Inilah Metode Sahih Menegakkan Khilafah

Inilah Metode Sahih Menegakkan Khilafah

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Imam Al-Qurthubi menyatakan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) di kalangan umat dan para imam mazhab; kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-’Asham—yang tuli (‘asham) terhadap syariah—dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya” (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, 1/264).

Permasalahan berikutnya adalah bagaimana metode (thariqah/manhaj) penegakan Khilafah? Metode (thariqah/manhaj) haruslah digali dari Rasulullah saw. Setiap perjuangan yang menyimpang dari metode Rasulullah saw. hanya akan berakhir dengan kegagalan.

Siapapun yang melakukan penelaahan mendalam terhadap sirah Nabi Muhammad saw. akan menemukan bahwa beliau menempuh tiga tahapan dalam mewujudkan pemerintahan Islam di Madinah.


1. Tahap Pertama: Kaderisasi (Tatsqif).

Sejak beliau mendapatkan wahyu, beliau diperintahkan untuk menyampaikannya kepada masyarakat. Misalnya, ketika Allah SWT menurunkan QS al-Muddatsir ayat 1-2, bersegeralah sang Nabi terakhir itu mengajak masyarakat untuk memeluk Islam. Beliau menyampaikan Islam kepada istrinya, Khadijah ra. Kemudian, disampaikan pula kepada sepupunya Ali bin Abi Thalib ra., maulanya Zaid, sahabat beliau Abu Bakar ash-Shiddiq ra., dan masyarakat secara umum.

Beliau bukan sekadar mengajak mereka masuk Islam, melainkan ditindaklanjuti dengan membinanya. Beliau membina kaum Mukmin di rumah Arqam bin Abi al-Arqam (Dar al-Arqam). Di rumah Arqam itulah Rasulullah saw. menempa para Sahabat, mengajarkan Islam kepada mereka, membacakan al-Quran kepada mereka, menjelaskannya, memerintahkan mereka untuk menghapal dan memahami al-Quran. Setiap kali ada yang masuk Islam, langsung digabungkan ke Darul Arqam.

Di sinilah Nabi saw. melakukan dua hal. Pertama: pembinaan akidah dan syariah hingga terbentuk para kader berkepribadian Islam. Kedua: pengorganisasian Sahabat sehingga membentuk kelompok dakwah yang secara solid dan berjamaah bergerak di tengah masyarakat. Bukan hanya Nabi saw. seorang diri yang melakukan pembinaan, para Sahabat lain pun mencari dan membina orang yang baru masuk Islam. Sebagai contoh, beliau pernah meminta Khubbab bin al-Arts untuk mengajarkan al-Quran kepada Zaenab binti al-Khaththab dan suaminya, Said, di rumahnya.

Bila dilihat dari kacamata modern apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw ini merupakan pembinaan intensif (tatsqif murakkaz). Pembinaan intensif ini dilakukan untuk membentuk kader yang berkepribadian Islam dan siap berjuang.

Secara praktis pembinaan intensif ini diawali dengan melakukan kontak individual. Dulu, Abu Bakar Shiddiq ra. mengontak keluarga dan kawan-kawannya, di antaranya Utsman bin Affan. Lalu disampaikan Islam kepadanya. Begitu juga setiap orang harus melakukan kontak individual untuk menyampaikan dakwah. Setiap aktivis dakwah sejatinya mempunyai daftar nama mulai dari kerabat, kawan dan tetangga untuk dikontak dan disampaikan Islam kepada mereka. Materi yang disampaikan tentu bergantung pada kontakan; bisa akidah, syariah, akhlak atau perkembangan terkini dilihat dari kacamata Islam.

Sebagaimana Nabi saw., tidak cukup sebatas orang tersebut menerima Islam sebagai pedoman hidupnya. Orang tersebut perlu dibina hingga menjadi pengemban dakwah. Umumnya, pengkaderan demikian efektif dijalankan dalam bentuk halqah. Di dalam halqah dilakukan pembinaan dengan kurikulum yang jelas, buku-buku kajian tertentu yang ditetapkan, serta metode talaqqi sehingga kesinambungan gagasan terjaga. Di sinilah setiap kader ditempa pemahaman Islam, kepribadian Islamnya, ibadah, ketaatan, kedisiplinan, pengorbanan, kejamaahan, dll. Lahirlah kader yang mujahid (pejuang) sekaligus muta’abbid (ahli ibadah), mufakkir (pemikir) sekaligus siyasi (politisi).

Selain itu, Nabi saw. pernah menyampaikan Islam dengan cara mengumpulkan masyarakat di Bukit Shafa, juga mengundang makan bersama; dalam konteks sekarang ini merupakan pembinaan umum (tatsqif jama’i). Kalau dulu di Bukit Safa atau di kebun kurma, maka saat ini tatsqif jama’i dilakukan dengan seminar, kajian di masjid, kuliah zuhur, pesantren Ramadhan, training, pengajian perkantoran, dll. Harapannya, dari aktivitas tersebut dapat terjaring orang-orang yang bertekad kuat menjadi kader dakwah dan masuk dalam pembinaan intensif.


2. Tahap Kedua: Membangun Kesadaran Umat (Tafa’ul Ma’al Ummah).

Tidak semua anggota masyarakat dapat dan mau menjadi kader dakwah. Karenanya, perlu ada penumbuhan kesadaran kolektif umat bagi kalangan tersebut. Pegiatnya adalah para kader dakwah yang terorganisir rapi yang terbina dalam pembinaan intensif tersebut. Untuk menumbuhkan kesadaran itu perlu ditempuh beberapa hal secara bersamaan, yaitu:

1. Pergolakan Pemikiran (ash-Shira’ al-Fikri). Rasulullah saw. senantiasa melakukan pergolakan pemikiran terhadap gagasan/ide/pandangan yang sifatnya tetap. Ini umumnya merupakan pemahaman (mafahim), tolok ukur (maqayis) atau keyakinan (qana’at). Misalnya, beliau menyuarakan secara lantang realitas tuhan kaum kafir seperti ayat Allah SWT (yang artinya): Sesungguhnya kalian dan apa (berhala) yang kalian sembah adalah umpan neraka Jahanam (QS al-Anbiya’ [21]: 98). Beliau juga menentang sikap hidup kafir Quraisy yang merasa aib bila memiliki bayi perempuan hingga harus membunuhnya.

Untuk saat ini, segala gagasan/ide/pandangan yang merupakan akidah kufur harus ditentang dan dijelaskan kebatilannya. Misalnya, sekularisme, pluralisme dan liberalisme merupakan ide yang harus di tentang. Begitu juga gagasan cabang yang lahir darinya seperti demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dll. Caranya, dengan menjelaskan kebatilan dan bahaya hal-hal tersebut bagi Islam dan umatnya dalam berbagai kesempatan. Bila hal ini dilakukan terus-menerus masyarakat akan dapat memahami mana ide-ide kufur yang berada di tengah umat Islam. Mereka tidak mau diatur oleh sistem tersebut. Sebaliknya, mereka menuntut penerapan Islam.

2. Perjuangan Politik (al-kifah as-siyasi). Aktivitas al-kifah as-siyasi merupakan aktivitas yang ditujukan untuk menyikapi realitas politik kekinian, yang terjadi pada saat tertentu. Pada zaman Rasulullah saw. pernah ada suatu realitas: mengurangi timbangan sudah menjadi kebiasaan. Untuk menyikapi hal tersebut, Allah SWT menurunkan QS al-Muthafifin yang diserukan oleh Rasulullah saw. di tengah masyarakat. Pada saat kaum kafir meminta agar Nabi saw. menunjukkan mukjizat seperti para nabi terdahulu dan meminta agar Nabi saw. berdoa hingga harga yang melambung tinggi menjadi turun, dijawab dengan telak dalam QS al-A’raf [7] ayat 188. Begitu juga kebiasaan mereka menjerumuskan budak wanita dalam pelacuran (semacam trafficking sekarang) disikapi oleh Nabi saw. dengan menyampaikan QS an-Nur [24] ayat 33. Masih banyak peristiwa lain.

Saat ini, setiap kejadian/peristiwa politik kekinian yang bertentangan dengan Islam dan merugikan umat Islam perlu dilakukan kifah siyasi. Misalnya, kelompok Islam harus melakukan aktivitas kifah siyasi pada saat pemerintah menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik, mensahkan RUU Kelistrikan, RUU Migas, RUU Sumberdaya Air, RUU Penanaman Modal, dll. Begitu juga saat terjadi peristiwa politik internasional seperti tragedi Mavi Marmara oleh Israel baru-baru ini. Langkahnya dengan membuat tulisan, buletin, pers rilis, delegasi ke DPR, mendatangi menteri, mendatangi Presiden, dll. Lalu dijelaskan bahaya dan kerugian yang akan diderita rakyat serta pertentangannya dengan syariah Islam kepada masyarakat di berbagai forum. Bahkan bila diperlukan dapat dilakukan dengan demontrasi damai (masirah). Dengan ini semua, masyarakat sedikit demi sedikit akan tersadarkan.

3. Membongkar rencana jahat kaum kafir (kasyf al-khuthath). Rasulullah saw. sering menyampaikan wahyu terkait rencana jahat kaum kafir. Sebagai contoh, membongkar rencana tokoh Quraisy (seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, Umayyah ibn Khalaf dan Walid bin Mughirah) yang berdiskusi di pusat kajian strategis mereka, Darun Nadwah, dengan memberikan cap negatif pada diri Rasulullah saw.; membongkar persekong-kolan kaum kafir dengan kaum munafik. Allah SWT membongkar rencana jahat ini dalam QS al-Mudatstsir [74] ayat 18-26.

Meneladani hal ini, dalam upaya penegakkan Khilafah, penting untuk membongkar makar negara kafir imperialis dan anteknya. Misalnya, rencana jahat AS di Irak, Afganistan, Pakistan dan Bangladesh perlu dijelaskan kepada masyarakat dalam khuthbah, kuliah subuh, pengajian ibu-ibu, dll. Masyarakat juga perlu dipahamkan tentang hakikat kunjungan Obama ke Indonesia yang hanya ingin lebih mencengkeramkan kakinya di negeri Muslim terbesar ini serta menghalangi bersatunya umat Islam dalam Khilafah; disamping untuk kepentingan minyak, gas, ekonomi, pangkalan militer, dan pembentukan lobi Yahudi-AS di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai seminar, workshop, tablig akbar, dll; juga dengan mengirim delegasi ke ormas, LSM, partai politik, pesantren, DPR, Kementrian Luar Negeri, dll.

4. Penting juga untuk melakukan advokasi bagi kepentingan umat (tabanni mashalih ummah). Caranya, dengan melakukan advokasi bagi kepentingan umat. Misalnya, ketika ada pihak yang ingin melakukan yudisial review UU Penodaan Agama, maka perlu dilakukan perlawanan dengan menjadi pihak terkait dalam sidang di Mahkamah Konstitusi. Ketika terjadi malpraktik maka dapat dilakukan upaya pembelaan terhadap korban. Dilakukanlah advokasi terhadap pihak terkait, termasuk penguasa. Disampaikan solusi menurut Islam. Hal ini dilakukan sedemikian rupa sampai hasil yang diinginkan.


Jika semua aktivitas itu dilakukan secara intensif dan masif maka insya Allah dengan izin Allah SWT taraf berpikir umat akan makin meningkat. Pembelaan dan dukungan terhadap syariah dan Khilafah beserta para pejuangnya akan menggelontor. Sebab, di mata umat makin tampak siapa sebenarnya yang berjuang untuk membebaskan mereka dari penjajahan.


3. Tahap Tiga: Istilam al-Hukmi dengan Dukungan Ahlun Nushrah.

Pada saat kehendak dominan masyarakat menghendaki syariah dan Khilafah, maka masyarakat bersama dengan kelompok pejuang syariah dan Khilafah akan menuntut penguasa agar menegakkan Khilafah atau mundur seraya menyerahkan kepemimpinan kepada mereka. Umat tidak percaya lagi kepada penguasa maupun wakil mereka. Terjadilah kevakuman kekuasaan. Mereka yang terdiri dari tokoh-tokoh berbagai daerah dari berbagai kalangan dan organisasi membentuk semacam ahlul halli wal ‘aqdi untuk membaiat khalifah. Bila penguasa secara sukarela menyerahkan kekuasaan atas dasar kesadaran bahwa mereka sudah delegitimasi, tidak lagi dipercaya oleh rakyat, apalagi mereka berubah menjadi mendukung tuntutan masyarakat itu, maka ketika itu terjadilah penyerahan kekuasaan dari rakyat kepada penguasa baru (istilam al-hukmi). Mereka hanya tinggal mengumumkan ke publik, “Kami mundur dari kekuasaan ini karena sudah tidak lagi dipercaya rakyat sebagai pemilik kekuasaan tersebut.”

Namun sebaliknya, bila mereka tak mau melepaskan kekuasaan kufurnya, lalu menghadapi rakyat sebagai pemilik kekuasaan dengan kekerasan maka di sinilah pentingnya dukungan pemilik kekuatan (ahlul quwwah, ahlun nushrah) terhadap dakwah. Oleh sebab itu, sejak awal perlu adanya dukungan ahlun nushrah.

Mereka yang masuk ke dalam ahlun nushrah adalah setiap pemilik kekuatan, termasuk militer. Dengan adanya dukungan ahlun nushrah penyerahan kekuasaan akan terjadi dengan damai. Begitulah yang dialami oleh Nabi saw. saat menegakkan pemerintahan di Madinah.

Cara untuk meraih dukungan ahlun nushrah tidak lain dengan mendatangi dan mendakwahi mereka. Mereka adalah putra umat Islam. Tengoklah apa yang dilakukan Rasulullah saw. Selain aktif mendakwahi kabilah-kabilah di Makkah, beliau juga mendakwahi kabilah-kabilah di luar Makkah yang datang tiap tahun ke Mekah, baik yang datang untuk berdagang maupun yang hendak melakukan ibadah di sekitar Ka’bah. Beliau berdakwah di jalan-jalan, Pasar ‘Ukadz dan Mina. Di antara mereka ada sekelompok orang dari Madinah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka para pemilik kekuatan di sana. Merekalah yang kelak menjadi ahlun nushrah bagi Nabi saw.

Ketika istilam al-hukmi telah terjadi, maka di tengah penguasa yang telah kehilangan legitimasinya, khalifah dengan dukungan rakyat mengumumkan tegaknya Khilafah. Penyelesaian peralihan kekuasaan dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya sesuai dengan realitas politik waktu itu. Dengan teknik seperti ini penegakkan Khilafah akan berjalan secara alami. Wallahu a’lam. []
20 Ribu Umat Muslim Hadiri Konferensi Rajab

20 Ribu Umat Muslim Hadiri Konferensi Rajab

Voa.Blogspot.Com, JAKARTA - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyelenggarakan Konferensi Rajab 1432 Hijriah di stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Acara yang digelar rabu (29/6/2011) ini bertema 'Hidup Sejahtera di Bawah Naungan khilafah'.

Juru bicara HTI, Ismail Yusanto mengatakan sedikitnya sebanyak 20 ribu umat Islam dari 29 kota Mulai Aceh hingga Papua hadir dan larut dalam gempita penerapan syariah dalam naungan Khilafah.

"Konferensi rajab ini merupakan sarana untuk mencerdaskan dan mencerahkan umat.
Konferensi ini diadakan untuk memompa semangat dan optimisme akan keberhasilan perjuangan penegakan kembali syariah dan khilafah," terang Ismail Yusanto di Stadion Lebak Bulus.

Ia mengatakan, dalam acara ini juga merupakan momentum bagi HTI untuk menawarkan solusi syariah dan khilafah. Tawaran tersebut dinilai sebagai wujud keimanan kepada sang Kholiq dan kecintaan terhadap Indonesia.

"Penegakan syariah secara kaffah di bawah naungan daulah khilafah mutlak diperlukan sebagai jalan penyelesaian atas berbagai persoalan di negeri ini," imbuhnya.

Menurutnya, saat ini masalah demi masalah masih menghinggapi rakyat Indonesia. HTI menganggap semua itu terjadi akibat penerapan sistem kapitalis-liberal.

"Oleh karena itu, HTI meyakini bahwa penerapan syariah Islam akan mampu mensejahterakan rakyat Indonesia," pungkasnya. (Tribunnews)
HTI Jawa Barat Serukan Penegakkan Syariat Islam

HTI Jawa Barat Serukan Penegakkan Syariat Islam


Voa-Khilafah.Blogspot.Com - SOREANG, (PRLM).- Puluhan ribu massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memadati stadion Si Jalak Harupat, kutawaringin, Kab.Bandung, Rabu (30/6), mengikuti Konferensi Rajab 1432 H. HTI menyerukan pentingnya penegakkan syariat Islam dan khilafah untuk menyejahterakan umat manusia.
Konferensi Rajab menghadirkan sejumlah pembicara yang hadir di panggung utama di tengah_tengah stadion yakni Ketua HTI Jabar Ustaz M.Riyan, Humas HTI Jabar Ustaz Luthfi Affandi, dan dua orang pengurus HTI pusat yakni KH. Fahmi Lukman dan KH. Arim Naim.
Menurut KH. Arim Naim, sistem pemerintahan, ekonomi, sosial dan budaya yang berkembang saat ini merupakan sistem kapitalis yang berkedok kesejahteraan umat manusia. “Padahal mereka melakukan penjajahan gaya baru termasuk kepada negara-negara Muslim sehingga negara-negara Muslim tak berdaya dan mengikuti kemauan mereka,” katanya.
Padahal, ketika khilafah Islam masih berjaya membuat kesejahteraan umat manusia bukan lah retorika. “HTI yakin dengan kaum Muslimin di bawha khilafah akan tercipta kesejahteraan,” ujarnya.(A-71/A-147)***
25 Ribu Anggota HTI Jabar Padati Jalak Harupat
TRIBUNNEWS.COM, KUTAWARINGIN - Sedikitnya 25 ribu anggota Hizbut Tahrir Indonesia se-Jawa Barat memadati Stadion Si Jalak Harupat, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Rabu (29/6/2011). Mereka memenuhi stadion termegah di Jawa Barat itu untuk mengikuti tablig akbar dan konferensi rajab 1432 hijriah.
Ketua Humas Tablig Akbar dan Konferensi Rajab Hizbut Tahrir, Nazar Ali mengatakan, acara ini terkait dua momen penting yakni Isra Miraj pada 27 Rajab atau 29 Juni 2011 dan peristiwa runtuhnya kilafah islamiyah di Turki pada 28 Rajab 1342 hijriah atau 3 Maret 1924.
“Kami ingin menyadarkan umat islam untuk kembali kepada keislamannya. Islam adalah solusi, mari kita sama-sama bangkit untuk meraih keberhasilan di dunia dan akherat,” ujar Nazar di Jalak Harupat, beberapa saat lalu.
Selain diisi tablig akbar dan pidato sejumlah petinggi Hizbut Tahrir, pada acara ini juga digelar pentas seni dan teatrikal, meliputi happening art, rampak kendang, konser angklung, pencak silat, dan gamelan Sunda. (*)
PULUHAN RIBU ORANG HADIRI KONFERENSI RAJAB
ANTARAJAWABARAT.com,29/6 - Puluhan ribu orang dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menghadiri Konferensi Rajab 1432 H di Stadion Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Acara tersebut dimaksudkan untuk memperingati dua momen besar dalam sejarah Islam yakni Isra Mi’raj dan peristiwa runtuhnya khilafah Islamiyah di Turki, kata Humas Konferensi Rajab 1432 HTI Nazar Ali kepada wartawan, Rabu.
Oleh karenanya dalam acara tersebut, panitia tidak hanya akan menyajikan materi ceramah kepada massa yang hadir juga pentas seni dan aksi teaterikal.
“Kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan sekali karena didera berbagai macam masalah. Padahal Islam adalah solusi, mari kita sama-sama bangkit untuk meraih keberhasilan di dunia dan akhirat,” kata Nazar.
Sementara itu, Arim Naim sebagai pengurus pusat HTI mengatakan, sistem yang digunakan oleh pemerintah saat ini baik ekonomi, sosial budaya dan lain sebagainya merupakan sistem kapitalis yang berkedok kesejahteraan umat manusia.
Disisi lain sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan alam semesta adalah sistem Khilafah. Di dalam sistem Khilafah ini Khalifah diangkat melalui baiat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk memerintah sesuai dengan wahyu yang Allah turunkan.
“Keterputusan kaum Muslim dengan akar sejarah masa lalu merekalah yang menjadikan Khilafah asing, bukan hanya dalam konteks sistem pemerintahan mereka, tetapi bahkan dalam kosakata politik mereka. Kalaupun sebagian kalangan Muslim mengakui eksistensi Khilafah dalam sejarah, gambaran mereka tentang Khilafah bias dan beragam,” menurutnya.
Ada yang menyamakan Khilafah dengan kerajaan. Ada yang menganggap Khilafah sebagai sistem pemerintahan otoriter dan antidemokrasi. Ada yang memandang Khilafah sama dengan sistem pemerintahan teokrasi. Ada juga yang menilai Khilafah sebagai sistem pemerintahan gabungan antara demokrasi dan teokrasi.
“Ketika dijelaskan bahwa sistem pemerintahan Khilafah bukan monarki (kerajaan), bukan republik, bukan kekaisaran (imperium) dan bukan pula federasi, sebagian kalangan Muslim sendiri malah ada yang menyindir, bahwa kalau begitu, Khilafah adalah sistem pemerintahan yang bukan-bukan. Sikap demikian wajar belaka mengingat Umat sudah lama hidup dalam sistem pemerintahan sekular,” katanya.***6***

Khilafah, Negara Adidaya Masa Depan


Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Kaum Muslim memiliki potensi kekuatan yang luar biasa di segala bidang. Hanya saja kekuatan itu masih berserakan. Bila kekuatan tersebut disatukan dalam naungan Khilafah, maka Khilafah akan menjadi negara adidaya dunia. Demikian disampaikan Ketua DPP HTI Farid Wadjdi dan Media Officer HT Tun Kelana Jaya dalam orasinya pada Konferensi Rajab 1432 H di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, Rabu (29/6).
Ia mengungkap betapa dunia Islam adalah pusat populasi yang besar, lebih dari 1,5 miliar (23% dari populasi seluruh dunia) ditambah lagi laju pertumbuhannya sangat besar. “Pertumbuhan populasi yang tinggi akan membantu Negara Khilafah Islamiyah membangun kekuatan militer terbesar di dunia,” tandas.
Negara Khilafah masa depan akan memiliki angka tenaga kerja tertinggi, 18% dari total angkatan kerja dunia. Jelas hal ini dapat menyokong produksi secara besar-besaran dan aktivitas-aktivitas ekonomi.
Jumlah total militer umat Islam melebihi jumlah tentara dari semua negara-negara utama dan kekuatan-kekuatan sedunia saat ini dan yang terdahulu. Saat ini Amerika memiliki 1,47 juta  tentara  aktif dan 3,38 juta  tentara  gabungan (termasuk  yang aktif, tentara cadangan, paramiliter). Anggota tetap Dewan Keamanan PBB hanya memiliki 5,26 juta  tentara  aktif dan 15,95 juta tentara gabungan. Adapun gabungan tentara aktif dari Negara Khilafah sekitar  5,59 juta orang dan 22,42 juta orang militer gabungan  (terdiri dari militer aktif, pasukan cadangan dan pasukan paramiliter).
Dalam hal yang berkenaan dengan produksi agrikultur, umat Islam memproduksi 29,8% dari total produksi sereal sedunia, 20,7% produksi kapas, 21,06% produksi beras, 16,85% gandum sedunia, begitu pula produksi kacang hijau yang merupakan produksi tertinggi di dunia. Produksi-produksi ini adalah jenis biji-bijian utama di dunia saat ini.
Penyatuan Dunia Islam di bawah kepemimpinan Negara Khilafah Islamiyah akan menguasai  72,12% cadangan minyak dunia dan memproduksi hampir 50% setiap harinya dari total kebutuhan minyak di dunia. Negara Khilafah Islamiyah memiliki lebih 61% dari total cadangan gas dunia, 22,60% dari total cadangan uranium dan memiliki cadangan bijih besi yang mmelimpah.
Negara Khilafah Islamiyah juga merupakan negara terbesar kedua yang memiliki cadangan dolar, sekitar US$ 1,065 triliun, dan merupakan negara keempat  ekonomi terbesar dunia dengan PDB sebesar US$ 7, 74 triliun.
Penyatuan negeri-negri Islam di bawah Negara Khilafah Islamiyah akan mengontrol lokasi-lokasi strategis utama secara geopolitik di dunia; laut, darat dan  udara. Negara Khilafah Islamiyah akan menikmati  monopoli aset-aset strategis ini. Hal ini akan membawa negara-negara seperti Cina, Jerman dan Jepang berada di bawah pengaruhnya secara langsung.
“Dan yang paling penting, Negara Khilafah Islamiyah akan memiliki generasi-generasi terbaik yang hidup di tengah-tengah manusia. Umat terbaik yang  yang memiliki pandangan idelogi yang jelas,” papar pembicara. [HTI-Press] MJ
Polisi Masa Depan NKRI (Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah)

Polisi Masa Depan NKRI (Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah)

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Terbongkarnya makelar kasus di tubuh kepribadian semakin menambah persepsi negatif tentang lembaga Negara yang satu ini. Hal demikian semakin memperburuk citra polisi dan memperlemah kepercayaan masyarakat ketika berurusan dengan polisi. Sebagai contoh yang pernah dialami oleh 2 orang mahasiswi FKIP Unlam Banjarmasin, ketika itu kedua mahasiswi tersebut sedang terburu-buru pergi ke tempat teman mereka mengerjakan tugas kuliah. Tanpa sengaja mereka menerobos lampu merah, terang saja polisi langsung memberhentikan mereka. Polisi langsung membawa mereka ke kantor polisi untuk menyelesaikan semua dan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka yang melanggar aturan lalu lintas. Di kantor polisi tersebut polisi marah-marah kepada kedua mahasiswi tadi, akhirnya polisi memberikan dua pilihana jika mereka ingin kasus ini selesai. Yang pertama mereka harus datang ke pengadilan pada hari yang ditentukan dengan membawa orang tua/wali atau mereka membayar denda sebesar Rp 90.000. Karena tidak ingin ribet dan berhubung juga bertabrakan dengan jadwal kuliah akhirnya kedua mahasiswi tersebut memilih untuk membayar uang Rp 90.000 kepada polisi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Polisi pun menyetujuinya, tapi kejadian uniknya adalah ketika salah satu dari mahasiswi tadi memberikan uang Rp 100.000, otomatis masih ada kembaliannya Rp 10.000, tapi oleh mahasiswi tersebut langsung dikatakan “ambil saja Pak kembaliannya” kepada Pak polisi. Mendengar itu Pak polisi yang tadinya marah-marah berbalik menjadi ramah tamah bahkan ketika pulang kedua mahasiswi tadi sampai diseberangkan ketika menyeberang ketika menyeberang jalan.
Sungguh ironis sikap polisi tersebut, sikapnya langsung bisa berubah hanya karena uang 10rb, apalagi jika diberikan uang milyaran rupiah, bisa ditebak apa yang akan terjadi? Wajar jika markus (makelar kasus) pun bersarang di tubuh Polri. Polisi yang selama ini dipercaya masyarakat untuk menyelesaikan masalah mereka justru berbalik menimbulkan masalah dan keresahan bagi masyarakat. Inilah bukti dari lembaga keamanan yang berada di bawah Negara bersistem kapitalis, semua dapat dibeli dengan uang tak terkecuali itu adalah keadilan. Sehingga ketika orang miskin yang meminta keadilan maka hanya menjadi mimpi yang takkan terwujud.

Berbeda halnya dengan polisi dalam Islam. Polisi (syurthah) bertugas menjaga keamanan di dalam negeri, di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri (DKDN). Departemen ini mempunyai cabang di setiap wilayah/daerah yang dipimpin oleh kepala polisi (syahib as-syurthah) di wilayah/daerah tersebut.


Polisi (syurthah) dalam Negara Islam (Khilafah) ada 2 yakni polisi militer dan polisi yang berada di bawah otoritas Khalifah/kepala daerah. Adapun yang boleh menjadi polisi adalah pria dan wanita balig, dan warga Negara Khilafah. Mereka mempunyai seragam tersendiri, dengan identitas khusus untuk menjaga keamanan.

Adapun yang layak menjadi kepala polisi (syahib as-syurthah), menurut Ibn Abi ar-Rabi’ dalam Suluk al-Malik fi Tadbir al-Mamalik, adalah orang yang sabar, berwibawa, tidak banyak bicara, berpikir panjang dan mendalam, tegas, cerdas, hidupnya bersih, tidak grasa-grusu, sedikit senyum dan tidak mudah memberi ampun.

Tugas utama polisi adalah menjaga keamanan di dalam negeri. Selain itu, mereka juga ditugasi untuk menjaga system, mensupervisi keamanan di dalam negeri dan melaksanakan seluruh aspek teknis/eksekusi. Adapun maksud polisi berada di bawah otoritas Khalifah/kepala daerah (wali/’amil), mereka akan malaksanakan apa saja yag dibutuhkan oleh Khalifah/kepala daerah sebagai pasukan eksekusi untuk mengeksekusi pelaksanaan hukum syari’ah, menjaga system, keamanan, patrol, ronda malam hari, mengintip pencuri, mencari pelaku criminal dan orang yang dikhawatirkan keburukannya (Ajhizat Daulah al-Khilafah, hal 95, 96 dan 99; Anwar ar-Rifa’I, al-Insan al-‘Arabi wa al-Hadharah, hal 235).

Polisi juga bertugas menghukum orang-orang yang dicurigai (ahl ar-raib), karena bekerja sama dengan kafir Harbi fi’lan (musuh umat Islam). Orang-orang yang seperti ini bisa muslim maupun ahli Dzimmah, bisa individu maupun organisasi. Kalau sekarang, mereka itu seperti aktifis liberal, LSM komprador, dan antek-antek AS, Inggris maupun sekutunya yang lain yang memusuhi Islam. Dalam kasus ini negara bisa memata-matai mereka dengan alasan bahwa memata-matai kafir Harbi fi’lan hukumnya wajib dan kafir Harbi hukman dalam kondisi normal boleh, tetapi bisa juga wajib ketika membahayakan Negara.begitupun dengan orang-orang yang dicurigai juga boleh untuk memata-matai mereka.

Dalam kasus murtad, ketika vonis hukuman mati sudah dijatuhkan oleh pengadilan (qadha’ khushumah), maka polisilah yang mengeksekusi hukuman mati tersebut. Dalam kasus terror, merompak, merampok harta masyarakat dan menghilangkan nyawa mereka, Negara bisa mengirim polisi untuk mengikuti gerak-gerik mereka, menangkap dan menjatuhi hukuman bunuh dan disalib, atau dibunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, atau dibuang di suatu tempat terpencil. Sementara terhadap tindakan mencuri, merampok, korupsi, menyerang orang, baik dengan memukul, melukai, membunuh maupun menyerang kehormatan mereka, dengan mencemarkan nama baik dan menuduh zina, kepolisian bisa mencegahnya dengan deteksi dini, pengawasan dan control. Dalam kasus ini, polisi juga bertindak sebagai eksekutor, ketika vonis telah dijatuhkan oleh pengadilan.

Inilah fakta kepolisian dalam system pemerintahan Islam. Tugas dan tanggung jawab mereka memang berat, tetapidengan ketakwaan dan tsaqofah Islam yang ditanamkan secara mendalam kepada mereka, maka tugas berat itu pun bisa mereka jalankan dengan keikhlasan sebagai ibadah kepada Allah.

Sosok polisi yang seperti inilah yang umat dambakan di masa akan datang yang mampu memberikan penyelesaian masalah benar-benar ikhlas menolong masyarakat tanpa melihat kaya dan miskin, tinggi dan rendah derajat mereka karena polisi tersebut bekerja berdasarkan kesadaran akan amanah dari Allah swt. (Rusma)
Sebentuk awan rindu melintas di Bumi Allah Konferensi Rajab

Sebentuk awan rindu melintas di Bumi Allah Konferensi Rajab

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Panas begitu sangat menyengat, terasa di tribun 6 dan terlihat jelas di hampir smua tribun tak beratap GOR Sidoarjo, sangat beda dengan redupnya langit awan berarak di bumi Konferensi Khilafah Internasional 2007 Jakarta ketika saat itu aku diamanahi ust. Hanafi, untuk mengambil alih komando penyemangat kafilah Jatim.

masih terasa di kulit betapa panasnya terpaan sinar surya menyapaku...
bercampur dengan panasnya telingaku mendengar insiden yang menimpa saudara-saudaraku pra konferensi...

Yaa Allah...beri tanda padaku...
beri tanda...tempat ini...
beri tanda event Akbar Konferensi Rajab ini...

agar panasnya terik matahari menjadi embun yang menyegarkan pandangan, hati dan jiwa kami...do'aku dalam hati mendahului do'a penutup siang tadi...

sedetik kemudian aku mendongak ke langit...aku yakin tanda itu akan muncul atas idzinNya...kulihat langit sisi kanan dan kiri depan dan belakang tanda itu belum juga muncul...

megaphone kuletakkan di sampingku, suaraku serak dan nyaris habis...ustadz Adam Cholil, memanfaatkan moment ini dengan cepat mengambil alih komando via meghaphone dengan semangatnya...

kulihat arroyah alliwa' berjajar menjulang tinggi di sisi kiri jauh...belum juga muncul tanda itu yaa Rabb dari langitMu yang biru...

kulihat sisi kanan jauh entah tribun berapa itu yang terisi full akhwat membuat decak kagum smua penghuni tribun...bukan karena kecantikan para akhwat itu...tapi karena "kecantikan semangat" akhwat itu yang beda dengan tribun akhwat-akhwat lain...meski yang lain juga semangat...

tiba tiba aku sudah terlambat untuk mengabadikannya...Ya Allah...di atas tribun para akhwat yang semangat itu Engkau munculkan tanda itu.....


sebentuk awan rindu...melintas

di bumi Allah Sidoarjo...

Konferensi Rajab



26 Juni 2011
Andiy Qutuz Leonidaz
Adzab : "WHO: Kaum Homo dan Transgender Paling Banyak terkena AIDS"

Adzab : "WHO: Kaum Homo dan Transgender Paling Banyak terkena AIDS"

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - WHO memperingatkan bahwa epidemi HIV/AIDS tidak akan dapat diatasi, kecuali apabila perebakan penyakit di kalangan homoseksual, orang-orang transgender, dan kelompok-kelompok rentan lainnya berkurang.

Direktur bagian HIV/AIDS pada WHO, Dokter Gottfried Hirnschall, mengatakan homoseksual dan orang-orang transgender adalah yang paling banyak terkena AIDS sejak epidemi itu mulai 39 tahun lalu, dan ini terus berlangsung sampai sekarang.

Ia mengatakan HIV muncul lagi baru-baru ini di kalangan homoseksual, khususnya di negara industri maju. Tetapi, ia mengatakan data menunjukkan munculnya epidemi baru HIV di kalangan homoseksual di Afrika, Asia, Karibia, Amerika Latin, dan Eropa Timur.

“Fakta menunjukkan bahwa homoseksual diperkirakan 20 kali lebih mungkin tertular HIV daripada rata-rata populasi umum. Empat puluh persen homoseksual diperkirakan menderita HIV positif di sejumlah negara dan kawasan. Kita tahu bahwa populasi orang transgender juga banyak tertular. Tingkatnya berkisar dari 8 sampai 68 persen, jumlah yang luar biasa,” ujar Dokter Hirnschall dikutip Voice of America.

Dokter Hirnschall mengatakan pedoman baru WHO bertujuan membantu negara-negara dan masyarakat meningkatkan layanan yang diperlukan untuk mengurangi penularan baru di kalangan kelompok-kelompok yang rentan ini. Pedoman itu terdiri dari 21 rekomendasi, yang menyarankan cara-cara praktis memperbaiki akses untuk mencegah HIV, diagnosis, pengobatan dan perawatan.

Para pakar HIV mengatakan pedoman tersebut harus dianggap sebagai paket layanan yang komprehensif. Mereka menambahkan dampak terbesar pengurangan penularan HIV akan tampak apabila semua rekomendasi dijalankan.*
Bunda Kaci, dari Aktivis Kristen Menjadi Aktivis Muslim

Bunda Kaci, dari Aktivis Kristen Menjadi Aktivis Muslim

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Kesadararan Kaci Starbuck tentang ajaran Kristen bermula ketika dibaptis di sebuah Gereja Baptis. Dari Sekolah Minggu, Kaci tahu doktrin agamanya mengajarkan bahwa "jika seseorang tidak dibaptis, maka ia akan masuk neraka." Tapi kesediaan Kaci dibaptis bukan karena takut masuk neraka, tapi karena ia ingin membahagiakan banyak orang, terutama ibunya yang mendorong Kaci agar mau dibaptis.
Sejak taman kanak-kanak hingga remaja, Kaci sudah aktif dalam berbagai kegiatan gereja, mulai dari ikut paduan suara gereja, perkemahan tahunan remaja gereja dan kegiatan lainnya. Kaci tumbuh sebagai anak yang memegang teguh ajaran agamanya, hingga kedua orang tuanya bercerai dan mengubah pandangannya pada agama, khususnya agama Kristen yang dianutnya.
Selama ini, Kaci melihat orang tuanya sebagai pasangan yang sempurna. Ayahnya salah seorang petinggi gereja, ibunya juga membina anak-anak muda gereja. Ketika orang tuanya bercerai, ibunya pergi dan Kaci tinggal bersama ayah dan dua saudara lelakinya. Tapi, tiga tahun setelah perceraian, Kaci dan dua saudara lelakinya pindah ke rumah ibunya. Ketika itu, Kaci menyaksikan ibunya tidak lagi pergi ke gereja dan itu mempengaruhi dua saudara lelaki Kaci yang akhirnya beranggapan bahwa pergi ke gereja tidak lagi penting. Sementara Kaci, lebih senang menikmati masa remajanya di bangku sekolah menengah pertama, bertemu dengan dengan banyak teman baru.
Kaci mulai bingung dengan ajaran Kristen ketika ia bertemu dengan seorang teman sekolahnya yang menganut Kristen dari aliran yang berbeda. Temannya itu mengundang Kaci datang ke rumah bertemu keluarganya, dan mengunjungi gerejanya. Kaci memenuhi undangan itu. Ia jadi akrab dengan keluarga sahabatnya itu, bahkan sering mengunjungi gereka mereka di akhir pekan.
Keluarga itu adalah penganut Kristen sekte "Perjanjian Baru". Penganut Kristen sekte ini tidak menggunakan alat musik dalam misa-misa gereja, tapi hanya menggunakan vokal dalam menyanyikan lagu-lagu gereja. Tidak ada pendeta khusus, tapi para sesepuh komunitas itu yang memberikan khutbah setiap minggu di gereja. Perempuan dilarang bicara di gereja, tidak ada perayaan natal, paskah dan hari besar Kristen lainnya, anggur dan roti komune diberikan setiap misa Minggu dan pembaptisan sangat penting bagi penganut sekte ini. Meski Kaci sudah pernah dibaptis, sekte ini tidak mengakui Kaci sebagai penganut "Kristen" jika belum dibaptis dengan cara mereka.
Karena bingung, Kaci mendiskusikan keyakinan sekte tersebut pada ibunya. Kaci merasa ia tidak perlu dibaptis lagi. Ia akhirnya meninggalkan gereja itu, ketika ia masuk kuliah. Saat itu Kaci memutuskan untuk tidak terikat pada gereja tertentu. Ia hanya sesekali pergi ke gereja untuk mendengarkan khutbah yang menurutnya penting.
Di tahun kedua kuliahnya, Kaci bergabung dengan Gereja Wake Forest sebagai penyanyi untuk mencari uang, bukan karena mengikuti aliran gereja itu. Di tahun kedua kuliahnya itu pula, Kaci bertemu dengan seorang muslim yang tinggal satu asrama dengannya.
Belajar Islam Kesana Kemari
Lewat teman muslimnya itu, Kaci sering berdiskusi tentang apa saja. Hingga suatu sore, Kaci menanyakan pada temannya yang muslim itu sebuah pertanyaan filosofis tentang keimanan dan agama. Dari penjelasan sahabatnya itu tentang Islam, Kaci jadi bertanya pada dirinya tentang agama yang dianutnya. Tapi sayang, setelah lama berkomunikasi, Kaci merasa sahabat muslimnya itu tidak lagi menjawab rasa ingin tahu dan memenuhi kebutuhan spiritual yang diinginkan Kaci.
Pada musim panas, Kaci bekerja di sebuah toko buku dan di sanalah ia banyak menemukan buku-buku tentang Islam. Ia bertemu lagi dengan seorang muslim lain di kampusnya, dan Kaci mulai melontarkan banyak pertanyaan padanya tentang Islam. Temannya itu selalu mengarahkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Kaci pada Al-Quran yang membuat Kaci, mau tak mau membaca isi Quran. Selama satu tahun itu, Kaci dua kali berkunjung ke masjid lokal untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam, dan di sana Kaci merasakan kehidupan komunitas yang akrab.
"Setelah banyak membaca tentang Islam, saya jadi lebih sensitif jika mendengar pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan Muslim. Ketika mengambil kursus pengenalan tentang Islam, saya frustasi mendengar komentar seorang profesor tentang Islam yang saya tahu tidak benar, tapi saya tidak bisa mendebatnya," kata Kaci.
Di sela-sela kuliahnya, Kaci juga aktif dalam organisasi Islam Awareness di kampusnya. Ia bahkan menjadi orang Kristen dan perempuan satu-satunya yang aktif dalam organisasi itu. Kaci tak peduli dengan pandangan orang tentang aktivitasnya itu. Bergaul dengan muslim dan banyak membaca buku tentang Islam, membuat Kaci tidak lagi mengkonsumsi daging babi, tidak minum minuman beralkohol, dan mulai ikut berpuasa di bulan Ramadan. Perubahan ekstrim dilakukannya, ketika ia memutuskan untuk menutup rambutnya, meski bukan berjilbab.
"Sekali lagi, saya merasakan sebuah keindahan dan saya berpikir bahwa hanya suami saya yang boleh melihat rambut saya. Selama ini, saya tidak tahu menahu soal kewajiban jilbab dalam Islam, karena banyak muslimah di masjid yang saya kunjungi tidak mengenakan jilbab," ujar Kaci.
Untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam, Kaci bergabung dengan sebuah komunitas di sebuah situs Islam. Ia lalu bertemu dan berkorespondensi dengan seorang muslim yang juga tinggal di AS. Pada bulan Juli 1996, Kaci menelpon sahabatnya itu, ia menanyakan banyak hal tentang Islam dan Muslim dan mendapatkan jawaban yang masuk akal dan memuaskan. Keeseokan harinya, Kaci langsung datang ke masjid di kawasan Wake Forest, ditemani dua orang temannya, yang satu muslim dan satunya lagi non-Muslim. Tapi Kaci tidak menceritakan maksudnya datang ke masjid untuk apa.
Di masjid, Kaci mengatakan ingin bertemu imam masjid setelah memimpin salat dan memberikan ceramah. Ketika imam masjid datang padanyanya, Kaci bertanya apa yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang muslim. Sang imam menjawab, pengetahuan dasar tentang Islam dan bersyahadat. Kaci lalu mengatakan bahwa ia sudah mempelajari Islam selama setahun dan sekarang ia siap menjadi seorang muslim.
Dan hari itu, tanggal 12 Juli 1996, Kaci mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah. Setelah masuk Islam, Kaci sempat menemui kendala di tempat kerjanya karena ia mengenakan jilbab. Namun Kaci tetap mempertahankan jilbabnya. Di kampus, Kaci justru menjadi pemimpin organisasi Islam dimana ia dulu aktif di dalamnya. Dan ia dikenal dengan panggilan "Bunda Kaci." (kw/oi)

Puluhan Ribu Kaum Muslim Jatim, Madura dan Bali Hadiri Konferensi Rajab 1432 di Delta Sidoarjo



Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Seruan penegakkan Khilafah sebagai solusi atas persoalan negeri ini bergema di bumi Jawa Timur. Sekitar 30.000 warga Jawa Timur, Madura dan Bali mendukung "Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah", Ahad, 26/06/2011.

Massa  dari seluruh Jawa Timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, Nganjuk, Mojokerto, Jember, Bojonegoro, Probolinggo, Madura, bahkan Bali memadati GOR Delta untuk mengikuti Konferensi Rajab 1432 H bertema, "Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah" yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), demikian seperti dikutip suarasurabaya.net. 

Khoiry Sulaiman Ketua DPD HTI Jawa Timur mengatakan konferensi ini digelar sebagai sarana untuk memompakan semangat dan optimisme kepada umat muslim. Bahwa penegakan syariat Islam dan Khilafah sekaligus bisa mencerdaskan dan mencerahkan umat.

Dalam konferensi yang dipandu H. Hari Mukti mantan rocker era 1980an itu menghadirkan para orator dari ulama berbagai daerah seperti Aceh, Medan dan Jember. Selain juga orator dari DPP HTI.

Menurut Khoiry Indonesia saat ini tenah dirundung masalah di berbagai bidang. Kemiskinan, kebodohan, layanan kesehatan yang tidak terjangkau, kriminalitas, ekonomi liberal dan ideologi kapitalisme termasuk di dalamnya liberalisasi dan demokrasi.

Bertepatan dengan momen bulan Rajab yang memiliki 2 peristiwa besar. Yaitu perjalanan Muhammad Rasulullah dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina menuju Sidroh Muntaha yang dikenal sebagai Isra’ Mi’raj. Peristiwa kedua yang juga terjadi di bulan Rajab adalah runtuhnya Khilafah Ustmani yang berpusat di Turki pada 28 Rajab 1342 H oleh tangan-tangan penjajah.

“Akibatnya, timbul malapetaka yang menimpa muslim di dunia, runtuhnya Khilafah adalah induk segala kejahatan,” ujar Khoiry.

Meski demikian, Khoiry mengingatkan kepada massa yang hadir untuk tidak meratapi momen menyedihkan tersebut. Sebaliknya, umat muslim harus bangkit mengokohkan perjuangan pendirian penegakan syariah Khilafah. Konferensi ini menjadi momen kebangkitan dunia Islam dengan tegaknya Khilafah dan menyatukan semua muslimin di seluruh dunia untuk bersama-sama menerapkan Islam secara kaffah untuk melawan penguasan jahiliyah dari seluruh dunia. 

Humas HTI DPD I Jatim, KH Dr Moh Usman mengatakan konferensi ini bukan sekadar seremonial tanpa nilai yang membangkitkan umat. Akan tetapi mengingatkan dan  menyafarkan umat Islam sebagai umat yang terbaik (khoiru ummah).

Konferensi ini untuk mengokohkan kembali perjuangan penegakan syariah dan khilafah. ''Jawabannya hanya satu, tegakkan khilafah,'' ujarnya.

Dengan ideologi Islam, lanjutnya, semuanya akan sejahtera dan tidak akan menggantungkan kapitalis dan penjajah. ''Khilafah islam ditegakkan, tidak akan ada lagi korupsi, pornografi, pornoaksi, kemiskinan, kebodohan dan lain sebagainya,'' terang dia.

Tampak hadir dalam konfrensi ini, KH Abduh, KH Zawawi, rocker Harry Mukti, dan para asatidz dari DPD HTI I Jatim lainnya. [m/beritajatim/suarasurabaya/s
yabab.com]

Dari Jantung Revolusi Dunia 2011, Gaung Seruan Khilafah Bergelora di Bumi Tunisia




Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Dari jantung revolusi Arab dan Afrika Utara, gelora Khilafah bergema di bumi revolusi, Tunisia, negeri inspirator utama gerakan penumbangan para penguasa rezim. Sebuah Konferensi Khilafah telah digelar oleh Hizbut Tahrir Tunisia baru-baru ini mengikuti konferensi Khilafah yang digelar secara global di seluruh penjuru dunia.

Hizbut Tahrir Tunisia, pada hari Ahad, 19 Juni 2011 mengadakan Konferensi Khilafah yang di kota Tunis. Ribuan kaum Muslim berbondong-bondong menghadiri aula tempat digelarnya konferensi. Bahkan beberapa mobil rombongan para peserta dari berbagai daerah melakukan konvoi menuju tempat konferensi. Mereka mengibarkan panji-panji Rasulullah Saw yang berwarna hitam bertuliskan kalimah syahadah, sambil berteriak "Khilafah! Khilafah! Khilafah!" serta "La ilaaha illallah Al-Khilafah wa'dullah". 

Hampir tidak ada satu kursi pun yang kosong, bahkan tampak para peserta berdiri karena melubernya acara tersebut. Para pembicara menegaskan seruan mereka atas kaum Muslim untuk bersegera menegakkan Khilafah. 

Digelarnya konferensi Khilafah ini menunjukkan denyut Khilafah berdetak kencang di bumi inspirator revolusi yang merambat ke dunia Arab tersebut. 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye global dan penyadaran yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di seluruh penjuru dunia. Konferensi serupa digelar baik di Asia, Afrika, hingga Eropa, Australia dan Amerika. 

Semakin jelas, kedatangan Khilafah tidak bisa dibendung-bendung lagi. Institusi inilah yang akan membawa kembali dunia Islam kepada puncak kejayaannya untuk kedua kalinya. Di saat itulah, Islam sebagai rahmat bagi semesta alam benar-benar menaungi umat manusia, dari ujung timur hingga ujung barat dunia. Insya Allah, tinggal beberapa saat lagi! [m/ht-tunisia/syabab.com]

Sekalipun Ada Upaya Penggagalan Pihak Rezim, Seruan Khilafah Malah Semakin Bergema di Bumi Melayu



Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Gema Khilafah kini menggoncang bumi Melayu, hingga nyaris, keinginan umat melebihi cita-cita penyatuan bumi nusantara oleh Gadjah Mada. Kini umat malah menginginkan umat Islam sedunia bersatu di bawah naungan Khilafah, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Di Malaysia, Konferensi Kebangkitan Khilafah 2011 yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Malaysia dan Khilafah Centre telah sukses menarik lebih dari 800 orang peserta yang memadati Auditorium Abu Zarim, Integrated Learning Solution (ILSAS), Universitas Tenaga Nasional (UNITEN), Ahad, 26/06/2011.

Auditorium yang semula menampung hanya 600 tempat duduk ini akhirnya penuh sesak dengan masyarakat yang ingin mengikuti acara tersebut, sehingga sebagia peserta berdiri dan duduk di tangga-tangga.

Selain itu, panitia menyediakan tampilan audio-visual di luar ruangan. Sekitar 100 orang ikut serta dalam konferensi, meskipun di luar auditorium. 

Peserta terdiri dari berbagai kalangan, seperti kaum profesional, pemimpin politik, organisasi bukan pemerintahan, para akdemisi, para pelajar, para imam dan petugas masjid, pemimpin masyarakat hingga para ulama turut serta dalam konferensi yang diadakan oleh HTM pada bulan Rajab ini.

Konferensi yang semestinya diadakan di Dewan Bakawali, Puri Pujangga, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) ini terpaksa dipindahkan di saat-saat akhir ke ILSAS setelah pihak UKM 'membatalkan' penggunaan tempat secara tidak profesional karena tekanan dari pihak Kementrian Dalam Negeri dan juga pihak kepolisian.

Namun, Alhamdulilah, walaupun terpaksa harus berpindah ke tempat baru, dengan izian Allah Swt., konferensi berjalan dengan sukses dan lancar di ILSAS.

Sebagian masyarakat yang akan ikut serta konferensi yang telah hadir ke Puri Pujangga pada pagi-pagi menyuarakan rasa tidak puasnya dan menentang pihak UKM yang secara sepihak dan tidak bertanggungjawab membatalkan agenda ke-Islaman di saat-saat akhir tersebut.

Mereka kebanyak menyatakan kekecewaan terhadap pihak kampus, karena mereka datang dari tempat jauh seperti Pulai Pinang, Johor, Perak, Kedah, dan Perlis semata-mata untuk mengikuti konferensi tersebut.

Lebih mengharukan lagi, sekalipun mengalami kesulitan disebabkan perubahan tempat, kesemua peserta tetap tidak mau melepaskan peluang dan momentum, terus bergegas menarik kendaraan masing-masing ke tempat baru, setelah diberi informasi oleh panitia dari HTM yang berada di Puri Pujangga.

Konferensi kali ini dihadiri para pembicara dari anggota HTM, serta diselingi juga dengan para pembicara dari luar negeri. Mereka diantaranya adalah, Ir. Mohd Jawahir Sulaiman (seorang aktivis dan ahli perniagaan profesional dari Shah Alam), Ust. Moh. Kasim Mohd Tahir (Majelis Fatwa Negeri Sembilan), Sdr. Jabaruddeen (Ketua Gabungan Siswa Siswi Intelektual Muslim, GASIM), Ust. Umar Saad (Imam dan penceramah dari Selangor) dan Ust. Mohd. Zaki Aziz (Imam Masjid Jalan San Peng, Kuala Lumpur).

Sementara itu, pembicara dari luar negeri diantaranya Sdr Rasyid Ansari, seorang aktivis Islam dari Bangladesh, Sdr Vigan, seorang pemuda dan aktivis Islam dari Albania, Sdr. Usamah Abdullah dan Lutfi Abdullah yang keduanya dari Timur Tengah.

Para pembicara, semuanya menyuarakan dukungan mereka kepada perjuangan Hizbut Tahrir di seluruh dunia untuk menegakkan Khilafah dan menyeru umat Islam agar bersama-sama di dalam perjuangan mulia ini demi menyatukan kaum Muslim dan menerapkan hukum Allah secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah.

Panelis dari HTM pada konferensi kali ini diantaranya Ust. Ridhuan Hakum, Ust. Umar Hussein, Nek Ngah, Ustzh. Aisyah Rahmat (Muslimah HTM) dan Ust. Abdul Hakim Othman (Pimpinan HTM).

Para peserta meneteskan air mata ketika Nek Ngah, seorang nenek dengan 19 cucu tersebut berbicara, di mana beliau menyampaikan bahwa umat Islam selama ini sudah lama hidup menderita dan tertindas di bawah sistem demokrasi buatan Barat dan beliau menyer kepada para hadirin agar bersama-sama menggantikan sistem demokrasi kufur ini kepada sistem Islam di bawah Negara Khilafah.

Para pembicara berhasil menaikkan semangat para peserta, berulang kali melantunkan takbir sepangjang berlangsungnya konferensi ini. Menariknya, konferensi juga turut dihadiri oleh peserta non-Muslim yang ingin mendapatkan gambaran lebih dekat tentang perjuangan Hizbut Tahrir untuk menegakkan Khilafah.

Konferensi yang dimulai sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul 14.00 waktu setempat, turut diselingi dengan rekaman video dari Juru bicara Hizbut Tahrir dari beberapa negara, seperti Ust. Muhammad Ismail Yusanto (Hizbut Tahrir Indonesia), Uthman Badar (Hizbut Tahrir Australia), Chadi Freigh (Hizbut Tahrir Skandinavia), Abu Khalil (Hizbut Tahrir Sudan), Ahmad al-Qasas (Hizbut Tahrir Lebanon), Taji Mustafa (Hizbut Tahrir Inggris), dan Syeikh Issam Ameera (Hizbut Tahrir Palestina).

Dalam pembicaraan singkatnya itu mereka menujukan secara khusus kepada umat Islam di Malaysia, mereka menyinggung kebangkitan Islam di seluruh dunia untuk menentang pelaksanaan hukum thaghut ciptaan manusia, penyelewengan dan kejahatan pemerintah negeri Muslim serta persekongkolan mereka dengan kuffar Barat. Para Jurubicara Hizbut Tahrir ini menyeru dan berharap agar umat Islam di Malaysia turut serta bergabung bersama perjugangan Hizbut Tahrir di seluruh dunia untuk mendirikan Khilafah.

"HTM mengharapkan agar Konferensi Kebangkitan Khilafah 2011 ini dapat menjadi momentum dan benar-benar akan dapat membangkitkan umat Islam dengan usaha-usaha perjuangan menegakkan Khilafah untuk menggantikan sistem Kapitalisme sekular yang mencengkram umat Islam sekarang".

"HTM pada kesempatan ini mengucapkan jazakumullah khairan kepada semua petugas, penceramah, para hadhirin-hadhirat yang telah menyukses konferensi ini," tegas Hizbut Tahrir seperti disampaikan dalam situs resminya di www.mykhilafah.com. [m/myk/syabab.com]
Yang Menarik di Konferensi Rajab Jatim: Makar!

Yang Menarik di Konferensi Rajab Jatim: Makar!

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Siapa yang menyangka, di balik suksesnya acara Konferensi Rajab Jawa Timur yang dihadiri oleh sekitar 30.000 peserta di Gelora Delta Sidoarjo, di sana menyisakan peristiwa-peristiwa unik dan menarik. Sebenarnya sama sekali kurang tepat jika saya katakan unik, apalagi menarik, karena yang terjadi justru tragedi penyerangan oleh preman udik lagi kampungan ke stadion terbesar di Jawa Timur itu.

Jika dibandingkan dengan Konferensi Rajab di kota-kota besar yang lainnya, wilayah Jawa Timur jelas menjadi hajatan yang termegah dan terbanyak pesertanya. Karenanya wajar, jika bendera Al-Liwa dan Ar-Raya dipasang di sepanjang jalan menuju tempat dilangsungkannya konferensi tersebut. Hanya saja, bendera-bendera Rasulullah tersebut raib dengan menyisakan beberapa tiang kayu dan tali rafia yang masih tetap tegap menantang dengan ringkihnya.

Jangan marah dulu, kita mesti husnudhon. Barangkali mungkin mereka saking cintanya kepada bendera Rasulullah, maka mereka mengambilnya untuk dipasang di depan rumah-rumah mereka. Bukankah sebentar lagi agustusan? Bukankah di bulan itu mereka wajib memasang bendera? Kita doakan saja, semoga mereka lebih memilih memasang dan berhormat kepada bendera al-Liwa dan ar-Rayya dari pada bendera-bendera yang lainnya. Amin Allahumma amin..

Tepat pukul 03.00 WIB dini hari waktu setempat, meraung-raung suara knalpot di sekitar Gelora Delta Sidoarjo. Jumlahnya puluhan. Jika Anda tidak bisa membayangkan seberapa keras suara knalpotnya, maka bisa saya ibaratkan seperti suaranya vocalis music underground yang terdengar serak-serak jebol. Diperkirakan preman itu berjumlah 50-an. Pada waktu di mana hampir semua panitia pulas dengan istirahat malamnya, preman-preman tersebut merangsek masuk ke dalam stadion lewat pintu utama, beserta sepeda motornya tentu pula. Mereka, dengan amarahnya, merobek-robek semua banner yang terpasang di sana. Bahkan mereka pun kemudian menuju tiang bendera, dan bermaksud menurunkan bendera hitam dan putih yang bertuliskan kalimat tauhid, yang masih berkibar syahdu di waktu mustajabah.

Salah seorang Ustadz mendatangi mereka, memegangi salah satu di antara mereka. Namun Ustadz itu justru dipukul dengan kayu di sebelah punggungnya.

Sekali lagi jangan marah, mungkin saja mereka ingin mengucapkan selamat dan sukses bagi para panitia pelaksanaan Konferensi Rajab. Hanya mungkin, mereka terlalu bersemangat, mereka saking bahagianya hingga melampiaskannya dengan cara yang saya bilang di awal, unik dan menarik.

Sayangnya saya tidak berada di tempat kejadian. Jika waktu itu saya di sana, Allahu Akbar, saya menemukan lahan syahid. Tapi lantas saya berfikir, bagaimana jika keimanan saya waktu itu justru lagi berada pada titik nol? Artinya, saya melepaskan bendera Rasulullah dari tangan saya. Dan saya lari dari kebrutalan mereka. Na’udzubillah, berarti pada waktu itu tipisnya keimanan saya sedang terlihat, bahkan mungkin gelar yang pantas disematkan di pundak saya adalah: Sang Munafiqun!

Satu lagi saja kisahnya. Cerita ini bahkan membuat saya geleng-geleng kepala. Karena ternyata, saya lebih akhwat dari akhwat! Hahaha. (Siapa di sana yang bilang Maho? Fitnah! Itu fitnah! Hahah)

Adalah kafilah dari akhwat IAIN Sunan Ampel Surabaya yang memasang spanduk bertuliskan ”IAIN Sunan Ampel Turut Serta Mendukung Tegaknya Syariah dan Khilafah” di muka pagar tribun bagian dalam stadion. Pikir-pikir, seumur-umur saya kuliah di IAIN Sunan Ampel tidak segokil itu. Dan memang gokil, bahkan saat akan dimulainya acara Konferensi, pihak rektorat IAIN Sunan Ampel menghubungi (menelepon) salah seorang panitia untuk menurunkan spanduk yang dianggap ’nyelonong’ itu. Saya tidak berani mengatakan bahwa telepon itu terselip juga kalimat ancaman, meski toh spanduk itu akhirnya benar-benar dilipat dan diturunkan.

Nah, Kawan, saya tertawa-tertawa geli saat menulis berita amatir ini. Saya hanya tak menyangka sebelumnya, bahwa di balik gegap gembita semangat para pejuang Syariah dan Khilafah, ternyata ada sebagian saudara kita di luar sana sibuk dengan sendirinya. Panik dan heboh melebihi kebencian mereka terhadap Amerika yang mengeruk semua sumber daya alam negara Indonesia. Merasa tersinggung melebihi perasaan sakit mereka terhadap pelecehan aqidah oleh Ahmadiyah dan aliran-aliran sesat yang lainnya. Merasa geram melebihi kebencian terhadap Nurdin Halid, Gayus tambunan, Nazaruddin, Panji Gumilang, Malinda Dee, bahkan mereka merasa risih melebihi jijiknya mereka terhadap bisnis daging di gang Dolly.

Tetapi itulah sunnatullah, Kawan. Tidak ada sejarahnya perjuangan tanpa hambatan. Rasulullah pun berkali-kali memimpin peperangan. Karena itu sudahlah, lupakan saja, mari tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaan kita.

Terakhir, mengutip ungkapan kocak dari ustadz Faqih Syarif yang bertugas sebagai MC dalam konferensi tersebut: Orang yang sabar dalam berdakwah namanya ”Sabaruddin”. Orang yang menolong agama Allah namanya ”Nashruddin”. Dan orang yang menghacurkan agama Allah namanya ”Fashluddin ’anil hayah.”

”Takbir!” pekik ustadz Harry Moekti. [Ahsan Hakim]

Hmm... Kayaknya panitia KR untuk tgl 29 Juni 2011 kudu siap-siap nih.. Bagai Pasukan Terbaik di muka bumi yaitu pasukan Muhammad Al-Fatih! Ayo taklukkan kapitalisme global wahai cucu-cucu Muhammad Al-Fatih! Sungguh.. Makar Allah lebih hebat euy! Makar musuh-musuh islam mah Frikitiw.. ^,^ Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...!!!(voa-k)
Konferensi Rajab 1432H di Bumi Tambun Bungai Palangka Raya

Konferensi Rajab 1432H di Bumi Tambun Bungai Palangka Raya

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Ahad 26 Juni 2011, sebuah perhelatan akbar kaum muslimin digelar di Bumi Tambun Bungai. Yaitu Konferensi Rajab 1432 H dengan tema Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah. Konferensi ini digelar sebagai sarana untuk memompakan semangat dan optimisme kepada umat muslim. Bahwa penegakan syariat Islam dan Khilafah sekaligus bisa mencerdaskan dan mencerahkan umat. Konferensi ini menjadi momen kebangkitan dunia Islam dengan tegaknya Khilafah dan menyatukan semua muslimin di seluruh dunia untuk bersama-sama menerapkan Islam secara kaffah untuk melawan penguasa jahiliyah dari seluruh dunia. Konferensi ini bukan sekadar seremonial tanpa nilai yang membangkitkan umat. Akan tetapi mengingatkan dan menyadarkan umat Islam sebagai umat yang terbaik (khoiru ummah). Dengan ideologi Islam, semuanya akan sejahtera dan tidak akan menggantungkan kapitalis dan penjajah.

Mulai pukul 06.30 para peserta sudah mulai berdatangan dan memadati halaman gedung, hingga acara dimulai ribuan orang memadatai GPU Tambun Bungai. Mereka datang dari berbagai kalangan di sekitar kota Palangka Raya dan berbagai daerah di Kalimantan Tengah. Mulai dari warga kota Palangka Raya dan sekitarnya, Gunung Mas, Kotim, Seruyan, Barito Timur, Buntok, Murung Raya dan Muara Teweh, Sukamara, Lamandau, Pangkalan Bun, hingga ada yang datang dari manismata, ketapang . Semuanya dengan penuh semangat memenuhi undangan konferensi yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir DPD 1 Kalimantan Tengah. Jarak yang jauh dan perjalanan yang melelahkan tak membuat surut peserta dari luar kota untuk hadir di konferensi ini.

Acara yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Akhmad Junaidi, S.Pdi dan sari tilawah oleh Soliansyah dan dilanjutkan dengan opening speech oleh ketua DPD I HTI Kalimantan Tengah ust. Hadian Susilo, ST. Dan sebagai orator dalam konferensi tersebut adalah KH Gusti Jaga Sukma (DPD II HTI Sukamara), Kiyai Abu Nasir (DPD II HTI Kotawaringin barat sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Darul Hikam), Ust. Rudini, S.Pd (DPD I HTI Kalteng), Ust. Sudharmono (Ketua Lajnah Maslahiyah DPD I HTI Kalteng, Ust. Surirayunata (Ketua Lajnah Tsaqafiah DPD I HTI Kalteng), dan terakhir Ust. Abdullah Fanani (DPP HTI). Orasi demi orasi disampaikan secara maraton.

Beberapa poin penting yang disampaikan oleh keenam orator dalam Konferensi, Pertama, Indonesia saat ini dalam cengkeraman kapitalisme global dimana Amerika Serikat (AS) dan Eropa sebagai pengemban utama ideologi kapitalisme tersebut. Beberapa isu yang dipakai adalah perang melawan terorisme, isu demokratisasi dan hak asasi manusia (HAM), dan pendekatan Stick and Carrot. Kedua, Umat Islam saat ini mengalami kemunduran luar biasa di segala lini karena beberapa faktor : Faktor eksternal, yakni gencarnya serangan dari luar umat Islam dan faktor internal yakni, umat Islam telah meninggalkan ajaran Islam; terpengaruh pemikiran dan sistem sekular. Ketiga, Kesejahteraan dalam Islam didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang terlindungi kesucian agamanya, terlindungi keselamatan dirinya, terlindungi akalnya, terlindungi kehormatannya, terlindungi hak miliknya/hak ekonominya. Dan semuanya akan terwujud jika ideologi yang mendasarinya benar yakni Islam.

Keempat, khilafah akan menjadi negara adidaya masa depan. Kelima, khilafah adalah janji agung Allah SWT yang terdapat dalam QS an-Nur [24]: 55) dan sejumlah hadits sahih bahwa Nabi Muhammad saw. Dan Keenam, dunia membutuhkan Khilafah sebagai sistem global yang mampu menciptakan kesejahteraan, keadilan dan persaudaraan global. Dan Hizbut Tahrir menyeru seluruh kaum Muslim untuk ikut bergabung dalam barisan ini, melangkah bersama dalam perjuangan menegakkan kembali Khilafah, menyeru secara pemikiran dan politik dan tidak menempuh jalan kekerasan semata-mata untuk mengikuti sirah Nabi saw dalam menegakkan Daulah Khilafah Islam.

Disampaikan juga testimoni oleh perwakilan dari ulama dan mahasiswa. Ust Hasbullah Huda Pengasuh majelis ta’lim Babur Rohim dan Ust Surya Taufik pengasuh Pospes Al-Hafidz mewakili Ulama dan Sdr Rahmadi mewakili Mahasiswa yang pada intinya mereka mendukung perjuangan Hizbut Tahrir untuk menerapkan syariah dalam bingkai Daulah Khilafah demi kesejahteraan umat dan meraih ridha Allah SWT.

Selain orasi dan testimoni tokoh juga ada penampilan marawis, nasyid dan teatrikal oleh para pemuda yang mengibarkan bendera Islam al-liwa dan ar-rayah dengan penuh semangat sebagai simbol dalam perjuangan menerapkan syariah Islam dan hidup sejahtera di bawah naungan khilafah serta penyerahan bendera secara simbolik kepada para pembicara diikuti dengan kibaran bendera Islam dan pekikan takbir dari peserta yang memadati GPU Tambun Bungai. Pada penghujung acara titik air mata para peserta tak terbendung saat renungan dan doa dipanjatkan yang dipimpin oleh ust Masyakin pengurus masjid Gede Kota Waringin Lama. Mereka berharap agar janji Allah yakni tegaknya Khilafah akan segera terwujud. [HTI Press]
Konfrensi Rajab 1432 H Sumut : Umat Bersama Ulama, Pengusaha, dan Intelektual Rindu Khilafah

Konfrensi Rajab 1432 H Sumut : Umat Bersama Ulama, Pengusaha, dan Intelektual Rindu Khilafah

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Sekitar 2600 Kaum Muslimin dari berbagai kalangan di Sumatera Utara menghadiri konferensi rajab 1432 H yang digelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia Daerah Sumatera Utara Ahad (26/6), di Gedung Selecta, Medan. Peserta yang hadir dari penjuru daerah di Sumatera Utara seperti Tapsel, tarutung, Sibolga, Kisaran, Siantar, Sergei, Binjai dan Medan ini didominasi oleh para tokoh masyarakat dan mubalighah.

Ustadz Basyuni, Phd Humas HTI Sumatera Utara dalam Opening Speech nya mengatakan bahwa konferensi ini dilaksanakan sebagai medium mengokohkan komitmen dalam penegakan khilafah sebagai bahagian dari upaya untuk menyambut janji Allah, yakni akan ada khilafah sebagai Negara adidaya baru dunia.

Konferensi Rajab yang digelar di kota Medan ini sebagai rangkaian dari agenda Nasional HTI ini mendapatkan sambutan dan antusias yang luar biasa dari peserta yang notabennya reta - rata tokoh masyarakat di Sumatera Utara. Antusias ini tampak dari pernyataan Bapak Drs.Suprayetno, W.M.A salah seorang dosen di IAIN alumnus S3 Canada University dalam testimoninya Intelektualnya. Ia mengatakan bahwa, merinding ‘bulu kuduk’ nya saat masuk ruangan Selecta ini karena ia seakan diberi hidayah dan petunjuk bahwa bahwa Hizbut - Tahrirlah ‘wadah’ ia berjihat dan berdakwah yang benar dan sesuai dengan hati nuraninya. Ia mengatakan, sebagai orang akademisi secara ilmiah ia menyakini benar bahwa khilafah yang diperjuangkan umat islam dan Hizbut - Tahrir pasti tegak dalam waktu dekat. Dan ia menyeru kepada semua intelektual yang ‘keblinger’ yang selama ini menolak khilafah untuk mau bersatu, bergabung dengan Hizbut - Tahrir untuk memperjuangkan khilafah sebagaimana dirinya yang sekarang sudah merasa bergabung dan menyatu dengan Hizbut - Tahrir. ” kembali saya ingatkan dan ajak wahai semua kaum muslimin dan para inteletual yang keblinger yang menolak khilafah, agar anda semua mau bergabung bersama dalam perjuangan menegakan khilafah” ucapnya penuh dengan rasa haru di konfrensi ini.

Selain itu, dalam kesempatan yang sama hadir pula pengusaha CEO/Owner Madinah Syariah (Supermarket berbasis syariah pertama di Indonesia) M.Pendi Leong mewakili para pengusaha dalam testimoninya mengatakan bahwa, dirinya seorang muallaf dan pengusaha saja menyakini bahwa perjuangan penegakan khilafah adalah kewajiban dan solusi bagi dunia sekarang yang sekarang sudah dicengkram kapitalisme global. ” tiada kemulian tanpa islam, tiada islam tanpa syariah, dan tidak ada syariah tanpa khilafah” katanya mengobarkan semangat peserta konfrensi. Lanjutnya, ia mengajak kepada seluruh kaum muslimin khususnya peserta konfrensi rajab agar bergabung dengan Hizbut - Tahrir untuk berjuang menegakkan khilafah sebagaimana yang dilakukan oleh dirinya.

Demikian juga pernyataan dari Bapak H. toungku Baharuddin salah satu tokoh masyarakat bahwa kita harus berjuang menegakkan khilafah meski berbagai tantangan akan kita hadapi. Perjuangan hizbut - tahrir harus mendapatkan dukukngan dari masyarakat, karena ini lah perjuangan yang akan menyelematkan dunia.

Pernyataan dukungan yang lainnya berasal dari Komisi fatwa MUI Padang Sidempuan Khilafah sebagai sebuah janji allah yang akan menyelamatkan keterpurukan manusia dari belenggu system sekuler harus ditegakkan. Bukan itu saja, ia mengatakan bahawa konferensi ini juga mampu menggelorakan semangat sekaligus kerinduan akan tegaknya khilafah. Benar katanya bahwa kerinduannya terhadap khilafah sudah sangat memuncak terbukti dirinya yang memiliki cacat tubuh harus rela menempuh jarak yang jauh dalam perjalanan satu hari satu malam dari Tapsel dan harus bermalam di perjalanan dan di Medan untuk bias mengikuti acara konfrensi ini.

Bahkan saking rindunya umat terhadap khilafah, salah satu rombongan peserta dari serdang bedagai. memilih membawa Ar Royah dan dikibarkan di krumunan peserta yang hanya diberi Royah kertas oleh panitai. Dan ia mengatakan bahwa Royah itu ia bawa sebagai bentuk antusiasnya dalam memriahkan Konfrensi Rajab, walau konfrensi itu dilaksanakan di ruang tertutup

Antusiasme peserta juga terlihat jauh hari sebelum acara. Terlihat seorang ibu yang rela membawa anaknya berusia dua bulan yang belum pulih total dari sakit infeksi paru - paru yang baru saja dirawat inap di rumah sakit beberapa hari sebelum Konfrensi rajab, dengan penuh semangat ia turut hadir dalam acara konfensi rajab tersebut walau harus berdesak - desakan dengan krumunan peserta yang membludak. Ukhuwah Islam benar-benar tercipta tatkala panitia kerapsekali rapat hingga dini hari dalam mempersiapkan acara agar berjalan dengan baik.

Kerinduan dan semangat perjuangan penegakkan khilafah yang tercipta pada saat konferensi membuat beberapa peserta sampai menitikan air mata dan bersedia mengikuti pembinaan bersama Hizbut Tahrir sebagai dukungan terhadap perjuangan penegakan syariah dan khilafah. [HTI Press]
Konferensi Rajab HTI Jatim : Atraktif dan Penuh Makna

Konferensi Rajab HTI Jatim : Atraktif dan Penuh Makna

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Peringatan Isra' Mi'raj nabi Muhammad SAW di tahun 1432 H di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), kemarin (26/6) sangat menyentuh dan menggugah hati, ungkap seorang wartawan media.

Sukses penyelenggaran Konferensi Rajab Jatim ini, menyusul kesuksesan HTI dalam menggelar acara serupa di berbagai kota besar indonesia yang diawali di Banjarmasin, kemudian disusul berbagai kota yang membentang dari aceh hingga Bandar Lampung, bahkan di Ternate dan Jayapura. Bahkan di hari yang sama juga diselenggarakan di Pontianak, Gorontalo, Medan, Makasar, Riau dan Palangkaraya yang disiarkan bersama melalui video streaming.
Dihadiri 30.000 peserta dari seluruh pelosok Jawa Timur, disuguhkan teatrikal yang membangkitkan umat oleh Mahasiswa UKKI STIS-SBI, Unair dan ITS dengan iringan live music SMKN 9 Surabaya. Tidak hanya, itu orasi para orator Konferensi Rajab Jatim ini mengingatkan dan menyadarkan umat islam sebagai umat terbaik (Khairu ummah).

Sejak maret 1924 M atau bertepatan dengan bulan Rajab 1342 H umat islam telah kehilangan pelindungnya yakni Khilafah. Anggota DPP HTI Ihsan Al Fatih mengingatkan pentingnya posisi Indonesia di tengah kapitalisme global, yang justru membuat indonesia sengsara. Hal senada disampaikan orator HTI lainnya, Abdun Muthi’, Ibnu Ali, Dwi Condro dan Ali Mustofa Murtadho bahwa hal tersebut mengharuskan adanya solusi. Khilafah sebagai Solusi, hidup sejahtera di bawah naungan khilafah sebuah negara adidaya masa depan yang menyejahterakan. Khilafah sebagai keniscayaan, sungguh tegaknya Khilafah janji Allah. Ketua DPP HTI Rokhmat S.labib yang juga hadir menyampaikan orasi menegaskan Hizbut-Tahrir secara terus menerus menyeru kepada Umat. Seperti halnya Konferensi Rajab untuk mengokohkan kembali perjuangan penegakan syariah dan Khilafah.

Hizbut Tahrir berharap kesadaran tentang kewajiban penegakan Khilafah semakin menguat dan meluas. Termasuk berharap semakin banyak umat Islam Indonesia yang mengambil bagian langsung dari kewajiban ini dengan bergabung bersama Hizbut Tahrir . Sebab, bergabung dengan jama’ah dakwah atau kutlah siyasi (kelompok politik) yang memperjuangkan tegakknya Khilafah adalah fardhu (wajib). Umat tidak hanya berhenti pada pertanyaan apa dalilnya khilafah. Atau hanya berulang kali bertanya kapan khilafah tegak. Yang terpenting sekarang ini mengambil tindakan nyata memperjuangkannya tegaknya Khilafah Islam, InsyaAlloh akan mempercepat tegaknya Khilafah. [HTI Press]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL