Tampilkan postingan dengan label JEPANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEPANG. Tampilkan semua postingan
Lebaran di Negeri Sakura

Lebaran di Negeri Sakura

October 3rd, 2008 by solihan

Jika majalah ini tiba di tangan para Pembaca, tentu semuanya tengah menikmati meriahnya suasana lebaran. Memang, Indonesia adalah negeri yang lebarannya selalu berlangsung gembira. Ada acara takbiran, ada acara saling kunjung atau temu keluarga, ada hidangan khas lebaran berupa ketupat atau lontong dengan aneka sayur atau lauk. Yang paling heboh tentu saja adalah acara mudik (menuju udik) yang membuat Pemerintah sibuk bukan main karena jutaan orang bergerak pada waktu yang hampir bersamaan dari satu kota ke kota lain. Spanduk dan poster, iklan di tivi dan radio serta sajian berbagai acara makin membuat suasana lebaran begitu terasa.

Tidak demikian halnya dengan Jepang. Tak tampak sedikit pun suasana keriangan seperti itu saat lebaran. Tidak ada lontong atau ketupat (tentu saja ya); tidak ada takbiran; tidak ada juga acara saling kunjung apalagi gelombang mudik seperti yang terjadi di Indonesia. Tidak ada itu semua. Bahkan bahwa ada puasa dan lebaran juga tidak tampak sama sekali atau malah mungkin tidak terpikir oleh mereka. Begitulah suasana yang dijumpai oleh Jubir HTI M. Ismail Yusanto ketika berkunjung ke kota Kyoto, tepat satu hari sebelum lebaran pada tahun 2006 lalu untuk menghadiri acara workshop internasional yang diselenggarakan oleh CISMOR (Center for Interdisciplinary Study of Monotheistic Religions), Doshisha University, Kyoto.

Maklum, ini negeri dengan jumlah pemeluk Islam yang sangat minim. Menurut Professor Hassan Ko Nakata (47), Presiden Asosiasi Muslim Jepang, jumlah Muslim di Jepang diperkirakan hanya sekitar 70.000. Jumlah terbesar adalah Muslim dari Indonesia, sekitar 20.000 orang. Muslim asli Jepang sendiri diperkirakan hanya 7000 orang. Anggap saja jumlah Muslim di Jepang 100.000. Itu berarti hanya kurang dari 0,1% dari total penduduk Jepang yang sekarang diperkirakan sekitar 130 juta orang. Dengan jumlah sekecil itu, tentu saja umat Islam di sana nyaris tak terdengar. “Jadi, Muslim Jepang benar-benar minoritas mutlak. Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Jepang nyaris tak terperhatikan dan diabaikan,” kata Prof Nakata kepada Jubir HTI di sela-sela acara workshop.

Tepat di hari lebaran, kami, para peserta workshop yang Muslim ditambah sejumlah warga yang beragama Islam, baik yang asli Jepang maupun para pendatang yang umumnya berwajah Arab atau India-Pakistan, melakukan shalat Id di sebuah masjid, tidak jauh dari kawasan Istana Kaisar. Jangan dibayangkan masjid itu seperti yang biasa kita lihat di Tanah Air. Tempat itu lebih tepat disebut aula kecil bawah tanah, karena memang tempatnya di ruang bawah tanah sebuah gedung. Kabarnya, untuk mendapatkan ruangan macam itu saja tidak mudah. Dewan Kota Kyoto tidak langsung begitu saja memberikan ijin. Harus ada lebih dulu persetujuan dari penghuni di kanan-kirinya. Akhirnya, ijin didapat, dengan syarat, tidak boleh ada suara bising. Karena itulah, tidak pernah terdengar ada suara azan karena memang loudspeaker tidak boleh dipasang di luar masjid. Tidak boleh juga ada keramaian sehingga begitu para jamaah keluar ruangan harus langsung pergi. Tidak boleh bergerombol di depan bangunan itu.

Meski kecil, masjid ini tampak cukup fungsional. Di samping untuk ibadah, juga dipakai untuk training atau pengajian-pengajian. Ada sebagian ruangan dipakai untuk menjual makanan halal. Maklum, di negeri musyrik seperti Jepang, tidak mudah mendapat hewan sembelihan yang halal. Nah, di masjid itu, dijual daging sapi dan ayam halal.

Begitu acara shalat Id dan khutbah selesai, dilanjutkan salam-salaman, peserta langsung bubar. Usai sudah yang disebut perayaan lebaran, yang kalau di Tanah Air masih bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu dengan aneka ragam acara.

Maju tapi Tidak Rasional

Saat Jubir HTI berada di sana, baru saja diumumkan kepada publik temuan mutakhir berupa robot resepsionis. Ini generasi robot terbaru yang bisa bertindak bagaikan resepsionis beneran. Ia bisa menjawab telepon, menyalurkannya ke nomor ekstensi yang dituju, menanyakan keperluan tamu, bahkan bisa juga tunduk menghormat jika ada tamu datang persis seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang Jepang. Pendek kata, hampir tak ada bedanya antara resepsionis manusia dan robot itu baik dari segi kemampuan maupun postur “tubuhnya”. Tidak jelas, apakah robot resepsionis itu bisa juga diajak guyon, bisa juga marah atau berkelahi.

Yang paling spektakuler adalah kloset cerdas. Ini cerita tentang kloset elektronik serba bisa yang cukup banyak dipakai oleh orang kaya di sana. Bentuk luarnya tak beda dengan kloset duduk yang ada di sini. Bedanya, banyak tombol di sana-sini, yang semuanya ditulis dengan huruf kanji khas Jepang sehingga tidak mudah buat Penulis untuk membacanya. Ternyata tombol-tombol itu untuk mengatur seluruh fungsi yang dimiliki kloset cerdas ini. Kalau Anda merasa kedinginan duduk di kloset itu, tekanlah tombol penghangat. Sesaat kemudian, kloset itu akan terasa menghangat. Mau analisis BAB (buang air besar), tekan saja tombol. Tak berapa lama akan keluar analisis kandungan tinja. Mau cebok? Tersedia dua pilihan: untuk lelaki dan perempuan.

Demikianlah, kemajuan teknologi yang dicapai oleh Jepang. Itu baru di bidang teknologi robotik, otomotif dan elektronik. Belum lagi di bidang teknologi bahan, infrastruktur, transportasi dan sebagainya. Semuanya tampak sangat menonjol. Di bidang transportasi, dengan sistem komputasi, Jepang berhasil mengatur seluruh perjalanan kereta api dengan ketepatan yang luar biasa. Jika di jadwal disebut kereta bakal datang 11.57, persis di menit itu, kereta benar datang. Padahal kereta bersilang-silangan ruwet. Di sebuah stasiun saja, jalur kereta bertumpuk empat. Dua di bawah tanah dan dua di atas.

Jika secara ekonomi sangat makmur dan secara teknologi demikian maju, masihkah masyarakat Jepang menghadapi problem? Mengejutkan, ternyata iya. Apa problem itu? Prof. Nakata menjawab pendek, “Problem terbesar adalah kenyataan bahwa secara mental orang Jepang takluk pada Barat dan menjadi budak mereka. Sayangnya, fakta ini tidak disadari.”

“Juga tingginya angka bunuh diri, sekitar 30.000 orang pertahun, akibat himpitan dan tekanan dari pola kehidupan masyarakat Jepang serta akibat tingginya tuntutan standar hidup,” tambahnya.

Kalau begitu, bisakah disimpulkan bahwa masyarakat Jepang hidup sangat makmur tapi tidak bahagia? Prof Nakata menjawab tegas, “Ya, benar. Orang Jepang hidup tidak bahagia.”

Bukan hanya secara sosial psikologis, secara spiritual orang Jepang juga bermasalah. Bukan hanya agama Islam, di Jepang semua agama menghadapi nasib yang sama. Tidak laku. Agama buat orang Jepang sudah out of mind (berada di luar semesta pemikiran). Karena itu, berdakwah kepada orang Jepang, kata Prof Nakata, bagaikan mendakwahi batu. Nyaris tak bergeming.

Meski orang Jepang tampak begitu skeptis terhadap semua agama, mereka sesungguhnya haus spiritual dan sangat doyan takhayul yang membuat mereka tampak seperti orang ’dungu’. Tengoklah apa yang terjadi setiap hari di kuil tertua di Jepang, Asakusa. Kuil ini sangat terkenal. Ia menjadi tujuan utama turis dari mancanegara yang berkunjung ke Jepang. Balai utama kuil ini didirikan tahun 645. Di depan kuil, terdapat semacam perapen besar yang berasap bakaran dupa. Burung merpati jinak bertebaran di tanah sekitar kuil. Semua pengunjung yang hendak memasuki kuil tampak mengipaskan asap ke arah tubuh dan kepalanya.

Ke sanalah orang-orang Jepang kerap datang untuk meluapkan dahaga spiritualnya. Cuma caranya aneh. Percaya atau tidak, orang Jepang yang di bidang teknologi terlihat sangat rasional, ketika sudah sampai persoalan spiritual menjadi tidak rasional. Di antaranya, di kuil itu mereka paling tidak seminggu sekali membeli kertas ramalan seharga 300 yen (Rp 25.000-an) tentang nasib mereka seminggu ini. Kertas itu lantas dimasukkan ke dalam tungku yang dibakar dengan dupa. Mereka sangat percaya pada yang terbaca di situ. Itu menjadi pegangan selama seminggu kehidupan mereka. Setelah itu, mereka lantas melanjutkan ritualnya dengan menyembah patung Budha yang berwarna kuning mengkilat tidak jauh dari tempat penjualan kertas ramalan. Sebelum menyembah, mereka mengelus-elus kepala dan paha patung Budha itu.

Terakhir, mereka melempar uang logam ke dalam tempat yang sudah disediakan di bawah patung. Setelah agak banyak, tempat itu terbuka secara otomatis dan tumpukan uang itu meluncur ke bawah. Jadi, rupanya tempat itu memang didesain untuk menampung uang “jamaah”. Lucunya, setelah uang menumpuk, sebelum terbuka, seorang gelandangan yang kelihatannya setengah gila, yang selalu menunggu di dekat patung, sudah lebih dulu mengambil uang itu. Jadi, siapa sebenarnya yang waras?

Dahaga spiritual itulah yang mungkin membuat di Jepang bertumbuhan berbagai sekte keagamaan. Kini ada lebih dari 18.000. Di antaranya yang paling terkenal adalah sekte Aum Sinkriyo yang dipimpin Otto Asahara. Sungguh aneh, sekte yang sangat tidak bermutu ini karena di antaranya mengajarkan penyerahan semua harta para pengikut dan dipimpin oleh seorang bekas tukang asongan yang gagal berbisnis, ternyata laku keras.

Kenyataan ini semestinya menyadarkan siapa saja, bahwa pembangunan yang tidak berlandaskan nilai-nilai transendental (Islam), mungkin saja memberikan keberhasilan material luar biasa seperti yang telihat di Jepang. Namun, di sisi lain, semua itu ternyata justru memurukkan mereka ke lembah penderitaan; bukan penderitaan fisik, tetapi penderitaan sosial dan spiritual yang membuat mereka menjadi kehilangan arah dalam meniti kehidupan yang fana ini. Menyedihkan. [Kantor Jubir HTI-Jakarta]

(hti/voa-khilafah.com)

โ€˜Tukang Tatoโ€™ Geng Yakuza Jepang Itu Kini Seorang Muslim

‘Tukang Tato’ Geng Yakuza Jepang Itu Kini Seorang Muslim


Voa-Khilafah.cu.cc - TAKI Takazawa. Dilihat dari namanya saja, sudah dapat diketahui bahwa ia adalah orang Jepang. Dengan ciri khas rambut gondrong dan tubuh penuh tato, membuatnya tampak mirip dengan anggota geng mafia Jepang, Yakuza. Dia memang mantan tukang tato para anggota geng paling ditakuti di Jepang itu. Dan bukan main, profesi ‘tukang tato’ itu telah ia lakoni selama 20 tahun.
Tapi pandangan negatif pada penampilan fisiknya itu berubah saat dia mengumandangkan Azan. Takazawa kini menjadi Imam sebuah masjid di Ibukota Tokyo. Setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat, Takazawa mencantumkan nama muslim Abdullah, yang berarti hamba Allah SWT.
Perkenalannya dengan Islam secara tidak sengaja terjadi di wilayah Shibuya. Takazawa melihat seseorang dengan kulit dan janggut putih. Orang itu juga mengenakan baju dan turban warna suci. “Orang itu memberikan sebuah kertas dan menyuruh saya membaca kalimat tertera bersama dia,” ujarnya seperti dilansir islamicmovement.org.
Kalimat itu ternyata Syahadat, pengakuan pada ke-esaan Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai utusannya. Meski tak paham secara keseluruhan, Takazawa pernah mendengar sepintas Allah dan Muhammad. Seperti kebanyakan penduduk Jepang, sebelumnya Takazawa menganut aliran kepercayaan Shinto.
Pertemuan dengan orang serba putih itu membekas di ingatan Takazawa. Dua tahun setelah memeluk Islam, dia bertemu lagi dengan sosok inspiratifnya itu. “Ternyata dia pernah menjadi Imam di Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. Saya bersyukur bisa bertemu dengannya,” katanya.
Imam Masjid Nabawi itu meminta Takazawa untuk menjadi Imam di masjid di wilayah Shinjuku. Sebelumnya, dia melaksanakan ibadah haji dan menimba ilmu beberapa bulan di Kota Makkah. Nama Takazawa menjadi terkenal lantaran dia menjadi satu di antara lima imam Masjid besar di Jepang. [sm/islampos/im/voa-khilafah.cu.cc]
Alayen, Bocah 10 Tahun Penghafal Al Qur'an dari Jepang

Alayen, Bocah 10 Tahun Penghafal Al Qur'an dari Jepang

Voa-Khilafah.co.cc - Banyak kisah-kisah insppiratif yang makin meningkatkan kecintaan saya pada Allah semata. Entah, mungkin rasanya di negeri minoritas musllim yang serba sulit, sulit mencari makanan halal, sulit mencari jilbab, sulit mencari buku-buku Islam, dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua kesullitan tersebut, tidak membuat kami para muslim menjadi tidak semangat dalam menuntut ilmu. Meskipun jarak dari rumah ke masjid sangat jauh, harus ditempuh puluhan kilometer dengan turun naik kereta atau bus bukanlah penghalang buat mereka yang haus akan ilmu.


Kali ini, saya akan bercerita tentang sebuah kisah yang paling menggugah hati saya, bahkan dalam hidup saya.

Anak kecil itu masih polos, masih berumur 10 tahun 10 bulan. Dia disalami banyak orang di Masjid Otsuka, kemarin sore. Anak kecil ini adalah Alayen, seorang anak yang sudah mampu menghafal seluruh isi Quran, dengan bacaan Mumtaaz. Memang anak ini bukan keturunan Jepang, melainkan keturunan Pakistan. Tapi, hampir semua orang Pakistan yang ada di Jepang tinggal selamanya di Jepang untuk berdakwah dan berbisnis.

Minggu itu adalah sebuah momentum bagi seluruh muslilm di Jepang. Momentum untuk meningkatkan kecintaan kita pada Quran. Alayen membuka mata banyak muslim agar mengikuti jejaknya untuk menghafal Quran. Kemarin sore pula, dia diberi gelar Al-Hafidz oleh Holy Quran Memorization International Organization, Saudi Arabia. Pemerintah Saudi Arabia datang langsung ke tempat kami untuk memberikan gelar tersebut kepada Alayen. Bahkan, Pemerintah Saudi Arabia pun memberikan beasiswa kepada Alayen "Full Scholarship" sampai kuliah.

Alhamdulillah, panitia memberikan kesempatan kepada orang tua dan guru hafidz Alayen untuk berbagi pengalamannya. Inilah sepenggal cerita dari Ayah Alayen yang membuat saya sadar akan pentingnya Quran. Memang kita hidup di negeri yang bukan non Muslim, tapi saya ingin mempertahankan agar anak-anak saya tetap mendapat pendidikan Islam. Saya tidak memasukkan anak-anak saya ke nihon no gakko (Sekolah Jepang). Saya biarkan anak saya hanya belajar di Masjid dan menghafal Quran, karena saya ingin dia benar-benar fokus menghafal Quran dan tidak memiliki pikiran lain selain menghafal Quran. Lalu orang-orang di sekitarku bertanya "kenapa tidak dimasukkan saja ke sekolah Jepang sambil menghafal Quran, jadi dia nanti bisa pintar keduanya?". Saya yakin pada Allah, bahwa ketika seseorang sudah bisa menghafal Quran, maka dia akan mampu menguasai semua bidang. Lalu Ayah Alayen berkata dengan bangga, "Sekarang anak saya bisa melanjutkan sekolah langsung naik kelas 5 SD melalui test di sekolah, dan kini dia bisa berbahasa 4 bahasa dengan baik, Inggris, Jepang, Arab, dan pastinya bahasa Urdu."
Sekarang mata saya terbuka, sebelum belajar apapun, manusia itu harus belajar Quran. Dan yakinlah, orang-orang yang mempelajari dan mengajar Quran akan mendapat derajat yang lebih tinggi. Semoga, kita juga bisa menjadi penghafal Quran. (islamedia/Voa-Khilafah.co.cc)
Gagasan Khilafah Sebelum Workshop Khilafah Sampai di Bumi Sakura

Gagasan Khilafah Sebelum Workshop Khilafah Sampai di Bumi Sakura

Siapa bilang ide khilafah itu ide utopis? Buktinya, gagasan ini dibicarakan secara khusus dalam sebuah workshop internasional di Jepang. Kalau tidak dapat diterapkan, tentu mereka tidak mau capek-capek mengangkat tema itu, yang notebene mungkin tidak terlalu urgen untuk konteks Jepang.
Ide  khilafah  terus  menjadi bahan  pembicaraan. Tidak hanya di kalangan Islam dan musuh-musuh Islam tapi juga di kalangan yang memiliki spirit intelektual dan rasionalitas.  Itulah  yang  terjadi  di Center for Interdisciplinary Study of Monotheistic Religions(Cismor) Doshisha  University,  Kyoto,  Jepang.  Mereka  menyelenggarakan workshop internasional dengan  tema  Islamic  World  and Globalization, Beyond the Nation State  the  Rise  of  New  Caliphate pada 12-13 Maret lalu di Universitas Doshisha.
Workshop  itu  menghadirkan  empat  pembicara  utama, yakni:  Dosen London School of Economics  Reza  Pankhurst dari Inggris; Professor di  l'ร‰cole  des Hautes  ร‰tudes  en  Sciences  Sociales;  Hamit  Bozarslan  dari Prancis; Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia  Ismail  Yusanto  dari Indonesia; dan Director the Alliance of Civilizations Institute in รstanbul Recep Senturk dari Turki.

Peluang dan Tantangan

Reza  menyatakan  bahwa membicarakan  Khilafah  berarti berbicara  mengenai  Islam  dan politik di tingkat global, sebagai suatu entitas global yang mempengaruhi  isu-isu  global.  “Ini adalah sebuah topik yang sangat provokatif   dan   panas,” lontarnya. Terlebih di tengah suasana menguatnya sentimen anti Islam di sejumlah negeri Barat.
Reza lalu mengurai khilafah dalam perspektif historis, mulai dari kemunculan Islam di Jazirah Arab,  pertumbuhan  dan  titik kemenangannya di tengah arus besar dua kekuatan Romawi dan Persia, serta masa kemunduran hingga  kejatuhannya  di  masa Khilafah Utsmani.
Selanjutnya  ia  mengungkap tentang adanya arus besar kesadaran  umat  tentang  perlunya sebuah negara global yang mampu mewujudkan persatuan umat dan membela kepentingan Islam.
Sedangkan Ismail menegaskan bahwa peluang berdirinya khilafah di Indonesia cukup besar. Peluang tersebut setidaknya ditunjukkan oleh lima hal.
Pertama, dukungan  umat Islam di Indonesia kepada Hizbut Tahrir yang semakin hari semakin besar. Dukungan ini terlihat dari hasil  berbagai  survei  tentang syariah,  khilafah,  dan  HTI  serta semakin meluasnya elemen masyarakat yang mendukung HTI.
“Hasil survei menunjukkan, perjuangan HTI yang ingin menegakkan  syariah  dan  khilafah, ternyata didukung oleh 65 persen responden, bahkan 12 persennya ingin berjuang bersama HTI!” ujarnya merujuk hasil survei SEM Institute 2010 yang menyurvei 1.220 responden secara acak di berbagai kalangan di 31 kota di Indonesia itu.
Kedua, eksistensi HTI yang semakin  besar  dan  dapat  berdakwah dengan aman di Indonesia. Ketiga, kepercayaan publik terhadap pemerintah atau negara Indonesia yang semakin merosot. Keempat, besarnya potensi  sumber  daya  manusia  dan kekayaan alam yang mencukupi untuk berdirinya khilafah.
Kelima, Indonesia mempunyai pengalaman sejarah pernah menerapkan syariah Islam dalam kekuasaan. “Sejak berdirinya Kesultanan Perlak (840 M) hingga runtuhnya  Kesultanan  Aceh (1903 M), berarti paling tidak di Aceh saja syariah Islam pernah hidup sekitar 1000 tahun,” ujarnya.
Tapi, lanjutnya, tantangan yang menghadang tegaknya Khilafah  di  Indonesia  juga  cukup besar. Secara umum tantangan tegaknya khilafah  di  Indonesia dapat  dikelompokkan  menjadi dua. Pertama, adanya penguasa yang  menjadi  agen  penjajah. Kedua,  diterapkannya  ideologi kapitalisme-sekuler.
Menghadapi tantangan ini, HTI  terus  melakukan  berbagai upaya. Selain menumbuhkan kesadaran politik (al-wa'yu al-siyasi) di tengah umat Islam, HTI terus melakukan  pertarungan  politik (al-kifah al-siyasi) untuk menentang  pengkhianatan  penguasa yang  menjadi  agen  penjajah serta melakukan adopsi kepentingan umat (tabanni mashalih al-ummah) untuk menerangkan kekeliruan kebijakan penguasa dan menjelaskan solusi alternatifnya menurut syariah Islam.
Harapannya,  umat  Islam menjadi  sadar  bahwa  musuh mereka bukanlah ide syariah atau khilafah,  melainkan  ideologi kapitalisme-sekuler yang saat ini
tengah  diterapkan  dan  makin nyata  kebobrokannya  itu.  “Dengan kesadaran itu, Insya Allah, mereka tergerak untuk berjuang bersama mewujudkan tegaknya khilafah,” harap Ismail.

Menepis Rasa Pesimis

Gagasan  khilafah  mendapat respon kritis, kalau tidak bisa disebut pesimis, dari dua pembicara lain. Recep mengakui bahwa khilafah  telah  membawa  dunia Islam berjaya di masa lalu. “Tapi usaha  mendirikan  kembali  institusi  itu  adalah  sebuah  usaha utopis mengingat kondisi dunia Islam saat ini yang sudah demikian beragam,” ujarnya.
Sementara  Hamit,  menyatakan tidak masalah kalau khilafah bisa berdiri. “Tapi apakah bisa menjamin bahwa ia bisa menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia di dunia saat ini yang sudah demikian kompleks?” tanyanya.
Menjawab kedua pertanyaan  itu,  Ismail  pun  menegaskan ada empat faktor yang menjamin tegaknya khilafah.Pertama, adanya janji Allah (wa'dullah) bahwa Allah SWT akan memberi kekuasaan  di  muka  bumi  kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Kedua, adanya kabar gembira dari Rasulullah SAW (busyra rasulillah)  bahwa  khilafah  yang mengikuti  jalan  kenabian  akan kembali lagi, setelah masa kekuasaan  diktator  (mulkan  jabariyatan) pada masa sekarang ini.
Ketiga,  adanya umat yang bangkit mendukung perjuangan penegakan khilafah, dan yang nantinya akan terus menjaga khilafah setelah berdirinya. Keempat, adanya  kelompok  yang ikhlas  berjuang,  beriman  pada janji  Allah  dan  membenarkan berita gembira Rasulullah SAW.
Adapun cara Islam merespon masalah adalah dengan mengembangkan  tradisi  ijtihad. “Ijtihad adalah tradisi ilmiah yang dimiliki kaum Muslim untuk menyelesaikan setiap permasalahan umat  sesuai  dengan  syariah Islam,” ujarnya. Sedangkan secara imani,  syariah  Islam  bersumber dari Allah SWT, Pencipta manusia dan yang  paling mengerti solusi yang paling baik bagi manusia.
Akhirnya  diskusi,  yang  dipandu oleh Prof Hassan Ko Nakata,  Pimpinan  Asosiasi  Muslim Jepang, berkembang bukan hanya pada masalah tentang mungkin tidaknya khilafah berdiri tapi juga menyangkut gagasan rinci dari  penerapan  syariah  di  berbagai  bidang  untuk  membuktikan  bahwa  khilafah  memang bisa  menyelesaikan  berbagai persoalan manusia.
Diskusi hangat pun terjadi di antara peserta yang Muslim. Sementara  mereka  yang  non Muslim, seperti kebanyakan profesor dari Doshisha University, juga dari NHK Jepang dan satu peserta dari Jerman, lebih banyak diam.
Meski demikian, Prof   Kohara,  Direktur  Cismor,  menyatakan  sangat  puas  dan  senang dengan  jalannya  diskusi.  “Ini semua akan memperkaya pengetahuan masyarakat Jepang, khususnya Cismor Doshisha University, mengenai gagasan khilafah,” ungkapnya.
Ia bahkan menyambut saran  dari  peserta  untuk  mengadakan  worskhop  lagi  tentang khilafah  tapi  dalam  perspektif perbandingan  dengan  sistem politik lain.[] joko prasetyo

Sekilas tentang Doshisha University


Doshisha University (Dรดshisha Daigaku) adalah universitas swasta Kristen di Kyoto, Jepang. Memiliki lebih dari 23.500 mahasiswa, universitas ini termasuk salah satu universitas terbesar dan paling prestisius di Jepang.

Universitas ini berawal dari sekolah bahasa Inggris Doshisha Eigakkรด yang didirikan tahun 1875 oleh Joseph Hardy Neesima, dan diubah bentuknya menjadi universitas pada tahun 1920. Universitas Doshisha adalah universitas pertama di Jepang yang menerima mahasiswa wanita pada tahun 1923.

Universitas ini dimiliki oleh Yayasan Pendidikan Doshisha yang juga mengelola berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga riset pascadoktoral. Doshisha juga memiliki Universitas Putri Doshisha (Doshisha Women's College of Liberal Arts).

Universitas Doshisha kini telah berkembang menjadi 12 fakultas, 10 sekolah pascasarjana, dua sekolah pascasarjana independen, dan dua sekolah pascasarjana profesi. Dan sejak tahun 2003 mendirikan pusat studi interdisipliner mengenai agama tauhid (Center for Interdiciplinary Study of Mono- theism Religions/Cismor).[] wikipedia/joy
sumber : Mediaumat.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL