Tampilkan postingan dengan label WALL STREET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WALL STREET. Tampilkan semua postingan

Occupy Wall Street , Syariah Islam Solusinya !

Voa-Khilafah.co.cc - Gerakan Occupy Wall Street menjalar keseluruh dunia. Berawal dari demonstrasi yang dilakukan di Wall Street, Washington DC, kemarahan terhadap kapitalisme muncul dimana-manaOccupy Wall Street, cerminan kemarahan dan kebencian massif terhadap kapitalisme global. Mereka mengecam bankir, pelaku sektor finansial plus politisi yang menjadi aktor kapitalisme global yang menyebabkan kemiskinan dan penderitaan rakyat di dunia. Kapitalisme dikecak sebagai ideologi kriminal yang rakus, menindas, dan melakukan ketidakadilan sistematis.

Mereka mengecam pelaku bisnis besar yang  rakus dan hanya memikirkan keuntungan dengan menghalalkan segala  cara. Kecaman yang sama ditujukan kepada pemerintah dan kongres yang selalu lebih mengutamakan kepentingan   korporasi kaya dengan kebijakannya. Mereka membawa poster yang menggambarkan realita ini : The real terrorists are in the White House, Congress, and Wall Street (Terorisme sesungguhnya ada di Gedung Putih, Kongres dan Wall Street).

Mereka marah terhadap sikap pemerintah Amerika yang lebih memihak kepada pemilik modal. Kompas (Rabu, 12 Oktober 2011) menyebutkan dosa-dosa korporasi ini. Saat krisi di Amerika tahun 2008, pemerintah mengucurkan dana yang besar untuk perusahan-perusahan besar seperti AIG perusahan asuransi raksasa. Dari pajak, pemerintah AS mengucurkan dana sebesar 170 miliar dolar. Ternyata kinerja AIG terpuruk karena memegang obligasi beragun aset KPR (mortgage). Obligasi itu ternyata kertas belaka yang membuat keuangan AIG berdarah-darah. Setelah mendapatkan dana talangan, manajemen AIG justru melanjutkan tradisi bagi-bagi bonus seperti tidak terjadi sesuatu apa pun. Dana sebesar 165 juta dollar dibagikan untuk membayar bonus para eksekutif yang jelas-jelas tidak memimpin dan malah menjebloskan perusahaan.

Perdagangan di pasar saham tak kalah curangnya. Rajaratnam (53) dituduh mendapatkan keuntungan secara tidak sah dari pasar modal sebesar 63,8 juta dollar AS dalam kurun waktu tujuh tahun. Rajaratnam adalah pemimpin dan pendiri salah satu hedge fund terbesar dunia, Galleon, yang mengelola dana investasi 7 miliar dollar AS pada tahun 2008. Sesumbarnya sebagai analisis saham ternyata karena sering mendapat bocoran bahkan mencuri dari berbagai kalangan.

Terdapat juga skandal Madolf yang disebut-sebut sebagai skandal terbesar sejarah finansial AS. Dia menipu para investor dengan menggunakan skema ponzi. Madoff pun mengambil keuntungan pribadi dari aksi ini. Dia memliki apartemen mewah, perhiasan, dan barang mewah lainnya..kema ini hanya memutarkan uang dari investor baru untuk menutupi investor lama. Korbannya tidak hanya orang kaya, tetapi juga para pensiunan yang berharap dapat pensiun nyaman dengan uang yang mereka investasikan lewat karya Madoff. Impian mereka kandas karena uang pensiun mereka menguap di tangan Madoff.

Tentang kegoncangan pasar saham ini, Hizbut Tahrir pada November 1997, telah menganalisis dan memprediksi kegoncangan kapitalisme ini . Dalam booklet “Sebab-sebab Kegoncangan Pasar Modal dan Hukum Syara-nya” telah menjelaskan tiga penyebab utama krisis yang terus berulang ini yaitu sistem perseroan terbatas, perbankan ribawi dan sistem uang kertas inkonvertibel (fiat money) yang tidak berbasis emas dan perak.

Dalam kritiknya , Hizbut Tahrir menjelaskan, semua pasar modal yang memperdagangkan saham perusahaan atau surat utang sesungguhnya lebih rapuh daripada sarang laba-laba. Perdagangan saham itu lebih banyak didasarkan kepada ‘trust’ (kepercayaan) bahwa harga berbagai saham dan surat berharga itu akan terus menerus naik. Ditambah ketamakan untuk mendapatkan keuntungan dari harga saham yang dijual.

Akan tetapi, ‘ kepercayaan’ tersebut suatu saat dapat goyah karena sebab-sebab yang bisa diprediksi ataupun tidak. Pasar menjadi goncang dan banyak pemilik saham berlomba-lomba menjual sahamnya untuk meraup laba dari kenaikan harga saham diperkirakan. Ketika semua pemilik saham berlomba-lomba menjual sahamnya secepat mungkin akhirnya jatuhlah harga saham. Hal ini tentu saja semakin mendorong pihak lain untuk menjual sahamnya. Akibatnya harga saham terus menerus merosot sampai ke titik terendah. Inilah peristiwa yang pernah terjadi pada tahun 1929 atau yang hampir terjadi tahun 1987, dan mungkin kembali terjadi pada waktu dekat ini.

Jadi motifasi sesungguhnya dari perdagangan saham, bukanlah investasi riil tapi mendapat keuntungan dalam waktu yang cepat. Kenyataan ini membuktikan terpisahnya hubungan antara pasar modal dengan sektor ekonomi riil dan fakta perusahaan. Maka pasar modal pun akhirnya berubah menjadi kasino besar (big casino) untuk ajang perjudian. Artinya, spekulasi telah mendominasi pasar modal dan fluktuasi harga yang sangat ekstrem dan berulang telah menjadi watak dari pasar modal tersebut. Inilah yang membuat ekonomi dunia gampang mengalami kegonjangan.

Adapun sistem perbankan ribawi (usurious banking system), sebenarnya merupakan biang bencana dalam sistem ekonomi kapitalis. Sebab, bank telah diberi hak untuk menghimpun dana dari masyarakat (yang disebut simpanan), mengelola simpanan tersebut seolah-olah merupakan milik bank sendiri dan bukan milik para penyimpan, serta mendistribusikan dana tersebut dengan cara mengkreditkannya kepada para investor dan pengusaha -termasuk para pedagang saham di pasar modal atau menyimpan sendiri- dengan memungut riba yang telah diperhitungkan untuk setiap kredit (pinjaman).

Namun pendistribusian dana masyarakat tersebut sesungguhnya tidak bersifat netral. Sebab para pemilik bank -mayoritasnya adalah para investor dan grup perusahaan mereka sendiri- mendapat prioritas utama untuk memperoleh kredit bank dengan suku bunga rendah,baru kemudian pihak lain dengan alasan pertimbangan resiko kerugian. Prioritas berikutnya adalah para pengusaha kecil, lalu menyusul para konsumen dari kalangan masyarakat umum. Karenanya sistem ribawi ini secara alamiah akan membuat dana masyarakat hanya berputar pada kalangan terbatas yang sedikit jumlahnya.

Cacat prinsipil lain adalah tipu daya mata uang kertas, seakan-akan memiliki nilai. Padahal uang tersebut tidak mempunyai nilai intrinsik apa pun. Meskipun demikian, undang-undang negara tetap memaksakan pemberlakuannya dan menganggapnya dapat digunakan untuk melunasi utang dan membayar hak-hak (klaim) di depan pengadilan.

Berdasarkan hal itu, kita dapat melihat bahwa pada negara yang lemah -di mana stabilitas politik dan kewibawaan- nya dapat digoncang dengan mudah- uang kertasnya akan menjadi sangat lemah, sehingga dalam banyak kasus para penguasanya akan mengurangi nilai mata uangnya terhadap mata uang lain (devaluasi). Tujuannya adalah agar mereka dapat memulai lagi “permainan kepercayaan” tadi dan berhasil menipu rakyat dalam hal nilai mata uang.

Pendudukan Wall Street berkembang menjadi tuntutan perubahan dalam kebijakan kapitalisme Amerika Serikat termasuk dalam politik. Dalam situs https: occupywallst.org , gerakan ini mengajukan beberapa tuntutan antara lain: menghentikan ketidaksetaraan antara kaya dan miskin di Amerika, mengingat 400 orang terkaya Amerika memiliki kekayaan melebihi total kekayaan setengah penduduk Amerika; menuntut penghapusan sensor yang dilakukan korporasi besar, seperti Yahoo yang berbohong dengan memasukkan occupywallst.org di filter spam; sekitar delapan 80 % rakyat Amerika mengganggap negara itu pada jalur yang salah, mereka menuntut menghentikan era modern kejayaan yang palsu; menghentikan political corruption yang dilakukan kongres; kira-kira seperenam rakyat Amerika tidak memiliki pekerjaan, karena mereka menuntut diakhiri pengangguran; menghentikan kemiskinan rakyat Amerika, mengingat saat ini kira-kira seperenam rakyat Amerika hidup dalam kemiskinan; Amerika harus menghentikan imperialismenya yang tampak dari pangkalan militer Amerika yang menyebar di 165 negara;tuntutan lain adalah agar Amerika menghentikan perangnya diseluruh dunia.

Tidakkah cukup bagi kita melihat semua ini untuk mencampakkan ideologi kapitalisme dalam kehidupan kita ? Padahal mereka sendiri sudah mengkritik sistem kapitalisme yang selama ini mereka banggakan. Kapitalisme telah terbukti cacat dan menyengsarakan, maka sungguh aneh kalau masih ada kaum muslim yang percaya dan mengekor kepada negara-negara Kapitalis. Padahal mereka sebagai jawara dan jantungnya kapitalis dunia terancam runtuh.

Kalau gerakan Occupy Wall Street tidak memiliki konsep solusi yang jelas, umat Islam sesungguhnya sudah memiliki pilihan pengganti yang jelas yakni syariah Islam yang bersumber dari Allah SWT. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberadaan sistem khilafah untuk menerapkan sistem Islam itu. Disinilah pentingnya kita sama-sama memperjuangkan khilafah Islam yang akan menggantikan negara kapitalisme global yang telah menyengsarakan umat manusia. (Farid Wadjdi)

(hti/voa-khilafah.co.cc)

Menggugat Wall Street, Menggugat Kapitalisme?


Voa-Khilafah.co.cc - Gerakan demonstrasi menentang keserakahan Wall Street di AS belakangan ini makin meluas. Gerakan yang bertema Occupy Wall Street itu, menggugat simbol pasar finansial Kapitalisme di AS itu karena dianggap sebagai salah satu penyebab ambruknya perekonomian Amerika Serikat.  Selain itu, mereka juga memprotes ketidakadilan ekonomi dan sosial yang dilambangkan oleh para eksekutif Wall Street, keserakahan lembaga-lembaga finansial. Mereka juga menyerukan penghentian intervensi para kapitalis melalui lobi dan dana mereka terhadap pemerintah.  Michael Moore, aktivis gerakan tersebut dan juga sutradara yang sering mengkritik kegagalan Kapitalisme di AS, menyatakan bahwa tuntutan Occupy Wallstreet adalah pernyataan bersama atas korupsi yang berlangung di pemerintahan dan kuatnya pengaruh bisnis raksasa dan satu persen orang-orang kaya AS terhadap UU dan kebijakan AS.
Meskipun demikian sejumlah kalangan juga melancarkan kritik atas aksi occupy wallstreet tersebut. Pasalnya eksistensi dan sepak terjang Wall Street merupakan konsekuensi dari kelemahan bank sentral AS Federal Reserve dan Legislatif dalam menekurkan undang-undang yang membatasi gerak para investor. Bahkan Henry Paulson sekalipun - menteri Keuangan AS yang juga mantan CEO Goldman Sachs - turut mengakui bahwa krisis yang menimpa sektor finansial akibat terlalu bebasnya sektor  tersebut sehingga diperlukan lebih banyak regulasi. Meskipun demikian, suara-suara untuk membenahi  sektor tersebut hingga kini belum terwujud.
Wall Street sendiri merupakan kawasan finansial di New York dimana bursa saham terbesar di dunia New York Stock Exchange dan sejumlah lembaga keuangan raksasa seperti Goldman Sachs Group dan Morgan Stanley berkantor.  Beberapa perusahaan keuangan raksasa seperti  JP Morgan dan Citigroup meski tidak lagi berkantor di kawasan tersebut masih dikategorikan sebagai perusahaan-perusaahaan Wall Street.
Pengaruh Modal
Bukan rahasia lagi jika setiap kandidat presiden hingga parlemen di AS senantiasa menjadikan Wall Street sebagai sumber pendanaan kampanye mereka. Bahkan sejumlah pejabat pemerintah AS seperti Menteri Keuangan Robert Rubin di Era Bill Clinton dan Henry Paulson pada masa George W. Bush merupakan mantan CEO Goldman Sachs, perusahan raksas Wall Street. Bahkan Obama sekalipun yang berjanji mengurangi perngaruh lobi Wall Street juga takluk dibawah pengaruh para pemodal raksasa tersebut. Beberapa saat lalu misalnya Obama mengadakan perjamuan khusus dengan para eksekutif Wall Street termasuk diantaranya Burrent Buffet, salah satu orang terkaya dunia untuk meminta restu peningkatan pajak bagi orang kaya di AS.  Kepala staf Menteri Keuangan Timothy Geithner juga dipimpin oleh mantan pelobi Goldmann Sachs Mark Patterson. Bahkan menurut laporan Washington Examiner Goldman Sachs merupakan penyumbang terbesar kampanye Obama tahun 2008.  Dalam buku Sold Out: How Wall Street & Washington Betrayed America, disebutkan daftar belanja kampanye dan lobby lembaga-lembaga finansial (perbankan, asuransi, investasi, real estate). Untuk periode 1998-2008 dana kampanye sektor tersebut sebesar US$1,7 miliar dan dana lobby sebanyak US$ 3,4 miliar.
Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa regulasi terhadap sektor finasial di AS tidak pernah mampu membatasi keserakahan para pemodal di Wall Street. Bahkan yang terjadi adalah deregulasi yang memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakan dan mengembangkan produk dan model transaksi keuangan derivatif. Padahal kerap kali krisis ekonomi yang terjadi di negara tersebut justru bersumber dari Wall Street. Tidak heran ketika Jerman dan Perancis yang didukung oleh negara-sejumlah negera Eropa pada forum G-20 meminta agar para spekulan di sektor finansial ditertibkan dengan menerapkan pajak transaksi keuangan, namun pemerintah AS serta merta menolak gagasan tesebut.  Padahal kegiatan spekulasi di pasar modal merupakan salah satu bagian yang memicu krisis finansial dalam sistem kapitalisme.
Krisis finansial 2008 lalu yang ditandai dengan bangkrutnya Lehman Brother merupakan salah satu buah dari keserakahan dari sektor finansial Wall Street.  Triliunan rupiah dana yang bersumber dari para pembayar pajak AS dipakai untuk menyelamatkan sektor finansial tersebut. Meski alasannya untuk menyelamatkan perekonomian secara makro, namun kebijakan tersebut memiliki tendensi politik yang cukup kental untuk menyelamatkan perusahaan-perusahan tersebut. Parahnya, di tengah krisis tersebut, para petinggi perusahaan-perusaahan Wall Street masih mendapatkan bonus yang sangat fantastis. Keserakahan di Wall Street juga tercermin dari banyak kasus kriminalitas kerah putih seperti pemalsuan dan penipuan. Salah satu kasus yang cukup heboh adalah penipuan yang dilakukan oleh Maddof yang diganjar 150 tahun akibat penipuan terhadap nasabahnya yang mencapai US$ 65 miliar atau sekitar 585 triliun! Kasus Enron, World Com merupakan contoh lain bobroknya sistem finansial Kapitalisme. Belakangan Goldman Sach juga digugat  di pengadilan karena dituduh memanipulasi dan menghilangkan sebagaian data data produk subrime mortgage (CDO).
Korporatokrasi
Kebobrokan Wall Street yang kini makin mendapatkan penolakan dari para penganut Kapitalisme sendiri setidaknya menujukkan beberapa pelajaran antara lain:
Pertama, besarnya ketergantungan modal terhadap para pejabat pemerintah membuat kebijakan mereka lebih berpihak pada pemodal ketimbang rakyat. Meski rakyat yang menjadi pemilih, namun dalam sistem demokrasi untuk mendapatkan simpati dan dukungan tersebut kekuatan modal menjadi kunci untuk memenangkan persaingan dalam meriah dukungan publik. Konsekuensinya tatkala kemenangan diraih maka kebijakan mereka menjadi bias sehingga lebih berpihak kepada kepentingan para pemodal yang kadangkala bertentangan dengan kepentingan rakyat. Inilah yang kerap disebut dengan korporatokrasi yakni pemerintahan yang dipengaruhi bahkan dijalankan sesuai dengan kepentingan para pemilik perusahaan.
Kedua, wall street merupakan cermin bagaimana sistem finansial kapitalisme hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan rakyat dan pemerintah. Keuntungan yang didapat dari sektor finansial memang amat menggiurkan. Berbekal analisa dan spekulasi, para investor dapat melipatgandangan keuntungan tanpa perlu banyak ‘berkeringat’. Namun demikian, tatlaka terjadi krisis para investor kemudian menuntut pemerintah untuk campur tangan. Dana talangan yang diguyurkan pemerintah AS, Uni Eropa hingga Indonesia guna menjaga stabilitas finansial merupakan bukti betapa besarnya dana publik yang dihabiskan untuk hal tersebut. Di Indonesia dapat dilihat pada kasus bank Century yang menyedot anggaran sebesar Rp 6,7 triliun dengan alasan akan berdampak sisitemik terhadap kondisi perekonomian jika tidak diselamatkan. Kemudian terbukti menurut investigas BPK, bail out tersebut mengandung banyak cacat hukum dan kerugian bank tersebut akibat keserakahan pemilikya sendiri.
Ketiga, krisis kegoncangan dan penipuan yang berlangsung di wall street dan sistem finansial kapitalisme lainnya menunjukkan rapuhnya sistem kapitalisme. Banyak yang beralasan bahwa ambruknya sistem keuangan AS akibatnya terlalu liberalnya sistem tersebut sehingga solusinya diperlukan regulasi yang lebih ketat. Akan tetapi jika merunut sejarah sistem finansial kapitalisme, di didapati bahwa sepanjang sejarahnya sistem tersebut senantiasa dihamtam krisis. Padahal berbagai regulasi telah diberlakukan dan sejumlah otoritas pengawas dibuat untuk mengamankan para pelaku di sektor tersebut. Di sisi lain dengan adanya doktrin kebebasan memiliki dan berprilaku seringkali regulasi yang ada tidak mampu mengimbangi perkembangan model produk di sektor finansial yang tumbuh dengan cepat.  Selain itu, adanya conflict  of interest antara regulator dan pelaku pasar seringkali menjadi celah terjadinya krisis.
Keempat, Kebobrokan sistem ekonomi kapitalisme yang kini mulai digugat sendiri oleh para pengusungnya menunjukkan bahwa betapa sebenarnya masyarakat dunia sudah muak dengan sistem kapitalisme dan membutuhkan sistem yang adil, stabil dan mampu memberikan kesejahteran secara menyeluruh dan berkesinambungan. Padahal tidak ada sistem yang lebih adil dan bijaksana selain sistem yang berasal dari Allah SWT pecipta alam semesta. (M.Ishak/Lajnah Mashlahiyah HTI)
(hti/voa-khilafah.co.cc)
Protes Wall Street Berkembang Jadi Protes Washington

Protes Wall Street Berkembang Jadi Protes Washington

Voa-Khilafah.co.cc -  “Protes Wall Stret” yang telah berlangsung selama tiga minggu kini berkembang menjadi aksi “protes Washington”. Ratusan pengunjuk rasa berdemonstrasi di ibukota Amerika Serikat (AS), Washington, Minggu (9/10) atau Senin (10/10) WIB. Para demonstran marah dengan kesediaan pemerintah AS untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan kaya sementara mengabaikan kesulitan mayoritas warga AS. Protes Washington dikenal juga dengan sebutan gerakan “Pendudukan Washington DC”.

Lebih dari 200 demonstran berjalan menuju Freedom Plaza, dekat Gedung Putih. Sementara sebuah kelompok demonstran lainnya menuju Malcolm X di barat laut Washington. “Kami tidak memerlukan perusahaan besar, kami hanya butuh pekerjaan. Tapi pemerintah hanya peduli tentang Exxon dan Wall Street,” kata guru sains dari Pennsylvania, Lana Ferree.

Situs “Protes Washington DC” (The Occupy DC) menyatakan bahwa gerakan itu dibangun mencontoh gerakan “Protes Wall Street” yang telah berjalan di New York sejak 17 September. Kedua kelompok anti kapitalis itu marah terhadap meningkatnya ketidakadilan ekonomi yang terjadi di AS, di tengah krisis keuangan global.

“Fokus kami adalah pada perekonomian, korupsi perusahaan terhadap sistem politik kami dan dampak negatif dari kepribadian perusahaan,” kata situs The Occupy DC yang menghindari menunjuk juru bicara gerakan. Minggu lalu, Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa “Protes Wall Street” di New York dan di luar itu merupakan ekspresi kemarahan publik dan frustasi terhadap ketamakan bankir dan sebuah perekonomian yang sekarat, dengan tingkat pengangguran mencapai 9,1 persen.

“Protes Wall Street” dan “Protes Washington DC” mendapat kritikan dari media karena kurang memiliki tujuan khusus. Meski demikian media lokal The New York Times dalam tajuknya membela para demonstran dengan menekankan bahwa aksi protes itu merupakan perlawanan kembalinya perekonomian kepada cara-cara Wall Street yang menjerumuskan negara itu kepada krisis ekonomi.

The New York Times menyatakan tugas pemimpin bangsa untuk membuat undang-undang memperbaiki perekonomian negara. Protes Wall Street telah menjadi perdebatan umum di kalangan para calon presiden AS 2012. Salah satu kandidat calon Presiden AS dari partai Republik, Herman Cain menuding meluasnya aksi “Protes Wall Street” sebagai “Anti Amerika”
“Meski kita memiliki tantangan. Saya menyakini bahwa aksi protes itu lebih pada anti kapitalisme dan anti pasar bebas,” ucapnya. (suarapembaruan.com, 10/10/2011)

(hti/voa-khilafah.co.cc)
Demo Anti-Politik Ekonomi AS Menular ke Inggris

Demo Anti-Politik Ekonomi AS Menular ke Inggris


Voa-Khilafah.co.cc - Demonstrasi massif di Amerika Serikat kini telah merambat ke wilayah Eropa. Sama seperti gerakan Ocupy Wall Street, warga Inggris akan meluncurkan protes dengan slogan Ocupy London’s Stock Exchange” pada 15 Oktober dalam rangka menunjukkan keputusasaan mereka terhadap pemerintahan koalisi.

Press TV melaporkan (10/10), seperti yang diperkirakan, warga Inggris mengikuti jejak warga Amerika dalam menunjukkan kemarahkan mereka terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam sebuah langkah simbolis, ratusan aktivis Inggris menduduki Westminster Bridge pada Ahad (9/10) dalam rangka mencegah ratifikasi reformasi RUU National Health Service (NHS) di House of Lords.

Langkah itu dinilai meniru aksi para demonstrasn Amerika yang menduduki Brooklyn Bridge di New York.

Namun demo di Westminster itu baru babak awal menyusul rencana ribuan warga Inggris untuk berpartisipasi dalam kampanye Ocupy London’s Stock Exchange.

Sebuah laman Facebook bernama “Occupy London’s Stock Exchange” juga telah mendapat sambutan lebih dari 5.000 orang. Dalam laman tersebut warga Inggris diimbau bergabung dengan protes yang akan digelar pada tanggal 15 Oktober mendatang.

Sementara itu, lebih dari 1.500 pengguna jasa Twitter juga telah menyatakan kesediaan mereka untuk bergabung dengan gerakan pada 15 Oktober nanti. (irib/gm/voa-khilafah.co.cc, 11/10/2011)
SIMBOL KAPITALISME WALL STREET DIPROTES : Tanda-tanda Kehancuran Kapitalisme?

SIMBOL KAPITALISME WALL STREET DIPROTES : Tanda-tanda Kehancuran Kapitalisme?


308824_10150316006755658_175817530657_8545171_1351023105_n.jpg (600ร—312)
Voa-Khilafah.co.cc Sejak pertengahan September 17/09/2011, gerakan protes terhadap sistem kapitalisme di New York, dan khususnya di Manhattan, di mana di Wall Street es semakin membesar seperti bola salju, dengan nama “Duduki Wall Street“. Para demonstran berteriak, “bank-bank diselamatkan, sementara kami dijual“; mengusung slogan “para teroris uang“; dan mengulang nyanyian ” 99% rakyat tidak lagi menerima gaji dari korupsi 1% yang tersisa“.


Dalam aksi tersebut, 80 orang telah ditangkap. Kemudian protes pindah ke Jembatan Brooklyn, dan mendirikan tenda berhadapan dengan Wall Street, dan polisi pun menangkap 700 orang. Namun peserta aksi bukannya semakin surut, malah terus membesar seperti bola salju. Bahkan aksi itu terus meluas ke Paris. Dan bulan ini akan berlangsung di Belgia. Sebagaimana aksi itu juga terus meluas di dalam Amerika sendiri, di Chicago dan Los Angeles.


Semua ini terjadi termasuk dalam lingkaran domino jatuhnya ideologi kufur komunisme. Kemudian kami menyaksikan krisis ideologi kapitalis, yang sedang menunggu orang yang akan menarik tongkat lemah yang menjadi sandaran Barat hingga mereka jatuh selamanya bersama dengan ideologinya, Insya Allah.


Di sini kami juga menyaksikan lingkaran domino mematikan dengan menyaksikan ketidakmampuan kekuatan terbesar di Irak dan Afghanistan.


Kami juga melihat bukti kepasrahan dan ketidakmampuan melalui pernyataan Menteri Pertahanan AS Robert Gates sebelum pengunduran dirinya, ketika berada di depan mahasiswa “Akademi Militer West Point”, di mana ia berkata: “Setiap menteri pertahanan AS siapapun di masa yang akan datang-sebagai nasihat bagi Presiden-yang akan mengirim pasukan militer ke Timur Tengah atau ke mana saja, harus dikenakan pemeriksaan medis untuk memastikan keselamatan dan kekekuatan mentalnya.”


Termasuk dalam lingkaran domino adalah munculnya wajah Barat yang buruk di mata dunia, khususnya di mata kaum Muslim melalui kartun Nabi Muhammad Saw, penghinaan atas Islam, pelarangan menara dan hijab, serta seruan terhadap berbagai jenis penyimpangan seks dalam konferensi perempuan dan penduduk.


Termasuk juga dalam lingkaran domino adalah jatuhnya para penguasa tiran dan despotis satu per satu, serta munculnya para penguasa lemah, pengecut dan munafik.


Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berupa kampanye pembersihan yang dengannya Allah menjatuhkan segala kejahatan, para pelakunya, para thagutnya dan ideologinya, maka semua itu tidak lain kecuali pengantar bagi kabar gembira yang disampaikan Nabi ash-shรขdiq al-amรฎn (yang benar perkataannya dan dapat dipercaya), yang menyampaikan kabar gembira bahwa setelah runtuhnya pemerintah despotisme (al-hukm al-jabriy) akan datang Khilafah-sistem pemerintahan Islam-yang sesuai dengan metode kenabian. Pada saat itulah Hizbut Tahrir dapat memimpin umat yang akan mengembalikan kekuasaannya, kemuliaan dan kehormatannya, serta membebaskannya dari perbudakan Barat dan para penguasa zalim boneka kaum kafir. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (gm/voa-khilafah.co.cc)

Rakyat AS Muak dengan Washington


Voa-Khilafah.co.cc - Di balik aksi anti-Wall Street, banyak demonstran di New York dan kota-kota lain di Amerika Serikat mengaku muak dengan pemerintah di Washington. Mereka menuding politisi dari dua partai besar, Demokrat dan Republik, lebih melindungi perusahaan dengan mengorbankan kelas menengah.
Gerakan Pendudukan Wall Street, yang dimulai bulan lalu oleh segelintir pemuda dengan mendirikan tenda di depan Bursa Efek New York, telah meluas menjadi gerakan berskala nasional. Gerakan itu telah melibatkan beberapa aktivis, mahasiswa, serikat pekerja, dan buruh yang dipecat dari perusahaan.
Pengunjuk rasa, Kamis (6/10), berbaris di New York dengan menduduki Wall Street. Aksi ini juga berlangsung di Philadelphia, Salt Lake City, Los Angeles, dan Anchorage, Alaska. Mereka mengusung spanduk berbunyi ”Dapatkan Uang dari Politik” dan ”Saya Tidak Bisa Menjadi Pelobi”.
”Pada titik ini, saya tak melihat ada perbedaan antara George Bush dan Barack Obama. Kelas menengah jauh lebih buruk daripada saat Obama terpilih,” kata John Penley, pekerja legal dari Brooklyn yang kini menganggur.
Kaum demonstran dalam beberapa hal adalah sisi lain gerakan liberal ultrakonservatif Tea Party, yang diluncurkan tahun 2009. Gerakan Tea Party adalah reaksi populis atas talangan bank dan talangan otomatis serta rencana stimulus ekonomi sebesar 787 miliar dollar AS.
Jika aktivis Tea Party pada akhirnya menjadi bagian penting dari koalisi Partai Republik, gerakan Pendudukan Wall Sreet mengkritik kurang ngototnya Presiden Obama. Mereka mengatakan, Obama gagal menindak bank-bank setelah krisis hipotek tahun 2008 dan krisis keuangan.
”Ia bisa saja mengambil sikap, jauh lebih populis, agresif di awal melawan bonus-bonus Wall Street, menuntut perubahan tertentu dengan membantu bank,” kata Michael Kazin, profesor sejarah Universitas Georgetown dan penulis American Dreamers, sejarah sayap kiri. ”Pada akhirnya, ekonomi belum juga membaik dan itu menggarisbawahi rasa frustrasi pada kanan dan kiri.”
Aktivis menyatakan frustrasi yang mendalam dengan kebuntuan politik Washington yang didominasi Demokrat. Sebagian lain menyalahkan Republik karena memblokade reformasi yang dilakukan Obama.(kompas.com/hti/voa-khilafah.co.cc,8/10/2011)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL