Tampilkan postingan dengan label UMMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMMAH. Tampilkan semua postingan

Haji Revolusioner Dibutuhkan Umat

Voa-Khilafah.co.cc - Dalam konteks sekarang, jiwa yang revolusiner itu idealnya tak mesti bergeser. Dalam studinya, orientalis Belanda Snouck Hurgronje memandang individu-individu yang dihasilkan dari haji, kelak bakal menjadi ancaman dan bencana besar bagi keberlangsungan imperialisme Belanda atas Indonesia. Kekhawatiran itu terasa, karena haji dianggap dapat membentuk jiwa yang revolusiner.

Sir Thomas Standford Raffles, dalam bukunya yang terkenal, History of Java, menulis: “Setiap orang Arab dari Makkah, begitu pula orang Jawa, yang kembali menunaikan ibadah haji di sana, diterima sebagai orang suci di Jawa, dan sikap cepat percaya dari kalangan orang awam sudah sedemikian rupa sehingga mereka sangat sering menghubungkan berbagai kekuatan dialami kepada pribadi-pribadi yang demikian. Sehingga tidak sulit bagi mereka membangkitkan negeri untuk memberontak.

Selanjutnya, Raffles menambahkan, “Para ulama Muhammedan hampir tanpa terkecuali ditemukan paling aktif dalam pemberontakan. Banyak dari mereka, umumnya keturunan campuran Arab dan orang pribumi, pindah dari satu negeri ke negeri lain di pulau-pulai bagian timur dan umumnya karena intrik-intrik dan desakan merekalah para pemimpin pribumi tersebut untuk menyerang atau membunuh orang-orang Eropa, sebagai orang kafir dan pengacau.”

Catatan Raffles itu menunjukkan betapa ia amat takut dengan orang yang bertitel haji, yakni orang yang telah digembleng di Makkah, memiliki kharisma, memiliki inspirasi (akibat interaksi dengan berbagai bangsa Muslim) untuk memberontak. Dalam perspektif Raffles yang kolonialis, orang-orang seperti itu harus diwaspadai, sebab mereka potensial menyebarkan benih-benih pemberontakan melawan kolonialisme. Catatan Raffles ini dibuat tatkala Inggris mempunyai kekuasaan penuh atas HIndia Timur 1811-1816.

Ketakutan Raffles menyebabkan ia menyetujui kebijakan politik yang melarang putra-putra Bupati yang sudah menunaikan ibadah haji di Mekkah, untuk menduduki jabatan administratif. Disini tampak, Raffles paham bahwa pengaruh internasionalisme haji, mampu merobohkan rencana-rencana kolonialisme Barat, yang saat itu tengah tumbuh dan menguasai di hampir seluruh dunia Timur.

Setelah menyelesaikan tugasnya di Jawa dan pindah ke Sumatera Barat, Raffles segera memihak golongan adat dalam konflik antara mereka dengan para ulama – yang disebutnya sebagai kaum padri, sebutan ulama yang kerap mengenakan jubah putih panjang dalam kesehariannya.

Bukan hanya Raffles yang menganggap haji sebagai bentuk revolusioner, melainkan juga Snouk Hurgonje yang ahli dalam mengamati perilaku orang Islam, terutama haji. Bahkan ia pernah menyatakan “masuk Islam” dan berhaji, kendati Snouck punya maksud-maksud tersembunyi dibalik perhatiannya terhadap Islam.

Snouck Hurgronje mengakui, ibadah haji dapat membangkitkan sikap kritis dan revolusiner terhadap penjajah. Itu karena jamaah haji telah berinteraksi dengan bangsa-bangsa Muslim lain yang saat itu nyaris semua jajahan Barat. Dari hasil interaksi itu, mereka mendengar adanya gerakan Pan Islamisme, sebuah gerakan yang bertujuan untuk menuju kemerdekaan Negara-negara Muslim, terbebaskan dari belenggu kolonialisme Barat. Gerakan yang bersifat internasional inilah yang paling ditakuti Raffles, orientalis Hurgronje dan penguasa Barat lainnya.

Hasil dari Mukim
Sejarah mencatat, tak sedikit orang Indonesia yang telah tinggal bertahun-tahun untuk menetap (mukim) di tanah suci Makah. Diantara semua bangsa yang berada di Makkah, orang “Jawah” (Asia Tenggara) merupakan salah satu kelompok terbesar dari jamaah haji. Selain karena syariat bagi yang mampu, perjalanan haji menjadi kawah candradimuka para raja Jawa dan ulama Nusantara untuk untuk mencari ilmu dan legitimasi politik. Bahkan sejak tahun 1860, bahasa Melayu merupakan bahasa kedua di Makkah setelah bahasa Arab.

Tak sedikit dari mereka yang memperdalam ilmu-ilmu Islam, baik fiqih, tasawuf, tarekat, metafisika hingga “ilmu ghaib” di Makkah maupun Madinah. Termasuk faham wahdat al-wujud. Walaupun Islam di Indonesia pada abad ke-17 diwarnai oleh pengaruh India, namun kedua kota suci itu (Makkah dan Madinah) tetap berpengaruh bagi mereka. Sebut saja Syeikh Yusuf Makassar yang ke Tanah Suci pada tahun 1644 dan baru kembali ke Indonesia sekitar tahun 1670.

Ketika kompeni Belanda campur tangan dalam urusan internal Banten dan membantu putra Sultan Ageng (Sultan Haji) untuk menyingkirkan ayahnya, lalu Yusuf Makassar membawa pengikutnya ke gunung dan memimpin perang gerilya melawan Belanda selama dua tahun, sampai ia ditangkap dan dibuang ke Selon (Sri Langka).

Ulama lain yang juga lama menetap dan memperdalam ilmu-ilmu agama (Islam) di Makkah dan Madinah adalah ‘Abd al Rauf Singkel, yang kemudian mencapai kedudukan tinggi di Aceh. Seperti diketahui, ‘Abd al Rauf Singkel dikenal sebagai pembawa tarekat Syattariyah ke Indonesia. Beliau pula yang menerjemahkan dan menyunting tafsir Jalalain dalam bahasa Melayu.

Pada masanya, Ibrahim al-Kurani (Guru Yusuf Makassar) adalah ulama besar di Madinah, dan murid-muridnya datang dari seluruh dunia. Melalui muridnya, ia mempengaruhi gerakan reformis pada abad ke-18 di berbagai Negara. Pada tahun 1722, ‘Abd al Samad al Falimbani, seorang ulama kelahiran Pelembang yang menetap di Makkah menulis surat kepada Sultan Hamengkubuwono I dan Susuhunan Prabu Jaka. Isinya, sebuah seruan untuk berjihad melawan penjajah Belanda.

Snouck Hurgronje mencatat bagaimana orang dari seluruh Nusantara ikut membicarakan perlawanan Aceh tehadap Belanda, dan bagaimana mata mereka dibuka mengenai penjajahan Belanda, Inggris, dan Perancis atas bangsa-bangsa Islam. Ketika itu para haji hidup beberapa bulan dalam suasana anti kolonial. (Desastian/Voa-Islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Khutbah Idul Adha 1432 H: Ibadah Haji; Persatuan Umat dan Urgensi Daulah Khilafah

Subhanallah ! Inilah Megahnya Mekkah Saat Khilafah Masih Berdiri, di Tahun 1885


Ibadah Haji: Persatuan Umat dan Urgensi Daulah Khilafah
Assalamualaikum wr. wb.
ุงَู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ x 9 ุง َู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูˆَ ِู„ู„ู‡ِ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ
ุฅู†َّ ุงู„ุญَْู…ْุฏَ ู„ู„ู‡ِ ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠْู†ُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ُ، ูˆَู†َุนُูˆْุฐُ ุจุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆْุฑِ ุฃู†ْูُุณِู†َุง ูˆَู…ِู†ْ ุณَูŠِّุฆَุงุชِ ุฃุนْู…َุงู„ِู†َุง، ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِู‡ِ ุงู„ู„ู‡ُ ูَู„ุงَ ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ، ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„ุงَ ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡ُ.
ูˆุฃَุดْู‡َุฏَ ุฃَู†َّ ู„ุงَ ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ ูˆَ ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ.
ูˆَุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูˆَุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِ ุงู„ْู…ُุฑْุณَู„ِูŠْู†َ، ูˆَุฅِู…َุงู…ِ ุงู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠْู†َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุฃَุตْุญَุงุจِู‡ِ ุงู„ุทَّูŠِّุจِูŠْู†َ ุงู„ุทَّุงู‡ِุฑِูŠْู†َ،
ูˆَ ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ : ูŠَุขูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุฅู†َّุง ุฎَู„ู‚ْู†َุงูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ุฐَูƒَุฑٍ ูˆَุฃُู†ْุซู‰ ูˆَุฌَุนَู„ْู†َุงูƒُู…ْ ุดُุนُูˆْุจًุง ูˆَู‚َุจَุงุฆِู„َ ู„ِุชَุนَุงุฑَูُูˆْุง ِ
ุฃู…َّุง ุจَุนْุฏُ
ูَูŠَุง ุฃูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุฃُูˆْุตِูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฅูŠَّุงูŠَ ุจِุชَู‚ْูˆู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูَุงุชَّู‚ُูˆْุง ุงู„ู„ู‡َ ุญَู‚َّ ุชُู‚َุงุชِู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุชَู…ُูˆْุชُู†َّ ุฅู„ุงَّ ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆْู†َ
ุงَู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ… ุงَู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ… ุงَู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูˆَ ِู„ู„ู‡ِ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Alhamdulillah, hari ini kita merayakan Hari Raya Idul Adha yang penuh dengan kegembiraan. Kata id itu sendiri memang menunjukkan makna kegembiraan, karena berasal dari kata ‘audkembali atau berulang. Jadi, setiap id artinya ialah ya’udu as-surur, yakni kembali atau berulangnya kegembiraan. (Imam Syaukani, Nayl al-Authar, hlm. 680). yang artinya Kegembiraan seperti ini pula kiranya yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tengah melaksanakan serangkaian manasik haji di Tanah Suci.

Namun demikian, kegembiraan kita ini hendaknya jangan sampai berlebihan atau melampaui batas, sehingga kita melupakan nasib saudara-saudara kita umat Islam di seluruh dunia, yang sampai detik ini masih terpuruk di segala bidang. Keterpurukan ini adalah akibat dominasi Kapitalisme global pimpinan Amerika Serikat, sang pemimpin kafir penjajah, beserta antek-antek mereka. Keterpurukan ini juga akibat tiadanya pelindung hakiki bagi umat Islam, yaitu Imam atau Khalifah. Betapa benar sabda Rasulullah saw.:
ุฅู†َّู…َุง ุงْู„ุฅู…َุงู…ُ ุฌُู†َّุฉٌ ูŠُู‚ุงุชَู„ُ ู…ู†ْ ูˆَุฑَุงุฆِู‡ِ ูˆَูŠُุชَّู‚ู‰ ุจู‡ِ
Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu bagaikan perisai; tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya (HR Muslim).

Rasa gembira itu hendaknya juga jangan sampai membuat kita gagal menangkap pelajaran (ibrah) yang penting dari ibadah haji; ibadah yang menjadi rukun Islam kelima yang diwajibkan Allah SWT atas kita semua, yang pada hari-hari ini sudah dan sedang dilaksanakan oleh para jamaah haji di Makkah dan sekitarnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Dalam kesempatan yang mulia ini, ada baiknya kita meresapi berbagai pelajaran (ibrah) penting dari ibadah haji itu. Pelajaran ini tak hanya penting untuk mereka yang sedang berhaji, melainkan juga bagi seluruh umat Islam di mana pun berada.

Berbagai pelajaran ibadah haji ini sesungguhnya tercakup dalam apa yang disebut “hikmah haji“, yaitu manfaat-manfaat yang dapat dipersaksikan oleh para jamaah haji, sebagaimana firman Allah SWT:
ู„ِูŠَุดْู‡َุฏُูˆุง ู…َู†َุงูِุนَ ู„َู‡ُู…ْ
agar mereka (jamaah haji) menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS al-Hajj [22] : 28).

Ayat ini menunjukkan, dalam ibadah haji kaum Muslim akan mendapatkan berbagai manfaat yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan (Ali bin Nayif Asy-Syahud, Al-Khulashah fi Ahkam al-Hajj wa al-Umrah, hlm.2).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Di antara pelajaran terpenting dari ibadah haji ini adalah pesan persatuan umat (wahdah al-ummah). Pesan ini tampak jelas sekali. Jamaah haji akan dapat menyaksikan berkumpulnya umat Islam dari seluruh pelosok dunia untuk melakukan ibadah yang sama, zikir yang sama, di tempat yang sama dan dengan busana ihram yang sama; tanpa mempedulikan lagi batasan negara bangsa (nation state), perbedaan suku, warna kulit dan bangsa.

Semua itu semestinya mengingatkan umat Islam akan karakter mereka sebagai umat yang satu (ummat[an] wahidah), sebagaimana pernah ditegaskan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. dalam Piagam Madinah:
ู‡َุฐَุง ูƒِุชَุงุจٌ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุงู„ู†َّุจِูŠِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ู…ِู†ْ ู‚ُุฑَูŠْุดٍ ูˆَูŠَุซْุฑِุจٍ، ูˆَู…َู†ْ ุชَุจِุนَู‡ُู…ْ ูَู„َุญِู‚َ ุจِู‡ِู…ْ، ูˆَุฌَุงู‡َุฏَ ู…َุนَู‡ُู…ْ ุฅِู†َّู‡ُู…ْ ุฃُู…َّุฉٌ ูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ู…ِู†ْ ุฏُูˆْู†ِ ุงู„ู†َّุงุณِ‏.
Ini adalah piagam perjanjian dari Muhammad saw. antara orang-orang Muslim dan Mukmin dari Quraisy dan Yatsrib serta orang-orang yang menyusul mereka, bergabung dengan mereka dan berjihad dengan mereka. Sesungguhnya mereka adalah satu umat (ummat[an] wahidah), berbeda dengan manusia lainnya (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 153; Abul Hasan Ali An-Nadwi, Ma Dza Khasir al-‘Alam bi-[I]nhithath al-Muslimin, hlm. 176).

Perwujudan karakter umat yang satu itu tiada lain karena adanya tali pengikat di antara mereka, yaitu agama Islam, sebagaimana firman Allah SWT:
ูˆَุงุนْุชَุตْู…ُูˆْุง ุจِุญَุจْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุฌَู…ِูŠْุนٌุง ูˆَู„ุง ุชَูَุฑَّู‚ُูˆْุง
Berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (QS Ali Imran [3]: 103).

Berkumpulnya jamaah haji dengan sesama Muslim dari seluruh pelosok dunia akan menyadarkan mereka, bahwa yang mempersatukan umat Islam hanya satu faktor saja, tidak lebih, yaitu agama Allah (Islam). Tak ada faktor pemersatu lainnya; apakah itu suku, warna kulit, bangsa ataupun negara bangsa (nation state).

Faktor suku, warna kulit dan kebangsaan sesungguhnya bukanlah faktor pemersatu. Semua itu tidak layak menjadi faktor pemersatu. Semua itu sekadar qadha‘ yang memang bukan dalam kuasa dan hak pilih seorang anak manusia. Tak ada manusia yang memilih menjadi suku Jawa, atau memilih berkulit hitam, atau memilih menjadi bangsa Indonesia. Semua itu merupakan qadha` yang terkait dengan penciptaan manusia, tanpa ada hak memilih bagi manusia.

Jadi faktor kesukuan, warna kulit dan kebangsaan itu bukanlah pemersatu; juga bukan pula sebagai dasar pembentukan sebuah negara, melainkan qadha` Allah dalam penciptaan yang menjadi sarana untuk saling mengenal. Allah SWT berfirman:
ูŠَุขูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุฅู†َّุง ุฎَู„ู‚ْู†َุงูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ุฐَูƒَุฑٍ ูˆَุฃُู†ْุซู‰ ูˆَุฌَุนَู„ْู†َุงูƒُู…ْ ุดُุนُูˆْุจًุง ูˆَู‚َุจَุงุฆِู„َ ู„ِุชَุนَุงุฑَูُูˆْุง
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal (QS al Hujurat [49]: 13).

Memang, dalam kenyataannya umat Islam itu bermacam-macam, terdiri dari beragam suku-bangsa. Ada bangsa Melayu, bangsa Pakistan, bangsa Mesir, bangsa Afrika, bangsa Arab, dan seterusnya. Namun demikian, walaupun berbeda-beda bangsa, umat Islam tetap satu. Walaupun berbeda-beda bangsa, umat Islam seluruh dunia adalah ibarat satu tubuh, sebagaimana digambarkan dalam sabda Nabi saw.:
ู…َุซَู„ُ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูَِูŠ ุชَูˆุงَุฏِู‡ِู…ْ ูˆَุชَุฑَุงุญُู…ِู‡ِู…ْ ูˆَุชَุนَุงุทُูِู‡ِู…ْ ู…َุซَู„ُ ุงู„ْุฌَุณَุฏِ ุฅِุฐَุง ุงุดْุชَูƒَู‰ ู…ِู†ْู‡ُู… ุนُุถْูˆٌ ุชَุฏَุงุนَู‰ ู„َู‡ُ ุณَุงุฆِุฑُ ุงู„ْุฌَุณَุฏِ ุจِุงู„ุณَّู‡َุฑِ ูˆَุงู„ْุญُู…َู‰
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah lembut adalah laksana satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuh lainnya akan turut tak bisa tidur dan merasa demam (HR Muslim).

Jelaslah, berdasarkan uraian di atas, terdapat pelajaran penting sekali dari ibadah haji, yaitu pesan persatuan umat Islam. Umat Islam dari seluruh pelosok dunia seharusnya menjadi umat yang satu. Mereka diikat oleh faktor pemersatu hakiki berupa tali agama Allah semata, bukan diikat oleh faktor lainnya seperti warna kulit, suku, bangsa, atau negara bangsa.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Persatuan umat Islam dan karakter umat yang satu itulah yang menjadi dasar dari adanya negara yang satu (dawlah wahidah), yaitu satu negara Khilafah untuk umat Islam di seluruh dunia.

Maka dari itu, jika kebangsaan menjadi dasar bagi negara-bangsa, maka bagi umat Islam, karakter umat yang satu menjadi dasar bagi negara Khilafah yang satu. Tidak boleh ada lebih dari satu negara Khilafah di seluruh dunia. Khilafah yang satu itu sajalah yang akan menaungi seluruh umat Islam seluruh dunia, mulai dari Maroko hingga Merauke, dalam satu negara. Dasarnya adalah sabda Nabi Muhammad saw.:
ุฅِุฐَุง ุจُูˆْูŠِุนَ ู„ِุฎَู„ِูŠْูَุชَูŠْู†ِ ูَุงู‚ْุชُู„ُูˆْุง ุงู„ุขุฎِุฑَ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง
Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim).

Berdasarkan dalil-dalil seperti itulah, para ulama mazhab yang empat dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali sepakat untuk melarang adanya dua orang khalifah di seluruh dunia pada waktu yang sama. Syaikh Abdurrahman Al-Jazairi dalam kitabnya, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib al-Arba’ah (Fiqih Menurut Empat Mazhab), menegaskan:
ูˆَุนَู„َู‰ ุฃَู†َّู‡ُ ู„ุงَ ูŠَุฌُูˆْุฒُ ุฃَู†ْ ูŠَูƒُูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูِูŠ ูˆَู‚ْุชٍ ูˆَุงุญِุฏٍ ูِูŠ ุฌَู…ِูŠْุนِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฅِู…َุงู…َุงู†ِ ู„ุงَ ู…ُุชَّูِู‚َุงู†ِ ูˆَู„ุงَ ู…ُูْุชَุฑِู‚َุงู†ِ
(Imam mazhab yang empat sepakat) bahwa tidak boleh kaum Muslim pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam (Khalifah), baik keduanya bersepakat maupun bermusuhan (Abdurrahman al-Jazairi, Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, V/416).

Iman an-Nawawi juga menegaskan:
ูˆَุงุชَّูَู‚َ ุงู„ْุนُู„َู…َุงุกُ ุฃَู†َّู‡ُ ู„ุงَ ูŠَุฌُูˆْุฒُุฃَู†ْ ูŠุนู‚ِุฏَ ู„ِุฎَู„ِูŠْูَุชَูŠْู†ِ ูَูŠ ุนَุตْุฑٍ ูˆَุงุญِุฏٍ ุณَูˆَุงุกٌ ุงِุชَّุณَุนَุชْ ุฏَุงุฑ ุงู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ ุฃَู…ْ ู„ุงَ
Para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh mengangkat dua orang Khalifah pada waktu yang sama, baik Darul Islam luas maupun tidak (Imam an-Nawawi, Syarh Muslim, XII/232).
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah.

Pelajaran penting lainnya dari ibadah haji adalah kesadaran akan urgensi negara Khilafah (ahammiyah dawlah al-Khilafah). Betapa tidak, jamaah haji akan menyaksikan, bahwa Muslim yang datang di Tanah Suci untuk berhaji bermacam-macam asal negerinya, bermacam-macam asal benuanya; bukan hanya dari Jazirah Arab yang memang menjadi tanah kelahiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Ada yang berasal dari Sudan, Mesir, Libia; dari benua Afrika. Ada yang berasal dari Uzbelistan, Tajikistan dan Turkmenistan; dari Asia Tengah). Ada yang datang Cina, Eropa, dan seterusnya.

Bagaimana fenomena mengagumkan ini dapat dipahami? Bukankah dulu agama Islam lahir di Jazirah Arab? Bagaimana Islam lalu dapat tersebar sedemikian luas? Sesungguhnya, jawaban untuk itu hanya satu saja. Adanya umat Islam yang berada di berbagai negeri di berbagai pelosok bumi terjadi karena adanya negara Khilafah yang melakukan futuhat (penaklukan) dan aktivitas dakwah ke seluruh dunia.

Bahkan termasuk Walisongo yang menyebarkan dakwah di Tanah Jawa pada sekitar abad 14 atau 15 M yang lalu, juga tak lepas dari jasa Khilafah. Khilafah Utsmaniyah di Turki-lah yang dulu berjasa besar mengirim para dai yang kelak disebut Walisongo itu untuk menyebarkan dakwah Islam di Tanah Jawa.

Maka dari itu, fenomena jamaah haji yang berasal dari berbagai negeri di segala penjuru dunia itu semestinya menyadarkan kita akan urgensi Daulah Khilafah. Sebab, salah satu urgensi Khilafah adalah mengemban risalah Islam ke seluruh dunia, dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Tanpa adanya negara Khilafah yang melakukan aktivitas dakwah dan jihad, niscaya kita tak akan menyaksikan fenomena hebat dalam ibadah haji, yakni adanya kaum Muslim yang asal-usulnya bukan hanya dari Jazirah Arab sebagai tempat lahirnya Islam, melainkan berasal dari segala negeri di segala benua dunia.

Jelaslah, negara Khilafah sangat urgen karena menjadi pelaksana aktivitas dakwah dan jihad itu untuk menyebarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Aktivitas Khilafah ini sejalan dengan karakter agama Islam sebagai risalah universal untuk semua manusia. Allah SWT berfirman:
ูˆَู…َุง ุฃَุฑْุณَู„ْู†َุงูƒَ ุฅِู„ุงَّ ูƒَุงูَุฉً ู„ِู„ู†َّุงุณِ ุจَุดِูŠْุฑًุง ูˆَู†َุฐِูŠْุฑًุง ูˆَู„َูƒِู†ْ ุฃَูƒْุซَุฑُ ุงู„ู†َّุงุณِ ู„ุงَ ูŠَุนْู„َู…ُูˆْู†َ
Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Saba` [34]: 28).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Selain urgen untuk misi dakwah dan jihad, Khilafah juga sangat urgen demi penerapan syariah Islam. Boleh dikatakan, semua kewajiban syariah-seperti penegakan hudud, jinayat, pemungutan dan pendistribusian zakat, serta pelaksanaan berbagai sistem kehidupan-bertumpu dan bergantung pada satu poros, yaitu keberadaan negara Khilafah. Artinya, tanpa adanya Khilafah, pelaksanaan berbagai kewajiban syariah itu tak akan mungkin terlaksana secara keseluruhan.

Ibadah haji, tanpa negara Khilafah, memang dapat terlaksana. Namun, tetap pelaksanaaanya menjadi kurang sempurna karena masih banyak mendapat hambatan dan kendala tanpa Khilafah. Misalnya, urusan paspor haji. Dengan Khilafah yang akan menghapuskan Negara-bangsa di Dunia Islam, paspor menjadi tidak relevan dan tak dibutuhkan lagi. Sebab, orang Indonesia, Mesir, atau Sudan, tatkala pergi ke Makkah, tak akan dianggap lagi pergi ke luar negeri, melainkan masih perjalanan dalam negeri. Paling banter perjalanan antarpropinsi. Dengan demikian, pengelolaan administrasi haji akan lebih sederhana dan menghemat banyak ongkos. Mereka yang pernah naik haji, tentu sangat memahami kerepotan administrasi yang sebenarnya tidak perlu ini.

Maka dari itu, Khilafah jelas sangat urgen demi pelaksanaan berbagai kewajiban syariah. Khilafah menjadi mutlak adanya. Hal ini sesuai kaidah syariah:
ู…َุง ู„ุงَ ูŠَุชِู…ُّ ุงู„ْูˆَุงุฌِุจُ ุฅِู„ุงَّ ุจِู‡ِ ูَู‡ُูˆَูˆุงَุฌِุจٌ
Selama suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Demikianlah sekilas pelajaran terpenting dari ibadah haji yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini. Kesimpulannya, paling tidak ada dua pelajaran terpenting. Pertama: pesan persatuan umat dalam Khilafah (wahdah al-ummah fi dawlah al-Khilafah al-wahidah). Kedua: urgensi negara Khilafah (ahammiyah dawlah al-Khilafah) untuk dakwah dan penerapan syariah. Kedua pelajaran penting itu tak dapat dilepaskan dari keberadaan negara Khilafah.

Mudah-mudahan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang kita idam-idamkan akan berdiri sebentar lagi. Tanda-tanda kehadirannya mulai tampak dengan terang. Gelombang perubahan politik yang dahsyat di Timur Tengah merupakan salah satu tanda akan datangnya negara baru itu. Para thaghut mulai berjatuhan dan bergelimpangan. Yang masih bertahan insya Allah akan segera jatuh menyusul teman-temannya.

Semoga kita semua nanti masih sempat mengalami indahnya hidup di bawah naungan Khilafah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah.
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT.

ุฃَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…َุงุชِ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ุงَْู„ุฃَุญْูŠَุงุกِ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَุงْู„ุฃَู…ْูˆَุงุชِ
ู†َุณْุฃَู„ُูƒَ ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงَู†ْ ุชَุฌْุนَู„َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุงู„ْูƒَุฑِูŠْู…َ ุฑَุจِูŠْุนَ ู‚ُู„ُูˆْุจِู†َุง، ูˆَ ู†ُูˆْุฑَ ุตُุฏُูˆْุฑِู†َุง، ูˆَ ุฌَู„ุงَุกَ ุงَุญْุฒَุงู†ِู†َุง، ูˆَ ุฐِู‡َุงุจَ ู‡ُู…ُูˆْู…ِู†َุง ูˆَ ุบُู…ُูˆْู…ِู†َุง، ูˆَ ู‚َุงุฆِุฏَู†َุง ูˆَ ุณَุงุฆِู‚َู†َุง ุงِู„َู‰ ุฑِุถْูˆَุงู†ِูƒَ، ุงِู„َู‰ ุฑِุถْูˆَุงู†ِูƒَ ูˆَ ุฌَู†َّุงุชِูƒَ ุฌَู†َّุงุชٍ ู†َุนِูŠْู…ٍ.
ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุฌْุนَู„ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุดَูِูŠْุนَู†َุง، ูˆَ ุญُุฌَّุฉً ู„َู†َุง ู„ุงَ ุญُุฌَّุฉً ุนَู„َูŠْู†َุง.
ุฃَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْู„َู†َุง ูˆَู„ِูˆَุงู„ِุฏَูŠْู†َุง ูˆَ ุงุฑْุญَู…ْู‡ُู…َุง ูƒَู…َุง ุฑَุจَّูŠَุงู†َุง ุตِุบَุงุฑًุง،
ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุฑْุญَู…ْ ุงُู…َّุฉَ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุฑَุญْู…َุฉً ุนَุงู…َّุฉً ุชُู†ْุฌِูŠْู‡ِู…ْ ุจِู‡َุง ู…ู† ุงู„ู†َّุงุฑَ ูˆَุชُุฏْุฎِู„ُู‡ُู…ْ ุจِู‡َุง ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ
ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุฌْุนَู„ْู†ุงَ ูِูŠ ุถَู…َุงู†ِูƒَ ูˆَุฃَู…َุงู†ِูƒَ ูˆَุจِุฑِّูƒَ ูˆَุงِุญْุณَุงู†ِูƒَ ูˆَุงุญْุฑُุณْู†َุง ุจِุนَูŠْู†ِูƒَ ุงู„َّุชِูŠْ ู„ุงَ ุชَู†ุงَู…ُ ูˆَุงุญْูِุธْู†ุงَ ุจِุฑُูƒْู†ِูƒَ ุงู„َّุฐِูŠْ ู„ุงَ ูŠُุฑَุงู…ُ.
ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ูŠَุงู…ُู†ْู€ุฒِู„َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ูˆَู…ُู‡ْุฒِู…َ ุงْู„ุฃَุญْุฒَุงุจِ ุงِู‡ْุฒِู…ِ ุงْู„ูŠَู‡ُูˆْุฏَ ูˆَุงَุนْูˆَุงู†َู‡ُู…ْ ูˆَุตَู„ِูŠْุจِูŠِّูŠْู†َ ูˆَุงَู†ْุตَุงุฑَู‡ُู…ْ ูˆَุฑَุฃْุณُู…َุงู„ِูŠِّูŠْู†َ ูˆَุงِุฎْูˆَุงู†َู‡ُู…ْ ูˆَุงِุดْุชِุฑَุงูƒِูŠِّูŠْู†َ ูˆَุดُูŠُูˆْุนِูŠِّูŠْู†َ ูˆَุงَุดْูŠَุงุนَู‡ُู…ْ
ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†َّุง ู†َุณْุฃَู„ُูƒَ ุฏَูˆْู„َุฉَ ุงู„ْุฎِู„ุงَูَุฉِ ุนَู„َู‰ ู…ِู†ْู‡َุงุฌِ ุงู„ู†ُّุจُูˆَّุฉِ ุชُุนِุฒُّ ุจِู‡َุง ุงْู„ุฅِุณْู„ุงَู…َ ูˆَุงَู‡ْู„َู‡ُ ูˆَุชُุฐِู„ُّ ุจِู‡َุง ุงู„ْูƒُูْุฑَ ูˆَุงَู‡ْู„َู‡ُ، ูˆَ ุงุฌْุนَู„ْู†ุงَ ู…ِู†َ ุงู„ْุนَุงู…ِู„ِูŠْู†َ ุงู„ْู…ُุฎْู„ِุตِูŠْู†َ ِู„ุฅِู‚َุงู…َุชِู‡َุง
ุฑَุจَّู†َุง ุขุชِู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِูŠ ุงْู„ุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ
 ูˆَุณُุจْุญَุงู†َ ุฑَุจُّูƒَ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนِุฒَّุฉِ ุนَู…َّุง ูŠَุตِูُูˆْู†َ ูˆَุณَู„ุงَู…ٌ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُุฑْุณَู„ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ِู„ู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ، ูƒُู„ُ ุนَุงู…ٍ ูˆَ ุฃَู†ْุชُู…ْ ุจِุฎَูŠْุฑٍ.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


Konferensi Khilafah di Amerika Serikat: Islam Gantikan Komunisme Sebagai Musuh Utama bagi AS



Voa-Khilafah.Co.Cc - Sebuah kelompok Islam radikal yang mengaku kehadirannya di hampir 50 negara begitu yakin dapat membantu membangun pemerintahan Muslim global atau Khilafah yang rancangan konstitusinya telah didistribusikan selama konferensi baru-baru ini di luar Chichago.
Demikian tulis Steven Emerson dalam situs www.algemeiner.com baru-baru ini menanggapi Konferensi Khilafah dengan tulisannya yang berjudul, "Hizb ut-Tahrir: Islam telah Menggantikan Komunisme sebagai Musuh Utama AS".

Ia melanjutkan bahwa seruan tersebut menyerukan hukuman mati bagi para murtadin, serta menciptakan sebuah departemen pemerintah yang didedikasikan untuk jihad.

Pada tanggal 26 Juni, Hizbut Tahrir mengumpulkan lebih dari 300 orang di sebuah ballroom Doubletree Hotel. Ia menulis bahwa HT merupakan gerakan internasional yang berjuang untuk mendirikan sebuah negara Islam global, Khilafah. Ia berusaha untuk menghubungkkan secara paksa organisasi yang anti kekerasan ini dengan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan HT.

Ia menulis lagi, bahwa dalam konferensi tersebut, para aktivis menggambarkan bahwa Islam sebagai satu-satunya kekuatan nyata di dunia berdiri di hadapan AS dan Barat. Reza Imam, yang menjabat sebagai Juru Bicara organisasi, mengatakan bahwa sekarang, dengan era Soviet Komunisme telah pergi, Barat dihadapkan dengan ancaman Islam.

"Dan mereka melihat kembalinya Islam," ia memperingatkan. "Dan ini, saudara-saudariku, mengguncang singgasana. Musuh Islam melihat munculnya kembali kebangkitan Islam, dan mereka mengetahui apa artinya dan mereka tahu apa artinya bagi kebijakan mereka," kata Imam.

Dalam konferensi tersebut, para aktivis HT mendistribusikan brosur-brosur yang merinci bagaimana negara Muslim tersebut diatur. Dokumen ini "untuk dipelajari oleh kaum Muslim saat mereka sedang bekerja untuk mendirikan Negara Islam yang akan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia," katanya.

Dokumen tersebut akan memerintah "Negara Islam di dunia Islam" dan tidak menargetkan pada masing-masing negara.

Pamflet, berjudul "Struktur Negara Khilafah: Pengantar Konstitusi," berisi grafik yang menggambarkan bagaimana pemerintah Khilafah akan berfungsi bersama dengan rancangan konstitusi.

Kelompok ini percaya bahwa revolusi tahun ini di Mesir, Tunisia, Libya, Yaman, Suriah dan negeri-negeri Muslim lainnya menawarkan kesempatan untuk membuang belenggu kolonialisme Barat.

"Tidak ada lagi orang Muslim yang takut dengan para rezim yang menindas mereka," membaca sebuah selebaran konferensi yang muncul di situs HT. "Apakah dunia Muslim akan membersihkan diri dari campur tangan kolonial Barat? Apakah peristiwa ini sebab penerapan Islam dan pembentukan Khilafah?"

Imam mengatakan bahwa bagi Barat, garis depan dalam perjuangan melawan Islam adalah memastikan bahwa "tiran" di dunia Islam tetap berkuasa. Pembicara menyebutkan diktator Suriah Bashar Assad, Libya Muammar Gaddafi, Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, Kepala Staf Angkatan Darat Ashfaq Pervez Kayani sebagai contoh dari pemimpin Muslim yang harus diganti.

Tentara Pakistan mengumbukan bulan lalu bahwa mereka telah menangkap Brigadir Ali Khan dan empat mayor dalam penyelidikan infiltrasi Hizbut Tahrir dari militer di sana. Khan, ditugaskan ke Markas Besar Angkatan Darat di Rawalpindi, adalah pejabat paling senior militer Pakistan diketahui telah ditangkap karena dituduh terlibat dengan Hizbut Tahrir.

Dalam konferensi Hizbut Tahrir Amerika tersebut juga, para pembicara menyerang Presiden Obama sebagai musuh umat Islam. "Obama mengunjungi Timur Tengah dan penguasa kaum Muslim kami terburu-buru untuk berjabat tangan yang masih berdarah. Mereka mengirimkan tentara mereka untuk menari baginya," kata salah seorang pembicara. "Mereka menggelar karpet merah untuk menyambut takng jagal Irak".

Di bawah naungan Khilafah, kaum Muslim tidak akan dipaksa untuk "hidup di bawah "Syeikh Obama" atau Assad atau Erdogan dipercaya" tetapi di bawah kekuasaan Islam, seorang pembicara yang diidentifikasi sebagai Abu Atallah menyatakan.

Para penguasa Timur Tengah "dan tuan-tuannya di Barat" telah "terguncang hingga dalam," kata Reza Imam, menunjuk pada pernyataan mantan Presiden George W. Bush dan Donald Rumsfeld yang memperingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh pembentukan Khilafah.

"Mereka melihat kerja keras mereka yang dibatalkan," katanya. "Ini seperti kejadian, menakutkan bagi mereka, bahwa Muslim ingin bersatu di bawah Islam".

"Kriminal bagi mereka," kata Imam lanjutnya. "Dan inilah sebabnya singgasana mereka terguncang. Mereka diteror oleh hal ini, hanya kaum Muslim ingin menaati Allah".

Steven Emerson menulis bahwa HT berjuang untuk mendirikan kembali Khilafah yang telah hilang sejak Kekaisaran Ottoman dihapuskan oleh pemimpin Turki Kemal Ataturk pada tahun 1924.

Setelah itu, "masalah-masalah kita akan hilang dan kekuatan setan akan mundur," kata Abu Atallah dan menambahkan bahwa sekali lagi Khilafah didirikan, Masjid al-Aqsa di Yuressalem "akan diambil kembali dari tentara salibis (Israel)."

Para peserta menanggapi dengan antusias serangan atas AS dan mengutip tulisan dari penulis Patrick Buchanan mengambarkan Islam sebagai kekuasaan dan Barat menurun, pembicara berhenti sejenak dan lagi disambut dengan takbir. Para pembicara dan peserta serta merta meneriakkan "Allahu Akbar".

Sebab revolusi hari ini di dunia Arab, Barat "gemetar ketakutan, seperti yang seharusnya," kata salah seorang pembicara. "Peluru tidak cocok bagi kekuatan umat ini".
Demikianlah, Amerika Serikat sendiri tak mampu menghentikan seruan penegakkan Khilafah Islamiyyah di negerinya sendiri. Sungguh sangat memalukan bila di negeri kaum Muslim, para penguasa yang telah menjadi boneka Amerika malah berusaha menghentikan seruan Khilafah seperti di Pakistan dan Bangladesh.
Sungguh, semua upaya tak akan berhasil menghentikan seruan umat hingga Khilafah benar-benar menaungi dunia dan di saat itulah, Islam sebagai rahmat bagi semesta alam akan terbukti secara nyata. Insya Allah, semakin dekat. [m/f/z/algemeiner/hta/syabab.com]
Baca Juga:
Lihat Foto:
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL