Tampilkan postingan dengan label INDIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDIA. Tampilkan semua postingan

VJP: Beberapa Pemimpin Politik Muslim Tidak Berhak Tinggal di India

Voa-Khilafah.com - Dalam pernyataan kontroversial, VHP (Partai Sayap Kanan Nasional Hindu) pada hari Sabtu menuduh para pemimpin Muslim dari beberapa partai politik “bertindak seperti mentor bagi teroris” dengan mengancam India dan mengatakan mereka tidak berhak tinggal di negara ini.

“Kadang-kadang Owaisi, kadang-kadang Abu Azmi, kadang-kadang Azam … atas nama agama mereka bertindak seperti mentor bagi teroris, yang menjadi pengkhianat dan musuh bagi kemanusiaan, dan memberikan ancaman kepada India. Orang-orang seperti itu tidak berhak untuk hidup di India,” kata Sekjen VHP Surendra Kumar Jain.

Jain memberikan pernyataan itu pada saat peresmian konferensi nasional selama dua hari di Bajrang Dal, suatu kelompok Hindutva yang terkait dengan kegiatan kekerasan di masa lalu.

Dalam semangat mereka menentang agama Hindu, para pemimpin itu mulai menentang konstitusi dan negara, tuduhnya. Komentarnya diberikan dengan dilatarbelakangi pernyataan Ketua AIMIM (Majelis Ittihad Muslimin Seluruh India) Asaduddin Owaisi yang mengatakan bahwa hukuman atas tertuduh ledakan Mumbai yang menghukum Yakub Memon untuk menghadapi tiang gantungan adalah karena agamanya.

Anggota parlemen dari BJP Sakshi Maharaj menjawab bahwa dia harus pindah ke Pakistan jika tidak bisa menerima keputusan terhadap Memon.

Beberapa kelompok Hindutva telah dituduh berada di balik kegiatan kontroversial seperti ‘cinta jihad’ dan ‘wapsi ghar’, sehingga telah mengundang keprihatinan dari kelompok-kelompok minoritas. (dnaindia.com, 25/7/2015)

(HTI/Voa-Khilafah.com)

Racun Bollywood Chori Chori Chupke Chupke

Racun Bollywood Chori Chori Chupke Chupke

Voa-Khilafah.com – Chori chori chupke chupke, sudah tak asing lagi dengan judul film india ini. Banyak para penggemar film yang mengenal tokoh-tokoh yang bembintangi serial film tersebut. Pretty Zinta, Rani Mukrezi, dan Salman Khan yang menjadi aktor utama serial film Bolywood itu.

Film yang terbilang lama durasinya itu menggambarkan kisah cinta yang begitu tulus dari seorang istri terhadap suaminya. Merelakan suaminya memiliki anak dari orang lain lantaran ia tidak mampu untuk mempunyai anak lagi.

Ia rela segala haknya tertukar lantaran memperoleh keturunan. Meminta suami untuk memiliki anak dari rahim wanita lain, meskipun dari rahim seorang pelacur.

Cinta yang begitu besar ia tunjukan untuk membahagiakan suami dan keluarga besarnya. Segala cara akan ia tempuh, walau harus berbohong kepada semuanya bahwa ia bisa memiliki keturanan lagi.

Jalan cerita film india ini sungguh menyentuh hati setiap orang yang menontonnya. Tapi di balik itu, ada racun berbahaya, yakni memberikan contoh kepada khalayak bahwa kebolehannya seorang istri memberikan perintah kepada suami untuk berzina kepada wanita lain demi memperoleh keturunan.

Bagaimana pandangan Islam dalam menyikapinya?

Dalam Islam permasalahan tersebut sudah memiliki peraturan tersendiri. Konsep yang begitu mulia, dan mencapai solusi dalam kebutuhan rumah tangga yakni bernama Ta’addud (poligami).

Allah Ta’ala bersabda: ﻚِﻟَذ َ ﻰَﻧْدَأ َ ﻻَأ ّ ْاﻮُﻟﻮُﻌَﺗ ﻢُﺘْﻔِﺧ ْ ﻻَأ ّ اﻮُﻟِﺪْﻌَﺗ ْ ةَﺪِﺣاَﻮَﻓ ً وَأ ْ ﺎَﻣ ﺖَﻜَﻠَﻣ ْ ْﻢُﻜُﻧﺎَﻤْﻳَأ بﺎَﻃ َ ﻢُﻜَﻟ ْ ﻦّﻣ َ ءﺂَﺴّﻨﻟا ِ ﻰَﻨْﺜَﻣ َ ثَﻼُﺛَو َ عﺎَﺑُرَو َ ْنِﺈَﻓ نِإَو ْ ﻢُﺘْﻔِﺧ ْ ﻻَأ ّ اﻮُﻄِﺴْﻘُﺗ ْ ﻲِﻓ ﻰَﻣﺎَﺘَﻴْﻟا َ اﻮُﺤِﻜﻧﺎَﻓ ْ ﺎَﻣ

“Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [QS. An-Nisaa’ : 3].

Poligami merupakan solusi mulia lagi bermatabat dalam memelihara nasab keturunan. Hal ini diperbolehkan, apalagi melihat kondisi sang istri yang udzur karena menderita sakit atau mandul.

Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi berkata tentang ayat di atas, ﺔﻣوﺎﻘﻣ ﺎﻫوﺪﻋ نﻮﻜﺘﻟ ﺔﻤﻠﻛ ﷲ ﻲﻫ ﺎﻴﻠﻌﻟا ةﺪﺣاﻮﻟا ﺔﺤﻠﺼﻤﻟو ﺔﻣﻷا ﺮﺜﻜﻴﻟ ﺎﻫدﺪﻋ ﺎﻬﻨﻜﻤﻴﻓ ﻞّﻄﻌﺗ ﻪﻌﻓﺎﻨﻣ ﻲﻓ لﺎﺣ مﺎﻴﻗ رﺬﻌﻟا ةأﺮﻤﻟﺎﺑ مﺪﻋ ﺎﻬﻧﺎﻣﺮﺣ ﻦﻣ جاوﺰﻟا ﺔﺤﻠﺼﻤﻟو ﻞﺟﺮﻟا مﺪﻌﺑ نآﺮﻘﻟﺎﻓ حﺎﺑأ دﺪﻌﺗ تﺎﺟوﺰﻟا ﺔﺤﻠﺼﻤﻟ ةأﺮﻤﻟا ﻲﻓ

“Al Qur`an menghalalkan poligami untuk kemaslahatan wanita agar mendapatkan suami, dan kemaslahatan lelaki agar tidak terbuang kemanfaatannya, ketika seorang wanita dalam keadaan udzur, serta (untuk) kemaslahatan ummat agar menjadi banyak jumlahnya, lalu dapat menghadapi musuh-musuhnya demi menegakkan kalimatullah agar tetap tinggi. [Dinukil dari Jami’ Ahkamun-Nisaa` (3/446)].

Ketika sebuah kasus pernikahan seperti di atas; tak memiliki keturunan, mandul atau udzur lainnya, layaknya seorang istri memberikan solusi mulia kepada suami merelakan ia untuk berbagi kemuliaan kepada wanita lain untuk menyempurnakan sebagian agamanya dengan menikah lagi, dengan tujuan memiliki keturunan yang jelas akan nasab dari sang anak yang akan dilahirkannya kelak.

Bukan memberikan solusi yang menjermuskan suami kedalam kemaksiatan, yakni perzinahan. Saat seorang Istri tertimpa sebuah penyakit kronis yang tidak memungkinkan untuk menjalani kehidupan alamiahnya bersamanya. Tidak dapat memberikan keturunan untuk suaminya, dalam hal ini istri mengikhlaskan orang yang dicintainya itu menikah lagi. Bukan berzina seperti cerita cinta di atas.

Allah Azza wa Jalla berfirman: َﻻَو اﻮُﺑَﺮْﻘَﺗ ﺎَﻧﱢﺰﻟا ۖ ﻪﱠﻧِإ ُ نﺎَﻛ َ ﺔَﺸِﺣﺎَﻓ ً ءﺎَﺳَو َ ًﻼﻴِﺒَﺳ

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Israa’: 32]

Suami pun mempunyai hak dan pilihan terhadap diri istrinya tersebut yakni memadunya atau menceraikannya, dan yang disebut terakhir ini tidak mencerminkan kesetiaan bagi pergaulan yang panjang. Tetapi ketika cinta begitu dalam terhadap istri ia tidak akan mengambil langkah perceraian, hanya saja memadu lebih utama dari segalanya.

Begitu pula istri mandul, yang tidak dapat melahirkan keturunan. Sedangkan suami menginginkan keturunan shalih yang akan membahagiakannya di dunia dan akhiratnya. Maka, dia tidak mempunyai pilihan lain selain dua hal; menikah dengan isteri kedua yang akan melahirkan untuknya anak-anak yang akan membawa namanya dan menjalankan perannya dalam kehidupannya dan mendo’akan untuknya setelah kematiannya atau menceraikannya. Tidak diragukan bahwa memadunya adalah lebih utama dan lebih mulia daripada menceraikannya. Jika dia telah menghalangi untuk mendapatkan keturunan, maka semestinya dia tidak boleh menghalangi suaminya yang memuliakannya,menghormatinya dan menghargai kedudukannya untuk menikah lagi.

Memberikan referensi wanita yang shaliha yang layak untuk memberikan keturunan. Bukan diam setuju ketika seorang pelacur menjadi pilihan karena akan mempengaruhi keturunan yang akan dilahirkannya kelak. [Miftahul Jannah/Panjimas/Voa-Khilafah.com]

India “Negara Demokratis Terbesar di Dunia” Menyia-nyiakan Kaum Perempuannya

Press Release
India “Negara Demokratis Terbesar di Dunia” Menyia-nyiakan Kaum Perempuannya

Pada hari Jumat, 28 Desember 2012, mahasiswi kedokteran India berusia 23 tahun yang menjadi korban dari serangan pemerkosaan brutal 16 Desember oleh enam orang laki-laki di dalam bis di New Delhi, telah meninggal karena luka yang dideritanya. Kasusnya ini telah memicu protes massal di seluruh India menentang kelalaian dan ketidakpedulian pihak kepolisian dan pemerintah India dalam melindungi kaum perempuan dari kekerasan seksual. Kasus perkosaan telah berada pada tingkat epidemik, sebuah fenomena yang terjadi setiap hari dan menjadi kejahatan yang tumbuh tercepat di India, negeri demokrasi terbesar di dunia. Banyak serangan seksual tidak dilaporkan karena sejumlah besar perempuan telah kehilangan kepercayaannya pada sistem India dalam melindungi martabat mereka, sebagai konsekuensi dari besarnya skala persoalan, kultur impunitas (kekebalan) yang diberikan polisi terhadap pelaku, berbagai kasus yang dibiarkan berlarut-larut selama bertahun-tahun di pengadilan, dan tingkat kepastian hukum yang buruk. Menurut Al-Jazeera, seorang perempuan diperkosa setiap 20 menit di India, dan 24,000 kasus perkosaan telah dilaporkan hanya untuk tahun lalu saja. Media juga melaporkan bahwa 80% wanita di Delhi telah mengalami pelecehan seksual, sementara “The Times of India” melaporkan bahwa perkosaan di India telah meningkat secara mengejutkan sebanyak 792% selama 40 tahun terakhir
Dr. Nazreen Nawaz, Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir berkomentar,
“Di saat pemerintah Barat terus meng-ekspor “Demokrasi” pada dunia Islam sebagai sistem terbaik dalam menjamin martabat dan hak-hak perempuan, maka negeri demokratis terbesar di dunia ini justru dengan spektakuler telah gagal dalam melindungi kaum perempuannya. Kejahatan seksual dengan tingkat yang mengerikan, sikap longgar pihak kepolisian India dalam menjaga martabat perempuan, dan sikap apatis dari pemerintah India dalam menjamin keamanan mereka adalah hasil dari kultur liberal yang secara rutin dan sistematis merendahkan nilai kaum perempuan, yakni kultur yang dibanggakan oleh negara dan diwujudkan dalam industri hiburan Bollywood. Kultur Bollywood ini, bersama dengan industri lain seperti entertainment, periklanan, dan pornografi yang didukung oleh sistem demokrasi sekuler liberal India telah menampilkan kaum perempuan sebagai objek untuk dimainkan memuaskan hasrat kaum lelaki, melakukan seksualisasi masyarakat, mendorong individu untuk mengejar keinginan egois jasmaniah mereka, mempromosikan hubungan di luar nikah, memelihara kultur pergaulan bebas dan memurahkan hubungan antara pria dan wanita. Semua ini telah menumpulkan kepekaan terhadap rasa jijik yang seharusnya dirasakan kaum lelaki, saat martabat kaum perempuannya dinodai. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa India telah mengejar posisi dan status yang sejajar dengan negara-negara liberal lainnya seperti US dan Inggris, yakni berada di antara para pemimpin global kekerasan terhadap perempuan. Sistem demokrat sekuler liberal ini, dimana setengah penduduknya hidup dalam ketakutan adalah bukanlah model yang bisa ditiru oleh dunia Muslim.”
“Adalah Islam, yang diterapkan secara komperehensif oleh sistem Khilafah yang menawarkan sebuah pendekatan yang sehat dan kuat dalam melindungi kehormatan perempuan. Islam menolak kebebasan liberal dan lebih mempromosikan Taqwa (kesadaran akan adanya Tuhan) di dalam masyarakat yang akan memelihara mentalitas dan rasa tanggung jawab dalam memandang dan memperlakukan kaum perempuan. Islam akan melarang upaya seksualisasi terhadap masyarakat termasuk semua bentuk komodifikasi dan eksploitasi tubuh kaum perempuan, sehingga hubungan antara jenis kelamin tidak pernah murahan atau merendahkan kaum perempuan. Islam menerapkan sebuah sistem sosial komprehensif yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, termasuk cara berpakaian yang sederhana, pemisahan antara laki-laki dan perempuan, dan larangan terhadap hubungan di luar nikah – dimana semuanya mengarahkan pemenuhan hasrat seksual hanya pada kehidupan pernikahan, yang akan melindungi kaum perempuan dan masyarakat. Semua ini diterapkan di bawah payung sistem Khilafah yang mengharuskan sebuah sistem pengadilan yang efisien yang mampu menangani kejahatan dengan cepat, sebagaimana juga menerapkan hukuman yang berat seperti hukuman cambuk untuk fitnah terhadap kaum perempuanatau bahkan hukuman mati bagi pelanggaran atas martabat perempuan. Ini adalah negara dimana setiap perkataan atau tindakan tidak terhormat terhadap kaum perempuan akan dianggap sebagai kriminal dan tidak bisa ditoleransi, dan ini adalah negara yang akan menciptakan sebuah masyarakat yang aman bagi mereka yang belajar, bekerja, bepergian dan berkehidupan. Kami kemudian menyeru kaum perempuan di dunia Islam untuk merangkul Khilafah sebagai sistem yang mengandung prinsip-prinsip yang kredibel, kebijakan dan hukum-hukum yang melindungi martabat dan kesejahteraan mereka.”
Dr. Nazreen Nawaz
Member of the Central Media Office
of Hizb ut Tahrir

Hizbut Tahrir Lakukan Kampanye Luas Melawan Pemerintah Bengali Dan Negara India

Hizbut Tahrir Lakukan Kampanye Luas Melawan Pemerintah Bengali Dan Negara India

 
Surat kabar “The Independent” mempublikasikan sebuah berita yang mengatakan bahwa Hizbut Tahrir, yang disebutnya sebagai organisasi terlarang di Bangladesh membanjiri kota “Chittagong” termasuk di dalamnya wilayah “port city, kota plabuhan” dengan poster-poster anti-pemerintah Bengali dan negara India.
Surat kabar itu menambahkan bahwa Hizbut Tahrir melalui poster-poster yang membanjiri kota “Chittagong” ini juga memperkuat keberadaan akitivitas Hizbut Tahrir di kota ini.
Surat kabar menegaskan berdasarkan laporan korespondennya bahwa para aktivis Hizbut Tahrir menempelkan poster-poster itu pada dinding, tiang listrik dan tempat-tempat lain, seperti yang terlihat baru-baru ini.
Ia menambahkan bahwa melalui poster itu Hizbut Tahrir menyeru pemerintah Partai Liga Awami untuk menyerahkan kekuasaan kepada Hizbut Tahrir, dan menuntut agar mengembalikan  India di bawah pemerintahan Islam.
Hizbut Tahrir juga menuntut untuk mengakhiri agresi India di negara itu, dan memprotes dengan keras langkah ini untuk membangun bendungan “Tipaimukh”.
Surat kabar itu mengutip dari salah satu korespondennya yang mengatakan bahwa para aktivis Hizbut Tahrir menempatkan poster-poster di berbagai tempat di “Sitakund” dua hari lalu. Sementara petugas yang bertanggung jawab di wilayah ini mengatakan bahwa dirinya tidak tahu tentang kegiatan Hizbut Tahrir. Namun, polisi akan menyelidiki masalah tersebut.
Surat kabar itu menambahkan bahwa para penyebar poster ditemukan di berbagai wilayah kota, termasuk wilayah “Muradpur”, stasiun kereta “Sholoshahor”, pasar “Chawkbazaar”, masjid “Jami’ah al-Falah”,  pasar baru dan wilayah “Mehedibag, rumah sakit “Chittagong Medical”, dan stasiun kereta api lama. Mereka menemukan poster-poster baru di semua tempat tersebut.
Surat kabar itu menambahkan bahwa menurut badan intelijen, Hizbut Tahrir merekrut sejumlah besar anggotanya dari kalangan mahasiswa Fakultas Teknik dan Teknologi di Universitas Chittagong (CU), serta dari universitas swasta di kota “port city, kota plabuhan” selama dua tahun terakhir. Mereka dibebani melakukan reorganisasi Hizbut Tahrir dan meningkatkan kegiatannya di wilayah “Chittagong” tersebut, dan daerah sekitarnya, seperti Rangamati, Bandarban, Khagrachhari dan Cox Bazar.
Surat kabar itu mengatakan bahwa para aktivis dari kalangan mahasiswa, saat ini sedang melakukan kampanye khusus melawan pemerintah dengan menempelkan sejumlah besar poster dan selebaran, baik di dalam maupun di luar universitas.
Koresponden “The Independent” menambahkan bahwa selama kunjungannya ke kampus Universitas Chittagong (CU), menemukan poster-poster besar di transportasi kereta api khusus universitas, stasiun kereta api, dan di daerah dekat gedung-gedung universitas, yang mengekspresikan sikap anti-pemerintah, serta kecaman terhadap Perdana Menteri Sheikh Hasina dan pemimpin oposisi Khaleda Zia.
Sumber: pal-tahrir.info, 22/12/2011.
Survei: Muslim India Merasa Didiskriminasi

Survei: Muslim India Merasa Didiskriminasi


Voa-Khilafah.co.cc, NEW DELHI –  Survei terbaru di India mengatakan bahwa sepertiga dari Muslim India harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Jajak pendapat ini diikuti oleh 9.500 responden, 1.197 diantaranya beragama Islam.
Survei menemukan bahwa kaum Muslim memiliki keluarga besar. Sekitar 29 persen keluarga muslim memiliki tiga atau lebih anak. Dari agama Hindu, keluarga besar hanya sekitar 17 persen, sementara itu, untuk agama lain sekitar 7 persen saja.

Empat puluh tujuh persen responden mengatakan bahwa sulit untuk bertahan hidup dengan pendapatan mereka. Dari agama Hindu, keluarga yang mengalami kesulitan keuangan sekitar  39 persen. "Kami kehilangan kelompok kelas menengah ke atas,"  kata direktur Pusat Kebudayaan India Arab di Jamia Milia Islamia, Zikrur Rahman.

Ada sekitar 140 juta Muslim hidup di negara mayoritas Hindu ini. Mereka telah lama mengeluhkan didiskriminasi dalam segala bidang kehidupan. Puluhan tahun mereka mengeluh mengalami pengabaiaan di bidang ekonomi dan sosial.

Kurang dari tujuh persen bekerja sebagai karyawan pelayanan publik. Hanya lima persen bekerja di sektor keteta api, empat persen bekerja di perbankan dan hanya ada 29.000 Muslim diantara 1,3 juta militer India.

Muslim di India juga masih berada di tingkat pendidikan yang rendah."Identitas Muslim mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Mereka sulit  mengakses sekolah yang baik bagi anak-anak mereka," mengutip hasil  studi tahun 2006 yang dipimpin oleh mantan ketua Pengadilan Tinggi Delhi, Rajindar Sacher.

Banyak contoh keluarga muslim India yang harus putus sekolah karena terpaksa harus bekerja. Taimoor Khan (22 tahun) meninggalkan sekolah pada usia 17 tahun demi membantu keluarganya bertahan hidup. Saat ini, dia bekerja di sebuah warung makanan jalanan di New Delhi setelah tiba dari Uttar Pradesh, lima tahun lalu.

"Kami tidak punya uang agar tetap bersekolah," kata Khan. Khan ragu apakah pemerintah bisa memperbaiki nasibnya. Pendapat serupa juga dimiliki oleh banyak Muslim lain. Anggapan bahwa Muslim sulit bekerja di sektor publik atau swasta membuat mereka kurang mementingkan pendidikan formal.*RoL/Voa-Khilafah.co.cc
Biarawati India Ditangkap dalam Kasus Perdagangan Anak di Panti Katolik

Biarawati India Ditangkap dalam Kasus Perdagangan Anak di Panti Katolik

Voa-Khilafah.co.cc – Seorang biarawati India ditangkap atas tuduhan melakukan perdagangan anak dari sebuah panti asuhan yang dikelola oleh Suster-suster Misionaris Cinta Kasih (MC), sebuah kongregasi yang didirikan oleh Beata Teresa.

Suster Mary Elisa MC, seorang biarawati India dibebaskan dua hari lalu dengan jaminan menyusul penangkapannya pada 25 November di Panti Asuhan Prem Niwasa di Moratuwa, sekitar 18 kilometer selatan ibukota Kolombo.

Otoritas Perlindungan Anak Nasional (NCPA) menuduh Suster Elisa melakukan perdagangan anak dan pelanggaran lain yakni mendampingi kaum perempuan yang hamil diluar nikah, yang juga dikelola oleh para biarawati itu.

Beberapa warga asing bersama dengan 75 anak, 20 wanita hamil dan 12 ibu baru tersebut diduga hadir pada saat serangan 23 November.

Suster Elisa membatah tuduhan itu, dengan mengatakan rumah yang ia kelola tidak pernah terlibat dalam perdagangan anak dan para suster tidak pernah meminta uang untuk pekerjaan mereka.

Menurut NCPA, sekalipun tuduhan perdagangan itu terbukti tidak ditemukan, rumah itu masih melanggar hukum.

“Prem Niwasa terdaftar di bawah Departemen Pengawasan dan Pengasuh Anak untuk mengelola sebagai sebuah panti asuhan, bukan untuk mengurus ibu hamil di luar nikah,” kata Anoma Dissanayake, ketua departemen itu.

Serangan dan penangkapan telah menyebabkan kemarahan di kalangan pendukung panti  itu.
Menurut pemikir Buddhis terkemuka Dr. AT Ariyaratne para biarawati itu menyediakan perawatan yang sangat baik dan melayani luar biasa kepada anak-anak.

“Para suster memberi  cinta yang total dalam mengasuh anak-anak itu,”  kata pendiri Gerakan Sarvodaya itu.

Suster Elisa akan menghadap pengadilan pada 1 Desember, demikian Suster Johannes, Provinsial Kongregasi MC di Sri Lanka. [silum/uca/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL