Tampilkan postingan dengan label AKTIVIS DAKWAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKTIVIS DAKWAH. Tampilkan semua postingan
Aktivis Islam Kecam DPR & PKS yang Setujui RUU Pendanaan Terorisme

Aktivis Islam Kecam DPR & PKS yang Setujui RUU Pendanaan Terorisme


SOLO (voa-khilafah.tk) – RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme akhirnya pada selasa (12/2/2013)lalu akhirnya disahkan di Jakarta oleh DRP RI melalui rapat paripurna yang dihadiri 350 anggota DPR, dipimpin oleh Priyo Budi Santoso, wakil ketua DPR RI dari Partai Golkar.

Sebelumnya, Panitia Khusus (Pansus) telah menggodok draft RUU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Persetujuan di Komisi I DPR RI yang dipimpin oleh Adang Daradjatun dari Fraksi PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Dalam rapat yang cukup lama dan alot tersebut,  Komisi I DPR RI menyetujui RUU tersebut dan kemudian dibawa ke rapat paripurna DPR RI setelah pembacaan hasil kerja Pansus dan akhirnya disahkan oleh DPR RI menjadi UU (Undang-Undang).

Pengesahan RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme menjadi UU ternyata tak luput dari perhatian dan pengamatan sejumlah aktivis ormas Islam, salah satunya adalah Ketua DPW FPI Surakarta Ustadz Khoirul RS.

Setelah mempelajari pasal-pasal yang ada dalam RUU tersebut -- cerminan dari gagasan kalangan nasionalis dan kapitalis yang ditunggani Zionis—ada indikasi untuk menjegal langkah penegakan syari’at islam oleh ormas Islam yang dianggap radikal.

“Pasal-pasal itu gagasan nasionalis dan kapitalis Zionis. Jadi saat ini umat Islam harus tegas dalam bersikap. Pasal-pasal itu semuanya menjerat ke kelompok Islam seperti FPI, JAT, HTI dan ormas islam lainnya yang dianggap “keras” oleh Pemerintah,” kata Ustadz Khoirul kepada voa-islam.

Menurutnya, persetujuan RUU tersebut yang diajukan oleh Pemerintah dan kemudian disahkan menjadi UU oleh DPR RI adalah sesuatu yang konyol. “Jika teroris itu ditujukan kepada aktivis islam yang selama ini menyerukan tegaknya syari’at islam, jelas konyol,” ucapnya.

Ketua DPW FPI Surakarta ini melihat bahwa tujuan disahkannya RUU tersebut tidak lain hanya untuk melemahkan dan menghancurkan perjuang umat Islam. Maka dari itu, dirinya mengajak kaum muslimin semuanya dan tokoh-tokoh masyarakat, serta para ulama, tidak hanya lantang menyuarakan dan menuntut pembubaran Densus 88, namun DPR RI juga harus dibubarkan karena telah mensahkan RUU yang sangat mengancam dan merugikan umat Islam itu.

“Saya lihat UU itu untuk membumihanguskan perjuangan Islam. Maka sudah sepantasnya bahwa kita harus menantang UU ini. Dan tugas kita sekarang ini tidak lain, menuntut pembubaran Densus 88 dan juga menyatakan perang terbuka kepada DPR RI yang telah menyetujui RUU itu menjadi UU,” tegasnya. [voa-islam/voa-khilafah.tk]

Ikhwan Akhwat GOMBALERS

Ikhwan Akhwat GOMBALERS

Kegombalan di Kalangan Aktivis Dakwah




Nih dia yang ditunggu-tunggu. Hehehe…




Hal yang sangat menarik salah satunya adalah menyimak romantika di dunia aktivis dakwah. Di antara sebegitu banyak yang memiliki komitmen perjuangan, ada juga beberapa yang suatu saat kadang tergelincir pada jebakan interaksi ikhwan-akhwat. Karena memiliki amanah yang sama, sesama pengurus harian lembaga, atau berada dalam satu bidang, bisa juga dalam satu kepanitiaan, membuat interaksi kerja menjadi lebih intens.




Intensitas hubungan kerja itu suatu saat dapat menumbuhkan benih-benih simpati atau bahkan cinta di antara ikhwan dan akhwat. Hal ini bisa jadi fenomena yang wajar, karena cinta kepada lawan jenis itu fitrah manusia, katanya. =====Tapi meski fitrah, tetap aja ada resikonya, terutama pada keikhlasan beramal, sehingga bila ada bibit riya’ dan ujub bisa menghanguskan pahala yang seharusnya didapat. Namun jika ternyata tidak dapat mencegah adanya perasaan seperti itu, ya harus berusaha menjaga keikhlasan, dan tetap simpati (simpan dalam hati). Apabila perasaan itu telah mewujud pada realisasi amal, baik lisan maupun perbuatan, maka tak ayal akan terjadi juga gombalisasi di sini.




Sering seseorang ingin mengekspresikan atau menyampaikan perasaannya yang sedang membuncah karena cinta. Bagi aktivis dakwah, hal seperti ini mustinya disimpan rapat-rapat dalam lubuk hatinya, jangan sampai si “dia” memergoki adanya perasaan itu. Gengsi dong!! Namun suatu saat pertahanan itu bisa jebol manakala perasaan itu makin menjadi-jadi sedang keimanan dalam kondisi menurun. Maka lahirlah sebentuk perhatian pada si “dia”, baik berupa nasehat, tausiyah, pujian, menanyakan sesuatu (baik tanya beneran atau pun pura-pura bertanya hayoo…) atau sekadar menanyakan kabar. Entah itu lewat SMS, telpon, saat chatting, via e-mail … bisa juga dalam rapat koordinasi.




Dari pengamatan, yang paling banyak terjadi adalah adanya gombalisme via SMS, kita sebut saja sebagai SMS gombal. Kita simak contoh SMS-SMS ini….
“Aslm. Apa kbr? Ukhti, ana sungguh kagum dgn semangat anti. Amanah anti di mana-mana namun semuanya bisa tetap tawazun. Anti benar-benar mujahidah tangguh. Tetep semangat ya Ukhti!”




“Salut sama Ukhti! Anti sungguh militan. Hujan deras seperti itu datang rapat dgn jalan kaki. Jaga kesehatan ya. Ana nggak rela klo Anti sampai jatuh sakit…”


Akhwat: “Aww. Apa kabar? Akhi, sedang ngapain nih? Sudah makan belum? Jangan sampai lupa makan ya..”


Ikhwan: “Www. Alhamdulillaah, menjadi jauh lebih baik setelah Anti SMS ^_^. Ane sedang memikirkan seorang bidadari dunia yang begitu anggun mempesona. Hmm… ane belum makan, tapi dah gak terasa lapar klo ingat sama Anti…”
(Halah… gombal semua tuh!!!)




Ada yang lebih parah nih … kayak gini:
“Aww. Wah .. Anti makin terlihat anggun dengan jilbab biru tadi…”


“Assalaamu ‘alaikum. Apa kbr? Lama nggak kontak ya. Ane kangen ma suara Anti…”


“ … Ane janji akan menikahi Anti setelah lulus nanti ….”




Oh .. NOOOOOOOOOOOO!! Aneh-aneh aja isi SMS-nya. Mungkin lebih banyak lagi SMS-SMS aneh lainnya yang belum terdeteksi. Hmm.. bagaimana reaksi si penerima? Ya bervariasi, ada yang cuek saja, ada yang merasa risih, ada yang membalas biasa, ada yang bertanya-tanya bin penasaran, ada juga yang suka dan berbunga-bunga, ada yang kemudian menaruh harapan. Kita simak penggalan berikut…




Pada dini hari sekitar pukul dua pagi, suara berisik nada SMS membangunkan seorang akhwat dari perjalanan tidurnya. SMS dari siapa nih malam-malam gini, pikirnya. Serta merta dia buka SMS-nya, hah… dari seorang ikhwan, bunyinya:


”Wahai Ukhty, segera terjagalah dari mimpi indahmu, bangunlah dari peraduanmu, basuhlah wajah dan anggota tubuhmu agar bersinar di hari kemudian, bersujud dan bersimpuhlah kepada Allah, agungkanlah Asma-Nya. Niscaya Allah akan meridhoi langkah kita dan mengabulkan cita dan harapan kita.”




Sang akhwat tertegun, ngapain malam-malam begini si ikhwan itu ngirim SMS, kurang kerjaan aja. Dasar, sok perhatian! Namun tanpa sadar jari-jari lentik akhwat itu mengetik balasan:
“Jazakallah khairan, Akh. Jangan kapok tuk sering ngingetin ane ya…”
Nah lo!!


Coba dirasa-rasakan, apa SMS-SMS semacam itu tidak beresiko? Bagus sih sepertinya, membangunkan untuk sholat tahajud … tapi efek sampingnya bisa menimbulkan penyakit-penyakit hati. Bikin merajalelanya VMJ (Virus Merah Jambu). Waa.. kalau virus yang satu ini menyebar, bisa repot. Sulit nyari vaksin atau anti virusnya.




Makanya… ingat, penyebab awal perlu dicegah, yakni adanya gombalisasi. Kalau si gombal dah nyebar, maka sedikit banyak korban bisa berjatuhan. Baik ‘lecet-lecet’ ringan maupun ‘luka’ berat. Bahkan nanti gak hanya berdampak pada hati, tapi juga fisik. Lha bayangin aja … kalau jadi gak enak makan, gak nyaman tidur karena tiap mau makan .. ingat dia, mau tidur … ingat dia, mau ngapain aja ingat dia, apa gak lama-kalamaan bisa kurus tuh? Trus …siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan kaum wanita/akhawat. Mestinya paham dong gimana fitrah perasaan mereka. Mereka seneng dan suka bila diberi perhatian … bisa berbunga-bunga hatinya. Dan tipe cinta mereka (kebanyakan) adalah jatuh cinta sekali yang dibawa sampai mati, kayak Nurul dalam novel AAC itu loh… Trus mereka juga mudah berharap. Nah tuh … coba pikir kalau sampai mereka jatuh cinta, kemudian sampai berharap. Jika kemudian cinta dan harap itu tidak kesampaian, apa nggak sakiiiit banget nanti? Apa tega, mendholimi mereka seperti itu?




So, khususnya bagi para ikhwan, jaga diri, jaga hati, jaga gengsi. Jangan asal kirim SMS, lebih-lebih SMS gombal bin murahan. Juga .. jangan asal balas SMS, apalagi dengan SMS gombal. Ini nih contoh balasan yang ngegombal….


Akhwat : “Ane pengin rihlah, ke syurga …”
Ikhwan : “Ukhty, ke mana pun Anti mau pergi, saya akan bersedia menemani, meski taruhannya jiwa ini …” (He..he..he.. peace Ukhti ^_^ )


Nah!! Dasar gombal! Jaga gengsi dong. Ini nih…. Barisan kata berikut mungkin bisa menggambarkan ikhwan yang nggak mau nggombal.


Karena Aku Mencintaimu
Wahai Ukhty…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu


Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah


Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.


Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….


Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.




So, sekali lagi bagi para ikhwan, jangan jualan gombal, jangan obral janji. Gak usah deh sok perhatian, terlebih lagi bilang suka atau cinta. Bisa fatal tuh akibatnya! Mau jadi orang dholim?? Tegaskan semenjak sekarang, hal seperti itu tabu kalau belum nikah. Kalau dah nikah sih … puas-puasin aja bilang cinta seratus kali sehari ama istrinya. Sampai dhower deh, terserah! ^_^




Bagi para akhwat, hati-hati binti waspada Ukh … jangan mudah digombali. Jangan percaya dengan kata-kata suka, cinta atau janji-janji. Jangan mudah menambatkan hati, jangan mudah berharap. Stay cool, calm, confident. Perisai izzahmu harus tetap kokoh. Antum tidak suka terombang-ambing kan? Antum lebih suka pada kepastian kan? Makanya jangan sampai semua itu terjadi sebelum ada hal yang konkrit, sebelum ada kepastian. Hal konkrit itu adalah, si ikhwan mengkhitbah Antum dengan datang ke orang tua Antum. Itu … baru deh, oke. Waspadalah …waspadalah …


SO SEMUANYA …. WASPADAI ARUS GOMBALISASI!!!





(khoirunnisa/voa-khilafah.co.cc)
 
Ibu Ideologis Pejuang Khilafah

Ibu Ideologis Pejuang Khilafah


Sejarah mencatat dalam tinta emas, betapa kaum ibu berkualitas telah menjadi penopang tegaknya peradaban mulia.
Voa-Khilafah.co.cc - Puluhan Muslimah berjalan kaki di Tunisia sembari memekikkan 'Allahu Akbar' dengan lantang. Para perempuan berjilbab ini menuntut ditegakkannya syariah dan Khilafah di negaranya yang baru saja terjadi revolusi. Gerakan rakyat yang sukses menumbangkan rezim sekuler-kapitalis, yang menginspirasi makin bergulirnya seruan Khilafah.

Ya, kegagalan sistem kapitalisme dalam menyejahterakan masyarakat dunia, baik Muslim maupun non Muslim semakin nyata. Termasuk kegagalan kapitalisme dalam mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Tuntutan penerapan syariah dan khilafah pun bukan lagi sekadar wacana. Ibarat bola salju, makin besar dan lajunya makin kencang. Tak hanya di Tunisia, tuntutan Khilafah juga menggema di seluruh pelosok dunia. Hanya, media massa tidak menyiarkannya sehingga seolah terdengar samar-samar.
Nah, kaum perempuan turut punya andil dalam menyuarakan wajibnya penerapan syariah dan Khilafah. Apa perannya?

Peran Kodrati 

Peran Muslimah dalam memperjuangkan syariah dan Khilafah terkait erat dengan kodratnya sebagai perempuan, yakni ibu pelahir generasi penerus. Kualitas generasi penerus ada di tangan para ibu ini. Sebab ibu adalah orang pertama yang dikenal anak. Ibu juga subyek utama sejak masa awal kehamilan, dilahirkan, menyusui, dan selama perkembangan dari tahap satu ke tahap lainnya dalam kehidupan anak.

Ibu merupakan pemeran penting bagi tumbuh kembangnya buah hati. Ibu adalah penentu arah perkembangan dan kemajuan anak-anaknya kelak.

Karena itu, sebagai pejuang syariah dan Khilafah, seorang Muslimah bukan sekadar menjadi ibu biologis bagi anaknya tapi wajib menjadi ibu ideologis. Yakni, ibu yang mampu melahirkan generasi berkualitas pembela Islam.

Ibu ideologis adalah ibu yang paham Islam secara kaffah, baik akidah maupun syariah. Dengan demikian, kelak ia mampu mendidik anak-anaknya dengan ideologi Islam kaffah pula. Ibu demikian mampu merumuskan desain pembinaan dan pendidikan yang terencana, terstruktur, dan terbaik bagi anak-anaknya, bahkan sejak merencanakan kehamilan, hamil hingga anaknya lahir.

Ibu ideologis ini akan terus belajar, mengembangkan diri dan memperluas wawasan agar mampu mewujudkan anak-anak yang mampu eksis dalam persaingan global. Ia mampu memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya dan melahirkan anak-anak yang membanggakan. Yakni, anak yang cerdas, dengan pemahaman agama yang mendalam, memiliki karakter kepemimpinan serta kepribadian berkualitas.

Ibu seperti ini mampu memahami bahwa tantangan yang akan dihadapi anak-anak jauh lebih besar dari apa yang mereka hadapi saat ini, sehingga senantiasa berupaya keras menyiapkan bekal berupa ilmu pengetahuan, kekuatan mental ataupun kesadaran politis bagi anak-anaknya. Dengan begitu akan lahir generasi penerus yang membentuk masyarakat terbaik.

Teladan 

Banyak keteladanan yang menunjukkan keunggulan peran Muslimah yang tak tertandingi dalam mewujudkan masyarakat terbaik. Tidak sedikit tokoh-tokoh yang sukses karena peran seorang wanita dan ibu di belakangnya. Namanya tidak tercatat dalam sejarah, namun akan selalu menyertai kesuksesan dan kegemilangan anak hasil didikannya. Dan itu cukup menjadi bukti betapa pentingnya peran ibu. Dari rahim kaum ibulah, lahirnya bangsa bermartabat, mandiri dengan pemimpin berkualitas emas.

Sejarah mencatat dalam tinta emas, betapa kaum ibu berkualitas ini telah menjadi penopang tegaknya peradaban mulia. Ibu Imam Syafi'i misalnya, mewakili perjuangan ibu dari ulama sepanjang zaman. Suaminya meninggal sebelum Imam Syafi'i lahir. Ia membesarkan Syafi'i sendirian, memotivasinya untuk belajar. Usia 7 tahun Syafi'i sudah hafal Alquran.

Guru-guru ia datangkan untuk mengajar Syafi'i, meski untuk itu ia harus bekerja keras demi biaya belajar anaknya. Hasilnya, Imam Syafi'i menjadi mujtahid yang hasil ijtihadnya dijadikan referensi hingga kini.

Begitupula halnya dengan ibu Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel. Sejak Al Fatih kecil, ibunya selalu menceritakan janji Nabi SAW dalam haditsnya tentang keniscayaan penaklukan Konstantinopel. Berbekal hadits itulah sang ibu menggambarkan betapa mulianya pasukan dan pemimpin pasukan yang memimpin penaklukan. Usahanya mendidik dan mengarahkan anaknya menjadi pemimpin pasukan yang dipuji Allah SWT membuahkan hasil yang hingga kini dikenang dalam sejarah emas umat Islam.

Lalu Asma' binti Abu Bakar, berhasil mendidik Abdullah bin Zubair sebagai ahli ibadah sekaligus individu yang berani menghadapi penguasa zalim. Ibunda Al-Khansa', mampu mendorong keempat anaknya untuk syahid. Ada juga Ummu Tsulaim yang mampu melayani suami dengan baik meskipun hendak mengabarkan kematian putranya.

Apakah teladan seperti itu bisa dilakukan perempuan masa kini? Sangat bisa. Seperti fenomena anak ajaib di Iran, Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba'i yang memperoleh titel doktor pada usia tujuh tahun dari universitas di Inggris.

Ia sudah hafal dan paham Alquran pada usia lima tahun, berkat didikan ayah ibunya. Keduanya hafidz dan hafidzah Alquran. Dalam percakapan sehari-hari, mereka biasa menggunakan ayat-ayat Alquran, sehingga anaknya pun mampu melakukan hal yang sama.

Subahanallah! Alangkah cerahnya masa depan dunia jika anak-anak terdidik oleh ibu-ibu mulia ini; ibu yang shalihah, cerdas dan sadar syariah. Melalui tangan ibu kelak akan lahir khalifah-khalifah yang senantiasa istiqamah menjalankan syariat Islam, menerapkan dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru dunia. Sebuah peran politis yang tak tergantikan oleh sosok manapun.

Optimalisasi 

Memperjuangkan tegaknya Khilafah di tengah-tengah kehidupan sekuler, memang bukan perkara gampang. Perlu kesungguhan, keseriusan dan kesabaran untuk mewujudkannya. Karena itu, kewajiban kita sebagai Muslimah adalah sekuat tenaga mencurahkan segala kemampuan dalam rangka mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para shahabat, melaksanakan dakwah sebagaimana yang telah mereka lakukan.

Jika kelak sampai pada tujuan secara sempurna, memang itulah yang kita harapkan. Namun sekiranya tidak sampai pada tujuan, bukan berarti kita gagal. Sebab kita telah menjalankan kewajiban dan insya Allah kelak akan disempurnakan oleh generasi berikutnya.

Dalam hal ini Allah SWT telah menjamin orang-orang yang berjuang menegakkan dan membela agama Allah, maka Dia akan menolong mereka dan memberi kekuasaan di muka bumi.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.”  (TQS Muhammad: 7).

Hanya dengan usaha dan doa insya Allah cita-cita kaum muslimin untuk bersatu di bawah payung Daulah Khilafah Islamiyah akan terwujud. Amin.[] 
kholda najiah
(hti/gm/voa-khilafah.co.cc)

Dosen UI: Kerjasama Dengan IAIN Membuat UI Liberal

JAKARTA (Voa-Khilafah.co.cc) – “I can tolerate homosexualism, I can tolerate lesbianism, but I can’t tolerate plagiarism.” Ucapan itu dikatakan salah seorang dosen Sastra di UI. Dengan entengnya, ia mengatakan menjiplak sebuah karya lebih berbahaya dari homoseksualisme. Lantas sejak kapan kampus penghasil aktifis dakwah kampus itu berada dalam bayang-bayang liberalisme?

Menurut Ustadz Abdi Kurnia, selaku Dosen Mata Kuliah Agama Islam di UI mengatakan bahwa sejarah liberalisme di UI telah berjalan cukup lama. Setidaknya hal itu dapat dilacak saat keran kerjasama antara UI dengan IAIN (kini UIN, red) dibuka pada tahun 1993.

“Pada waktu itu terjadi kerjasama untuk peningkatan mutu dosen agama. Mulailah secara perlahan nama-nama seperti Mulyadi Kartanegara, Yunasril Ali, Kautsar Azhari Noer, dan Komaruddin Hidayat berdatangan ke UI,” terangnya kepada Eramuslim.com, Selasa 15/11.

Selanjutnya kerjasama tersebut juga menjalar pada level mahasiswa. Interaksi kuat antara mahasiswa IAIN dengan UI ditengarai membawa warna liberalisme di UI. Tokoh-tokoh Liberal seperti Dawam Rahardjo pun kemudian diundang untuk menjadi pembicara dalam diskusi mahasiswa. Bibit-bibit itu terus berlangsung di tahun 1993.

Pada tahun 1996 dinamika pemikiran liberal di UI kian menghawatirkan. Hal ini ditandai dengan berdirinya kelompok kajian yang menamakan diri Forum Ilmiah Kajian Islam (FIKI).

Menurut Ustadz Abdi Kurnia yang juga adalah mahasiswa UI era 90-an berdirinya FIKI tidak lepas dari resistensi atau kritik terhadap gerakan tarbiyah yang kala itu massif di UI. FIKI seakan menjadi lawan tanding dari aktivitas dakwah kampus untuk mengIslamkan UI.

Akan tetapi, umur kelompok kajian ini tidaklah panjang, “Tahun 2001 FIKI hilang dengan sendirinya seiring dengan lulusnya para aktifis FIKI,” tandas Sekretraris Keluarga Alumni Mesjid UI itu.

Meski ditinggal para seniornya, geliat liberalisme di UI bukan berarti berhenti. Nuansa liberal semakin menjadi-jadi ketika nama-nama seperti Zainun Kamal (UIN), Luthfi Asy Syaukanie (Paramadina), dan Ulil Abshar Abdalla (JIL) mengajar di Jurusan Filsafat UI. (eramuslim/arrahmah/voa-khilafah.co.cc)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL