Tampilkan postingan dengan label PESANTREN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PESANTREN. Tampilkan semua postingan
Korban penyiksaan Brimob mengadu ke DPRD Poso

Korban penyiksaan Brimob mengadu ke DPRD Poso


POSO (Voa-Khilafah.cu.cc) - Puluhan warga Poso yang tergabung dalam Solidaritas Muslim Poso (SMP) Kamis, (03/01/2013) mendatangi DPRD Poso mendesak dewan perwakilan rakyat mengawal kasus penyiksaan yang diduga dilakukan Polisi terhadap 14 warga Poso pasca insiden penembakan anggota Brimob pada 20 Desember 2012.
Para pengurus SMP yang terdiri dari sejumlah pimpinan dan pengasuh pondok pesantren di Poso seperti Ustad Adnan Arsal, Ustad Ismail Tola serta aktivis pemuda Islam lainnya seperti Amin Adnan, Muhaimin Yunus Hadi mendampingi lima dari 14 korban kekerasan bertemu perwakilan anggota DPRD Poso.
Mereka di terima Wakil Ketua DPRD Suharto Kandar serta lima anggota DPRD Lainnya. Dalam pernyataan sikap yang disampaikan oleh pengasuh pondok pesantren Amanah, Poso Kota H. Ustad Adnan Arsal mendesak DPRD untuk membentuk panitia khusus mengawal korban kekerasan mengadu ke DPR RI, Komnas HAM serta Kompolnas untuk mendapatkan keadilan.
Tuntutan lainnya yang akan menjadi rekomendasi SMP ke pihak Kepolisian yaitu meminta kerugian materi berupa penggantian biaya pengobatan para korban kekerasan selama dalam perawatan dan non material berupa memulihkan nama baik mereka dari tuduhan terorisme.
Pihaknya juga memberikan waktu kepada Polisi untuk menindak tegas anggotanya yang melakukan melanggaran termasuk mendesak Kapolda Sulteng bertanggung jawab atas segala kekerasan yang dlakukan anggotanya.
Seperti dikutip dari obornews, Belasan korban salah tangkap dan penyiksaan itu mengatakan, permintaan maaf yang diucapkan Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo tidaklah cukup tanpa ada penegakan hukum terhadap anggota kepolisian yang menyiksa warga Poso.
SMP memberi ultimatum, jika dalam waktu  singkat Polisi tidak serius menangani kasus tersebut. Maka,  SMP akan turun ke jalan melakukan perlawanan terhadap tindak kekerasan yang di alami warga.
"Umat Muslim Poso selama ini selalu teraniaya, di zalimi, kami sudah cukup bersabar, kami  tidak ingin sejarah kekerasan terulang kembali di Poso akibat tindakan sewenang-wenang Polisi," tegas Tokoh Muslim berpengaruh di Poso tersebut seperti dilansir hidayatullah.com.
Pihaknya juga menyerahkan dokumen berisi file tindak kekerasan yang dialami 14 warga kepada DPRD yang di terima Wakil Ketua DPRD Suharto Kandar yang  berjanji akan menindaklanjuti laporan warga tersebut dan segera menggelar rapat guna membentuk panitia kerja untuk mengumpulkan semua bukti termasuk melihat kondisi masyarakat di Desa Kalora.
Usai serah terimah dokumen, salah satu korban kekerasan Saprudin dengan wajah yang masih memar dan kaki sulit digerakan itu mengaku, hingga kini dirinya masih mengalami trauma dan cacat fisik berupa luka bagian dalam luar dan dalam tubuh. Untuk melakukan pemuliahan, dirinya dan beberapa korban lainnya di rawat di klinik rumah sehat yang berada dalam Yayasan Ulil Albab binaan pesantren Amana milik H. Ustad Adnan Arsal.
Ia mengaku sempat mejalani perawatan di Rumah Sakit Umum Poso. Namun karena biaya berobat yang mahal akhirnya para korban memilih di rawat di rumah dan klinik rumah sehat.
Bapak yang juga guru SLTPN I Desa Kalora itu mengisahkan, pada Kamis 20 Desember 2012 atau bertepatan dengan insinden penembakan di Desa Kalora yang menewaskan 4 anggota Brimob oleh kelompok tak dikenal, dirinya di datangi sejumlah aparat Brimob.

"Waktu itu saya pulang mengajar dan usai sholat dzuhur di masjid, saat masuk rumah, datang belasan anggota Brimob langsung menodong saya dengan pistol dan menyeretnya ke dalam mobil, selama di dalam mobil saya mulai di pukuli sampai di pos Brimob Desa Kalora terus tangan saya di borgol, mata di tutup lakban dan terus di tendang, dipukuli bagian muka, saya tidak di beri kesempatan bicara," katanya.
Dirinya mengaku baru sadar setelah di bawah ke Mapolres Poso dengan kondisi sekujur tubuh penuh lebam dan luka-luka. Selama tiga hari dalam tahanan Ia terus dalam kondisi kaki dan tangan terkat serta mata tertutup lakban, setiap anggota yang datang memeriksa selalu melayangkan pukulan di bagian tubuh. Dalam kondisi seperti itu, Ia tidak tahu lagi siapa anggota Brimob dan polisi yang menyiksanya. (bilal/hid/arrahmah/voa-khilafah.cu.cc)

Keajaiban Kupang 1998: Misteri Lelaki Berjubah Putih Menunggang Kuda


Kupang (voa-khilafah.co.cc) – Tidak ada media massa yang memberitakan keanehan yang terjadi pada saat peristiwa Kerusuhan Kupang 1998 yang lalu. Di tiga tempat yang berbeda, ketika kaum Muslimin yang minoritas itu dikepung oleh kaum Salibis, banyak mata yang menjadi saksi, saat melihat dari arah ketinggian, nampak lelaki berjubah putih yang sedang menunggang kuda dalam jumlah yang banyak. Subhanallah, tentara Allah betul-betul turun di Kupang ketika umat Islam dalam keadaan terjepit.

Seorang pemuda di Airmata, sebuah pemukiman Muslim di Kupang, menceritakan, tak sedikit masyarakat Kristen yang menyaksikan dari atas bukit. Mereka seolah-olah melihat, ada banyak kerumunan massa di Airmata. Percaya atau tidak, orang kafir itu melihat lelaki berjubah putih dan bersurban sedang menunggang kuda dalam jumlah yang besar. Lalu bergetarlah hati Masyarakat Kristen yang saat itu hendak menyerang kampung Muslim.

Rupanya keanehan itu tidak hanya terjadi Kampung Airmata, melainkan juga di Kampung Solor, sebuah pemukiman muslim di Kota Kupang. Kali ini orang kafir melihat anak-anak berjubah putih dalam jumlah yang besar seraya memegang kayu yang diayun-ayunkan. Maka bergetarlah hati kaum salibis yang ketika itu hendak membakar Kampung Solor.

Ketika voa-islam bersilaturahim ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Batakte, Kupang Barat, pimpinan pesantren tersebut juga menceritakan hal yang sama. Banyak mata yang menjadi saksi, yang saat itu melihat ada banyak anak kecil berjubah putih seraya memegang senjata tajam.

“Ketika itu pesantren didatangi kelompok massa Kristen sebanyak dua truk dengan menggunakan ikat kepala merah. Mereka bukan hanya memblokade jalan di Batakte, tapi juga bermaksud untuk membakar masjid di kompleks Hidayatullah. Alhamdulillah, Allah melindungi kami di sini. Kami ingat, santri yang hendak melalui blokade itu harus menyanyikan lagu-lagu Yesus atau gereja. Dengan terpaksa, santri itu menuruti kemauan mereka,” kenang Ustadz Usman Mamang, pimpinan Pesantren Hidayatullah Kupang, NTT.
Peristiwa Kupang 1998
Tanpa bermaksud membuka luka lama, perlu kiranya mengetahui latar belakang kejadian dan peristiwa kerusuhan Kupang tahun 1998. Bermula, dari acara perkabungan dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa Kristiani di Kupang yang tergabung dalam panitia Gemakristi sehubungan dengan peristiwa Ketapang Jakarta, berkembang menjadi aksi penutupan jalan raya.

Di sejumlah titik perkabungan di jalan-jalan dibangun blokade. Warga menyekat jalan antara lain dengan peti mati, salib berukuran besar, serta gambar Kristus bermahkota duri. Ini antara lain dapat disaksikan di depan Gereja Kota Kupang, dan beberapa lokasi di Jalan Soedirman, Kuanino.

Perkabungan ini berlangsung selama 24 jam, mulai Senin pukul 06.00 Wita. Perkabungan rencananya akan ditutup dengan kebaktian Oekumene, Selasa pagi di GOR Oepoi, Kupang. Upacara perkabungan diteruskan dengan pawai besar-besaran mengitari beberapa ruas jalan di Kota Kupang seperti Jalan Ahmad Yani-Merdeka, Urip Sumoharjo, Moh Hatta dan Sudirman Kuanino dan berbelok ke Jalan Pemuda-Jalan Cak Doko dan Jalan Lalamentik menuju ke Oebufu.Ketika itu semua kantor, pertokoan, dan pasar tutup. Kota Kupang sejak pagi Nampak lengang.

Kebanyakan warga kota dan daerah sekitarnya ambil bagian dalam aksi Gemakristi (Gerakan Perkabungan Umat Kristiani) sebagai wujud rasa solidaritas atas berbagai peristiwa, termasuk peristiwa Ketapang pekan lalu. Semua kendaraan angkutan penumpang dan barang dalam dan luar kota, berhenti beroperasi. Kantor pemerintah dan swasta, sekolah, pertokoan dan kios, tutup. Begitu juga pasar rakyat praktis lengang tanpa pengunjung.

Suasana berubah menjadi rusuh karena adanya sekelompok massa yang menyusup kedalam acara tersebut, telah memicu massa melakukan aksi pelemparan rumah ibadah/masjid dan pengrusakan terhadap beberapa rumah dan kantor serta tindak kerusuhan lainnya.

Kronologisnya, menurut data dari Departemen Pertahanan RI, tanggal 30 November 1998 pagi hari di kota Kupang dilaksanakan acara perkabungan nasional yang diawali dengan kegiatan membagi bunga di jalan-jalan protokol kepada setiap orang yang lewat kemudian berkembang menjadi penutupan/pemblokiran jalan-jalan raya.
Pukul 10.00 WITA tanggal 30 November 1998 suasana menjadi rusuh karena ada sekelompok massa dari luar kota menyusup kedalam acara tersebut. Saat melewati ruas jalan Oebufu, massa mulai melempari beberapa rumah, kios serta toko. Massa terus bergerak ke arah Jalan El Tari II menuju ke Penfui dan kembali memutar ke arah Oesapa.

Saat memasuki Jalan Adi Sucipto di kawasan Oesapa, beberapa rumah pengusaha yang berada di simpang tiga menjadi sasaran pelemparan sehingga kaca di bangunan itu berantakan. Hal yang sama juga terjadi di sekitar wilayah Oesapa Kecil. Beberapa kios dan bangunan serta sebuah sedan kacanya remuk dilempari batu.

Sekitar pukul 11.15 Wita, massa yang sudah tidak terkendali kembali lagi ke kota Kupang dan memasuki kawasan Kelurahan Solor. Di daerah ini juga terjadi saling lempar antara massa yang konvoi dengan warga setempat. Massa Kristen bahkan  melakukan aksi pelemparan Masjid Al Fatah di kelurahan Solor serta Masjid Raya di kelurahan Fontein. Aksi tersebut terhenti sementara karena turun hujan, namun kemudian berlanjut kembali dengan sasaran pengrusakan dan pembakaran terhadap rumah ibadah, rumah tinggal dan fasilitas umum.

Pada pukul 13.10 WITA tanggal 1 Desember 1998 massa melakukan pengrusakan terhadap kantor Hutan Tanaman Industri Kupang.Pihak aparat kemudian melakukan langkah-langkah untuk melokalisir peristiwa agar tidak meluas, mengadakan dialog dan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menyelesaikan masalah.

Setelah terjadi aksi saling melempar di depan sebuah masjid, berita menyebar dengan cepat. Akibatnya ratusan pemuda dari berbagai penjuru berdatangan dan membalas provokasi, dan terjadilah saling lempar dengan warga di belakang kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.

Sekitar pukul 17.00 Wita, massa bergerak menuju kampus Universitas Muhammadiyah Kupang, namun dihalau pasukan keamanan. Menurut informasi  hingga pukul 18.30 Wita, dua masjid dibakar yaitu di daerah sekitar Kolhua dan di Bakunase. Tiga lainnya dirusak, yaitu Masjid Raya Kupang, Masjid Attaqwa Naikoten, dan masjid di sekitar kantor Kodya Kupang.

Pembakaran lainnya menimpa Asrama Haji di Bilangan Oebufu, Kodya Kupang, sebagian bangunan Pasar Inpres Naikoten II, SMP dan SMA Muhammadiyah. Suasana kota hingga Senin malam mencekam. Warga kota terlihat saling curiga antara satu dengan yang lainnya. Mereka rata-rata membawa senjata tajam, pentungan dan lainnya.

Akibat kejadian tersebut, menimbulkan luka berat (2), luka ringan (25), kerusakan masjid/ mushola (9), rumah tinggal (44), kios/ toko (45), rumah makan (30), gedung sekolah (3), kendaraan roda 4 (14) dan roda dua (16) serta 3.962 penduduk mengungsi.

Kerusuhan pun meluas, aksi perkabungan nasional juga berlangsung di Kota SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (70 Km sebelah Timur Kupang). Begitu lonceng gereja berbunyi, penduduk keluar rumah mengetuk tiang listrik dengan membawa parang, golok, dan benda tajam lainnya. Masjid dikepung, dirusak, dan dibakar. Rumah dan toko milik milik BBMJ (Bugis, Bone, Makasar, dan Jawa) yang muslim itu diobrak-abrik, dirusak dan dijarah massa Kristen. Hari tu, tak ada Media lokal yang memberitakan, sebab, informasi kan sudah dimonopoli nonmuslim.

Yang mengejutkan, saat menjadi penceramah dalam seminar yang digelar Universitas Nusa Cendana, Theo Syafei ketika itu (15 November 1998) mengatakan, kalau di Jawa orang bisa bakar gereja, kenapa kita di sini tak bisa bakar masjid. Tepuk tangan pun bergemuruh di kampus itu.

Kupang dan sekitarnya ibarat api dalam sekam, jika daerah lain yang disulut, maka akan berimbas ke Kupang. Ingat Kasus Ketapang di Jakarta, bara api itu sampai terbawa ke Kota Kupang. Hampir saja, kasus Temanggung, kembali menyulut di kota ini. Saat ini masyarakat Kupang pada umumnya, semakin dewasa, mereka tak mau lagi diprovokasi oleh pihak dan kelompok tertentu yang ingin Kupang membara dan berdarah-darah.  Desastian (Voa-Islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Pesantren Nyaris Dibakar, Kumandang Azan Tak Terdengar di Batakte NTT


Kupang (voa-khilafah.co.cc) – Sungguh berat tantangan dakwah di kelurahan Batakte, Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur. Di wilayah ini, tempat Pesantren Hidayatullah berdiri, umat Islam yang minoritas harus beradaptasi dengan lingkungan yang banyak dihuni oleh masyarakat Kristen. Di Batakte, adzan dilarang menggunakan speaker. Jika nekad, siap-siap saja akan ada batu melayang ke arah bangunan masjid dan pesantren.

“Kami disini hanya menggunakan toa ke dalam, suara azan tak sampai keluar. Pernah dicoba, tapi berbuah lemparan batu oleh masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar sini. Begitu kami azan dengan toa yang hanya bisa didengar oleh jamaah di dalam ruangan masjid, toh aman-aman saja,” ujar Pimpinan Pesantren Hidayatullah Ustadz Usman Mamang saat disambangi voa-Islam ketika melakukan perjalanan Jurnalistik ke Kupang.

Para da’i di Batakte, seperti dikatakan Ustadz Usman, memang harus kuat mental dan banyak bersabar. Diakuinya, para da’i menjadi tak leluasa ketika berdakwah di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Kristen. “Ketika para da’i masuk dan melakukan pendekatan dengan mereka yang non-muslim, kami dituduh melakukan Islamisasi. Namun, yang namanya pendakwah, tentu harus siap menghadapi resiko yang akan terjadi. Saat qurban Idul Adha kemarin, kami bagi-bagikan daging kambing kepada warga Kristen di sekitar sini.”

Bagi masyarakat setempat, keberadaan pesantren Hidayatullah di Batakte dianggap ancaman buat mereka. Tak heran, bila pesantren ini sempat digugat keberadaannya di wilayah Batakte. Saat Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) di Kupang, ada politikus yang ingin memanfaatkan situasi dengan menggugat Pesantren Hidayatullah.

“Yang jelas, kami sudah urus sertifikasinya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN), namun menurut tradisi di sini, meskipun telah memiliki sertifikat, tetap harus ada upacara pelepasan hak dari yang punya tanah,” jelas Usman.

Masyarakat di sini tidak pernah membayangkan, pesantren Hidayatullah kian berkembang dan menjadi besar seperti sekarang ini. Ketika komplek pesantren kian besar, masyarakat Kristen di sini nampak kaget dan sangat terpukul, kok bisa ada pesantren di tengah komunitas mereka yang mayoritas non Muslim.

Begitu juga, jika ada muallaf di Batakte, selalu ada yang merasa heran seraya berkata, “Hebat juga kamu ya jadi orang Islam.” Maknanya, kok bisa menjadi muslim di tengah-tengah komunitas Kristen.
Kekurangan Tenaga Da’I
Dikatakan Usman Mamang, Pesantren Hidayatullah di Kupang didirikan oleh Ustadz Abdullah Azzam --jebolan Intitute Teknologi Surabaya (ITS) -- tahun 1992. Sebelum pesantren ini berdiri di Batakte, rumah kost Azzam di Kota Kupang dijadikan tempat anak-anak belajar TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an). Karena jumlah santri terus meningkat, maka diupayakanlah untuk mencari lahan kosong untuk didirikan institusi pendidikan pesantren. Menariknya, seorang anggota polisi yang tinggal di Kupang memberikan tanah wakafnya di Kecamatan Kupang Barat, Kelurahan Batakte, wilayah dimana Pesantren Hidayatullah akhirnya berdiri.

Pesantren Hidayatullah terdiri dari dua komplek, masing-masing Asrama Putri seluas 6000 meter persegi, dan komplek Asrama Putra seluas 8 hektar (sekitar 1 km dari asrama putri). Saat ini santri yang belajar di pesantren ini datang dari 14 kabupaten yang ada di NTT, diantaranya: Attambua, Flores Timur, Alor, Bejawa, Ende, Rote dan wilayah lain. Banyak mullaf yang belajar Islam di pesantren Hidayatullah.
Bicara tantangan dakwah di Kupang, dikatakan Usman, memang belum sepenuhnya optimal. Namun, untuk di perkotaan sudah banyak da’I yang diturunkan. Sedangkan di pelosok, ada banyak muslim, namun kurang pembinaan.

Pernah terjadi, di pedalaman SoE, saat bulan puasa, seorang bapak dari rumahnya datang memasuki masjid untuk shalat tanpa berwudhu terlebih dulu. Ketika ditanya, kenapa bapak tidak wudhu dahulu? Lalu dijawabnya, saya tidak tahu cara berwudhu. Kemudian diajarilah bapak itu oleh ustadz dari Hidayatullah bagaimana cara berwudhu sebelum melakukan shalat.

“Kami juga menjumpai seorang warga muslim yang masih saja memelihara babi. Ketika ditanya, kenapa bapak sebagai muslim masih memelihara babi? Lalu dengan entengnya menjawab, bukankah yang diharamkan hanya memakan babi, bukan memeliharanya. Seperti itulah kondisi masyarakat Muslim di pedalaman Kupang yang kurang dengan pembinaan,” cerita Usman.

Suatu ketika, ada raja (kepala suku) non muslim, ketika makan daging babi, badannya menjadi gatal-gatal. Lalu disuruhlah salah seorang kaumnya untuk ke kota, agama apa yang mengharamkan daging babi? Lalu didapatlah jawabannya, yakni Islam. Sejak itulah, kepala suku masuk Islam dengan mengucapkan kalimah syahadat.

Tak lama kemudian, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kupang memberi kesempatan kepala suku yang bernama Gunawan Isoe itu naik haji ke Tanah Suci. Sepulang dari haji, ia syahadatkan seluruh kaumnya di pedalaman Kampung SoE, sekitar dua jam dari Kupang. Dari beberapa kampung, ada sekitar 15.000 jiwa yang disyahadatkan. Sang Raja yang juga menjabat sebagai Camat setempat, kemudian dipecat oleh Bupati yang memimpin di wilayah tersebut, dikarenakan sang raja telah memeluk Islam.

Kurangnya pembinaan dakwah memang dirasakan di NTT, khususnya Kupang dan sekitarnya. Di sebuah kampung, ada sebuah masjid yang dibangun secara permanen. Di tempat masjid itu berada, terdapat  150 KK yang beragama Islam. Namun ironisnya, masjid itu tidak terlihat lagi, jamaah yang shalat Jum’at. Ketika ditanya kenapa begitu? Mereka beralasan, karena  tidak ada khatibnya, akhirnya mereka shalat Dzuhur masing-masing.

“Dulu, kami sering ke kampung itu. Bahkan, kami sempat mengirim alumni aliyah Pesantren Hidayatullah untuk memberi pembinaan kepada masyarakat sekitar.  Sejak itu, mulai hidup shalat secara berjamaah, juga pelaksanaan shalat Jum’at plus khutbahnya. Begitu santri kembali pulang ke kampung halamannya, Jumat berikutnya tak ada lagi jamaah yang datang untuk melaksanakan shalat Jum’at.  Ironis memang,” ungkap Usman.

Diakui Usman, kami memang kekurangan tenaga da’i. Dari sisi pendanaan, sebetulnya sudah ada donator yang akan memberi sokongan materi, namun hingga saat ini belum ada tenaga yang akan dikirim. Hidayatullah sendiri sudah melakukan upaya dan kerjasama dengan beberapa ormas Islam, seperti DDII dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Kupang untuk pengkaderan dai.

“Satu hal, harus ada penguatan untuk para dai yang akan diterjunkan. Kadang, setelah sampai di sana, ada tawaran duniawi yang lebih menggiurkan. Dan nyatanya, tak sedikit yang memilih tawaran itu. Mereka cemas dengan masa depannya,” tukas Usman yang sudah empat tahun memimpin Hidayatullah. Sebelumnya ia ditugaskan ke Aceh, saat tsunami menerjang Kota Rencong itu.
Imbas Kerusuhan Kupang 1998
Pada saat Tragedi Kupang tahun 1998, Batakte termasuk wilayah yang disatroni para perusuh. Bayangkan, jalan menuju pesantren, telah diblokade oleh kelompok salibis. Yang boleh melalui jalan itu harus bisa menyanyikan lagu Yesus atau gereja.  Akibatnya, dengan sangat terpaksa, rekan-rekan Hidayatullah harus berpura-pura menyanyikan lagu Kristen tersebut.

Tidak hanya itu, pesantren Hidayatullah nyaris saja dibakar oleh kelompok massa Kristen yang ketika itu diangkut dengan menggunakan dua truk dan menggunakan ikat kepala berwarna merah. Untung saja, Allah masih menjaga dan melindungi saudara muslim di Batakte.

“Teman-teman kami di Kota Kupang mengira, pesantren ini sudah habis dibakar. Mengingat di Kota Kupang, banyak masjid, toko dan pemukiman muslim yang dilempari batu dan dibakar.  Pernah, selama sebulan, setiap kali shalat Jumat, masjid yang berada di komplek pesantren ini mendapatkan penjagaan aparat. Termasuk saat melakukan shalat Idul Fitri maupun Idul Adha.”

Yang pasti, kerusuhan Kupang 1998 telah merepotkan umat Islam di Batakte. Bayangkan, dalam suasana mencekam dan tak punya pasokan makanan, teman-teman di Hidayatullah harus membagi sebutir telur kepada delapan orang untuk makan.

Peristiwa Temanggung dan Ambon, juga berimbas ke Batakte. Ada isu yang disebarkan lewat SMS, bahwa akan ada kerusuhan  besar di Kupang, menyerupai Tragedi Kupang 1998. Saat itu, ada masyarakat muslim Bugis di Kupang yang siap berjihad sampai mati, jika Batakte menjadi sasaran perusuh. “Hingga saat ini kami sering kontak Ketua MUI Kupang untuk mendapatkan informasi terkini.

Satu hal yang membanggakan, kini bangunan masjid semakin bertambah mengalahkan jumlah gereja yang ada di Kupang dan sekitarnya. Hal itu bisa dirasakan, ketika kumandang azan mulai bersahut-sahutan di beberapa wilayah di Kupang. Inikah yang menggentarkan kaum Salibis, sampai-sampai melarang adzan di Batakte dengan menggunakan loud speaker.

Bahkan, jumlah pemilih muslim di Kupang saat Pilkada sudah mencapai 80.000 suara. Jika mau, bisa saja Pemimpin daerah di Kota Kupang akan tampil dari kalangan Muslim. Jika keinginan itu diwujudkan, kaum Salibis di Kupang, sudah pasti akan lebih paranoid lagi. (Desastian, voa-islam/voa-khilafah.co.cc)


Gara-gara Beli Korek Api, Bocah SMP Dicokok Densus dan Dituduh Teroris

Gara-gara Beli Korek Api, Bocah SMP Dicokok Densus dan Dituduh Teroris


MATARAM (voa-khilafah.co.cc) – Ketujuh orang yang dijadikan tersangka oleh polisi dalam kasus terorisme Bima, Selasa siang kemarin (15/11/2011), dibawa dari tahanan Mapolda NTB ke kantor Kejaksaan Tinggi NTB, Jalan Langko, Kota Mataram. Mereka menjalani penyerahan tahap II, yakni penyerahan tersangka dan pelimpahan barang bukti. Menurut rencana, sesuai putusan MA mereka akan menjalani persidangan di Tangerang.

Satu dari tujuh tersangka terorisme di Pondok Umar Bin Khatthab, Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Bima NTB itu adalah Mustakim Abdullah (MA), siswa kelas III SMP. Terkait ledakan di Pondok UBK, siswa itu hanya disuruh membeli korek api.

MA ditangkap polisi di Bima pada 12 Juli 2011, sehari setelah ledakan di Pondok UBK yang diidentifikasi polisi sebagai bom. MA resmi ditahan 19 Juli 2011 di Mapolda NTB, Jalan Langko, Kota Mataram.

Saat dibawa dari tahanan Mapolda NTB untuk diserahkan ke Kejaksaan Tinggi NTB, Selasa (15/11/2011) siang, MA dibawa terpisah dengan enam tersangka teroris lainnya. Hal ini lantaran usianya yang masih anak-anak.

Kalau tersangka lain diangkut dengan mobil panser dengan pengawalan ketat, MA dibawa ke Kejati NTB dengan mobil patroli jenis Panther milik satuan Samapta Polda NTB. MA tiba paling belakang. Ia tak diborgol dan kerap menunduk.

Di dalam mobil itu, MA ditemani kakak sepupunya, Darmansyah, yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah, Mataram. Darmansyah pula yang tetap mendampingi MA saat menjalani pemeriksaan.

“Saya terus mendampingi selama ini. Orang tua kami tidak bisa sering-sering ke sini (Mataram),” kata Darmansyah, di sela-sela menunggu pemeriksaan MA dan barang bukti oleh jaksa di Kejati NTB.

Darmansyah, kakak sepupu Mustakim menjelaskan kepada wartawan bahwa adiknya tidak mengerti apa-apa soal kasus terorisme yang dituduhkan kepadanya, karena dia hanya disuruh membeli korek.

“Mustakim hanya diminta membeli korek api oleh Ustadz Abrori, pimpinan pondok. Itu saja. Selebihnya adik saya tidak mengerti apa-apa. Apalagi soal bom,” katanya.

Mustakim tinggal di Desa O’o, di Dompu, kabupaten yang bersebelahan dengan Bima. Orang tuanya, Abdullah kini dalam kondisi sakit-sakitan, akibat anaknya menjadi tersangka tindak pidana terorisme.

Kepala Kejaksaan Tinggi NTB, Muhammad Salim memastikan penahanan MA berbeda dengan enam tersangka teroris lain yang sudah dewasa. “Kita beri perlakuan berbeda. Tentu penahannya terpisah. Tapi soal tuntutan dan dakwaan, tentu saja akan sama. Tetap kita dakwa berlapis dengan pasal terorisme dan lainnya,” kata Salim.

Ketujuh tersangka teroris itu akan dijerat pasal berlapis mengacu pada UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, UU Darurat No 12/1951 tentang senjata dan pasal dalam KUHP tentang pembunuhan.

Kasus terorisme di Bima ini bermula dari ledakan bom di Pondok Pesantren Umar bin Khatthab (UBK) Desa Senalo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat pada hari Senin (11/7/2011) sekitar pukul 15.30 WITA. Ledakan ini menewaskan Suryanto Abdullah alias Firdaus (31), bendahara Ponpes setempat.

Pihak kepolisian mengkait-kaitkan ledakan bom ini dengan tewasnya anggota Polsek Bolo Brigadir Rochmad Syaifuddin di tangan Sa’ban Abdurrahman (18).

Sementara itu pihak Pesantren melalui UBK Media mengklarifikasi kejadian meledaknya bom rakitan di Ponpes tersebut. Dalam rilis yang disampaikan kepada media melalui surat elektronik, Salman Al-Bimawy dari UBK Media mengatakan bahwa sudah sejak lama pondok UBK dimata-matai intel lantaran dituding sebagai sarang teroris, padahal semua itu tidaklah benar.

Suasana makin keruh dengan tersebarnya isu adanya rencana penyerangan ponpes UBK dari keluarga mantan santri Ponpes UBK Sa’ban Abdurrahman, pelaku penusukan terhadap anggota Polsek Bolo. Padahal Sa’ban yang melakukan penusukan tersebut mengaku bahwa apa yang dilakukannya bukan perintah dari Ponpes UBK melainkan inisiatifnya sendiri karena melaksanakan perintah Allah.

Mendengar kabar tersebut maka santri dan pengurus Ponpes pun panik sehingga untuk membela diri mereka mengumpulkan para santri dan simpatisan UBK untuk melakukan i’dad guna mengantisipasi penyerangan tersebut, sampai akhirnya terjadilah insiden tewasnya Ustadz Firaus. Demikian klarifikasi resmi dari UBK Media.

Buntut ledakan bom tersebut Polisi akhirnya melakukan penyerangan terhadap Ponpes UBK hingga akhirnya menangkap Pengurus Pondok dan beberapa santri sebagai tersangka. Mereka adalah Ustadz Abrory M. Ali alias Maskadov alias Abrory Al Ayubi (pimpinan pondok), Syakban alias Syakban A Rahman alias Syakban alias Umar Syakban bin Abdurrahman (pelaku penusukan polisi), Mustakim Abdullah alias Mustakim (santri), Rahmat alias Rahmat Ibnu Umar alias Rahmat Bin Efendi, Rahmat Hidayat, dan Asrak alias Tauhid alias Glen serta Furqon. [wid/dbs/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

KH. ALI BAYANULLAH, AL HAFIDZ, Ulama Sumedang "Ketemu Setelah 15 Tahun Mencari"

Voa-Khilafah.co.cc - “Khilafah itu pernah ada, tapi kapan runtuhnya? Semua imam mahzab menyatakan mendirikan khilafah itu fardhu kifayah, tapi mengapa Arab kerajaan, Indonesia republik, dan negeri Muslim lainnya pun tidak ada yang menerapkan khilafah?"


Dua pertanyaan itu muncul dibenak, tatkala membaca bab imamah atau bab khilafah ketika aku diamanahi memegang kunci perpustakaan Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, saat aku nyantri di ponpes pimpinan KH Maimun Zubair itu.

Saat itu, saya benar-benar haus ilmu. Maka kulahap kitab-kitab yang ada, bahkan kitab-kitab yang besar pun kubaca. Kemudian aku berpikir, mengapa bab khilafah adanya di kitab-kitab besar, kalau di kitab-kitab kecil jarang sekali? Adanya di kitab Fathul Wahab karya Syeikh Zakaria Al Anshori. Dan itu memang dijelaskan ada.

Di kitab Bisarwani juga ada. Begitu juga dalam kitab Hayatul Hayawan tapi di situ tidak sampai Bani Ustmaniyah, ke Bani Fatimiyah juga tidak sampai, cuma sampai Bani Abasiyah. Dalam kitab bisyarahnya Fathul Wahab seperti Fujairrumi Wahab juga dijelaskan masalah imamah, tetapi sayangnya tidak dijelaskan secara rinci bagaimana cara pengangkatan seorang khalifah dan lain sebagainya?

Itu yang membuat penasaran, ingin mengetahui. Dari buka-buka kitab itu ditambah pengetahuanku ketika di sekolah belajar sejarah Islam itu, di situ khilafah dibahas mulai dari Khulafaur Rasyidin kemudian Bani Umayah dan Bani Abasiyah.

Saya ingin mengetahui sejarah khilafah dan bagaimana hancurnya. Dan bagaimana hubungannya ketika dulu, pada masa Nabi Muhammad SAW, kemudian diganti masa Khulafaurrasyidin, terus Bani Umayah dan Bani Abasiyah.

Lantas ke mana ini khalifah? Sekarang kok tidak ada di dunia Islam. Itulah yang menjadikan saya terus penasaran. Karena apa? Karena khilafah itu yang aku baca di kitab-kitab ketika di pesantren itu, ternyata wajib. Fardhu kifayah ini, semua imam mazhab menyatakan wajib tetapi mengapa sekarang tidak ada? Namun sayang, tidak ada satu pun kyai dan ustadz dapat memberikan jawaban yang dapat memuaskan rasa penasaranku.

Menemukan Jawaban

Tahun 1993, saya kembali ke kampung halaman, menikah dan mengamalkan ilmu yang saya dapat saat nyantri. Rasa penasaranku tidak hilang, namun saya pun bingung harus bertanya pada siapa? Terpaksa saya pendam sendiri.

Suatu hari pada tahun 2002, ketika melintas Jalan Pamager Sari, Sumedang saya benar-benar dikagetkan dengan adanya spanduk yang bertuliskan "syariah" dan "khilafah" membentang di atas jalan.

Nah, penasaranku membuncah kembali. Tapi aku bingung, siapa yang memasang spanduk ini? Satu-satunya indikasi hanya kata "Hizbut Tahrir" berarti yang memasang spanduk ini Hizbut Tahrir? Tapi apa itu Hizbut Tahrir? saya pun penasaran. Namun sayang, setiap orang yang kutemui dan kutanya, tidak ada yang mengenal "Hizbut Tahrir" itu.

Aneh, ada spanduk tetapi tidak ada orangnya. Padahal saya sangat berharap dari Hizbut Tahrir itulah pertanyaanku dapat terjawab. Sejak saat itu, pertanyaan yang menghantui benakku bertambah satu lagi, apa itu Hizbut Tahrir? Tapi lagi-lagi harus saya pendam sendiri karena orang-orang di sekelilingku tidak ada yang dapat memberikan petunjuk.

Sampailah pada suatu saat di tahun 2005, seorang pemuda bernama Acep Muhyiddin bertandang ke rumah saya. Ia menyatakan ingin bersilaturahmi. Namun betapa kagetnya saya ketika dia memperkenalkan diri bahwa dia adalah aktivis Hizbut Tahrir! Alhamdulillah, betapa senangnya saya.

Saya pun bertanya tentang Hizbut Tahrir dan khilafah. Subhunallah, meski lelaki itu berperawakan kecil, ilmunya sangat besar. Saya pun langsung kagum dengan jawabannya yang begitu gamblang terkait dua pertanyaan besarku itu.

Begitu rinci ia menjelaskan bahwa khilafah itu berdiri selama 13 abad, terhitung sejak Daulah Islam berdiri di Madinah ketika Rasulullah SAW hijrah, kemudian diteruskan oleh Khulafaurrasyidin, Bani Umawiyah, Bani Abbasiyah, dan berakhir pada 1924 saat ibukotanya berada di Turki pada masa Bani Utsmaniyah.

Keruntuhan itu terjadi bukan saja lantaran kemunduran kaum Muslim dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang mulia tetapi juga lantaran adanya konspirasi keji bangsa kafir penjajah Inggris dan para pengkhianat termasuk Mustafa Kamal Attaturk laknatullah. Sedangkan, Hizbut Tahrir adalah kelompok di antara kaum Muslim yang berjuang untuk mengembalikan tegaknya khilafah itu.

Di kesempatan berikutnya, ia datang kembali membawa kitab yang menjelaskan konspirasi meruntuhkan khilafah yakni kitab Kayfa Hudimat al Khilafah karya Syeikh Abdul Qadim Zallum.

Subhanallah, dari penjelasan sang aktivis dan kitab karya amir kedua Hizbut Tahrir itu terjawab sudah teka teki yang ada di dalam benak saya selama 15 tahun itu. Kemudian saya pun mendapatkan berbagai kitab lainnya yang diterbitkan Hizbut Tahrir. Dari situ, saya yakin tidak ada alasan untuk menolak ajakan Hizbut Tahrir untuk sama-sama berjuang menegakkan syariah dan khilafah.

Berdakwah

Sejak itu, saya sampaikan kepada yang lain yang datang ke Darul Bayan (majelis taklim dan tahfidz Alquran asuhannya—red) bahwa saya punya kitab-kitab Hizbut Tahrir, bila isinya bertentangan dengan kitab-kitab pesantren maka saya orang pertama yang akan menentangnya. Tapi kalau memang cocok dengan kitab yang saya jadikan patokan, ayo sama-sama kita dukung perjuangan Hizbut Tahrir.

Tapi sayang, tidak semua kyai, ustadz dan ajengan yang saya ajak menyambut ajakanku. Hanya sebagian saja di antara mereka yang mendukung. Kujelaskan pada mereka, bukankah kitab-kitab Hizbut Tahrir itu cocok dengan kitab-kitab yang selama ini kita pelajari di pesantren seperti Fathul Wahab, Fujurrami, Fujurrami Itsna, Sarwani, Muradhatut Thalibin.

Itu kan kitab-kitab yang tidak asing karena dikaji di pesantren. Itu yang saya ambil sebagai patokan. Ternyata semuanya malah sama."Jadi mengapa kita harus menolak ajakan Hizbut Tahrir?" ujarku pada mereka.
 
Yang menolakku itu setidaknya ada tiga tipe. Pertmaa, yang tidak percaya diri. Sebenarnya sebagian senang dengan ajakanku."Sebenarnya memang harusnya begitu. Ini memang harusnya diubah, hukum di kita ini harus diubah dengan Islam, ya tapi monggo woe, saya belum mampu," ujar mereka.

Kedua, mereka itu menjalankan agama bukan mengikuti manhaj agama, tapi yang diikuti itu adalah figur. Padahal saya sudah banyak memberikan dalil tentang bagaimana wajibnya khilafah kepada ustadz-ustadz, ajengan-ajengan itu. Mereka jawab, "Ya ini dalil tidak salah, cuma pemahaman Anda yang salah" Tapi ketika ditanya pemahaman yang benar terhadap dalil tersebut itu seperti apa, mereka tidak bisa jawab.

Bahkan ada yang berkata, "Ya pokoknya kita sudah punya guru lah” Tetapi ketika ditanya penjelasan gurunya seperti apa? Dia diam saja. Mungkin mereka anggap perjuangan khilafah ini perjuangan yang nyeleneh yang tidak pernah diperjuangkan oleh guru-guru mereka. Ini yang saya tangkap dari pemahaman mereka.

Yang ketiga, khawatir kehilangan jamaah. Saya katakan kembali kepada mereka jadi salah besar kalau sistem khilafah itu ide Hizbut Tahrir. Ini bukan ide Hizbut Tahrir tapi itu syariah Islam yang telah hilang kemudian dimunculkan kembali oleh Hizbut Tahrir. Jadi mestinya perjuangan khilafah itu harus diawali dari pesantren. Karena kitab-kitabnya itu banyak di pesantren itu. Nah itu yang menjadi keherananku, kenapa tidak muncul dari pesantren?

Mereka yang menolak ajakanku itu malah tidak datang lagi, aku pun tidak diundang lagi untuk acara-acara di pesantren mereka. Namun, saya tidak berputus asa. Saya tetap mengajak mereka dan umat untuk turut berjuang bersama Hizbut Tahrir. Allahu Akbar!

Oleh : joko prasetyo/seperti yang dituturkan KH Ali Bayanullah



Biodata Singkat Al Hafidz Pejuang Khilafah

Nama  : KH Ali Bayanullah, Al Hafidz
Lahir  : Sumedang, 1967
Pendidikan :
1975-1978 Madrasah Ibtidaiyyah, Sumedang, Jawa Barat
1978-1981 Madrasah Tsanawiyah, Surnedang, Jawa Barat
1981-1987 Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat
1987-1991 Pondok-Pesantren Al Anwar (KH Maimun Zubair), Sarang, Rembang, Jawa Tengah.
1991-1993 Ponpes Tahfidz Alquran Darul Furqah; (KH Abdul Qadir Urnar Basyir), Janggalan, Kudus; Jawa Tengah

Jabatan  : 1993-sekarang
Pimpinan Majelis Taklim wal Tahfidzil Quran Darul Bayan, Citeureup, Sumedang, Jawa Barat

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL