Tampilkan postingan dengan label DEMOKRASI SISTEM KUFUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEMOKRASI SISTEM KUFUR. Tampilkan semua postingan
Era Demokrasi Berakhir, Saatnya Era Khilafah

Era Demokrasi Berakhir, Saatnya Era Khilafah

Voa-Khilafah.co.cc - Klaim demokrasi sebagai sistem terbaik dunia kembali disoal. The Guardianmerujuk (6/07/2012) laporan Democratic Audid memperingatkan penurunan jangka panjang demokrasi di Inggris. Dalam artikel British democracy in terminal decline, warns report, disebutkan ada indikasi yang menunjukkan hal itu. Pertama: menguatnya pengaruh korporasi (perusahaan bisnis). Kedua: politisi yang semakin tidak mewakili konstituennya. Ketiga: semakin menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu, bahkan untuk mendiskusikan persoalan-persoalan kekinian, sebagai bentuk kekecewaan terhadap demokrasi.
Stuart Wilks-Heeg, penulis utama laporan itu, memperingatkan bahwa Inggris harus segera bertanya pada diri mereka sendiri: Apakah demokrasi benar-benar representatif lagi? Pasalnya, hanya 1% dari pemilih merasa memiliki partai, hanya 6 dari 10 pemilih yang berhak pergi ke kotak suara dalam Pemilu 2010, dan hampir hanya satu dari tiga pemilih berpartisipasi dalam pemilihan Eropa dan lokal.
Nasib demokrasi seperti itu sesungguhnya bukan hanya di Inggris, tetapi hampir diseluruh dunia; terjadi juga di jantung-jantung demokrasi seperti Prancis dan Amerika Serikat. Dominannya kepentingan korporasi menjadi penyakit akut dalam sistem demokrasi yang melahirkan korupsi. Berbagai skandal korupsi, money politic dan kolusi yang terjadi sebagian besar memiliki hubungan langsung dengan kepentingan korporasi (perusahaan) dan dunia politik. Politik dan uang menjadi semacam lingkaran setan.Money to politics, Politic to money. Uang untuk meraih kekuasaan politik, kekuasaan politik untuk menghasilkan uang.
Skandal penjualan kursi Obama (2008) yang menghebohkan merupakan salah satu kasus. Gubernur Illinois, AS, Rod Blagojevich, akhirnya dipecat setelah terbukti menjual kursi senat Illinois yang kosong setelah ditinggalkan Barack Obama setelah menjadi Presiden AS dengan imbalan uang.
Skandal politik Inggris terbaru terjadi ketika bendahara partai konservatif Inggris yang berkuasa tertangkap kamera sedang menawarkan akses kepada Perdana Menteri dan Kanselir hingga lebih dari £ 250.000 atas nama sumbangan. Para pendonor telah diundang makan malam secara pribadi dengan David Cameron dan keluarganya. Cameron pun dipaksa untuk menyebutkan secara rinci nama para pendonor jutawan yang ia ajak makan malam bersama itu. Kasus menghebohkan lain adalah pengunduran diri mantan Menteri Pertahanan Liam Fox yang terlibat dalam skandal “Cash for Honours” yang mencoreng Partai Buruh pada saat-saat terakhir pemerintahan mereka.
Di negara kampiun demokrasi yang lain, Prancis, polisi menggeledah kantor dan rumah mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, Selasa (3/7), untuk penyelidikan terkait tuduhan korupsi dana kampanye pemilihan presiden tahun 2007. Sarkozy diduga menerima sumbangan ilegal untuk kampanye pemilihan presiden 2007 dari wanita terkaya Prancis, Liliane Bettencourt, pemilik kerajaan bisnis produk kecantikan L’Oreal.
Hal yang sama terjadi di Indonesia, negara pengekor demokrasi. Seakan tak mau kalah dengan tuan demokrasinya, praktik korupsi dan kolusi marak terjadi di Indonesia. Sebagian besar melibatkan mereka yang menjadi penjaga pilar-pilar demokrasi baik di eksekutif, legislatif hingga yudikatif. Berbagai kasus korupsi dan suap di Indonesia seperti BLBI, Bank Century, suap pembuatan RUU BI, RUU Wakaf, proyek Hambalang, hingga pembuatan al-Quran Departemen Agama melibatkan penjaga-penjaga setia sistem demokrasi.
Kuatnya pengaruh korporasi dalam sistem demokrasi ini membuat kebijakan negara demokrasi lebih cenderung memihak kepada pemilik modal, korporasi, baik lokal maupun internasional. Lahirlah berbagai UU dan kebijakan yang menguntungkan pemilik modal dan merugikan rakyat banyak di sisi yang lain. Alih-alih memikirkan kesejahteraan masyarakat, para politisi sibuk memikirkan kesejahteraan mereka sendiri dan demi mempertahankan kekuasaan.
Seperti yang ditulis oleh Guardian, tidak mengherankan kalau masyarakat partai politik, termasuk anggota DPR, tidaklah sama sekali mencerminkan keinginan rakyat. Akibatnya, banyak rakyat yang semakin apatis untuk berpartisipasi dalam Pemilu demokratis. Dalam kasus Pilkada DKI 2012, warga yang tidak menggunakan hak meningkat 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Di beberapa tempat hal yang sama juga terjadi, angka golput sangat tinggi, bahkan menjadi ‘pemenang’.
Walhasil, inilah saatnya kaum Muslim mencampakkan sistem demokrasi; tidak cukup sekadar tidak berpartisipasi dalam Pemilu yang curang, korup dan menghasilkan rezim korup. Diam saja tentu tidak akan membawa perubahan. Kita harus melakukan aksi nyata dengan memperjuangkan tegaknya Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan kita.
Era demokrasi akan segera berakhir dalam waktu dekat ini. Yang gigih mempertahankannya akan gigit jari. Sistem ini telah gagal mewakili keingingan masyarakat yang luhur. Demokrasi sukses mensejahterakan segelintir orang, namun gagal mensejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Demokrasi di berbagai negara juga menjadi sumber konflik yang berdarah-darah. Atas nama demokrasi negara-negara Barat juga membunuh kaum Muslim di Irak dan Afganistan. Belum lagi standar ganda yang nyata dalam demokrasi. Demokrasi hanya digunakan untuk kepentingan Barat. Barat justru kerap melanggar prinsip mereka sendiri kalau berkaitan dengan umat Islam.
Saat yang tepat bagi seluruh dunia Muslim sekarang adalah Khilafah. Dari Tunisia hingga Indonesia, dari Suriah hingga Bangladesh, rakyat menuntut Khilafah. Sekaranglah saat yang tepat bagi para perwira yang tulus dalam angkatan bersenjata untuk terlibat dalam pekerjaan yang serius ini dengan memberikan nushrah (dukungan) bagi Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah sehingga permintaan umat secara praktis dapat diwujudkan.
Bulan ramadhan yang penuh barakah ini merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan kesunguh-sungguhan kita untuk memperjuangkan sistem Khilafah. Rasulullah saw., para Sahabat dan generasi yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan Islam telah mencontohkan mengisi bulan Ramadhan dengan perjuangan. Perang Badar, persiapan Perang Khandaq, Penaklukan Makkah, terjadi pada bulan Ramadhan.
Demikian juga kemenangan Thariq bin Ziyad di Andalusia, kemenangan besar dalam Perang Salib di bawah Panglima Shalahuddin al-Ayyubi, kemenangan di Ain Jalut saat Saifudin Qutuz menghancurkan tentara Tartar; semua terjadi di bulan Ramadhan. Sekarang, giliran kita mempersembahkan hal yang terbaik untuk umat ini, yaitu tegaknya Khilafah; memenuhi kewajiban syar’i serta menyongsongkan janji Allah dan Rasul-Nya. Allahu Akbar! [Farid Wadjdi]

Ustadz Bachtiar Nasir: “Apakah Rasulullah Masuk Sistem Saat Mengubah Sistem?"


Voa-Khilafah.co.cc - Umat Islam Indonesia umumnya berperilaku dengan mengikuti pemimpinnya. Parahnya, pemimpin negeri ini telah terjangkiti penyakit wahn, cinta dunia, berorientasi materi dan uang, serta takut mati di jalan Allah.
Artinya, umat Islam kehilangan keteladanan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam. Sangat berbeda dengan generasi awal yang dibimbing langsung oleh Rasulullah saw. Generasi awal Islam tidak pernah berpikir untuk menumpuk harta.
Ketika Rasul saw memberikan ghanimah kepada seorang sahabat saat berhijrah ke Madinah, sahabat itu menolak sambil mengatakan, "Ya, Rasulullah bukan untuk tujuan ini saya berhijrah, tapi saya merindukan panah musuh-musuh Islam, musuh-musuh Allah menancap di leherku."
Akhirnya, dalam sebuah perang dengan kabilah Qurasy, ia gugur sebagai syuhada dengan anak panah yang menancap tepat di lehernya. Pada saat pemakamannya, Rasulullah pun memberikan jubah kebesarannya pada sahabat ini.
Adakah, saat ini, pemimpin yang berani menolak ghanimah dan mengatakan, "Saya merindukan timah panas menembus leherku demi tegaknya nilai-nilai Islam?" Itulah analisis Ustadz Bachtiar Nasir kenapa umat Islam kian terpuruk di negeri ini, bahkan di sebagian negeri-negeri Muslim.
Akibatnya, perjuangan menegakkan Islam menjadi lemah, apalagi para pemimpin umat saat ini justru teracuni oleh subhat pemikiran dan syahwat kekuasaan. Untuk mengetahuinya lebih dalam Wartawan Sabili Rivai Hutapea mewawancarai Pimpinan ar- Rahman Quranic Learning ini di Jakarta. Berikut petikannya:
Mengapa Umat Islam di Indonesia kuat secara mayoritas, tapi lemah dalam kualitas?
Sejujurnya umat kita barulah berbentuk segerombolan orang yang basic neednya ingin bersosial atas nama agama. Tapi, kebersosialannya kita tak dibangun di atas pondasi syariat karena syubatnya pemikiran dan syahwat kekusaannya lebih dominan dari ketaatannya. Kedua, ibadah umat ini kelihatan luar biasa, namun mereka tak mau berdakwah. Padahal, Islam meminta kepada umatnya, selain beribadah tekun juga seharusnya berdakwah, menyampaikan kebenaran Islam kepada banyak orang.
Lantas, apa dampak negatifnya?
Atas dua fenomena ini, yaitu berkumpul tapi tak berbaris tegakkan lailahaillallah dan lemah dalam berdakwah menyebabkan kebersamaan di kalangan umat tak bermakna apa-apa. Padahal, semestinya kebersamaan ini membentuk barisan dan barisan melahirkan kekuatan.
Contoh konkrit Ustadz?
Ibadah yang dilakukan tanpa disertai ghirah dan semangat berdakwah yang tinggi akan stagnan, bahkan akan mengalami kemunduran signifikan. Akibat lanjutannya umat tidak berdaya di berbagai bidang, seperti sosial, ekonomi, politik, kesenian dan lainnya. Umat akan terpuruk dibanding umat lainnya di berbagai bidang.
Bagaimana solusinya?
Kita kembali kepada orisinalitas Islam. Sebagai ilustrasi, banyak sekali yang dilakukan pimpinan Islam tapi tidak didasari oleh konsep shalat berjamaah. Maka, tidak mungkin mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Bangunan umat sudah diletakkan dasarnya oleh Rasulullah saw. Bid’ah-bid’ah yang kita lakukan dalam merekonstruksi umat telah terjadi. Ini penyebab yang paling mendasar ketertinggalan umat. Ditambah lagi adalah syahwat kekuasaan dan syubhat pemikiran yang melanda umat.
Dalam bidang politik misalnya, Islam Indonesia lemah karena partai politik Islam tidak bersatu dan terpecah. Seandainya, mereka mau berkoalisi, insya Allah pertolongan Islam akan datang. Pertolongan Allah akan datang kalau umat dapat bersabar dalam memperjuangkan Islam.
Termasuk di bidang ekonomi?
Ya, umat kita ini banyak yang tidak berzakat. Banyak mengaji, zikir, bahkan haji berkali-kali, tapi banyak yang tidak berzakat. Mau meniru ekonomi syariah manapun, tapi kalau tidak bayar zakat keberkahan tidak akan datang.
Solusinya adalah kita kembali ke hal yang fundamental saja. Tidak usah cari pemimpin yang kaya dan baik, tapi tak shalat berjamaah. Maka jangan berharap pertolongan Allah datang. Karena kedaulatan terjadi karena adanya pertolongan dari Allah.
Logika menang dan kuat hanyalah satu, yaitu pertolongan dari Allah. Kalau tidak ada pertolongan Allah, berapa pun kekuatan yang dimiliki, tidak akan berarti apa-apa.
Lihat perjuangan kemerdekaan Indonesia dulu. Dari semua sisi Indonesia masih lemah, tapi kenapa dapat meraih kemenangan dari kaum penjajah. Penyebabnya, karena saat itu masyarakat merdeka jiwanya.
Lihat jenderalnya, bukanlah orang yang berbintang lima atau bergelar seabreg, tapi maaf orang yang berpenyakit TBC. Kemana-kemana ia ditandu oleh anak buahnya. Tapi jiwanya merdeka dari syahwat kekuasaan dan syubhat pemikiran. Karena itu, ia sanggup berkata, “Kami siap mempertahankan kedaulatan RI sampai tetes darah penghabisan.”
Bagaimana dengan pemimpin umat saat ini?
Di sini letak persoalannya. Pemimpin umat saat ini, tidak seperti pemimpin umat dulu. Pemimpin saat ini lebih cinta dunia harta, pangkat dan kedudukan. Padahal al-Qur’an hanya meminta mereka mau berkorban untuk Islam.
Sejujurnya, pemimpin saat ini terserang penyakit wahn (cinta dunia). Saat ini terjadi distorsi atmosfir sirah. Sirahnya benar, tapi cara menafsirkannya yang keliru. Amr bin Ash atau Abdurrahman bin Auf disebut kaya raya bukan sekadar penampilannya, tapi karena kedermawanannya dan keadilannya mendistribusikan kekayaan. Saat ini sulit menemukan pemimpin Islam seperti itu.
Di Indonesia ini unik, bank-bank konvensional jadi “mualaf” karena mau pakai istilah syariah, tapi tak mau pakai syariat karena di belakang “H” ada profit, tapi di belakang “T” ada risiko. Sehingga ramai-ramai membentuk ekonomi syariah, bukan syariat.
Bukankah fenomena berdirinya bank syariah adalah sesuatu yang harus didukung?
Ini memang sebuah proses perlahan-lahan menuju kedaulatan ekonomi umat. Rasulullah saw orang yang paling tahu pusat uang di mana. Rasulullah juga orang yang paling tahu bagaimana kedaulatan politik, tapi Rasulullah adalah orang yang paling zuhud pada dunia. Rasulullah tahu dunia hanya dapat ditaklukkan dengan kezuhudan bukan dengan kemewahan. Jadi ada logika-logika terbalik di mana syahwat dan syubhat kekuasaan sudah menggelayut dalam diri pemimpin umat.
Saat ini juga pemimpin mengukur kesuksesan dengan banyaknya konstituen, uang. Logika yang mereka bangun tidak akan berhasil tanpa uang dan kekuasaan. Di atas kertas, benar, tapi kenyataannya tidak. Lihat sirah Islam. Jika kemenangan didasari uang, kekuasaan, di atas kertas seharusnya Fir’aun yang menang melawan Musa. Sebaliknya, Musa yang menang. Pemimpin sudah tak percaya diri lagi dengan ayat yang berbunyi, “Wahai Nabi cukuplah Allah SWT sebagai pelindungmu dan cukuplah konstituenmu orang-orang yang beriman.”
Dapat dijelaskan lebih dalam penyebab hal ini?
Saya ingin kembali kepada yang fundamental dan sederhana saja sebagaimana yang disebutkan dalam ajaran Islam. Penyebabnya ada tiga, yaitu syirik, cinta dunia dan takut mati.
Syiriknya di mana?
Saat ini di kalangan umat muncul pola laku animisme dan dinamisme baru. Contoh berpikir animisme begini. Mereka mengatakan mana mungkin kita bisa mengubah situasi kalau tidak masuk sistem. Karena itu, kita harus berkuasa. Atau ada juga mengatakan, jika politik di isi orang-orang jelek, mana mungkin akan merubah sistem.
Jawabannya simpelnya begini. Apa dulu Nabi saw masuk sistem saat mengubah negeri. Sebutkan nabi dan sahabat mana yang masuk sistem mengubah negeri.
Selain animisme, pemikiran dinamisme juga terjadi di kalangan umat. Yaitu, mereka yang mengorientasikan dirinya pada materi dan uang. Akibat, perjuangan menegakkan Islamnya menjadi lemah. Pada gilirannya, konstituen kecewa dengan para pemimpinnya.
Soal cinta dunia?
Diakui atau tidak, dunia ini indah. Ironisnya, para pemimpin terjatuh kecintaan pada dunia. Akibatnya, mereka sulit untuk bersikap tegas dan cenderung kompromistis kepada kebatilan. Bagaimana Islam akan tegak jika pemimpinnya lebih cinta dunia dari pada akhirat.
Persoalan ketiga adalah takut kematian, ancaman dan lainnya. Diakui atau tidak, para pemimpin negeri ini dijangkiti penyakit takut mati, takut ancaman dan takut lainnya. Inilah yang menyebabkan bangsa ini tidak pernah berdaulat karena pemimpinnya lebih cinta dunia dan takut mati. Pemimpin yang takut mati, tidak akan dapat diharapkan untuk menegakkan Islam.
Karena itu kita membutuhkan pemimpin umat yang bebas dari hama wahn. Kita memerlukan pemimpin yang mengatakan kebenaran absolut adalah datang dari Allah. Kemudian ia tidak pernah ragu dan jadi peragu. Setiap keputusannya selalu dilandasi atas dalil Islam. Merekalah yang dapat diharapkan dalam perjuangan Islam. Jadi terpuruknya bangsa ini karena pemimpinnya telah terjangkiti syubhat pemikiran dan syahwat kekuasaan yang berlebihan.
Ciri apa yang patut ditiru umat dari generasi awal Islam dulu?
Generasi awal adalah orang yang jujur akan janjinya. Mereka generasi yang dibentuk oleh Rasulullah. Mereka adalah sekelompok orang yang sangat berpengaruh, militan dan konsisiten memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam. Orang seperti inilah yang tidak kita punyai saat ini.
Generasi awal tidak kepikir berjuang untuk menumpuk harta. Ketika Rasulullah memberi ghanimah kepada salah seorang sahabat saat berhijrah, sahabat itu menolak dan mengatakan, “Ya Rasulullah bukan untuk ini saya berhijrah, tapi saya merindukan panah itu menancap di leherku.” Dan ia pun terbunuh dan panah menacap di lehernya. Rasulullah kemudian memberi jubah kebesaran kepadanya. Saat ini, adalah pemimpin yang berani menolak ghanimah dan mengatakan saya merindukan panah menancap di leherku.
Jadi apa persoalan besar saat ini?
Umat ini kehilangan teladan pemimpin. Yang diinginkan umat dari pemimpin adalah amanah dan keteladan. Kenapa umat jadi kocar-kacir seperti saat ini karena antara yang ia dapatkan di masjid dengan kenyataan sosialnya gap. Inilah yang membuat umat akhirnya frustasi.
Karena itu, umat membutuhkan pemimpin yang memegang amanah, hidupnya bersahaja, tetap bersahaja walau proyek besar di depannya dan sayang kepada umatnya. Inilah pemimpin yang dicari umat saat ini, tidak ada yang lain.
Belakangan, kesadaran umat pentingnya mengaji tumbuh. Benarkah?
Ya, hal yang melatarbelakanginya banyak. Antara lain, umat mulai sadar bahwa selama ini mereka memakai referensi yang dhaif sehingga mereka mencari pengajian-pengajian yang menyampaikan referensi yang benar. Mereka juga mencari para ustadz yang memiliki integritas karena selama ini mereka tidak mendapatkan itu.
Apakah karena fenomena ini ustadz membuat kelas pengajian yang unik?
Saya coba lemparkan kelas tadabur Qur’an. Pada akhirnya yang ikut dalam pengajian itu adalah orang-orang pilihan yang ingin mencari ilmu, bukan sekadar wisata spirituil. Yang tadabur Qur’an biasanya orang-orang yang mau mikir, menulis, mengkaji bukan sekadar mau rekreasi spirituil saja. Meskipun untuk awalnya, hal itu sudah cukup bagus. Namun dalam kenyataannya biasanya mereka tidak kuat untuk tadabur Qur’an.
Mengapa tadabur Qur’an ini begitu istimewa?
Dapat satu saja orang yang mau belajar, menganalisa dan mengkaji Qur’an, bandingannya lebih dari 10 orang. Di sini letak istimewanya. Saat ini saya berpikir bagaimana al-Qur’an dapat dinikmati oleh orang Indonesia yang tak mengerti bahasa Arab. Seseorang yang mau menguasai al-Qur’an, harus memiliki syarat ikhlas, menguasai alat bahasa, menyesuaikan akselerasi gaya rasa. Pertama, masuk saja dulu kelas tadabur yang penting bisa baca meskipun belum bisa menyambungkannya. Kemudian difasilitasi, misalnya tempatnya nyaman, kurikulumnya jelas dan lainnya.
Apakah dakwah yang dibutuhkan umat?
Lihat teori marketing Nabi Ibrahim. Allah SWT memerintahkan Ibrahim memanggil orang sedunia untuk mendatangi Ka’bah. Padahal Ka’bahnya dia sendiri yang membangun. Bentuknya pun biasanya saja, tidak terlalu bagus presisinya. Untuk mencapai ke sana pun harus dengan perjuangan yang luar biasa.
Tapi, kita membutuhkan pemuda-pemuda yang berpikir out the box, seperti Ibrahim. Awalnya, Ibrahim tak PD menjalankan perintah Allah memanggil manusia ke Ka’bah. Marketing tools juga nggak ada untuk mengajak ke sana. Namun Allah meyakinkan Ibrahim bahwa banyak orang yang akan datang ke sana.
Tugas Ibrahim adalah memanggil manusia sedunia, sedangkan tugas Allah SWT adalah menyampaikan ke hati manusia. Ibrahim tidak tahu kalau frekuensi ada yang mengendalikan sampai ke hati manusia. Dan janji Allah terbukti, dikemudian hari oarng-orang berduyun-duyun mengunji Ka’bah, hingga saat ini, bahkan sampai akhir zaman. Inilah janji Allah SWT yang harus diyakini. Tugas kita adalah menyampaikan amanah Allah sedangkan yang menentukan hasilnya adalah Allah SWT. Di sinilah banyak umat yang tidak meyakini janji Allah SWT sehingga umat ini terpuruk.
Dapat diberikan contohnya?
Apa yang dilakukan Mushab bin Umair ketika berdakwah di Madinah. Ia ditantang dua pemuda Madinah yang siap menancapkan pedangnya ke tubuh Mushab. Tapi Mushab berkata, “Saya tidak akan bacakan ayat kalau kalian tidak duduk.” Hanya dua ayat al-Furqan ia bacakan, mereka langsung tunduk. Jadi, tugas kita membacakan ayat.
Allah SWT menurunkan al-Qur’an ini kepada Rasulullah secara perlahan-lahan agar Nabi dapat menyampaikan ke umat. “Sengaja Qur’an ini Aku turunkan bagian demi bagian untuk kau bacakan kepada manusia perlahan-lahan.”
Inilah saatnya kita mengajak manusia untuk back to Qur’an. Kemana-mana, saya sering mengenalkan identitas sebagai guru ngaji. Suatu waktu pernah ada yang bertanya kepada saya kenapa bangga disebut guru ngaji? Saya katakan karena lebih tinggi dari presiden. Sebaik-baik karir kalian adalah yang mendalami al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang banyak. Jadi, seperti halnya Nabi Ibrahim dan sahabat, kita harus percaya diri menyampaikan dan membacakan al-Qur’an kepada umat. Insya Allah, perubahan akan terjadi di negeri ini. Majalah SABILI No 26/TH XVIII, 29 September 2011.(pz/eramuslim/voa-khilafah.co.cc)
BANTAHAN-BANTAHAN ATAS PENERIMAAN DEMOKRASI ISLAM

BANTAHAN-BANTAHAN ATAS PENERIMAAN DEMOKRASI ISLAM

1. Dalam demokrasi ada musyawarah, sedangkan dalam Islam ada syura. Sehingga Islam membolehkan demokrasi.

Syuro dalam Islam sangat berbeda dengan musyawarah dalam sistem demokrasi. Syuro hanya membahas perkara-perkara yang sifatnya mubah. Dalam syuro tidak dibahas hukum-hukum yang qath’i.

Juga dengan menyamakan satu sisi dari dua perkara yang sangat berbeda, amatlah tidak tepat. Menyamakan antara Islam dan demokrasi hanya dalam masalah musyawarah, tanpa melihat sisi lainnya. Seperti makna demokrasi, yaitu pemerintahan dari rakyat. Yang berhak membuat hukum adalah rakyat. Sedangkan Islam, yang berhak membuat hukum hanyalah Allah. Manusia hanya menjalankan saja. Begitu pula kita tidak bisa menyamakan antara manusia dengan monyet hanya karena masing-masing memiliki tangan, atau mobil dengan becak hanya karena masing-masing memiliki roda.


2. Allah bermusyawarah dengan malaikat ketika ingin menciptakan manusia seperti dalam surat Al Baqarah ayat 30.


Surat Al Baqarah ayat 30 Allah mengabarkan kepada malaikat, bukan suatu pertanyaan yang meminta pendapat kepada malaikat. Ayat ini ditegaskan dalam awal kata ุฅِู†ِّู‰ . Sehingga ayat ini bukan bentuk kalimat tanya, yang merupakan pertanyaan Allah (meminta saran) kepada malaikat.


3. Dulu Rasulullah menolak sistem kufur karena disuruh meninggalkan akidah dan dakwah islam. Sekarang berbeda, kita tidak dipaksa meninggalkan akidah kita, bahkan kita bisa mendakwahkan mereka.


”Demi Allah...wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-nya”.


Kalimat ini diutarakan kepada pamannya Abu Thalib yang telah diutus oleh para pembesar Quraisy, agar Rasulullah berhenti ”menyerang” Tuhan-Tuhan mereka.

Dalil penolakan Rasulullah kepada sistem kufur adalah Rasulullah sama sekali tidak ikut bergabung di Darun Nadwah.

Darun Nadwah adalah suatu tempat bertemunya para pembesar Quraisy untuk memusyawarahkan suatu kebijakan yang akan diterapkan ditengah-tengah masyarakat Quraisy. Pada saat sekarang ini adalah parlemen.


4. Dalam demokrasi pemilihannya dengan pemilu, Islam pun sama.


Pemilu adalah sarana untuk memilih pemimpin. Hukum asal sarana adalah mubah. Namun ada kaidah ushul fiqh yang menyebutkan :

“Sarana yang dipergunakan untuk keharaman, maka hukumnya menjadi haram”.

Pemilu yang hukum asalnya mubah, namun dipergunakan untuk melanggengkan demokrasi karena menganggap boleh ada pihak lain yang berhak membuat hukum selain Allah, maka pemilu tersebut hukumnya haram.


5. Kalau tidak mau ikut demokrasi, opsinya ya cuma REVOLUSI atau KUDETA.


Rasul tidak pernah mencontohkan hal ini. Yang Rasul lakukan adalah Revolusi pemikiran. Dalam perjuangannya Rasulullah menggunakan kekuatan fikrah dan ketajaman lisan. Rasul tidak pernah menggunakan kekuatan otot atau mengangkat senjata. Sebagaimana Rasulullah ketika melihat keluarga Yasir sedang disiksa. Yang Rasul lakukan hanyalah menyeru kepada keluarga Yasir untuk bersabar. Dan juga ketika mendengan Bilal bin Rabbah disiksa oleh majikannya, Rasul pun diam. Kemudian dengan inisiatif sendiri, Abu Bakar pergi dan membeli Bilal yang kemudian membebaskannya sebagai budak.

Jika kita menggunakan cara Revolusi fisik dan Kudeta, itu sama hal nya kita melakukan cara kufur seperti demokrasi. Juga kalau menggunakan kekuatan fisik, maka bisa langsung diberangus. Namun jika dengan menggunakan kekuatan fikrah, orangnya bisa diberangus, tapi pemikirannya akan terus berkembang.


6. Kalau kaum muslimin tidak mau mengikuti pemilu, maka parlemen akan diisi oleh orang-orang kafir. Dan ini sangat berbahaya, sebab mau ngaji susah, harus ngumpet-ngumpet dulu. Mau kutbah susah, teksnya harus diperiksa intel dulu. Mau pake jilbab susah. Ustadz banyak yang ditangkap.


Dalam menjawab statement ini ada beberapa point yang perlu kita perhatikan :

a. Kaum muslimin di Indonesia ada sekitar 80% dari total penduduk Indonesia. Kalau semua kaum muslimin itu sadar untuk menolak demokrasi dan hanya menginginkan tegaknya khilafah Islam, maka hasil pemilu itu hanya 20 % suara saja, dan itu tidak legitimate alias tidak sah. Jadi kekhawatiran bahwa DPR akan diduduki oleh orang2 kafir itu tidak akan terbukti, itu hanya sekedar kekhawatiran berlebih saja.

b. Kalau seluruh kaum muslimin menginginkan tegaknya khilafah dengan meninggalkan demokrasi berarti sama hal nya menolong agama Allah swt. Dan ketika seluruh kaum muslimin itu menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita. Allah telah berjanji dalam firmannya surat Muhammad ayat 7 :


ูŠٰุฃَูŠُّู‡َุง ูฑู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุۤงْ ุฅِู† ุชَู†ุตُุฑُูˆุงْ ูฑู„ู„َّู‡َ ูŠَู†ุตُุฑْูƒُู…ْ ูˆَูŠُุซَุจِّุชْ ุฃَู‚ْุฏَุงู…َูƒُู…ْ


Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.


Dan surat Al-Imran ayat 160 :


ุฅِู†ْ ูŠَู†ْุตُุฑْูƒُู…ُ ูฑู„ู„َّู‡ُ ูَู„ุงَ ุบَุงู„ِุจَ ู„َูƒُู…ْ ูˆَุฅِู†ْ ูŠَุฎْุฐُู„ْูƒُู…ْ ูَู…َู†ْ ุฐَุง ูฑู„َّุฐِู‰ ูŠَู†ْุตُุฑُูƒُู…ْ ู…ِّู†ْ ุจَุนْุฏِู‡ِ ูˆَุนَู„َู‰ ูฑู„ู„َّู‡ِ ูَู„ْูŠَุชَูˆَูƒَّู„ِ ูฑู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ


Artinya :

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.


7. Dulu Nabi Yusuf masuk ke dalam sistem, dengan menjadi bagian kerajaan Fir’aun mengurusi logistik.


Juga firman Allah swt:


ู„َّู‚َุฏْ ูƒَุงู†َ ู„َูƒُู…ْ ูِู‰ ุฑَุณُูˆู„ِ ูฑู„ู„َّู‡ِ ุฃُุณْูˆَุฉٌ ุญَุณَู†َุฉٌ ู„ِّู…َู† ูƒَุงู†َ ูŠَุฑْุฌُูˆ ูฑู„ู„َّู‡َ ูˆَูฑู„ْูŠَูˆْู…َ ูฑู„ุขุฎِุฑَ ูˆَุฐَูƒَุฑَ ูฑู„ู„َّู‡َ ูƒَุซِูŠุฑุงً


"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah)." (QS Al Ahzab: 21)


ู‚ُู„ْ ุฅِู† ูƒُู†ุชُู…ْ ุชُุญِุจُّูˆู†َ ูฑู„ู„َّู‡َ ูَูฑุชَّุจِุนُูˆู†ِู‰ ูŠُุญْุจِุจْูƒُู…ُ ูฑู„ู„َّู‡ُ ูˆَูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆุจَูƒُู…ْ ูˆَูฑู„ู„َّู‡ُ ุบَูُูˆุฑٌ ุฑَّุญِูŠู…ٌ


"Katakanlah: 'Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS Ali Imran: 31)


ْ ูˆَู…َุข ุขุชَุงูƒُู…ُ ูฑู„ุฑَّุณُูˆู„ُ ูَุฎُุฐُูˆู‡ُ ูˆَู…َุง ู†َู‡َุงูƒُู…ْ ุนَู†ْู‡ُ ูَูฑู†ุชَู‡ُูˆุงْ


"Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah." (QS Al Hasyr: 7)


Ada Hadits Rasulullah saw :

Syari'at sebelumku adalah bukan syari'atku.


Dalam hadits yang lain :

Siapa saja yang melakukan amal tanpa sesuai dengan petunjukku, maka amal tersebut tertolak.


Begitu pula kisah Umar bin Khattab yang ditegur oleh Rasulullah karena kedapatan membaca kitab Taurat. Rasulullah berkata kepada Umar :

”Andai saja saudaraku masih hidup, niscaya dia akan mengikutiku”


Sehingga kisah Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah saw hanya bisa kita ambil ibrahnya saja. Tidak boleh kita ambil sebagai syari'at, kecuali dilakukan kembali oleh Rasulullah saw.


Seperti halnya syari'at Nabi Sulaiman yang merajai hewan dan jin, tidak boleh kita lakukan.


8. Ini hanya perkara ijtihad saja dalam dakwah.


Ijtihad adalah proses menggali hukum syariat dari dalil-dalil yang bersifat zhanni dengan mencurahkan segenap tenaga dan kemampuan hingga tidak mungkin lagi melakukan usaha lebih dari itu.

Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 40 :


ุฅِู†ِ ูฑู„ْุญُูƒْู…ُ ุฅِู„ุงَّ ู„ِู„َّู‡ِ


Sesungguhnya hukum itu milik Allah.


Ayat ini bersifat qath’i, bukan dzanni. Sehingga perkara hanya Allah lah yang berhak membuat hukum, dan tidak boleh ada pihak lain yang berhak membuat hukum itu bukan wilayah ijtihad.


9. Lebih baik menjadi pemain di lapangan, dari pada berteriak-teriak di luar lapangan.


Analogi ini tidak bisa digunakan untuk membedakan perjuangan di dalam ataupun di luar sistem. Sebab :

a. Belum lagi jika kita mau teliti bahwa yang namanya pemain itu mereka hanya bermain sesuai aturan yang telah dibuat oleh orang-orang yang berada di luar lapangan. Salah benarnya pemain dalam bermain di lapangan itu berdasarkan dengan aturan yang telah dibuat. Tidak ada satu fakta pun yang menyebutkan bahwa pemain di lapangan membuat kesepakatan baru tentang aturan main.

b. Tidak ada contoh fakta sejarah yang membuktikan bahwa keberhasilan perjuangan itu dilakukan dari dalam sistem. Seperti perjuangan dakwah Rasulullah dilakukan di luar sistem. Pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Habasyah karena rajanya telah memeluk Islam, juga dilakukan dari luar sistem. Jatuhnya Rezim Soeharto juga dilakukan dari luar sistem

c. Amal itu akan diterima jika dua hal terpenuhi yaitu, niat ikhlash dan sesuai tuntunan. Jika salah satu tidak dipenuhi, maka amal tersebut tertolak. Rasulullah sama sekali tidak pernah mencontohkan berjuang melakukan perubahan berasal dari dalam sistem. Meskipun niat ikhlash, tapi berjuang melalui dalam sistem yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah, maka amal tersebut tertolak.


10. Begitu banyak UU yang sesuai syari’ah telah dihasilkan dari berjuang melalui sistem, seperti UU Pornografi, dll. Sedangkan jika berada di luar sistem, tidak bisa melakukan apapun.


Syuro’ dalam Islam hanyalah membahas masalah-masalah yang hukumnya mubah. Syuro’ tidak membahas hukum-hukum yang bersifat qath’i. Pornografi dan pornoaksi adalah aktifitas membuka aurat. Sedangkan aurat dalam Islam adalah suatu yang qath’i. Sehingga tidak perlu lagi dimusyawarahkan apakah itu halal atau haram, apakah itu wajib diterapkan atau tidak.


Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 7 :


ูˆَู‡ُูˆَ ูฑู„َّุฐِู‰ ุฎَู„َู‚ ูฑู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَูฑู„ุฃَุฑْุถَ ูِู‰ ุณِุชَّุฉِ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ูˆَูƒَุงู†َ ุนَุฑْุดُู‡ُ ุนَู„َู‰ ูฑู„ْู…َุขุกِ ู„ِูŠَุจْู„ُูˆَูƒُู…ْ ุฃَูŠُّูƒُู…ْ ุฃَุญْุณَู†ُ ุนَู…َู„ุงً


Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya...


Kalau kita lihat lebih lanjut, ayat tersebut menyebutkan dengan kata lebih baik amalnya. Bukan lebih banyak amalnya. Baik-buruk itu semua dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika Allah mengatakan bahwa ุฅِู†ِ ูฑู„ْุญُูƒْู…ُ ุฅِู„ุงَّ ู„ِู„َّู‡ِ Sesungguhnya hukum itu milik Allah, maka itu baik. Sedangkan yang menganggap bahwa boleh ada pihak lain yang berhak membuat hukum selain Allah (termasuk manusia) adalah buruk. Dan juga yang perlu kita perhatikan adalah Allah tidak melihat hasil, melainkan melihat ikhtiar manusia. Jika ikhtiarnya bertentangan dengan perintah-Nya, maka ini akan berdampak dosa. Jika ikhtiarnya sesuai dengan perintah-Nya, maka akan berdampak pahala.


Begitu pula, antara UU yang pro syari’ah dan kontra syari’ah, sesungguhnya lebih banyak UU yang kontra syari’ah yang dihasilkan. Kita lihat saja UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, UU Minerba, dan masih banyak lagi.


11. Yang penting disana ada mashlahat


Di dalam hukum syari’at itu terdapat mashlahat. Jadi logikanya harus dibalik, menjalankan sistem syari’at dulu baru kita temukan mashlahat.


12. Lalu kenapa anti masih ada di indonesia ? Pakai KTP, pakai uang kertas, harus ada NPWP, hrus mematuhi peraturan yang sudah dibuat oleh pemerintah yang notabene pemerintahan demokrasi. Klo mematuhi peraturan tersebut bukannya secara tidak langsung sudah melancarkan prosedur peraturan yang dibuat oleh para legislatif negara yang menganut demokrasi ?


Mengenai di Indonesia, karena itu merupakan Qadha Allah kita dilahirkan di Indonesia, atau di Irak, dll. Indonesia itu berada di bumi Allah, jadi jika tidak setuju dengan tuntunan Rasulullah dengan dakwah di luar sistem, berarti tidak setuju dengan Allah. Jika tidak setuju dengan Allah, maka mengapa masih berada di bumi Allah ? Mengapa tidak mencari planet lain yang bukan milik Allah ?


Mengenai KTP, itu masalah administrasi yang hukumnya mubah. Dilaksanakan atau tidak maka tidak berdampak kepada pahala dan dosa. Ini berbeda dengan ketika khalifah yang menetapkan, amal mubah akan berdampak pahala jika dilaksanakan karena ketaatan kita kepada amirul mukminin.


Tentang Uang kertas dan NPWP, ini adalah bentuk kedzaliman yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya. Rasulullah memberikan tuntunan kepada kita bahwa pecahan uang hanyalah dengan emas dan perak yang mengandung nilai intrinsik dan tidak menimbulkan inflasi. Sedangkan Pajak dalam Islam dilakukan ketika kas Baitul Maal kosong, sementara negara membutuhkan dana secara mendesak untuk kepentingan fii sabilillah, maka pada saat itu negara boleh menariki pajak kepada warga negara. Jika kondisi kas baitul maal sudah normal, maka negara (khalifah) haram menariki pajak kepada warga negaranya.

Justru seharusnya kita tidak ridha diperlakukan seperti ini. Jika kita ridha, maka kita sama halnya meridhai syari’at Allah dicampakkan.


13. Kita harus bersikap Husnudzon kepada kaum muslimin yang berjuang di dalam sistem tersebut


Husnudzon dilakukan ketika kita tidak mengetahui betul tentangnya. Namun dalam parlemen itu aktifitasnya memusyawarahkan dalam rangka membuat hukum, sementara tidak ada satupun orang yang tidak mengetahuinya, maka sikap husnudzon tidak diperlukan lagi. Karena ini merupakan kemunkaran yang nampak jelas dihadapan kita. Sebaliknya, kita harus menasehati mereka yang berjuang di dalam sistem.


14. Jangan membuka aib saudaranya (ghibah).


Dalam kitab Riyadhus Sholihin disebutkan ada enam kondisi ghibah yang diperbolehkan :

a. mengadukan kezhaliman (at-tazhallum). Boleh bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan kezhaliman yang menimpa dirinya kepada penguasa, qadhi, atau yang memiliki otoritas hukum ataupun pihak yang berwajib lainnya.

b. permintaan bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiyat pada kebenaran (al isti'รขnah 'ala taghyรฎril munkar wa raddal 'รขshi ila ash shawรขb).

c. permintaan fatwa (al istiftรข`). Misal seseorang mengatakan kepada seorang mufti (pemberi fatwa), ayahku (atau saudaraku atau suamiku atau fulan) telah menzhalimi aku dengan cara begini. Lalu apa yang harus aku perbuat padanya ?; bagaimana cara agar aku terlepas darinya, mendapatkan hakku, dan terlindung dari kezhaliman itu ?

d. memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap suatu keburukan dan menasihati mereka (tahdzรฎrul muslimรฎn min asy syarr wa nashรฎhatuhum). Ini ada beberapa bentuk, diantaranya adalah menyebutkan keburukan sifat orang yang memang pantas disebutkan keburukannya (jarhul majrรปhรฎn) yakni dari kalangan para perawi hadits dan saksi-saksi (di pengadilan, red)

e. seseorang memperlihatkan secara terang-terangan (al- mujรขhir) kefasiqan atau perilaku bid'ahnya sebagaimana orang yang yang memperlihatkan perbuatan minum khamr, menyita, mengambil upeti, pengumpulan harta secara zhalim, memimpin dengan sistem yang bathil.

f. penyebutan nama (at-ta'rรฎf). Jika seseorang telah dikenal luas dengan nama laqab (julukan) seperti al-A'masy (Si Kabur Penglihatannya) atau al-A'raj (Si Pincang), atau al- Ashamm (Si Tuli), al-A'maa (Si Buta), al-Ahwal (Si Juling), dan lain sebagainya maka boleh menyebut nama mereka dengan sebutan itu.


15. Mendakwahkan Islam di dalam parlemen.


Mendakwahkan Islam tidak harus ikut aktif di dalam parlemen, bisa saja kita membuat janji kepada anggota parlemen di kantornya atau di suatu tempat, kemudian kita mendakwahkan. Sehingga bukan berarti jika kita ingin mendakwahkan Islam kepada pelacur, maka kita harus berzina dulu dengan pelacur tersebut.


16. Paling tidak bisa mewarnai di dalam sistem.


Rasulullah menyuruh kita untuk melakukan perubahan, dari kemunkaran kepada al-haq. Rasulullah sama sekali tidak pernah mengajarkan kepada kita agar Islam menjadi pewarna di dalam sistem kufur. Rasulullah tidak pernah bergabung di Darun Nadwah hanya untuk mewarnai Islam di sana.


17. Sudahlah, kita harus saling menghormati satu sama lain.


Biasanya ini adalah senjata pamungkas dari para penikmat demokrasi, karena sudah kehabisan argumentasi. Jika kita tinjau kembali bahwa aktifitas berdakwah melalui parlemen adalah suatu aktifitas keharaman. Maka seharusnya kita tidak boleh memberikan toleransi sedikitpun terhadap aktifitas pembangkangan terhadap ketetapan Allah yaitu bahwa hanya Allah lah yang berhak membuat hukum, bukan manusia. Jadi tidak boleh ada toleransi sedikitpun terhadap aktifitas seperti ini. Jika kita toleransi, maka sama hal nya kita toleransi perzinahan dilokalisasi, kita toleransi khamr di legalkan, dsb. (Raden Mas Bejo).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL