Tampilkan postingan dengan label KERUSUHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KERUSUHAN. Tampilkan semua postingan

Bentrokan Terjadi Setelah Komunis Cina Bongkar Masjid di Ningxia Hui


voa-khilafah.co.cc - Pasukan polisi bersenjata di barat laut Cina dilaporkan bentrok dengan ratusan Muslim setelah menghancurkan sebuah masjid.
Menurut Pusat Informasi untuk Hak Asasi Manusia dan Demokrasi (ICHRD), polisi menghancurkan masjid yang baru direnovasi yang awalnya dibangun pada 1987 di Daerah Otonomi Ningxia Hui setelah mengklaim masjid itu dibangun secara ilegal.
Seorang saksi mata lokal mengatakan sekitar seratus pengunjuk rasa telah hilang, sementara puluhan orang lainnya juga telah terluka.
Polisi menggunakan gas air mata, tongkat, dan pisau menyerang demonstran etnis Hui Muslim di desa Taoshan, desa Hexi. Polisi Hexi menyangkal laporan sebelumnya yang mengindikasikan bahwa dua orang juga tewas dalam kerusuhan tersebut.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Hong Kong menambahkan bahwa Muslim dari Ningxia dan provinsi tetangga Gansu telah menyumbangkan uang untuk membangun masjid itu.
Etnis Hui sendiri adalah salah satu dari beberapa kelompok minoritas Muslim di Cina. (fq/prtv/gm/voa-khilafah.co.cc)

Terkuak, Korban Tragedi Bima Ditembak Peluru Tajam


Voa-Khilafah.co.cc - Penyebab tewasnya dua korban tragedi Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, terkuak. Hasil otopsi terhadap jenazah Arif Rachman dan Syaiful di Rumah Sakit Umum Bima menunjukkan makin kuatnya bukti yang mengarah pada penggunaan peluru tajam oleh polisi dalam membubarkan blokade masyarakat atas pelabuhan.
Dokter Sucipto, yang ikut melakukan otopsi, menyatakan pada tubuh dua korban tersebut terdapat dua lubang luka yang tembus dari satu sisi tubuh ke sisi yang lain. Pada Sabtu lalu, Kepala Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah ini mengatakan tim dokter menemukan, “Ada serpihan peluru kecil-kecil (di tubuh korban).”
Arif Rachman dan Syaiful adalah dua korban tewas pada tragedi Sabtu, 24 Desember lalu. Mereka penduduk Lambu yang menduduki Pelabuhan Sape sejak Senin, 19 Desember lalu. Polisi membubarkan paksa aksi mereka. Selain dua orang itu, korban tewas lainnya adalah Arifuddin Arrahman, yang meninggal sehari setelah kejadian.
Sucipto bersama dokter Haris, yang juga melakukan otopsi, mengatakan otopsi dilakukan bersama dokter dari Kepolisian Daerah NTB dan Universitas Mataram. Menurut Haris, pada tubuh Syaiful ditemukan dua luka tembak. “Di iga kiri belakang dan dada kanan,” katanya. Sucipto menambahkan, luka di iga belakang lebih kecil dibanding luka di dada. Artinya, peluru masuk dari iga, kena limpa, jantung, paru, dan tembus ke dada. “Biasanya luka peluru masuk lebih kecil dibanding luka peluru keluar,” ujarnya.
Pada tubuh Arif Rachman ditemukan empat lubang: di dada kanan, bawah ketiak tangan kiri, lengan kiri dalam, dan lengan kiri luar. “Peluru kena jantung, tembus ke bawah ketiak, lalu ke tangan,” ucapnya. Tak ditemukan bekas luka seperti terbakar. “Artinya, itu jarak jauh. Kalau jarak dekat, biasanya ada bekas luka seperti terbakar, dan sisa bubuk mesiu di bagian luar luka,” katanya.
Dugaan digunakannya peluru tajam diperkuat pada luka Awaludin dan Syabudin, yang kini dirawat di Rumah Sakit Mataram. Mereka terkena tembakan pada lutut. Luka Awaludin di lutut kanan, sedangkan Syahbudin di lutut kiri. “Dua-duanya tembus. Semua perdarahan aktif,” ujar Sucipto. Berdasarkan analisis dua dokter tersebut, luka tembus seperti itu tak mungkin akibat tembakan peluru karet. “Peluru karet tak mungkin tembus tulang, bahkan dari jarak dekat pun,” ucapnya.
Kepala Divisi Humas Markas Besar Kepolisian RI Saud Usman Nasution menyatakan kepolisian terus mendalami hasil otopsi. “Kami terus lacak setiap temuan di tubuh korban dan di lapangan,” katanya ketika dihubungi kemarin. Menurut Saud, polisi belum membuat kesimpulan apa pun. (tempo/hti/voa-khilafah.co.cc)

HTI: Rusuh Bima Akibat Persekongkolan Pemerintah Dengan Pengusaha Serakah


Voa-Khilafah.co.cc - Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto menegaskan macetnya saluran aspirasi merupakan penyebab rakyat memblokade Pelabuhan Sape, Bima.

Blokade yang dianggap mengganggu ketertiban umum hingga berbuah bentrok berdarah dengan polisi itu, menurut Ismail merupakan jalan satu-satunya yang dilihat rakyat agar aspirasinya didengar.

“Rakyat melihat inilah satu-satunya cara untuk menarik perhatian para pemimpinnya karena segala cara sudah mereka tempuh untuk menyampaikan aspirasinya, mulai dari datang ke DPRD, datang ke bupati, tetapi aspirasi mereka tidak digubris,” ujarnya kepada mediaumat.com, Senin (26/12) malam di Jakarta.

Sedangkan aspirasi tersebut sangat terkait erat dengan mata pencaharian rakyat, yaitu dengan menjadi usaha penambangan emas rakyat. Namun setelah keluarnya SK Bupati terkait usaha penambangan perusahaan tertentu di sana, penambang rakyat itu dianggap ilegal.

“SK Bupati yang menganggap penambangan rakyat sebagai perbuatan ilegal itulah yang memicu rakyat menuntut bupati mencabut SK tersebut,” tegas Ismail.

Buah Demokrasi Liberal

Menurut Ismail penyebab terbitnya SK yang merugikan rakyat seperti kasus di atas memang sudah lumrah dilakukan para bupati untuk mendapatkan uang atau pun saham dari pengusaha baik lokal maupun asing.

“Sudah jamak diketahui pemberian izin apalagi izin pertambangan itu dibelakangnya ada timbal balik, baik fee langsung atau pun pembagian saham terhadap pejabat di daerah itu khususnya bupati,” ungkapnya.

Di situlah maka ada kecenderungan mengapa daerah tingkat dua khususnya bupati jor-joran memberikan izin untuk pengusaha termasuk pengusaha pertambangan.

“Bupati melakukan itu karena membutuhkan uang yang banyak baik untuk mengembalikan biaya saat kampanye meraih kekuasaannya atau pun sebagai biaya untuk memperpanjang kekuasaan pada periode berikutnya,” tuding Ismail.

Menurut Ismail, para pejabat memiliki kultur buruk seperti itu lantaran diterapkannya sistem demokrasi liberal yang meniscayakaan kuasa uang menjadi sangat dominan dalam proses-proses politik.

“Khususnya dalam meraih jabatan sebagai kepala daerah di mana pun disetiap level, baik dari bupati/walikota, gubernur bahkan sampai presiden,” pungkasnya.[hti/voa-khilafah.co.cc] joko prasetyo
Mengapa oh Mengapa, Polisi Tak Bisa Ungkap Bom 'Salibis' Ambon?

Mengapa oh Mengapa, Polisi Tak Bisa Ungkap Bom 'Salibis' Ambon?

Meskipun Polisi begitu bangga dengan prestasi penangkapan terhadap Hairudin alias Dino sebulan lalu, ternyata tidak mengungkap sedikitpun akan kasus teror bom di kota Ambon. Ketika itu Dino tertangkap tangan membawa bom rakitan hanyalah seorang preman pasar yang sering melakukan pencurian. Dino membawa bom bukan untuk diledakkan tapi hanya untuk menakut-nakuti orang.
Sekian banyak teror bom yang terjadi di kota Ambon seakan memperkuat dugaan bahwa Ambon tengah dilanda konflik atau kerusuhan.
Mengapa polisi yang biasanya sigap dan cepat menangani teror bom di tempat lain, terutama di Jawa, tapi tumpul dan seakan tak mampu mengungkap teror bom di kota Ambon?

Sebagai contoh, ketika terjadi pengeboman di depan gereja Kepunton Solo, hanya dalam hitungan jam polisi telah mengetahui pelaku dan jaringannya.

Namun kenapa ketika terjadi pengeboman di kota Ambon Polisi tidak bisa mengungkap apapun dari peristiwa tersebut. Polisi tidak pernah mengungkap siapa pelaku dan jaringannya, apa motif dan tujuannya? Padahal kota Ambon relatif sangat kecil dan untuk keluar dari kota Ambon hanya ada satu jalan raya utama. Hanya dibutuhkan waktu 30 menit untuk berkeliling kota Ambon dengan mengendarai sepeda motor.

Inilah rangkaian teror bom yang terjadi dalam empat bulan terakhir yang sampai sekarang belum mampu diungkap oleh polisi:
1. Bom dan senjata api yang di pakai para perusuh Salibis untuk menyerang warga Muslim di Kampung Warigin dalam tragedi 11/9. Dalam insiden berdarah tanggal 9 Septerber tersebut, tatusan rumah terbakar, delapan orang Muslim tewas di antaranya terkena bom, dan ratusan warga menderita luka tembakan peluru tajam. Sampai sekarang polisi belum mengungkap apalagi menetapkan para perusuh Salibis tersebut sebagai teroris.
2. Tanggal 20 Oktober, sebuah bom meledak di depan hotel Josiba di jalan Tulukabessy. Bom diduga dilempar oleh pengendara sepeda motor.
3. Pada bulan November ada dua ledakan bom yang meledak di Karang Panjang dan bom yang meledak di jalan Philips Latrumahina Paradais. Kedua bom tersebut sampai sekarang belum terungkap siapa pelakunya?
4. Ledakan bom di bulan Desember ini, yaitu dua bom yang meledak di Air Mata Cina (Amaci) pada peristiwa penyerangan Salibis di perkampungan Muslim tanggal 13 Desember. Dalam penyerangan tersebut perusuh salibis melemparkan dua buah bom ke arah permukiman muslim Air Mata Cina. Akibat ledakan bom tersebut 5 orang warga muslim mengalami luka berat.
5. Ledakan bom tanggal 14 Desember yang  mengguncang kota Ambon, tepatnya di Jalan Baru pada sebuah lorong yang letaknya tidak jauh dari Gereja Silo. Bom yang meledak menjelang magrib pada pukul 18.30 WIT itu diletakkan di samping sebuah bengkel las.
6. Ledakan bom pada Senin, 19 desember pukul 20.30 WIT di wilayah yang dihuni oleh dua komunitas Islam dan Kristen di daerah Air Salobar, tepatnya di RT 06 yang warganya didominasi oleh Nasrani. Di wilayah ini, kaum muslimin hanya menempati sepertiga dari wilayah Air Salobar dengan posisi terjepit dikelilingi oleh permukiman Kristen.
Polisi yang biasanya begitu gesit, tanggap dan cepat mengungkap teror bom di tempat lain yang melibatkan tersangka aktivis Islam, mengapa sampai sekarang tak mampu mengungkap teror bom yang terjadi di Ambon? Ilmu militer apa yang belum dipelajari polisi sehingga mereka kesulitan mengungkap motif, pelaku dan jaringan teror bom di Ambon? Apakah harus ada korban massal akibat teror bom, supaya polisi serius mengusut kasus-kasus teror bom di Ambon. Mengapa oh mengapa? [AF]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL