
Lebaran di Negeri Sakura
October 3rd, 2008 by solihan
Jika majalah ini tiba di tangan para Pembaca, tentu semuanya tengah menikmati meriahnya suasana lebaran. Memang, Indonesia adalah negeri yang lebarannya selalu berlangsung gembira. Ada acara takbiran, ada acara saling kunjung atau temu keluarga, ada hidangan khas lebaran berupa ketupat atau lontong dengan aneka sayur atau lauk. Yang paling heboh tentu saja adalah acara mudik (menuju udik) yang membuat Pemerintah sibuk bukan main karena jutaan orang bergerak pada waktu yang hampir bersamaan dari satu kota ke kota lain. Spanduk dan poster, iklan di tivi dan radio serta sajian berbagai acara makin membuat suasana lebaran begitu terasa.
Tidak demikian halnya dengan Jepang. Tak tampak sedikit pun suasana keriangan seperti itu saat lebaran. Tidak ada lontong atau ketupat (tentu saja ya); tidak ada takbiran; tidak ada juga acara saling kunjung apalagi gelombang mudik seperti yang terjadi di Indonesia. Tidak ada itu semua. Bahkan bahwa ada puasa dan lebaran juga tidak tampak sama sekali atau malah mungkin tidak terpikir oleh mereka. Begitulah suasana yang dijumpai oleh Jubir HTI M. Ismail Yusanto ketika berkunjung ke kota Kyoto, tepat satu hari sebelum lebaran pada tahun 2006 lalu untuk menghadiri acara workshop internasional yang diselenggarakan oleh CISMOR (Center for Interdisciplinary Study of Monotheistic Religions), Doshisha University, Kyoto.
Maklum, ini negeri dengan jumlah pemeluk Islam yang sangat minim. Menurut Professor Hassan Ko Nakata (47), Presiden Asosiasi Muslim Jepang, jumlah Muslim di Jepang diperkirakan hanya sekitar 70.000. Jumlah terbesar adalah Muslim dari Indonesia, sekitar 20.000 orang. Muslim asli Jepang sendiri diperkirakan hanya 7000 orang. Anggap saja jumlah Muslim di Jepang 100.000. Itu berarti hanya kurang dari 0,1% dari total penduduk Jepang yang sekarang diperkirakan sekitar 130 juta orang. Dengan jumlah sekecil itu, tentu saja umat Islam di sana nyaris tak terdengar. “Jadi, Muslim Jepang benar-benar minoritas mutlak. Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Jepang nyaris tak terperhatikan dan diabaikan,” kata Prof Nakata kepada Jubir HTI di sela-sela acara workshop.
Tepat di hari lebaran, kami, para peserta workshop yang Muslim ditambah sejumlah warga yang beragama Islam, baik yang asli Jepang maupun para pendatang yang umumnya berwajah Arab atau India-Pakistan, melakukan shalat Id di sebuah masjid, tidak jauh dari kawasan Istana Kaisar. Jangan dibayangkan masjid itu seperti yang biasa kita lihat di Tanah Air. Tempat itu lebih tepat disebut aula kecil bawah tanah, karena memang tempatnya di ruang bawah tanah sebuah gedung. Kabarnya, untuk mendapatkan ruangan macam itu saja tidak mudah. Dewan Kota Kyoto tidak langsung begitu saja memberikan ijin. Harus ada lebih dulu persetujuan dari penghuni di kanan-kirinya. Akhirnya, ijin didapat, dengan syarat, tidak boleh ada suara bising. Karena itulah, tidak pernah terdengar ada suara azan karena memang loudspeaker tidak boleh dipasang di luar masjid. Tidak boleh juga ada keramaian sehingga begitu para jamaah keluar ruangan harus langsung pergi. Tidak boleh bergerombol di depan bangunan itu.
Meski kecil, masjid ini tampak cukup fungsional. Di samping untuk ibadah, juga dipakai untuk training atau pengajian-pengajian. Ada sebagian ruangan dipakai untuk menjual makanan halal. Maklum, di negeri musyrik seperti Jepang, tidak mudah mendapat hewan sembelihan yang halal. Nah, di masjid itu, dijual daging sapi dan ayam halal.
Begitu acara shalat Id dan khutbah selesai, dilanjutkan salam-salaman, peserta langsung bubar. Usai sudah yang disebut perayaan lebaran, yang kalau di Tanah Air masih bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu dengan aneka ragam acara.
Maju tapi Tidak Rasional
Saat Jubir HTI berada di sana, baru saja diumumkan kepada publik temuan mutakhir berupa robot resepsionis. Ini generasi robot terbaru yang bisa bertindak bagaikan resepsionis beneran. Ia bisa menjawab telepon, menyalurkannya ke nomor ekstensi yang dituju, menanyakan keperluan tamu, bahkan bisa juga tunduk menghormat jika ada tamu datang persis seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang Jepang. Pendek kata, hampir tak ada bedanya antara resepsionis manusia dan robot itu baik dari segi kemampuan maupun postur “tubuhnya”. Tidak jelas, apakah robot resepsionis itu bisa juga diajak guyon, bisa juga marah atau berkelahi.
Yang paling spektakuler adalah kloset cerdas. Ini cerita tentang kloset elektronik serba bisa yang cukup banyak dipakai oleh orang kaya di sana. Bentuk luarnya tak beda dengan kloset duduk yang ada di sini. Bedanya, banyak tombol di sana-sini, yang semuanya ditulis dengan huruf kanji khas Jepang sehingga tidak mudah buat Penulis untuk membacanya. Ternyata tombol-tombol itu untuk mengatur seluruh fungsi yang dimiliki kloset cerdas ini. Kalau Anda merasa kedinginan duduk di kloset itu, tekanlah tombol penghangat. Sesaat kemudian, kloset itu akan terasa menghangat. Mau analisis BAB (buang air besar), tekan saja tombol. Tak berapa lama akan keluar analisis kandungan tinja. Mau cebok? Tersedia dua pilihan: untuk lelaki dan perempuan.
Demikianlah, kemajuan teknologi yang dicapai oleh Jepang. Itu baru di bidang teknologi robotik, otomotif dan elektronik. Belum lagi di bidang teknologi bahan, infrastruktur, transportasi dan sebagainya. Semuanya tampak sangat menonjol. Di bidang transportasi, dengan sistem komputasi, Jepang berhasil mengatur seluruh perjalanan kereta api dengan ketepatan yang luar biasa. Jika di jadwal disebut kereta bakal datang 11.57, persis di menit itu, kereta benar datang. Padahal kereta bersilang-silangan ruwet. Di sebuah stasiun saja, jalur kereta bertumpuk empat. Dua di bawah tanah dan dua di atas.
Jika secara ekonomi sangat makmur dan secara teknologi demikian maju, masihkah masyarakat Jepang menghadapi problem? Mengejutkan, ternyata iya. Apa problem itu? Prof. Nakata menjawab pendek, “Problem terbesar adalah kenyataan bahwa secara mental orang Jepang takluk pada Barat dan menjadi budak mereka. Sayangnya, fakta ini tidak disadari.”
“Juga tingginya angka bunuh diri, sekitar 30.000 orang pertahun, akibat himpitan dan tekanan dari pola kehidupan masyarakat Jepang serta akibat tingginya tuntutan standar hidup,” tambahnya.
Kalau begitu, bisakah disimpulkan bahwa masyarakat Jepang hidup sangat makmur tapi tidak bahagia? Prof Nakata menjawab tegas, “Ya, benar. Orang Jepang hidup tidak bahagia.”
Bukan hanya secara sosial psikologis, secara spiritual orang Jepang juga bermasalah. Bukan hanya agama Islam, di Jepang semua agama menghadapi nasib yang sama. Tidak laku. Agama buat orang Jepang sudah out of mind (berada di luar semesta pemikiran). Karena itu, berdakwah kepada orang Jepang, kata Prof Nakata, bagaikan mendakwahi batu. Nyaris tak bergeming.
Meski orang Jepang tampak begitu skeptis terhadap semua agama, mereka sesungguhnya haus spiritual dan sangat doyan takhayul yang membuat mereka tampak seperti orang ’dungu’. Tengoklah apa yang terjadi setiap hari di kuil tertua di Jepang, Asakusa. Kuil ini sangat terkenal. Ia menjadi tujuan utama turis dari mancanegara yang berkunjung ke Jepang. Balai utama kuil ini didirikan tahun 645. Di depan kuil, terdapat semacam perapen besar yang berasap bakaran dupa. Burung merpati jinak bertebaran di tanah sekitar kuil. Semua pengunjung yang hendak memasuki kuil tampak mengipaskan asap ke arah tubuh dan kepalanya.
Ke sanalah orang-orang Jepang kerap datang untuk meluapkan dahaga spiritualnya. Cuma caranya aneh. Percaya atau tidak, orang Jepang yang di bidang teknologi terlihat sangat rasional, ketika sudah sampai persoalan spiritual menjadi tidak rasional. Di antaranya, di kuil itu mereka paling tidak seminggu sekali membeli kertas ramalan seharga 300 yen (Rp 25.000-an) tentang nasib mereka seminggu ini. Kertas itu lantas dimasukkan ke dalam tungku yang dibakar dengan dupa. Mereka sangat percaya pada yang terbaca di situ. Itu menjadi pegangan selama seminggu kehidupan mereka. Setelah itu, mereka lantas melanjutkan ritualnya dengan menyembah patung Budha yang berwarna kuning mengkilat tidak jauh dari tempat penjualan kertas ramalan. Sebelum menyembah, mereka mengelus-elus kepala dan paha patung Budha itu.
Terakhir, mereka melempar uang logam ke dalam tempat yang sudah disediakan di bawah patung. Setelah agak banyak, tempat itu terbuka secara otomatis dan tumpukan uang itu meluncur ke bawah. Jadi, rupanya tempat itu memang didesain untuk menampung uang “jamaah”. Lucunya, setelah uang menumpuk, sebelum terbuka, seorang gelandangan yang kelihatannya setengah gila, yang selalu menunggu di dekat patung, sudah lebih dulu mengambil uang itu. Jadi, siapa sebenarnya yang waras?
Dahaga spiritual itulah yang mungkin membuat di Jepang bertumbuhan berbagai sekte keagamaan. Kini ada lebih dari 18.000. Di antaranya yang paling terkenal adalah sekte Aum Sinkriyo yang dipimpin Otto Asahara. Sungguh aneh, sekte yang sangat tidak bermutu ini karena di antaranya mengajarkan penyerahan semua harta para pengikut dan dipimpin oleh seorang bekas tukang asongan yang gagal berbisnis, ternyata laku keras.
Kenyataan ini semestinya menyadarkan siapa saja, bahwa pembangunan yang tidak berlandaskan nilai-nilai transendental (Islam), mungkin saja memberikan keberhasilan material luar biasa seperti yang telihat di Jepang. Namun, di sisi lain, semua itu ternyata justru memurukkan mereka ke lembah penderitaan; bukan penderitaan fisik, tetapi penderitaan sosial dan spiritual yang membuat mereka menjadi kehilangan arah dalam meniti kehidupan yang fana ini. Menyedihkan. [Kantor Jubir HTI-Jakarta]
(hti/voa-khilafah.com)

Jubir HTI Bantah Kampanye Khilafah Dianggap Langgar Undang-Undang
Voa-Khilafah.Com - Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) membantah pernyataan Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla bila kampanye khilafah berarti menafikkan kebangsaan.
Menurut Ismail, yang juga Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Pusat, subtansi khilafah merupakan ajaran Islam. Khilafah itu menyerukan umat Islam untuk merubah negeri ke arah yang jauh lebih baik sesuai dengan ajaran syariat Islam dan bukan lagi membicarakan soal batas-batas negara.
“Batasan-batasan negara itu sesuatu yang bersifat dinamis. Dulu, kita menerima saat ada penambahan Timor Timur. Lalu bagaimana kalau ketambahan lagi dari Brunei, Malasyia dan seterusnya, pasti mau juga, “ demikian ujar Ismail kepada hidayatullah, Rabu (10/06/2015).
Pernyataan Ismail sampaikan menanggapai pernyataan dari Wapres JK yang dilontarkannya saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI Se-Indonesia Ke-5. JK mengatakan mengkampanyekan khilafah itu menafi’kan kebangsaan dan bisa disebut melanggar undang-undang serta juga membahas soal batas-batas negara kaitannya dengan khilafah. [Baca: Beginilah Khilafah Menurut Jusuf Kalla]
“Kita melihat batasan negara bersifat dinamis, bukan sesuatu yang tidak bisa berubah atau bersifat stagnan. Adakalanya kondisi-kondisi sosial politik memungkinkan juga terjadinya sebuah perubahan,” papar Ismail.
Ketika dikatakan mengkampanyekan khilafah melanggar atau tidak sesuai dengan undang-undang, Ismail mengungkapkan jika dulu banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan undang-undang, seperti partai politik tidak lebih dari 3 itu tidak sesuai dengan undang-undang, memakai jilbab juga tidak sesuai dengan undang-undang, bank syariat tidak sesuai dengan undang-undang dan sebagainya.
“Tetapi oleh sebab kesadaran dan desakan dari masyarakat, sesuatu hal yang tadinya tidak sesuai dengan undang-undang kemudian disesuaikan menjadi ajaran syariat Islam melalui khilafah,” pungkas Ismail yang juga Juru Bicara (Jubir) Hizbut Tahrir Indonesia. (HidayatullahCom/Voa-Khilafah.Com)

HTI: Pengeras Suara Cukup Diatur Pengurus Masjid
VOA-KHILAFAH.COM, JAKARTA --Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto menyatakan pihaknya perlu regulasi pengeras suara mengunakan kaset CD atau MP3. “Perlu aturan saat mengeraskan suara di masjid. Hal ini tidak perlu berbentuk fatwa,” katanya.
Menurut dia, aturan itu tidak usah terlalu berlebihan. Cukup pengurus masjid mengaturnya dengan baik. “Pasalnya hal itu ditujukan untuk mensyiarkan agama islam agar memberikan suasana yang lebih khusyuk dan suasana islami,” Katanya saat dihubungi Republika, Rabu (10/6).
Dia menjelaskan, suara kaset di masjid harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Pengurus masjid bisa mengatur jadwal untuk mengeraskan suara ngaji. “Jangan sampai berlarut hingga malam, hal itu dapat mengganggu waktu istirahat atau orang yang sakit,” Katanya.
Ismail pun menghimbau seluruh pengurus masjid agar saat mengeraskan suara harus memperhatikan lingkungan sosial sekitar. Karena masyarakat memiliki waktu istirahat. (ROL/ www.voa-khilafah.com)
Tidak Benar Pemberitaan Jubir HTI Mendukung Pernyataan Jusuf Kalla Tentang Pemutaran Kaset Mengaji dan Pengeras Suara Masjid
Voa-Khilafah.com – Jikalau sebelumnya media SEPILIS (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) dan para pendengki dakwah syariah & khilafah memfitnah HTI bahwasanya mendukung Jokowi sebagai calon presiden, kini mereka kembali berulah dengan menyebarkan berita bohong bahwasanya “Pernyataan Wakil Presiden, Jusuf Kalla tentang pemutaran kaset mengaji dan pengeras suara masjid mengganggu mendapatkan dukungan dari organisasi Islam Hizbut Tahrir Indonesia. Melalui juru bicaranya, Ust. Muhammad Ismail Yusanto”.
Inilah ulah orang-orang SEPILIS dan para pendengki dakwah penerapan syariah Islam di Indonesia yang tidak mendahulukan tabayyun sebelum menyebarkan informasi yang salah. Berikut hasil tabayyun/klarifikasi salah seorang syabab Hizbut Tahrir via whats app kepada Juru bicara HTI Ust. Ismail Yusanto
Setelah salah seorang Syabab Hizbut Tahrir bertanya mengenai kebenaran berita tersebut, yang sebelumnya diposting melalui CNN Indonesia, kemudian di copy paste blog serambiminang.com, Juru bicara HTI Ust. Ismail Yusanto langsung menjawab dengan gaya khasnya yang singkat padat dan jelas bahwa berita tersebut “Tidak Benar“. [Ab/bisyarah/voa-khilafah.com]
Inilah Jawaban Jubir HTI terkait Syiah dan Kontroversi Buletin Al-Islam
Buletin Al-Islam edisi ke-750 yang diterbitkan pada tanggal 3 Maret 2015 memuat tulisan berjudul “Akhirnya, Pesawat-Pesawat Para Penguasa Agen Bergerak. Namun, Kemana? Mereka Bergerak Untuk Membunuh Kaum Muslimin Bukan untuk Memerangi Musuh!”.
Tak ayal, buletin mingguan tersebut menuai pro-kontra hingga muncullah kecaman-kecaman terhadap HTI, baik di media-media social maupun di forum-forum diskusi.

Menanggapi fenomena tersebut, Kiblat.net berusaha mencari klarifikasi hingga pada akhirnya berhasil melakukan wawancara kepada Juru Bicara HTI Ismail Yusanto di sela-sela kegiatan Halaqoh Islam dan Peradaban yang digelar di Gedung Asrama haji Yogyakarta pada Sabtu, (11/4/2015).
Berikut hasil wawancara kiblat.net dalam kesempatan tersebut:
Kiblat.net: Ustadz, sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini HTI menerbitkan buletin yang memuat opini tentang konflik di Yaman dimana hal itu menuai kontroversi baik di media sosial maupun di forum-forum diskusi. Bisakah Ustadz memberikan klarifikasi atas masalah tersebut?
Jubir HTI: Pertama, saya kira kita harus menegaskan pendirian kita bahwa musuh kita itu adalah orang-orang kafir yang memerangi umat Islam, yang menghalangi tegaknya syari’ah, khilafah, yang dia menimbulkan dharar (bahaya), kezaliman kepada umat Islam yang merebut wilayah umat Islam, yang menjajah, yang kemudian menimbulkan kesengsaraan berkepanjangan terhadap umat Islam.
Nah apa wujudnya? Kalau kita lihat di timur tengah maka jelas sekali, di sana ada Israel, Bashar Assad (rezim Suriah), lebih luas lagi ada Amerika, Rusia. Dan berulang kali umat Islam di sana (kaum muslimin di Gaza, Suriah) berteriak minta tolong kepada penguasa-penguasa negeri umat Islam untuk mengambil tindakan dan itu tidak pernah dilakukan. Nah sekarang begitu terjadi pergolakan politik di Yaman, baru mereka turun. Itulah yang sebenarnya kita persoalkan. Kenapa bukan kepada Amerika, Israel, Rusia, Bashar Ashad?
Kiblat.net: Kalau mengenai Syiah bagaimana Ustad?
Jubir HTI: Syiah itu, kita musti melihat aqidahnya mereka itu secara rinci. Bashar Assad itu kan sering orang bilang syiah alawiyah. Isu tadi dengan tegas mengatakan bahwa Bashar Assad itu kafir. Bahkan di mesjid-mesjid itu ditulis la ilaha illa Bashar. Yang menganggap Ali adalah tuhan, (maka ia) kafir. Yang menganggap Al Quran itu belum genap turun itu (maka ia) kafir. Jadi jelas sekali.
Sementara Syiah yang aqidahnya ini sama dengan kita, bahkan diakui di Al-Ahzar Mesir sebagai madzhab yang ke lima, maka kita harus proporsional. Karena itulah yang diingatkan oleh Hizbut Tahrir bahwa kita itu jangan sampai mengikuti gendang musuh-musuh Islam mempertentangkan Sunni dan Syiah sementara melupakan musuh yang sebenarnya. Bahwa Syiah itu sekarang menjadi ancaman memang Iya, khususnya Syiah Rafidhah, Syiah ghulat itu jelas sekali.
Kiblat.net: Kalau tadi Ustad bilang Syiah ini ada yang kafir dan ada yang masih muslim, bagaimana dengan Syiah Hautsi Ustad?
Jubir HTI: Itu (Syiah) Zaidiyah mereka. Sama seperti Presiden Ali juga Zaidiyah dia.
Kiblat.net: Kalau yang di Iran?
Jubir HTI: Di Iran macam-macam dia, ada yang Itsna Asariyah (Imam Duabelas), Ja’fariyah, Zaidiyah.
Kiblat.net: Akan tetapi, kalau di Yaman ini persoalannya kelompok Syiah sudah melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah, bagaimana Ustadz?
Jubir HTI: Itu sama seperti halnya mereka menguasai pemerintahan di Iraq, di Suriah, di Lebanon.
Kiblat.net: Ada juga di sebuah website HTI itu ada artikel berjudul “Sunni dan Syi’ah Bersatu dalam Naungan Khilafah” itu bagaimana Ustadz?
Jubir HTI : Khilafah itu jangankan Syiah ya, bahkan orang-orang nasrani zahudi pun bisa hidup dalam sistem khilafah. Itulah sebenarnya kerahmatan Islam yang dimaksud. Terlepas dari kesesatan masing-masing, mereka tunduk dalam naungan khilafah.
Kiblat.net: Banyak pihak yang menyebutkan bahwa Syiah Hautsi ini ada dukungan dari Iran bagaimana Ustadz?
Jubir HTI : Pasti, sama halnya dengan Bashar Assad, Nuri Al-Maliki, Lebanon, dapat dukungan dari Iran. Iran itu mendukung semua rezim Syiah.
Kiblat.net: Menurut Ustad itu ancaman atau bukan?
Jubir HTI : Jelas ancaman, siapa bilang bukan ancaman. Itu sama aja dengan rezim yang mempertahankan despotisme yang tak acuh terhadap musuh sesungguhnya. Itu ancaman.
Kiblat.net: Berarti menurut HTI, Syiah Hautsi ini ancaman, akan tetapi langkah HTI lebih kepada mengutamakan prioritas yang lain. Apakah seperti itu Ustadz?
Jubir HTI : Persis. Nah inilah yang disalahpahami seolah Hizbut Tahrir tidak mengerti duduk permasalahanya di Yaman. Anggota Hisbut Tahrir juga ada yang ditangkap sama Hautsi. Apalagi langsung dituduh bahwa Hizbut Tahrir (itu) Syiah. Hizbut Tahrir itu Sunni. Hizbut Tahrir juga telah memberikan kritik yang tajam kepada syiah, anda bisa baca di kitab Sakhsiyah Jilid 2 itu.
Hadist Ghadir Khum itu nggak ada urusannya dengan khilafah. Penunjukan Ali dalam hadist itu maknanya sebagai pemimpin keluarga, karena Ali termasuk ahlul bait. Salah betul kalau HTI itu dikatakan Syiah, diintervensi syiah, kesusupan Syiah.
Kiblat.net: Terakhir mungkin ustadz ingin menyampaikan statmen.
Jubir HTI : Jadi mustilah hati-hati kita ini menyikapi keadaan, termasuk menyikapi sesama muslim. Persoalan umat ini sudah demikian banyak, demikian besar, jadi kita harus fokus terhadap penegakan syariah dan khilafah, karena itu merupakan pangkal dari segala persoalan ini muncul.[tribunislam/voa-khilafah.com]
Sumber : kiblat.net

