Tampilkan postingan dengan label ARAB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARAB. Tampilkan semua postingan
Tunisia: Panji Royatul 'Uqob Berkibar di Tengah-tengah Peringatan Bermulanya Revolusi Arab

Tunisia: Panji Royatul 'Uqob Berkibar di Tengah-tengah Peringatan Bermulanya Revolusi Arab

Voa-Khilafah.co.cc - Panji royatul 'uqob, panji Rasulullah, yang akan menjadi bendera Khilafah masa depan kembali berkibar secara lantang di tengah-tengah peringatan satu tahun titik tolak revolusi Arab di Sidi Bouazid, Tunisia, Sabtu, 17/12/2011. Di tengah-tengah masyarakat itu, para pemuda Hizbut Tahrir menyebarkan nasyrah yang menyerukan rakyat Tunisia untuk menjari yang pertama dalam menegakkan agama.



Setelah berpekan-pekan para pemuda Hizbut Tahrir gencar mendistribusikan rancangan UUD Khilafah yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah, kini di tengah-tengah peringatan bermulanya revolusi di dunia Arab, para pengemban dakwah gencar menyerukan sebuah seruan kepada rakyat Tunisia untuk mengawali penegakkan agamanya. 

Para pemuda Hizbut Tahrir Tunisia memanfaatkan momentum peringatan permulaan yg disebut "musim semi di Arab" ini dengan melakukan kampanye serta mendistribusikan rancangan konstitusi Khilafah, berdiskusi di tengah-tengah rakyat, serta menyebarluaskan leaflet yang berjudul, "Anda adalah yang pertama menumbangkan para penindas, Jadilah yang pertama untuk menegakkan Agama". 

Panji-panji liwa dan royah, benderanya Rasulullah Saw., berkibar di mana-mana, termasuk beberapa poster serta leaflet dan posko pendistribusian rancangan konstitusi Khilafah yang dibuat Hizbut Tahrir ditemukan di setiap tempat. 

Tanggal 17 Desember 2011, tepat satu tahun lalu, Mohammad Bouazizi, seorang pedagang sayur dan buah membakar dirinya di depan gedung pengadilan yang zhalim sebagai bentuk protes atas penindasan pemerintahan diktator Zine el-Abidine Ben Ali yang telah memerintah selama 23 tahun.

Beberapa protes secara cepat meledak di Tunis, kemudian ratusan protes, rakyat menuntut pembebasan dari rezim korup serta menuntut hengkangnya Ben Ali hingga akhirnya sang diktator berhasil ditumbangkan. 

Aksi keumdian menyebar seperti api yang menyebar dari satu pintu ke pintu yang lain, kebangkitan Islam menyebar dari negeri satu ke negeri lain. Aksi protes pun meletus dari Yaman hingga Palestina, dari Suriah hingga Maroko, Kuwait hingga Oman, mencapai jutaan kaum Muslim, memicu ratusan aksi.

Rakyat meneriakkan slogan "asysyab yurid isqatun nidzham" (rakyat ingin menjatuhkan sistem) serta teriakkan takbir "Allahu Akbar" dan kalimah "Laa ilaaha illallah muhammad rasulullah", hampir setiap hari berkumandang di tengah-tengah aksi protes. 

Mereka bersuara dengan keras dan lantang, umat pun bangkit untuk melawan para penindas kolonialis, serta melawan sistem kufur dan mereka tak kenal lelah hingga perjuangan mereka berhasil mencapai kemenangan. 

Beberapa rezim yang dikenal diktator selama bertahun-tahun akhirnya tumbang, seperti Hosni Mubarak di Mesir dan Muammar Gadafi di Libya. Tuntutan terus berlanjut hingga hari ini, termasuk kaum Muslim di wilayah Syam yang terus menerus menyerukan kebenaran dan melawan kezhaliman diktator Bashar al-Assad. Rezim kemudian membalas protes dengan pembantaian terhadap para pemrotes. 

Sudah satu tahun penuh, rakyat di dunia Muslim terus bersuara. Hingga hari ini, masih ada suara rakyat yang harus didengar, tuntutan yang harus dipenuhi, yakni tuntutan untuk mengganti sistem, dari sistem kufur menuju sistem Islami. 

Kini seruan bukan sekedar menjatuhkan rezim, tetapi dengan jelas yel-yel telah mengarah kepada seruan penegakkan syariah dan khilafah. Kalimah takbir dan tahlil sangat jelas telah bergema hampir dalam setiap aksi masa. Mereka juga kini mengubah yel-yel revolusi mereka menjadi "Al-ummah turid al-khilafah islamiyyah" (Ummah ingin Khilafah Islamiyyah).

Kaum Muslim akan terus bersuara, tidak akan pernah beristrihat hingga seluruh dunia Muslim bersatu kembali, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat nasionalisme, tetapi bersatu padu di bawah satu panji, laa ilaaha illallah muhammad rasulullah, di bawah naungan Khilafah Islamiyyah! Semakin dekat. Takbir! [m/f/aml/hizb.tahrir.tounes/syabab/voa-khilafah.co.cc]


Baca Juga:
Lihat Foto:
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!

Mengapa Kelompok Islamis Menang Dari Kaum Liberalis?


Voa-Khilafah.co.cc - Majalah Amerika “Time” memaparkan beberapa faktor yang dinilainya berada di balik kemenangan kelompok Islamis atas kelompok liberalis dalam pemilihan yang berlangsung di negeri-negeri Arab pada musim semi Arab.
Majalah mengatakan jika musim semi Arab benar-benar memberi peluang bagi pemberontakan terhadap liberalisme, maka musim gugur Arab membawa hasil besar bagi Islam politik.
Majalah menambahkan dengan memgatakan bahwa partai-partai yang mengadopsi ide-ide Islam mampu mengalahkan para pesaingnya dari kelompok liberalis, di Tunisia, Maroko dan Mesir.
Di sinilah, majalah bertanya, mengatakan: “Mengapa kelompok liberalis “pemimpin musim semi Arab” meraih sesuatu yang buruk dalam pemilihan?
Pertama majalah mengutip sejumlah interpretasi-terkait kekalahan itu-yang dikumpulkan dari kalangan liberalis yang kecewa dengan kekalahannya di Mesir dan Tunisia. Mereka memiliki pandangan yang sama, di antaranya kaum liberalis tidak mempersiapkan untuk pemilu kecuali hanya delapan bulan, sedangkan Ikhwanul Muslimin memiliki pengalaman hingga 80 tahun dalam organisasi politik.
Mereka juga mengatakan bahwa kelompok Islamis mendapat dukungan dana besar dari Arab Saudi dan Qatar; serta para jenderal yang berkuasa di Mesir saat ini memberikan suara kemenangan kelompok Islamis, sebab militer marah terhadap kaum liberalis yang dituduh menjatuhkan mantan pemimpin para jenderal, Presiden yang digulingkan Husni Mubarak.
Dan di antara klaim kaum liberalis juga, bahwa Ikhwanul Muslimin dan Salafi telah menggunakan propaganda agama “Anda memilih kami, atau Anda bukan seorang Muslim”  untuk menyesatkan orang-orang miskin dan buta huruf dari kalangan pemilih, begitulah klaim yang mereka nyanyikan.
Di sisi lain, majalah melihat bahwa klaim itu bisa dibenarkan, namun kurang akurat. Dikatakan bahwa Salafi tidak memiliki pengalaman dalam organisasi politik, kecuali hanya sepuluh bulan saja. Akan tetapi ia berhasil melakukannya dengan baik.
Dan dalam mengomentari pendanaan, “Time” mengatakan bahwa kaum liberalis bukan kelompok yang tidak memiliki sumber pendanaan, mengingat miliarder Najib Sawers-pemilik perusahaan telekomunikasi-merupakan salah satu anggota “al-Kutlah al- Mishriyah“.
Adapun tentang para jenderal berusaha memenangkan kelompok Islamis, maka “Time” mengatakan bahwa para pengamat internasional tidak menemukan bukti adanya intervensi militer dalam proses pemilihan.
Sementara dalam menanggapi apa yang disebutkan kaum liberalis tentang kelompok Islamis melakukan penyesatan dan penipuan terhadap publik, maka majalah mengatakan bahwa ini berarti mayoritas pemilih sangat polos. Sehingga ini mengungkapkan sikap politik kaum liberalis terhadap lembaga-lembaga pemilihan, dan inilah yang merupakan faktor kunci atas buruknya kinerja kaum liberalis dalam pemilu.
Memahami Demokrasi
Majalah berpendapat bahwa hasil pemilu itu menunjukkan “Sesungguhnya kelompok Islamis jauh lebih memahami demokrasi daripada kaum liberalis.” Partai “An-Nahdhah” di Tunisia, dan partai “Kebebasan dan Keadilan” yang berasal dari Ikhwanul Muslimin di Mesir terbukti sangat kuat dan bagus dalan berorganisasi dan berkampanye memenangkan pemilu.
Kedua partai itu telah mengantisipasi spekulasi bahwa mereka sedang berusaha untuk membangun suatu rezim religius di Afrika Utara seperti rezim Iran. Sehingga kelompok Islamis membentuk aliansi dengan partai-partai sekuler, dan menyatakan keengganan mereka untuk mencari kursi presiden di kedua negara, Tunisia dan Mesir.
Majalah bertanya-tanya, apabila kaum Islamis berhasil dalam menjalankan demokrasi seperti yang dijalankannya dalam pemilu, maka ia mengatakan bahwa ada alasan untuk diharapkan.
Majalah mengingatkan bahwa partai-partai Islam di Mesir dan Tunisia berbicara tentang metode reformasi, berusaha memperluas ruang lingkup aliansi, dan menarik lebih banyak kaum liberalis ke kendaraan mereka.
Adapun peran kaum liberalis setelah pemilu, maka “Time” mengatakan bahwa mereka harus memainkan peran konstruktif dalam oposisi bukannya berusaha merusak pemilu dengan kembali melakukan aksi-aksi protes di jalanan.
Majalah mengatakan juga bahwa kaum liberalis harus mempersiapkan diri untuk pemilihan yang dijadwalkan pada tahun 2012 dan 2013. “Di depan mereka masih terbentang waktu yang cukup untuk belajar bagaimana meningkatkan kinerja demokratis mereka, seperti yang dilakukan kelompok Islamis.” (aljazeera.net, 12/12/2011).

โ€œGelombang Islamโ€ Dinilai Ancam Eksistensi Israel

“Gelombang Islam” Dinilai Ancam Eksistensi Israel


Voa-Khilafah.co.cc - Pernyataan ini disampaikan Perdana Menteri (PM) Zionis-Israel, Benyamin Netanyahu, memperingatkan situasi masa depan yang membahayakan yang dihadapi entitas Israel, akibat meluasnya pemerintahan Islam di kawasan Arab dan Timur Tengah.

Dalam sidangnya dengan komite luar negeri dan keamanan parlemen, Senin (28/11/2011) Netanyahu menyatakan, gelombang Islam yang bergulir di dunia Arab membuat Israel menghadapi situasi yang tidak stabil.

PM Israel menyebutkan bahwa situasi ini bertepatan dengan makin dekatnya penarikan pasukan Amerika dari Iraq, dan berlanjutnya proses penyelundupan senjata Libia ke sejumlah pihak berbeda, ungkapnya.

Netanyahu melaporkan adanya kerjasama bilateral antara Washington dan Israel untuk menjamin stabilitas perdamaian yang telah dilakukan antara entitas Israel dengan Mesir.

Sumber-sumber di kementerian luar negeri Israel menepis isu yang dilansir koran Maarev yang melaporkan bahwa entitas Israel menyampaikan kepada Amerika terkait bahaya bertambahnya kekuatan Dewan Militer yang berkuasa di Mesir pimpinan Jendral Muhammad Husain Thantawi, dan kesalahannya meminta mantan Presiden Husni Mubarak meletakan jabatannya. 

Simulasi serangan

Sementara itu, surat kabar Zionis-Israel, Ha’aretz menyebutkan sebuah batalyon khusus militer Israel yang diberi nama “Batalyon Gaza” terus melakukan latihan manuver simulasi untuk melancarkan operasi militer ke Jalur Gaza.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Zionis Israel Beny Gants, dalam pernyataannya seperti dikutip Pusat Informasi Palestina mengatakan hal ini sebagai apa yang dia sebut “kebutuhan Israel melakukan operasi militer ke Jalur Gaza. Gants mengatakan bahwa para tentara dari kesatuan “tehnik tempur” militer Israel harus melaksanakan latihan manuver simulasi masuk ke Jalur Gaza.

Dia menambahkan bahwa latihan difokuskan pada aktivitas di daerah-daerah berpenduduk, dengan memperketat pada ancaman-ancaman yang mungkin dihadapi militer Zionis Israel di Jalur Gaza, seperti jaringan terowongan. Dia menyatakan bahwa kendaraan kesatuan ini akan menjadi yang pertama kali masuk ke Jalur Gaza dan yang terakhir keluar.* (gm/voa-khilafah.co.cc)
Revolusi Mesir Itu Benar Bukan Rekayasa, Namun Minus Orang Mukhlis, Kesadaran dan Keberanian Politik

Revolusi Mesir Itu Benar Bukan Rekayasa, Namun Minus Orang Mukhlis, Kesadaran dan Keberanian Politik

Voa-Khilafah.co.cc - Pada hari Jum’at, 18/11/2011 dan hari-hari berikutnya hingga aksi sejuta umat, pada hari Selasa 22/11/2011, rakyat Mesir melakukan pemberontak terhadap rezim yang dipimpin oleh militer, untuk melanjutkan revolusi mereka di Lapangan Tahrir dan lainnya, dari Lapangan Tahrir dan Taghyir di kota-kota lainnya.
Mereka memprotes pemerintahan militer, dan menuntutnya untuk lengser, di mana mereka menyerukan untuk menggulingkan Marsekal Muhammad Hussein Tantawi, panglima militer dan Dewan Militernya. Kemudian tentara dan pasukan keamanan melakukan penindasan, puluhan meninggal dan ratusan lainnya luka-luka. Bahkan kekerasan yang digunakan oleh pemerintahan militer untuk menekan para pengunjuk rasa serupa dengan kekerasan pemerintahan presiden yang digulingkan Hosni Mubarak dan gengnya.
Ini semua menunjukkan bahwa pemerintahan militer merupakan perpanjangan dari era presiden yang digulingkan. Sementara Marsekal Muhammad Hussein Tantawi, pemerintahan dan Dewan Militernya yang dituntut lengser oleh rakyat, mencoba untuk menenangkan rakyat dengan mengatakan bahwa pemilu akan diselenggarakan tepat pada waktunya.
*** *** ***
Kami ingin menyoroti fakta-fakta penting berikut terkait catatan kami terhadap masalah tersebut:
Pertama, revolusi ini berasal dari perasaan jujur rakyat atas penderitaan dan kesulitan akibat kezaliman yang menyelimutinya, serta keinginan mendalam untuk mengembalikan kehormatannya dan melakukan perubahan yang sesungguhnya. Untuk itu, kemudian rakyat melakukan dan menghancurkan penghalang ketakutan serta memberikan berbagai pengorbanan. Sehingga revolusi rakyat ini merupakan revolusi jujur yang alami. Dan revolusi ini tidak akan berhenti hingga terwujudnya stabilitas rezim yang diterima oleh rakyat, serta mengubah kondisinya secara penuh atau radikal.
Dengan demikian revolusi rakyat ini bukan revolusi buatan yang diciptakan oleh negara-negara besar, seperti Revolusi Jeruk (Orange) di Ukraina dan Georgia yang bertujuan hanya untuk mengantarkan para tokoh politisi antek pada kekuasaan dengan menipu rakyat, yaitu dengan cara mempermainkan perasaannya dan memenuhi beberapa permintaan yang sifatnya sesaat. Revolusi seperti ini, hakikatnya adalah revolusi orang-orang oportunis yang menjadi antek, untuk memperkokoh pengaruh negara-negara besar yang mendukungnya dengan mengalahkan dan mengorbankan kepentingan rakyat. Sehingga kemudian rakyat merasa telah tertipu, sebab kenyataannya tidak ada perubahan selain perubahan pada kulitnya saja.
Kedua, Amerika mencoba melakukan seperti itu di Mesir ketika Amerika terpaksa menendang anteknya yang digulingkan, Hosni Mubarak dari pemerintahan. Kemudian para pemimpin Dewan Militer dan pemerintahnya, sedang mereka adalah para antek Amerika dan perpanjangan dari kekuasaan yang digulingkan, mulai melakukan pembodohan dan penipuan terhadap rakyat dengan berbagai cara. Sungguh rakyat telah merasakan dan menyadari hal itu, sehingga rakyat melanjutkan revolusinya itu, mulai hari Jum’at ini dan menuntut untuk menggulingkan pemerintahan Dewan Militer, serta menghapusnya dari panggung politik, mengulingkan pemerintah, dan bersikeras dengan tuntutannya. Semua ini menunjukkan bahwa revolusi ini berasal dari lubuk hati rakyat yang paling dalam, bukan revolusi buatan Amerika atau negara besar lainnya. Dengan demikian, ini merupakan revolusi yang sesungguhnya, yang berasal dari perasaan rakyat akan pentingnya perubahan.
Ketiga, gerakan yang dilakukan oleh rakyat Mesir ini menunjukkan sejauh mana kesadaran mereka. Sungguh mereka menyadari bahwa sedang berlangsung konspirasi atas mereka untuk mengaborsi revolusi, dan mendatangkan rezim yang lebih buruk daripada rezim sebelumnya, dengan model rezim di Turki dan di Pakistan. Rakyat Mesir menyadari bahwa Amerika sedang membuat formula seperti itu di Mesir, di mana militer berkuasa dalam kehidupan politik, dan Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) menjadi pelaksana Konstitusi, pemerintah dan parlemen, serta membuat pasal-pasal untuk berkuasa terhadap konstitusi dan kehidupan politik yang menjamin kekuasaannya terhadap para politisi dan rezim. Sehingga kemudian dilakukan gerakan kudeta putih atau merah, seperti yang terjadi di Turki dan Pakistan atas pesanan dan perintah dari negara-negara besar penjajah apabila Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) mengklaim bahwa ada pelanggaran Konstitusi, ancaman terhadap Republik, atau ancaman terhadap ideologinya, yaitu sekularisme dan demokrasi.
Keempat, ada beberapa orang di Mesir yang dikenal sebagai aktivis Islam, dan mereka memiliki cukup dukungan rakyat, yang menganggap tidak mengapa melakukan kesepakatan dengan militer dan Amerika dengan proses oportunistik yang jelas salah. Bahkan mereka menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang baik. Sayang, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang membuat proses bunuh diri politik. Seandainya mereka ini memiliki kesadaran dan keberanian politik yang untuh dan sempurna, niscaya mereka tidak akan melakukan semua itu, dan tentu mereka menyadari bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk mengambil alih kekuasaan melalui jalan rakyat, dan mendirikan pemerintahan Islam ketika mereka memimpin rakyat ke arah itu, serta memaksa militer untuk minggir dan kembali ke baraknya, dan berusaha keras untuk tunduk pada kepemimpinan politik, bukan untuk menguasai kepemimpinan politik.
Kelima, sungguh mereka orang-orang mukhlis yang memiliki dukungan rakyat mampu menggerakkan rakyat untuk pergi ke Lapangan Tahrir dan lapangan lainnya di berbagai kota, mengumumkan pembentukan pemerintah yang dengan tulus ikhlas akan memimpin rakyat. Dan dari sana mulai menjalankan semua urusan rakyat, bahkan terus bergerak menuju lembaga-lembaga negara, lalu membebaskannya dari cengkeraman rezim yang digulingkan. Kemudian dari sana mulai melakukan aktivitas riil, memaksa militer untuk meninggalkan kota dan pergi ke garis depan berhadapan langsung dengan Yahudi, serta bersiap untuk melakukan pembebasan wilayah Islam dari cengkeraman Yahudi. Sehingga mereka harus menundukkan militer pada kehendaknya, dan mengendalikan militer sesuai perintahnya.
Sungguh mayoritas rakyat kebanyakan akan mendukung mereka, sebab itu merupakan tuntutannya. Mereka jangan sampai tertipu oleh janji-janji militer dan janji-janji Amerika dengan pemilu, bahwa mereka akan mendapatkan suara mayoritas dalam pemilu, sehingga kemudian mereka melakukan perubahan melalui kemenangan dalam pemilu itu, sebagaimana yang mereka hayalkan.
Bahkan, revolusi rakyat yang diberkati ini adalah kesempatan emas mereka untuk melakukan perubahan radikal, hingga mereka memegang kendali semua urusan, dan menerima kekuasaan dari rakyat, mengingat rakyat pemilik kekuasaan yang sebenarnya, dan menundukkan militer pada kekuasaan ini, kemudian menyerahkan kekuasaan pada orang-orang yang ikhlas, sadar, serta memiliki kemauan yang jujur di antara generasi mudanya, sehingga mereka segera mulai menerapkan Konstitusi Islam dengan mengumumkan khalifahnya dan membaiatnya untuk menerapkan al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menerapkan Konstitusi yang semua pasalnya digali dari kedua sumber hukum yang mulia ini, bukan dari perundang-undangan buatan manusia, yang membuat rakyat Muslim Mesir yang perkasa ini terus bertambah sengsara karena diterapkannya undang-undang buatan manusia yang diimpor dari Barat, sejak dominasi Prancis, kemudian Inggris, dan setelah itu Amerika terhadap negeri ini, dan penghapusan hukum Islam, sejak era Jamal Abdul Nashir hingga saat sekarang ini.
Dalam hal ini, Hizbut Tahrir telah menyusun Undang-Undang Dasar Islam, di mana seluruh pasalnya digali dari al-Qur’an dan As-Sunnah, menyusun perumusan Undang-Undang Dasar secara mendetail, serta menjelaskan alasan untuk setiap pasal, dan membuat mekanisme penerapannya sehingga menjadikannya siap untuk diterapkan dengan mudah, gampang, tidak rumit dan tidak saling bertentangan. Dan Hizbut Tahrir menawarkannya kepada masyarakat di semua tempat.
Sehingga apabila orang-orang yang mukhlis itu diberikan amanah untuk mendirikan sistem Islam, maka Undang-Undang Dasarnya telah ada dan siap untuk diterapkan dengan kesadaran penuh tanpa ada kebingungan sama sekali. Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 27/11/2011. [htipress/syabab/voa-khilafah.co.cc]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL