Tampilkan postingan dengan label BALITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BALITA. Tampilkan semua postingan

Balita Pengidap HIV Diusir dari Kampungnya

Ilustrasi balita penderita AIDS. (ist/doc)

Voa-Khilafah.co.cc - Miris melihat nasib yang dialami anak berusia dua tahun berinisial M ini. Dalam usianya yang baru dua tahun, dan belum mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya, dia diterlantarkan oleh warga kampungnya di Kabupaten Rokan Hilir, setelah mengetahui bahwa dirinya pengidap HIV/AIDS. 

"Anak malang ini merupakan anak yatim piatu sejak dua bulan terakhir. Kedua orangtua balita malang ini diduga sebelumnya meninggal akibat AIDS," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS, Rokan Hilir, Tribuana Tungga Dewi. 

Penyakit yang diderita kedua orangtuanya menular kepada anak ini. Namun malang baginya, setelah warga mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, kendati warga yang tadinya bersedia mengasuh anak itu, akhirnya menelantarkannya dengan menyerahkan ke panti sosial dalam keadaan sakit. 

Ya, anak malang ini yakni berasal dari keluarga yang tidak mampu dan kedua orangtuanya sebelumnya sudah terdaftar di Rumah Sakit meninggal akibat HIV/AIDS. 

Tungga Dewi mengaku sangat prihatin melihat kisah penderitaan anak malang ini. Sebab, jelas sekali bahw masyarakat di Rokan Hilir, belum bisa menerima keberadaan penderita AIDS. "Padahal anak itu juga manusia, yang butuh kasih sayang, seperti anak-anak lain pada umumnya, dan kenapa kok masih diperlakukan seperti itu, kan sangat menyedihkan," tegas Tribuana. 

Sementara itu, Koordinator Penanggulangan AIDS Rokan Hilir, Zulkifli, yang saat ini bertanggungjawab mengasuh anak malang tersebut mengatakan, saat ini anak itu masih dirawat pada salah satu rumah sakit di Kabupaten Rokan Hilir. Kondisinya memprihatinkan, dalam keadaan lemas. "Sekarang kita dari KPA terus memantau perkembangan kesehatannya, karena ini merupakan tugas yang harus kita lakukan," jelas Zulkifli. (ary/int/voa-khilafah.co.cc)

Densus Biadab! Aktivis Terduga Teroris Disiksa di Depan Anak-Anak Balita


JAKARTA (voa-khilafah.co.cc) – Drama kebiadaban pasukan Densus 88 kembali dipertontonkan di pentas negeri yang mengaku menjujung tinggi HAM (Hak Asasi Manusia). Hal tersebut terjadi ketika Densus menangkap terduga Teroris bernama Dian Adi Priyana (DAP) di Pasar Nyamuk Cipondoh Tangerang Selatan, Sabtu (12/11/2011) lalu.

Kepada voa-islam.com, Ummu Yasmin, istri dari terduga teroris Dian Adi Priyana yang menyaksikan penangkapan dan penyiksaan terhadap suaminya menceritakan detik-detik kebiadaban Densus.

Pagi itu, sekira pukul 07.30 WIB, terduga teroris Dian Adi Priana yang disebut polisi terkait dengan jaringan Abdullah Omar sedang mengantar istri dan dua anaknya dengan mengendarai motor ke pasar untuk belanja. Ketika sampai di dekat SDN 3 Cipondoh, sekitar 50 meter dari rumah kontrakannya, tiba-tiba motornya diberhentikan secara paksa oleh Tim Densus 88. Setelah dihentikan paksa kemudian motornya dibelokkan ke arah got, lalu salah seorang anggota Densus 88 menodongkan senjata ke arah Dian dengan sangat kasar. Sementara itu, anggota Densus lainnya menyeretnya dari motor, memukul, menendang dan menginjak-injaknya sampai mulutnya berdarah.

Biadabnya, penganiayaan yang tak manusiawi tersebut dilakukan di depan istri dan dua anak Dian yang bernama Azzam (4,5) dan Syamil (1,5).

Tak sampai di situ, dengan kejinya, kedua anak balita itu juga mendapatkan perlakuan kasar dari tim Densus 88, sama seperti ayah mereka. Azzam yang terluka karena motor terjatuh ke got itu terus menangis melihat ayahnya dipelakukan kasar. Semantara Syamil yang baru berumur 1,5 tahun direnggut dengan paksa oleh tim Densus 88 sampai pelipisnya legam.

Sesaat kemudian, puluhan petugas dari Detasemen Borgol tersebut mengerubuti terduga teroris Dian Adi Priyana bersama istri dan kedua anaknya yang terus menangis karena ketakutan. Tak mau ambil pusing, Ummu Yasmin dan kedua anaknya pun diangkut ke dalam mobil Avanza warna putih, sementara Dian sendiri dinaikkan ke mobil lain warna hitam. Dari dalam mobil, Ummu Yasmin dan kedua anaknya mendengar teriakan takbir dari Dian yang sedang disiksa oleh anggota Densus 88. Teriakan takbir tersebut membuat anggota Densus 88 marah kemudian mereka mengambil lakban dari mobil yang ditumpangi oleh Ummu Yasmin dan kedua anaknya.

“Dengan lakban itulah mulut suami saya dibungkam, mungkin karena mereka membenci suara takbir,” ujar Ummu Yasmin kepada voa-islam.com, Senin (15/11/2011).

Setelah itu, Ummu Yasmin dan kedua anaknya dibawa ke Polsek Cipondoh sedangkan Dian sendiri entah dibawa ke tempat lain, entah ke mana.

Rupanya polisi tidak puas mempertontonkan kebiadaban dalam menyiksa Dian di depan istri dan kedua anaknya. Hari itu juga polisi menjemput dua anak perempuan Dian yang bernama Syifa (11) dan Yasmin (9) yang sedang bersekolah untuk dibawa ke Polsek Cipondoh. Ummu Yasmin dan keempat anaknya pun ditahan di Polsek Cipondoh dari jam 8 pagi sampai larut malam. Jam 21.00 WIB mereka baru diantar pulang.

Selama di penjara, Ummu Yasmin dan keempat anaknya, dua di antaranya masih balita, dipaksa untuk menonton drama kebiadaban Densus 88 yang menyiksa suami dan ayah mereka.

Dampak dari peristiwa tak manusiawi itu, jelas Ummu Yasmin, keempat anaknya, terutama Azzam dan Syamil yang masih balita, sampai sekarang masih trauma dan sering menangis jika mengingat kejadian penyiksaan yang menimpa ayah mereka.

Sangat disayangkan, anak-anak kecil itu adalah generasi bangsa yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa itu teroris. Tapi Densus telah menyuguhkan tindakan teror kepada anak-anak suci itu. Anak-anak yang masih polos itu menjadi korban teror dan intimidasi dari negara melalui aparatnya yang katanya menjunjung tinggi HAM.

Soal tudingan bahwa Dian adalah anggota teroris jaringan Abdullah Omar alias Zulfikar yang memiliki senjata api, Ummu Yasmin meragukan tudingan itu. Sebagai istri Dian, ia tidak pernah melihat ataupun mengetahui adanya senjata api di tangan suaminya.

Melalui berita ini, Ummu Yasmin berharap agar jeritan hatinya didengar oleh para aktivis pendekar HAM atau Komisi Nasional Perlindungan Anak.  [taz, af/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Dua Balita Meninggal Sehabis Imunisasi

Dua Balita Meninggal Sehabis Imunisasi

Voa-Khilafah.co.cc, BEKASI – Diduga akibat kesalahan prosedur imunisasi, dua balita di Perum Wisma Asri, Bekasi Utara, Kota Bekasi, meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi sepekan setelah menjalani imunisasi campak dan polio yang digelar di seluruh wilayah Indonesia.

Salah satu korban yang meninggal dunia bernama Hanif M Husnaya (3), putra kedua pasangan Awal Adiguna dan Eva. Juga, Isma Nur Fauziah (3), putri pasangan Tian Setiani dan Nana Setiana. Para orang tua korban sejauh ini belum mendapat kejelasan dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi terkait meninggalnya sang buah hati pasca imunisasi.

Ny Sigit (47), nenek Hanif mengatakan, sebelum meninggal, cucu keduanya itu dibawa ke Posyandu Kebalen, Kabupaten Bekasi, untuk divaksinasi polio dan campak. 

"Awalnya, anak saya—orang tua Hanif—sempat keberatan jika Hanif divaksinasi. Namun, petugas Posyandu memaksa supaya Hanif divaksinasi karena itu program pemerintah," tutur Ny Sigit, ketika ditemui, Kamis (3/11).

Sehabis divaksinasi, Hanif pulang dan istirahat. Sorenya, bocah itu terbangun dan muntah-muntah disertai buang air besar yang tiada henti. "Kami pikir awalnya hanya masuk angin biasa. Namun, keesokan harinya Hanif demam tinggi hingga suhu tubuhnya mencapai 42 derajat Celcius," kata Ny Sigit.

Kedua orang tua Hanif panik dan memberikan obat penurun panas yang biasa diminum Hanif jika terserang demam. Mereka pun langsung membawa putranya ke dokter terdekat, sebelum akhirnya dirawat di Rumah Sakit Mekar Sari, Kota Bekasi.

Saat menjalani perawatan, demam Hanif tak kunjung reda dan justru malah mengalami kejang-kejang hingga akhirnya meninggal dunia pada Jumat (21/10) dini hari. "Semuanya berlangsung sangat cepat," kata Ny Sigit sedih.

Selang beberapa hari kemudian, kabar serupa datang dari orang tua Isma, yang kediamannya tak jauh dari rumah Ny Sigit. Isma meninggal diduga karena mengalami gejala yang sama. Namun, balita itu menjalani vaksinasi polio dan campak di Posyandu yang berbeda. Anak bungsu dari dua bersaudara itu juga datang menjalani imunisasi dengan kondisi yang sehat.

Sebelum menghembuskan nafasnya, Isma mengalami demam yang membuat sekujur tubuhnya panas. Ketika itu, Tian—ibu Isma—memberikan obat penurun panas dari Posyandu tempat Isma diimunisasi. "Namun, obat itu tak mempan menurunkan demam. Demamnya malah semakin tinggi," tutur Tian kepada wartawan.

Kondisi tubuh Isma pun semakin menurun karena timbul batuk yang tak kunjung henti. Tian pun membawa Isma ke dokter langganan esok harinya. Seketika demam Isma menurun dari 42 ke 38 derajat Celcius. Akan tetapi kondisi itu tak bertahan lama, balita putri itu mendadak kejang. Merasa panik, kedua orang tua Isma membawa ke Rumah Sakit Anna Medika guna dirawat secara intensif.

Penanganan di rumah sakit itu pun lambat. Menurut Tian, putrinya sempat tak diacuhkan di ruang gawat darurat karena harus melewati prosedur pembayaran deposito sekitar Rp 5 juta. Menjelang malam, Isma mengalami kejang yang kedua kalinya. "Isma dipindahkan ke ruang ICU. Dokter hanya menangani selama 15 menit, setelah itu Isma pun tak tertolong," ujar dia. (RoL/Voa-Khilafah.co.cc)
Balita Tewas tak Tertolong RS

Balita Tewas tak Tertolong RS

Voa-Khilafah.co.cc - Tragedi warga miskin berhadapan dengan pelayanan rumah sakit kembali terulang. Somadin (31 tahun), warga RT 04/06 Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, harus merelakan putri semata wayangnya meregang nyawa lantaran tidak mendapat pelayanan maksimal dari rumah sakit.

Peristiwa memilukan itu terjadi Rabu (2/11) sekitar pukul 07.30 WIB. Kala itu Somadin yang bekerja sebagai pedagang batagor sedang menyiapkan dagangannya. Ketika Somadin sedang membuat bumbu kacang, tiba-tiba putrinya, Siti (1,5), bergelayut di penggorengan. Seketika itu pula sekujur tubuh balita itu tersiram minyak panas.

Somadin segera membawa putrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok. Sayang, upaya menyelamatkan nyawa Siti mesti terhambat ketidakmampuan RSUD Depok memberikan perawatan. ”Rumah Sakit menolak dengan alasan tidak memiliki peralatan medis yang memadai,” kata Lukman Hakim, ketua RT 04 yang ikut mengantar Somadin, kepada Republika kemarin.

RSUD Depok langsung merujuk putri Somadin ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan, tanpa memberikan bantuan ambulans. Lukman pun menilai pertolongan yang diberikan tidak maksimal. ”Luka bakar putrinya cuma diberi salep.”

Mereka pun membawa putri menuju RS Fatmawati dengan mobil tetangga. Dalam perjalanan, tiba-tiba Somadin berubah pikiran. Dia meminta anaknya dibawa kembali ke rumah karena trauma dengan penolakan RSUD Depok. Apalagi Somadin merasa tak mampu membiayai pengobatan anaknya. ”Sepanjang perjalanan dia mengeluh takut soal biaya,” tutur Lukman.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Siti akhirnya mengembuskan napas terakhir. Saat mengetahui putrinya meninggal, Sodiman menumpahkan kemarahannya dengan memukul tembok rumah. Hampir seluruh tetangga yang datang ke rumahnya tak kuat menahan haru.

Warga lalu berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu penguburan putri Somadin. Armah (45), tetangga Somadin, mengaku tak habis pikir mengapa rumah sakit tega menolak merawat balita kecil yang terluka parah. ”Kulitnya berwarna biru dan terkelupas karena luka bakar,” ujar Armah sambil berurai air mata.

Republika belum bisa menemui Somadin karena pulang ke Garut, Jawa Barat, untuk mengurus pemakaman putrinya. Dia merupakan warga pendatang yang baru mukim di Pengasinan sekira dua bulan lalu dan belum memiliki kartu identitas sebagai warga Depok.

Ketika dikonfirmasi Republika, RSUD Depok justru menanyakan nama pasien dan alasan penolakan perawatan. Mereka tak bisa mengomentari kasus ini karena setelah diperiksa nama putri Somadin itu tidak ditemukan dalam daftar pasien yang ditangani. ”Nama Siti tidak terdaftar di register,” ujar Kepala Subbagian Umum Perencanaan RSUD Depok Bety S.

Menurut Betty, semua pasien yang datang ke RSUD Depok harus melalui pendaftaran di resepsionis meskipun tidak mendapatkan perawatan apa pun. Dia justru meminta Republika untuk mengonfirmasi nama lengkap Siti. ”Kami tidak bisa memberikan keterangan lebih dari ini,” ujar Bety sambil mempersilakan media untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Dokter Kholid yang membantu mencarikan data rekam medis Siti mengatakan, jika pasien diberi rujukan oleh RSUD Depok ke rumah sakit lain, bisa jadi karena RSUD memang tidak memiliki alat canggih untuk menangani kasus seperti yang dialami Siti. Untuk pasien luka bakar di atas 40 persen, kata Kholid, RSUD Depok memang tak punya peralatan canggih perawatan luka bakar.

Kholid membantah tuduhan bahwa RSUD Depok tidak mau mengobati pasien yang miskin. Menurutnya, biaya pengobatan bukanlah penghalang untuk menolong pasien.

RSUD Depok memang tidak ada klinik khusus luka bakar. Namun, rumah sakit kelas B yang didirikan tahun 2004 ini telah menduduki peringkat pertama se-Jawa Barat sebagai rumah sakit yang cepat tanggap dalam melayani pasien. Penghargaan Citra Pelayanan Prima juga diterima RSUD Depok dari Wakil Presiden Boediono pada Desember 2010 lalu.

Namun, di mata warga Kampung Kebon Kopi kualitas pelayanan RSUD Depok terhadap warga tak mampu masih sangat buruk. Nining, tetangga Somadin, bercerita, setelah kematian Siti, banyak warga mengeluarkan sumpah serapah atas pelayanan buruk rumah sakit.

Somadin bukan satu-satunya korban buruknya pelayanan RSUD Depok yang kerap menolak warga tak mampu dengan berbagai alasan. ”Kadang bilang tidak ada dokternya. Kadang bilang tidak ada peralatannya,” kata Nining.

Iyos (34) mengaku pada Agustus 2011 lalu datang untuk melakukan persalinan. Di ruang persalinan, Iyos terkejut ketika petugas rumah sakit langsung menanyakan sistem pembayaran. Dengan polosnya Iyos menjawab menggunakan kartu Jaminan Persalinan (Jampersal).

Mendengar jawaban Iyos, petugas rumah sakit itu langsung mengatakan bahwa kamar persalinan sedang penuh. Iyos pun dirujuk ke RS Fatmawati. ”Bukannya tanya saya sakit apa. Tapi malah ditanya saya bayar pakai apa. Perut saya sakit sekali lantaran bayi sudah hampir keluar,” ujar Iyos menahan kesal.

Juniati (40) hampir mengalami nasib seperti Somadin ketika mengantar suaminya yang mengalami perdarahan di kepala akibat kecelakaan. Tanpa ada pertolongan, Juniati mendapat jawaban klasik bahwa kamar sudah penuh.

Suami Juniati sempat koma sebelum akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit di Ciputat, Tangerang Selatan. Suami saya kehabisan darah. Untungnya masih bisa diselamatkan. (republika, 4/11/2011)

 (hti/voa-khilafah.co.cc)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL