Tampilkan postingan dengan label MUSLIM ROHINGYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUSLIM ROHINGYA. Tampilkan semua postingan
Inilah Rahasia Di Balik Ketidaktegasan Pemerintah terhadap Myanmar

Inilah Rahasia Di Balik Ketidaktegasan Pemerintah terhadap Myanmar

Voa-Khilafah.com - Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengecam pemerintah negeri-negeri Muslim termasuk Indonesia yang berlindung dibalik politik non intervensi sehingga tidak mampu bersikap tegas dengan memutus semua hubungan dengan rezim bengis Myanmar.

“Kok malah prioritaskan hubungan dagang dengan Myanmar ketimbang lindungi Muslim Rohingya? Ini menegaskan pemerintah lebih prioritaskan melindungi kepentingan ekonominya dibanding melindungi kehidupan dan martabat manusia,” ujar Juru Bicara Muslimah HTI Iffah Ainur Rochmah saat konferensi pers, Jum’at (26/6) di Kantor DPP HTI, Crown Palace, Jakarta.

Menurut Iffah, politik non intervensi merupakan konsekuensi dari penerapan sistem kufur nasionalisme. “Sistem yang membelenggu tersebut membatasi bantuan terhadap saudara sesama Muslim sebatas bantuan kemanusiaan tanpa komitmen untuk melindungi, memberikan suaka dan kehidupan yang bermartabat selayaknya sebagai warga negara bagi mereka yang melarikan diri dari penganiayaan,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Iffah, umat Islam di seluruh dunia adalah umat yang satu (ummatan wahidatan) yang harus bersatu dan tidak terpisah-pisah oleh jarak dan garis batas negara bangsa.

“Karena itu masalah dan penderitaan Muslim Rohingya sesugguhnya adalah masalah seluruh Muslim dan merupakan kewajiban seluruh Muslim untuk melindungi darah dan kehormatan serta memberikan kebutuhan mereka,” ujarnya kemudian mengutip hadits, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Jadi dia seharusnya tidak menindas atau menyerahkannya kepada penindas. Dan siapa pun yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

Jadi, mereka yang kerap dijuluki “Manusia Perahu” tersebut, tegas Iffah, merupakan bagian dari khairu ummah (umat terbaik/kaum Muslimin) yang sedang terombang-ambing di lautan tanpa negara.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 50 guru, dosen, mubalighah, mahasiswa, birokrat dan tokoh masyarakat lainnya, Iffah juga menolak keyakinan bahwa masyarakat internasional akan dapat membantu mengatasi krisis ini.

Dengan tegas Iffah menyatakan ASEAN tidak akan mampu mengakhiri krisis Rohingya karena organisasi ini lebih sering bertindak sebagai alat kekuasaan pemerintah kolonial Barat untuk melanjutkan ambisi ekonomi mereka di kawasan ini. PBB juga terbukti telah gagal untuk melindungi kehidupan kaum Muslimin tertindas di Suriah, Palestina, Afrika Tengah dan tempat lain.

“Oleh karena itu, masyarakat internasional tidak bisa diharapkan untuk menghentikan penganiayaan, pertumpahan darah, dan penderitaan yang mengerikan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar,” ujar Iffah.

Dalam kesempatan tersebut, Iffah menegaskan bahwa penegakan khilafah berdasarkan metode kenabian merupakan satu-satunya solusi yang shahih untuk mengakhiri berbagai penindasan yang dihadapi Rohingya dan Muslim lainnya di seluruh dunia.

Menurutnya, khilafah adalah negara yang mewakili kepentingan sejati dari umat Islam dan Islam karena didasarkan pada hukum Allah SWT.

“Hanya negara khilafah yang akan membuka perbatasannya untuk semua Muslim yang dianiaya; memberikan mereka perlindungan, hak, dan rumah sebagai warga negara yang sama; serta tanpa ragu memobilisasi tentaranya untuk membela dan menyelamatkan orang-orang beriman yang tertindas di mana pun mereka berada,” pungkas Iffah. [] joko prasetyo

[hizbut-tahrir.or.id/ voa-khilafah.com]

Pengungsi Rohingya: Tanpa Kewarganegaraan Sebelum dan Sesudah Mengungsi

Pengungsi Rohingya: Tanpa Kewarganegaraan Sebelum dan Sesudah Mengungsi

Voa-Khilafah.com - Pengungsi Rohingya : “Dari sebuah negara, kami tidak berkewarganegaraan, dan sebagai pengungsi, kami juga tidak berkewarganegaraan lagi”

Bagi para pengungsi dari Myanmar yang telah mencapai Malaysia, kehidupan mereka mungkin lebih baik dari marginalisasi dan penganiayaan sebelum mereka melarikan diri.

Namun bahkan di sana, kemiskinan dan pengucilan mengancam mereka dan masa depan yang suram membayangi mereka.

Kapal- kapal bermuatan migran Rohingya yang mendarat di negeri itu dengan rasa putus asa dan kelelahan bulan lalu telah bergabung dengan 75.000 Rohingya yang berhasil mencapai Malaysia setahun dan bahkan puluhan tahun sebelumnya.

Dilihat dari kesulitan yang mereka hadapi sekarang, akan sulit bagi gelombang terbaru migran untuk membangun pijakan yang aman atau untuk mencapai pemukiman kembali di tempat lain.

“Dari sebuah negara, kami telah menjadi tidak berkewarganegaraan, dan sebagai pengungsi, kami juga tidak berkewarganegaraan lagi,” kata Mohammed Noor, direktur layanan berita online yang berbasis di Kuala Lumpur, ibukota Malaysia Rohingya Vision TV.

“Kami adalah orang yang terombang ambing sekarang, mengambang di mana-mana tanpa harapan, tanpa surat-surat”

Di Malaysia, status mereka sebagai pengungsi dan migran tidak terdaftar saat mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah pemerintah, yang berarti sedikit menerima pendidikan sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

“Puluhan tahun kebijakan di Myanmar telah membuat banyak orang Rohingya buta huruf dan miskin, dan sulit untuk disingkirkan sebagai pengungsi,” kata Gerhard Hoffstaedter, seorang antropolog dari University of Queensland Australia yang mempelajari Rohingya dan kelompok pengungsi lainnya di Malaysia.

Sumber : New York Times/3/6/2015

[hizbut-tahrir.or.id / Voa-Khilafah.com]

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Buka Donasi Peduli Rohingya

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Buka Donasi Peduli Rohingya


Voa-Khilafah.com - Sungguh malang nasib saudara-saudara kita Muslim Rohingya. Sebagian mereka dibantai oleh rezim Budha Miyanmar, rumah, sekolah, masjid, dan kampung mereka dibakar. Mereka diusir  dari negeri mereka sendiri dan mengungsi ke negeri-negeri  lain seperti Bangladesh, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Namun yang menyedihkan mereka ditolak, perahu mereka dihalau dan terapung-apung di laut dalam keadaan lapar dan dahaga. Sebagian mereka berhasil ditolong dan terdampar di Aceh dan Sumatera. Inilah akibat dari ketiadaan Khilafah yang melindungi umat Islam dan yang mempersatukan umat Islam yang terpecah belah .Sungguh hanya Khilafah yang diharapkan dapat menyelamatkan kaum muslimin yang ditindas secara menyeluruh.

Untuk membantu meringankan penderitaan pengungsi Rohingya Hizbut Tahrir Indonesia membuka Donasi Peduli Rohingya. Uluran tangan anda dibutuhkan. Dengan Bantuan tersebut semoga Allah Swt meringankan mereka dan hisab kita di akhirat kelak. Amin

Salurkan Bantuan anda ke Rekening:
BSM 7002737005 an. Hizbut Tahrir Indonesia
BNI Syariah 0177325530 an Hizbut Tahrir Indonesia

Kaum Muslim Rohingya Dijadikan Komoditas Human Trafficking di Thailand

Kaum Muslim Rohingya Dijadikan Komoditas Human Trafficking di Thailand


Voa-Khilafah.tk - Pemerintah Thailand pada hari Jum’at malam (11/1) mengumumkan pembebasan hampir 700 orang Muslim Rohingya dari sekapan orang-orang yang terlibat dalam profesi perdagangan manusia (human trafficking).
Kantor berita Amerika “ABC News” mengutip dari polisi Thailand, bahwa pihak berwenang menggerebek sebuah gudang di Distrik Sadao, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan, kemarin pagi, dan menemukan 307 orang Muslim Myanmar. Sementara 397 lainnya ditemukan di dua tempat penyekapan yang berbeda. Dan pihak berwenang menangkap delapan orang yang diyakini bahwa mereka terlibat dalam perdagangan manusia (human trafficking).
Di bagian lain, kaum Muslim Rohingya yang berhasil diselamatkan menyatakan bahwa mereka datang ke Thailand dengan niat untuk pindah ke negara lain, karena untuk melarikan diri dari kekerasan dan aksi-aksi represif yang mereka hadapi di dalam kekuasaan pemerintah dan umat Buddha, namun di Thailand justru mereka disekap oleh orang-orang yang terlibat dalam perdagangan manusia (human trafficking).
Para pejabat di Thailand, seperti yang dikatakan kantor berita Rohingya, bahwa mereka akan mendeportasi kaum Muslim Rohingya ke Myanmar. Sementara beberapa organisasi menyerukan kepada pemerintah Thailand untuk tidak mendeportasi mereka ke Myanmar agar mereka tidak kembali menjadi sasaran pelanggaran dan diskriminasi sektarian di tangan umat Buddha (islammemo.cc, 12/1/2013).

Malaysia Tahan 500 Muslim Rohingya

Malaysia Tahan 500 Muslim Rohingya


Voa-Khilafah.cu.cc, KUALALUMPUR -- Kepolisian Malaysia menahan sekitar 500 Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar. Warga Rohingya ditahan setibanya di Kepulauan Langkawi sebelah barat laut Malaysia awal pekan ini.

Muslim Rohingya ditangkap setelah berlayar selama 14 hari. Malaysia merupakan salah satu tujuan utama warga Rohingya. Mereka melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.

Sedikitnya 800 ribu warga Rohingya dirampas hak-hak kewarganegaraannya karena kebijakan yang diskriminatif. Mereka rentan terhadap tindak kekerasan, penganiayaan, dan pengusiran. Sejauh ini Pemerintah Myanmar menolak memberikan status hukum pada warga Rohingya.

"Kami terpaksa melarikan diri dari Rakhine ke tempat lain, tidak ada makanan di sana, kami tidak bisa mendapatkan makanan maupun ke luar rumah, " kata pengungsi Rohingya, Salim Noorulhaq seperti dikutip PressTV, Jumat (4/1).

Rohingya ditindas di Myanmar sejak negara itu merdeka pada 1948. Pada 24 Desember 2012, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang mengungkapkan keprihatinannya atas penganiayaan umat Islam di Myanmar. Resolusi itu menyerukan agar Pemerintah Myanmar melindungi hak asasi manusia warga Muslim, termasuk hak kewarganegaraan. (RoL/Voa-Khilafah.cu.cc)


Banyak Muslim Rohingya mengungsi ke Australia demi menyelamatkan diri

Banyak Muslim Rohingya mengungsi ke Australia demi menyelamatkan diri

AUSTRALIA, Voa-Khilafah.cu.cc  - Ribuan Muslim Rohingya di Myanmar (Burma) telah melarikan diri dari tanah air mereka demi menyelamatkan diri, banyak di antara mereka mengambil resiko hingga sampai di Australia.
Sayid Kasim, seorang Muslim Rohingya yang mengungsi ke Australia, mengatakan kepada Press TV pada Senin (31/12/2012) bahwa ia pernah disiksa oleh tentara Burma.
"Militer Burma datang dan menangkap saya. Mereka membawa saya ke kamp militer. Mereka benar-benar menyiksa saya. Mereka memukuli saya," ungkap Kasim yang bisa berbicara bahasa Inggris.
Pemerintah musyrik Burma menolak Muslim Rohingya sebagai warga negara dan menganggap mereka sebagai imigran "ilegal."
Pembantaian dan penganiayan terhadap Muslim di negara bagian Arakan, Burma, memaksa ribuan Muslim melarikan diri dari tempat tinggal mereka untuk mencari tempat yang aman.
Sebagian mereka mencari perlindungan ke negara-negara tetangga seperti Bangladesh, Malaysia, Thailand, Indonesia, Singapura hingga ke Australia. Banyak dari mereka yang harus menghadapi penolakan bahkan didorong untuk pulang kembali ke Burma di mana mereka mengalami diskriminasi. Sebagian dari mereka diterima sebagai pengungsi dengan kondisi serba terbatas, namun sebagian terpaksa terombang-ambing di atas perahu karena ditolak dan tak sedikit yang harus meregang nyawa.  (arrahmah/voa-khilafah.cu.cc)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL