Tampilkan postingan dengan label NAFSIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NAFSIYAH. Tampilkan semua postingan
Tanda Orang Yang Beruntung Di Akhirat

Tanda Orang Yang Beruntung Di Akhirat


(Tafsir QS al-Insyiqaq [84]: 7-9)

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ، فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا، وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا،
Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanannya akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira (QS al-Insyiqaq [84]: 7-9).
Dalam ayat sebelumnya diberitakan tentang beberapa peristiwa yang terjadi pada Hari Kiamat. Langit terbelah. Bumi diratakan dan diluaskan. Semua makhluk mendengar dan tunduk terhadap perintah Allah SWT, Tuhan dan Pencipta mereka.
Kemudian diterangkan pula bahwa manusia yang bekerja keras dalam hidupnya akan menjumpai Tuhannya. Ini adalah kejadian yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Ketika itu manusia akan diberi balasan atas perbuatan yang dilakukan di dunia.
Inilah yang diberitakan dalam ayat ini. Ada sebagian yang mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan. Sebagian lainnya sengsara dan celaka. Ayat-ayat yang akan dikupas di bawah ini adalah golongan manusia yang mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan.

Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman: Fa ammâ man ûtiya kitâbahu bi yamînihi (Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanannya). Di antara peristiwa penting pada Hari Kiamat adalah pemberian kitab amal kepada seluruh manusia. Ini diberitakan dalam beberapa ayat. Dalam QS al-Jatsiyah [45]: 28, misalnya. Inilah kitâb yang dimaksud ayat ini. Dikatakan al-Biqa’i, kitab tersebut merupakan lembaran perhitungan yang dicatat malaikat.1 Di dalamnya berisi catatan seluruh amal manusia, baik yang besar maupun yang kecil. Tidak ditambah ataupun dikurangi.
Dalam ayat lainnya (QS al-Kahfi [18]: 49), Allah SWT memberitakan tentang nasib orang yang diberikan kitab amalnya dari sebelah kanan. Mereka adalah orang-orang Mukmin. Demikian menurut al-Qurthubi, asy-Syaukani, al-Qinuji, Ibnu Athiyah dan as-Samarqandi.2 Atau seperti dikatakan al-Biqa’i, mereka adalah orang-orang Mukmin yang taat.3 Dikatakan al-Qurthubi, pemberian catatan amal dari sebelah kanan ini merupakan pertanda kesuksesan.4
Kemudian diberitakan: Fasawfa yuhâsabu hisâb[an] yasîr[an](dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah). Menurut ar-Razi, kata sawfa yang berasal dari Allah merupakan sesuatu yang wajib.5Oleh karena itu, setelah mendapatkan kitab atau catatan amal dari sebelah kanan, dia dipastikan akan diperiksa dengan hisâb yasîr (perhitungan atau pemeriksaan yang ringan).
Dijelaskan al-Qurthubi, yang dimaksud dengan hisâb yasîr adalah lâ munâqasyah fîh (tidak ada perdebatan di dalamnya).6 Ibnu Katsir memaknai kata ini sebagai sahl[an] bi lâ ta’sîr (mudah tanpa ada kesulitan). Tidak ada pemeriksaan terhadap amalnya secara mendetail pada seluruh amalnya. Sebab, orang yang dihisab seperti itu (yakni dengan mendetail), dia celaka.7
Al-Qinuji juga menafsirkan kata ini dengan sahl[an] hayyin[an] lâ munâqasyah fîh (mudah, ringan, tanpa ada perdebatan). Mufassir tersebut lantas mengutip perkataan Muqatil, “Karena diampuni dosa-dosanya dan tidak dihisab atasnya.”8
Penjelasan senada, dengan sedikit perbedaan redaksional, juga dinyatakan oleh an-Nasafi, al-Baidhawi, asy-Syaukani dan as-Samarqandi.9
Tentang hisab yang ringan, Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan, “Dengan dilihat amal-amalnya, lalu diampuni keburukannya dan diberi balasan atas kebaikannya.”10
Diterangkan pula oleh ar-Razi dan al-Khazin, hisâb yasîr adalah diperlihatkan kepada dia amal-amalnya sehingga dia mengetahui ketaatan dan kemaksiatan. Kemudian dia diberi pahala atas ketaatan dan diampuni kemaksiatannya. Menurut ar-Razi, inilah yang dimaksud dengan hisab yang ringan. Sebab, tidak ada kesulitan di dalamnya bagi pelakunya. Tidak ada perdebatan. Tidak pula dikatakan kepada dia, “Mengapa kamu tidak mengerjakan ini?” Tidak dituntut ada alasan dan argumentasi atas dirinya. Pasalnya, sesungguhnya ketika hal itu dituntut, niscaya tidak akan ada alasan dan argumen sehingga terbuka aibnya.11
Penjelasan para mufassir tersebut berdasarkan beberapa hadis. Aisyah ra. berkata: Aku mendengar Nabi saw. berdoa dalam sebagian shalatnya:
اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا فَلَمَّا انْصَرَفَ، قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟ قَالَ: أَنْ يَنْظُرَ فِي كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَة هَلَكَ، وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ، يُكَفِّرُ الله عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَة تَشُوْكُهُ
“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.” Ketika beliau selesai shalat, aku bertanya, “Ya NabiyyalLah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah itu?” Beliau menjawab, “Dia melihat catatan amal hamba-Nya lalu memaafkannya. Sesungguh-nya orang yang dipertanyakan hisabnya pada saat itu wahai ‘Aisyah, pasti celaka. Apa pun yang menimpa seorang Mukmin, Allah menghapus kesalahan darinya (karena musibah itu) meskipun hanya duri yang melukai dirinya.” (HR Ahmad).
Aisyah ra. juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَة فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ
Siapa saja yang dihisab, ia akan diazab.” Aku lalu bertanya, “Bukankah Allah SWT berfirman: Dia akan dihisab dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya itu hanyalah dibeberkan (amalnya, dimaafkan). Namun, siapa saja yang dipertanyakan dalam hisabnya, ia akan celaka.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. juga bersabda:
إِنَّ الله يُدْنِى الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ، وَيَسْتُرُه فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَىْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِى نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ، وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الأَشْهَادُ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبّهِمْ ، أَلاَ لَعْنَة الله عَلَى الظَّالِمِينَ
Sesungguhnya Allah akan mendekatkan orang Mukmin, lalu Dia meletakkan tirai-Nya dan menutupinya, dan bertanya, “Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini?” Orang yang ditanya menjawab, “Ya, wahai Tuhanku.” Ketika ia telah mengakui dosa-dosanya dan merasakan bahwa dirinya akan binasa, Allah berfirman, “Aku telah menutupi dosamu di dunia dan Aku akan mengampuninya pada hari ini.” Lalu ia diberi catatan amal kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka para saksi berkata (di hadapan seluruh manusia), “Merekalah orang-orang yang mendustakan Tuhan mereka.” Ingatlah! Sesungguhnya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim (HR al-Bukhari dan Muslim).
Allah SWT berfirman: wa yanqalibu ilâ ahli masrûr[an] (dan dia akan kembali kepada kaumnya [yang sama-sama beriman] dengan gembira). Setelah hisab yang ringan, dia kembali kepada keluarganya di surga dalam keadaan gembira.
Ada beberapa penjelasan tentang makna al-ahl (keluarga) di sini. Menurut al-Qurthubi, ahlihi (keluarganya) adalah istri-istrinya di surga dari kalangan bidadari.12 Qatadah juga mengatakan bahwa itu adalah keluarganya yang disiapkan Allah bagi dirinya di surga.13
Dikatakan Ibnu Juzyi al-Kalbi, pengertian al-ahl (keluarga) adalah istri-istrinya di surga, baik istrinya semasa di dunia maupun para bidadari.14 Penjelasan senada juga dikemuka-kan Ibnu Athiyah.15
Menurut al-Jazairi, di samping para bidadari dan wanita Mukminah, termasuk pula anak-cucunya yang salih. Mereka semua dikumpulkan oleh Allah SWT karena kemuliaan mereka QS al-Thur [52]: 21.16
Bahkan selain istri, bidadari, keluarga yang Mukmin, menurut Abu Hayyan juga kaum Mukmin. Sebab, mereka semua adalah ahlu îmân.17 Mereka kembali kepada keluarganya di surga dalam keadaan senang dan gembira. Mereka bergembira lantaran selamat dari siksa dan memperoleh kemenangan dan pahala.18

Kitab Amal dan Balasan kepada Pelakunya
Terdapat banyak pelajaran penting yang terkandung dalam ayat ini. Pertama: adanya kitab yang berisi catatan amal manusia selama hidup di dunia. Ini merupakan perkara cabang dari iman kepada Hari Kiamat yang wajib diyakini. Dalam ayat ini terang disebutkan: Faman ûtiya kitâbahu (siapa saja yang diberi kitabnya). Selain ayat ini, adanya kitab yang berisi catatan amal perbuatan manusia disebutkan dalam banyak ayat seperti QS al-Isra’ [17]: 13-14 dan 71, al-Kahfi [18]: 49, al-Jatsiyah [45]: 28, al-Haqqah [69]: 19 dan 25, al-Muthaffifin [83]: 7 dan 18, dan lain-lain.
Dalam al-Quran diberitakan, kadang pencatatan amal itu dinisbahkan kepada Allah SWT, seperti disebutkan dalam QS Ali Imran [3]: 181, Maryam [19]: 79, al-Anbiya [21]: 94, dan Yasin [36]: 21; kadang dinisbahkan kepada malaikat, seperti dalam QS Qaf [50]: 17-18. Di dalam QS al-Infithar [82]: 12 juga disebutkan tentang adanya para malaikat yang mulia yang bertugas sebagai pencatat: kirâm[an] kâtibîn.
Selain itu, banyak hadis yang memberitakan adanya malaikat yang mencatat amal perbuatan manusia. Para malaikat yang ditugaskan untuk mencatat itu mengerjakan tugasnya dengan amanah, amat teliti, dan detail. Sebagaimana diberitakan dalam QS al-Kahfi [18]: 49, semua amal yang telah diperbuat manusia tercatat di situ, baik yang besar maupun yang kecil. Tidak ada yang ditinggalkan (Lihat: QS al-Qamar [54]: 52-53)
Kedua: kitab yang berisi catatan amal tersebut akan diserahkan kepada manusia pada Hari Kiamat. Di dalam ayat ini diberitakan bahwa pemberian kitab tersebut setelah peristiwa terbelahnya langit dan diratakan serta diluaskan bumi. Dengan kata lain, peristiwa itu terjadi pada Hari Kiamat. Selain ayat ini, juga diberitakan dalam ayat lain (Lihat, misalnya: QS az-Zumar [39]: 69).
Ketiga: cara penyerahan kitab catatan amal itu menjadi pertanda nasib penerimanya. Firman Allah SWT: fasawfa yuhâsabu hisâb[an] yasîr[an] jelas menunjukkan kesimpulan tersebut.Orang yang diberi kitab catatan amal dari sebelah kanan akan dihisab dengan hisab yang ringan lagi mudah. Sebagaimana telah dipaparkan, hisâb yasîr adalah hisab yang mudah lagi ringan, tidak diperiksa dan dipertanyakan secara mendetail, namun hanya diperlihatkan semua catatan amalnya, kemudian dosa-dosanya dimaafkan dan kebaikannya diterima. Menurut Ibnu Zaid, keadaan mereka itu sebagaimana diberitakan Allah SWT dalam ayat QS al-Ahqaf [46]: 16).
Setelah mendapatkan kemudahan dalam hisab, mereka kemudian dimasukkan ke dalam surga; dipertemukan dengan keluarganya di surga. Dalam ayat ini disebutkan: Wa yanqalibu ilâ ahlihi masrûr[an]. Seperti yang diterangkan para mufassir, keluarga yang dimaksud bisa para bidadari yang disediakan Allah SWT di surga, bisa pula istri mereka di dunia yang nasibnya sama-sama masuk surga, dan juga sesama orang-orang Mukmin.
Mengenai berbahagianya orang yang diberi catatan amal di Hari Kiamat, juga diberitakan dalam QS al-Haqqah [69]: 19-24. Mereka diberitakan berada dalam kehidupan yang diridhai di dalam surga yang tinggi. Di sana terdapat buah-buahan, dan dipersilakan makan dengan nikmat.
Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang diberikan catatan amal dari sebelah kanan.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

 [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

Catatan Kaki:
1         Al-Biqa’i, Nazhm ad-Durar, vol. 21, 341.
2         Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mshriyyah, 1964), 271; asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 493; al-Qinuji, Fat-h al-Bayân, vol. 15 (Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 1992), 146; Ibnu Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 457; as-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 3 (Beirut:   tp.,tt.), 560.
3         Al-Biqa’i, Nazhm ad-Durar, vol. 21 (Kairo: Dar al-Kitab al-Islami, tt.), 341.
4         Lihat: Ash-Shabuni, Shafwat ath-Tafâsîr, vol. 3 (Kairo: Dar ash-Shabuni, 1997), 511.
5         Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 (Beirut: Dar Ihya‘ at-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 98.
6         Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol.
7         Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân, vol. 8 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 356.
8         Al-Qinuji, Fat-h al-Bayân, vol. 15, 146
9         An-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâiq at-Ta‘wîl, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kalim ath-Thayyib, 1998), 620; al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr at-Ta‘wîl, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya‘ at-Turats al-‘Arabi, 1998), 297; asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 493; as-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 3, 560.
10        Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 313.
11        Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 98; al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl, vol. 4, 408.
12        Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 272.
13        Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 272.
14        Ibnu Juzyi al-Kalbi, At-Tasyhîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Arqam bin al-Arqam, 1996), 465.
15        Ibnu Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 457.
16        Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-‘Ulum al-Hikam, 2003), 54. Ini juga dikemukakan ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 98.
17        Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth, vol. 10 (Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H), 437.
18        As-Sa’di, Taysîr al-Karîm ar-Rahmân (tt: Muassasah al-Risalah,2000), 917.
Nafais Tsamarat: Kelezatan Bagi Ahli Ibadah

Nafais Tsamarat: Kelezatan Bagi Ahli Ibadah

 
Kelezatan bagi ahli ibadah adalah bermunajat. Kelezatan bagi ulama’ adalah berpikir. Kelezatan orang dermawan adalah berbuat baik (dengan memberi). Kelezatan bagi orang yang berbuat baik adalah tetap dalam hidayah-Nya.. Begitulah kehidupan telah mengajariku (Mushtafa as-Shiba’i, Maktab I’lami, 22 Muharram 1433)[] LTS DPP HTI
Meraih Cinta Ilahi

Meraih Cinta Ilahi


Muslim manapun tentu amat berharap dapat meraih cinta suci Allah Rabbul ‘Izzati. Masalahnya, tak setiap Muslim benar-benar mewujudkan harapannya itu dengan sungguh-sungguh meraih cinta-Nya yang sejati. Sering harapannya itu hanya terbersit di lubuk hati dan sekadar terucap di ujung lisan, tidak sampai termanifestasikan dalam perbuatan. Padahal meraih cinta—apalagi cinta suci Ilahi—tentu mengandung konsekuensi dan butuh pembuktian, bukan sekadar klaim dan angan-angan. Lalu apa konsekuensi dan pembuktiannya?
Allah SWT sendiri menjawab pertanyaan ini dengan berfirman (yang artinya): Katakanlah (Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Dia akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (TQS Ali Imran [3]: 31).
Ayat ini turun saat orang-orang Yahudi mengklaim di hadapan Baginda Nabi SAW, “Kami adalah anak-anak Allah dan para kekasih-Nya.”
Manakala mereka mengklaim demikian, Allah SWT menyuruh kekasihnya, Baginda Rasulullah, untuk menyatakan kepada mereka, “Kalau memang begitu, ikutilah aku.”
Sebagai ‘imbalannya’, Allah SWT pun akan mencintaihamba yang mencintai Dia, sekaligus mengampuni dosa-dosanya (Lihat: Muhammad ‘Alan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li ath-Thuruq Riyadh ash-Shalihin, II/213).
Dengan demikian, cinta sejati Allah Yang Mahasuci akan kita raih semata-mata jika kita mengikuti Baginda Nabi SAW. Lalu apa di antara tanda bahwa Allah SWT mencintaihamba-Nya? Dalam hal ini Allah SWT berfirman (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian murtad dari agama Allah, Allah pasti akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai Dia; mereka bersikap lembut kepada kaum Mukmin dankeras terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah; mereka tidak takut terhadap celaan para pencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas dan Mahatahu (TQS al-Maidah [5]: 54).
Ayat ini menghubungkan realitas orang-orang yang Allah cintai itu dengan orang-orang yang senantiasa bersikap lembut kepada kaum Mukmin, keras terhadap kaum kafir, berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan para pencela.
Selain itu, di antara tanda bahwa Allah mencintai hamba-Nya tersurat dalam sebuah hadits qudsipenuturan Abu Hurairah ra. Disebutkan bahwa Baginda Nabi SAWpernah bersabda, “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka ketahuilah bahwa Aku telah memaklumkanperang terhadap dia. Tidaklah seorang hamba ber-taqarrub kepada Diri-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada perkara yang telah Aku wajibkan kepada dirinya. Seorang hamba terus-menerus bertaqarrub kepada Diri-Ku dengan amalan-amalan nafilah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku mencintai dia, Aku menjadi pendengarannya yang dengan itu dia mendengar; menjadi penglihatannya yang dengan itu dia melihat; menjadi tangannya yang dengan itu dia meraba; menjadi kakinya yang dengan itu dia berjalan. Jika dia meminta kepada Diri-Ku, Aku pasti mengambulkan permintaannya. Jika dia meminta perlindungan-Ku, Aku pun pasti melindungi dirinya.” (HR al-Bukhari).
Dari hadits qudsi ini dapat dipahami bahwa cinta Allah SWT kepada hamba-Nya memiliki sejumlah tanda. Pertama: Allah SWT senantiasa menjaga pendengarannya dari hal-hal yang haram untuk didengar, seperti ghibah (menggunjingkan aib orang lain) dan namimah (mengadu-domba) dan yang semisalnya. Kedua: Allah SWT senantia menjaga pandangannya dari perkara-perkara yang haram untuk dipandang (misal: pornografi dan pornoaksi, pen.). Ketiga: Allah SWT senantiasa menjaga tangannya dari menyentuh hal-hal yang haram (misal: menggandeng atau merangkul wanita asing [ajnabi], pen.). Keempat: Allah SWT senantiasa menjaga langkahnya sehingga tidak melangkah ke tempat-tempat yang diharamkan. Dengan demikian, Allah SWT senantiasa mememelihara dirinya dan anggota tubuhnya hingga terlepas dari syahwat dan sebaliknya tenggelam dalam ketaatan. Dengan itu, pendengaran, pandangan, tangan dan langkahnya tidak digunakan kecuali yang memang sesuai dengan tuntunan syariah.Kelima: Allah SWT mengabulkan permohonannya saat ia memohon kepada-Nya. Kelima: Allah SWT melindungi dirinya saat ia memohon perlindungan-Nya (Muhammad ‘Alan ash-Shiddiqi, Ibid., II/215).
Terkait dengan orang-orang yang Allah cintaiini, Baginda Nabi SAWjuga bersabda, “Jika Allah SWT mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, ‘Sesungguhnya Allah SWT mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintai dia. Jibril lalu menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah oleh kalian dia.’ Penduduk langit pun mencintai dia. Kemudian ia pun diterima dan dicintai penduduk bumi.” (Mutaffaq ‘alih).Semoga kita dapat meraih cinta sejati, cinta AllahRabbul ‘Izzati. Wa ma tawfiqi illa bilLah.[]abi/hti/voa-khilafah.co.cc
Saat Kau Merasa Sangat Begitu Lelah...

Saat Kau Merasa Sangat Begitu Lelah...


Voa-Khilafah.co.cc - Saat ragamu lelah, maka bersyukurlah bahwa sehari ini kau telah berbuat banyak untuk dirimu dan keluargamu. Kau membahagiakan mereka, kau  menenangkan mereka dengan hasil jerih payahmu yang melelahkan. Kau damaikan mereka karena tercukupinya kebutuhan mereka. Lihatlah betapa kehadiranmu memang memang pantas untuk di syukuri oleh sekitarmu, maka bersyukurlah atas karunia dari Allah itu, yang menjadikanmu pantas untuk menjadi yang di banggakan. 

Saat lidahmu lelah, maka diamlah. Mungkin dia terlalu capek atas huruf- huruf dusta yang terpaksa dilakoninya atas perintah kepentingan dan nafsumu. Atau mungkin dia terlalu bosan dengan kata- kata bijak penuh kebaikan yang kau keluarkan, namun ternyata tidak selaras dengan kenyataan yang kau wujudkan. Atau dia terlalu rindu dengan kalimat- kalimat mulia yang menjadikan lidahmu sendiri itu sebagai pembelamu, saat nanti kalian berada dipengadilan Allah. 

Saat matamu lelah, maka pejamkan dan istirahatkanlah dia. Rasakanlah betapa kekhasan dari sebuah nikmat itu memang tengah menaungimu lewat indahnya memiliki sebuah pandangan. Maka jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus menjadi salah satu donatur dosa yang justru menggiringmu ke neraka. Dan jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus kau paksa untuk tetap terjaga, mengikuti ambisimu dalam menggenggam dunia. Sadarilah kerinduannya akan sebuah keteduhan yang begitu di dambanya sebagai salah satu cabang dari cerminan hatimu. Penuhilah keinginannya untuk lebih ringan dalam memandang sebuah bentuk dari egomu.

Saat kakimu lelah, maka nyamankan dia. Nyamankan dengan berhenti untuk tetap berdiri dalam sebuah kemaksiatan. Bahkan kakipun juga adalah prajurit dari sebuah hatimu sendiri. Dia juga merupakan karunia nikmat dari Allah, tapi juga bisa menjadi korban dari nafsumu jika kau tak baik- baik  dalam menjaganya. Istirahatkan dia dari langkah yang terus-menerus demi memenuhi hasrat pikiran dan kamuan ambisimu.  

Saat hatimu lelah... mungkin kepentingan duniawimu sudah terlalu menyesakkan dada, sedang naluri ruhiyahmu sudah terlalu lapar dan meminta disegerakan atas pemenuhan haknya. Maka berhentilah sebentar, dan berilah jeda waktu untuknya. Biarkan manusiawi sebuah hatimu itu bertemu dengan yang menciptakannya. Biarkan rongga kosong itu terpenuhi oleh kebutuhan akan kedekatan dengan tuhannya. Biarkan dia belajar untuk menginsyafkan kembali prajurit indrawinya yang mungkin masih masih bandel untuk berada dalam kebaikan. Biarkan sebentar dia menjadi penyaring untuk membedakan yang benar dan salah. Dan biarkan lebih lama, dia menuntunmu untuk menyegarkan dan menyemangatimu kembali, sehingga keluhan dan kelelahanmu bisa diselesaikan olehnya. 


Saat kau telah begitu lelah... beristigfarlah atas apa yang telah membuatmu seperti itu dan kemudian istirahatkan kelelahanmu, selanjutnya serahkan urusanmu kepada yang Maha terjaga, Allah Subhanahu Wata'la.


(Syahidah/Voa-islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Kunci-kunci Surga


Voa-Khilafah.co.cc - Setiap Muslim, siapapun dia, tentu berharap masuk surga. Bahkan surga adalah puncak harapan setiap Muslim. Baik Muslim yang taat ataupun yang suka maksiat, yang adil ataupun yang fasik, yang lurus ataupun yang menyimpang, yang tunduk pada syariah ataupun yang menentang, yang pasrah kepada Allah SWT ataupun yang membantah, yang memperjuangkan syariah ataupun yang menghalangi tegaknya syariah; semuanya pasti ingin masuk surga; tak ada yang tidak menginginkan surga. Begitulah yang tampak di permukaan.
Namun, apa yang dinyatakan oleh baginda Rasulullah SAW ternyata berbeda dengan realitas atau klaim di atas. Pasalnya, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap orang dari umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya heran, “Siapa yang enggan masuk surga, wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Mereka yang menaati aku akan masuk surga, sedangkan yang menentang aku berarti mereka enggan masuk surga.” (HR al-Bukhari, Ahmad dan an-Nasa’i).
Karena itu, bagi seorang Muslim yang menaati Rasulullah SAW, surga tentu sedang menanti dirinya untuk dimasuki. Hanya saja, surga memiliki sejumlah pintu, dan pintu-pintu surga (bab al-jannah) memiliki kuncinya masing-masing (miftah al-jannah). Lalu apa kunci-kunci surga itu?
Ada banyak kunci surga sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh baginda Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya. Tiga di antaranya adalah: ucapan La Ilaha illaLlah(kalimat at-tahlil); menegakkan shalat; mencintai orang miskin (hubb al-masakin).
Pertama: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah La ilaha illLlah (Kunci surga adalah Tiada Tuhan kecuali Allah).” (HR al-Bukhari). Di sini tentu yang dimaksud bukanlah sekadar mengucapkan kalimat tahlil di atas, tetapi memaknainya dengan cara merefleksikannya dalam kehidupan. Konsekuensi dari kalimat tahlil adalah: tunduk dan patuh hanya kepada Allah serta tidak membuat aturan sendiri selain aturan yang telah Allah tetapkan. Saat seorang Muslim enggan tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan cara tunduk dan patuh pada seluruh syariah-Nya, pada hakikatnya ia mengingkari kalimat tahlil di atas. Apalagi saat seorang Muslim malah membuat aturan sendiri yang berbeda bahkan bertentangan dengan aturan Allah SWT, yakni aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Pada saat demikian, dia bukan saja mengingkari kalimat tahlil di atas, tetapi bahkan telah menyejajarkan dirinya dengan-malah menempatkan dirinya di atas-Allah  SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 31). Padahal Allah SWT telah menegaskan (yang artinya): Sesungguhnya hak membuat hukum itu (yakni menentukan halal-haram, pen.) adalah milik Allah semata (TQS al-An’am [6]: 57).
Kedua: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah ash-shalat (Kunci surga adalah shalat).” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Baihaqi). Menegakkan shalat adalah ibadah pokok dan utama sekaligus wujud penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Tanpa menegakkan shalat, klaim seorang Muslim dalam kalimat La ilaha illalLah tentu layak dipertanyakan. Yang pasti, tanpa shalat, seorang Muslim berarti telah kehilangan salah satu kunci surga.
Ketiga: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah hub al-masakin (Kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin).” (Ats-Tsa’labi, Tafsir ats-Tsa’labi, IV/184).
Refleksi kalimat tahlil dalam kehidupan dan aktivitas shalat adalah cerminan dari hubungan manusia dengan Allah SWT (habl[un] minalLah). Adapun mencintai orang-orang miskin merupakan cerminan dari hubungan manusia dengan manusia lain (habl[un] min an-nas).
Sebagian ulama menambahkan, bahwa di antara kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu. Imam al-Qurthubi, misalnya, mengutip Sahal, menyatakan “Miftah al-jannah tark al-hawa’ (Kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu).” (Al-Qurthubi, IX/208). Hawa nafsu adalah segala ucapan atau tindakan yang bertentangan dengan wahyu. Artinya, hawa nafsu adalah lawan dari wahyu. Ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya):Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapan Rasul itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 3-4).
Jika ditelaah, meninggalkan hawa nafsu-tentu seraya mengikuti wahyu-hanyalah konsekuensi belaka dari kalimat tahlil di atas.
Itulah di antara kunci-kunci surga yang diisyaratkan oleh baginda Rasulullah SAW.
Sebaliknya, baginda Rasullah SAW pun menginformasikan kepada kita sejumlah penghalang yang bisa menghalangi kita masuk surga. Beliau, misalnya, bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya terdapat sedikit saja sikap sombong." (HR Muslim)
Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi (HR al-Bukhari).”
Beliau pun bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba (HR Muslim).”
Masih ada hadits-hadits senada. Pada akhirnya, semoga kita bisa mendapatkan kunci-kunci surga di atas, dan sebaliknya kita bisa menyingkirkan segala faktor penghalang yang bisa menghalangi kita masuk ke dalam surga-Nya. Amin. [hti/voa-khilafah.co.cc] abi

Benteng Umat


Voa-Khilafah.co.cc - Ramadhan telah berlalu. Di tengah kekhusyukan Ramadhan tahun ini umat Islam disuguhi pemandangan yang menyakitkan.  Ramadhan yang mestinya menjadi momentum penyatuan umat Islam tidak terjadi.  Sebut saja Somalia. Di  negeri Muslim Somalia tengah terjadi kelaparan.  PBB melaporkan 3,7 juta orang (separuh penduduk) di negara  yang berpenduduk 9,3 juta dengan mayoritas Muslim ini dilanda kelaparan.
Tanggapan dari pemerintahan Muslim yang kaya hampir tak berarti. Penguasa Muslim yang menjadi boneka Barat tidak begitu peduli. Mereka lebih memilih membelanjakan harta hasil korupsinya untuk perkara yang tidak penting. Qatar, misalnya, membelanjakan  $430 juta untuk membeli suatu hasil karya seni AS.  Padahal uang sejumlah itu dapat digunakan untuk memberi makan 4,3 juta orang, tiga kali makan sehari, selama satu bulan penuh (sekali makan perorang Rp 10.000).  Sungguh memilukan.
Saat anak-anak binasa karena kekurangan gizi, para penguasa Muslim sibuk membeli bank-bank AS yang bangkrut, membeli vila indah atau klub sepakbola Eropa. Sekadar contoh: Syeikh Mansour membeli Manchester City dengan harga Rp 2,8 triliun, Sulaiman Al-Fahim mengakuisi Portsmout Rp 986,7 milliar, Pangeran Faisal bin Fahd bin Abdullah dari Saudi berniat membeli Liverpool dengan kisaran harga Rp 5,15 triliun!  Padahal saat bulan Ramadhan, al-Quran dibaca sampai khatam.  Apa yang ada di dada kita saat membaca ayat (yang artinya): Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin(TQS al-Ma’un [107]: 1-3).
Apakah kelaparan yang dirasakan saudara kita di Somalia tidak kita rasakan di sini?  Terbayangkah oleh kita rintihan mereka di sana ketika kita sedang makan ketupat dengan lauk-pauknya yang serba mewah?  Bukankah Muslim itu saudara Muslim lainnya?  Bayangkan, bila umat Islam ini punya khalifah sebagai pemimpin; mereka pasti akan ada yang memperhatikan.
Di tengah kesungguhan kita menjaring Lailatul Qadar, di Amerika Serikat (AS) telah diterbitkan sebuah buku berjudul: We Shall not Forget 9/11, The Kids’ Book of Freedom (Kami Tidak Akan Pernah Lupa 9/11-Buku Bebas untuk Anak-anak), yang ditulis oleh Wayne Bell.  Di antara tulisannya berbunyi, “Hai, anak-anakku, yang benar adalah, bahwa inilah tindakan teroris yang dilakukan oleh para ekstremis Islam yang benci akan kebebasan…Mereka adalah orang-orang gila yang membenci cara hidup Amerika, sebab kami orang-orang yang merdeka dan masyarakat kami hidup bebas.”
Padahal hingga sekarang pengadilan tentang hal tersebut belum pernah digelar. Justru banyak peneliti independen dari AS sendiri menyatakan bahwa pelaku peledakan WTC itu adalah AS sendiri.  Buku ini sungguh telah melukai perasaan kaum Muslim. Penulisnya dengan sengaja mengobarkan kebencian terhadap Islam.  Umat Islam pun tidak bereaksi apa-apa.  Diam.  Padahal al-Quran menegaskan (yang artinya): Mereka mengharapkan kehancuran kalian.  Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat (QS Ali ‘Imran [3]: 118).
Di Libya, Qaddafi dengan dukungan Barat, membunuhi rakyatnya sendiri.  Namun, rakyat terus berjuang. Di antaranya Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang bahkan melakukan perlawanan terhadap kezaliman Qaddafi sejak hari pertama rezim itu berkuasa. Bahkan Hizbut Tahrir telah mempersembahkan sejumlah syuhada dalam menentang kezaliman Gaddafi dan rezimnya itu. Setelah rezim tiran Qaddafi jatuh, negara-negara imperialis mulai bersaing untuk mengeksploitasi minyak Libya. Lagi-lagi, negeri Muslim menjadi rebutan negara penjajah.  Mengapa?  Sebab, umat Islam tidak memiliki khalifah sebagai benteng yang menjaganya.
Begitu juga di Suriah.  Sejumlah ulama senior dan intelektual mengutuk serangan berulang oleh rezim Suriah terhadap rumah-rumah Allah, para ulama dan setiap tempat suci, pada bulan Ramadhan. Penyerangan terbaru dilakukan terhadap ulama senior Suriah, Syaikh Usamah ar-Rifa’i.  Sejumlah unjuk rasa antipemerintah dilaporkan terjadi di berbagai tempat di Suriah setelah salat Idul Fitri hari Selasa (30/8).  Ribuan orang turun ke jalan-jalan termasuk di Ibukota Damaskus.  Namun, pasukan keamanan justru melakukan penembakan yang menewaskan paling tidak tujuh orang.  Penguasa Muslim lain membisu terhadap realita ini.  Padahal bukankah mereka membaca hadis Rasulullah saw.: “Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya laksana satu bangunan yang saling menopang satu sama lain (Beliau mengeratkan jari-jemari beliau satu sama lain).” (HR al-Bukhari).
Lagi-lagi nyawa umat Islam tertumpah murah.  Kita sungguh butuh khalifah yang menjaga kehormatan darah umat Muhammad ini.
Di Indonesia, perbedaan hari Idul Fitri juga mengherankan.  Hanya karena suara terbanyak menghendaki lebaran pada hari Rabu (31/8/2011), kesaksian terlihatnya hilal di beberapa tempat oleh sejumlah orang terpercaya dan telah disumpah, justru ditolak.  Padahal dengan merujuk pada qawl dan fi’l Rasulullah saw. jumhur ulama menyatakan bahwa kesaksian rukyat hilal awal dan akhir Ramadhan dapat diterima dari seorang saksi Muslim yang adil.  Suara mayoritas dan perkataan ahli astronomi mengalahkan hukum syariah.  Akhirnya, banyak orang  berbuka pada hari selasa, sekalipun shalat Id ikut hari Rabu.  Padahal laporan dari beberapa negara lain pun, termasuk Makkah dan Madinah, hilal telah terlihat malam selasa.  Belum lagi muncul rumor bahwa Saudi meralat keputusan Idul Fitri pada Selasa (30/8/2011).  Hal ini langsung dibantah oleh pihak Saudi.  Memang, ada pihak yang tidak menghendaki persatuan kaum Muslim sedunia.  Tidak berlebihan bila Dr. Ali Jum’ah, Mufti Agung Mesir, menjelaskan bahwa entitas Zionis berada di belakang rumor ketidakabsahan hilal Syawal, yang dibesar-besarkan oleh media baru-baru ini. Jum’ah mengatakan, “Dunia Islam sangat menginginkan persatuan, bahkan ingin merayakan Idul Fitri yang berkah ini secara serempak di hari yang sama.”
Wajar saja hal ini terjadi, sebab umat Islam tidak memiliki khalifah sebagai pemersatu dan benteng umat.
Berkaitan dengan hal ini kita patut merenungkan sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya imam/khalifah itu adalah benteng.“  (HR Muslim dalam kitab Shahih Muslim, VI/17).
Imam as-Suyuthi memaknai hadis ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya imam/khalifah itu adalah benteng, maksudnya laksana perisai.  Sebab, ia mencegah musuh menyakiti kaum Muslim dan mencegah manusia menyakiti satu sama lain; juga menjaga Islam serta melindungi masyarakat dari kaum kafir dan pembangkang Islam.” [hti/voa-khilafah.co.cc]


Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL