
Buku tentang peninggalan Muslim di Sicilia

Masjid tua di Sicilia


Buku tentang peninggalan Muslim di Sicilia

Masjid tua di Sicilia

Voa-Khilafah.com - Sejarah Islam penuh dengan arsitek-arsitek jenius. Beberapa bangunan terkenal di muka bumi adalah produk dari engineer muslim. Mereka membangun struktur indah yang menunjukkan kebesaran Islam di sepanjang masa. The Dome of the Rock atau Qubbatu Shakhrakh di Yerusalem, Taj Mahal di Agra, India, Alhambra di Granada, Spanyol, dan Masjid Biru di Istanbul, Turki, merupakan contoh tradisi arsitektur fenomenal dan indah.
Memang sejarawan berselisih pendapat mengenai siapa arsitektur paling berpengaruh dalam sejarah Islam, namun nama Mimar Sinan seolah-olah menjadi ikon karena karya-karyanya yang fenomenal. Mimar Sinan hidup antara tahun 1489 sampai 1588, di masa keemasan Khilafah Utsmani. Ia hidup di masa Sultan Salim I, Sultan Sulaiman, Sultan Salim II, dan Sultan Murad III. Selama kurun waktu ini wajah Kota Istanbul penuh perubahan, cita-cita pembangunan para sultan terwujud melalui karya-karya Mimar Sinan.
Siapakah Mimar Sinan?
Ayah Mimar Sinan, Abdul Mannan, adalah seorang mualaf yang berasal dari Yunani atau Armenia. Di masa mudanya, Mimar mengikuti jejak ayahnya bergabung dalam korps tentara elit Utsmani, Yenicheri. Tidak disangka, ternyata dalam dunia militer ini, jiwa dan bakat arsitekturnya muncul. Seiring waktu berjalan, pangkat kemiliteran Mimar pun mulai naik, ia menduduki posisi yang strategis dan dekat dengan Sultan Salim dan Sultan Sulaiman. Ia turut serta dalam aktivitas-aktivitas militer Utsmani di Eropa, Afrika, dan Persia.
Semakin banyak daerah baru yang menjadi bagian Kekhilafahan Utsmani berbanding lurus dengan maraknya pembangunan di daerah-daerah tersebut; pembangunan masjid dan bangunan-bangunan publik lainnya menjadi rencana utama pembangunan setiap daerah. Saat itulah kemampuan arsitektur Mimar semakin kentara dan kian terasah, ia turut serta dalam pembangunan-pembangunan di wilayah baru. Akhirnya pada tahun 1538, Kekhilafahan benar-benar mengapresiasi kemampuannya ini dan menetapkannya sebagai Menteri Pembangunan Khilafah Utsmani.
Awal Karir
Di Turki, Hagia Sophia selalu menjadi inspirasi dalam hal arsitektur. Hagia Sophia awalnya adalah gereja Bizantium yang dibangun pada tahun 537, ketika Muhammad al-Fatih menaklukkan Bizantium dan populasi muslim kian bertambah, maka Hagia Sophia diubah menjadi masjid di tahun 1453 dan sekarang Hagia Sophia dijadikan museum berdasarkan kebijakan Kemal Ataturk laknatullah.
Kubah Hagia Sophia yang besar dan megah banyak ditiru oleh arsitek-arsitek muslim. Oleh karena itu, kita lihat masjid-masjid di Turki memiliki kubah utama yang besar terletak di bagian tengah dan dikelilingi kubah-kubah kecil di bagian sisinya. Di saat arsitek-arsitek dari negeri lainnya tidak mampu membuat sebuah bangunan yang lebih atau setara dengan keindahan Hagia Sophia, saat itulah Mimar Sinan menunjukkan bawa ia bisa melakukannya. Keluar dari pakem dan standar yang telah dibuat oleh para arsitek terdahulu, dan membuat bangunan yang lebih monumental.
Di masa awal karirnya, Mimar membangun masjid-masjid kecil terlebih dahulu di wilayah-wilayah baru Utsmani. Ia membangun Masjid Khusruwiyah di Aleppo, Suriah, pada tahun 1547. Masjid ini tetap berdiri kokoh di era modern ini, namun saat ini mungkin telah hancur karena perang di negeri Syam ini. Ia juga merenovasi Masjid Imam Abu Hanifah di Baghdad dan Masjid Jalaluddin al-Rumi di Konya.
Proyek-proyek kecil ini terus mengasah kemampuan seni merancang bangunan Mimar Sinan untuk terus berkembang. Selain itu pemerintah juga terus mendukungnya dan membantunya mengasah bakatnya dengan proyek-proyek yang mereka berikan kepada Mimar.
Membangun Masjid Pangeran dan Masjid Sultan Sulaiman
Pada tahun 1543, Sultan Sulaiman mendapatkan sebuah musibah dengan meninggalnya salah satu putranya, yaitu Sultan Muhammad. Kejadian ini menimbulkan niatan pada sultan untuk membangun sebuah masjid megah yang ia gunakan untuk melayani umat Islam di Istanbul sekaligus sebagai pahala jariyah untuk sang anak.
Momen ini sekaligus kesempatan pertama yang diberikan Sultan Sulaiman kepada Mimar untuk bertanggung jawab atas proyek yang besar, membangun sebuah masjid yang megah dan memiliki tempat tersendiri di hati Sultan Sulaiman.
Selama empat tahun, Mimar mengerjakan proyek yang disebut dengan Sehzade Jami’(Masjid Pangeran) di pusat Kota Istanbul. Di lingkungan masjid ini terdapat komplek (kulliye) yang terdiri dari sekolah, dapur umum bagi kaum miskin, tempat tidur bagi wisatawan, dan makam Sultan Muhammad. Sultan Sulaiman memuji dan sangat puas dengan hasil kerja Mimar walaupun Mimar sendiri masih menaruh ambisi bahwa dia bisa mewujudkan sesuatu yang lebih hebat dari hasil karyanya ini.
Masjid besar berikutnya yang proyek pembangunannya dipimpin oleh Mimar Sinan adalah Masjid Sultan Sulaiman. Sultan Sulaiman menginginkan agar Kota Istanbul kembali dihiasi oleh masjid raksasa lainnya. Kali ini ia mengatasnamakan masjid tersebut atas namanya sendiri. Semakin besar masjid yang dibangun, ia berharap semakin banyak jamaah jamaah yang bisa shalat di sana, sehingga semakin banyak pula tabungan pahala untuknya, demikian harap sang sultan.
Proyek besar Masjid Sultan Sulaiman ini direncanakan akan rampung pembangunannya dalam waktu tujuh tahun. Selama lima tahun, Mimar Sinan sibuk membangun pondasi masjid besar ini. Sampai-sampai Sultan Sulaiman mengira Mimar melarikan diri dari pembangunan karena dia sangat sibuk di areal bawah tanah untuk membangun pondasi masjid.
Pada tahun 1557, selesailah pembangunan Masjid Sultan Sulaiman, dan ini adalah sebuah masterpiece, sebuah karya yang sangat fenomenal. Sebuah masjid besar dengan interior yang luar biasa, ketinggian langit-langit di ruang dalam menunjukkan kerumitan pembangunannya, kubah-kubah yang menunjukkan perhitungan geometri yang detail, di bagian luar terdapat empat menara ramping yang menjulang setinggi 50 m, saat itu menara ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan, tidak ada arsitek yang mampu membuat serupa dengannya.
Komplek Masjid Sulaiman meliputi: masjid, rumah sakit, pemandian, perpustakaan, dapur umum, madrasah Alquran, madrasah hadis, taman kanak-kanak, dan pusara pemakaman Sultan Sulaiman.
hebatnya, dengan kemegahan dan kehebatan arsitektur masjid ini, Mimar Sinan masih yakin kalau ia bisa membangun bangunan yang lebih hebat lagi dari ini.
Karya Fenomenal Mimar Sinan
Setelah Sultan Sulaiman wafat pada tahun 1566 M, putranya dan pewaris tahtanya, Sultan Salim II, memiliki keinginan serupa dengan ayahnya, yakni membangun masjid atas namanya dan diperuntukkan untuk melayani kaum muslimin. Masjid Sultan Salim II ini rencananya akan dibangun di Kota Edirne 200 Km dari Istanbul. Saat pembangunan berlangsung, usia Mimar Sinan sudah menginjak 70 tahun lebih, namun semangatnya masih tetap berkobar, ia tetap memendam impian mengalahkan kemegahan Hagia Sophia.
Dalam otobiografinya, Mimar Sinan menyebutkan bahwa komplek Masjid Sultan Salim II atau disebut Selimye adalah masterpiece-nya. Kubah masjid yang dibangun di atas tumpuan segi delapan memungkinkan masjid ini dibangun dengan tinggi yang pada akhirnya mengalahkan Hagia Sophia. Hingga saat ini Masjid Sultan Selim II menjadi landmark Kota Edirne.
Wafatnya
Mimar Sinan wafat pada tahun 1588 di usia 98 tahun. Ia dimakamkan di komplek Masjid Sultan Sulaiman. Arsitek kebanggaan Kekhilafahan Utsmani ini banyak meninggalkan warisan-warisan pembangunan, yaitu: 90 masjid besar di seluruh wilayah kekuasaan Utsmani, 50 masjid kecil, 57 perguruan tinggi, 8 jembatan, dan berbagai gedung-gedung sarana public di seluruh wilayah kekuasaan Kekhilafahan Utsmani. Ia juga mewarisi murid-murid hebat Masjid Sultan Ahmad atau dikenal dengan Blue Mosque, Taj Mahal di India.
Oleh karena itu, tidak heran apabila Mimar Sinan dianggap sebagai arsitek terbesar dalam sejarah peradaban Islam. Ia membangun bangunan-bangunan yang terus dikenang dan dikagumi oleh orang-orang hingga abad modern ini. (kisahmuslim/Voa-Khilafah.com)

Media office Wilayah Turkey
12 Ramadhan 1436 H | 29/6/2015
No: TR-BA 2015-MB-TR-017
Pernyataan Pers Mengenang Syeikh Said dan Saudara-saudaranya Yang Dirahmati Yang Menyerukan Dien Allah (Terjemahan)
Sembilan puluh tahun telah berlalu sejak syahidnya Syaikh Said dan 47 saudara-saudaranya yang menyerukan agama Allah dengan cara dieksekusi pada tanggal 25 Juni 1925. Hari ini, kita mengingatkan diri kita dari Syaikh Said dan saudara-saudarnya yang menjadi syahid sementara kita meminta kepada Allah SWT untuk memberikan mereka kesenangan yang kekal di akhirat.
Inggris, yang merupakan musuh umat Islam dan pemimpin kolonialisme lama yang memecah negeri-negeri Muslim di akhir Khilafah Utsmani, berhasil menarik sejumlah putra-putra Muslim ke arah itu, dengan merekrut mereka dan membuat mereka menjadi para agennya. Saat itu, mereka mampu mendapat dukungan para pengkhianat Arab dan Turki untuk menghancurkan Negara Islam, Negara Khilafah.
Setelah kehancuran Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924, Republik Sekuler diumumkan dan sistem Khilafah dihapuskan segera dan digantikan oleh sistem yang korup dan kafir yang berasal dari barat yang kemudian diterapkan. Sebagai konsekuensi dari perpecahan dan pembagian negeri-negeri Muslim yang telah berada di bawah naungan pemerintahan Islam selama tiga belas abad dan sebagai akibat dari dihapuskannya Khilafah, beberapa ulama yang tulus dan sadar bertemu untuk membahas solusi atas situasi ini. Ini adalah yang dilakukan oleh Syaikh Said Afandiy yang berasal dari kalangan ulama terkemuka sehingga beliau segera mengumpulkan para ulama di wilayah itu setelah dihapuskannya Khilafah dan deklarasi republik Turki. Dia mengumumkan pemberontakan dan kesiapannya untuk berjuang sesuai dengan perintah Hukum Syara’ yang berdasarkan hadits Rasulullah (saw):
“Sesungguhnya Imam adalah Perisai. Dibelakangan engkau berperang dan mendapat perlindungan.”
Ini adalah seperti yang disebutkan pada teks-teks yang memerintahkan untuk memerangi para penguasa ketika Al-Kufur Al-Bawaah (yang percaya secara terang-terangan) dan merupakan manifestasi dari hal itu. Para penguasa yang merupakan musuh-musuh Islam dari sejak saat itu berusaha untuk menipu opini publik Turki agar percaya bahwa pemberontakan Syaikh Said sebenarnya adalah pemberontakan Kurdi karena mereka takut bahwa dakwah Syaikh Said akan diterima di kalangan kaum Muslim dan memberikan kepadanya dukungan yang lebih besar. Ini dilakukan sementara mereka menyebarkan kebohongan ke wilayah Islam lain dengan mengatakan bahwa pemberontakan ini dilakukan demi negara Armenia.
Pemberontakan itu dihancurkan oleh negara sebelum dapat mencapai tujuannya dan Syaikh Said dan saudara-saudaranya dieksekusi pada tanggal 25 Juni 1925. Kemudian setelah menghapuskan pemberontakan ini, Republik Turki melancarkan kampanye represif yang sangat luas dan kejam terhadap para ulama dan kaum Muslim yang tulus terutama terhadap orang-orang Muslim Kurdi. Para ulama digantung dengan tali di leher mereka di tempat-tempat umum, pembantaian massal secara kolektif terjadi di desa-desa, di mana kaum Muslim tewas dalam penjara, keluarga mereka dipaksa mengungsi dari negeri mereka dan menjadi sasaran dicerai-beraikan dan dipecah-pecah. Kemudian ketika Republik Turki gagal menjauhkan umat Islam Kurdi dari Islam dan Ahkaam (Hukum Syariah) walaupun mereka melakukan semua jenis penindasan dan hukuman kepada kaum Muslim, mereka mulai bekerja untuk menjadikan non-Muslim sebagai wakil rakyat Kurdi dan masalah Kurdi. Jadi mereka mencoba untuk menyebarkan fitnah dan perpecahan dalam persaudaraan dan akibatnya sungai darah mengalir di antara mereka selama bertahun-tahun. Ketika ini juga gagal untuk mencapai hasil yang diinginkan, mereka kemudian mulai menipu orang-orang Muslim Kurdi dengan mencoba menjauhkan mereka dari Islam dengan cara merapkan sistem demokrasi yang busuk, korup dan tidak bermoral. Jadi negara pembunuh yang menindas kemarin pada hari ini mencoba untuk menyembunyikan wajah gelapnya yang buruk dan untuk mempercantik wajahnya di mata rakyat Kurdi Muslim dengan memanfaatkan demokrasi. Dengan topeng demokrasi mereka berusaha untuk menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai Islam dan budayanya menuju westernisasi dan pembebasan, sebagaimana yang mereka klaim. Negara melakukan hal itu dengan memanfaatkan partai-partai politik dan orang-orang yang tidak mewakili rakyat Muslim Kurdi apakah di masa lalu atau di masa sekarang. Hal ini karena mereka yang mewakili rakyat Kurdi Muslim adalah Syaikh Said dan saudara-saudaranya yang mengorbankan dan memberikan nyawa mereka untuk Islam dan Khilafah di samping merekalah yang mengambil dan membawa Amanah ini sehingga mereka wafat. Syaikh Said bukanlah seorang agen untuk pihak asing dan dia tidak ikut pada asosiasi-asosiasi nasionalis. Sebaliknya dia adalah seseorang yang memegang masalah dan masalah itu adalah Islam dan Khilafah. Syaikh Said mengatakan dalam perjalanannya ke tiang gantung: “Jika saya pergi keluar di jalan Allah dan demi agamanya -Nya maka saya tidak akan takut dengan hanya digantung pada tiang gantungan ” dan dia pergi dan memberontak demi Khilafah dimana penerapan Syariah Islam bisa tercapai. Dia menyeru Muslim lainnya untuk melakukan dan memberikan pengorbanan demi Khilafah: “Khilafah menanti Anda, tidak ada Islam tanpa Khilafah, seruan dan slogan anda adalah Dien jadi tuntutlah Syariah”.
Dan pada hari ini cucu Syaikh Said bekerja untuk slogan itu dan seruannya adalah dengan menantang pemikiran nasionalisme yang menggunakan kaum kafir Barat sebagai alat untuk memecah belah negeri-negeri Muslim. Dan memang itu adalah kewajiban pada hari ini untuk dilakukan dengan usaha maksimum dan tanpa lelah demi membangun Khilafah Rasyidah yang berjalan pada metodologi kenabian. Ini dilakukan terlepas dari semua rencana kotor yang dibuat oleh partai-partai politik untuk menjauhkan orang-orang Muslim Kurdi dari Islam dan nilai-nilainya dan berjuang untuk menerapkannya melalui demokrasi yang bebas, lembaga-lembaganya denganberkoordinasi dengan Negara. Jadi Khilafahlah yang merupakan negara yang akan mempertemukan semua Muslim apakah mereka itu orang Kurdi, Turki, Arab atau orang lain di bawah Rayah (panji) Islam. Ini adalah sebuah negara dimana Syaikh Said dan saudara-saudaranya yang ingin dibuat dengan pengorbanan dan dengan memberikan nyawa mereka. Ini adalah negara yang telah dipercayakan oleh Rasulullah (Saw) sebagai Amaanah di leher kita yang menggambarkan diri kita sebagai umat Islam, sebagaimana pada Syaikh Said dan saudara-saudaranya, semoga Allah merahmati mereka.
Kantor Media Hizbut Tahrir
Wilayah Turki
(hizbut-tahrir.or.id/ voa-khilafah.com)
Voa-Khilafah.com – Siapa sangka, tokoh Kapten Jack Sparrow dalam film populer “Pirates of the Caribbean” didasarkan pada sosok seorang “bajak laut” sungguhan yang ternyata adalah seorang Muslim, lansir Inside Hollywood pada Sabtu (25/10/2014).
Voa-Khilafah.com - Di Eropa, namanya tercatat sebagai bajak laut kejam berjenggot merah penguasa samudera. Tapi dalam sejarah Islam, namanya harum mewangi sebagai laksamana penjaga wilayah Khilafah Utsmani yang perkasa.
Saat-saat itu kaum muslimin Andalusia memang sedang mengalami keruntuhan setelah pemerintahan Islam berhasil tegak megah selama tujuh abad di Eropa. Sedang kaum muslimin kala itu tinggal sedikit di bawah penguasa Bani Ahmar di Kota Granada. Dalam kondisi seperti ini, seluruh kerajaan Kristen bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir kaum muslimin dari Spanyol selama-lamanya.
Pada akhirnya, Granada benar-benar runtuh, jatuh ke tangan kaum Salibis. Raja kecil Abu Abdullah menyerah kepada Raja Kristen Ferdinand dan Ratu Isabella. Kunci istana al Hambra dan Granada diserahkannya kepada pasukan Kristen pada bulan Rabiul Awwal, tahun 897 H (1492 M). Kaum muslimin yang tersisa di Spanyol mendapat perlakuan amat keji dari orang-orang Nashara.
Tak lama setelah berhasil mengusir kaum muslimin dari pijakan terakhimya di Granada, Spanyol, pada tahun 1492, orang-orang Portugis dan Spanyol,
para conquistador 1 yang haus kekuasaan ini, segera menyerbu pantai-pantai Afrika Utara. Raja-Raja Maghrib, Tunisia, dan sekitarnya yang lemah, tak punya cukup kemampuan dan kemauan untuk mengusir orang-orang Kristen yang penuh semangat dari tanah-‐tanah mereka. Orang-orang Spanyol merebut tempat-tempat strategis, seperti Ceuta di Maroko dan Aljir di Aljazair. Mereka membangun benteng yang menyulitkan penguasa Muslim setempat merebut kembali wilayah-wilayahnya.
***
Khairuddin atau Khizr, demikian orang Barat menyebutnya, saat itu masih menginjak 14 tahun usia. Tiba-tiba saja ia disergap perasaan dendam membara. Ia terkesima dengan situasi jiwanya. Selama ini dia adalah orang yang tak peduli dengan pertikaian antara kaum muslimin dengan Salibis di Andalusia. Barangkali berita-berita besar yang dibawa oleh para pelaut yang baru datang dari pesisir Afrika Utara itulah penyebabnya. Ia dengan seksama terus mengikuti berita-berita itu dari para pelaut yang mampir di kedai ayahnya di tepi pantai Lesbos, sebelah barat Asia kecil. Sungguh, berita itu langsung menggugah kepahlawanan Khairuddin remaja. Matanya bagai terbuka lebar-lebar dan telinganya menjadi peka atas berita pembantaian kaum muslimin secara kejam-keji-biadab di Andalusia. Di usia 14 tahun, ia dimatangkan oleh berita-berita tragis kaumnya. Berita runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia.
***
Khairuddin lahir pada tahun 1478 di pulau
Lesbos 2 di desa Palaiokipos. Ia memiliki dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Ketiga saudara laki-lakinya bernama Ishak, Aruj, dan Ilyas. Mereka dilahirkan di Pulau Lesbos (Mytilene/Madlali) yang saat itu menjadi wilayah Turki Utsmani. Ayah mereka, Ya’kub bin Yusuf merupakan veteran perang pada masa kekuasaan Sultan Muhammad al-
Fatih sedangkan ibu 3 mereka merupakan penduduk asli pulau itu. Keluarga itu menetap di Lesbos tak lama setelah penaklukkan pulau itu oleh pasukan al-Fatih di tahun 1462. Ayah Khairuddin mengisi masa pensiunnya dengan membuka sebuah kedai dan membina keluarga. Keluarga itu tumbuh dalam budaya pesisir dan kelak muncul sebagai pelaut-pelaut yang tangguh, khususnya Aruj dan Khizr.
Khairuddin dan saudara-saudaranya tumbuh pada salah satu era paling menentukan dalam sejarah umat manusia. Mereka hidup di tengah benturan peradaban yang keras di wilayah Mediterania. Benturan peradaban antara Timur dan Barat, antara Islam dan Kristen. Hanya sekitar satu atau dua dekade sebelum kelahiran anak-anak ini, peradaban Islam terpenting saat itu, Turki Utsmani, di bawah pimpinan Muhammad al-Fatih pada tahun 1453, telah berhasil menaklukkan kota Konstantinopel. Kejatuhan kota yang merupakan ibukota Romawi Timur, Byzantium, sekaligus pusat Kristen Ortodoks itu menimbulkan jeritan putus asa dan kemarahan di belahan Eropa lainnya. Sebaliknya, hal itu meningkatkan semangat jihad dan kebanggaan di belahan dunia Islam mengingat Nabi Muhammad SAW sendiri telah meramalkan kejatuhan kota itu dalam haditsnya.
Keempat bersaudara itu menjadi pelaut, terlibat dalam urusan kelautan dan perdagangan laut internasional. Saudara laki-laki pertama yang terlibat dalam ilmu pelayaran adalah Aruj, yang bergabung dengan saudaranya Ilyas. Kemudian, setelah mendapatkan kapal sendiri, Khizr juga memulai karirnya di laut. Mereka pada awalnya bekerja sebagai pelaut, tapi di kemudian hari mereka menjadi ‘privateers‘ karena alasan tertentu. Kelompok ‘pejuang swasta’ penyerang kapal-kapal musuh. Orang Eropa kemudian menyebut mereka sebagai ‘Bajak Laut’.
Pada masa runtuhnya kekuasaan Islam di
Granada (Andalusia) tahun 1492 4 , tak ada penguasa Muslim yang berani melawan penguasa Kristen Spanyol Raja Ferdinand dan Ratu Isabella secara terbuka. Raja Kristen Eropa semakin percaya diri meluaskan invasi di kawasan Mediterania. Pasukan-pasukan Kristen kerap menganggu kapal para pedagang-pedagang muslim. Kenyataan getir itu tak mampu dihadapi oleh penguasa-penguasa Muslim, bahkan Turki Utsmani yang besar kekuasaannya saat itu setelah menguasai Konstantinopel pun tak berdaya. Di tengah ketidakberdayaan itu muncullah Aruj dan Khairuddin yang membentuk kelompok ‘pejuang swasta’ untuk tampil menghadapi ancaman penjajah Kristen Eropa.
Keputusan Aruj (kakak Khairuddin) menjadi privateer, bermula saat ia merasakan pengalaman buruk dengan pelaut-pelaut Kristen Eropa. Kapal dagang Aruj pernah dibajak oleh ordo militer Saint John dan ia sendiri tertawan oleh mereka. Namun, ia berhasil meloloskan diri setelah dibantu adiknya, Khairudin. Peristiwa itu menguatkan tekadnya untuk bangkit melawan orang-orang Eropa itu. Ia mengajak adiknya, Khizr (nama asli Khairuddin), untuk ikut serta dalam perjuangan itu. Aruj dan Khizr (Khairuddin) memulai ‘karir’ jihad mereka dengan sebuah kapal dan persenjataan terbatas. Namun, keterampilan keduanya menjadikan kekuatan mereka tumbuh semakin kuat dan muncul sebagai armada yang ditakuti di perairan Mediterania. Jenggot mereka yang berwarna merah kemudian membuat mereka lebih dikenal dengan nama yang menggetarkan:
Barbarossa, Si Janggut Merah. 5
Barbarossa Bersaudara perlahan tapi pasti, lama-kelamaan berkembang menjadi sosok yang menakutkan orang-orang Eropa. Kendati pada awalnya hanya berjuang dengan satu kapal dan tak mendapat dukungan dari pemerintahan Muslim mana pun, mereka mampu mengembangkan armada mereka menjadi sebuah kekuatan yang harus diperhitungkan di Mediterania, Laut Tengah.
Negeri-negeri di Selatan Eropa, seperti Spanyol, Italia dan Yunani, membangun benteng-benteng pertahanan di wilayah pesisir mereka untuk mengantisipasi serangan Barbarossa. Orang-orang Italia menamai Barbarossa dengan sebutan Il Diavolo atau si Setan. Para ibu di Eropa menakut-nakuti anak mereka yang nakal dan sulit diatur dengan menyebut nama Barbarossa. Dan seorang penyair menggelarinya sebagai ‘pemilik segala kejahatan’ dan ‘perompak yang tak ada bandingannya di dunia’. Kenyataannya, Barbarossa bersaudara adalah pejuang-pejuang Muslim yang tidak menyerang kecuali kapal-kapal Eropa yang memerangi negeri-negeri Islam.
Kedua pejuang ini terus mengkonsolidasikan kekuatan mereka dan mulai menjalin hubungan dengan beberapa penguasa setempat. Mereka menjadikan beberapa pulau yang strategis di perairan Mediterania sebagai pangkalan rahasia mereka, di antaranya Pulau Jarbah di Teluk Gabes yang diberikan oleh Sultan Tunis dengan imbalan Kerajaan Tunis akan menerima seperlima dari rampasan perang Barbarossa bersaudara. Pulau Giglio di Barat Laut kota Roma juga disebut-sebut sebagai salah satu markas angkatan laut Barbarossa. Dari basis-basis pertahanan rahasia tersebut kedua bersaudara dan para anak buahnya berhasil mengacaukan pelayaran kapal-kapal Kristen di Mediterania serta menyerang wilayah-wilayah Afrika Utara yang mereka duduki. Sepanjang tahun 1510-an, armada di Janggut Merah berhasil membebaskan beberapa kota penting di pesisir Aljazair, seperti Aljir, Bajayah, dan Jaijil. Pada masa-masa ini mereka juga berhasil membantu orang-orang Andalus yang melarikan diri dari kekejaman orang- orang Spanyol. Tidak sedikit dari kaum pelarian ini yang kemudian bergabung dengan armada Barbarossa bersaudara.
Hubungan kedua bersaudara ini dengan para sultan Afrika Utara yang wilayahnya mereka bantu bebaskan tidak sepenuhnya mulus. Sebagian dari para sultan ini rupanya merasa terancam dengan kekuatan Barbarossa yang semakin lama semakin besar. Sultan Salim al-Toumy, penguasa Aljazair, mulai merasa terganggu dengan aktivitas Aruj dan Khairuddin dalam membebaskan Aljir dan beberapa kota pantai Aljazair lainnya. Sang Sultan kemudian mengusir Aruj dan anak buahnya dari Aljazair pada tahun 1516. Pengusiran tersebut menyebabkan Aruj mengambil sebuah keputusan penting. Ia menganggap Aljazair terlalu penting sebagai basis perjuangan melawan Spanyol dan para sekutunya, sementara sultan negeri itu tidak memiliki komitmen yang jelas terhadap kaum Muslimin. Maka ia pun menggulingkan Sultan al-Toumy dan bertindak sebagai penguasa Aljazair. Tahun ini menandai era baru perjuangan Barbarossa bersaudara, dari perjuangan yang sepenuhnya bersifat militer, kini mulai merambah wilayah politik dan kenegaraan.
Pada tahun yang sama di Eropa, cucu Ferdinand yang bernama Charles, diangkat menjadi Raja Spanyol. Walaupun pada saat itu usianya baru 16 tahun, ia segera akan menjadi penguasa terpenting di Eropa, sekaligus menjadi musuh utama Turki Utsmani dan Barbarossa bersaudara. Keadaan di Mediterania semakin memanas pada tahun-tahun berikutnya. Pada 1517, Sultan Salim mengirim pasukan Turki Utsmani memasuki Mesir dan merebut wilayah itu dari kekuasaan Dinasti Mamluk. Sementara itu, Barbarossa bersaudara mulai menjalin hubungan dengan pihak Turki dalam jihad mereka menghadapi orang-orang Eropa Barat.
Pada tahun 1518, Aruj dan pasukannya bergerak ke Tlemcen (Tilmisan) untuk menghadapi penguasa setempat yang berhasil dihasut oleh pihak Spanyol. Khairuddin, sang adik, diperintahkan oleh kakaknya untuk memimpin Aljir selama kepergiannya. Aruj dan anak buahnya berhasil merebut Tlemcen selama beberapa waktu, tapi mereka segera dikepung oleh tentara Spanyol dan penduduk wilayah itu. Aruj dan pasukannya berhasil meloloskan diri. Namun, pejuang yang biasa dipanggil Baba Aruj oleh anak buahnya ini akhirnya gugur sebagai syuhada dalam pertempuran menghadapi musuh di tempat yang tak terlalu jauh dari kota itu. Kini Khairuddin Barbarossa, sang adik, terpaksa memimpin armada dan pasukan yang telah mereka bangun selarna beberapa tahun tanpa sang kakak.
Ketiadaan Aruj ternyata tidak melemahkan Khairuddin. Ia segera memperlihatkan kepiawaiannya dalam memimpin. Sejak masa mudanya ia telah memperlihatkan kepribadian yang menonjol. Sebagaimana kakaknya, fisik Khairuddin sangat kuat. Ia berani sekaligus penuh perhitungan. Selain itu, ia juga cerdas dan mampu berbicara dalam berbagai bahasa yang biasa digunakan di Mediterania, seperti bahasa Turki, Arab, Yunani, Spanyol, Italia, dan Perancis. Setelah Aruj gugur di medan pertempuran, Khairuddin mempertimbangkan lebih serius hubungan dengan kesultanan Turki. Masyarakat Aljazair dan sekitarnya memang mengharapkan kehadiran Khairuddin dan pasukannya, tapi beberapa penguasa setempat cenderung memusuhinya. Maka ia meminta penduduk Aljazair untuk mengalihkan loyalitas mereka pada Sultan Turki. Masyarakat Aljazair setuju, dan suatu misi diplomatik pun diutus ke Istanbul. Misi tu berjalan dengan baik. Pada tahun 1519, Khairuddin Barbarossa secara resmi ditetapkan menjadi semacam gubernur Turki di Aljazair. Pada tahun berikutnya, Sultan Salim meninggal dan digantikan oleh Sulaiman The Magnificent yang kemudian dikenal sebagai salah satu sultan terbesar Turki Utsmani. Hubungan Barbarossa dengan Turki menjadi semakin erat pada masa Sulaiman yang memerintah selama empat puluh enam tahun.
Kendati telah ditetapkan sebagai penguasa Aljazair, Khairuddin Barbarossa lebih sering berjuang di lautan sebagaimana masa-masa sebelumnya. Ia dan armadanya sempat menyelamatkan tujuh puluh ribu Muslim Andalusia yang tertindas di bawah pemerintahan Charles V. Orang-orang Islam ini dipaksa masuk Kristen dan diancam dengan penyiksaan inkuisisi yang sangat kejam sehingga terpaksa melarikan diri ke gunung dan melakukan perlawanan. Kekuatan mereka jelas sangat tidak seimbang dibandingkan kekuatan pasukan Charles. Maka mereka pun meminta bantuan Barbarossa yang segera menolong dan memindahkan mereka secara bertahap ke Aljazair.
Pada tahun 1529, Khairuddin Barbarossa berhasil merebut kembali Pulau Penon yang terletak di seberang Aljir dan selama bertahun-tahun dikuasai oleh tentara Spanyol. Ia dan pasukannya membombardir benteng pulau itu selama dua puluh hari. Dua puluh ribu tentara Spanyol yang berlindung di balik benteng itu berhasil ditawan dan dipekerjakan untuk membangun benteng di pesisir Aljir. Tujuh kapal Spanyol yang kemudian datang untuk memberikan bantuan akhirnya juga jatuh ke tangan Barbarossa. Pada tahun yang sama, Sultan Sulaiman menyerang dan mengepung kota Wina, Austria, untuk yang kedua kalinya. Walaupun serangannya yang kedua ini juga gagal sebagaimana sebelumnya, hegemoni tentaranya di darat, bersama dengan kekuatan armada Barbarossa di Laut Tengah, telah menimbulkan tekanan dan kekhawatiran yang besar di Eropa Barat.
Pada tahun 1533, Khairuddin diundang ke Istanbul oleh Sultan Turki. Ia pun berangkat dengan 40 kapal, dan sempat berpapasan dan memenangkan pertempuran melawan armada Habsburg di perjalanan ke Istanbul. Setibanya di ibu kota Turki Utsmani itu ia disambut dengan meriah dan diangkat sebagai Kapudan Pasha (Grand Admiral), posisi tertinggi di angkatan laut Turki. Ia menyandang gelar itu hingga tahun kematiannya, 1546. Tentu saja ini merupakan sebuah puncak karir yang luar biasa untuk seorang ‘bajak laut’. Tapi Barbarossa memang dianggap sangat layak untuk posisi itu oleh para petinggi Turki Utsmani. Kemampuannya di bidang angkatan laut sangat diperlukan untuk membangun armada Turki yang tangguh. Bahkan seorang konsul Prancis menyatakan bahwa puncak kesuksesan Dinasti Umayah di lautan telah dimulai ketika Khairuddin menghentakkan kakinya di pelabuhan Istanbul.
Ketegangan dengan pihak Spanyol semakin serius setelah itu. Pasukan gabungan Spanyol yang sangat besar jumlahnya berhasil merebut Tunisia dari tangan Barbarossa pada tahun 1535. Barbarossa kemudian membalasnya dengan menyerang Puerto de Mahon di Kepulauan Baleares, Spanyol, dan merebut beberapa kapal Spanyol dan Portugis yang baru saja kembali dari benua baru Amerika dengan membawa emas dan perak yang telah mereka rampas dari penduduk setempat.
Tiga tahun setelah itu, terjadi sebuah pertempuran besar antara armada Kristen dan Muslim di Preveza, Yunani. Armada Kristen yang terdiri dari 600 kapal Spanyol, Holy Roman Empire, Venesia, Portugis, Genoa, Vatikan, Florence, Malta, dan negara-negara Eropa lainnya yang dipimpin oleh Andre Doria berusaha melumatkan armada Barbarossa yang jumlahnya hanya sepertiga dari kekuatan musuh. Setelah saling mengintai di perairan Ionian, Yunani, armada Barbarossa memasuki Selat Preveza yang sempit dan menunggu di teluk besar yang terdapat di bagian dalamnya, sementara musuh menunggu mereka di luar. Ini terjadi pada hari Jum’at, 27 September 1538. Barbarossa mengumpulkan pasukannya untuk mengatur strategi dan memutuskan untuk bergerak keluar dan menghadapi musuh secara langsung. Armadanya melintas keluar Selat Preveza pada hari Sabtu sebelum fajar. Kedua armada besar itu saling berhadap-‐hadapan pada saat matahari baru saja naik. Barbarossa dan armadanya berhasil menerapkan strategi perang secara jitu. Kendati jumlah kapal mereka lebih sedikit, tapi kapal-kapal mereka lebih lincah dan meriam-meriam mereka mampu menjangkau jarak yang lebih jauh. Setelah bertempur selama beberapa jam, armada Barbarossa mampu melumpuhkan separuh armada Kristen. Kekalahan telak yang tak disangka-sangka ini membuat armada pimpinan Andrea Doria itu terpaksa mengundurkan diri. Kaum Muslimin berhasil memenangkan pertempuran besar itu.
Setelah 1538, beberapa pertempuran masih terjadi antara pihak Kristen dan Muslim, dan lebih sering dimenangkan oleh pasukan Muslim. Ketika Charles V berusaha menguasai Aljazair dengan 200 kapal perangnya pada tahun 1541, mereka malah disergap badai di perairan Aljir, dan terpaksa kembali pulang dengan kerugian besar. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Barbarossa sempat ditugasi membantu pasukan Prancis yang pada masa itu bermusuhan dengan Spanyol di bawah kepemimpinan Charles dan memilih untuk bersekutu dengan Turki. Ia membantu Prancis merebut kota Nis pada tahun 1543, kemudian menetap di kota Toulon selama musim dingin, sebelum pergi ke Genoa untuk menegosiasikan pembebasan salah satu anak buah terbaiknya, Turgut Reis.
Khairuddin Barbarossa meninggal dunia dengan damai di Istanbul pada hari ini, tanggal 5 Juli tahun 1546 silam. Ia tetap dikenang sebagai seorang pejuang lautan yang tangguh dan seorang mujahid kendati orang Eropa menyebutnya sebagai ‘Bajak Laut’. Selama masa hidupnya, sebagian besar wilayah Afrika Utara berhasil dibebaskan dari penjajahan Eropa dan perairan Mediterania berhasil diamankan. Setelah wafatnya, kedudukan Khairuddin Barbarossa sebagai Kapudan Pasha dipegang oleh Turgut Reis hingga yang terakhir ini syahid pada tahun 1565 dalam pertempuran menghadapi ordo Saint John di Pulau Malta.
[MuslimDaily/Voa-Khilafah.com]
Sumber:
Alwi Alatas. 2009. Khairuddin Barbarossa: Bajak Laut atau Mujahid? Sabili No. 13 TH. XVI 15 Januari 2009 / 18 Muharram 1430, hal. 124-132 [Edisi Khusus “The Great Muslim Traveler”] Alwi Alatas, Gereja dan Inkuisisi Spanyol pada http://alwialatas.multiply.com/journal/item/83/Gereja-dan-Inkuisisi-Spanyol John Foxe, 2001. Foxe’s Book of Martyrs, Kisah Para Martir tahun 35-2001, Andi Muhammad Ali Quthub. 1993. Fakta Pembantaian Muslimin di Andalusia. Solo: Pustaka Mantiq http://www.andalucia.cc/adn/0697per.htm http://www.hrionline.ac.uk/johnfoxe/intro.html http://www.ccel.org/f/foxe/martyrs/home.html Wikipedia.org
Footnote:
1Kelompok tentara, penjelajah, dan petualang yang melayani Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Portugis dalam usaha penaklukan wilayah Semenanjung Iberia yang telah dikendalikan oleh berbagai negara Muslim Mereka berlayar di luar Eropa, untuk menaklukkan wilayah dan membuka rute perdagangan, dan membuka wilayah penjajahan untuk Spanyol dan Portugal.
2Pulau Lesbos saat ini merupakan sebuah pulau di Yunani yang terletak di Laut Aegea. Pulau ini terletak 320 km dari pantai barat Yunani. Pada tahun 2001, pulau ini memiliki jumlah penduduk 90.643 jiwa dan memiliki luas wilayah 1.632 km².
Istilah “lesbian” yang mendunia berasal dari pulau Lesbos ini. Itu bermula dari kisah dewi dan penyair dari mitologi Yunani, Sappho. Kata “lesbian” diambil dari kata Lesbos, tempat kelahiran penyair Sappho. Ia banyak menulis syair-syair cinta terhadap sesama perempuan pada abad ketujuh sebelum Masehi. Kata-katanya yang penuh luapan emosi dinyanyikan, dengan iringan kecapi. Di zaman Yunani purba sangatlah jarang seorang perempuan menulis puisi. Lebih jarang lagi seorang perempuan menulis puisi, apalagi mengungkapkan perasaan terhadap sesama perempuan. Konon, Shappo, kala itu, dipuji-puji oleh pemikir Yunani seperti Plato yang menyebutnya ‘dewi kesenian kesepuluh’. Dari cerita ini, tiba-tiba Shappo diyakini sebagai cikal-bakal lahirnya kelainan seksual dan penyuka sesama jenis. Munculnya istilah “lesbian” tak lain mengambil nama tempat di mana Shappo lahir dan tinggal, yakni Pulau Lesbos. Sejak itu hingga kini, Pulau Lesbos menjadi semacam menjadi tempat ziarah bagi kaum perempuan menyimpang penganut sesama jenis, lesbian.
3Menurut sebuah sumber, ibu Khairuddin merupakan wanita muallaf Yunani lokal dari Mytilene, yang sebelumnya memeluk Kristen. Ia janda seorang pendeta Kristen Ortodoks. Kakek Khairuddin dari jalur ibunya bernama Vardari Yakup Aga yang disebut sebagai pemberontak Yunani dari Mytilene.
4Baca kisahnya memilukan ini pada artikel berikut: Jatuhnya Granada & Awal Mula Penindasan Kristen Terhadap Umat Islam di Andalusia
5Nama Barbarossa sering diidentikkan dalam stigma negatif oleh Barat dalam cerita-cerita modern. Dalam film Pirates of Caribean, ada sosok fiktif Barbarossa yang menjadi tokoh antagonis. Ia diperlihatkan sebagai bajak laut yang ganas dan kejam. Di Komik Asterix dan Obelix, Barbarossa juga digambarkan sebagai bajak laut perampok. Nama “Barbarossa” lain juga biasa digunakan untuk menyebut julukan bagi kaisar Jerman Friedrich I yang tewas dalam Perang Salib abad ke-12. Nama Barbarossa terakhir kemudian dijadikan sebagai nama operasi militer Hitler dalam salah satu operasi militernya.
Keterangan Gambar:
1. Portrait of Barbaros Hayreddin Pasha (Wikipedia)
2. Benteng St. Peter Knights Hospitaller di Bodrum tempat Aruj Barbarossa ditahan (Wikipedia)
3. Aruj Barbarossa (Wikipedia)
4. Lukisan Perang Laut Preveza antara Armada Khairudin Barbarossa dengan Charles V (Wikipedia)