoh kecil, di kabupaten Lebak Banten, ada 22 jembatan yang sangat penting bagi warga rusak diterjang banjir. Diantaranya jembatan ‘indiana jones’ di atas sungai Ciberang yang menghubungkan Kampung Ciwaru, desa Sangiang Tanjung kecamatan Kalanganyar dengan kampung Cikaray desa Pasir Tanjung kecamatan Rangkasbitung. Di jembatan ini, murid-murid sekolah saat pulang dan pergi sekolah harus menyeberangi sungai dengan bergelantungan meniti jembatan gantung yang miring.
Ironisnya, di tengah kondisi masyarakat yang dibelit berbagai problem itu, kepada kita dipertontonkan pemborosan anggaran di berbagai lembaga negara ini dan bahkan diantaranya terkesan berlomba-lomba dalam kemewahan. Fakta itu sungguh sangat melukai perasaan masyarakat dan melecehkan nurani kemanusiaan.
Pemborosan Uang Rakyat
Pemborosan uang rakyat bukan monopoli instansi atau lembaga tertentu. Pemborosan itu terjadi di berbagai institusi baik eksekutif, legislatif ataupun yudikatif.
Misalnya, di DPR, baru-baru ini terkuak adanya berbagai proyek fantastis. Diantaranya: renovasi ruang rapat Banggar Rp. 20,3 miliar, renovasi toilet Rp 2 miliar, proyek perawatan gedung DPR sebesar Rp 500 miliar, finger print Rp 4 miliar, renovasi ruang wartawan Rp 700 juta, dan proyek lainnya. (lihat, suarakarya.com, 19/01).
DPR juga merencanakan sejumlah proyek pengadaan untuk tahun anggaran 2012. Totalnya mencapai Rp 73,7 miliar. Laman www.lpse.dpr.go.id memuat rinciannya: 1. Pemeliharaan halaman Gedung Zona B Rp 1,8 miliar. 2. Pemeliharaan halaman Gedung Zona A Rp 2,13 miliar. 3. Cleaning service Gedung Zona A Rp 5,38 miliar 4. Cleaning service zona C Rp 4,71 miliar. 5. Cleaning service zona B Rp 4,87 miliar. 6. Service kompleks rumah jabatan di Kalibata Rp 36,3 miliar. 7. Konsultan manajemen, ruang persidangan beserta fasilitas pendukung di wisma Griya Sabha, DPR, Kopo, Bogor Rp 4,88 miliar 8. Pencetakan Majalah Parlementari Rp 2,97 miliar. 9. Pencetakan Buletin Parlementaria Rp 3,59 miliar 10. Pemeliharaan dan perawatan medis dan biaya makan hewan rusa di DPR Rp 589 juta. 11. Pengadaan tenaga produksi TV Parlemen DPR Rp 1,19 miliar. 12. Pengadaan pengharum ruangan Rp 1,59 miliar. 13. Outsourcing helpdesk Rp 287 juta. 14. Langganan jasa internet Rp 3,47 miliar. (lihat, news.okezone.com, 17/1).
Mahkamah Agung (MA) pun turut berlomba memperlihatkan kemewahan. Untuk anggaran 2012 terdapat anggaran pengadaan mebel sembilan ruang pimpinan dan ruang sidang mencapai Rp 11,4 miliar. Selain itu, pembelian mebel dua ruang rapat, yaitu Ruang Wirjono dan Ruang Murdjono Rp 1,8 miliar. Total anggaran untuk pengadaan meubel dan ruang rapat jumlahnya mencapai Rp 13,2 miliar. (Lihat, suarakarya.com, 19/01).
Sementara di lingkaran pemerintahan juga terdapat berbagai indikasi anggaran yang boros dan tidak efektif. Data FITRA memperlihatkan, anggaran Setneg tahun 2012 mencapai Rp 80,4 miliar. Padahal, pada 2011 hanya Rp 8,8 miliar. (Lihat, mediaindonesia.com/20/1). Indikasi pemborosan itu juga terlihat dari realisasi penyerapan APBN 2011 yang hingga September baru 26,9% namun di bulan desember mencapai 90%. Dalam dua bulan realisasi penyerapan APBN meningkat 60%, luar biasa! Semua besar kemungkinan tidak efektif dan berpeluang besar terjadi penyelewengan. Ini hanya sebagian inidikasi, yang sebenarnya mungkin jauh lebih besar.
Penyebab dan Modus
Salah satu sebab yang mendasar adalah sistem politik demokrasi yang berbiaya mahal. Para politisi memerlukan biaya besar, mencapai miliaran per orang, untuk membiayai proses politik. Dana itu bisa berasal dari dana sendiri atau dari cukong para kapitalis. Akibatnya para politisi menggunakan segala cara untuk mengembalikan modal itu bagi dirinya sendiri dan cukongnya, ditambah keuntungan. Diantara modusnya, fasilitas langsung seperti fasilitas kunjungan, dan sejenisnya. Atau melalui proyek-proyek yang aneh besaran anggaran, jenis proyek atau prosesnya. Proyek-proyek fantastis di atas bisa jadi termasuk modus ini. Contoh lain, pengadaan mesin foto copy di DPR yang mencapai Rp 8,86 miliar yang pembukaan lelangnya dilakukan Oktober lalu. Bisa juga dengan modus merencanaan proyek tertentu yang tak jarang sekaligus ditentukan perusahaan pelaksananya. Apa yang terungkap dalam masalah mafia anggaran yang melibatkan anggota dewan mengungkap modus ini. Jadlah, politisi dan pejabat hanya mengabdi demi kepentingan sendiri, kelompok dan para cukong yang mendanai proses politiknya. Kepentingan rakyat hanya diperalat. Jika pun kadang-kadang diperhatikan, tak labih itu sekedar untuk penyesatan agar mereka terkesan memperhatikan kepentingan rakyat.
Semua itu makin parah dengan adanya nafsu hedonis pada diri para politisi dan pejabat. Mumpung masih menjabat, mereka gunakan fasilitas senyaman dan semewah mungkin. Barangkali itulah yang bisa ditangkap dari anggaran suplemen penambah stamina untuk DPR yang mencapai Rp. 800 juta; atau renovasi ruangan Banggar, dan renovasi dan pengadaan mebel di MA yang mencapai 11 miliar.
Lebih mendasar lagi, semua itu mencerminkan tipisnya keimanan dan ketakwaan pada diri mereka. Mereka tak lagi ingat akherat. Dunia telah menjadi tujuan mereka.
Sistem Islam Solusinya
Pemborosan uang rakyat itu sangat sulit, jika bukannya mustahil, diselesaikan dalam sistem politik demokrasi. Sebab sistem politik demokrasi yang mahal biaya justru menjadi akar penyebabnya. Untuk menyelesaikannya, sistem demokrasi yang mahal itu justru harus ditinggalkan. Sebagai gantinya Sistem Islam yang memang memiliki solusi untuk semua problem itu harus diterapkan. Islam memiliki hukum-hukum terkait dengan pembelanjaan harta negara yang memberikan panduan dan batasan sehingga pembelanjaan harta negara tidak mengikuti kehendak penguasa dan para politisi seperti dalam sistem demokrasi saat ini.
Al-‘Alamah syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dari hasil elaborasi hukum-hukum syara’, beliau menyusun enam kaedah pembelanjaan kas negara (an-Nizhรขm al-Iqtishรขdรฎ, hal.235-237, cetakan mu’tamadah.2004) yaitu: Pertama, harta zakat hanya dibelanjakan kepada delapan ashnaf yang telah ditentukan di dalam al-Quran. Kedua, Pembelanjaan untuk melaksaksanakan kewajiban jihad. Pembelanjaan ini adalah wajib dan tidak tergantung ada tidaknya harta. Ketiga, pembelanjaan untuk kompensasi jasa yang diterima negara seperti gaji pegawai, dsb. Pembelanjaan ini wajib dan tidak tergantung ada dan tidaknya harta. Keempat, Pembelanjaan bukan sebagai kompensasi, tapi untuk kepentingan rakyat yang jika tidak dilakukan atau ditunda akan bisa menimpakan dharar atau kesulitan bagi rakyat. Contoh, untuk pembangunan sarana vital, jalan, jembatan, rumah sakit, dan fasilitas yang sangat diperlukan lainnya. Pembelanjaan in juga wajib dan tidak tergantung ada tidaknya harta. Jika harta yang ada tidak cukup, diwajibkan pajak untuk menutupinya. Kaedah ini menempatkan pembangunan sarana dan fasilitas vital bagi masyarakat sebagai prioritas yang tak bisa ditawar-tawar. Dengan kaedah ini perbaikan semacam jembatan indiana jones yang ada di lebak tidak boleh ditunda. Kelima, bukan merupakan kompensasi, tapi merupakan kemaslahatan rakyat, yang jika ditunda tidak menyebabkan dharar bagi masyarakat. Misalnya, pembangunan jalan tambahan, dsb. Pembelanjaan ini hanya dilakukan jika ada dana dan setelah terpenuhi pembiayaan yang wajib dan dharurat. Jika tidak ada maka tidak perlu dipungut pajak untuk membiayainya. Keenam, pembelanjaan untuk menanggulangi bencana dan emergensi. Pembelanjaan ini harus dikeluarkan tidak tergantung ada dan tidaknya harta. Jika tidak ada harta atau kurang maka dipungut pajak untuk menutupinya.
Dari keenam kaedah itu, maka sebagian besar atau malah seluruh proyek fantastis diatas tidak termasuk diantaranya. Kalaupun dipaksakan masuk, mungkin termasuk kaedah kelima. Dalam pandangan syariah, pembelanjaan untuk semua itu tidak menjadi prioritas bahkan bisa diabaikan sama sekali. Dengan kaedah pembelanjaan kas negara seperti itu, maka munculnya proyek-proyek aneh dan fantastis seperti yang sekarang muncul, justru menjadi aneh dan bisa dicegah.
Disamping itu, sistem politik Islam prosesnya tidak membutuhkan biaya yang mahal. Para pejabat dan politisi tidak akan berambisi mengejar balik modal seperti dalam sistem politik demokrasi saat ini. Begitu juga, paradigma politik Islam bertumpu pada ri’ayah (pemeliharaan) urusan rakyat, dan bukannya berkutat dan fokus pada kekuasaan seperti paradigma politik saat ini. Dengan paradigma itu para polisi akan lebih berjuang demi kemaslahatan rakyat. Lebih dari itu, dalam sistem Islam, ketakwaan pejabat, politisi dan rakyat akan senantiasa dijaga dan dibina. Ketakwaan bersama itu akan mencegah semua bentuk pemborosan uang rakyat sampai seminimal mungkin bahkan hilang sama sekali.
Namun semua itu hanya bisa terwujud jika Syariah Islam diterapkan secara utuh dalam bingkai sistem politik Islam yaitu Khilfah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Untuk itu tepat kita renungkan firman Allah SWT:
ูˆَู„َูˆْ ุฃَู†َّ ุฃَู‡ْู„َ ุงู„ْู‚ُุฑَู‰ٰ ุขู…َู†ُูˆุง ูˆَุงุชَّู‚َูˆْุง ู„َูَุชَุญْู†َุง ุนَู„َูŠْู‡ِู… ุจَุฑَูƒَุงุชٍ ู…ِّู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู„َٰูƒِู† ูƒَุฐَّุจُูˆุง ูَุฃَุฎَุฐْู†َุงู‡ُู… ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS al-A’raf [7]: 96).
Wallรขh a’lam bi ash-shawรขb. []

Komentar Al Islam:

Komisi IV yang membidani pertanian, kehutanan dan kelautan meminta jatah 50% atau Rp. 4,33 triliun dana bansos dari Kementerian Pertanian. DPR berasalan akan digunakan untuk mengakomodasi aspirasi daerah (mediaindonesia.com, 24/1).
1.    Motiv sebenarnya adalah politik untuk memperoleh dana politik untuk pencitraan demi pemilu 2014. Itu akal bulus seperti dana aspirasi dulu.
2.    Kepentingan rakyat hanya diperalat. Itulah karakter politik dan politisi sistem demokrasi yang berbiaya mahal.
Pengemudi mobil yang menabrak 13 orang, 9 orang diantaranya tewas, di Tugu Tani Jakarta Pusat , Minggu (22/1), berpesta narkoba dan menenggak minuman keras sebelum kecelakaan (mediaindonesia.com, 23/1)
1.    Rasul saw sudah mengingatkan: “Khamr merupakan kuci semua keburukan”.
2.    Karena itu peredaran narkoba dan miras harus dibabat habis.
3.  Selamatkan masyarakat dari ancaman keburukan akibat miras dan narkoba dengan Syariah Islam dalam bingkai Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

[Al Islam 591]

Muslim Entrepreneur Forum, Pengusaha memperjuangkan Khilafah

Para Sahabat Rasulullah merupakan orang-orang dijamin masuk surga. Mereka merupakan contoh terbaik dari kaum muslimin, selain mereka tetap teguh dalam berislam mereka juga teguh berjuang menegakan Dinul Islam keseluruh penjuru Dunia. Diantara para Sahabat Rasul itu mereka diantaranya Pengusaha.
Dari latarbelakang tersebutlah Hizbut Tahrir Indonesia menyelenggarakan Muslim Entrepreneur Forum (MEF) 2012, kamis (26/01) di Gedung Smesco Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran pengusaha muslim Indonesia.
Menurut ketua panitia MEF, Fahmi Sodri, untuk membangun bisnis yang berkarakter yaitu ada tiga pertama berkat. ”Berkat itu maksudnya membangun bisnis supaya profit dan bekerlanjutan. Kedua, berkah itu hanya bisa dicapai ketika menyelesaikan bisnisnya sesuai dengan Syariat Islam,” jelasnya.
“Dan yang ketiga yaitu kita ingin gugah kepada para pengusaha muslim. Mereka juga harus berperan serta dalam perjuangan dakwah islam ini,” tambahnya.
Sebanyak 1500 pengusaha dari seluruh Indonesia termasuk juga peserta luar negeri dari Malaysia dan Australia turut menghadiri kegiatan Muslim Entrepreneur Forum 2012.“Yang kami inginkan yaitu terbentuknya komunitas pengusaha muslim yang berkomitmen untuk membangun bisnis yang berkat dan berkah dan turut serta memperjuangkan syariah dan khilafah,” tegasnya.
Kegiatan ini juga telah disiarkan langsung melalui video streaming di web www.hizbut-tahrir.or.id 

Pertama di Dunia, Ribuan Pengusaha Berkumpul Bicarakan Syariah dan Khilafah

Sekitar 1500 pengusaha berkumpul tetapi bukan untuk membicarakan bisnis, mereka hadir  dalam Muslim Entrepreneur Forum 2012 di Gedung Smesco Jakarta, pada Kamis (26/1) ini untuk membicarakan hal yang lebih besar.
“Kita berkumpul di sini untuk memicarakan hal yang lebih besar dari bisnis yakni penegakan syariah dan khilafah!” ujar DPP Hizbut Tahrir Indonesia Heru Binawan dalam sambutannya.
Heru yang juga seorang pengusaha konsultan stategic planing dan pilantropi ini menegaskan bahwa pertemuan ini lebih besar dari sekedar pertemuan bisnis antar pengusaha karena syariah Islam telah menjelaskan bahwa akad-akad transaksi bisnis yang dilakukan pengusaha sehari-hari di bandingkan dengan akad  untuk mengangkat seorang khalifah adalah perbandingan antara amal mubah dan wajib.
“Sudah menjadi perioritas amal seorang Muslim, berarti termasuk kita para pengusaha, untuk mendahulukan amalan wajib dari pada amalan sunah atau pun mubah,” ujar salah satu pemilik percetakan di Jakarta ini.
Oleh karena itu, lanjut Heru, Hizbut Tahrir Indonesia mengadakan forum ini adalah untuk menyamakan frekuensi dan persepsi tentang kondisi riil yang sedang dihadapi oleh kaum Muslim pada umumnya dan pengusaha pada khususnya, menyamakan frekuensi dan persepsi para pengusaha kepada syariah Islam, menyamakan frekuensi dan persepsi pengusaha ke depan dalam dalam memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah.[] joko prasetyo

Pengusaha Pejuang Syariah dan Khilafah

Muslim Entrepreneur Forum 2012 merupakan forum pertama di dunia. Dimana para pengusaha muslim tidak hanya berbicara tentang bisnis. Namun didalam kegiatan ini para pengusaha muslim berkomitmen dan mendukung serta mengambil bagian dalam dakwah Islam.
Sebanyak 1500 pengusaha muslim diseluruh Indonesia menghadiri kegiatan Muslim Entrepreneur Forum (MEF) 2012, Kamis (26/1) di Gedung Smesco Jakarta.
Saat Konferensi Press bersama Insan Media. Fahmi Sodri, Ketua Panitia MEF menyatakan kalau acara ini bertujuan untuk membentuk pengusaha yang berkarakter, berbisnis berkah dengan berbisnis sesuai dengan Syariah Islam, serta menjadi pejuang syariah dan khilafah sebagaimana sahabat Abdurrahman bin Auf.
Sedangkan, Ismail Yusanto Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia menyampaikan kalau Hizbut Tahrir berusaha sebanyak mungkin untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut memperjuangkan khilafah.
”MEF merupakan salah satu kegiatan Hizbut Tahrir yang intinya adalah Hizbut Tahrir sebanyak mungkin mengajak lapis masyarakat untuk turut serta dalam partisipasi memperjuangkan penegakkan syariah dan khilafah,” jelasnya.
Kegiatan ini juga menampilkan beberapa tayangan visual, drama balada sang pengusaha, serta mempertunjukkan musik orkestra. Dan disiarkan langsung melalui tayangan Streaming di Web www.hizbut-tahrir.or.id.[]fatih mujahid

HTI: Pengusaha Muslim pun Wajib Perjuangkan Tegaknya Syariah!

Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto menyatakan bahwa pengusaha Muslim pun wajib berjuang untuk menegakan syariah.
“Pengusaha Muslim juga adalah seorang Muslim yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Apa jadinya ketika kita menghadap Allah SWT, kita absen dalam memperjuangkan tegaknya syariah di dunia!” pekik Ismail di depan sekitar 1500 pengusaha Muslim, Kamis (26/1) di Gedung Smesco, Jakarta.
Ada dua alasan mengapa setiap Muslim baik sebagai pengusaha atau pun bukan harus terus menerus berjuang menegakkan syariah dan khilafah. Pertama, karena dorongan akidah Islam. tidak sekedar yakin akan adanya Allah tetapi juga melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya.
“Allah telah memerintahkan kita untuk puasa, zakat, haji sebagai mana juga memerintahkan kita untuk bermuamalah secara islami dan juga taat kepada pemimpin yang menerapkan syariah,” pekiknya. Sedangkan syariah Islam tidak akan dapat diterapkan secara sempurna kecuali dengan tegaknya negara yang menerapkan Islam kaffah yang disebut sebagai khilafah.
Kedua,  perjuangan ini sebagai ikhtiar mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh seluruh umat manusia seperti kemiskinan, kerusakan moral, korupsi, kezaliman di mana-mana, dan lainnya.
“Kemana akan mengadu bila tidak kepada Islam? komunisme sudah hancur. Kapitalisme? Justru kapitalisme lah yang jadi biang masalah. Oleh karena itu bagi kita tidak ada pilihan bahwa solusi itu datang dari Islam melalui penegakan syariah dan khilafah!” ujarnya.[] joko prasetyo

Pakar Ekonomi Islam: Pelaku Riba Kekal di Neraka

Pakar Ekonomi Islam Dwi Condro Triono, PhD menyatakan bahwa salah satu yang menyebabkan seseorang kekal di neraka adalah dengan berurusan dengan riba (salah satunya adalah selisih uang dalam meminjamkan atau meminjam uang).
“Untuk apa tiap hari shalat lima waktu, tiap tahun naik haji tetapi tetap memakan riba! Karena akan kekal di neraka!” pekiknya dalam acara Muslim Entrepreneur Forum (MEF) 2012, Kamis (26/1) di Gedung Smesco, Jakarta.
Di hadapan sekitar 1500 pengusaha Muslim itu Dwi Condro pun membacakan ancaman Allah SWT terhadap pelaku riba.
“… Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya!” ujarnya  membacakan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 275. [] joko prasetyo

BEDAH BUKU SPEKTAKULER “ APA SALAHKU SAYANG?” KEMBALI AKAN MENGGUNCANG YOGYAKRTA


Departemen Luar Negeri (DEPLU),Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STEI HAMFARA Yogyakarta kembali melaksanakan program kerja mereka. Kali ini dari DEPLU BEM STEI Hamfara Yogyakarta bekerjasama dengan Ikatan ROHIS SMKN Se Yogyakarta (KAROMA), berani menggetarkan kota Jogja dengan dahsyatnya Bedah Buku “Apa Salahku Sayang?”, bersama penulisnya langsung La Ode Munafar. Kegiatan ini akan diselenggarakan minggu depan, 29 Januari 2012 dimulai pukul 08.00-12.00 WIB. Bertempat di Aula SMKN 3 Yogyakarta, Jl. Wolter Monginsidi 2A (utara perempatan Tugu).

Diprediksikan kegiatan ini bakal mengguncang kota Jogja. Sebab, “Buku SPEKTAKULER yang akan membongkar rahasia aktivitas-aktivitas Jahiliyah modern, mulai dari pacaran, tampil seksi, hingga korupsi bakalan dikupas habis oleh La Ode”, ujar Ratna ketua panitia pelaksana tersebut kepada Lembaga Pers Mahasiswa STEI HAMFARA, sabtu (21/01).

Sebelumnya bedah buku “Apa Salahku Sayang?” di kota Banjarmasin, Panajam dan Samarinda, yang diformat dalam bentuk training dan talkshow terbilang sukses. Pasalnya kegiatan ini berhasil dibanjiri sebanyak 250 orang siswa SLTP dan SLTA serta dihadiri oleh ketua MUI, dan Pengawas Pendidikan setempat serta diliput oleh media setempat.

Panitia pelaksana, Gilang mengatakan suatu, karya yang cukup membanggakan diusianya yang terbilang muda. La Ode berhasil menciptakan sebuah karya yang luarbiasa. Selain menjadi penulis buku, ia juga termasuk club jagoan nulis LPM, aktivis dakwah dan masih menjabat sebagai ketua BEM STEI HAMFARA.

“Tak hanya buku ‘Apa Salahku Sayang’, buku ketiganya, ‘Detik-detik Indah Bersamamu’ akan terbit di tahun ini”. Paparnya.

Acara kali ini BEM STEI Hamfara mendapat dukungan yang banyak diantaranya, klub Jagoan Nulis, Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus Yogyakrta (BKLDK), Dakwah Kampus.com, Al-Fatih Zone / Voa-Khilafah.co.cc, Syafaat, Roudhatul El-iman, PPPA Sarul Quraan, STEI Hamfara, Kedaulatan Rakyat,.El_FaruQ, dan Gaul Fresh sendiri sebagai penerbit buku Apa Salhku Sayang?.


Nurul Inayah (Ketua LPM STEI Hamfara Yogyakarta)

Larangan Jilbab dan Burka Dipertentangkan di Swedia

Demonstrasi menolak larangan Jilbab
Voa-Khilafah.co.cc,  STOLCKHOM -- Meski pemerintah Swedia memberlakukan larangan jilbab dan burqa, banyak pihak yang menolak larangan itu. Salah satu pihak yang menolak kebijakan itu adalah institusi pendidikan di Swedia.

Namun, sejumlah guru tetap melaksanakan kebijakan itu. Siswa hanya diperbolehkan mengenakan topi 'kupluk'. Bahkan, dalam pelajaran tertentu, utamanya aktivitas di laboratorium, sejumlah guru meminta siswinya melepas jilbab atau burqa yang dikenakan.

Meski masih banyak pertentangan, pada Desember 2010, Ombudsman Swedia telah menegaskan, larangan jilbab tidak melanggar aturan anti-diskriminasi yang geliatkan pemerintah Swedia. Selepas putusan itu, institusi pendidikan di Swedia segera merombak aturan soal tata cara berpakaian, termasuk bagi siswi berjilbab atau berburqa.

Menteri Pendidikan Swedia, Jan Bjorklund, menyambut baik putusan Ombudsman. Menurutnya, pendidikan itu membutuhkan interaksi antara guru dan siswa tanpa harus terhalang penutup wajah. "Interaksi itu sangat penting," katanya.

Berbeda pendapat, Kepala Persatuan Guru Swedia, Metta Fjelkner, malah mengatakan bahwa keputusan Ombudsman justru akan memecah masyarakat Swedia. Sebab, ada pihak yang menolak pemberlakukan larangan itu. Alasanya, tentu masalah hak asasi. "Saya kira, penting untuk menghormati hak siswa," katanya seperti dilansir di laman neurope.ue.

Tidak ada data statistik resmi soal berapa banyak pelajar muslimah di Swedia yang mengenakan burqa atau niqab. Menurut perkiraan, setidaknya terdapat 100 ribu pelajar muslimah di sana. (RoL/Voa-Khilafah.co.cc)

Aksi Damai HTI Bandung: Tolak Legalisasi dan Peredaran Minuman Keras!


Voa-Khilafah.co.cc - Pagi berawan disertai rintik-rintik hujan, mengawali geliat para aktivis HTI Kota Bandung dalam masirah(aksi damai) bertajuk “Tolak Legalisasi dan Peredaran Minuman Keras”, Jumat (12/01). Acara dimulai dengan long march dari depan Hotel Santika sampai ke gedung DPRD Kota Bandung. Sepanjang perjalanan panitia membagikan selebaran kepada para wartawan dan dan masyarakat di sekitarnya.
Teriakkan “Tolak Perda Miras”, “Tolak Keppres Miras”, “Tegakkan Syariah”, yang disuarakan ratusan peserta aksi secara terus menerus seakan memecahkan keheningan Kota Bandung yang saat itu terlihat agak lengang. Aksi ini merupakan respons dari tindakkan Mendagri yang berencana mencabut sejumlah Perda tentang minuman keras.
Tepat di depan gedung DPRD Kota Bandung, peserta dan mobil yang membawa sound system berhenti. Di sana, secara berurutan para orator mulai berorasi menjelaskan tentang pentingnya penguasa melarang secara total segala bentuk penjualan minuman keras.
Dalam orasinya, ustadz Lutfi Affandi, SH (Tim Pengkaji Perda Miras HTI Kota Bandung) menegaskan bahwa Perda Miras di kota Bandung bukan bermaksud melarang, malah melegalisasi minuman keras. Ini terlihat dengan masih diperbolehkannya minuman keras beredar di tempat-tempat tertentu seperti hotel berbintang 3 sampai 5, pub, diskontik dan lainnya.
Lutfi mensinyalir ada kepentingan pemilik modal yang mendasari keluarnya aturan-aturan seperti ini. “Logika kapitalis dalam membuat undang-undang dan yang semisalnya hanya 3 : Uang, Uang, dan Uang,” teriaknya.
Maka dari itu, dia menutut agar aturan-aturan ini segera dicabut dan diganti dengan aturan yang melarang secara total beredarnya minuman keras. ” Cabut keppres no. 3 tahun 1997 karena bertentangan dengan aturang yang lebih tinggi dari Dzat yang Maha Tinggi yakni aturan Allah Swt,” tuturnya.
Di sisi lain, dalam orasi yang kedua, Dr. Arim Nasim (DPP HTI) menyampaikan bahwa masyarakat akan sejahtera tatkala bertaqwa kepada Allah Swt. Sementara menurutnya, legalisasi minuman keras sama sekali tak mencerminkan masyarakat yang bertaqwa, malah bisa menyebabkan turunnya azab dari Allah Swt., “Legalisasi miras sama dengan legalisasi kemaksiatan. Legalisasi kemaksiatan sama dengan mehalalkan datangnya azab Allah Swt., datang padanya,” tegasnya
Ia pun mengingatkan bahwa minuman keras merupakan biang kerok kemaksiatan. Dengan mengkonsumsi minuman keras, seseorang dapat terangsang untuk melakukan kemaksitan yang lainnya seperti pemerkosaan, perkelahian, pembunuhan, dll.
Sementara itu, dalam kesempatan orasi yang terakhir, ustadz Yuana R. Tresna (Ketua DPD HTI Kota Bandung) menginngatkan para pemegang kebijakan dengan sabda Rasullulah yang berbunyi:
Allah melaknat khamr dan melaknat orang yang meminumnya, yang menuangkannya, yang memerasnya, yang minta diperas, yang membelinya, yang menjualnya, yang membawanya, yang minta dibawa, yang makan harganya (HR. Ahmad)
“Jika mereka saja dilaknat, bagaimana dengan penguasa yang mengesahkan peraturan yang membuat orang bebas menjual, memproduksi, mengkonsumsi dll minuman keras? Tentu lebih terlaknat,” ujarnya berapi-api
Di akhir acara, perwakilan HTI Kota bandung diterima oleh sekertariat DPRD Kota Bandung dan jajaran Polrestabes Bandung yang mengamankan acara. Pada kesempatan tersebut, perwakilan HTI menyampaikan aspirasi yang dituntutnya. [naz/htipress/syabab/voa-khilafah.co.cc]

Innalillahi, Ulama & Guru Besar Thifan Pokhan El-Marzdedek Wafat

Innalillahi, Ulama & Guru Besar Thifan Pokhan El-Marzdedek Wafat


BANDUNG (voa-khilafah.co.cc) - Dunia Islam di Indonesia kembali harus mendapat kabar duka cita. Salah satu tokoh Islam asal Jawa Barat, Ustadz AD El-Marzdedeq yang sangat dikenal di jagad beladiri Islam, khususnya Thifan Pokhan, menghembuskan nafas terakhirnya di usia 73 tahun di RS Al-Islam Bandung, pada Sabtu (14/1) pukul 14.15.

Ustadz Marzdedeq dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung di hari yang sama pada pukul 08.00 WIB karena mengalami koma. Akan tetapi karena beberapa pertimbangan, beliau dipindah ke RS Al-Islam, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di sana.

Jenazah akhirnya dipulangkan ke kediaman sehari-hari beliau yang terletak di Jalan Roro Jonggrang, Komplek Pharmindo, kawasan Cijerah, Bandung.

Jenazah Ustadz Marzdedeq sempat dibawa ke Masjid Al-Kautsar, masih di komplek Pharmindo, untuk disholatkan secara massal. Hal ini dikarenakan kediaman yang tidak cukup untuk menampung banyaknya pelayat yang hendak mensholatkan jenazah beliau.

Ustadz Marzdedeq meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Pria kelahiran Cianjur ini rencananya akan dikebumikan di tanah kelahiran istrinya di Tasikmalaya pada hari Ahad (15/1/2012). Rencananya, jenazah Ustadz akan diberangkatkan dari Bandung ke Tasikmalaya pada pukul 06.00 WIB.

Tampak mobil dan motor para pentakziah memadati kawasan parkiran. Jalan yang sempit di tengah kompleks perumahan mengakibatkan pemandangan di sekitar rumah duka menjadi cukup padat.

Pelayat dari kalangan tua maupun muda mendatangi kediaman beliau. Tampak juga kolega-kolega beliau, terutama dari pegiat beladiri Thifan Pokhan serta jamaah Persatuan islam.
Beliau pernah menjadi staf guru sejarah pada Pesantern Persis di Pejagalan, Bandung. Namun kontribusi yang melegenda dari beliau adalah perannya sebagai penyebar ilmu beladiri Islam asal Asia Tengah, Thifan Pokhan.

Dari tangannya telah lahir banyak pendekar-pendekar Thifan Pokhan, sebuah aliran beladiri Islami yang murni dari unsur-unsur musyrik dan jahiliyah. Selain dikenal sebagai master beladiri, Ustadz Marzdedeq juga dikenal sebagai penulis buku di bidang akidah dan Yahudilogi.

Buku-buku karangan beliau antara lain berjudul “Parasit Akidah” serta “Jaringan Gelap Freemasonry” dan yang lainnya. Selain itu beliau juga merupakan praktisi pengobatan Kay Awaasin, yakni sebuah pengobatan dengan menekan simpul-simpul saraf tertentu.

Semoga jasa-jasa almarhum diterima di sisi Allah, serta segenap muda-mudi kaum muslimin di Indonesia agar mengikuti jejak beliau yang telah menelurkan karya yang amat bermanfaat bagi umat. (Ka'ab/Widad/voa-islam/voa-khilafah.co.cc)

Ketika Muadzin seorang Astronom

Voa-Khilafah.co.cc - Pernahkah anda berlomba untuk memperebutkan posisi sebagai muadzin di masjid? Muadzin mungkin bukan orang nomor satu di sebuah masjid.  Kedudukan itu barangkali lebih tepat diberikan kepada imam.  Namun Rasulullah pernah bersabda, “Andaikata umatku tahu besarnya pahala mengumandangkan adzan, barangkali setiap saat aku harus mengundinya di antara mereka”.

Untuk menjadi muadzin biasanya diperlukan sejumlah syarat, antara lain: memiliki suara yang lantang tetapi indah – sehingga orang suka mendengarnya, untuk kemudian datang ke masjid; tidak dikenal sebagai orang yang fasik; dan tentu saja bersedia datang lebih awal.  Kalau orang biasa baru berangkat ke masjid setelah mendengar suara adzan, tentunya bukan dia yang akan mengumandangkan adzan.  Ini artinya, muadzin harus hafal kapan saat-saat sholat, yang setiap harinya bisa bergeser beberapa menit.

Untuk syarat yang terakhir ini sekarang tergolong mudah.  Di mana-mana ada jam, dan di setiap masjid ada jadwal shalat abadi.  Kalau untuk adzan maghrib, orang dapat pula mendengar dari radio atau televisi – yang biasanya hanya mengacu pada kota tertentu dan sekitarnya.  Tetapi dulu, seorang muadzin wajib mengetahui sendiri saat-saat sholat. Karena saat-saat sholat ditentukan oleh posisi matahari, maka seorang muadzin harus sedikit banyak tahu tentang astronomi.  Bahkan karena ilmu ini juga dibutuhkan untuk mengetahui arah kiblat dan awal/akhir puasa, maka praktis seorang muadzin harus seorang astronom!  Untuk itulah, di masa lalu, semua muadzin wajib memiliki sertifikasi (ijazah) ilmu falak dasar, yakni astronomi dasar untuk persoalan jadwal sholat, puasa dan arah kiblat.

Untunglah, banyak ulama Islam yang mencurahkan hidupnya untuk memudahkan pekerjaan ini.  Mereka membangun dasar-dasar ilmu falak dan lebih dari itu juga astronomi untuk navigasi di medan jihad.  Walhasil, banyak juga muadzin yang karena kemampuan astronomi ini lalu direkrut untuk jihad fi sabilillah.  Jadi di belakang predikat seorang muadzin, tidak cuma tersembunyi kemampuan mengumandangkan adzan dengan indah, tetapi juga ilmu astronomi dan pengalaman jihad.  Subhanallah.

Kaum muslim telah berburu ilmu ke Barat (Mesir, Yunani) maupun ke timur (Persia, India), mengintegrasikannya, memperkuat dasar-dasarnya dan mengembangkan jauh di atas para gurunya.  Pusat penelitian astronomi Islam yang paling tua bermula di kota Maragha.  Maka dalam sejarah ilmu pengetahuan muncullah “Madzhab Maragha” atau bahkan “Revolusi Maragha” – sebuah revolusi saintifik sebelum Rennaisance.

Ini berawal ketika Khalifah al-Ma’mun memerintahkan untuk mendirikan sebuah observatorium dan merekrut para astronom untuk melakukan pengumpulan data yang teliti guna mengoreksi data yang telah ada hingga saat itu.  Untuk itu para astronom meminta bantuan ahli-ahli mekanik untuk membuatkan sebuah alat pengamatan langit yang disebut astrolabs.  Hasil-hasil pengamatan langit yang lebih teliti ini menyelesaikan problem yang signifikan yang selalu timbul dalam model langit geosentris Ptolomeus. Saat-saat tertentu, planet Mars tampak seperti bergerak mundur (retrograde motion). Kalau saja model ini diubah menjadi heliosentris, maka gerak mundur planet Mars itu mudah sekali dipahami, yaitu tatkala bumi yang beredar mengelilingi matahari lebih cepat dari Mars, sedang “menyalip” Mars.  Tapi waktu itu, Ptolomeus yang percaya pada teori geosentris, mencoba memecahkan problema itu dengan lingkaran-lingkaran tambahan yang disebut episiklus.  Tetapi episiklus-episiklus ini makin lama menjadi makin rumit.

Maka sejumlah astronom muslim seperti Ibnu al-Haytsam dan Ibnu al-Syatir menekuni kemungkinan bahwa bumi berputar pada porosnya serta kemungkinan adanya sistem tata surya yang berpusat di matahari.  Mereka membuat model planet non Ptolomeus. Sedang Muayyaduddin Urdi secara total menolak model Ptolomeus karena dasar empiris, tak hanya filosofis.  Ini pendapat yang luar biasa maju.  Nicolaus Copernicus baru berani mengemukakan pendapat ini di Eropa 500 tahun kemudian.  Buka Copernicus yang berjudul De Revolutionibus ternyata banyak mengadaptasi model langit dari Ibnu al-Syatir dan at-Tusi dari madzhab Maragha.  Argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi juga senada dengan karya Ali al-Qusyji.

Pada abad-21 ini, fenomena langit seputar tata surya sudah bukan teori lagi, tetapi sudah menjadi fakta keras yang tidak dapat dibantah lagi.  Manusia berbagai bangsa sudah meluncurkan ribuan pesawat ruang angkasa dan satelit yang mengorbit bumi. Terakhir, tahun 2009 para astronom dan insinyur aeronautika Iran sudah berhasil membuat satelit dan meluncurkannya dengan roket yang dibuat sendiri tanpa pertolongan negara lain.  Semua hasil eksperimen ini terus membuktikan bahwa bumi memang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari.

Anehnya, di abad ini pula, justru ada sejumlah orang yang ghirah Islamnya tinggi kembali meragukan pendapat bahwa bumi itu berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari.  Mereka berpendapat, bumi itu diam, dan matahari, bulan dan seluruh bintang-bintang beredar mengelilingi bumi.  Mereka menganggap pendapat ini didukung Al-Qur’an (antara lain QS 35:41, dan QS 21:33).

Padahal kebenaran sebuah fenomena alam yang dapat diamati atau diukur sama sekali tidak memerlukan dalil kitab suci manapun.  Rupanya para astronom seribu tahun yang lalu justru lebih jernih dalam memahami ayat Al-Qur’an sekaligus memahami fenomena alam.  Dengan itulah mereka dapat menjadikan astronomi sebagai modal untuk memuliakan Islam dan kaum muslim.  Itu karena para astronom itu berangkat dari seorang muadzin!

Abu ar-Raihan al-Biruni menegaskan perbedaan antara astronomi dengan astrologi, sehingga menekankan pengamatan empiris yang akurat dan eksperimen untuk membuktikan kebenaran perhitungan astronomi.  Akurasi data itu juga membuat astrofisika dimulai.  Adalah Ja’far Muhammad bin Musa bin Syakir yang dari ribuan pengamatannya memastikan bahwa benda-benda langit mengalami hukum fisika yang sama seperti bumi.  Sedang Ibnu al-Haytsam, sang penemu fisika optika – yang menjadi dasar pembuatan lensa untuk teropong bintang - dari pengamatannya memastikan, bahwa apa yang hingga saat itu diyakini sebagai “lapisan-lapisan langit” ternyata bukanlah sesuatu yang padat, melainkan bahkan kurang rapat dibanding udara.  Jadi kalau di Qur’an disebut “lapis langit pertama sampai ketujuh”, maka itu pasti terletak di alam ghaib yang tidak dapat diamati manusia.  Di situlah, ketika sains berakhir, dimulailah keimanan. (
Dr. Fahmi Amhar)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL