Alhamdulillah... Pelajar AS Belajar Mengenakan Jilbab

Voa-Khilafah.co.cc, MICHIGAN - Semenjak pekan lalu, Charly Loper menjadi pusat perhatian di lingkungan dan sahabat-sahabatnya. Namun, Loper begitu menikmati situasi itu. "Sekarang saya merasa selalu diawasi," paparnya seperti dikutip dari cm-life.com, Kamis (29/9).

Situasi itu berawal saat Loper memutuskan untuk berpartisipasi dalam program mengenakan hijab yang diselenggarakan sekolahnya. Program itu dipimpin oleh Amanda Jaczkowski, rekan Loper di SMP Clinton Township, Michigan.

"Hijab adalah bagian dari ajaran Islam yang sangat disalahpahami. Saya ingin membantu anak-anak untuk lebih memahami apa artinya," kata Jaczkowski yang juga menyebut sekitar 25 perempuan telah berpartisipasi.

Siswa SMP Clarkson, Hannah Grimaldi mengatakan ia telah mengalami diskriminasi sejak mengenakan jilbab. "Saya mulai mengenakan jilbab, Jum'at lalu. Orang-orang seolah menatap saya dengan heran," kata Grimaldi.

Grimaldi mengatakan dia berasal dari daerah yang didominasi putih dan jarang bersinggungan dengan budaya lain. "Anda mendapatkan kesempatan untuk berada dalam budaya orang lain," katanya.

Bagi setiap peserta, ada tiga tingkatan berbeda yang dapat dipilih. Tingkat pertama mengharuskan mereka untuk mengubah penampilan fisik mereka dengan menutup kulit dan rambut. 

Mereka juga tidak diperkenankan untuk menunjukkan kemesraan di depan umum atau mengkonsumsi alkohol. Tingkat kedua meliputi yang pertama, namun ditambah syarat untuk tidak mengonsumsi daging babi.

Tingkat ketiga meliputi tingkat pertama dan kedua, dengan menambahkan syarat melarang hubungan suami istri bagi mereka yang belum menikah dan menghindari suasana yang memungkinkan terjadinya hubungan suami istri.

"Saya pikir itu akan menarik untuk hidup dengan jilbab dan melihat bagaimana orang-orang akan memperlakukan Anda," kata Loper. 

Menurutnya, sebagian besar orang di sekitarnya tidak tahu bagaimana memperlakukan dirinya. "Aku tahu mereka tidak nyaman," tuturnya.

Sebelum acara tersebut, Loper mengatakan, ia melihat mengenakan jilbab sesuatu yang tidak benar. "Saya selalu pikir itu merendahkan bagi wanita. Tapi nyatanya, tidak juga," pungkasnya. 

Kisah Ibu dan Anak yang Sama-sama Mencari 'Tuhan' dan Menemukannya dalam Islam


Voa-Khilafah.co.cc, DUBLIN - Biasanya di Barat, adalah anak dan bukan orang tuanya yang menjadi mualaf. Tidak demikian dengan Aisha dan Phildel, anaknya. Aisha, keturunan Irlandia, suatu hari memutuskan bahwa dia harus memeluk Islam apapun resikonya. termasuk, kemungkinan akan membuat Phildel, putri semata wayangnya, kecewa. 

Di sisi lain, Phildel merasakan hal yang sama. Pencariannya tentang Tuhan, berujung pada Islam. Berikut kisah keduanya:


Aisha: Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik Roma di Dublin pada tahun 1960-an. Sementara Dublin tampak seolah 'terjebak' di abad ke-19, tepat di seberang Laut Irlandia budaya hippie tumbuh subur di London. Sebagai seorang anak, saya bertanya banyak pertanyaan selama pendidikan di sekolah biara. Diskusi agama selain Katolik Roma atau "kejahatan Protestantisme" benar-benar tidak ada.

Pada usia 16 tahun aku meninggalkan Dublin dan datang ke London. Aku larut dalam kebiasaan anak muda  yang 'normal' di kota itu: melakukan kunjungan rutin ke pub dan klub. Tapi aku melihat teman-temanku selalu depresi. 

usia 20-an tahun, aku memutuskan menikah dan melahirkan putri pertamayang jelita, Phildel. Aku sangat senang tetapi sering merasa seperti sebuah pasak persegi di lubang bundar; seolah-olah aku masih belum menemukan tempat yang tepat bagiku.

Suatu hari aku berbicara dengan seorang wanita mengenakan jilbab. Dia bilang dirinya Muslim dan itu adalah pertama kalinya aku pernah mendengar kata itu. Pada perkembangan berikutnya, di tempat kerja, saya mengenal beberapa Muslim dan mereka mulai bercerita lebih banyak tentang Islam.

Suatu malam aku menemukan diriku berjalan di jalanan dengan Phildel di bawah hujan dan tak tahu harus kemana, setelah bertengkar hebat dengan suamiku dan kami diusir. Aku ingat mengangkat mataku ke langit dan memohon pada Tuhan untuk membantuku entah bagaimana atau memberiku suatu pertanda kalau Dia ada. Entah bagaimana caranya, kami sampai di sebuah rumah yang ternayata milik perempuan berjilbab yang pertama kali aku mengenal Islam darinya!

Setelah menemukan rumah sendiri, aku mulai belajar Islam. Lama aku mempelajarinya, sebelum akhirnya yakin, Islamlah agama yang pas buatku. Phildel membuatku maju-mundur untuk bersyahadat, namun akhirnya aku kuatkan hati dan menjadi Muslim. Aku kini sudah menikah lagi dengan pria Muslim dan memiliki seorang anak dengannya, Amina namanya. 

Phildel, yang aku besarkan sebagai seorang Katolik Roma sampai perceraianku, tanpa aku sadari sangat antusias tentang Islam dan mengatakan syahadat sendiri. Dia kemudian memilih nama Zara. Phildel kini memilih tinggal dengan ayahnya.


Phildel: ibuku dan aku sangat dekat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang aku cintai selain dia. Pada tahun-tahun menjelang perceraian orang tuaku, kami menghabiskan lebih banyak waktu di sekitar keluarga Muslim. 

Setelah perceraian kehidupan kami menjadi semakin sulit; pernikahan orang tuaku mencapai titik yang paling bergolak dan aku lebih dari lega ketika seluruh cobaan berat itu berakhir. Aku menandai perubahan yang positif dalam diri ibu dan ayah saya segera setelah mereka berpisah. Saya pikir sekitar waktu ini ibu saya mengalami pengalaman yang membangkitkan semangat luar biasa di rumah seorang teman dan kemudian menjadi seorang Muslim. 

Aku? Meskipun aku tidak pernah dipaksa untuk menjadi seorang Muslim, saya menyadari langkahku menjadi Muslim adalah hasil pengaruh lingkungan. Aku tumbuh di sekitar keluarga Muslim, maka secara tak langsung pikiranku ternegaruh. Itulah sebabnya, setelah bersyahadat, aku sempat kembali ke agama lama; hanya untuk meyakinkanku agama apa sebetulnya yang dipilih hatiku. 

Kini aku tinggal terpisah dari ibu - aku tinggal bersama ayah kandungku - dan berpikir Islam adalah agama yang indah. Aku senang membantu di masjid dan berbicara dengan saudara-saudara Muslimku. Kurasa aku hanya ingin mengalami sesuatu yang membuatku tahu ini adalah arah yang perlu aku ambil, arah yang benar, yaitu menjadi Muslim. 

Jadi sampai sekarang aku masih belajar.

(RoL/Voa-Khilafah.co.cc)

Benteng Umat


Voa-Khilafah.co.cc - Ramadhan telah berlalu. Di tengah kekhusyukan Ramadhan tahun ini umat Islam disuguhi pemandangan yang menyakitkan.  Ramadhan yang mestinya menjadi momentum penyatuan umat Islam tidak terjadi.  Sebut saja Somalia. Di  negeri Muslim Somalia tengah terjadi kelaparan.  PBB melaporkan 3,7 juta orang (separuh penduduk) di negara  yang berpenduduk 9,3 juta dengan mayoritas Muslim ini dilanda kelaparan.
Tanggapan dari pemerintahan Muslim yang kaya hampir tak berarti. Penguasa Muslim yang menjadi boneka Barat tidak begitu peduli. Mereka lebih memilih membelanjakan harta hasil korupsinya untuk perkara yang tidak penting. Qatar, misalnya, membelanjakan  $430 juta untuk membeli suatu hasil karya seni AS.  Padahal uang sejumlah itu dapat digunakan untuk memberi makan 4,3 juta orang, tiga kali makan sehari, selama satu bulan penuh (sekali makan perorang Rp 10.000).  Sungguh memilukan.
Saat anak-anak binasa karena kekurangan gizi, para penguasa Muslim sibuk membeli bank-bank AS yang bangkrut, membeli vila indah atau klub sepakbola Eropa. Sekadar contoh: Syeikh Mansour membeli Manchester City dengan harga Rp 2,8 triliun, Sulaiman Al-Fahim mengakuisi Portsmout Rp 986,7 milliar, Pangeran Faisal bin Fahd bin Abdullah dari Saudi berniat membeli Liverpool dengan kisaran harga Rp 5,15 triliun!  Padahal saat bulan Ramadhan, al-Quran dibaca sampai khatam.  Apa yang ada di dada kita saat membaca ayat (yang artinya): Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin(TQS al-Ma’un [107]: 1-3).
Apakah kelaparan yang dirasakan saudara kita di Somalia tidak kita rasakan di sini?  Terbayangkah oleh kita rintihan mereka di sana ketika kita sedang makan ketupat dengan lauk-pauknya yang serba mewah?  Bukankah Muslim itu saudara Muslim lainnya?  Bayangkan, bila umat Islam ini punya khalifah sebagai pemimpin; mereka pasti akan ada yang memperhatikan.
Di tengah kesungguhan kita menjaring Lailatul Qadar, di Amerika Serikat (AS) telah diterbitkan sebuah buku berjudul: We Shall not Forget 9/11, The Kids’ Book of Freedom (Kami Tidak Akan Pernah Lupa 9/11-Buku Bebas untuk Anak-anak), yang ditulis oleh Wayne Bell.  Di antara tulisannya berbunyi, “Hai, anak-anakku, yang benar adalah, bahwa inilah tindakan teroris yang dilakukan oleh para ekstremis Islam yang benci akan kebebasan…Mereka adalah orang-orang gila yang membenci cara hidup Amerika, sebab kami orang-orang yang merdeka dan masyarakat kami hidup bebas.”
Padahal hingga sekarang pengadilan tentang hal tersebut belum pernah digelar. Justru banyak peneliti independen dari AS sendiri menyatakan bahwa pelaku peledakan WTC itu adalah AS sendiri.  Buku ini sungguh telah melukai perasaan kaum Muslim. Penulisnya dengan sengaja mengobarkan kebencian terhadap Islam.  Umat Islam pun tidak bereaksi apa-apa.  Diam.  Padahal al-Quran menegaskan (yang artinya): Mereka mengharapkan kehancuran kalian.  Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat (QS Ali ‘Imran [3]: 118).
Di Libya, Qaddafi dengan dukungan Barat, membunuhi rakyatnya sendiri.  Namun, rakyat terus berjuang. Di antaranya Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang bahkan melakukan perlawanan terhadap kezaliman Qaddafi sejak hari pertama rezim itu berkuasa. Bahkan Hizbut Tahrir telah mempersembahkan sejumlah syuhada dalam menentang kezaliman Gaddafi dan rezimnya itu. Setelah rezim tiran Qaddafi jatuh, negara-negara imperialis mulai bersaing untuk mengeksploitasi minyak Libya. Lagi-lagi, negeri Muslim menjadi rebutan negara penjajah.  Mengapa?  Sebab, umat Islam tidak memiliki khalifah sebagai benteng yang menjaganya.
Begitu juga di Suriah.  Sejumlah ulama senior dan intelektual mengutuk serangan berulang oleh rezim Suriah terhadap rumah-rumah Allah, para ulama dan setiap tempat suci, pada bulan Ramadhan. Penyerangan terbaru dilakukan terhadap ulama senior Suriah, Syaikh Usamah ar-Rifa’i.  Sejumlah unjuk rasa antipemerintah dilaporkan terjadi di berbagai tempat di Suriah setelah salat Idul Fitri hari Selasa (30/8).  Ribuan orang turun ke jalan-jalan termasuk di Ibukota Damaskus.  Namun, pasukan keamanan justru melakukan penembakan yang menewaskan paling tidak tujuh orang.  Penguasa Muslim lain membisu terhadap realita ini.  Padahal bukankah mereka membaca hadis Rasulullah saw.: “Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya laksana satu bangunan yang saling menopang satu sama lain (Beliau mengeratkan jari-jemari beliau satu sama lain).” (HR al-Bukhari).
Lagi-lagi nyawa umat Islam tertumpah murah.  Kita sungguh butuh khalifah yang menjaga kehormatan darah umat Muhammad ini.
Di Indonesia, perbedaan hari Idul Fitri juga mengherankan.  Hanya karena suara terbanyak menghendaki lebaran pada hari Rabu (31/8/2011), kesaksian terlihatnya hilal di beberapa tempat oleh sejumlah orang terpercaya dan telah disumpah, justru ditolak.  Padahal dengan merujuk pada qawl dan fi’l Rasulullah saw. jumhur ulama menyatakan bahwa kesaksian rukyat hilal awal dan akhir Ramadhan dapat diterima dari seorang saksi Muslim yang adil.  Suara mayoritas dan perkataan ahli astronomi mengalahkan hukum syariah.  Akhirnya, banyak orang  berbuka pada hari selasa, sekalipun shalat Id ikut hari Rabu.  Padahal laporan dari beberapa negara lain pun, termasuk Makkah dan Madinah, hilal telah terlihat malam selasa.  Belum lagi muncul rumor bahwa Saudi meralat keputusan Idul Fitri pada Selasa (30/8/2011).  Hal ini langsung dibantah oleh pihak Saudi.  Memang, ada pihak yang tidak menghendaki persatuan kaum Muslim sedunia.  Tidak berlebihan bila Dr. Ali Jum’ah, Mufti Agung Mesir, menjelaskan bahwa entitas Zionis berada di belakang rumor ketidakabsahan hilal Syawal, yang dibesar-besarkan oleh media baru-baru ini. Jum’ah mengatakan, “Dunia Islam sangat menginginkan persatuan, bahkan ingin merayakan Idul Fitri yang berkah ini secara serempak di hari yang sama.”
Wajar saja hal ini terjadi, sebab umat Islam tidak memiliki khalifah sebagai pemersatu dan benteng umat.
Berkaitan dengan hal ini kita patut merenungkan sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya imam/khalifah itu adalah benteng.“  (HR Muslim dalam kitab Shahih Muslim, VI/17).
Imam as-Suyuthi memaknai hadis ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya imam/khalifah itu adalah benteng, maksudnya laksana perisai.  Sebab, ia mencegah musuh menyakiti kaum Muslim dan mencegah manusia menyakiti satu sama lain; juga menjaga Islam serta melindungi masyarakat dari kaum kafir dan pembangkang Islam.” [hti/voa-khilafah.co.cc]


Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia

Pelanggaran aparatur negara (BNPT) terhadap Arrahmah.com


Voa-Khilafah.co.cc - Gembar-gembor tentang media yang diopinikan sebagai salah satu pilar utama di dalam penegakan demokrasi di Indonesia, rupanya akan menjadi isapan jempol belaka. Hal tersebut dikarenakan adanya perlakuan diskriminasi terhadap media Islam. Mengapa?
Baru-baru ini BNPT mengajukan usulan kepada Menkominfo untuk menutup situs Ar rahmah media (www.arrahmah.com). Seperti telah kita ketahui bahwa Ar rahmah sesuai dengan mottonya “filter your mind, get the truth” telah berhasil membuktikan diri. Pemberitaan Arrahmah selalu berimbang sesuai dengan amanat UU Pers yang berlaku di wilayah hukum RI. Anehnya pemberitaan yang berimbang ini justru akan diberangus oleh pemerintah melalui kaki tangannya di BNPT yang selalu konsisten melakukan pemberantasan ‘terorisme’ yang makin tak terkendali.
Ada apakah di balik Arrahmah.com?
Banyak kalangan mengatakan bahwa Arrahmah.com bukanlah situs yang patut diawasi, karena dari sisi permodalan dan pembaca masih sangat jauh dengan media-media sekuler yang lebih mendapatkan keleluasaan dalam menerbitkan pemberitaan.
Tetapi dengan ijin Allah karena kejujuran dalam mengungkap fakta di balik peristiwa, Ar rahmah terbukti mampu membuka wawasan berpikir sebagian masyarakat Indonesia sehingga mereka menjadi cerdas dan kritis dalam menyikapi keadaan di negeri ini yang semakin amburadul.
Namun kegerahan timbul, karena dengan adanya Ar rahmah, pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan kritik masyarakat terutama umat Islam tidak dapat tenang dalam melancarkan kejahatan dan kebohongannya.
Jika saja penyelenggara negeri ini, mampu dan mau bersama-sama memperbaiki keadaan negeri ini secara bergotong royong, sudah seharusnya perilaku kanibalisme pers di zaman orde baru tidak di suburkan kembali. Sesuai dengan tujuannya,  pers harus mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan bangsa ini dari belenggu kebohongan dan kebodohan.
BNPT sebagai garda terdepan dalam pemberantasan teror di Indonesia  terlalu gegabah dengan fantasinya. Pasalnya, operasi penanggulangan teror di Indonesia sarat dengan kepentingan politik dan tidak akan selesai hanya dengan menutup Ar rahmah. Pemberantasan terorisme akan berhasil jika penanganannya diserahkan kepada pihak-pihak yang dapat dipercaya kredibilitasnya oleh semua pihak, bukan kepada orang-orang yang mempunyai kepentingan terselubung yang berlindung di balik perangkat Undang-Undang dan kepentingan.
Dalam sebuah wawancara Apa Kabar Indonesia Malam yang di pandu oleh penyiar Grace Natalie di TV One pada Rabu (28/9/2011), dengan bangganya Direktur BNPT Petrus Golose, mengklaim telah berhasil melakukan penegakan hukum terhadap 689 kasus teroris di Indonesia. Namun sayangnya, BNPT tak mampu menunjukkan prestasinya dalam melakukan penegakan hukum terhadap pembantaian warga Ambon dan Poso hingga meledaknya kerusuhan 10 September 2011 di Ambon.
Mengapa diskriminasi ini terjadi? Bukankah jumlah korban dalam peristiwa tersebut lebih banyak dari pada jumlah korban terorisme sejak tahun 2002-sekarang? Mengapa ketika Ar rahmah tampil membela hak-hak umat Islam yang juga warga Negara Indonesia selalu mendapatkan ancaman dan teror pembredelan yang justru dilakukan oleh aparatur Negara dan jajarannya? Inilah bukti bahwa Negara telah melakukan teror terhadap rakyatnya, terutama media Islam yang konsisten berjalan diatas bukti-bukti akurat.
Bagi media Islam, pemberitaan bukan sekedar berita namun mempunyai nilai iman dan ibadah, dan hal ini tidak bertentangan dengan Konstitusi Negara ataupun Undang-undang. Sikap diskriminatif inilah yang menimbulkan protes berkepanjangan, karena sebagai bagian dari warga Negara merasa tidak diakomodir hak-hak beragamanya sesuai dengan pasal-pasal yang termaktub dalam konstitusi.
Seharusnya BNPT lebih konsisten bekerjasama dengan POLRI kearah penegakan hukum terhadap kasus kriminal mulai Ambon, Poso, Narkoba, Teroris dan lain-lain, daripada melakukan intervensi kepada media melalui Menkominfo. Jika ini terjadi, tamatlah riwayat kejujuran di negeri ini karena pemerintah telah menghalalkan pelanggaran ini terus terjadi melalui kaki tangannya untuk melanggar hukum dan undang-undang. Ar rahmah akan terus melakukan perlawanan terhadap ketidak adilan di negeri ini.
Ar Rahmah kecil-kecil cabe rawit, pedas isinya, tegas sikapnya…
oleh:
Ummu Muhammad Al Battar
Pengamat Media Islam

(arrahmah/voa-khilafah.co.cc)


Pelecehan Seks, Praktik Kebiri & Penganiayaan di Lembaga Katolik Belanda Diungkap


Voa-Khilafah.co.cc - Pelecehan serius sudah lama terjadi di panti anak cacat milik gereja Katolik Roma, tapi tidak dilaporkan. Pelecehan ini termasuk hubungan seks, praktik kebiri, penelitian medis secara diam-diam, penganiayaan dan kemungkinan pembunuhan.

Seorang bruder Katolik dikirim ke Afrika karena telah melakukan penelitian otak yang tidak etis. Radio Nederland Wereldomroep (RNW) melacaknya.

Sampai beberapa tahun terakhir, kebanyakan pelecehan yang terjadi di institusi perawatan Belanda berhasil ditutup-tutupi. Satu perkecualian adalah skandal percobaan medis di ‘Huize Assisiรซ pada tahun 1978, yaitu asrama sekolah Katolik Roma bagi anak laki-laki cacat mental yang terletak di kota Udenhout bagian selatan, Belanda.

X-ray otak

Dokter umum dan seorang perawat yang dikenal sebagai bruder Dionysius melakukan penelitian tulang belakang pada sekitar 180 pasien, termasuk anak di bawah umur. Mereka menyuntikkan cairan dan udara ke otak pasien untuk mengambil x-ray cerebral cortex atau korteks otak besar mereka.

Penelitian otak ini dilakukan secara diam-diam. Setelah mendapat suntikan, pasien mengalami mual dan sakit kepala selama berhari-hari. Orang tua pasien tidak dimintai izin atau diberi pemberitahuan mengenai prosedur ini.

Dikirim ke Afrika


Ketika mantan karyawan membocorkan penelitian ini, dokter tersebut
dipecat dan didenda. Bruder Dionysius dikirim ke Tanzania oleh pihak Kongregasi. Kasus ini dibahas oleh parlemen Belanda. Anggota parlemen mengecam badan pengamat kesehatan yang telah memberikan kebebasan kepada lembaga swasta semacam Huize Assisiรซ.

‘Bukan hal yang tidak diinginkan’

RNW mengetahui bahwa Bruder Dionysius masih bekerja sebagai perawat rumah sakit di desa Tanzania Sengerema, dekat Danau Victoria. Dalam perbincangan melalui telepon, dia mengatakan bahwa dia tidak melakukan apapun yang tidak diinginkan. “Yang kami lakukan di sana juga terjadi di lembaga lain,” ujarnya.
“Sebagai teknisi x-ray, saya melaksanakan mandat dokter. Itu bukan urusan saya apakah orang tua pasien mengetahui mengenai hal ini atau tidak. Saya dipecat setelah penelitian ini bocor, tapi pemecatan itu hanya untuk menghentikan keributan yang timbul,” jelasnya.
....Di samping pembunuhan 20 pasien tersebut, media ABC juga berhasil mengungkap terjadinya pelecehan seksual dan fisik di Saint Joseph....

Rahasia mengerikan

Ini adalah contoh langka pelecehan lembaga yang bocor ke kalangan umum. Lebih sering kasus serupa malah disembunyikan rapat-rapat sampai beberapa dekade. Namun belakangan, beberapa rahasia mengerikan tersebut mulai terungkap.

Dalam sebuah investigasi media televisi ABC, seorang perawat kepala mantan di Huize Saint Joseph, panti Katolik Roma bagi anak laki-laki penyandang cacat mental, diduga telah menyebabkan setidaknya 20 pasien meninggal akibat keracunan pada awal tahun 50-an.

Kisah kesalahan yang berbuntut kematian ini membikin geger desa kecil di Belanda selatan di mana lembaga Saint Joseph itu berdiri sejak abad ke-19. Di samping pembunuhan 20 pasien tersebut, media ABC juga berhasil mengungkap terjadinya pelecehan seksual dan fisik di Saint Joseph.

Beberapa orang yang pernah tinggal di panti Saint Joseph mengatakan bahwa para bruder Katolik sering memukuli anak-anak dan mengunci mereka dalam ruangan yang terisolasi. Sejarawan Annemieke Klijn menulis mengenai kekerasan yang terjadi di panti itu.

Dia menggambarkan pelbagai macam metode yang dipakai oleh para bruder, termasuk pemberian pukulan.
....para bruder Katolik sering memukuli anak-anak dan mengunci mereka dalam ruangan yang terisolasi....

Kesalahan besar

Sejarawan Klijn menggambarkan Saint Joseph sebagai institusi di mana banyak orang beragama dengan dedikasi tinggi bekerja, tapi dalam kualitas pelayanan terjadi kesalahan besar. Ini disebabkan karena sudah terlalu penuh dihuni dan kurangnya personil yang terlatih.

Seperti lembaga pelayanan Katolik Roma saat ini, banyak yang kekurangan dana. Panti Katolik bagi para penyandang cacat menolak pihak luar yang ingin melakukan pelatihan untuk meningkatkan kualitas perawatan.
Jadi tidak diketahui separah apa pelecehan yang terjadi di Saint Joseph atau lembaga perawatan Katolik lainnya.

Praktik Kebiri


Sebuah praktik yang cukup terjadi tapi tidak dipublikasikan secara luas sampai beberapa tahun belakangan ini adalah praktik kebiri kimia pada pasien. Praktik kebiri terjadi di panti Saint Willibrord, lembaga Katolik bagi penyandang cacat mental yang terletak di desa Heiloo, sebelah utara Amsterdam.

Di antara mereka yang dikebiri ada juga imam Katolik yang melakukan pelanggaran seksual dan siswa seminari yang dipandang tidak bisa mengontrol libido mereka.
....Di antara mereka yang dikebiri ada juga imam Katolik yang melakukan pelanggaran seksual dan siswa seminari....

Ogah diproses hukum

Anehnya, sejauh ini, kelihatannya hanya ada sedikit minat untuk menyelidiki pelanggaran yang terjadi di lembaga Katolik Roma, khususnya panti bagi para penyandang cacat mental. Anggota parlemen dan pakar etika medis Heleen Dupuis malah mempertanyakan perlunya melakukan penyelidikan.

Meskipun Dupuis, pemimpin organisasi perdagangan Belanda bagi penyedia pelayanan penyandang cacat, mengatakan bahwa siapapun yang bersalah telah melakukan pelecehan harus dihukum. Tapi dia lebih suka menekankan betapa perawatan di Belanda sekarang sudah meningkat dibandingkan dengan dekade lalu saat pelecehan terjadi. [taz/rnw/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Permusuhan Amerika Terhadap Umat Islam Melebihi Yahudi


Voa-Khilafah.co.cc - Pidato Obama baru-baru ini tidak hanya mengungkap sejauh mana dukungan penuh Amerika terhadap sikap Israel, namun juga mengungkap bahwa para pemimpin masing-masing partai, Republik dan Demokrat di Kongres telah bersaing untuk menunjukkan loyalitas dan keberpihakan buta (pada Israel) dengan cara yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Rick Perry Gubernur Texas menyerang para pesaingnya untuk memenangkan nominasi partai Republik. Ia menyerang Presiden AS Obama sebagai puhak yang bertanggung jawab dengan mendorong Palestina untuk mendapatkan keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia berkata: “Mudah sekali, kita menghindari situasi berbahaya ini jika bukan karena politik Obama untuk Timur Tengah yang diliputi kenaifan, kesombongan, penyesatan dan berbahaya ini.”
Adapun pesaingnya dari partai yang sama, mantan Gubernur Massachusetts Mitt Romney menilai apa yang terjadi di PBB sebagai “bencana diplomatik yang telanjang”. Ia menegaskan bahwa “ini merupakan puncak dari upaya-upaya Obama dalam tiga tahun terakhir untuk melemparkan Israel di bawah bus berisi serigala,” katanya.
Dengan demikian, Kongres dan Dewan Amerika jelas merupakan benteng (Israel). Mayoritas para anggotanya telah lebih dari sekali mengancam untuk membatalkan bantuan keuangan bagi Palestina dalam kasus permintaan suaka mereka ke PBB.
Parlemen dan Senat di Kongres telah berdiri 36 kali untuk bertepuk tangan pada Netanyahu ketika menyampaikan testimoni terakhir di depan mereka saat musim panas lalu. Begitu juga, 80 anggota Kongres dari dua partai, Republik dan Demokrat melakukan kunjungan yang ganjil (ke Israel) beberapa waktu lalu, yang tidak pernah dilakukan sebelumnya sejak berdirinya Amerika sendiri.
Jika para wakil Rakyat Amerika membuktikan kesetiaannya yang mendalam seperti ini pada (Israel), maka wajib atas kaum Muslim umumnya, dan rakyat Palestina khususnya agar dengan tegas memposisikan Amerika sebagai musuh utama umat Islam, dan masalah Palestina. Mereka wajib menyuarakan semua itu dengan suara lantang. Dan wajib mengadopsi kebijakan politik permusuhan bagi landasan strategis resmi dalam melakukan brbagai hubungan luar negeri dengan Amerika (kantor berita HT, 26/9/2011).
(hti/voa-khilafah.co.cc)

Jubir HTI : Berbahaya , Informasi Intelijen Dijadikan Alat Bukti


Voa-Khilafah.co.cc - Jakarta. Usulan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) bahwa informasi intelijen bisa dijadikan sebagai alat bukti mendapat penentangan dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Jadi gagasan itu harus ditolak karena pasti menimbulkan masalah,” tegas Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto terkait usulan paling baru dalam konteks RUU Intelijen, Selasa (27/9) di Jakarta.
Persoalannya, lanjut Ismail, intel itu dalam menjalankan pekerjaannya tertutup serta informasi yang dihimpunnya itu bisa benar dan bisa salah. Karena memang informasi tersebut lebih untuk fungsi deteksi dan peringatan dini bukan untuk penyelidikan dan penyidikan.
Nah, bagaiamana mungkin sesuatu yang bisa benar bisa tidak, itu dipakai sebagai alat bukti. Sedangkan sesuatu itu bisa dijadikan alat bukti kalau sudah masuk ke penyidikan sehingga bisa dijadikan sebagai bukti hukum.
Kalau info dini yang dihimpun intelijen dijadikan alat bukti bisa terjadi kekacauan sebab sangat berberpotensi terjadinya manipulasi karena informasi tersebut dihimpun atau diambil diam-diam.
“Kalau lah umpamanya intelijen bekerja jujurpun itu masih menimbulkan masalah karena bisa benar bisa salah. Apalagi kalau intelijen itu sudah mengandung muatan-muatan atau tujuan tertentu,” paparnya.
Menurut Ismail, meskipun bertujuan untuk mencegah terjadinya pemboman tetap saja informasi intelijen tidak boleh dijadikan alat bukti. Di negara yang dikenal intelijennya sangat canggih pun tetap saja terjadi kecolongan. Karena memang di dunia saat ini itu tidak ada satu pun model lembaga intelijen yang 100% mampu menangkal kemungkinan tindak kejahatan.
Ia mencontohkan kasus teroris Kristen di Norwegia dan Amerika. Timothy Mc Veigh meledakkan truk berisi bahan peledak penuh di depan gedung FBI Amerika. Sedangkan Anders Behring Breivik  membom gedung dekat Kantor Perdana Menteri Norwegia di Oslo dan membantai sekitar 93 orang.
“Padahal orang mengakui bahwa intelijen di sana itu sudah sangat canggih. Tapi toh tetap saja kecolongan. Jadi menurut saya problemnya bukan di situ,”
Menurutnya terjadinya kecolongon pemboman bukan karena informasi intelijen tidak dijadikan alat bukti penangkapan tetapi lebih karena dua faktor. Pertama, ketangguhan intelijen dan faktor ketangguhan pelaku.
Jadi tetap saja informasi intelijen itu harus diletakkan sebagai informasi dan peringatan dini yang mempersempit ruang terjadinya kejahatan. Tetapi ketika terjadi kejahatan bukan berarti itu mutlak kelemahan intelijen dan karenanya intelijen itu harus diberi perangkat tambahan.
Jadi tidak perlu dalam RUU Intelijen itu intel diberikan kewenangan menyadap, menangkap, melakukan pendalaman itu istilahnya, apalagi dijadikan pula informasi intelijen sebagai alat bukti.
“Sebab dengan tambahan kewenangan itu, dia bisa menimbulkan masalah baru. Karena dia sangat berpotensi untuk diselewengkan atau disalahgunakan. Dan kekuatiran ini bukan tanpa alasan karena pengalaman masa lalu menunjukan seperti itu.” pungkasnya. []mediaumat.com/joko prasetyo/hti/voa-khilafah.co.cc

Bom Solo, Siapa Diuntungkan?


Voa-Khilafah.co.cc - Aksi bom bunuh diri terjadi pada tanggal 25/9 di Gereja Bethel Indonesia Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo. Insiden ini hanya menewaskan pelakunya sendiri dan melukai 27 orang. Pada Selasa, 27/9 bahwa dari identifikasi, Mabes Polri memastikan pelaku pemboman tersebut bernama Ahmad Yosepa alias Hayat. Hayat adalah satu dari lima orang DPO kasus pengeboman masjid adz-Dzikra Mapolresta Cirebon pada 15 April 2011, seperti yang telah diumumkan oleh Polri pada pertengahan Juni lalu.
Peristiwa ini terjadi saat terjadi banyak masalah yang menghebohkan negeri ini. Misalnya, masalah korupsi di kemenakertrans, korupsi wisma atlet , hiruk pikuk reshuffle kabinet, dan mafia anggaran. Saat ini , berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia pada bulan September, juga terjadi penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah hingga tinggal 37,7%. Semua itu pada akhirnya memunculkan kecurigaan dan tanda tanya seputar peristiwa bom GBIS Solo ini. Berbagai spekulasi pun muncul . Muncul kecurigaan peristiwa ini sudah diskenariokan sebelumnya atau paling tidak terjadi pembiaran.
Hal ini mengingat jauh hari sebelumnya sudah ada informasi intelijen akan terjadi serangan bom. Pengamat intelijen Wawan H Purwanto mengatakan intelijen sebetulnya telah mengetahui gerakan para teroris sejak 14 Agustus 2011 sebelum aksi bom bunuh diri terjadi (antaranews, 26/9). Hal senada dikatakan Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq di kompleks DPR, Selasa (27/9) menurutnya telah ada informasi intelijen akan adanya aksi-aksi bom bunuh diri dari enam orang yang sudah dipersiapkan sebelum kasus Cirebon. Bahkan, warning terhadap kasus Solo sudah dilakukan. Per tanggal 21 September itu sudah ada informasi intelijen, yang akan menjadikan Solo sebagai Ambon berikutnya” (Kompas.com, 27/9).
Mengegolkan RUU Intelijen?
Muncul pula kecurigaan bahwa bom itu ada kaitannya dengan pembahasan RUU Intelijen yang sedang berjalan di DPR. Termasuk mendorong penambahan wewenang intelijen untuk bisa melakukan penyadapan dan penangkapan. Meskipun hal ini dibantah keras oleh kepala BIN, Sutanto. Namun tidak bisa dikesampingkan begitu saja, bahwa peristiwa ini sangat mungkin dipakai untuk memperkuat penggolan RUU Intelijen.
Tampak dari pernyataan Kepala BIN yang menyatakan kalau informasi saja tanpa didukung alat bukti lain kan tidak bisa diproses secara hukum. ” Itu kendala, karena itu perlu penguatan hukum di sini sehingga bisa efektif penegak hukum di lapangan dalam menangani masalah teror ini, “ujarnya. (detik.com, 26/9).
Istana juga ingin penguatan intelijen melalui RUU Intelijen. Pemerintah mengeluhkan intelijen tidak memiliki kewenangan penangkapan. Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, Senin (26/9), menegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan penguatan intelijen melalui payung hukum. Upaya preventif yang efektif harus memberikan kewenangan penangkapan kepada intelijen (Mediaindonesia.com, 26/9).
Padahal dalam kasus bom ini hambatan itu tidak ada. Mengingat pelaku bom sudah masuk dalam daftar DPO (Daftar Pencarian Orang), yang artinya dia bisa ditangkap kapan saja dan di mana saja bila ditemukan. Apalagi faktanya, dalam penanganan terorisme selama ini, Densus 88 nyaris tanpa hambatan melakukan apapun. Termasuk melakukan penangkapan bahkan menembak mati orang-orang yang baru diduga teroris. Karenanya, tentu adalah wajar kalau muncul anggapan peristiwa ini digunakan untuk kepentingan pengesahan RUU Intelijen itu termasuk pengalihan masalah yang sedang menimpa partai panguasa.
Memang terkait RUU Intelijen itu, kemungkinan besar DPR dan pemerintah sepakat, BIN tidak diberi wewenang menangkap. Ketua Komisi I DPR, Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan, pemerintah dan DPR sepakat bahwa intelijen hanya bertugas melakukan deteksi dini. Intelijen tidak diberikan hak menangkap karena dikhawatirkan akan mengembalikan ke kondisi masa lalu, dimana intelijen sering dipakai sebagai alat untuk mengamankan kekuasaan dan bukan alat negara (Kompas, 27/9). Intelijen, lanjut Agus, tetap dapat menyadap untuk kepentingan terorisme, separatisme dan spionase. Namun penyadapan itu harus sesuai dengan undang-undang, maksimal dilakukan selama enam bulan dan ada keterlibatan pengadilan.
Namun bukan berarti RUU Intelijen yang sedang dibahas itu tidak perlu dicermati dan diwaspadai. Sebab di dalamnya masih mengandung hal-hal yang perlu dikritisi, seperti adanya kata dan istilah yang tidak jelas dan multi tafsir seperti kata “ancaman keamanan nasional”, “lawan dalam negeri” dan lainnya. Juga dimasukkannya masalah “subversif” di dalam RUU tersebut. Pengertian yang kabur ini sangat mungkin digunakan oleh penguasa sesuai kepentingannya, membungkam suara-suara kritis termasuk penegakan Islam dengan mempersepsikannya sebagai ancaman.
Kita tentu tidak menginginkan kembalinya era orde baru ketika penguasa menggunakan tuduhan subversif , mengancam keamanan nasional untuk memenjarakan, menyiksa, hingga membunuh lawan-lawan politiknya atau pihak-pihak yang mendakwahkan Islam. Jelas ini adalah kemunduran bagi Indonesia. Negara tetangga Malaysia sendiri telah mencabut Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (Internal Security Act -ISA) dan Undang-Undang Darurat (Emergency Ordinance - EO). Sebab berdasarkan UU ini , selama 5 dasawarsa, pemerintah Malaysia memenjarakan ribuan pengkritik pemerintah dan anggota kelompok dakwah Islam .
Harus Dikutuk, Merugikan Islam dan Umat Islam
Lepas dari itu semua , peristiwa pemboman ini harus dikutuk. Tindakan keji ini bertentangan dengan ajaran Islam. Sangat jelas, syariat Islam dengan tegas melarang melukai apalagi membunuh siapapun tanpa alasan yang dibenarkan secara syar’iy. Apalagi tindakan itu menimbulkan kematian bagi diri pelakunya sendiri.
Lebih dari itu, peristiwa ini tidak bisa dikatakan untuk memperjuangkan Islam atau demi kepentingan Islam. Jika dikatakan motifnya untuk memperjuangkan Islam, maka faktanya dengan peristiwa seperti ini, Islam justru menjadi bulan-bulanan. Bagaimana mungkin memperjuangkan syariah Islam dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan syariah Islam?
Peristiwa ini juga memperkuat pihak yang ingin menghambat penegakan Islam dan syariah Islam. Dengan alasan pemboman ini , pembenaran terhadap pentingnya program deradikalisasi justru menjadi kuat. Padahal isi dari program ini adalah menyerang ajaran penting Islam seperti syariah Islam, khilafah dan jihad. Termasuk menjustifikasi propaganda untuk meliberalisasi ajaran Islam dan mengebirinya dengan isu-isu Islam moderat atau Islam inklusif (terbuka).
Disamping itu,kekerasan dan terorisme (al-irhab) bukanlah metode yang dibenarkan syariat Islam dalam memperjuangkan tegaknya syariah. Metode untuk itu seperti contoh dari Rasulullah saw adalah dengan dakwah pemikiran dan politik (al-fikriyyah wa al-siyasiyah), tanpa kekerasan (la ‘unfiyah).
Islam juga mengharamkan membunuh manusia baik muslim maupun non muslim tanpa alasan yang haq. Perbuatan itu merupakan kejahatan keji. Firman Allah:
ู…َู† ู‚َุชَู„َ ู†َูْุณًุง ุจِุบَูŠْุฑِ ู†َูْุณٍ ุฃَูˆْ ูَุณَุงุฏٍ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุชَู„َ ุงู„ู†َّุงุณَ ุฌَู…ِูŠุนًุง ูˆَู…َู†ْ ุฃَุญْูŠَุงู‡َุง ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ุฃَุญْูŠَุง ุงู„ู†َّุงุณَ ุฌَู…ِูŠุนًุง
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS al-Maidah [5]: 32)
Bahkan di dalam peperangan sekalipun, Rasulullah senantiasa berpesan agar pasukan Islam tidak membunuh wanita, anak-anak dan orang tua, tidak menebangi pepohonan dan tidak merusak tempat ibadah non muslim serta mengganggu para rahib di dalamnya.
Terbukti dalam sejarah bahwa hanya Islam sajalah yang bisa melindungi nyawa manusia baik muslim maupun non muslim. Orang-orang non muslim diberikan kebolehan beribadah dengan bebas. Tempat ibadah merekapun masih tetap eksis di negeri-negeri Islam, padahal sistem Islam (Khilafah Islamiyah) memerintah dan menaungi negeri-negeri itu selama 13 abad.
T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”. Karena itu demi mewujudkan masyarakat meskipun beragam namun dapat hidup damai, rukun dan harmonis, tidak ada jalan lain kecuali dengan menerapkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. WalLรขh a’lam bi ash-shawรขb. []

Komentar al-Islam

Jajak Pendapat “Kompas”: Munculnya kasus korupsi dalam kementerian menjadi puncak ketidakpuasan publik terhadap kinerja kabinet. Perombakan kabinet pun menjadi salah satu keharusan. Namun perombakan saja bagi publik tidak cukup, patut pula dilengkapi dengan perbaikan gaya kepemimpinan Presiden (Kompas, 26/9)
  1. Perombakan kabinet dan perbaikan gaya kepemimpinan tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab masalah mendasarnya adalah sistem rusak sekuler kapitalisme demokrasi yang diadopsi negeri ini.
  2. Sebagus apapun gaya mengemudi nahkoda dan seberapa baik para awak kapal, jika kapalnya bobrok tetap saja akan sulit mencapai tujuan.
  3. Solusinya, terapkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah, sistem yang bersumber dari wahyu Allah yang Maha Bijaksana; dan angkat pemimpin yang bertakwa, amanah dan mampu untuk menjalankannya. Niscaya masyarakat dapat meraih tujuan yang diidamkan.
[Buletin Dakwah Al Islam edisi ke 574, hti/voa-khilafah.co.cc] 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL