Tampilkan postingan dengan label MISTERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MISTERI. Tampilkan semua postingan

Keajaiban Kupang 1998: Misteri Lelaki Berjubah Putih Menunggang Kuda


Kupang (voa-khilafah.co.cc) – Tidak ada media massa yang memberitakan keanehan yang terjadi pada saat peristiwa Kerusuhan Kupang 1998 yang lalu. Di tiga tempat yang berbeda, ketika kaum Muslimin yang minoritas itu dikepung oleh kaum Salibis, banyak mata yang menjadi saksi, saat melihat dari arah ketinggian, nampak lelaki berjubah putih yang sedang menunggang kuda dalam jumlah yang banyak. Subhanallah, tentara Allah betul-betul turun di Kupang ketika umat Islam dalam keadaan terjepit.

Seorang pemuda di Airmata, sebuah pemukiman Muslim di Kupang, menceritakan, tak sedikit masyarakat Kristen yang menyaksikan dari atas bukit. Mereka seolah-olah melihat, ada banyak kerumunan massa di Airmata. Percaya atau tidak, orang kafir itu melihat lelaki berjubah putih dan bersurban sedang menunggang kuda dalam jumlah yang besar. Lalu bergetarlah hati Masyarakat Kristen yang saat itu hendak menyerang kampung Muslim.

Rupanya keanehan itu tidak hanya terjadi Kampung Airmata, melainkan juga di Kampung Solor, sebuah pemukiman muslim di Kota Kupang. Kali ini orang kafir melihat anak-anak berjubah putih dalam jumlah yang besar seraya memegang kayu yang diayun-ayunkan. Maka bergetarlah hati kaum salibis yang ketika itu hendak membakar Kampung Solor.

Ketika voa-islam bersilaturahim ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Batakte, Kupang Barat, pimpinan pesantren tersebut juga menceritakan hal yang sama. Banyak mata yang menjadi saksi, yang saat itu melihat ada banyak anak kecil berjubah putih seraya memegang senjata tajam.

“Ketika itu pesantren didatangi kelompok massa Kristen sebanyak dua truk dengan menggunakan ikat kepala merah. Mereka bukan hanya memblokade jalan di Batakte, tapi juga bermaksud untuk membakar masjid di kompleks Hidayatullah. Alhamdulillah, Allah melindungi kami di sini. Kami ingat, santri yang hendak melalui blokade itu harus menyanyikan lagu-lagu Yesus atau gereja. Dengan terpaksa, santri itu menuruti kemauan mereka,” kenang Ustadz Usman Mamang, pimpinan Pesantren Hidayatullah Kupang, NTT.
Peristiwa Kupang 1998
Tanpa bermaksud membuka luka lama, perlu kiranya mengetahui latar belakang kejadian dan peristiwa kerusuhan Kupang tahun 1998. Bermula, dari acara perkabungan dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa Kristiani di Kupang yang tergabung dalam panitia Gemakristi sehubungan dengan peristiwa Ketapang Jakarta, berkembang menjadi aksi penutupan jalan raya.

Di sejumlah titik perkabungan di jalan-jalan dibangun blokade. Warga menyekat jalan antara lain dengan peti mati, salib berukuran besar, serta gambar Kristus bermahkota duri. Ini antara lain dapat disaksikan di depan Gereja Kota Kupang, dan beberapa lokasi di Jalan Soedirman, Kuanino.

Perkabungan ini berlangsung selama 24 jam, mulai Senin pukul 06.00 Wita. Perkabungan rencananya akan ditutup dengan kebaktian Oekumene, Selasa pagi di GOR Oepoi, Kupang. Upacara perkabungan diteruskan dengan pawai besar-besaran mengitari beberapa ruas jalan di Kota Kupang seperti Jalan Ahmad Yani-Merdeka, Urip Sumoharjo, Moh Hatta dan Sudirman Kuanino dan berbelok ke Jalan Pemuda-Jalan Cak Doko dan Jalan Lalamentik menuju ke Oebufu.Ketika itu semua kantor, pertokoan, dan pasar tutup. Kota Kupang sejak pagi Nampak lengang.

Kebanyakan warga kota dan daerah sekitarnya ambil bagian dalam aksi Gemakristi (Gerakan Perkabungan Umat Kristiani) sebagai wujud rasa solidaritas atas berbagai peristiwa, termasuk peristiwa Ketapang pekan lalu. Semua kendaraan angkutan penumpang dan barang dalam dan luar kota, berhenti beroperasi. Kantor pemerintah dan swasta, sekolah, pertokoan dan kios, tutup. Begitu juga pasar rakyat praktis lengang tanpa pengunjung.

Suasana berubah menjadi rusuh karena adanya sekelompok massa yang menyusup kedalam acara tersebut, telah memicu massa melakukan aksi pelemparan rumah ibadah/masjid dan pengrusakan terhadap beberapa rumah dan kantor serta tindak kerusuhan lainnya.

Kronologisnya, menurut data dari Departemen Pertahanan RI, tanggal 30 November 1998 pagi hari di kota Kupang dilaksanakan acara perkabungan nasional yang diawali dengan kegiatan membagi bunga di jalan-jalan protokol kepada setiap orang yang lewat kemudian berkembang menjadi penutupan/pemblokiran jalan-jalan raya.
Pukul 10.00 WITA tanggal 30 November 1998 suasana menjadi rusuh karena ada sekelompok massa dari luar kota menyusup kedalam acara tersebut. Saat melewati ruas jalan Oebufu, massa mulai melempari beberapa rumah, kios serta toko. Massa terus bergerak ke arah Jalan El Tari II menuju ke Penfui dan kembali memutar ke arah Oesapa.

Saat memasuki Jalan Adi Sucipto di kawasan Oesapa, beberapa rumah pengusaha yang berada di simpang tiga menjadi sasaran pelemparan sehingga kaca di bangunan itu berantakan. Hal yang sama juga terjadi di sekitar wilayah Oesapa Kecil. Beberapa kios dan bangunan serta sebuah sedan kacanya remuk dilempari batu.

Sekitar pukul 11.15 Wita, massa yang sudah tidak terkendali kembali lagi ke kota Kupang dan memasuki kawasan Kelurahan Solor. Di daerah ini juga terjadi saling lempar antara massa yang konvoi dengan warga setempat. Massa Kristen bahkan  melakukan aksi pelemparan Masjid Al Fatah di kelurahan Solor serta Masjid Raya di kelurahan Fontein. Aksi tersebut terhenti sementara karena turun hujan, namun kemudian berlanjut kembali dengan sasaran pengrusakan dan pembakaran terhadap rumah ibadah, rumah tinggal dan fasilitas umum.

Pada pukul 13.10 WITA tanggal 1 Desember 1998 massa melakukan pengrusakan terhadap kantor Hutan Tanaman Industri Kupang.Pihak aparat kemudian melakukan langkah-langkah untuk melokalisir peristiwa agar tidak meluas, mengadakan dialog dan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menyelesaikan masalah.

Setelah terjadi aksi saling melempar di depan sebuah masjid, berita menyebar dengan cepat. Akibatnya ratusan pemuda dari berbagai penjuru berdatangan dan membalas provokasi, dan terjadilah saling lempar dengan warga di belakang kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.

Sekitar pukul 17.00 Wita, massa bergerak menuju kampus Universitas Muhammadiyah Kupang, namun dihalau pasukan keamanan. Menurut informasi  hingga pukul 18.30 Wita, dua masjid dibakar yaitu di daerah sekitar Kolhua dan di Bakunase. Tiga lainnya dirusak, yaitu Masjid Raya Kupang, Masjid Attaqwa Naikoten, dan masjid di sekitar kantor Kodya Kupang.

Pembakaran lainnya menimpa Asrama Haji di Bilangan Oebufu, Kodya Kupang, sebagian bangunan Pasar Inpres Naikoten II, SMP dan SMA Muhammadiyah. Suasana kota hingga Senin malam mencekam. Warga kota terlihat saling curiga antara satu dengan yang lainnya. Mereka rata-rata membawa senjata tajam, pentungan dan lainnya.

Akibat kejadian tersebut, menimbulkan luka berat (2), luka ringan (25), kerusakan masjid/ mushola (9), rumah tinggal (44), kios/ toko (45), rumah makan (30), gedung sekolah (3), kendaraan roda 4 (14) dan roda dua (16) serta 3.962 penduduk mengungsi.

Kerusuhan pun meluas, aksi perkabungan nasional juga berlangsung di Kota SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (70 Km sebelah Timur Kupang). Begitu lonceng gereja berbunyi, penduduk keluar rumah mengetuk tiang listrik dengan membawa parang, golok, dan benda tajam lainnya. Masjid dikepung, dirusak, dan dibakar. Rumah dan toko milik milik BBMJ (Bugis, Bone, Makasar, dan Jawa) yang muslim itu diobrak-abrik, dirusak dan dijarah massa Kristen. Hari tu, tak ada Media lokal yang memberitakan, sebab, informasi kan sudah dimonopoli nonmuslim.

Yang mengejutkan, saat menjadi penceramah dalam seminar yang digelar Universitas Nusa Cendana, Theo Syafei ketika itu (15 November 1998) mengatakan, kalau di Jawa orang bisa bakar gereja, kenapa kita di sini tak bisa bakar masjid. Tepuk tangan pun bergemuruh di kampus itu.

Kupang dan sekitarnya ibarat api dalam sekam, jika daerah lain yang disulut, maka akan berimbas ke Kupang. Ingat Kasus Ketapang di Jakarta, bara api itu sampai terbawa ke Kota Kupang. Hampir saja, kasus Temanggung, kembali menyulut di kota ini. Saat ini masyarakat Kupang pada umumnya, semakin dewasa, mereka tak mau lagi diprovokasi oleh pihak dan kelompok tertentu yang ingin Kupang membara dan berdarah-darah.  Desastian (Voa-Islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Misteri Utuhnya Jasad Fir'aun Yang Tertuang Dalam Al Qur'an

Firโ€™aun Mineptah
Voa-Khilafah.co.cc - Informasi yang tertuang di dalam Al Qur’an, mengenai Fir’aun yang hidup pada masa nabi Musa AS (setelah ia tenggelam di laut), dan keberadaan jasadnya yang masih utuh hingga hari ini, merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT terhadap alam semesta ini.

Pada 1975, di Cairo (Mesir) berhasil dilakukan pengambilan salah satu sampel organ tubuh berkat bantuan dari Prof. Michel Durigon. Pemeriksaan yang sangat teliti dengan microscop, menunjukkan kondisi utuh yang sangat sempurna dari objek penelitian itu.

Juga menunjukkan, bahwa keutuhan yang sangat sempurna seperti ini tidak mungkin terjadi andaikan jasad tersebut berada (tenggelam) di dalam laut selama beberapa waktu, bahkan sekali pun ia berada untuk waktu yang sekian lama di luar air, sebelum dilakukan langkah pengawetan pertama.

Di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Fir’aun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir, mumi Fir’aun kemudian dibawa ke Prancis.

Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Fir’aun yang dzalim itu, dengan pesta yang sangat meriah. Mumi pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, dilakukanlah penelitian sekaligus mengungkap rahasia yang ada di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis.

Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof. Dr. Maurice Bucaille. Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis, dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L'Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920.

mu i firaunBucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi. Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal, anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul, ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, sebuah kesempatan bagi Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Fir’aun.

Hasil akhir yang diperolehnya sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh mumi adalah bukti terbesar, bahwa dia mati karena tenggelam. Jasadnya dikeluarkan dari laut, dan kemudian di balsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuannya itu masih mengganjal dalam pikiran sang professor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad mumi yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Kami sudah melakukan lebih dari itu dan menitikkan perhatian pada pencarian kemungkinan penyebab kematian Fir’aun, dimana dilakukan penelitian medis legal terhadap mumi tersebut berkat bantuan Ceccaldi, direktur laboratorium satelit udara di Paris dan Prof. Durigon.

Dalam pengecekan itu, tim medis berupaya mengetahui sebab di balik kematian ‘ekspress’ akibat adanya memar di bagian kepala tengkorak. Jelas pada setiap penelitian ini sangat sesuai dengan kisah-kisah yang terdapat di dalam kitab-kitab suci, yang menyiratkan bahwa Fir’aun sudah mati saat ombak menelannya.
Bangkai Poros Roda Dari Salah Satu Kereta Kuda Pasukan Firโ€™aun Di Laut Merah
Prof. Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Fir’aun dari laut dan pengawetannya. Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu dan berkata : "Jangan tergesa-gesa, karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini".

Awalnya Bucaille tidak menghiraukan kabar ini, sekaligus menganggapnya mustahil. Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui, kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.
Bangkai Roda Kereta Firโ€™aun Yang Ditemukan Oleh Arkeolog bernama Ron Wyatt Di Laut Merah 1988
Hingga laporan akhirnya ini diterbitkannya dengan judul "Les momies des Pharaons et la midecine" (Mumi Fir’aun; Sebuah Penelitian Medis Modern). Berkat bukunya inilah, dia menerima penghargaan "Le prix Diane-PotierBoes" (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan "Prix General" (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Salah seorang di antara mereka berkata, bahwa Al Qur’an yang diyakini umat Islam, telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Fir’aun yang kemudian diselamatkannya mayatnya. Ungkapan itu semakin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?

Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sedangkan Al Qur’an telah ada ribuan tahun sebelumnya. Sementara dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Fir’aun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Fir’aun. Bucaille pun semakin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Prof. Bucaille akhirnya meminta untuk di datangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan : "Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Fir’aun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka."

Jasad Fir’aun Ditemukan Pertama Kali Di Laut Merah 1898 Dalam Posisi BersujudProf. Bucaille melanjutkan, riwayat versi Taurat yang terkait dengan kisah keberangkatan bangsa Yahudi bersama Musa AS dari Mesir menguatkan analisa yang mengatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir di masa nabi Musa AS.

Penelitian medis terhadap mumi Mineptah mengemukakan kepada kita, informasi penting lainnya mengenai apa kemungkinan penyebab kematian Fir’aun ini. Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Fir’aun yang masih tetap utuh.

Oleh karenanya, ia pun semakin bingung. Setelah perbaikan terhadap mayat Fir’aun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Prof. Bucaille memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sinilah kemudian terjadi perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Fir’aun, dan pengejarannya terhadap Musa, hingga dia tenggelam, dan bagaimana jasad Fir’aun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut, seraya membuka mushaf Al Qur’an dan membacakan firman Allah SWT yang artinya :
"La Bible, le Coran et la Science" (Bibel, Al Qurโ€™an, dan Ilmu Pengetahuan Modern)."Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. Yunus : 92)
Ayat ini pun lantas sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan, bahwa ayat Al Qur’an tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir, seraya menyeru : "Sungguh, aku masuk Islam dan aku beriman dengan Al Qur’an ini."
Prof. Dr. Yahya Maurice Bucaille Dan Bukunya
Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, dan nama Islam yang Baru, "Prof. Dr. Yahya Maurice Bucaille". Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Al Qur’an, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Al Qur’an.

Namanya mulai terkenal ketika ia merangkum semua hasil penelitiannya tersebut yang kemudian dibukukan dengan judul "La Bible, le Coran et la Science" (Bibel, Al Qur’an, dan Ilmu Pengetahuan Modern). Buku yang dirilis tahun 1976 ini, menjadi best-seller internasional dan diterjemahkan ke hampir semua bahasa.

(ubaesorso.blogspot.com/driseonline/voa-khilafah.co.cc)
Misteri Kehancuran Kota Sodom Terungkap Oleh Sains

Misteri Kehancuran Kota Sodom Terungkap Oleh Sains

Voa-Khilafah.Blogspot.Com - Kisah ini merupakan salah satu cerita tertua di dunia. Kisah dua kota yang namanya identik dengan dosa, Sodom dan Gomora. Selama bertahun-tahun, cerita tentang apa yang menimpa mereka menjadi perumpamaan tentang Bejatnya Moral yang harus dibayar dengan MAHAL.

Penggambaran kehidupan manusia di dua kota ini betul betul hampir sangat relevan dewasa ini, dimana berbagai tindakan yang sangat jauh dengan hakekat mereka sebagai makhluk ciptaan, bobroknya moral, seakan-akan tidak memiliki batasan. Dimana Perintah-perintah dari Sang Pencipta dan norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat sudah seakan menjadi dongeng turun temurun yang hanya sebatas mereka dengar.

Sekitar 4000 tahun yang lalu, Sodom dan Gomora menyandang reputasi tersebut. Walau Kitab suci tak pernah menyebutkan apa perbuatan mereka secara mendetil sehingga bisa bernasib seperti itu. Walaupun demikian, Kitab suci sangat jelas memberikan penggambaran mengenai hukuman yang mereka terima dari Sang Pencipta.

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Huud ayat 82)

Jika cerita mengenai Sodom dan Gomora memang terjadi seperti apa yang dikisahkan di dalam Al-Quran maupun Injil, maka sangat mungkin terjadi di suatu lahan kosong terpencil di sebelah lautan tanpa kehidupan. Tapi, dimanakah tempat itu?

Seperti yang kita ketahui, banyak tempat yang dikisahkan didalam kitab suci sulit untuk ditentukan dimana lokasi yang sebenarnya. Contohnya didalam Kitab Taurat yang membahas tentang lima kota lembah. Sampai saat ini kita hanya bisa berspekulasi bahwa kelima kota tersebut berada disekitar laut mati.

Cerita mengenai Sodom dan Gomora ini terjadi di zaman Ibrahim a.s, berabad-abad sebelum Musa a.s keluar dari tanah Mesir.

Tak ada yang menemukan petunjuk kota seperti itu pernah ada, sebab tak pernah ada orang yang sungguh-sungguh mencari-nya. Hingga pada tahun 1924, Ahli purbakala bernama William Albright berangkat menuju ke Laut Mati untuk melakukan penelitian disana. Beberapa orang yang bersamanya jelas mencari keberadaan sisa-sisa Sodom dan Gomora. Mereka mengitari pantai tenggara dari laut mati hingga mereka ahirnya tiba di sutus purbakala Bab-edh-dhra.

Bab-edh-dhra (dibaca : Babhedra), merupakan situs jaman perunggu, namun tak ada petunjuk jika situs itu meupakan suatu kota. Tampaknya daerah itu merupakan suatu daerah pemakaman. Namun Albright tak memiliki sumber daya untuk menggalinya.

Jadi hampir 50 tahun berlalu sebelum ada yang kembali ke situs tersebut untuk melakukan penggalian. Ahli Purbakala Paul Lapp memimpin penggalian di tahun 1967, dan Thomas Schaub termasuk salah satu penggalinya.

Bab-edh-dhra merupakan makam terbesar khas jaman perunggu yang mereka gali, panjangnya 15 meter dan lebarnya 7 meter. Disini mereka juga menemukan makam berisi perhiasan emas dan menggali lebih 700 tembikar yang merupakan hadiah penguburan termasuk tempat parfum kecil dan banyak benda lain seperti kain.

Situs ini sungguh menakjubkan, makam ini telah digunakan selama 1000 tahun lamanya, dari zaman Ibrahim hingga penghancuran Sodom. Namun, tak ada apapun untuk mengaitkan pemakaman kuno itu dengan Sodom.

Misterinya, sekitar tahun 2350 SM, penguburan itu mendadak berhenti tak ada yang tahu mengapa. Ada sejumlah sebab mengapa suatu situs tak ditempati lagi, beberapa bisa disimpulkan, beberapa lagi tidak. Penyebab pada umumnya mungkin persediaan air mengering, lingkungan berubah, iklim berubah atau orang-orangnya dibasmi total.

Sodom dan Gomora dari segi Sanis

Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah dilakukan sejak tahun 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom dan Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua kota yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra (Sodom) dan Numeira (Gomora).

Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak dan rangka manusia yang menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM. Laut Mati merupakan pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar Yudea dan Sesar Moab.

Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati dicirikan oleh endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena diapir, gunung garam dan gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan kadar belerang tinggi.

Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana geologi dengan urutan :
1. Pergerakan Sesar Moab
2. Gempa dengan magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta likuifaksi yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota,
3. Erupsi gunung garam dan gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, dan belerang,
4. Kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena material hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga menjadi hujan api dan belerang.

Bencana katastrofik ini telah meratakan Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Luth dan dua putrinya. Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena astroblem (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi berupa aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan gunung garam dan gunung lumpur.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL