Tampilkan postingan dengan label BEDAH BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEDAH BUKU. Tampilkan semua postingan

Perubahan Mendasar Pemikiran Sayyid Qutb; dari Al Aqqad, Al Banna, hingga An-Nabhani


Oleh Syaikh Hafidz Abdurahman M.A

Untuk membaca, apalagi melacak, pemikiran Sayyid  Qutub  (1906-1966), seperti kata penulis  buku ini, diperlukan kejelian dan kecermatan. Karena itu, ketika menulis pengantar  ini,  saya berusaha mengumpulkan referensi sebanyak-banyaknya tentang Sayyid Qutub dan pemikirannya, agar saya bisa bersikap amanah, setidak-tidaknya untuk menjawab pertanyaan besar yang belum dijawab dalam buku Perubahan Mendasar Pemikiran Sayyid Qutub ini. 

Pertanyaan-pertanyaan  yang  justru menjadi  kunci  pembahasan  buku  ini.  Antara  lain:  Apa yang  dimaksud  “Perubahan  Mendasar”  dalam  pemikiran Sayyid  Qutub?  Benarkah  Sayyid  Qutub  mengalami ”perubahan mendasar” dalam pemikirannya?  Jika benar, dimanakah letak perubahan pemikiran yang mendasar itu terjadi?  Siapakah  yang  banyak  mewarnai  perubahan mendasar  dalam  pemikiran  Sayyid  Qutub?  Pertanyaan-pertanyaan  inilah  yang  ingin  saya  jelaskan  dalam pengantar ini.

Buku  ini  dikumpulkan  dan  artikel  yang  ditulis secara berseri dalam majalah  al-Wa’ie. Dengan  judul at-Taghyir  aI-Judzuri  fi  aI-Fikr  al-Syahid  Sayyid  Qutub (Perubahan Mendasar Pemikiran as-Syahid Sayyid Qutub), setidak-tidaknya  mempunyai  dua  asumsi.  Dalam  bahasa  Arab:  at-Taghyir  al-Judzuri  fi  al-Fikr  bisa  diasumsikan:

Pertama,  “konsep  tentang  perubahan  mendasar  dalam pemikiran.”  Dan  mungkin  inilah  yang  dimaksudkan  oleh penulis, sebagaimana yang terlihat dalam petikan-petikan pandangan  Sayyid  Qutub  yang  dituangkan  dalam tulisannya.  Asumsi  ini  didasarkan  kepada  sikap  penulis untuk tidak menyinggung sedikit pun tentang apa maksud “perubahan  mendasar”  yang  di-highlight  dalam tulisannya.  Karena  seluruh  wacana  pemikiran  yang dituangkan  dalam  buku  ini  sudah  menjawab  maksud “perubahan  mendasar”,  yang  lebih  kepada  konsep “perubahan mendasar” dalam pemikiran Sayyid Qutub. Tetapi, mungkin saja asumsi ini tidak betul. Sebab, ada  faktor  lain  yang  boleh  jadi  mempengaruhi  penulis untuk  tidak melakukan  beberapa  catatan  di atas,  antara lain, karena tulisan  ini bukan merupakan “tulisan  ilmiah” yang  sengaja disusun untuk menjadi  sebuah  buku,  tetapi merupakan  “tulisan  ilmiah”  yang  ditulis  untuk  konsumsi majalah.  Kedua,  “perubahan  mendasar  dalam pemikiran…”  sebagaimana  judul  terjemahan  buku  ini. Makna  yang  tidak  merujuk  kepada  “konsep”  atau “pemikiran”  tentang  “perubahan mendasar’  tetapi  lebih kepada  terjadinya perubahan mendasar dalam  pemikiran Sayyid Qutub.  Asumsi  ini  juga  dapat  diterima,  sekalipun penulis  —karena  pertimbangan  tertentu—  dalam pengantarnya  tidak  memberikan  ulasan  tentang  maksud ini.

Asumsi  ini  dibenarkan,  karena  biasanya  untuk merujuk  kepada  “konsep”  atau  “pemikiran”  tentang “perubahan mendasar” dalam bahasa Arab digunakan ”at-Taghyir  al-Judzuri  fi  al-Nadhri” (konsep  “Perubahan Mendasar”  dalam  pandangan).  Karena  itu,  berdasarkan perspektif kebahasaan, asumsi yang kedua ini lebih tepat. Cuma  persoalannya,  jika  asumsi  kedua  yang  dianggap Iebih  tepat,  buku  ini  secara  keseluruhan  tidak menguraikan  ciri-ciri  “perubahan  mendasar”  dalam pemikiran  Sayyid,  setidaknya  dengan  comparatively method,  antara  pemikiran  beliau  sebelum  dan  setelah berubah.

Sekalipun  demikian,  tidak  berarti  buku  ini  tidak layak  untuk  mengurai  “perubahan  mendasar”  pemikiran Sayyid Qutub. Paling tidak, buku ini telah membuka mata kita melalui  symptom-symptom  yang diurai di dalamnya, setidaknya  untuk  mendiagnosis  hakikat  “perubahan mendasar”  tersebut.  Hanya  penelitian  lebih  mendalam terhadap  hakikat  “perubahan mendasar”  ini masih  perlu dilakukan.  Karena  itu,  saya  memberanikan  diri memberikan  pengantar  buku  ini  dengan  maksud  untuk memecah kekaburan tersebut.

Dilahirkan di Qaryah, wilayah Asyuth,  tahun 1906, sepuluh  tahun  kemudian,  Sayyid  Qutub  telah  hafal  aI-Qur’an.  Dari Qaryah,  beliau melanjutkan  studi  ke  Kairo, tepatnya  di  Dar  al-’Ulum  hingga  lulus.  Sekitar  tahun 1926,  pada  usia  20  tahun,  beliau  belajar  sastra  kepada Abbas  Mahmud  al-’Aqqad,  penulis  buku  ad-Dimuqrathiyyah  fi  al-Islam.  Tokoh  ini  mempunyai pengaruh besar  terhadap Sayyid Qutub. Kurang  lebih  25 tahun,  Sayyid  Qutub  bersamanya,  dan  karena  pengaruh al-’Aqqad-lah,  beliau  terlibat  dengan  kehidupan  politik yang  pertama.  Dalam  rentang  inilah,  beliau  menjadi anggota Partai al-Wafd. Pada akhirnya beliau keluar, dan bergabung  dengan  Partai  al-Haihah  al-Sa’adiyyah, pecahan  Partai  al-Wafd,  tetapi  hanya  bertahan  dua tahun. Setelah  itu,  beliau  tidak  terlibat  dengan  partai manapun.

Al-’Aqqad  juga  orang  yang  berjasa mengangkat  kepopuleran  Sayyid  Qutub,  dengan  peluang menulis  gagasan-gagasannya  dalam  harian  partainya. Beliau akhirnya populer sebagal murid aI-’Aqqad. Tetapi, sejak  tahun  1946,  setelah  menulis  buku  at-Tashwir  al-Fanni  fi  al-Qur’an,  beliau  mulai  sedikit  demi  sedikit menjauhkan diri dan al-’Aqqad.

Selama  25  tahun,  antara  tahun  1926-1950,  Sayyid Qutub  belum  menggeluti  pemikiran  Islam,  khususnya ketika  bersama  al-’Aqqad.  Inilah  pengaruh  negatif  al-’Aqqad  pada  diri  Sayyid.  Gambaran  ini  dapat  dilacak dalam  tulisan-tulisan  beliau  seperti  yang  pernah dipublikasikan  oleh  majalah  al-Risalah  (1934-1952), disamping  buku-buku  beliau  yang  dicetak  pada  rentang masa  tersebut.  Tulisan  beliau  yang  dipublikasi  dalam rentang waktu  tersebut berkisar soal sastra, seperti bait-bait  syair  dan  beberapa  makalah  sosial  (1933-  1937), konflik  terbuka  melawan  al-Rafi’i  membela  al‘Aqqad (1938),  kritik  nyanyian  yang  diselingi  dengan  beberapa bait  syair dan makalah  sosial  (1940-1941), kritik  terbuka kepada  Dr.  Muhammad  Mandur  tentang  seni  retorika (1943), kritik  dan penjelasan  tentang aliran  seni  sebagai aliran al-’Aqqad (1944), kritik dan medan konflik terbuka dengan  Shalah  Dzihni  tentang  kisah  dan  kisah-kisah Mahmud  Taimur  (1944  dan  awal  1945),  serta  uraian tentang krisis di tanah air, peristiwa politik dan problem sosial  dengan  beberapa  makalah  yang  berbentuk  kritik (1945-1947).

Disamping itu, gambaran di atas juga dapat dilacak dalam  buku-buku  beliau  yang  diterbitkan  dalam  rentang waktu  tersebut.  Antara  lain:  Muhimmah  as-Sya‘ir fi  al-Hayah  wa  Syi’r  al-Jail  al-Hadhir  (1933).  Ini  merupakan buku beliau yang pertama diterbitkan. Di dalamnya beliau menguraikan  kedudukan  seorang  penyair  dalam kehidupan,  dan  syair  di  antara  seni-seni  keindahan  yang ada,  kemudian  tentang  siapa  yang  disebut  penyair, disamping  tentang  kepribadian  penyair  dan  pengaruh lingkungannya. As-Syathi’al-Majhul (1935). Buku ini berisi kumpulan  bait  syair  yang  diterbitkan  pertama  dan terakhir  kali.  Dalam  pengantarnya,  beliau  mengatakan, bahwa  buku  ini  berisi  teori  ilmiah  dan  filosofis,  ketika seorang  penyair  beninteraksi  dengan  “dunia  fantasi”. Naqd  Kitab  Mustaqbal  al-Tsaqafah  fi  Mishr  (1939).  Ini berisi bantahan terhadap Taha Husein. Tulisan ini asalnya dimuat  dalam  buletin  Dar  al-‘Ulum,  yang  kemudian diadopsi oleh koran aI-Ikhwan  al-Muslimin, ketika  Sayyid Qutub  belum  menjadi  anggota  jamaah  ini.  Sekalipun berisi  bantahan,  tetapi  beliau  tidak  menolak  seratus persen  pemikiran  Taha  Husein.  Buku  ini  juga  tidak memberikan  bantahan  dalam  perspektif  Islam,  tetapi lebih  berdasarkan  perspektif  edukatif.  At-Tashwir  al-Fanni  fi  aI-Qur’an  (1945).  Ini  dianggap  sebagai  buku keislaman  yang  pertama.  Al-Athyaf  al-Arba’ah  (1945). Buku  ini  ditulis  bereempat  dengan  saudaranya  untuk mengenang  kepergian  ibunya.  Thiflun  min  al-Qariyah (1946).  Sayyid  Qutub  menghadiahkannya  untuk  Taha Hussein,  penulis  buku  al-Ayyam,  yang  sangat  beliau kagumi.  Al-Madinah  a!-Mashurah  (1946).  Buku  ini  berisi kisah  fantasi.  Kutub  wa  Syakhshiyyah  (1946).  Karya  ini ditujukan  kepada  para  sastrawan,  penyair  dan  pengkaji yang  aktivitas  sastranya  beliau  kritik.  Asywak  (1947).  Ini merupakan  karya  di  bidang  roman  percintaan.  Masyahid al-Qiyamah  fi  al-Qur’an  (1948).  Berisi  pemandangan kiamat,  dan  menguraikan  seratus  lima  puluh pemandangan,  yang  terbagi  dalam  delapan  puluh  surat. An-Naqd  al-Adabi Ushuluhu wa Manahijuhu  (1948). Buku ini  berisi  kritik  sastra,  dasar  dan metodenya.  Al-‘Adalah al-Ijtima’iyyah  fi  a/-Islam  (1949).  Ini  dikatakan  sebagai buku  pemikiran  Islam  beliau  yang  pertama  kali diterbitkan.  Buku  ini  ditulis  ketika  pengaruh  Sosialisme begitu  kuat  di  Mesir,  dengan  meminjam  trade  mark “keadilan  sosial”  Sosialisme,  sekalipun  beliau  coba uraikan  dengan  paradigma  keislaman  beliau.  Buku  yang  disebutkan  terakhir  ini  ditulis  sebelum  beliau  berangkat ke Amerika, dan sebelum bergabung dengan aI-Ikhwan.


Sebagaimana  penuturannya  kepada  an-Nadawi, setelah  beliau  melalui  fase  keraguan  terhadap  hakikat keagamaan hingga pada batas yang  sangat jauh, akhirnya beliau  kembali  kepada  al-Qur’an  untuk  mengobati kegalauannya. Perubahan  ini  terjadi  sejak  sekitar  tahun 1945,  setelah  beliau  menulis  at-Tashwir  al-Fanni  fi  al-Qur’an  (1945), Masyahid  aI-Qiyamah  fi  aI-Qur’an  (1948) dan  al-’Adalah  al-Ijtima’iyyah  fi  al-Islam  (1949).  Ketika di  Amerika,  tahun  1949,  beliau  menyaksikan  Hassan  al-Bana,  pendiri  aI-Ikhwan  dibunuh.  Dari  sini,  Sayyid mulai simpati  dengan  jamaah  ini.  Setelah  kembali  ke  Mesir, beliau  mengkaji  sosok  Hassan  al-Bana,  seperti  dalam pengakuannya:

“Saya  telah  membaca  semua  risalah  al-Imam  as-Syahid.  Saya  mendalami perjalanan  hidup  beliau  yang  bersih  dan tujuan-tujuannya  yang  haq.  Dari  sini  saya tahu,  mengapa  beliau  dimusuhi?  Mengapa beliau  dibunuh?  Karena  itu,  saya  benjanji kepada  Allah  untuk  memikul  amanah  ini sepeninggal  beliau,  dan  akan  melanjutkan perjalanan  ini  seperti  yang  beliau  lalui, ketika beliau bertemu dengan Allah” 4

Pada  tahun  1951,  ketika  berusia  45  tahun,  beliau bergabung  dengan  al-Ikhwan.  Pada  saat  inilah,  Sayyid menganggap  dirinya  baru  dilahirkan,  setelah  dua  puluh lima  tahun  umurnya  dihabiskan  dengan  al-’Aqqad.  Sejak masuk  jamaah  ini  hingga meninggal  dunia,  beliau  hanya sempat hidup  selama 15  tahun, hingga dijatuhi hukuman mati  oleh  regim Nasser,  kawan  beliau  dalam merancang Revolusi  Juli  tahun  1952,  setahun  setelah  bergabung dengan  al-Ikhwan.  Dalam  jamaah  ini,  sekalipun  beliau tidak  pernah  menjabat  sebagai  pemimpin  al-Ikhwan, seperti al-Bana, tetapi beliau dinobatkan sebagai pemikir nomer dua setelah al-Bana.

Perubahan  Sayyid  nampak  terutama  setelah bergabung  dengan  Al-Ikhwan,  sekalipun  ini  bukan  fase akhir perubahan pemikiran beliau. Perubahan  ini nampak misalnya  dalam  buku  beliau,  antara  lain:  Ma’rakah  al-Islam  wa  ar-Ra’simaliyyah  (1951).  Buku  yang menekankan,  bahwa  hanya  Islam-lah  satu-satunya  solusi yang  mampu  menyelesaikan  semua  krisis  sosial  yang terjadi.  As-Salam  al-Alami  wa  al-Islam  (1951).  Ini mengurai kegoncangan dunia dan perdamaian yang dapat diwujudkan  oleh  Islam.  Fi  DhilaI  aI-Qur’an  juz  I  (1952). Karya  monumental  beliau  setelah  kembali  kepada  al-Qur’an.  Dirasat  Islamiyyah  (1950-1953).  Buku  ini  berisi tiga  puluh  enam  makalah.  Hadza  ad-Din  (1953).  Buku yang  mencerminkan  fase  baru  pemikiran  Islam  beliau. Kemudian  secara berurutan, dalam  rentang  antara  tahun 1953-1966,  keluar  buku  beliau,  seperti:  al-Mustaqbal Iihadza  ad-Din,  Khashaish  at-Tashawwur  al-Islami  wa Muqawwamatuh,  al-Islam wa Musykilat  aI-Hadharah  dan Ma’alim fi at-Thariq.

Bahwa  perubahan  pemikiran  Sayyid  Qutub  setelah bergabung dengan al-Ikhwan bukan merupakan fase akhir perubahan  mendasar  dalam  pemikirannya,  nampak setelah pemikiran beliau dilacak dengan teliti dan cermat melalui  buku-bukunya.  Karena  itu,  seperti  yang diungkapkan  oleh  Shalah  al-Khalidi  (1981),  ketika  buku beliau  yang  pertama  diterbitkan,  at-Tashwir  al-Fanni  fi al-Qur’an  (1945), mereka  yang  arif  mengatakan:  “Inilah kitab  Sayyid  Qutub.”  Ketika  buku  al-’Adalah  al-Ijtima’iyyah  fi  al-Islam  (1949)  terbit,  mereka mengatakan:  “Bukan  itu.  Inilah  kitab  Sayyid  Qutub.”

Ketika  buku  Khashaish  at-Tashawwur  al-Islami  wa Muqawwamatuh terbit, mereka mengatakan: “Bukan  itu, tapi  ini.”  Ketika  Fi  Dhilal  al-Qur’an  juz  I  (1952)  terbit, mereka  mengatakan:  “Inilah  buku  beliau.”  Dan  begitu buku  Ma’alim  fi  at-Thariq  terbit,  mereka  mengatakan: “Inilah  kitab  Sayyid  Qutub  yang  sesungguhnya.”  Karena itu,  “Saya  yakin,  kalaulah  Allah  menakdirkan  terbitnya buku-buku  gerakan  keislaman  beliau  yang  lain  setelah Ma’alim,  pasti  akan  menutup  apa  yang  ditulis sebelumnya.”  demikian  ungkap  Shalah  al-Khalidi,  ketika menggambarkan  perubahan  demi  perubahan  dalam pemikiran sang syahid ini.

Inilah  “perubahan  mendasar”  yang  terjadi  dalam pemikiran  tokoh  syahid  ini.  Boleh  jadi  karena  faktor keikhlasannya,  beliau  akhirnya  dapat  meraih  kedudukan agung  ini.  Keikhlasan  ini  nampak  ketika  beliau  mampu mengumumkan, bahwa dirinya telah melepaskan diri dari pemikiran-pemikiran  beliau  sebelumnya,  setelah  beliau mengadopsi  pemikirannya  yang  baru. Sesuatu  yang biasanya  sulit  dilakukan  oleh  orang  yang  mempunyai popularitas seperti beliau. Keikhlasan beliau juga nampak ketika  pada  tahun  1953  berkunjung  ke  al-Quds,  dan bertemu dengan as-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. Dalam pertemuan  ini,  beliau  melakukan  dialog  pemikiran dengannya,  yang  pada  akhirnya  beliau  mendukung gagasan  an-Nabhani  dan  partainya. Sikap  yang  jarang ditemukan  pada  mereka  yang  menisbatkan  gerakannya kepada beliau. Laporan yang menyatakan dukungan beliau ini,  sangat  susah  ditemukan  dalam  tulisan  mereka  yang menisbatkan  gerakannya  kepada  Sayyid  Qutub.  Apa  lagi untuk  mendapat  laporan,  bahwa  sedikit  banyak  beliau juga  telah  menyerap  pandangan-pandangan  tokoh  yang disebutkan terakhir ini.

Tentang masalah yang terakhir ini, sekalipun masih terlalu  prematur  untuk  dibuktikan,  namun  setidaknya symptom-nya  dapat  ditemukan  ketika  melacak  wacana pemikiran Sayyid Qutub dalam buku ini. Pemakaian istilah al-wa’yu,  isti’naf  al-hayah  aI-Islamiyyah  (melanjutkan kehidupan  Islam),  serta  seruan  beliau  untuk membangkitkan  umat  melalul  tegaknya  Khilafah  Islam, dan  sebagainya  dapat  dianggap  sebagai  symptom penyerapan beliau terhadap pandangan-pandangan ulama ini. Karena term-term —selain gagasan yang terakhir— ini merupakan  term  dan  gagasan  yang  secara  konsisten diperjuangkan  oleh  ulama  ini,  sejak  pertama  kali mendirikan  partainya, tahun  1953.  Sedangkan  sejauh mana  pengaruh  pandangan  tokoh  ini  terhadap  Sayyid Qutub,  apa  hanya  sekedar  intifa‘  (istilahnya dimanfaatkan)  ataukah  benar-benar  ta’atstsur (terpengaruh).  Sekali  lagi  untuk  menjawab  masalah  ini perlu penelitian yang lebih akurat.

Akhirnya,  apapun  tentang  Sayyid  Qutub rahimahullah, beliau adalah as-Syahid yang tetap hidup di tengah  kita.  Pemikirannya  masih  menyinarkan  harapan untuk  menyembuhkan  kondisi  umat,  yang  masih  belum sadar,  dan  ketika  banyak  orang  sudah  tidak  lagi mempunyai  harapan  terhadap  kehidupan  mereka.  Dan buku  ini,  merupakan  uraian  terbaik  dalam  memahami mainframe  gerakan  Sayyid  Qutub  yang  banyak  dilupakan oleh para pengikutnya. WaIlahua’lam bi as-Shawab. (burjo/syabab1924/voa-khilafah.tk)


untuk mendapatkan bukunya silakan klik download

BEDAH BUKU SPEKTAKULER “ APA SALAHKU SAYANG?” KEMBALI AKAN MENGGUNCANG YOGYAKRTA


Departemen Luar Negeri (DEPLU),Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STEI HAMFARA Yogyakarta kembali melaksanakan program kerja mereka. Kali ini dari DEPLU BEM STEI Hamfara Yogyakarta bekerjasama dengan Ikatan ROHIS SMKN Se Yogyakarta (KAROMA), berani menggetarkan kota Jogja dengan dahsyatnya Bedah Buku “Apa Salahku Sayang?”, bersama penulisnya langsung La Ode Munafar. Kegiatan ini akan diselenggarakan minggu depan, 29 Januari 2012 dimulai pukul 08.00-12.00 WIB. Bertempat di Aula SMKN 3 Yogyakarta, Jl. Wolter Monginsidi 2A (utara perempatan Tugu).

Diprediksikan kegiatan ini bakal mengguncang kota Jogja. Sebab, “Buku SPEKTAKULER yang akan membongkar rahasia aktivitas-aktivitas Jahiliyah modern, mulai dari pacaran, tampil seksi, hingga korupsi bakalan dikupas habis oleh La Ode”, ujar Ratna ketua panitia pelaksana tersebut kepada Lembaga Pers Mahasiswa STEI HAMFARA, sabtu (21/01).

Sebelumnya bedah buku “Apa Salahku Sayang?” di kota Banjarmasin, Panajam dan Samarinda, yang diformat dalam bentuk training dan talkshow terbilang sukses. Pasalnya kegiatan ini berhasil dibanjiri sebanyak 250 orang siswa SLTP dan SLTA serta dihadiri oleh ketua MUI, dan Pengawas Pendidikan setempat serta diliput oleh media setempat.

Panitia pelaksana, Gilang mengatakan suatu, karya yang cukup membanggakan diusianya yang terbilang muda. La Ode berhasil menciptakan sebuah karya yang luarbiasa. Selain menjadi penulis buku, ia juga termasuk club jagoan nulis LPM, aktivis dakwah dan masih menjabat sebagai ketua BEM STEI HAMFARA.

“Tak hanya buku ‘Apa Salahku Sayang’, buku ketiganya, ‘Detik-detik Indah Bersamamu’ akan terbit di tahun ini”. Paparnya.

Acara kali ini BEM STEI Hamfara mendapat dukungan yang banyak diantaranya, klub Jagoan Nulis, Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus Yogyakrta (BKLDK), Dakwah Kampus.com, Al-Fatih Zone / Voa-Khilafah.co.cc, Syafaat, Roudhatul El-iman, PPPA Sarul Quraan, STEI Hamfara, Kedaulatan Rakyat,.El_FaruQ, dan Gaul Fresh sendiri sebagai penerbit buku Apa Salhku Sayang?.


Nurul Inayah (Ketua LPM STEI Hamfara Yogyakarta)

Peluncuran Buku Mereka Bukan Thagut: PNS, Aparatur Negara Bukan Thagut

Jakarta (Voa-Khilafah.co.cc) -  Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Aparatur Negara bukanlah Thagut. Saat ini ada lima juta PNS di seluruh Indonesia. Jika mereka dicap Thagut, berarti seluruh PNS di negeri ini menjadi kafir dan akan masuk neraka.

Demikian dikatakan Khairul Ghazali, terpidana kasus perampokan Bank CIMB Medan, saat peluncuran buku yang ditulisnya “Mereka Bukan Thagut” beberapa waktu lalu, Sabtu (17/12)di Hotel Sahid, Jakarta. Narasumber yang dihadirkan dalam launcing buku yang diterbitkan oleh Grafindo Khazanah Ilmu tersebut,  yakni: Ustadz Abu Rusdan, Ustadz Ja’far Umar Thalib, Ustadz Abdurrahman Ayyub, dan Prof. DR. H. Mohammad Baharun. Juga hadir Ketua BNPT Ansyad Mbai, Nasir Abas, Sarlito Wirawan, dan “jamaah” BNPT lainnya.

Di awal pembicaraan, Khairul Ghazali mengakui, buku “Mereka Bukan Thagut” yang ia tulis di dalam penjara ini, bisa menimbulkan kemurkaan segolongan orang. Bisa dipastikan, mereka akan menganggap dirinya sebagai bagian dari thagut.

“Jika membaca judul pada cover buku ini saja, yakni Mereka Bukan Thagut, sudah tampak, bahwa saya terkesan seperti membela thagut. Setidaknya, saya akan dicap ansharut thagut (penolong thagut). Tapi, jangan buru-buru su’udzan dulu,  akan saya uraikan, apa itu thagut,” kata Khairul.

Menurut lelaki kelahiran Medan, 29 April 1965 ini, ada beberapa alasan dan latarbelakang, mengapa ia memberi judul buku  “Mereka Bukan Thagut”. Dikatakannya, di tengah banyak kajian lain, pembahasan soal thagut menjadi urgen dan relevan untuk saat ini. Seperti diketahui, kajian thagut menjadi  fenomena yang berkembang di tengah masyarakat. Telah, kajian analisis dan tafsir tentang thagut begitu bervariasi dan banyak ragamnya.  

“Sangat disayangkan, jika kajian ihwal thagut telah digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyerang siapa saja yang berseberangan dengan keyakinan mereka. Inilah puncak lahirnya radikal ekstrimis ideologi yang bermuara pada tindakan anarkis atau teroris,” ujar Khairul memberi definsi baru.

Telah terjadi distorsi tentang pemahaman istilah thagut. Dengan beraninya, lanjut Khairul, kelompok-kelompok radikal itu memvonis, bahwa seluruh aparatur negara, PNS, semua orang yang bertemu dengan pemimpin negara ,atau yang hadir dalam majelis resmi kenegaraan akan disebut thagut, atau ansharut thagut. “Bayangkan, ada hampir 5 juta PNS di seluruh Indonesia. Itu berarti, seluruh PNS telah dicap thagut, kafir dan akan masuk neraka, ”ucapnya.

Begitu juga, ulama yang berdekatan dengan pemerintah dan penguasa, ulama yang memberi nasihat, pendapat dan bimbingan kepada pemerintah pun juga dianggap bagian dari thagut. “Pada akhirnya, istilah thagut menjadi bahasa ideologi yang agitatif, paling afdhol, jadi bahan cuci otak yang mengarahkan orang untuk menjadi pelaku-pelaku teroris. Melalui buku ini, saya ingin mengajak saudara saya untuk kembali ke basic, pada pemahaman yang sebenarnya tentang  thagut, sehingga tidak terjadi pembusukan dan distorsi pemahaman,” ungkap Khairul yang divonis penjara selama 6 tahun ini.
 

Thagut Secara Etimologi
Menurut Khairul, secara etimologi, thagut berasal dari kata thaga yang artinya perbuatan melampaui batas, sewenang-wenang, batil, anarkis, zalim, dan perbuatan menyimpan. Dalam Al Qur’an telah dijelaskan, bahwa sesunguhnya manusia itu adalah thagut, melampaui batas, sewenang-wenang dan zalim, lantaran dia merasa dirinya serba super, paling hebat, merasa alim, taat, berilmu, merasa benar sendiri dan lebih baik dari orang lain. Bahkan mengklaim dirinya ahli jannah, ahli hak, yang lain ahli nar, batil, dan thagut.

Secara etimologi, kita semua berpotensi menjad thagut. Sangat disesalkan, jika selama ini kita sibuk menthagutkan orang, sementara sifat-sifat thagut sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. Jadi yang harus digarisbawahi adalah, thagut bermakna melampaui batas. “Jika suami menampar istrinya, maka sudah bisa disebut thagut. Ketika kita marah, hilang daya nalar dan kritis,  maka ketika itu kita sudah melakukan perbuatan thagut. Dengan begitu, kita, siapa saja, berpotensi menjadi thagut, yakni melampaui batas, ” tukas Khairul.

Lebih lanjut Khairul menjelaskan, terjadi salah kaprah terhadap istilah thagut. Kekeliruan memahami thagut, sama dengan memutilasi syariat dan ajaran Islam. Mutilasi bukan hanya kepada manusia saja, ayat-ayat Al-Qur’an pun bisa dipotong-potong. Pemahaman dan pengertian soal thagut, bisa disunat sedemikian rupa, diobrak-abrik menurut selera pemahaman, ideologi dan kepentingan mereka.

Para alim ulama telah merumuskan  uraian secara mendalam tentang thagut, namun masing-masing ulama punya pendapat berbeda-beda, belum ada kesepakatan diantara mereka. Namun, mereka bersepakat, bahwa thagut itu adalah setan, dukun, paranormal yang menebak-nebak nasib orang, sok tahu dengan perkara yang ghaib, yang seolah-olah bisa mengangkap jin dalam botol. Secara terminologi, thagut itu dukun, tukang sihir, yang disembah selain Allah,  dan semua yang menyuruh pada kebatilan.

Mencontoh Rasulullah
Secara spesifik, semua pemimpin yang menyeru pada kebatilan termasuk bagian thagut. “Tapi, kemudian, pengertian thagut telah dimutasi oleh kelompok radikal ekstrimis ideologi, karena mereka punya kepentingan. Mereka menyunat istilah thagut hanya pada satu fokus saja, yakni penguasa yang tidak memakai hukum Allah adalah thagut. Sehingga setan, tukang sihir, dukun dan berhala tidak lagi menjadi thagut. Karena istilah thagut telah dilempar kepada pemuka para penguasa dan aparaturnya. Sebuah distorsi yang luar biasa,” ungkap Khairul.

Khairul yang mengaku pernah ikut pengajian Ustadz Abu Bakar Baasyir saat tinggal di Malaysia mengatakan, mereka membawa ayat-ayat Allah untuk menjustifikasi perbuatannya melakukan  teroris, padahal Rasulullah tidak pernah mengajarkan sifat bengis dan kasar.  Rasulullah mengajarkan Islam yang rahmatan lil’alamin, beliau memiliki akhlak yang begitu hebatnya. Disebabkan rahmat Allah lah engkau berikap lemah lembut kepada mereka, Rasulullah adalah contoh terbaik, pembawa risalah Islam, dididik Allah untuk bersikap lemah lembut.

“Allah saja memerintahkan Nabi Musa as untuk mendatangi Fira’un dengan dakwah bil hikmah, dan bersikap lemah lembut. Siapa tahu, Fir’aun bisa sadar dan takut. Padahal, Fir’aun jelas-jelas thagut paling besar. Memvonis thagut secara permanen adalah bahan cuci otak seseorang untuk menjadi human booming, dan melahirkan ‘pengantin’, sehingga nama Islam menjadi tercemar,” tandas Khairul yang pernah menjadi wartawan Majalah Ummah di Malaysia.
Khairul berharap, buku yang ditulisnya ini bertujuan untuk meluruskan pengertian tentang thagut, agar seluruh umat Islam, terutama dai-dainya mendakwahkan istilah thagut dengan hikmah dan bijaksana, karena nyaris-nyaris da’i yang keliru memberi pengertian soal thagut, bisa menjadi thagut itu sendiri.  Desastian

(Voa-Islam/Voa-Khilafah.co.cc)

MUI Solo: Umat Islam Tidak Terprovokasi Bom Depan Gereja GPIS


SOLO (voa-khilafah.co.cc) – Umat Islam Solo sudah cerdas dan pandai menyikapi berbagai isu, sehingga tidak akan terprovokasi bom di depan gereja Solo.


Hal itu diungkapkan Ketua MUI Solo Prof Dr Zainal Arifin menanggapi adanya insiden peledakan bom di depan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Jebres, Ahad (25/11/2011).

Prof Zainal menjelaskan, meski Solo diguncang dahsyatnya pemberitaan bom di depan gereja, MUI Solo tidak akan menyurutkan kajian terhadap buku   “Kritik, Evaluasi dan Dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslimin di Indonesia.” Buku terbitan MUI Solo ini mengkritisi acara Halaqah BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Bahkan MUI Solo sudah menyiapkan agenda bedah buku di sejumlah kota besar seluruh Indonesia.

Menurutnya, sosialisasi dan kajian buku terbitan MUI Solo itu perlu dilakukan untuk meluruskan penafsiran dari pihak BNPT yang seenaknya dalam menafsirkan ajaran Islam. “Segala sesuatu kalau diagnosa dan obatnya itu salah, maka penyakit juga tidak akan bisa sembuh,” ujarnya kepada voa-islam.com di rumahnya, Laweyan Solo.

Dalam dua bulan terakhir, MUI Solo aktif mengadakan acara bedah buku “Kritik, Evaluasi dan Dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslimin di Indonesia” di berbagai kota-besar yang dulu dijadikan BNPT sebagai ajang Halaqah Penanggulangan Terorisme. [taz/Fujamas, FAI, Bekti Sejati/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL