Tampilkan postingan dengan label WTC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WTC. Tampilkan semua postingan
Rodriguez Kembali Tegaskan 9/11 adalah Konspirasi

Rodriguez Kembali Tegaskan 9/11 adalah Konspirasi


Voa-Khilafah.co.cc - Seorang warga AS yang dianggap pahlawan pada insiden penyerangan menara kembar di New York 9/11, William Rodriguez, hari Minggu kemarin (20/11) menegaskan kembali bahwa serangan 11 September itu hanyalah konspirasi.
Berbicara kepada AA, Rodriguez, yang pindah ke Amerika Serikat untuk menjadi seorang pesulap, mengatakan bahwa ia berada di gedung WTC di pagi hari 11 September 2001 dan telah mendengar ledakan di entry level bangunan sebelum serangan pesawat terjadi.
"Serangan 11 September dibuat untuk membenarkan masuknya Amerika ke Irak. Saya tidak bisa menerima tuduhan yang dibuat terhadap umat Islam. Ada ledakan di gedung sebelum pesawat menabrak apapun. Ini adalah konspirasi," Rodriguez mengatakan.
"Saya yakin bahwa realitas di balik serangan 11 September akan datang ke permukaan suatu hari nanti," Rodriguez mengatakan.
Rodriguez menjadi pahlawan nasional AS ketika ia membantu menyelamatkan banyak orang dari puing-puing menara kembar setelah insiden penyerangan menara kembar terjadi.
Tidak beberapa lama setelah itu Rodriguez masuk Islam. Keputusannya untuk berpindah agama membawanya ke puncak agenda di Amerika Serikat dan dunia.(fq/aa/eramuslim/voa-khilafah.co.cc)
SBY dan "9 Malapetaka Terorisme"

SBY dan "9 Malapetaka Terorisme"


Voa-Khilafah.co.cc - FAKTA: Hari Minggu, 25 September 2011, sekitar pukul 10.55 WIB, seorang pemuda, diperkirakan usia 31 tahun, melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Kepunton Solo. Akibat aksi ini satu orang tewas -dengan usus terburai- yaitu si pelaku peledakan itu sendiri, dan puluhan jemaat gereja terluka. Menurut kabar, pelaku peledakan itu diperkirakan namanya Ahmad Yosefa.
Pagi hari terjadi peledakan bom, sore harinya SBY langsung membuat konferensi pers. Isi konferensi pers: dia menyebut peledakan itu sebagai aksi pengecut, dia menyebut pelaku peledakan itu ialah “jaringan Cirebon”, dan dia kembali memastikan bahwa Indonesia belum aman dari aksi-aksi terorisme.
Pernyataan SBY ini setidaknya mengandung dua masalah besar: Pertama, dia begitu cepat memastikan bahwa pelaku peledakan itu adalah ini dan itu. Hanya berselang beberapa jam SBY sudah memastikan, padahal hasil penyelidikan resmi dari Polri belum dikeluarkan. Hal ini mengingatkan kita kepada Tragedi WTC 11 September 2001.
Waktu itu media-media Barat sudah memastikan bahwa pelaku peledakan WTC adalah kelompok Usamah, hanya sekitar 3 jam setelah peristiwa peledakan. Seolah, SBY sudah banyak tahu tentang seluk-beluk aksi bom bunuh diri di Kepunton Solo tersebut.
Kedua, SBY untuk kesekian kalinya tidak malu-malu mengklaim bahwa kondisi Indonesia masih belum aman dari aksi-aksi terorisme. Kalau seorang pemimpin negara masih berakal sehat, seharusnya dia malu dengan adanya aksi-aksi terorisme itu.
Tetapi sangat unik, SBY tampaknya sangat “menikmati” ketika kondisi Indonesia tidak cepat lepas dari aksi-aksi terorisme.
Bila Masanya Tlah Tiba, Seseorang Akan Dikejar Bencana, Sekalipun Dia Bersembunyi di Pucuk Gunung Atau Liang Semut...
Setiap ada aksi terorisme, dimanapun juga, termasuk di Indonesia, kaidahnya sederhana. Aksi terorisme bisa dibagi menjadi 3 jenis:
(a). Aksi yang benar-benar murni dilakukan oleh pelaku terorisme dengan alasan ideologis. Mereka melakukan teror karena kepentingan ideologi, dan menjalankan aksi itu dengan persiapan-persiapan sendiri. Aksi-aksi yang dilakukan oleh IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, atau kelompok David Coresh di Amerika termasuk jenis ini;
(b). Aksi terorisme yang dibuat oleh aparat sendiri dalam rangka mencapai tujuan politik tertentu. Aparat yang merancang dan mereka pula eksekutornya. Contoh monumental aksi demikian ialah peledakan WTC yang dilakukan oleh dinas intelijen Amerika sendiri;
(c). Aksi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu (misalnya kelompok Jihadis) yang ditunggangi oleh aparat. Penyusun aksi itu sebenarnya aparat, tetapi eksekutornya diambil dari kalangan Jihadis yang mudah dipengaruhi dan diprovokasi. Aksi peledakan bom itu sangat mudah dibuat oleh mereka yang punya DANA, INFORMASI, dan AKSES SENJATA. Sedangkan sudah dimaklumi, aparat keamanan memiliki itu semua.
Mereka bisa membuat aksi peledakan dimanapun, lalu aksi itu diklaim dilakukan oleh pihak ini atau itu.
Malapetaka. Dalam bahasa Inggris disebut “disaster”. Dalam bahasa Arab disebut bala’. Seseorang disebut mendapat malapetaka ketika dia tertimpa keburukan, mushibah, kemalangan, atau penderitaan; karena telah melakukan kedurhakaan atau kezhaliman kelewat batas.
Contoh manusia yang mendapatkan malapetaka ialah George Bush. Begitu hinanya manusia itu, sehingga dia dilempar sepatu ketika berbicara di Irak. Tidak pernah ada kepala negara dilempar sepatu sehina itu, selain George Bush.
SBY dalam hal ini juga bisa dikatakan, telah mendapat “malapetaka terorisme”. Mengapa SBY dikatakan telah mendapat “malapetaka terorisme”? Alasannya, karena: (a). Dia banyak didoakan mendapat malapetaka oleh semua aktivis Islam yang mendapat kezhaliman dan penistaan akibat isu-isu terorisme itu, beserta keluarga dan kerabat mereka. Mereka mendoakan bersama agar SBY mendapat laknat dari Allah Ta’ala; (b). Dia didoakan mendapat malapetaka oleh setiap Muslim yang merasa muak dan benci akibat peristiwa-peristiwa terorisme yang penuh rekayasa, demi menjelek-jelekkan para aktivis Islam itu. Begitu muaknya masyarakat, sampai pernah beredar ajakan agar mematikan TV ketika disana ada SBY sedang pidato; (c). SBY mendapat malapetaka langsung dari Allah akibat segala dosa-dosa dan kezhalimannya kepada kaum Muslimin, kepada bangsa Indonesia, dan alam sekitarnya.
Setidaknya disini ada “9 Malapetaka Terorisme” yang menimpa SBY sepanjang karier kepemimpinnanya. Angka 9 sesuai dengan “angka keramat” yang sering dielu-elukan oleh SBY sendiri.
Malapetaka 1: SBY adalah seorang “Presiden Terorisme”. Maksudnya, dia adalah satu-satunya Presiden RI yang paling banyak berurusan dengan isu teorisme. Bahkan, SBY tidak memiliki prestasi apapun yang bernilai, selain dalam mengurusi isu terorisme itu sendiri. Tidak ada Presiden RI yang begitu gandrung dengan isu terorisme, selain SBY. Tidak ada Presiden/PM di negeri-negeri Muslim yang begitu intensif bergelut dengan isu-isu terorisme, selain SBY. Bahkan tidak ada presiden negara dimanapun, setelah George Bush, yang begitu getol dengan isu terorisme, selain SBY. Singkat kata, SBY bisa disebut sebagai “George Bush-nya Indonesia“.
Malapetaka 2: SBY terbukti merupakan Presiden RI yang sangat sentimen kepada aktivis-aktivis Islam, bahkan sentimen kepada Ummat Islam. Di sisi lain, SBY sangat peduli dengan nasib minoritas non Muslim. Banyak fakta yang membuktikan hal itu.
Saat terjadi peledakan bom di Kepunton Solo, SBY begitu cepat bereaksi. Dia mengecam tindakan aksi bunuh diri tersebut. Tetapi ketika terjadi kerusuhan di Ambon, sehingga beberapa orang Muslim meninggal, ratusan rumah dibakar; ternyata SBY diam saja. Dia tak bereaksi keras, atau mengecam.
Ketika seorang jemaat gereja HKBP mengalami penusukan di Cikeuting, SBY langsung bereaksi keras. Padahal jemaat itu hanya luka-luka saja. Bahkan yang terluka juga termasuk aktivis Muslim. Tetapi terhadap puluhan pemuda Islam yang dibunuhi Densus 88 di berbagai tempat; terhadap ratusan pemuda Islam yang ditangkap, ditahan, dan disiksa; terhadap ratusan keluarga pemuda-pemuda Muslim yang terlunta-lunta; ternyata SBY hanya diam saja, atau pura-pura tidak tahu.
Ketika terjadi insiden Monas yang menimpa anggota Jemaat Ahmadiyyah, Juni 2008 di Jakarta, SBY bereaksi keras. Dia mengecam ormas Islam anarkhis. Kata SBY: “Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan!” Hebat sekali. Tetapi ketika Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkali-kali diperlakukan kasar, galak, dan penuh tekanan; padahal beliau sudah tua dan sakit-sakitan. Ternyata SBY tak pernah mau peduli.
Ketika terjadi pelatihan militer oleh sebagian kelompok Islam di Jantho Aceh. Dilakukan di tengah hutan, tanpa ada korban atau aksi kekerasan apapun, ia dianggap sebagai aksi terorisme. Para pelakunya ditahan, sebagian ditembak mati. SBY membiarkan perlakuan keras itu. Tetapi terhadap gerakan OPM di Papua yang jelas-jelas bersenjata dan menyerang aparat berkali-kali, SBY tidak pernah menyebut gerakan OPM sebagai terorisme.
Ketika para penari Cakalele mengibarkan bendera RMS di depan mata SBY, dia tak bersikap tegas. Padahal itu benar-benar penghinaan di depan mata dia. Tetapi ketika ada sebagian orang membuat aksi demo dengan membawa kerbau yang ditulis “Sibuya”, SBY begitu marah.
Intinya, SBY sudah terbuksi sangat NYATA dan JELAS, bahwa dia sangat membenci pemuda-pemuda Islam, dan sangat pengasih kepada kalangan minoritas non Muslim; meskipun gerakan mereka membahayakan NKRI. Kaum Muslimin yang banyak jasanya bagi negara dibiarkan dianiaya, sedangkan kaum minoritas selalu mendapat pembelaan penuh.
Malapetaka 3: Dalam masa kepemimpinan SBY sangat banyak bencana-bencana alam, mulai dari Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, kekeringan, lumpur Lapindo, kecelakaan tragis, dll.
Malapetaka 4: Dalam masa kepemimpinan SBY kondisi perekonomian Indonesia mengalami kemerosotan hebat. Inflasi tinggi, hutang luar negeri membengkak sampai Rp. 1733 triliun, pengangguran merebak, dominasi asing sangat kuat di segala sektor, beban anggaran negara sangat berat, dll.
Malapetaka 5: Di masa kepemimpinan SBY praktik korupsi merebak, mewabah, merajalela. Pejabat pemerintah seperti Gubernur, Bupati, Walikota banyak ditahan. Anggota DPR, menteri-menteri terlibat korupsi. Bahkan korupsi menyentuh aparat hukum seperti kepolisian, kejaksaan, kehakiman. Tidak terkecuali, para politisi Partai Demokrat juga dirundung banyak masalah korupsi, seperti yang diungkapkan Nazaruddin. Isu korupsi yang menimpa Partai Demokrat sangat berat.
Malapetaka 6: Melalui laporan Wikileaks yang dipublikasikan koran Australia, Sydney Herald Morning dan The Age, SBY dituduh menyalah-gunakan kekuasaan untuk melakukan korupsi dan kejahatan politik. Keluarga SBY dituduh memanfaatkan posisi SBY untuk memperkaya diri. Isteri SBY, Bu Ani Yudhoyono malah disebut sebagai “broker proyek”. Belum pernah ada Ibu Negara di Indonesia mendapat sebutan demikian, selain isteri SBY. Ironinya, yang melaporkan berita-berita itu justru Kedubes Amerika Serikat, yang notabene kawan SBY sendiri; pelapornya, menteri-menteri SBY sendiri; dan publikasi oleh media Australia yang notabene adalah kawan SBY dalam pemberantasan terorisme.
Malapetaka 7: Pernyataan SBY tentang negara Amerika tersebar luas di tengah masyarakat. Pernyataan itu berbunyi, kurang lebih: “America is my second country. I love It, with all of faults.” Pernyataan ini tersebar dimana-mana, yang menjelaskan bahwa SBY tidak memiliki komitmen nasionalis. Dia memiliki sifat KHIANAT terhadap bangsanya sendiri. Tidak heran, kalau dalam pidato-pidatonya, SBY sangat senang memakai bahasa Inggris. Lucunya, saat Obama datang ke Tanah Air, lalu berpidato berdua bersama SBY; SBY harus berkali-kali dibisiki oleh Menlu Marty Natalegawa tentang isi pidato Obama tersebut. Forum yang seharusnya bisa membuat SBY dipandang mulia, malah membuatnya “kasihan deh lo”.
Malapetaka 8: Dapat disimpulkan, bahwa SBY adalah satu-satunya Presiden RI yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Sama sekali tak memiliki kemampuan. Kemampuan satu-satunya SBY ialah membuat PENCITRAAN. Dari sisi kemampuan manajemen tidak ada; wawasan ekonomi, tak ada; ilmu pertanian, nol besar; wawasan bela negara, kosong melompong; kemampuan diplomasi, sami mawon; kemampuan retorika, nilai 4; kemampuan sains, wah tambah parah; dan seterusnya. SBY nyaris tak memiliki kelebihan apapun, selain membuat pencitraan. Sebagian purnawirawan jendral menyebut SBY sebagai “jendral salon”, “jendral kambing”, “terlalu banyak membaca”, dan sebagainya. Ini adalah penilaian yang sangat memprihatinkan.
Mapaletaka 9: …hal ini belum berjalan, dan akan terus berjalan sampai disempurnakan oleh Allah Ta’ala. Bentuknya, kita tidak tahu; bisa apa saja, sesuai kehendak-Nya. Kita hanya bisa menanti.
Apa yang disebut disini bukanlah fitnah atau cerita dusta. Ia benar-benar ada. Hanya saja, mungkin sebagian orang menyebutnya dengan istilah “kesialan SBY”, “mushibah bersama SBY”, “kelemahan SBY”, “malapetaka bersama SBY”, “kehancuran nama SBY”, dan lain-lain. Dalam tulisan ini, ia disebut “malapetaka”, sesuai dengan makna kata itu sendiri.
Ya, silakan Pak SBY, lanjutkan hidup Anda; lanjutkan apa saja yang Anda sukai; toh setiap orang berhak berbuat dan memutuskan, sedangkan dosa-dosa dan akibat, akan dia tanggung sendiri. Pak SBY ini sudah “masuk kantong”, karena dia sangat sentimen kepada para aktivis-aktivis Islam, terlalu jauh bermain-main dalam ranah kezhaliman isu terorisme; akibatnya banyak orang menyumpahi dan mendoakan malapetaka baginya.
“Semakin seseorang terjerumus jauh dalam kezhaliman kepada kaum Muslimin, semakin perih akibat yang tertanggung dalam dirinya, keluarganya, dan kehidupannya.” (eramuslim/voa-khilafah.co.cc)
Amerika Lebay, Peristiwa 11 September Didramatisir Memfitnah Islam

Amerika Lebay, Peristiwa 11 September Didramatisir Memfitnah Islam


HONG KONG (voa-khilafah.co.cc) – Negeri Paman Sam yang terkenal sebagai negara adidaya, ternyata sangat lebay. Peristiwa 11 September didramatisir untuk memfitnah Islam.

Awalnya saya tidak tertarik menuliskan siaran TV Hong Kong mengenai peristiwa 11 September. Sekali melihat, saya masih berpikir biasa. Dua kali melihat siaran yang berjudul ‘Never forget 11/9’ saya juga masih acuh, karena isinya seperti apa sudah bisa ditebak. Tetapi pikiran saya terusik ketika tayangan ini diulang-ulang dan diputar secara detil, menggambarkan penderitaan yang panjang dan melelahkan. Seakan bangsa Amerika sangat dizalimi, sangat direndahkan, sangat menderita, sehingga memaksa dunia mencurahkan perhatian dan waktu mereka untuk menonton tayangan murahan penuh dusta ini.

Keheranan saya bertambah ketika ternyata Ahad, 11 September, TV Hong Kong juga menayangkan film berjudul ‘United 93’, yakni film besutan Amerika yang berisi kedustaan dan fitnah keji terhadap Islam. Film ini bercerita tentang pembajakan pesawat oleh empat pemuda Arab. Pemuda Arab ini diperankan dan diperagakan oleh bintang berwajah Arab. Di mana empat pemuda ini secara kejam melakukan pembantaian, penyekapan, kekerasan pada semua penumpang pesawat. Dua pemuda bertugas membunuhi dan membantai pilot agar bisa mengambil alih semua awak pesawat. Dua pemuda lainnya bertugas membantai penumpang. Fitnah terhadap pemuda Arab ini bertambah sadis karena barat berhasil mengemas secara rapi, setiap membantai penumpang dalam pesawat tang dibajak, mereka membaca kalimat takbir, tahmid dan tahlil.

Tidak ketinggalan pula, barat rupanya berupaya memaksa masyarakat dunia untuk mengasihani penduduknya. Ketika pembajakan pesawat, penumpang berusaha menelpon keluarga masing-masing. Penumpang ini meratap, menangis, berteriak histeris, merasa menderita. Di saat mereka menangis ini, pemuda Arab tidak segan-segan membantai mereka. Sungguh, tayangan dusta yang menggelikan. Berhari-hari mengemis belas kasih dunia, demi memaksa masyarakat menelan propaganda.

Ketika itulah saya bertanya dalam hati, mana tayangan film saat mereka menjajah Afghanistan? Mana tayangan film mereka saat memperkosa gadis-gadis kecil Palestina? Mana tayangan-tayangan film ketika mereka membantai rakyat sipil di Gaza? Mana tayangan film ketika mereka membumihanguskan madrasah ‘Red Mosque’ di Pakistan? Mana tayangan mereka yang membantai anak-anak balita di Irak? Mana tayangan film mereka ketika menelanjangi muslimah Afghanistan? Mana tayangan film mereka ketika pasukan sadis mereka menginjak-injak umat islam di Arab? Mana tayangan film mereka ketika menyiksa tahanan Guantanamo? Mana tayangan film mereka ketika pasukan-pasukan munafik sombong mereka menembaki rakyat yang tidak berdosa di dunia-dunia Arab? Mana semua itu, dunia ingin menyaksikan juga kekejaman tersebut. [yulianna ps/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Serangan WTC : Legitimasi Penjajahan Amerika

Serangan WTC : Legitimasi Penjajahan Amerika

Voa-Khilafah.co.cc - Serangan terhadap gedung WTC di kota New York telah 10 tahun berlalu. Namun , peristiwa 11 September 2001 (911) masih berdampak hingga kini dan mungkin beberapa tahun ke depan. Pasalnya 911 menjadi dasar bagi AS untuk melancarkan perang globalnya, Global War on terorists (GWOT) , perang melawan terorisme. Tidak lama setelah tragedi WTC, Goerge W. Bush mengultimatum dunia : either you are with us or with terorist . Dunia dihadapkan ‘hanya’ pada dua pilihan ‘ikut AS’ atau masuk dalam kubu teroris yang artinya siap untuk digempur sang Polisi Dunia.

Sejak gendrang perang itu dikobarkan Bush yang ia sebut sebagai ‘Crusade’ (perang salib) korbanpun mulai berjatuhan dan terus bertambah hingga kini. Dan ironisnya, target perang AS sangat focus; umat Islam dan negeri Islam. Atas dasar perang melawan terorisme AS menyerbu Afghanistan dan Irak. Ratusan ribu rakyat sipil terbunuh di Irak pasca pendudukan Amerika . Afghnistan tidak jauh beda. Serangan Amerika telah membunuh lebih dari 3000 muslim .

Umat Islam pun menjadi sasaran perang. Kalau nama anda berbau ‘arab’ berbau Islam, siap saja menghadapi berbagai kesulitan di negara-negara Barat, mulai dari masuk Bandara hingga diskriminasi dalam pekerjaan. Tidak hanya itu , sebagian besar kelompok yang dimasukkan dalam terorisme adalah kelompok Islam.

Namun, perang melawan terorisme ala AS ini mulai banyak dipertanyakan legitimasinya. Justru pertanyaaan yang maling mendasar adalah peristiwa 911 yang dijadikan alasan oleh AS dalam GWOT-nya. Sebab banyak misteri disekitar 911. What really happened (apa sebenarnya yang terjadi) ? Berbagai tulisan, talk show , sampai film bermunculan mempertanyakan siapa sebenarnya pelaku 911.

Washington Post yang membuat serial 10 Days in September: Inside the War Cabinet mulai Ahad (27/01/02) dan Vision TV Kanada lewat program Insight MediaFile. Lewat siaran yang ditayangkan Vision TV Senin (28/01/02), Barrie Zwicker, kritikus media di Kanada, antara lain berkomentar bahwa CIA, Pentagon, dan Gedung Putih boleh jadi terlibat dalam aksi teror 11 September 2001 yang telah meruntuhkan Gedung World Trade Center (WTC) dan merusak Pentagon.

Di awal kupasannya, Barrie Zwicker menyatakan keprihatinannya, mengapa tidak ada media yang mempertanyakan secara kritis tentang apa yang sebenarnya terjadi pada 11 September itu. Zwicker mempertanyakan mengapa sekian lama tak ada reaksi? Mengapa pesawat tempur dan kuadron udara tidak melakukan operasi intersepsi untuk menghadang aksi pembajakan? Mengapa Pentagon diam untuk masa sekian lama? Dalam buku The Cell Inside 9/11 Plot, And Why the FBI and CIA Failed to Stop It (2002), diungkap bagaimana peringatan dini yang banyak disampaikan oleh sejumlah pihak diabaikan oleh Gedung Putih.

Era Muslim (26/06/2006) melaporkan bahwa pada bulan Juni 2006, sekitar 1.200 orang berkumpul di sebuah hotel di Los Angeles sepanjang akhir pekan kemarin. Mereka mengenakan T-Shirt bertuliskan ‘What Really Happened?’ sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk peristiwa 11 September. Mereka yang hadir dalam pertemuan itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ahli fisika, ahli filsafat dan pakar terorisme yang secara terbuka mencela dan tidak percaya terhadap keterangan versi pemerintah tentang peristiwa 11 September. Dalam pertemuan tersebut, diputar DVD berjudul ’9/11; The Great Illusion.’

Oleh sejumlah kritikus teori-teori yang hanya muncul di media-media terbatas baik internet, talk-show radio dan pers-pers alternatif ini, dicemooh, dianggap liar dan berlebihan. Namun polling pendapat yang dilakukan Zogby pada tahun 2004 mengindikasikan bahwa 49 persen mereka yang tinggal di New York meyakini bahwa para pemimpin AS sebenarnya sudah mengetahui rencana serangan itu dan gagal melakukan tindak pencegahan.

Siapa yang diuntungkan ?

Berbagai fakta-fakta konspirasi sudah di buat. Perdebatan tentang siapa dalang 911 pun masih terus bergulir. Mungkin pertanyaan sederhana siapa yang paling diuntungkan dengan peristiwa ini, bisa menjadi petunjuk. Tentu saja harus disesalkan jatuhnya sekitar 3000 korban jiwa dalam serangan WTC, namun dilihat dari siapa yang paling diuntungkan dalam 911 ini, tampaknya AS. Tidak sedikit yang menyamakan serangan 911 ini dengan serangan Pearl Harbour yang menjadi alasan bagi AS untuk terlibat dalam perang dunia ke II. Sementaran 911 menjadi alasan bagi AS untuk mengobarkan perang melawan terorisme.

Pendapat ini bahkan muncul dari kalangan militer AS sendiri. Koran Tempo (6/06/2002) memberitakan Letnan Kolonel Steve Butler diskors dari tugasnya karena mengkritik Presiden George W. Bush, panglima tertinggi angkatan bersenjata AS,secara terbuka di koran Monterey County Herald. Menurut dia, Bush sengaja membiarkan terjadinya serangan 11 September 2001. Ia berpikir, Bush membutuhkan serangan itu sebagai pembenaran proyek perang terhadap teroris.“Tentu saja Bush tahu tentang serangan terhadap Amerika yang akan terjadi. Dia tidak memberikan peringatan kepada rakyat Amerika karena ia membutuhkan tindakan terorisme ini. Ayahnya memiliki Saddam dan dia membutuhkan Usamah,” tulis Butler dalam suratnya.

Bukti bahwa perang ini adalah untuk kepentingan AS sendiri tampak dari banyaknya kebohongan yang dilakukan pemerintah Bush. Eramuslim (11/9/2006) melaporkan Dalam rangka peringatan lima tahun serangan 11 September, Kongres Amerika mengeluarkan laporan yang menyanggah klaim-klaim yang digunakan pemerintah Bush tentang hubungan antara mantan Presiden Irak Sadam Husain dengan aksi serangan tersebut, yang dijadikan dalih oleh Bush untuk melakukan agresi militer ke Irak.Laporan Kongres AS, selain menyanggah penegasan-penegasan terkait dengan kemampuan pemerintah Irak saat itu terhadap produksi senjata pemusnah massal, juga membantah semua penegasan terkait dengan kesimpulan dinas intelijen pemerintah Bush mengenai Irak tahun 2002.

Menurut laporan ini, pemerintah Irak saat itu tidak mungkin mengembangkan program nuklir dan juga tidak mungkin membangun laboratorium bergerak (mobile) untuk pengembangan senjara biologi. Laporan ini menilai informasi-informasi yang diberikan oleh kelompok oposisi Irak “al-muktamar al-wathani al-Iraqi” yang dipimpin Ahmad Shalabi adalah sebuah kesalahan besar.Alat Intervensi Memang perang ini kemudian menjadi alat intervensi bahkan pendudukan AS terhadap negara lain.

Atas perang melawan terorisme AS menyerbu Afghanistan dan Irak. Negara ini juga menggunakan dalih teroris untuk menekan kelompok atau negara yang tidak sejalan dengan kepentingannya. Iran, Korea Utara, Suria, Libya yang cenderung bersebrangan dengan AS diberi julukan poros setan yang melindungi terorisme. Hamas dituduh teroris karena menentang kebijakan AS di Palestina. Berbagai bentuk kerjasamapun dilakukan oleh AS dengan negara-negara lain atas nama perang melawan terorisme.

Ujung dari intervensi AS tentu saja kepentingan ekonomi . Dengan menduduki Irak, AS meraih keuntungan dari minyak Irak yang dieksploitasi tanpa diketahui jumlahnya. Bukti atas dugaan bahwa minyak merupakan salah satu faktor terpenting nampak sejak awal invasi. James A. Paul dari Global Policy Forum menyatakan ” AS-Inggris menginvasi Irak pada 20 Maret 2003, dan dengan cepat menata ulang ladang dan sumur minyak.

Saat pasukan koalisi memasuki Baghdad, mereka membuat lingkaran protektif di sekeliling kementerian minyak, dan membiarkan institusi lainnya tak terjaga, membiarkan penduduk dan pembakara kantor kementerian lainnya, rumah sakit, dan lembaga-lembaga kultural”.

Dalam laporan yang dibuat Baker-Hamilton pada 2006 dinyatakan bahwa peraturan perminyakan yang baru sangat diperlukan demi investasi asing di Irak. Hasilnya adalah PSA (Product Service Agreement-kesepakatan layanan produksi), yang pada dasarnya merupakan lisensi untuk perampokan. Lewat peraturan perminyakan baru yang dikeluarkan pada februari 2007 , perusahaan asing dibolehkan memiliki kontrak jangka panjang dan membuat payung hukum untuk melindunginya. Cadangan minyak Irak kemudian akan digarap oleh perusahaan multinasional berdasarkan kontrak yang berlaku selama 30 tahun.

Ironisnya, perusahaan multinasional tersebut tidak dapat dituntut ke pengadilan berdasarkan hukum Irak kalau terjadi sengketa atau dibawa ke Badan Pemeriksa Keuangan. Tidak heran jika Hasan Jumat Awwad al Asadi pemimpin serikat pekerja minyak Irak, mengatakan : ’ Sejarah tidak akan pernah memaafkan mereka yang telah mempermainkan kesejahteraan dan takdir rakyat”.

Stigmatisasi Negatif Islam Kepentingan lain dalam perang melawan terorisme adalah menjadi media untuk melakukan stigmatisasi negatif Islam. Ajaran Islam yang bertentangan dengan kepentingan penjajahan Barat seperti penerapan syariah Islam oleh negara dan perintah jihad dikaitkan sebagai ide para teroris.

Kelompok-kelompok jihad yang pada dasarnya melakukan perlawanan terhadap penjajahan AS , Inggris dan Israel dituduh sebagai kelompok terorisme. dalam pidato Bush Kamis (6/10/2005) di depan undangan National Endowment of Democracy dan di hadapan The Ronald Reagan Presidential Library dalam kesempatan lain. Untuk pertama kalinya, Bush menyebutkan secara jelas ideologi Islam di balik aksi-aksi terorisme dunia internasional yang menjadi musuh nyata Amerika Serikat saat ini. Selama ini penyebutan Islam sangat dihindari oleh Bush saat berbicara tentang terorisme. Namun, dalam pidato Bush kemarin, kata-kata Islam sangat jelas dia ucapkan. Tentu saja dengan tambahan kata ‘radikal’, ‘fasis’, ‘jihad’.


Bush juga menyebutkan tujuan dari ideologi Islam ini, yakni mendirikan pemerintahan Islam global yang disebut oleh Bush dengan istilah ‘Imperium Islam’ dari Maroko sampai Indonesia, yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan menggantikan pemerintahan moderat di negeri-negeri Islam. Pidato Bush ini mengarah pada institusi politik Islam—Khilafah Islam—yang memang bersifat global dan menjadikan hukum Islam sebagai sumber hukumnya.

Pidato Bush semakin memberikan gambaran yang jelas kepada umat Islam, bahwa target sebenarnya dari perang melawan terorisme adalah Islam dan umat Islam. Karena itu, dalam pidatonya di atas, Bush banyak melakukan kebohongan dan propaganda jahat terhadap ideologi Islam, Khilafah Islam, dan jihad.

Masalah Sebenarnya

Banyak pihak yang sudah mengungkapkan yang saat sekarang ini terjadi lebih merupakan reaksi perlawanan terhadap penindasan dan dominasi AS di dunia internasional, terutama Dunia Islam. Roger Garaudi, salah seorang intelektual Barat yang dikenal kritis, melihat faktor utama pendorong munculnya fundamentalisme Islam adalah kolonialisme Barat, dekedansi Barat, dan munculnya fundamentalisme Zionis Israel. Pendudukan Israel di Palestina sebagai faktor penyebab juga diungkap oleh Yvonne Haddad, Profesor Sejarah Islam Universitas Massachusetts.

Kondisi ini diperparah dengan kebijakan Bush Junior yang terkesan sangat merugikan kaum Muslim. Invasi dan pendudukan AS ke Afganistan dan Irak tentu saja sangat menyakitkan kaum Muslim. Apalagi serangan itu dilandasi oleh kebohongan tentang senjata pemusnah massal Irak yang belum terbukti ada hingga kini. Tidak mengherankan kalau saat ini, serangan terhadap pasukan AS di Irak semakin sering terjadi. Tentu saja bukan hanya oleh kelompok loyalis Saddam, tetapi juga oleh banyak kelompok Islam yang menentang penjajahan AS di Irak.

Akar terorisme ini yang sering atau sengaja dilupakan oleh AS dan sekutunya. Bisa disebut, selama masalah penjajahan negeri Islam ini tidak diselesaikan, sampai kapan pun perlawanan terhadap AS, termasuk dalam bentuk kekerasan, akan terus terjadi. Oleh karena itu, kalau dunia memang sungguh-sungguh ingin menghentikan tindakan kekerasan AS harus menghentikan penjajahannya terhadap dunia Islam . (Farid Wadjdi)

BOX : MISTERI DI SEPUTAR 911 ·

Jendral Mahmud Ahmed, kepala Dinas Intelijen Pakistan (ISI), yang mempunyai hubungan erat dengan CIA, pada Juli 2001mentransfer uang sebesar US$ 100,000 kepada ‘pilot teroris’ Muhammad Ata. Mahmud Ahmed dari tanggal 4-19 September 2001 melakukan kunjungan resmi ke AS dan secara khusus, pada 11 September 2001, makan pagi di Capitol Hall dengan dua orang ketua devisi intelijen AS.

Mengapa nama 19 pembajak tidak ditemukan pada daftar penumpang? Lima tertangkap pelaku pembajak bunuh diri pun sehat wal afiat.

Walikota San Francisco selamat setelah membatalkan rencananya naik pesawat UA-93 yang dibajak. Dia sebelumnya telah diingatkan oleh seseorang. Menurut The Truth Seeker (11/8/02), sang penelepon adalah teman lamanya di Gedung Putih, Condoleeza Rice, penasihat utama Presiden Bush di bidang keamanan dan pernah menjabat direksi Chevron.

Infotimes.com dan Jerusalem Post melaporkan pesan dan pemberitahuan akan adanya serangan yang disebar via SMS kepada sejumlah karyawan Yahudi dan warga Israel di AS, termasuk yang bekerja di WTC; sekitar 4000 karyawan asal Israel selamat. ·

Mengapa sistem pertahanan keamanan AS yang canggih seakan lumpuh dan tidak mampu mengantisipasi serangan tersebut? Padahal, menurut New York Times (15/05/2002), pada rapat terbatas 6 Agustus 2001, Bush sudah mendapat informasi dari memo intelijen bahwa Bin Laden berniat menyerang AS.·

Situs What Really Happened mengungkap bahwa Badan Intelejen Israel (Mossad) terlibat dalam peristiwa serangan 11 September 2001. Dalam artikelnya, situs tadi menyebutkan, PM Israel, Benyamin Nethanyahu, pasca serangan 11 September menyatakan bahwa serangan teror itu sangat menguntungkan Zionis-Israel dalam merealisasikan tujuannya. Bukti lainnya yang disebutkan adalah penangkapan lima agen Mossad yang sedang bersuka cita menyaksikan runtuhnya gedung WTC. Sekelompok agen Mossad memiliki rekaman lengkap serangan 11 September dan terbukti bahwa kamera mereka diletakkan di atas menara kembar WTC. Adapun lima agen Mossad itu dibebaskan tanpa alasan yang jelas.

Fox News, CNN, MSNBC, dan jaringan berita lainnya menyediakan rekaman video live dari para saksi mata yang mengklaim bahwa mereka mendengar ledakan-ledakan lain yang keluar dari dalam dan sekitar WTC setelah kedua pesawat itu menabrak kedua menara. Saksi mata ini terdiri dari polisi, petugas pemadam kebakaran, reporter, pebisnis yang sedang berada di sekitar tempat kejadian.

Dalam “The Filmmaker’s Commemorative Edition”, sebuah film tentang regu pemadam kebakaran New York, pemadam kebakaran lain memperingatkan dengan jelas tentang kemungkinan peledak peruntuh yang sedang dipasang di menara selatan dan utara WTC, “Lantai demi lantai gedung itu runtuh. Sepertinya mereka mempunyai detonator yang biasa dipasang untuk meruntuhkan sebuah gedung.”

Para reporter membuat perbandingan tentang bagaimana kedua menara jatuh dengan cara sebagaimana sebuah bangunan sengaja diruntuhkan. Satu per satu reporter melaporkan, “Kami mendengar sebuah ledakan keras”, “Kami melaporkan ledakan kedua”, “Kami melaporkan ledakan keempat sekarang”, “Puncak gedung baru saja meledak”, ”Kami mendengar ledakan sangat keras, sebuah ledakan, tidak jelas mengapa ledakan itu terjadi.”

Apakah WTC tidak hanya ditabrak pesawat? WTC sengaja diruntuhkan? Siapa yang bisa memasang peledak-peledak peruntuh gedung di WTC? David Von Kleist seorang wartawan melakukan konstruksi ulang dengan kembali melihat rekaman peristiwa yang kerusakan dialami sebagian dari bangunan Pentagon yang diklaim akibat serangan Usamah bin Laden. Hal pertama yang perlu dijelaskan adalah ukuran dari pesawat boeing 757 dan kerusakan yang diakibatkannya. Pesawat boeing 757 memiliki lebar sayap 42 meter dan panjang badan pesawat 52 meter dan tinggi 13 meter. Sementara Tinggi bangunan Pentagon yang diklaim rusak akibat tubrukan pesawat adalah 73 kaki dan lebar kerusakan yang diakibatkannya adalah 65 kaki. Pertanyaannya menjadi jelas bagaimana pesawat dengan ukuran di atas membuat kerusakan setengah dari besar dirinya. Mestinya, kerusakan yang diakibatkan lebih besar dari itu.·

Sebuah site dengan alamat www.letsroll911.org melakukan penyelidikan ulang saat sebelum pesawat mengenai gedung WTC. Gambar-gambar yang didapat lebih banyak merekam kejadian tabrakan kedua yang mengenai bagian selatan gedung WTC. Dalam gambar tersebut ada sesuatu yang aneh pada badan pesawat. Hal itu dikarenakan bagian bawah badan pesawat seperti ada tambahan tangki penyimpanan. Hal itu tidak seperti pesawat boeing lainnya yang perutnya datar tanpa ada tambahan. Tidak dapat dideteksi secara pasti apa itu namun jelas itu adalah tambahan pada badan pesawat yang tidak lazim pada pesawat boeing.·

Ahli Metal Dr. Frank Gayle (Bekerja di NIST) menyatakan bahwa :Sungguh, metal baja tidak akan meleleh hanya oleh kebakaran yang berasal dari bahan bakar biasa. (Menunjukan bahwa melelehnya metal baja itu dikarenakan oleh ledakan yang sangat luar biasa yang dipasang dalam gedung itu dan dikontrol untuk menghancurkan gedung WTC (Adanya controlled demolition). (hti/Voa-Khilafah.co.cc)
Mari Kita Lupakan 9 / 11

Mari Kita Lupakan 9 / 11

Voa-Khilafah.co.cc - Jika kita memiliki rasa hormat terhadap sejarah atau kemanusiaan, kita harus menghapus 9 / 11 dari kesadaran kolektif kita.

Oleh Tom Engelhardt

Yang saya bicarakan adalah mengenai upacara ulang tahun kesepuluh 9/11, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal itu: pembacaan dengan khidmat nama-nama para korban, dentang lonceng, perhormatan dari para responden utama, pertemuan-pertemuan dengan para presiden, peresmian gedung peringatan yang baru, saat-saat keheningan. Semua pekerjaan itu.
Mari kita lakukan selagi kita bisa. Tutup Ground Zero. Keluarkan para wisatawan dari sana. Tutup “Reflecting Absence”, tugu peringatan yang dibangun di bawah “jejak kaki” Menara WTC dengan pepohonan, kolam-kolam raksasa, dengan banyak air terjun sebelum diresmikan pada hari Minggu ini. Hentikan pekerjaan di bawah tanah pada National September Museum yang akan dibuka pada tahun 2012. Runtuhkan Freedom Tower (yang dijuluki 1 World Trade Center setelah perang “kebebasan” menjadi kacau balau), yakni gedung 102 lantai yang merupakan “pencakar langit yang paling mahal yang pernah dibangun di Amerika Serikat”. (Harga Perkiraan berkisar: $ 3.3 milyar). Hilangkan gedung yang sedang dibangun, yakni bangunan dengan tinggi 1.776 kaki , yang direncanakan sejak zaman keemasan George W Bush dan menjulang tinggi ke langit Manhattan seperti undangan untuk para teroris masa depan. Bongkar tiga menara kantor lainnya yang sedang dibangun di sana sebagai bagian dari program yang disponsori pemerintah dengan biaya konstruksi $ 11 milyar. Mari kita singkirkan semua itu. Jika kita menginginkan suatu peringatan 9 / 11, akan lebih tepat jika meninggalkan salah satu pecahan raksasa menara rusak disana agar tidak tersentuh.

Tanyakan pada diri sendiri: sepuluh tahun pasca 9/11, sudah cukupkah itu bagi diri kita sendiri? Jika kita memiliki rasa hormat terhadap sejarah atau kemanusiaan atau, masih tersisa kesopanan, bukankah waktunya untuk merobek perban penutup luka untuk menghilangkan luka, untuk menghapus 9 / 11 dari kesadaran kolektif kita? Tidak ada lagi doa bagi serangan itu dan kebalikannya untuk menjelaskan perang yang terjadi di Irak dan Afghanistan dan perang global melawan teror yang kita lakukan. Tidak ada lagi doa untuk 9 / 11 agar Pentagon dan badan keamanan nasional kebanjiran uang. Tidak ada lagi doa untuk 9 / 11 untuk membenarkan setiap pelanggaran atas kebebasan, setiap langkah baru bentuk memata-matai warga Amerika, segala bentuk penggeledahan dari mulai atas hingga bawah yang membuat tingkat ketakutan menjadi tinggi dan keamanan dalam negeri menjadi seperti terancam.

Serangan 11 September 2001 adalah merupakan serangan yang mengerikan dalam arti yang kasar. Dan hal yang paling menyedihkan adalah bahwa sejak itu para korban dari serangan bunuh diri itu telah disalahgunakan dengan berkedok kesalehan acara peringatan. Negara ini telah menjadi tergantung pada para korban 9 / 11 - yang tidak memiliki cara untuk membela diri mereka terhadap bagaimana mereka telah disalah gunakan - sebagai penjelasan atas semua maksud bagi kebaikan kita sendiri dan kengerian yang kita berikan kepada orang-orang lain, bagi begitu banyak korban yang mati di Irak, Afghanistan, dan tempat-tempat lain yang darahnya ada di tangan kita.

Bukankah ini adalah waktunya untuk berhenti sama sekali? Untuk merelakan orang-orang yang telah mati? Mengapa terus mengulangi mantra 9 / 11 seolah-olah itu adalah semacam agama, ketika kita telah membuktikan bahwa kita, sebagai bangsa, tidak dapat mengatasinya - dan lebih buruk lagi, bahwa kita tidak layak menerimanya?

Kita akan lebih jika membuang ingatan dari 9 / 11 untuk bisa melupakan semua itu kalau saja kita bisa. Tapi tentu saja kita tidak bisa. Tapi kita bisa menghentikan peringatan ulang tahun. Kita bisa menghentikan permohonan kita atas 9 / 11 dengan cara yang bisa dibayangkan selama bertahun-tahun kemudian. Kita bisa berhenti menggunakan peristiwa itu agar membuat diri kita merasa seperti sebuah negara yang jauh lebih baik daripada yang kita rasakan sekarang. Singkatnya, kita bisa membiarkan para arwah yang sudah meninggal dalam damai dan melihat, kepada diri kita sendiri, orang-orang yang masih hidup, dengan pandangan yang baik dan tajam, di depan cermin.
Upacara-upacara Kesombongan

Dalam waktu 24 jam sejak serangan 11 September 2001, koran-koran yang terbit pertama kali sudah memberi label lokasi di New York sebagai “Ground Zero”. Jika ada yang membutuhkan tanda bahwa kita lari dari jalur, karena ada kesalahan penilaian atas apa yang sebenarnya terjadi maka itu seharusnya sudah cukup. Sebelumnya, ungkapan “ground zero” hanya berarti satu: Itu adalah tempat di mana telah terjadi ledakan nuklir.

Fakta-fakta 9 / 11 adalah, dalam pengertian ini, cukup sederhana. Itu bukanlah serangan nuklir. Itu bukanlah serangan di hari kiamat. Awan asap di mana menara berdiri bukanlah awan jamur. Itu tidaklah berarti berakhirnya sebuah peradaban. Itu tidaklah membahayakan keberadaan negara kita - atau bahkan Kota New York . Memang itu tampak sebagai serangan spektakuler dan mengejutkan dari angka-angka korban tersebut, tapi operasi itu tak lebih dari serangan berteknologi lebih maju dari serangan yang gagal pada sebuah menara tunggal dari World Trade Center pada tahun 1993 oleh seorang muslim dengan menggunakan truk Ryder yang disewa dan dikemas dengan bahan peledak.

Suatu ilusi yang kedua yang sejalan dengan yang pertama. Hampir segera setelah peristiwa itu, para tokok kunci partai Republik seperti Senator John McCain, diikuti dengan George W Bush, dan tokoh-tokoh terkemuka di pemerintahannya, dan segera setelah itu, dalam genderang perjanjian, dan media pada umumnya menyatakan bahwa kita “sedang berperang“. Inilah yang dikatakan oleh Bush hanya tiga hari setelah serangan itu, “perang pertama di abad kedua puluh satu”.

Hanya masalahnya: tidaklah demikian. Meskipun berita-berita utama surat berteriak, Ground Zero bukanlah Pearl Harbor. Al-Qaeda bukanlah Jepang, juga bukan Nazi Jerman. Bukan juga Uni Soviet. Mereka tidak punya tentara, atau sumber keuangan, dan tidak memiliki negara (meskipun mendapat perlindungan minimal dari pemerintahan di Afghanistan, salah satu, negara yang paling terbelakang dan miskin di planet ini).

Dan belum ada tanda-tanda lain ke arah mana kita sedang menuju - siapa pun yang mengatakan bahwa ini bukanlah perang, bahwa ini adalah bukanlah tindak pidana dan beberapa macam tindakan polisi internasional, hanya tertawa (atau merasa diejek atau terhina) keluar dari kamar orang Amerika. Dan demikianlah imperium siap melakukan serangan balik (sama seperti yang diharapkan Osama bin Laden) dalam suatu “perang”, apokaliptik berskala planet- untuk melakukan dominasi dan disamarkan sebagai perang untuk bertahan hidup.

Sementara itu, rakyat sudah berkumpul untuk mengulang upacara nasional 9 / 11 dengan menekankan bahwa kita orang Amerika adalah korban terbesar, korban terbesar, dan dominator terbesar di planet Bumi. Itulah yang menyebabkan bahwa para korban 9 / 11 diubah menjadi agen potensial yang direkrut untuk melakukan revitalisasi perang gaya Amerika.

Dari semua ini, dari terlaksananya misi yang singkat pada bulan-bulan bulan setelah Kabul dan kemudian Baghdad jatuh, keangkuhan Amerika tampaknya tidak mengenal batas - dan itu saat itulah, bukan 9 / 11 itu sendiri, di mana inspirasi bagi “Freedom Tower” raksasa dan kemudian menjadi proyek bernilai miliaran dolar untuk peringatan di lokasi serangan New York itu akan terwujud. Adalah merupakan rasa kesombongan bahwa proyek-proyek raksasa yang dimaksudkan itu dimaksudkan untuk mengenang.



Pada ulang tahun kesepuluh 9 / 11, bagi kekuasaan imperium yang sekarang jelas compang-camping, jelas tampak merosot, dengan tertatih-tatih berdiri di tepi bencana keuangan, dan babak belur oleh perang yang tidak pernah berakhir, kelumpuhan politik, saat-saat masalah ekonomi yang mengerikan, infrastruktur yang hancur, dan cuaca yang aneh, semua ini harusnya menjadi sederhana dan jelas. Bahwa semua itu tidak memberitahu kita tentang berapa banyak shock therapy yang kita masih butuhkan.

Mengubur hasrat terburuk kehidupan Amerika
Adalah merupakan hal biasa, bahkan pada hari ini, untuk berbicara tentang Ground Zero sebagai “hallowed ground (tanah suci)”. Betapa salahnya hal itu. Sepuluh tahun kemudian, tempat itu dikatakan sebagai tanah yang terkotori dan kitalah yang menajiskannya. Bisa saja itu menjadi berbeda. Serangan 9 / 11 bisa saja seperti serangan Blitz di London pada Perang Dunia II. Sesuatu yang diingat dengan kebanggaan yang muram, dengan perasaan terbuka.

Dan jika itu hanyalah reaksi orang-orang di New York City yang harus kita ingat, baik yang telah mati maupun yang masih hidup, penanggap pertama dan penanggap terakhir, orang-orang yang menciptakan tugu peringatan dadakan bagi para korban dan pusat-pusat bagi orang-orang yang hilang di Manhattan, maka kita mungkin ingat 9 / 11 dengan kebanggaan yang sama. Secara umum, orang-orang New York adalah orang-orang yang terhormat, tulus, bijaksana, dan tidak pendendam. Mereka tidak memiliki rencana sebelumnya yang, pada tanggal 12 September 2001, mereka siapkan untuk menggalang dukungan bagi para korban yang berjumlah hampir 3.000 orang. Mereka tidak siap pada saat bencana terjadi - hingga Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld mengatakan dengan perkataan yang begitu klasik - “Seranglah secara besar-besaran. Sapulah semuanya. Semua yang terlibat ataupun tidak …”

Sayangnya, mereka bukanlah ukuran saat itu. Akibatnya, penggunaan 9 / 11 pada dekade sejak itu telah menambahkan kita ke dalam profil pengecut, tidakk berani, dan jika kita membiarkan itu digunakan dengan cara pada dekade berikutnya, kita akan merosot dalam sejarah dan diingat sebagai bangsa pengecut.

Hanya ada sedikit di planet ini dimana hidup lebih penting, atau lebih manusiawi, daripada penguburan dan mengingat kematian. Bahkan manusia purba Neandertal mengubur para leluhur mereka, mungkin dengan bunga, dan puluhan ribu tahun yang lalu, manusia awal, Cro-Magnon, sudah menguburkan mereka yang mati dengan rumit, dalam satu kasus dalam menguburnya dengan pakaian dengan lebih dari 3.000 manik gading yang dijahit, mungkin sebagai obyek penghormatan dan bahkan pengingat. Banyak dari apa yang kita ketahui tentang manusia prasejarah dan era awal sejarah kita berasal dari pekuburan umum (grave) dan pekuburan khusus (tomb) di mana itu disediakan untuk orang-orang yang sudah meninggal.

Dan tentu tugas kita di dunia ini yang kehilangan akan mengingat orang-orang yang telah mati, orang-orang yang dekat dengan kita dan berperan penting dalam kehidupan nasional kita atau bahkan kehidaupan planet ini. Banyak dari mereka yang mencintai dan dekat dengan para korban 9 / 11 sudah pasti akan lekat dengan upacara untuk mengelilingi para istri almarhum, suami, kekasih, anak, ibu, ayah, kakak, atau adik. Untuk mimpi buruk 9 / 11, mereka layak mendapatkan peringatan itu. Tapi kita tidak.

Jika September 11 memang merupakan mimpi buruk, 9 / 11 sebagai peringatan dan Ground Zero sebagai tempat yang “dikuduskan” telah berubah menjadi cek kosong bagi negara Amerika yang suka perang, dengan memberikan dana perjalanan tak berakhir untuk pergi ke neraka. Mereka telah membantu membawa kita ke ladang pembantaian hingga membuat para korban 9 / 11 menjadi malu.

Setiap orang mati, tentu saja, cepat atau lambat akan dilupakan, tidak peduli seberapa erat kita menggenggam kenangan mereka atau seberapa besar tugu peringatan yang kita bangun. Dalam pikiran saya, saya memiliki suatu peringatan pribadi atas orang tua saya sendiri yang sudah mati. Setiap kali saya membalik-balik album foto ibuku ketika masa kanak-kanak dan hampir tidak mengenal seorangpun di album itu kecuali dia di antara semua wajah yang ada, namun, saya juga sadar bahwa tidak ada satu yang tersisa di planet ini untuk bertanya tentang mereka. Dan ketika saya mati, ingatan masa kecilku atas mereka akan ikut pergi bersama saya.

Ini akan menjadi nasib, cepat atau lambat, dari setiap orang yang pada tanggal 11 September 2001, yang terbunuh di gedung-gedung di New York, di lapangan di Pennsylvania, dan di Pentagon, serta mereka yang mengorbankan nyawa mereka dalam upaya penyelamatan , atau sekarang mungkin akibatnya menjadi sekarat. Dalam keadaan seperti itu, siapa yang tidak ingin mengingat mereka semua dengan cara yang khusus?

Adalah hal yang mengerikan untuk meminta mereka yang masih kehilangan pada peristiwa 9 / 11 untuk melupakan tontonan publik yang menyertai memori mereka, tapi lebih buruk adalah apa yang kita miliki: pengulanan upacara khidmat agar perang negara Amerika tetap berkelanjutan dan mimpi merupakan mimpi paling liar dari Osama bin Laden.

Ingatan biasanya begitu penting, tetapi dalam kasus ini kita akan lebih baik untuk melupakannya. Sudah waktunya untuk benar-benar menguburkan, bukan orang-orang yang telah mati, tapi hasrat terburuk dalam kehidupan Amerika sejak 9 / 11 dan upacara yang, selama satu dekade, telah dilakukan bersamanya. Lebih baik mengubur semuanya ke laut bersama dengan bin Laden dan kemudian meratapi orang mati, masing-masing dengan cara kita sendiri, dalam keheningan dan, di atas semuanya, dalam damai. (rz)

Tom Engelhardt, pendiri the American Empire Project dan penulis The American Way of War: How Bush’s war Became Obama’s dan The End of Victory Culture, menjalankan juga TomDispatch.com Nation Institute. Bukunya yang terbaru, Amerika Serikat State of Fear , akan diterbitkan pada bulan November.

Sumber: www.english.aljazeera.net

(hti/Voa-Khilafah.co.cc)
Sssttt... Ini Dia 9 Teori Konspirasi Terkait Runtuhnya WTC

Sssttt... Ini Dia 9 Teori Konspirasi Terkait Runtuhnya WTC

JAKARTA, (Voa-Khilafah.co.cc) --Serangan teror Alqaidah ke menara kembar WTC di Manhattan AS memicu banyak teori konspirasi. Berikut 9 konspirasi yang ditimbulkan oleh serangan dahsyat yang menewaskan sekitar 3.000 orang tersebut.

1. AS Sudah Mengetahui Akan Diserang
Presiden AS saat itu, George W Bush mengatakan bahwa tidak ada seseorang pun di pemerintahannya yang membayangkan negara superpower itu bakal diserang lewat pesawat yang menubruk gedung pencakar langit. Namun beberapa pekan sebelumnya, ketika Bush dan sejumlah pemimpin G8 di Genoa, Italia, sudah memperhitungkan skenario tersebut. Mereka menempatkan misil antipesawat di dekat tempat pertemuan. Sebelumnya, Italia mendapat ancaman akan diserang lewat pesawat.

2. WTC Runtuh Karena Bahan Peledak
Sejumlah fisikawan maupun penggemar teori konspirasi dan pakar teknik sipil percaya gedung WTC diledakkan dari dalam. Bukan karena semata ditubruk pesawat. Ini berasal dari teknik bangunan WTC yang tertanam kokoh tapi hancur hingga ke dasar. Menurut mereka, ada sejumlah besar bahan peledak disimpan di WTC di tempat-tempat strategis.

3. Pialang Saham Berperan
Sebelum 9/11 memang ada aksi pasar saham yang memberi dampak cukup luas. Misal: saham United Airlines dan American Airlines yang pesawatnya dibajak, saham mereka dilepas cukup besar sebelum 9/11. Sementara perusahaan keamanan, di sisi lain yang bakal meraup untung pascaserangan WTC, juga mengalami kebanjiran order saham. Saham Morgan Stanley, yang berkantor di WTC juga mengalami aksi jual besar-besaran.

4. Pesawat Sebenarnya Bisa Ditembak
NORAD (Komando Pertahanan Amerika Utara) seharusnya mampu menembak pesawat-pesawat yang dibajak atau mampu menghalau pesawat itu mendekati targetnya. Namun NORAD tidak melakukan hal ini dan mereka terlambat mengetahui ada pembajakan pesawat.

5. Pesawat di Pentagon
Teori lainnya mengatakan Pentagon tidak diserang oleh pesawat American Airlines Flight 77. Argumentasinya, Petagon adalah gedung paling aman di dunia, memiliki ribuan kamera pengintai. Tapi tidak ada satupun kamera yang menangkap pesawat bakal menghantam Pentagon. Teori konspirasi menghubungkan serangan Pentagon dengan adanya oknum AS yang menembakkan misil ke markas Dephan itu.

6. Kotak Hitam
Setiap pesawat memiliki dua kotak hitam yang menyimpan informasi penerbangan. Anehnya, tidak ada satupun kotak hitam dari dua pesawat yang menghantam gedung WTC. Namun belakangan, para pekerja yang membersihkan sisa sisa WTC mengatakan mereka menolong agen federal mengambil tiga dari empat kotak hitam di sana. Dan kotak hitam di Pentagon pun diklaim sudah sangat rusak untuk dibaca. Kotak hitam yang bisa dibaca umum hanyalah dari United 93 yang jatuh di Pennsylvania.

7. Aksi CIA dan Mossad
Mantan presiden Italia ikut memberi teori konspirasi. Menurut dia, ada informasi dari kaum kiri Italia yang menyatakan CIA dan Mossad ada di belakang serangan WTC. Sehingga mereka menjadikan Islam dan Muslim sebagai kambing hitam. Bahkan lembaga intelejen Pakistan Inter-Service Intelligence mengklaim tahu ada rencana tersebut.

8. Bukan Pesawat, Tapi Misil
Dengan asumsi badan pesawat terbuat dari alumnium yang kekuatannya rendah untuk meruntuhkan WTC, maka ada sejumlah pihak yang menilai jangan-jangan bukan pesawat yang menabrak WTC tapi sebuah misil dengan efek hologram menyerupai pesawat. Teori ini didukung dari analisis frame per frame siaran tabrakan itu yang menunjukkan bentuk pesawat lebih menyerupai selongsong cerutu yang lonjong

9. Demi Minyak
Menghancurkan WTC akan membuka jalan bagi negara-negara barat untuk menguasai aset-aset minyak di Timur Tengah. Penggemar teori konspirasi yakin para perusahaan minyak raksasa memiliki sumber daya untuk membuat serangan tersebut. (republika/voa-khilafah.co.cc)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL