Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Lebaran di Negeri Sakura

Lebaran di Negeri Sakura

October 3rd, 2008 by solihan

Jika majalah ini tiba di tangan para Pembaca, tentu semuanya tengah menikmati meriahnya suasana lebaran. Memang, Indonesia adalah negeri yang lebarannya selalu berlangsung gembira. Ada acara takbiran, ada acara saling kunjung atau temu keluarga, ada hidangan khas lebaran berupa ketupat atau lontong dengan aneka sayur atau lauk. Yang paling heboh tentu saja adalah acara mudik (menuju udik) yang membuat Pemerintah sibuk bukan main karena jutaan orang bergerak pada waktu yang hampir bersamaan dari satu kota ke kota lain. Spanduk dan poster, iklan di tivi dan radio serta sajian berbagai acara makin membuat suasana lebaran begitu terasa.

Tidak demikian halnya dengan Jepang. Tak tampak sedikit pun suasana keriangan seperti itu saat lebaran. Tidak ada lontong atau ketupat (tentu saja ya); tidak ada takbiran; tidak ada juga acara saling kunjung apalagi gelombang mudik seperti yang terjadi di Indonesia. Tidak ada itu semua. Bahkan bahwa ada puasa dan lebaran juga tidak tampak sama sekali atau malah mungkin tidak terpikir oleh mereka. Begitulah suasana yang dijumpai oleh Jubir HTI M. Ismail Yusanto ketika berkunjung ke kota Kyoto, tepat satu hari sebelum lebaran pada tahun 2006 lalu untuk menghadiri acara workshop internasional yang diselenggarakan oleh CISMOR (Center for Interdisciplinary Study of Monotheistic Religions), Doshisha University, Kyoto.

Maklum, ini negeri dengan jumlah pemeluk Islam yang sangat minim. Menurut Professor Hassan Ko Nakata (47), Presiden Asosiasi Muslim Jepang, jumlah Muslim di Jepang diperkirakan hanya sekitar 70.000. Jumlah terbesar adalah Muslim dari Indonesia, sekitar 20.000 orang. Muslim asli Jepang sendiri diperkirakan hanya 7000 orang. Anggap saja jumlah Muslim di Jepang 100.000. Itu berarti hanya kurang dari 0,1% dari total penduduk Jepang yang sekarang diperkirakan sekitar 130 juta orang. Dengan jumlah sekecil itu, tentu saja umat Islam di sana nyaris tak terdengar. “Jadi, Muslim Jepang benar-benar minoritas mutlak. Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Jepang nyaris tak terperhatikan dan diabaikan,” kata Prof Nakata kepada Jubir HTI di sela-sela acara workshop.

Tepat di hari lebaran, kami, para peserta workshop yang Muslim ditambah sejumlah warga yang beragama Islam, baik yang asli Jepang maupun para pendatang yang umumnya berwajah Arab atau India-Pakistan, melakukan shalat Id di sebuah masjid, tidak jauh dari kawasan Istana Kaisar. Jangan dibayangkan masjid itu seperti yang biasa kita lihat di Tanah Air. Tempat itu lebih tepat disebut aula kecil bawah tanah, karena memang tempatnya di ruang bawah tanah sebuah gedung. Kabarnya, untuk mendapatkan ruangan macam itu saja tidak mudah. Dewan Kota Kyoto tidak langsung begitu saja memberikan ijin. Harus ada lebih dulu persetujuan dari penghuni di kanan-kirinya. Akhirnya, ijin didapat, dengan syarat, tidak boleh ada suara bising. Karena itulah, tidak pernah terdengar ada suara azan karena memang loudspeaker tidak boleh dipasang di luar masjid. Tidak boleh juga ada keramaian sehingga begitu para jamaah keluar ruangan harus langsung pergi. Tidak boleh bergerombol di depan bangunan itu.

Meski kecil, masjid ini tampak cukup fungsional. Di samping untuk ibadah, juga dipakai untuk training atau pengajian-pengajian. Ada sebagian ruangan dipakai untuk menjual makanan halal. Maklum, di negeri musyrik seperti Jepang, tidak mudah mendapat hewan sembelihan yang halal. Nah, di masjid itu, dijual daging sapi dan ayam halal.

Begitu acara shalat Id dan khutbah selesai, dilanjutkan salam-salaman, peserta langsung bubar. Usai sudah yang disebut perayaan lebaran, yang kalau di Tanah Air masih bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu dengan aneka ragam acara.

Maju tapi Tidak Rasional

Saat Jubir HTI berada di sana, baru saja diumumkan kepada publik temuan mutakhir berupa robot resepsionis. Ini generasi robot terbaru yang bisa bertindak bagaikan resepsionis beneran. Ia bisa menjawab telepon, menyalurkannya ke nomor ekstensi yang dituju, menanyakan keperluan tamu, bahkan bisa juga tunduk menghormat jika ada tamu datang persis seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang Jepang. Pendek kata, hampir tak ada bedanya antara resepsionis manusia dan robot itu baik dari segi kemampuan maupun postur “tubuhnya”. Tidak jelas, apakah robot resepsionis itu bisa juga diajak guyon, bisa juga marah atau berkelahi.

Yang paling spektakuler adalah kloset cerdas. Ini cerita tentang kloset elektronik serba bisa yang cukup banyak dipakai oleh orang kaya di sana. Bentuk luarnya tak beda dengan kloset duduk yang ada di sini. Bedanya, banyak tombol di sana-sini, yang semuanya ditulis dengan huruf kanji khas Jepang sehingga tidak mudah buat Penulis untuk membacanya. Ternyata tombol-tombol itu untuk mengatur seluruh fungsi yang dimiliki kloset cerdas ini. Kalau Anda merasa kedinginan duduk di kloset itu, tekanlah tombol penghangat. Sesaat kemudian, kloset itu akan terasa menghangat. Mau analisis BAB (buang air besar), tekan saja tombol. Tak berapa lama akan keluar analisis kandungan tinja. Mau cebok? Tersedia dua pilihan: untuk lelaki dan perempuan.

Demikianlah, kemajuan teknologi yang dicapai oleh Jepang. Itu baru di bidang teknologi robotik, otomotif dan elektronik. Belum lagi di bidang teknologi bahan, infrastruktur, transportasi dan sebagainya. Semuanya tampak sangat menonjol. Di bidang transportasi, dengan sistem komputasi, Jepang berhasil mengatur seluruh perjalanan kereta api dengan ketepatan yang luar biasa. Jika di jadwal disebut kereta bakal datang 11.57, persis di menit itu, kereta benar datang. Padahal kereta bersilang-silangan ruwet. Di sebuah stasiun saja, jalur kereta bertumpuk empat. Dua di bawah tanah dan dua di atas.

Jika secara ekonomi sangat makmur dan secara teknologi demikian maju, masihkah masyarakat Jepang menghadapi problem? Mengejutkan, ternyata iya. Apa problem itu? Prof. Nakata menjawab pendek, “Problem terbesar adalah kenyataan bahwa secara mental orang Jepang takluk pada Barat dan menjadi budak mereka. Sayangnya, fakta ini tidak disadari.”

“Juga tingginya angka bunuh diri, sekitar 30.000 orang pertahun, akibat himpitan dan tekanan dari pola kehidupan masyarakat Jepang serta akibat tingginya tuntutan standar hidup,” tambahnya.

Kalau begitu, bisakah disimpulkan bahwa masyarakat Jepang hidup sangat makmur tapi tidak bahagia? Prof Nakata menjawab tegas, “Ya, benar. Orang Jepang hidup tidak bahagia.”

Bukan hanya secara sosial psikologis, secara spiritual orang Jepang juga bermasalah. Bukan hanya agama Islam, di Jepang semua agama menghadapi nasib yang sama. Tidak laku. Agama buat orang Jepang sudah out of mind (berada di luar semesta pemikiran). Karena itu, berdakwah kepada orang Jepang, kata Prof Nakata, bagaikan mendakwahi batu. Nyaris tak bergeming.

Meski orang Jepang tampak begitu skeptis terhadap semua agama, mereka sesungguhnya haus spiritual dan sangat doyan takhayul yang membuat mereka tampak seperti orang ’dungu’. Tengoklah apa yang terjadi setiap hari di kuil tertua di Jepang, Asakusa. Kuil ini sangat terkenal. Ia menjadi tujuan utama turis dari mancanegara yang berkunjung ke Jepang. Balai utama kuil ini didirikan tahun 645. Di depan kuil, terdapat semacam perapen besar yang berasap bakaran dupa. Burung merpati jinak bertebaran di tanah sekitar kuil. Semua pengunjung yang hendak memasuki kuil tampak mengipaskan asap ke arah tubuh dan kepalanya.

Ke sanalah orang-orang Jepang kerap datang untuk meluapkan dahaga spiritualnya. Cuma caranya aneh. Percaya atau tidak, orang Jepang yang di bidang teknologi terlihat sangat rasional, ketika sudah sampai persoalan spiritual menjadi tidak rasional. Di antaranya, di kuil itu mereka paling tidak seminggu sekali membeli kertas ramalan seharga 300 yen (Rp 25.000-an) tentang nasib mereka seminggu ini. Kertas itu lantas dimasukkan ke dalam tungku yang dibakar dengan dupa. Mereka sangat percaya pada yang terbaca di situ. Itu menjadi pegangan selama seminggu kehidupan mereka. Setelah itu, mereka lantas melanjutkan ritualnya dengan menyembah patung Budha yang berwarna kuning mengkilat tidak jauh dari tempat penjualan kertas ramalan. Sebelum menyembah, mereka mengelus-elus kepala dan paha patung Budha itu.

Terakhir, mereka melempar uang logam ke dalam tempat yang sudah disediakan di bawah patung. Setelah agak banyak, tempat itu terbuka secara otomatis dan tumpukan uang itu meluncur ke bawah. Jadi, rupanya tempat itu memang didesain untuk menampung uang “jamaah”. Lucunya, setelah uang menumpuk, sebelum terbuka, seorang gelandangan yang kelihatannya setengah gila, yang selalu menunggu di dekat patung, sudah lebih dulu mengambil uang itu. Jadi, siapa sebenarnya yang waras?

Dahaga spiritual itulah yang mungkin membuat di Jepang bertumbuhan berbagai sekte keagamaan. Kini ada lebih dari 18.000. Di antaranya yang paling terkenal adalah sekte Aum Sinkriyo yang dipimpin Otto Asahara. Sungguh aneh, sekte yang sangat tidak bermutu ini karena di antaranya mengajarkan penyerahan semua harta para pengikut dan dipimpin oleh seorang bekas tukang asongan yang gagal berbisnis, ternyata laku keras.

Kenyataan ini semestinya menyadarkan siapa saja, bahwa pembangunan yang tidak berlandaskan nilai-nilai transendental (Islam), mungkin saja memberikan keberhasilan material luar biasa seperti yang telihat di Jepang. Namun, di sisi lain, semua itu ternyata justru memurukkan mereka ke lembah penderitaan; bukan penderitaan fisik, tetapi penderitaan sosial dan spiritual yang membuat mereka menjadi kehilangan arah dalam meniti kehidupan yang fana ini. Menyedihkan. [Kantor Jubir HTI-Jakarta]

(hti/voa-khilafah.com)

Semua Ada Masanya, Jangan Tergesa

Semua Ada Masanya, Jangan Tergesa


Voa-Khilafah.co.cc, "Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh…” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra,).

Begitulah proses penciptaan manusia. Setiap insan telah melaluinya, langkah demi langkah. Setiap tahapan dalam proses pun telah diperhitungkan dengan cermat,tepat dan tanpa cacat sedikitpun. 

Mengapa diperlukan proses tersebut? Bukankah Allah mampu menciptakan semua manusia sekaligus bila Ia menghendaki?. Lagi pula hanya Diialah Allah Sang Maha Kuasa, Maha Mengetahui?

Didalam proses kandungan makna mendalam. Sungguh Allah sebenarnya telah mendidik hamba-hambaNya semenjak ia berada dalam perut ibundanya, tarbiyah istimewa dariNya yang bertemakan kesabaran. Ada proses yang harus dilalui dan itu membutuhkan kesabaran

Kesabaran terhadap segala sesuatu yang telah ia tetapkan, kesabaran dalam menjalani perintah-perintahNya, meski sungguh teramatlah mudah bagi Allah sang Maha Pencipta untuk menciptakan manusia  sekaligus. Namun Allah menghendaki manusia menjalani proses dan bagaimana menjalani tahapan demi tahapan dengan bersabar.

Bila bukan karena kesabaran dan ketabahan, tentulah Siti Hajar tidak akan mondar-mandir, pulang dan pergi antara dua gunung yang kecil, shafa dan marwah sebanyak tujuh kali demi mendapatkan setetes air untuk putranya, ismail. 

Contoh kesabaran juga bisa diambil dari kisah Nabi Yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, terpisah dari ayah kandungnya, dan dipenjara sebagai tahanan, hingga pada akhirnya ia menjadi seorang penguasa Mesir. Nabi Yusuf melalui perjalanan yang amat panjang. 

Sebagaimana pula Rosulullah saw yang rela dicerca dan dilempari batu hingga cedera pada kedua kaki Rasulullah oleh kaum Bani Tsaqif ketika beliau hijrah ke Thaif. Begitulah proses langkah demi langkah yang akan senantiasa berlanjut hingga batas waktu yang telah ditentukan. 

Seorang anak kecil tak lantas tiba-tiba mampu berjalan. Ia harus merangkak. Itu pun tak bisa dilakukan ketika si bocah masih di bawah sembilan bulan.

Saat pertama berjalan pun tak lantas ia bisa langsung berlari. Kadang keseimbangan sering hilang dan terjatuh. Butuh beberapa waktu lagi bagi si bocah untuk bisa benar-benar berjalan seimbang. Itulah waktu yang telah ditentukan dan tak bisa dielakkan dalam tahapan proses.

Namun dalam menjalani proses, sering kali manusia ingin mempercepat waktu. Contoh paling mudah saat ingin sembuh dari sakit. Ada usaha yang harus dilalui untuk mendapatkan kesembuhannya dan ketika meminum obat dari dokter pun terdapat syarat seperti sekali sehari, 2 kali sehari atau 3 kali sehari. 

Tidak bisa kesembuhan diraih dengan serta merta meminum semua obat sekaligus. Justru ketika pasien melakukan hal tersebut akan mengakibatkan over dosis. Sifat ketergesaan inilah yang kerap menguasai seseorang dan membuat manusia sulit bersabar.

Senantiasa terdapat efek samping yang negatif dari tergesa-gesa. Manusia mudah melupakan segalanya dan senantiasa ingin mendapatkan apa yang diinginkannya dengan sesegera mungkin

Sebagaiman dalam beberapa firmannya “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (adzab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera” (QS. al-Anbiya’: 37). 

Proses kehidupan perlu dilalui dengan sabar dan tenang, langkah demi langkah sebagaimana Allah mengajarkan proses terciptanya manusia.


Bersabarlah, karena semua ada masanya, seperti pelajaran ulat yang beralih rupa menjadi kupu-kupu elok. Bersabarlah, maka kita akan mendapatkan lebih dari apa yang kita harapkan. Justru sikap tergesa-gesa hanya membuat banyak energi terbuang sia-sia, membuat banyak ajaran dan petunjuk dari Allah terabaikan dan bahkan apa yang diupayakan bisa berakhir buruk, mirip dengan efek over dosis. Wallahua’lam.*RoL/Voa-Khilafah.co.cc


Penulis adalah guru IPS Terpadu di SMPIT Az Zahra Sragen

Istriku, Rumahku

Istriku, Rumahku

Voa-Khilafah.co.cc - Pernahkah kita melihat, seorang suami yang begitu gamang hatinya dalam melihat hidup, karena tidak jelas arah tujuan dia melangkah?. Pernahkah kita menjumpai seorang suami yang begitu linglung menatap masa depannya, karena merasa tiada teman baginya untuk bisa sekedar memberinya saran?. Pernahkah kita melihat seorang suami yang tidak tenang menjalani hari- harinya walaupun dia telah memiliki segala yang diimpikannya?

Maka lihatlah keadaan rumahnya. Rumah tempat dia melepas penat dan tempat kembali sebagai akhir dari hari- harinya. Mungkin dia tidak nyaman dengan rumahnya, atau barangkali dia tidak merasa ada tempat kembali dari lusuh jiwanya.

Sungguh, bagaimanapun para suami di luar seharian, yang diinginkan adalah kembali pada rumahnya sendiri. Senyaman apapun para suami bergaul dengan banyak orang, bahkan mungkin saudara dan kerabatnya sendiri, maka hati mereka tetap mengharapkan kenyamanan yang lebih, di rumah mereka sendiri. Maka benarlah jika memang rumah seharusnya adalah menjadi sebaik- baik tempat untuk hati beristirahat.

Maka....
Seorang istri seharusnya adalah ibarat rumah bagi suaminya, tempat dimana para suami merasa kembali ke rumah, karena mendapatkan kenyamanan dan kedamaian bagi hati mereka yang lelah. Seorang istri seharusnya adalah ibarat rumah bagi suaminya, tempat dimana dia bisa menjadi apa adanya, tanpa harus dituntut menjadi sempurna. Seorang istri seharusnya menjadi rumah bagi suaminya, menjadi naungan yang menghangatkan ketika tidak ada lagi orang lain yang perduli terhadap mereka. Seorang istri seharusnya menjadi rumah bagi suaminya, tempat dimana jasad dan hati mereka bisa merasa rileks sepenuhnya.

Tapi lihatlah, bahkan banyak dari para istri yang tidak menyadari. Bahkan mereka membuat para suami mereka menjadi "gelandangan" karena merasa tidak lagi memiliki rumah tempat melepas lelah. Mulut dan perangai mereka serasa menambah capek dan panas suasana, bahkan dalam sebuah rumah yang begitu sangat megah. Kontrol diri dan hilangnya kesabaran membuat para istri lupa diri dan alfa dari sebuah pengabdian yang memuliakan mereka.

Jika saja para istri yang seperti itu menyadari, betapa dalam kesabaran berproses dalam menjadikan diri sebagai "rumah" yang nyaman bagi suaminya, berarti adalah mereka telah belajar memuliakan diri mereka sendiri. Jika saja mereka menyadari, bahwa jika kebahagiaan suaminya meretas, maka hal itu berarti adalah juga kebahagiaan bagi diri mereka sendiri. 

Wahai para istri yang dirahmati Allah, hatimu yang mulia, akhlakmu yang mendamaikan, dan perangaimu yang teduh adalah sebaik- baik dan seindah- indah rumah  bagi para suamimu. Maka rawatlah, jagalah dan bahagiakan mereka di dalamnya. Semoga dengan itu, suamimu akan senantiasa kembali pulang, untuk kembali menyegarkan jiwa dan pikiran mereka yang lelah setelah seharian di luar. Semoga dengan itu, Allah Subhanahu Wata'ala akan menghadiahimu dengan secantik- cantiknya istana disurgaNya yang abadi. Insya Allah.
(Syahidah/Voa-Islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Apakah Kau Tahu Bahwa Allah Sangat Menyayangimu?

Apakah Kau Tahu Bahwa Allah Sangat Menyayangimu?


Voa-Khilafah.co.cc - Apakah kau bahagia sekarang? atau kau sedang berduka? Apapun keadaanmu sekarang, tahukah kau bahwa Allah masih dan sangat menyayangi dan mengasihimu. 

Apakah kau tahu bahwa allah sangat menyayangimu, bahkan ketika ketika kau tidak mengingat dan menyebut namanya saat kau mulai makan karena begitu lapar? Lihat bahwa allah tetap memberimu kenikmatan dalam rasa tanpa sedikitpun mencabut rahmatnya itu. Rasakanlah betapa malah badanmu bertambah segar dengan sangat, setelah makananmu mengisi lancar kelesuan dan keletihan ragamu.

Apakah kau tahu bahwa Allah sangat menyayangimu, bahkan saat Dia melihat jelas kelakuan mulutmu tiada henti mengatakan dusta, fitnah, mengadu domba dan mengelarkan rentetan kemaksiatan yang menghancurkan dirimu sendiri dan sesamamu? Mungkin jika manusia yang menyaksikan semua itu, wajahmu akan dipenuhi dengan tamparan dan tiada lagi kehormatan atasmu. Namun Allah juga masih mengampunimu saat kau meminta maaf dan hanya Allah lah yang selalu maha menghargai sebuah taubatmu.

Apakah kau tahu bahwa allah sangat menyayangimu, bahkan saat Dia jelas- jelas melihatmu bermaksiat? Bisa saja saat itu dia mengambil nyawamu dan atau mengadzabmu dengan seribu satu siksa. Namun lihatlah, bahwa dalam keadaan kau berdosa, Allah malah mengangkat derajatmu setelah kau melepas semua jubah kejahatanmu.

Apakah kau tahu bahwa Allah sangat mencintaimu, bahkan saat kau tetap memakinya denga sejuta keluhan yang kau rasa akibat kekurangan dan kesakitanmu di dunia?.Yakinlah saudaraku, bahwa Allah tidak sedang mendholimimu, betapa sayangnya Allah subhanahu wata'ala kepada para hambanya. Dalam jatuhmu yang benar- benar di titik nadir, itu semua adalah karena ulah dirimu sendiri. Dan bukannya Allah membiarkan kau tetap berada di titik itu tanpa sedikit menolongmu. Lihatlah, bahwa sebenarnya tidak kau punya kesempatan lain untuk lari selain dekat dengan Allah. Dan semua hanya tinggal bagaimana kau memilih saja, tetap keras kepala, dan atau meminta ampun dan kemudian Allah akan senantiasa menolongmu.

Apakah kau tahu bahwa Allah sangat menyayangimu?...

Mungkin banyak dari kita yang telah tahu namun tidak sadar dan atau malah tidak mau tahu.
Ketahuilah saudaraku, Allah senantiasa Menyayangimu, dalam keadaan apapapun dirimu, tanpa syarat apapun seperti yang diinginkan manusia dan tanpa pamrih apapun seperti yang diharapkan manusia. Maka apakah kau akan tetap membiarkan dirimu menjadi hamba yang tidak tahu trimakasih dengan tetap membiarkan dirimu sendiri dalam kejahatan yang sama dan berulang- ulang setiap hari?.

Lihatlah dirimu saudaraku,mungkin diantara tubuh dan jiwamu ada salah satu yang bertentangan dengan dirimu, sehingga sulit kau atur. Kaupun bernasib sama dengan begitu banyaknya orang yang ternyata susah bahkan tak bisa bersahabat dengan diri mereka sendiri. Maka, sadarilah bahwa yang paling menyayangimu dan paling mengerti dirimu bahkan lebih dari dirimu sendiri, dalam keadaan bagaimanapun dirimu, siapapun dirimu, dan apa adanya kamu, hanyalah Allah saja. Allah yang selalu siap kapanpun, dan dimanapun menjadi sahabat dan tempatmu berbagi, dan yang pasti akan sangat lebih baik dari pada cara dirimu sendiri menjadi sahabat bagi dirimu. Kasih sayangnya kepadamu adalah lebih sangat mempesona dari hubungan baik yang terbaik yang pernah diberikan oleh makhluk di dunia ini untukmu. Lalu alasan apa yang kemudian membuatmu masih keras hati dan masih menjauh dari Allah Subhanahu Wata'ala?

(Syahidah/voa-islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Saat Kau Merasa Sangat Begitu Lelah...

Saat Kau Merasa Sangat Begitu Lelah...


Voa-Khilafah.co.cc - Saat ragamu lelah, maka bersyukurlah bahwa sehari ini kau telah berbuat banyak untuk dirimu dan keluargamu. Kau membahagiakan mereka, kau  menenangkan mereka dengan hasil jerih payahmu yang melelahkan. Kau damaikan mereka karena tercukupinya kebutuhan mereka. Lihatlah betapa kehadiranmu memang memang pantas untuk di syukuri oleh sekitarmu, maka bersyukurlah atas karunia dari Allah itu, yang menjadikanmu pantas untuk menjadi yang di banggakan. 

Saat lidahmu lelah, maka diamlah. Mungkin dia terlalu capek atas huruf- huruf dusta yang terpaksa dilakoninya atas perintah kepentingan dan nafsumu. Atau mungkin dia terlalu bosan dengan kata- kata bijak penuh kebaikan yang kau keluarkan, namun ternyata tidak selaras dengan kenyataan yang kau wujudkan. Atau dia terlalu rindu dengan kalimat- kalimat mulia yang menjadikan lidahmu sendiri itu sebagai pembelamu, saat nanti kalian berada dipengadilan Allah. 

Saat matamu lelah, maka pejamkan dan istirahatkanlah dia. Rasakanlah betapa kekhasan dari sebuah nikmat itu memang tengah menaungimu lewat indahnya memiliki sebuah pandangan. Maka jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus menjadi salah satu donatur dosa yang justru menggiringmu ke neraka. Dan jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus kau paksa untuk tetap terjaga, mengikuti ambisimu dalam menggenggam dunia. Sadarilah kerinduannya akan sebuah keteduhan yang begitu di dambanya sebagai salah satu cabang dari cerminan hatimu. Penuhilah keinginannya untuk lebih ringan dalam memandang sebuah bentuk dari egomu.

Saat kakimu lelah, maka nyamankan dia. Nyamankan dengan berhenti untuk tetap berdiri dalam sebuah kemaksiatan. Bahkan kakipun juga adalah prajurit dari sebuah hatimu sendiri. Dia juga merupakan karunia nikmat dari Allah, tapi juga bisa menjadi korban dari nafsumu jika kau tak baik- baik  dalam menjaganya. Istirahatkan dia dari langkah yang terus-menerus demi memenuhi hasrat pikiran dan kamuan ambisimu.  

Saat hatimu lelah... mungkin kepentingan duniawimu sudah terlalu menyesakkan dada, sedang naluri ruhiyahmu sudah terlalu lapar dan meminta disegerakan atas pemenuhan haknya. Maka berhentilah sebentar, dan berilah jeda waktu untuknya. Biarkan manusiawi sebuah hatimu itu bertemu dengan yang menciptakannya. Biarkan rongga kosong itu terpenuhi oleh kebutuhan akan kedekatan dengan tuhannya. Biarkan dia belajar untuk menginsyafkan kembali prajurit indrawinya yang mungkin masih masih bandel untuk berada dalam kebaikan. Biarkan sebentar dia menjadi penyaring untuk membedakan yang benar dan salah. Dan biarkan lebih lama, dia menuntunmu untuk menyegarkan dan menyemangatimu kembali, sehingga keluhan dan kelelahanmu bisa diselesaikan olehnya. 


Saat kau telah begitu lelah... beristigfarlah atas apa yang telah membuatmu seperti itu dan kemudian istirahatkan kelelahanmu, selanjutnya serahkan urusanmu kepada yang Maha terjaga, Allah Subhanahu Wata'la.


(Syahidah/Voa-islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Hak-Hak Anak Yatim

Hak-Hak Anak Yatim


Voa-Khilafah.co.cc - Ka'ab bin Malik RA berkata, "Masalah pertama yang menyebabkan Abu Lubabah tercela adalah karena dia dan anak yatim berselisih tentang dahan banyak tangkai (yang disenanginya)." Keduanya mengadu kepada Rasulullah SAW dan beliau memenangkan Abu Lubabah. Anak yatim tersebut menangis. Lalu Rasul bersabda, "Wahai Abu Lubabah, berikanlah dahan itu untuknya." Abu Lubabah keberatan. Rasulullah SAW mengulangi permintaan beliau, "Berikanlah dahan itu kepadanya dan kamu akan mendapatkan surga."

Tapi, Abu Lubabah tetap menolak. Tidak lama kemudian datanglah Abu Dahdah menghampiri Abu Lubabah seraya berkata, "Juallah dahan itu dengan dua kotak kebunku." Abu Lubabah menerimanya. 

Lalu, Abu Dahdah membawa dahan itu kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, "Wahai Rasul, jika aku berikan dahan ini kepada anak yatim itu, apakah aku akan mendapatkan semisal dahan ini di surga." Nabi SAW mengiyakannya. Maka, dahan itu diberikan kepada anak yatim itu, dan Rasul bersabda, "Betapa banyak dahan wangi yang dimiliki Abu Dahdah di surga kelak." ( HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap anak yatim. Kalau kita telusuri ajaran Islam, kita dapatkan aneka cara dalam memperlakukan hak anak yatim.
Pertama, berbuat baik kepada anak yatim merupakan akhlak Islam yang agung bahkan dijadikan sebagai amalan paling utama dan paling suci. (QS al-Baqarah [2]: 177). Sebelum Islam datang, anak yatim tak mendapatkan perhatian apalagi santunan yang layak. Lalu, Islam memuliakannya dan melarang untuk mengeksploitasinya. (QS al-An'am: 152-153, al-Isra: 34).

Memakan harta anak yatim merupakan salah satu dosa besar dan penyebab masuk neraka. Rasul SAW bersabda, "Jauhilah tujuh dosa besar, yakni menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita mukmin yang lalai." (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, Alquran melarang penghinaan dan menyakiti anak yatim. (QS al-Fajr: 15-23, adh-Dhuha; 9, al-Ma'un: 1-3). Dan ketiga, Alquran memerintahkan supaya kita memuliakan anak yatim dan balasannya adalah surga. (QS al-Insan: 8-22). 

Keempat, Nabi telah menegaskan bahwa anak yatim dan wanita lemah adalah golongan yang harus diperhatikan dan dipelihara. Abu Syureih al-Khuza'i meriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, aku merasa berat dengan hak dua kelompok lemah ini, yaitu hak anak yatim dan hak perempuan." ( HR an-Nasai). 

Kelima, Islam menegaskan bahwa penyantun dan penjamin anak yatim akan menjadi teman dekat Rasulullah di surga. "Aku dan penjamin anak yatim berada dalam surga seperti telunjuk dan jari tengah. Rasul mengisyaratkan dengan dua jari tengah dan menjarangkan jari-jari lainnya. ( HR Bukhari dan Ahmad).

Keenam, rumah terbaik adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan, dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang ada anak yatim, namun dihinakan. Dari sini, kita wajib menyantuni anak yatim dan memperhatikan hak-hak mereka bukan saja aspek material tapi juga aspek pendidikan, ekonomi, sosial, dan spiritual.

Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail
(RoL/Voa-Khilafah.co.cc)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL