Tampilkan postingan dengan label ALQUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALQUR'AN. Tampilkan semua postingan
Hari-Hari Ramadhan Para Ulama

Hari-Hari Ramadhan Para Ulama

Voa-Khilafah.com - TELAH diungkap di tulisan sebelumnya, gambaran mujahadah Ramadhan para salaf, khususnya para tabi’in (Baca, Kuatnya Tilawah Para Salaf Saat Ramadhan). Lalu bagaimana dengan generasi sesudahnya? Ternyata masih ada juga dari kalangan ulama yang meneruskan “tradisi baik” ini.

Sebagai contoh, Imam Syafi’i (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an enam puluh kali dalam sebulan (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/45)

Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktivitas beliau agak berbeda dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majelis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jama’ah dengan wudhu isya’. Sekan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra, 6/10).

Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu menghatamkan Al Qur’an 90 kali, dan di hari biasa beliau menghatamkan sekali dalam sehari. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/294).

Adapun untuk mempersiapkan Ramadhan, kita bisa belajar dari Taqi Ad Din As Subki (756 H). Beliau memiliki kebiasaan dikala datang bulan Rajab, yakni tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk melakukan shalat wajib, dan hal itu terus berjalan hingga Ramadhan tiba. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 10/168).

Ini ditempuh supaya beliau lebih bisa konstrasi beribadah, sehingga ketika Ramadhan telah tiba, fisik dan batin sudah memiliki kesiapan untuk melakukan dan meningkatkan mujahadah dalam beribadah.

Selain itu, adapula Khatib As Syarbini (977 H), ulama besar Mesir penulis Mughni Al Muhtaj, juga memiliki cara tersendiri agar bisa konsentrasi melakukan ibadah ketika Ramadhan tiba. Yakni, tatkala terlihat hilal Ramadhan, beliau bergegas dengan perbekalan yang cukup untuk ber’itikaf di masjid Al Azhar, dan tidak pulang, kecuali setelah selesai menunaikan shalat ied. (lihat, biografi singkat As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj, 1/5)

Di India Tarawih dengan Bacaan 30 Juz

Di India pada abad 13 H kebiasaan shalat tarawih dengan menghatamkan 30 juz dalam semalam masih dilestarikan. Hal itu diketahui dari fatwa Imam Laknawi, ulama madzhab Hanafi dari India yang wafat 1304 H, mengenai bolehnya menghatamkan Al Qur`an 30 juz dalam semalam di waktu tarawih, guna merespon pertanyaan-pertanyaan mengenai kebiasaan umat Islam menghatamkan Al Qur`an dalam tarawih di zaman itu. (Iqamat Al Hujjah, 154). [www.voa-khilafah.com]

Sumber : Hidayatullah.com

Subhanallah, Inilah Mukjizat Alquran tentang Garis Edar Tata Surya

Subhanallah, Inilah Mukjizat Alquran tentang Garis Edar Tata Surya


Subhanallah, Inilah Mukjizat Alquran tentang Garis Edar Tata SuryaVoa-Khilafah.co.cc - Menurut Ilmu Astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex.

Ini berarti bahwa matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, komet Halley, sebagaimana terlihat di atas, juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya.

Menurut Harun Yahya, terdapat sekitar 200 miliar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan.

Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah "berenang" sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang, dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, Pencipta seluruh sekalian alam.

Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.

Fenomena itu telah disebutkan dalam Alquran sejak abad ke-7 M. Padahal, pada zaman itu manusia tidak memiliki teleskop ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Dalam Alquran disebutkan matahari dan bulan masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

Simak firman Allah SWT dalam surah Al-Anbiya [21] ayat 33: ''Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya."

Disebutkan pula dalam surah Ya Sin [36] ayat 38: ''Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.''

Menurut Alquran, keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar: "Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (QS Az-Zariyat [51]:7)

Maha Benar Allah SWT dengan Segala Firmannya.

Obama Sampaikan Maaf pada Rakyat Afghanistan

Voa-Khilafah.co.cc--Presiden Barack Obama meminta maaf kepada rakyat Afghanistan sehubungan dengan pembakaran Quran oleh pasukan Amerika Serikat di pangkalan udara militer AS di Bagram.


Presiden Barack Obama meminta maaf kepada rakyat Afghanistan sehubungan dengan pembakaran al-Quran oleh pasukan Amerika Serikat di pangkalan udara militer AS di Bagram.

Dalam surat kepada Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, Obama mengungkapkan penyesalan dan mengatakan insiden tersebut sebagai kekeliruan semata.

"Saya menyampaikan simpati mendalam dan meminta Anda serta rakyat menerima permintaan maaf saya yang dalam," ujar nya dikutip BBC, Kamis (23/02/2012).

Surat permintaan maaf Obama yang disampaikan melalui Duta Besar Amerika Serikat di Afghanistan itu juga memastikan penyelidikan atas aparat yang terlibat dalam pembakaran al-Quran.

"Kesalahan itu tidak disengaja: saya menjamin Anda bahwa kami akan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah agar hal itu tidak terulang kembali, termasuk menyelidiki mereka yang bertanggung jawab."

Taliban

Hari ini, Kamis 23 Februari, unjuk rasa untuk mengungkapkan kemarahan atas pembakaran al-Quran masih terus berlangsung di beberapa kota di Afghanistan utara dan timur.

Dua tentara Amerika Serikat dan dua tentara Afghanistan tewas dalam serangan atas pangkalan udara di Bagram. Di tempat lainnya, tiga orang tewas.

Rabu kemarin sedikitnya tujuh orang tewas dan belasan lainnya terluka dalam aksi unjuk rasa yang diwarnai dengan kekerasan.

Di hadapan anggota parlemen, Presiden Karzai mengatakan bahwa seorang pejabat Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas pembakaran al-Quran. Namun dia menambahkan hal itu dilakukan karena ketidaktahuan.

Sementara Taliban sudah menyerukan pembunuhan dan pemukulan semua pasukan penjajah sebagai balas dendam atas pelecehan al-Quran.

Dalam sebuah pernyataan, seorang juru bicara Taliban juga meminta agar warga Afghanistan tidak berhenti melakukan unjuk rasa terhadap pangkalan maupun aparat militer asing untuk memberi pelajaran agar mereka tidak pernah berani lagi menghina kitab suci al-Quran. *hid/voa-khilafah.co.cc

Rahasia Ubun Ubun Dalam Al Qur'an

Voa-Khilafah.co.cc - Gambaran otak manusia bagian depan yang disebut Allah dalam Al Qur’an Al Karim dengan kata nashiyah (ubun-ubun). Al-Qur’an menyifati kata nashiyah dengan kata kadzibah khathi’ah (berdusta lagi durhaka). Allah berfirman, “(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16). Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak berbicara? Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak berbuat salah?

Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”

Kemudian ia memaparkan masalah ini menurut beberapa pakar ahli. Di antaranya adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.

Karena itu, undang-undang di sebagian negara bagian Amerika Serikat menetapkan sanksi gembong penjahat yang merepotkan kepolisian dengan mengangkat bagian depan dari otak (ubun-ubun) karena merupakan pusat kendali dan instruksi, agar penjahat tersebut menjadi seperti anak kecil penurut yang menerima perintah dari siapa saja.

Dengan mempelajari susunan organ bagian atas dahi, maka ditemukan bahwa ia terdiri dari salah satu tulang tengkorak yang disebut frontal bone. Tugas tulang ini adalah melindungi salah satu cuping otak yang disebut frontal lobe. Di dalamnya terdapat sejumlah pusat neorotis yang berbeda dari segi tempat dan fungsinya.

Lapisan depan merupakan bagian terbesar dari frontal lobe, dan tugasnya terkait dengan pembentukan kepribadian individu. Ia dianggap sebagai pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Ia memainkan peran yang terstruktur bagi kedalaman sensasi individu, dan ia memiliki pengaruh dalam menentukan inisiasi dan kognisi.

Lapisan ini berada tepat di belakang dahi. Maksudnya, ia bersembunyi di dalam ubun-ubun. Dengan demikian, lapisan depan itulah yang mengarahkan sebagian tindakan manusia yang menunjukkan kepribadiannya seperti kejujuran dan kebohongan, kebenaran dan kesalahan, dan seterusnya. Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.

Ketika Prof. Keith L Moore melansir penelitian bersama kami seputar mukjizat ilmiah dalam ubun-ubun pada semintar internasional di Kairo, ia tidak hanya berbicara tentang fungsi frontal lobe dalam otak (ubun-ubun) manusia. Bahkan, pembicaraan merembet kepada fungsi ubun-ubun pada otak hewan dengan berbagai jenis. Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun.

Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarauh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak. Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah, “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)

Beberapa hadits Nabi SAW yang bericara tentang ubun-ubun, seperti doa Nabi SAW, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu…”

Juga seperti doa Nabi SAW, “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya…”

Juga seperti sabda Nabi SAW, “Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya hingga hari Kiamat.”

Apabila kita menyandingkan makna nash-nash di atas, maka kita menyimpulkan bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengendali perilaku manusia, dan juga perilaku hewan.

Penginjil Muke Gile!! Betawi Mau Dikristenin Pakai Al-Qur'an

Voa-Khilafah.co.cc - Sebuah LSM Penginjilan yang menamakan diri Staff Isa Dan Islam (SIDI) aktif menyuplai materi pendangkalan akidah untuk gerakan kristenisasi kepada umat Islam. Berbagai aktivitasnya antara lain kursus perbandingan agama dan pembagian buku dan brosur pemurtadan secara gratis.

Dalam setiap aktivitas dan kajiannnya, para penginjil itu selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur'an untuk mendukung doktrin Ketuhanan Yesus. Dalam profil yang dipampang di website ###anislam.com, para penginjil itu mengaku sebagai “pengikut Isa Al-Masih yang terbeban menolong orang Kristen maupun orang Islam untuk memahami ajaran Al-Qur’an maupun Alkitab tentang pribadi Isa Al-Masih.”

Dalam setiap aktivitas dan kajiannnya, para penginjil itu selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur'an sedemikian rupa yang disandingkan dengan ayat Bibel untuk mendukung doktrin Ketuhanan Yesus. Dalam profil yang dipampang di website ###anislam.com, para penginjil itu mengaku sebagai “pengikut Isa Al-Masih yang terbeban menolong orang Kristen maupun orang Islam melalui dialog agama untuk memahami ajaran Al-Qur’an maupun Alkitab tentang pribadi Isa Al-Masih.”

Secara spesifik, para penginjil SIDI membidikkan gerakan kristenisasi kepada berbagai suku mayoritas Muslim di tanah air, antara lain suku Betawi. Dalam rubrik “Jalan Keselamatan,” para mereka mengajarkan tuntunan memurtadkan umat Islam suku Betawi melalui dua tahab, berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an dan Bibel.

Dalam tahap pertama, Penginjil SIDI memaparkan bahwa langkah pertama memperoleh keselamatan adalah mencari jalan yang lurus sesuai dengan Al-Qur'an surat Al-Fatihah 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Langkah selanjutnya, mengakui Yesus sebagai jalan yang lurus karena Al-Qur'an menyatakan: Yesus dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki yang suci (Qs 19:19); diberi gelar “Kalimat Allah” (Qs 3:35, 39); merupakan “Tiupan Roh dari Allah” (Qs 4:171); unik dalam mengerjakan mukjizat menyembuhkan orang buta, orang sopak, menghidupkan orang mati, memberi hidangan dari langit (Qs 3:39; 5:114).

Langkah ketiga adalah mengakui kebenaran Injil sebagai Kabar Baik yang dibawa oleh Yesus (Qs 3:84).

Langkah keempat, mengimani sifat Allah yang dominan dalam surat Al-Fatihah 1, yaitu sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim (Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang). Manifestasi sifat Allah ini adalah hari raya Idul Adha, yang bermakna pengorbanan Yesus di tiang salib untuk menebus dosa manusia.

Bila ditelaah secara benar dan proporsional, ayat-ayat Al-Qur'an yang dikutip tersebut, justru memperkuat akidah tauhid, meneguhkan kebenaran Islam dan menegaskan kekafiran agama Kristen. Berikut penjelasannya:

Pertama, Ayat “ihdinas Shiraathal mustaqiim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus) dalam Al-Qur'an surat Al-Fatihah 6 sama sekali tidak mengajak umat untuk menuhankan Yesus.

Kata “ihdina” pada ayat ini berarti permohonan kepada Allah agar senantiasa dibimbing dengan hidayah-Nya baik hidayah irsyad wat-taufiqsupaya senantiasa berpegang teguh di jalan Allah. Jalan lurus yang dimaksud dijelaskan pada ayat berikutnya:“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerah­kan nikmat kepada mereka”(pangkal surat Al-Fatihah 7).

Jadi, jalan lurus yang dikejar umat Islam bukan jalan agama Kristen, tapi jalan kebenaran dalam bimbingan dan ridha Allah yang telah dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat, yaitu: para rasul, nabi,shiddiqin (orang-orang yang jujur) dan para syuhada (yang gugur syahid membela agama-Nya).

Ujung ayat 7 surat Al-Fatihah semakin menegaskan bahwa jalan yang lurus itu bukan jalan Kristen dan Yahudi: “Bukan pula jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat” (ujung surat Al-Fatihah 7).

Maksud “orang-orang yang telah dimurkai Allah” (al-maghdhub) adalah orang Yahudi, karena mereka beragama tanpa memakai petunjuk para nabi padahal mereka mengetahuinya. Sedangkan kaum yang tersesat (ad-dhollin) adalah orang Kristen yang dalam praktik agamanya tidak memakai petunjuk agama karena tidak mengetahuinya. Salah satu kesesatannya adalah bertuhan kepada Tuhan Trinitas yang terdiri dari 3 oknum Tuhan Bapak, Tuhan Anak (Yesus) dan Tuhan Roh Kudus.

Kedua, mengakui Isa sebagai jalan yang lurus adalah keimanan yang benar, asalkan proporsional tidak kebablasan. Secara proporsional, jalan lurus yang diajarkan Nabi Isa adalah jalan tauhid: “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus” (Qs Ali Imran 51, Az-Zukhruf 64).

Selain akidah tauhid, jalan lurus Nabi Isa yang tak kalah pentingnya adalah estafeta kenabian. Sebelum meninggalkan dunia, Nabi Isa berwasiat kepada para muridnya tentang nubuat kedatangan Nabi Muhammad SAW (Qs Ash-Shaff 6, Al-A’raf 157).

Dengan ayat-ayat itu, jika penginjil SIDI mengaku konsisten dengan jalan lurus Nabi Isa, maka mereka harus masuk Islam dan mengakui kenabian Muhammad SAW.

Terkait mukjizat Nabi Isa yang dikisahkan Al-Qur'an, justru semakin meneguhkan ajaran Tauhid, karena semua mukjizat itu terjadi “bi-idznillah” (dengan izin Allah). Seharusnya, jika kagum kepada mukjizat Nabi Isa harus ditujukian kepada Allah. Kagumilah Tuhannya Nabi Isa yang memberi mukjizat.

Ketiga, Para penginjil tidak usah menggurui umat Islam supaya mengakui keberadaan (eksistensi) kitab Injil yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Isa. Umat Islam di manapun wajib mengimani Injil sebagai hudan (petunjuk) dannuur (cahaya) yang berlaku khusus untuk bani Israel, karena misi nabi Isa adalah khusus untuk bani Israel (Qs Ali Imran 49).

Tapi Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa itu bukanlah empat Injil maupun surat-surat Paulus yang tercantum dalam Bibel. Karena banyak ajaran Bibel yang bertentangan dengan Al-Qur'an, misalnya: Yesus dinubuatkan sebagai anak durhaka (Markus 15:28) yang menghalalkan miras (Yohanes 2:7-11).

Keempat, karena mengimani Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, maka umat Islam menolak doktrin dosa warisan Adam. Dengan sifat Maha Penyayang, Pengasih dan Pengampun, Allah menjanjikan rahmat dan ampunan kepada hamba-Nya yang bertobat (Qs Al-Ma`idah 74, az-Zumar 53-54). Maka ketika Adam dan Hawa bertobat sebelum keluar dari surga, Allah pun menerima tobat Nabi Adam dan memberikan ampunan kepadanya (Qs Al-A'raf 23, Al-Baqarah 37, Thaha 122).

Sifat rahman-rahim Allah versi Islam jauh berbeda dengan versi Kristen. Menurut Islam, Allah mengampuni dosa manusia dengan taubat nashuha. Sementara menurut Kristen, ampunan Tuhan terhadap dosa Adam dan istrinya harus menunda ribuan tahun untuk menunggu kelahiran Yesus. Lebih ruwet lagi, ampunan Tuhan itu dilakukan Tuhan dengan menjelma menjadi manusia untuk mati dibunuh di tiang salib.

Padahal sebagai Tuhan Yang Maha Pengampun, seharusnya Dia tak perlu repot-repot menempuh jalan rumit dengan menjelma menjadi manusia untuk dibunuh secara tragis di tiang salib. Betapa ruwetnya doktrin ini!

Nah Ini Dia, Jalan ke Neraka Penginjil

Setelah jungkir-balik menyelewengkan ayat-ayat Al-Qur'an untuk mendukung doktrin Kristen, Penginjil SIDI berusaha menyeret umat Islam menjadi seorang Kristen dengan bahasa khas Betawi, berikut kutipannya:

“Pegimanรฉ supayรฉ bisรฉ selamet? Kalo รฉntรฉ ngikutin lima langka ini, รฉntรฉ ada di jalan nyang bisa buat รฉntรฉ selamet. “Diselamatin” artinyรฉ รฉntรฉ dilepasin dari iketan dosa, dibebasin dari hukuman api neraka, dikasi hidup kekel, amรฉ bisa masuk sorga. ร‰ntรฉ mulain periksa ati รฉntรฉ sendiri buat pastiin apรฉ รฉntรฉ betul-betul mau diselametin:

(1) Tulisin dosa-dosa nyang pernah รฉntรฉ lakonin, nyang รฉntรฉ inget. (2) Akuin satu-satu semuรฉ dosa-dosa nyang รฉntรฉ udรฉ tulis tadi kepadรฉ Sang Penyelamet. Lakonin langka eni amรฉ langka selanjutnyรฉ sambil belutut amรฉ bedoa. Inget nรฉh, cuman doa yang diucapin amรฉ hati yang sunggu-sunggu nyang diterimรฉ Allah. (3) Minta amรฉ Sang Penyelamat supayรฉ darรฉ-Nyรฉ ngebersiin ati รฉntรฉ dari dosa. Isa Al-Masih mati, terus darรฉ-Nyรฉ ampรฉ ngalir di kayu salib garรฉ-garรฉ dosa-dosa รฉntรฉ, tapi Diรฉ idup lagi di ari nyang ketiga. Itu makรฉnyรฉ, darรฉ-Nyรฉ adรฉ kuasa buat ngapusin dosa-dosa.“Darรฉ Isa Al-Masih, Anak Allah itu, ngebersiin kitรฉ dari segalรฉ dosa” (Injil, 1 Yohanes 1:7).
(4) Serahin segalรฉ dosa รฉntรฉ kepada Sang Penyelamat. Percayรฉ kepadรฉ Isa Al-Masih artinyรฉ kite mau nyerain (percayain) dosa-dosa รฉntรฉ untuk Diรฉ nyang mikul. “Diรฉ sendiri udรฉ mikul dosa kitรฉ waktu Diรฉ menderitรฉ sengsarรฉ di kayu salib....” (Injil, 1 Petrus 2:24). (5) Undang Sang Penyelamat masuk amรฉ tinggal di dalem ati รฉntรฉ selama-lamanyรฉ. Percayรฉ kepadรฉ Isa Al-Masih artinyรฉ terima Diรฉ jadi Penyelamat diri รฉntรฉ.

(1) Buatlah daftar tertulis dari semua dosa yang diingat yang pernah Saudara lakukan! (2) Akuilah semua dosa pada daftar tersebut satu persatu kepada Sang Juruselamat. Langkah ini dan seterusnya harus dilakukan dengan berlutut dan berdoa! Ingat, Allah hanya mendengarkan doa yang diucapkan dengan hati yang sungguh-sungguh. (3) Mintalah Juruselamat membersihkan hati Saudara dari dosa dengan darah-Nya. Yesus Kristus mati dan mencurahkan darah-Nya di kayu salib karena dosa-dosa Saudara, tetapi Ia bangkit kembali pada hari ketiga. Maka darah-Nya berkuasa menghapuskan dosa-dosa Saudara! “Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa” (Injil, 1 Yohanes 1:7). (4) Percayakan segala dosa Saudara kepada Sang Juruselamat. Percaya kepada Tuhan Yesus artinya mau menyerahkan (mempercayakan) dosa-dosa Saudara untuk ditanggung olehNya. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib...” (Injil, 1 Petrus 2:24) (5) Persilahkan Sang Juruselamat masuk mendiami hati Saudara untuk selama-lamanya. Percaya kepada Isa Al-Masih artinya menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi hidup Saudara.

Itulah lima langkah kemusyrikan menuju neraka Jahannam ajaran Penginjil Kristen.
Mengimani Yesus sebagai Tuhan Juru Selamat Penebus dosa adalah doktrin yang keliru menurut ayat Bibel sendiri. Kitab Yesaya menegaskan, sepanjang masa Tuhan dan Juru Selamat itu hanyalah Allah, tidak ada yang lain:“Demikianlah firman Tuhan... Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juru selamat selain daripada-Ku”(43:10-11).

Doktrin penebusan dosa oleh kematian Yesus di tiang salib sudah usang dan banyak digugat ilmuwan Kristen sendiri. Uskup John Shelby Spong menyerukan untuk menyingkirkan doktrin Yesus Juruselamat: “So we must free Jesus from the rescuer role.. Jesus portrayed in the creedal statement ‘as one who, for us and for our salvation, came down from heaven’ simply no longer communicates to our world. Those concepts must be uprooted and dismissed” (Why Christianity Must Change or Die, hlm 99).

(Oleh karena itu kita harus membebaskan Yesus dari kedudukannya sebagai Juruselamat... Yesus yang digambarkan di dalam pernyataan keimanan sebagai seseorang yang demi kita dan demi keselamatan kita, turun dari surga, sudah tidak cocok untuk alam kita sekarang ini. Ajaran ini harus dicabut dan disingkirkan).

Membuat daftar dosa secara tertulis untuk disesali dengan cara berlutut hadapan patung atau gambar Yesus Kristus, adalah perbuatan yang sia-sia dan bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri. Dalam Bibel Yesus mengajarkan etika berdoa kepada murid-muridnya, yang dikenal dengan istilah “Doa Bapa Kami,” sbb:

“Bapa Kami di surga... ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:9-12, Lukas 11:2-4).

Jika Yesus mengajarkan, menyuruh dan memberi teladan untuk berdoa minta ampun kepada Tuhan, maka berdoa minta ampun kepada Yesus adalah ajaran sesat penginjil. Jika konsisten dan beriman kepada Yesus, berdoa dan minta ampunlah seperti yang dilakukan Yesus, yaitu berdoa kepada Allah SWT, Tuhannya Yesus.

Selain keliru dan berdosa, minta pengampunan dosa kepada Yesus semakin aneh, karena diiringi dengan i'tikad bahwa Yesus adalah penjelmaan (inkarnasi) Tuhan yang turun ke dunia untuk mati disalib menebus dosa warisan Adam.

Jika manusia yang berdosa, seharusnya manusia pula yang harus bertaubat Nashua minta ampun kepada Tuhan, lalu Tuhan mengampuninya karena Dia Maha Pengampun. Kalau manusia yang berdosa, mengapa Tuhan yang repot-repot malih rupa menjadi manusia lalu mati dibunuh untuk menebus dosa manusia? Gitu aja kok repot!! [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara Islam/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Antara Islam dengan Kufur

Antara Islam dengan Kufur

Voa-Khilafah.co.cc - Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (TQS Ibrahim [14]: 24-25).


Sebagai agama dan ideologi yang diturunkan Allah Swt, kebenaran Islam tak terbantahkan. Demikian pula keadilan, kebaikan, dan keunggulan seluruh ajarannya, aqidah maupun syariahnya. Realita ini tentu berkebalikan dengan seluruh agama, ideologi, dan pemikiran lainnya yang kufur. Semuanya batil dan tidak dibangun di atas dasar argumentasi yang kuat. Semuanya melahirkan kerusakan dan mengantarkan manusia kepada kesengsaraan.

Ayat-ayat ini memberikan penjelasan kepada kita untuk lebih memahami perbandingan antara Islam dengan

Laksana Pohon yang Baik

Allah Swt berfirman: Alam tara kayfa dharabal-Lรขh matsal[an] thayyibat[an] kasyajarat[in] thayyibat[in] (tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik).

Seruang ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Dijelaskan Ibnu Jarir al-Thabari bahwa ayat ini mengingatkan Nabi-Nya saw: Tidakkah engkaulah lihat dengan mata hatimu, wahai Muhammad, sehingga engkau mengetahui bagaimana Allah telah memberikan permisalan dan penyerupaan. Menurut al-Syaukani, bisa juga seruan tersebut kepada semua orang yang cocok dengan seruan ini.

Diberitakan dalam ayat ini bahwa Allah Swt telah memberikan matsal[an] (perumpamaan). Kata al-matsal berarti perkataan yang mencakup seluruh penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Demikian al-Baghawi dalam kitab tafsirnya, Ma’รขlim al-Tanzรฎl.

Perkara yang diberikan perumpamaannya adalah kalimah thayyibah. Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud dari kalimah thayyibah adalah kalimat lรข ilรขha illรขl-Lรขh. Penafsiran yang sama juga dikemukakan al-Baghawi. Al-jazairi menafsirkannya kalimat lรข ilรขha illรขl-Lรขh Muhammad Rasรปlul-Lรขh. Tak jauh berbeda, Mujahid dan ibnu Juraij pun menafsirkannya sebagai keimanan. Al-Qasimi lebh luas. Menurutnya, perumpamaan tersebut menunjuk kepada Islam, agama yang dibawa khatรขm al-anbinyรข`.

Islam tersebut diumpamakan seperti syajarah thayyibah (pohon yang baik). Menurut beberapa mufassir, Ibnu Jarir al-Thabari, al-Baghawi, al-Jazairi, dan lain-lain, yang dimaksud dengan pohon yang baik di sini adalah al-nakhlah (kurma). Ada pula yang menyatakan bahwa pohon tersebut berada di surga.

Sedangkan Fakhruddin al-Razi lebih memilih untuk menganilis sifat-sifat dari syajarah thayyibah tersebut. Tampaknya, pandangan lebih dapat diterima. Bahwa pohon tersebut memiliki sifat thayyibah. Kata ini mengandung banyak perkara, yakni: bagus bentuk dan susunannya, harum baunya, lezat rasa buah yang dihasilkannya, dan banyaknya manfaat yang dikandungnya. Semua fakta tersebut tercakup dalam kata thayyibah.

Di samping itu juga: Ashluhรข tsรขbit[un] (akarnya teguh). Akar merupakan bagian pohon terpenting dan paling menentukan bagi sebuah pohon. Sebuah pohon bisa berdiri kokoh manakala akarnya kuat menghunjam ke tanah. Sebuah pohon juga bisa tumbuh subur ketika akarnya sehat. Sebab, akar adalah bagian pohon yang berfungsi untuk menyerap air dan sari-sari makanan dan mengantarkannya ke seluruh bagian batang, ranting, daun, dan buahnya. Inilah sifat pohon baik yang digambarkan ayat ini: ashluhรข tsรขbit. Artinya, rรขsikh รขmin min al-inqilรข’ (kokoh dan aman dari tercerabut) lantaran kokohnya akar pohon tersebut menghunjam dalam tanah. Demikian al-Syaukani dalam tafsirnya.

Bukan hanya akarnya yang kokoh, pohon itu juga: wa far’uhรข fรฎ al-samรขi (dan cabangnya [menjulang] ke langit). Dijelaskan al-Qasimi bahwa keberadaan cabangnya yang menjulang tinggi ke langit menunjukkan kesempurnaan pohon tersebut dari aspek ketinggian batangnya dan kekuatannya dalam menjulang, yang membuktikan kokohnya akar dan kokohnya pangkalnya.

Sifat lainnya adalah: Tu`ti ukulahรข kulla hรฎn bi idzni Rabbihรข (pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya). Pengertian ukulaha adalah tsamrataha (buahnya). Sedangkan hรฎn, secara bahasa berarti al-waqt (waktu). Demikian penjelasan al-Baghawi. Itu artinya, pohon tersebut menghasilkan buah setiap saat, kapan pun dibutuhkan.

Inilah gambaran Islam. Aqidah yang menjadi akarnya dibangun atas dasar dalil yang kuat dan kokoh sehingga tidak terbantahkan. Dari aqidah itu pula terpancar syariah yang menjadi cabang, daun, dan buahnya. Syariah tersebut memberikan jawaban dan penjelasan atas seluruh pertanyaan dan permasalahan yang dialami manusia; yang semuanya benar, adil, dan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kemudian ditegaskan: Wa yadhribul-Lรขh al-amtsรขl li al-nรขs la’allahum yatadzakkarรปn (Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat). Mengomentari frasa ini, Wahbah al-Zuhaili mengatakan, “Demikianlah Allah Swt memberikan perumpamaan bagi manusia. Karena sesungguhnya dalam perumpamaan lebih dapat menambah pemahaman, peringatan, nasihat, dan menggambarkan berbagai makna. Pasalnya, penyerupaan makna yang sifatnya akliyyah dengan menggunanakan perkara yang terindera dapat mengokohkan makna, menghilangkan kesamaran dan keraguan sebagaimana perkara yang teraba. Dan di sini ada pemalingan pandangan yang mengajak manusia untuk mencermati, merenungkan, dan memahami maksud dari agungnya perumpamaan ini.”

Laksana Pohon yang Buruk

Allah Swt berfirman: Wa matasl kalimat[in] khabรฎtsat[in] ka syajarat[in] khabรฎtsat[in] (dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk). Jika kalimah thayyibah adalah kalimat tauhid, iman, atau aqidah Islam, maka pengertian kalimah khabรฎtsah, sebagaiamana dijelaskan al-Baghawi dan al-Zuhaili adalah al-syirk (kemusyrikan). Atau kalimat al-kufr beserta cabang-cabangnya, sebagaimana dikemukakan Abdurrahman al-Sa’di. Termasuk dalam cakupan kalimat tersebut adalah semua agama, ideologi, dan pemikiran kufur dan sesat.

Semua ide tersebut dalam cakupan kalimah khabรฎtsah tersebut diserupakan dengan syajarah khabรฎtsah (pohon yang buruk). Menurut beberapa mufassir, pohon tersebut adalah al-hanthal (sejenis labu, namun pahit rasanya). Ada juga yang menafsirkannya dengan pohon al-syawk (pohon berduri).

Menurut Fakhruddin al-Razi dalam Mafรขtรฎh al-Ghayb, penafsiran tersebut tidak perlu terlalu dipersoalkan. Yang penting, sebagaimana disebutkan ayat ini, pohon tersebut khabรฎtsah (buruk). Buruk dari sisi baunya, rasanya, bentuknya, atau bahkan bahayanya yang banyak. Pohon tersebut memiliki semua sifat tersebut, sekalipun tidak ada faktanya.

Sifat pohon yang buruk tersebut digambarkan dalam frasa berikutnya: [i]jtutsat min fawq al-ardh (yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi). Sifat ini kebalikan dari syajarah thayyibah yang akarnya menghunjam ke dalam tanah. Syajarah khabรฎtsah tersebut disebutkan [i]jtutsat min fawq al-ardh. Pengertian [i]jtutsat adalah [u]stu`shilat (tercerabut akarnya). Hakikat al-ijtitsรขts adalah akhdz al-jutstsah kullihรข (tercerabut seluruh batangnya). Demikian al-Razi dalam tafsirnya. Dikatakan al-Zuhaili bahwa realitas tersebut sebagaimana syirik kepada Allah, yakni tidak ada hujjah, keteguhan, dan kekuatan.

Kemudian ditegaskan dalam frasa: mรข lahรข min qarรขr (tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun). Mengingat akar merupakan bagian paling penting bagi pohon, maka ketika tercerabut, maka pohon itu pun lemah dan rapuh. Menurut al-Razi, kalimat ini seolah sebagai penyempurna terhadap sifat yang disebutkan sebelumnya. Bahwa pohon tersebut tidak memiliki kekuatan yang kukuh.

Perumpamaan tersebut benar-benar sesuai dengan fakta al-kalimah al-khabรฎtsah. Bahwa pohon tersebut mengandung bahaya yang amat banyak dan kosong dari segela manfaat. Reaitas banyaknya bahaya digambarkan dengan kata khabรฎtsah. Sedangkan kosong dari segala manfaat digambarkan dengan kalimat: [i]jtutsat min fawq al-ardh mรข lahรข min qarรขr (yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun).

Inilah perumpamaan yang sempurna menggambarkan perbandingan antara Islam dengan seluruh agama, ideologi, dan pemikiran kufur. Orang yang berakal, tentu tak akan tertarik dengan agama, ideologi, dan pemikiran, meskipun dikemas dengan propganda yang mempesona. Wal-Lรขh a’lam bi al-shawรขb.(Ustadz Rokhmat S. Labib, M.E.I.)


Ikhtisar:

1. Islam laksana pohon yang baik. Akidah yang menjadi akarnya kokoh, sedangkan syariah yang menjadi batang, cabang, dan buahnya memberikan jawaban sempurna atas seluruh problema manusia

2. Kekufuran laksana pohon yang buruk. Tidak dibangun atas dasar bangunan yang kokoh dan melahirkan bahaya bagi manusia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL