Tampilkan postingan dengan label RMS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMS. Tampilkan semua postingan
Belanda Tak Akui Hak Hidup Negara RMS, Warga Maluku Berang

Belanda Tak Akui Hak Hidup Negara RMS, Warga Maluku Berang


DEN HAAG, BELANDA (voa-khilafah.co.cc) – Pengadilan Tinggi Den Haag menolak tuntutan Republik Maluku Selatan (RMS) dalam sidang naik banding. Namun pengadilan tidak mengeluarkan keputusan mengenai hak hidup yuridis RMS.

Naik banding ini sehubungan dengan rencana kunjungan presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono Oktober 2010. Saat itu RMS melalui pengadilan menuntut agar pemerintah Belanda menahan SBY untuk diadili atas tuduhan melanggar HAM beberapa warga Maluku.

Dalam sidang naik banding, pengacara Negara Belanda menyatakan, RMS tidak diakui pemerintah Belanda dan RMS tidak memiliki hak hidup sebagai negara.

Keputusan Pengadilan Tinggi Belanda ini membuat berang warga Maluku di Belanda. Pengadilan banding tidak mengeluarkan keputusan tentang apakah RMS harus diakui sebagai negara menurut hukum internasional, karena tuntutan RMS itu harus dinilai berdasarkan isinya. Oleh karena itu, masalah tersebut tidak relevan dalam keputusan ini. [taz/rnw/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Dua Pria 'Kristen' Kepergok Menyusup ke Kampung Islam Bawa Bensin

Dua Pria 'Kristen' Kepergok Menyusup ke Kampung Islam Bawa Bensin


AMBON (VOA-KHILAFAH.CO.CC) – Di tengah situasi mencekam usai peledakan bom rakitan di terminal Mardika Ambon, seorang pria ditengarai dari pihak Kristen menyusup ke perkampungan Muslim membawa bensin.

Seorang ibu warga Amplas (Ambon Plasa) yang minta dirahasiakan namanya, memaparkan kepada voa-islam.com, bahwa ia memergoki dua orang pria dini hari sekitar pukul 01.00 WIT (25/9/2011). Satu orang di antaranya memakai sweater warna merah membawa satu jerigen besar berisi bensin.

Melihat gelagat mencurigakan, seorang ibu mendekat sambil berteriak, “Hai kamu sedang apa?” Tanpa pikir panjang dua pemuda mencurigakan itu kabur dengan motornya, tanpa sempat membawa jerigen bensinnnya.

Ibu paruh baya itu menengarai kedua pelaku berasaldari pihak Kristen, karena saat kepergok, langsung melarikan diri menuju perkampungan Kristen.

“Posisi mereka malam itu berada di Amplas, kemudian lari melalui Lorong Arab,” jelasnya. [taz/ahmed widad/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Tak berani pulang, pengungsi Ambon ditelantarkan pemerintah

Tak berani pulang, pengungsi Ambon ditelantarkan pemerintah

AMBON (voa-khilafah.co.cc) – Pengungsi memilih bertahan di pengungsian bukan semata-mata trauma pasca bentrok Ambon 9/11, tak ada jaminan keamanan dari aparat pemerintah dan aparat keamanan adalah salah satu alasan mereka memilih tetap tidur di Masjid-masjid pengungsian.

Di balik klaim situasi Ambon yang kondusif pasca bentrok 9/11, sampai sekarang belum ada jaminan keamanan dari aparat, baik pemerintah maupun keamanan. Karena itu warga Muslim yang tinggal di kampung perbatasan dengan kampung Kristen memilih bertahan di pengungsian.

“Tentu bukan kemauan mereka mengungsi, tapi karena situasi dan kondisi yang seperti ini. Dengan jaminan keamanan dari pemerintah yang tidak ada mereka harus mencari keamanan sendiri seperti ini,” jelas Aziz, ketua Himpunan Mahasiswa Islam Ambon, Senin (19/9/2011).

Aziz yang mengaku telah mendata seluruh pengungsi di berbagai lokasi mengungkapkan sampai saat ini aparat pemerintah hanya bisa memerintahkan pengungsi pulang ke kampungnya tanpa mampu memberikan jaminan keamanan.

“Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota sepertinya tidak mau memperhatikan mereka dengan alasan sudah aman, kemudian pengungsi harus dikembalikan ke daerahnya masing-masing,” ujarnya. “Dan sayangnya mereka (Pemprov dan Pemkot, red.) tidak berani datang sendiri ke sini dan mengatakan kepada pengungsi biar ada jaminan keamanan dari pemerintah secara langsung,” paparnya.

Hal senada diungkapkan oleh Wada Isa, salah seorang pengungsi yang memilih terlunta-lunta makan nasi dan mie instan tiap hari daripada harus pulang ke kampung halaman. Menurut nenek sepuh berusia 63 tahun tersebut situasi kampungnya, yakni Amaci (Air Mata Cina) yang tak jauh dari kampung Kristen sangat mencekam.

“Saya mengungsi karena masih takut, sebab desa saya berbatasan dengan desa Pohon Pule (kampung Kristen, red.) yang hanya dipisahkan sebuah sungai,” ujarnya pada Senin (19/9), sambil mengasuh Anandasari, cucunya yang berusia satu tahun.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa selama di prngungsian ia hanya menerima bantuan beras dan mie instan saja. Sementara bantuan untuk balita seperti cucunya belum pernah didapatkan.

Hal senada diungkapkan oleh Alwi, pengungsi di masjid Jami’ yang berasal dari desa Ponegoro Atas. Ia lebih memilih hidup di pengungsian untuk mengasuh balita berumur 1 tahun 7 bulan. “Saya mengungsi karena takut, sebab rumah saya berdekatan dengan gereja,” paparnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di pengungsian, Alwi hanya mengonsumsi bantuan beras dan mie instan saja sementara bantuan untuk balita seperti susu belum pernah didapatkan.

Tidak hanya itu, Alwi yang berprofesi sebagai tukang becak mengatakan ia belum bisa beraktivitas banyak untuk mencari nafkah, karena masih merasa was-was terhadap serangan pihak Salibis. Praktis, ia hanya mengandalkan bantuan dan sumbangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi para pengungsi di masjid Al-Fatah pun tak beda dengan pengungsi di tempat lainnya. Kehidupan sehari-hari para pengungsi Muslim korban konflik 9/11 itu sangat memprihatinkan karena minim bantuan.

Sementara itu, selain adanya larangan pendirian posko dengan dalih keamanan, di pengungsian masjid-masjid, Departemen Sosial hanya membantu enam karung beras, dua dus ikan dan mie instan.

“Kondisi Pengungsi di sini (Masjid Jami’) seperti yang terlihat, sejak awal konflik sentuhan bantuan dari pemerintah masih kurang. Bantuan lebih banyak diberikan oleh swadaya masyarakat. Yayasan ada juga yang bantu, dari bank,” jelasnya Aziz.

“Tapi dari dinas sosial sendiri sejak awal konflik hanya pernah memberikan bantuan enam karung beras, empat karton mie instan dan dua karton ikan sarden,” tambahnya.

Azis mengungkapkan, sejak pecahnya insiden hari Ahad (11/9) lalu, sebenarnya sudah banyak LSM ingin membuka posko tetapi dilarang pemerintah setempat, berdasarkan kesepakatan Pemprov dan Pemkot Ambon saat rapat koordinasi hari Senin (12/9).

“Menurut mereka terindikasi nanti persoalan ini menjadi panjang kemudian terlihat banyak pengungsi,” jelasnya.

Karena pemerintah melarang keras pendirian posko, maka pada hari Senin (12/9) itu pula HMI cabang Ambon mengambil inisiatif sendiri untuk mendata pengungsi di Masjid Al-Fatah, Masjid Jami’ dan di tempat lain. Anehnya, langkah HMI inipun dicurigai oleh Majelis Ulama Islam (MUI) Ambon.

“Setelah berjalan kami mendata kami dipanggil pihak Yayasan Al Fatah dan MUI menyangkut persoalan pengungsi. Kami katakan bahwa fokus kami hanya mendata tidak sampai ke tingkat lain seperti penyaluran dan sebagainya karena memang kami tidak memiliki dana,” terang Azis.

Terkait hal tersebut, Aziz mendesak agar pemerintah pusat untuk memperhatikan kesejahteraan para pengungsi. (voaI/arrahma/voa-khilafah.co.cc)
Ambon kembali memanas, komnas HAM subyektif ?

Ambon kembali memanas, komnas HAM subyektif ?

AMBON (Voa-Khilafah.co.cc) – Ambon dikabarkan kembali memanas. Di dalam kota Ambon saat ini mulai kacau. Kosentrasi massa terlihat di beberapa tempat. Massa kristen kosentrasi di banyak tempat di dalam kota Ambon. Hingga hari ini Kapolda Maluku belum juga menerima hasil penyelidikan tim Mabes Polri terkait pemicu kerusuhan di Ambon. Ironisnya, Komnas HAM sudah keluarkan pernyataan bahwa kerusuhan Ambon hanya dipicu berita bohong kematian tukang ojek. Sementara itu, kaum Muslimin Ambon tetap yakin bahwa kematian tukang ojek, Darmin Saiman, akibat dibunuh, bukan kecelakaan biasa!

Kondisi Ambon kembali memanas

Koresponden Arrahmah.com melaporkan dari TKP, bahwa sekitar jam 14.30 WIT, Jum’at (23/9) sempat terjadi ketegangan, sementara sebab-sebabnya masih belum diketahui. Massa Kristen secara tiba-tiba berkumpul dalam jumlah besar di beberapa tempat. Menurut sumber Arrahmah.com, kemungkinan besar massa kristen akan bergerak serentak untuk melakukan penyerangan terhadap wilayah Islam.

Sementara itu, aparat berkonsentrasi di perbatasan. Kondisi masih agak memanas, meskipun konsentrasi massa tidak seramai 2 jam lalu, ujar Koresponden Arrahmah.com dari TKP.

Pengusutan yang tak kunjung selesai

Hingga saat ini, janji untuk mengusut tuntas pemicu kerusuhan Ambon tidak kunjung ditepati. Kepolisian Daerah (Polda) Maluku hingga kini belum menerima hasil penyelidikan tim Mabes Polri terkait rusuh Ambon yang terjadi pada 11 September 2011, sebagaimana diberitakan Siwalimanews.com.

Ironisnya, Komnas HAM melalui ketuanya Ifdhal Kasim menyatakan kerusuhan Ambon dipicu oleh berita bohong tentang kematian tukang ujek Muslim, Darmin Saiman. Komnas HAM juga mengklaim kerusuhan Ambon dipicu oleh provokasi bernuansa SARA. Pernyataan Komnas HAM ini dkutip The Jakarta Post, Selasa (20/9/2011).

Ahmad Latuconsina, seorang warga Kampung Waringin, Ambon membantah keterangan ketua Komnas HAM tersebut dan menilainya sebagai sebuah kebohongan. Ahmad Latuconsina, mengenal betul sosok Darmin Saiman, yang tewas di kampung Kristen, Gunung Nona, sehingga membantah pernyataan Ifdhal Kasim dengan memaparkan fakta-fakta bahwa Darmin Saiman, tukang ojek tersebut, betul-betul tewas di bunuh di kampung Kristen, basis RMS.

Selain itu, Ahmad Latuconsina juga menilai bahwa pernyataan Komnas HAM tidak netral alias subyektif. Dirinya menghimbau agar Komnas HAM bijak dan mau mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya, untuk menciptakan perdamaian di Ambon.

Ahmad juga menilai, klaim keliru soal penyebab kematian Darmin Saiman hanya sebagai upaya lari dari tanggung jawab.

“Mereka lari dari tanggungjawab dengan menyatakan Darmin murni kecelakaan. Karena kalau Darmin dinyatakan dibunuh, maka aparat keamanan harus mencari pelaku pembunuhnya,” jelasnya. “ Mencari pembunuhnya di Gunung Nona atau Kuda Mati kan susah. Basisnya RMS itu.,”

Ahmad menambahkan, kalau ingin mewujudkan perdamaian yang sebenarnya, maka harus diusut tuntas dan diungkap kejadian sebenarnya dan jangan ditutup-tutupi. Kalau tidak, maka hanya perdamaian semu saja yang akan terjadi.

“Jangan seperti itulah Komnas HAM. Mereka harus berdiri di tengah. Kalau salah ya bilang aja salah. Masyarakat ini kan nggak pingin sesuatu yang busuk itu ditutup-tutupi terus. Dari tahun 1999 sampai 2011 ini mana ada kejadian sebenarnya yang diungkap? Makanya perdamaian yang terjadi ya hanya perdamaian yang semu saja, karena kejadian yang sebenarnya tidak pernah diungkap.”

Wallahu’alam bis showab!

(M Fachry/arrahmah/voa-khilafah.co.cc)
Menengok Ambon Berdarah 1999: Umat Islam Dibantai Orang Kristen & Aparat Lokal

Menengok Ambon Berdarah 1999: Umat Islam Dibantai Orang Kristen & Aparat Lokal

By: Hartono Ahmad Jaiz
Pemimpin Redaksi Nahimunkar.com

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengirimkan utusannya, M Hafidz MSc, ke Ambon untuk mengirimkan bantuan dan meliput tragedi pembantaian Muslimin yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen. Penyerangan dan pembantaian itu berlangsung sampai 3 bulan, sejak Januari hingga April 1999. Berikut ini kesaksian M Hafidz, Wakil Ketua Komite Penanggulangan Krisis DDII. Sejumlah gambar foto hasil rekamannya pun dimuat lengkap di buku “Ambon Bersimbah Darah” terbitan Dea Press, Jakarta, 1999. Berikut cuplikannya:

Penyerangan yang dilakukan orang-orang Kristen terhadap Muslimin di Ambon khususnya, dan di Maluku pada umumnya, jelas-jelas menunjukkan tingginya kebencian mereka terhadap umat Islam.

Bayangkan. Mereka sudah menyerang umat Islam di Hari Raya Idul Fitri 1419H tanggal 19 dan 20 Januari 1999M. Mereka membantai umat Islam, maka banyak jatuh korban tewas, dan banyak pula yang luka-luka. Orang-orang Kristen itu menyerang dalam keadaan mabuk habis minum-minum. Setiap kali mereka menyerang selalu dalam keadaan mabuk seperti itu. Senjata mereka adalah panah beracun, panah berapi, parang, tombak, bom molotov, senjata api, bahkan basoka RPG7, senjata Amerika atau NATO. Semuanya itu sudah dipersiapkan sejak Oktober 1998, 4 bulan sebelum mereka menyerang Muslimin. Sedang Umat Islam tidak siap apa-apa. Maka kala itu (awal-awal diserangnya itu) umat Islam banyak jatuh korban.

Setelah Umat Islam diserang orang-orang Kristen, korban-korban yang luka dibawa oleh Muslimin ke rumah sakit umum di Kampung Kuda Mati, Kota Ambon. Kampung Kuda Mati itu kampung Kristen. Lalu orang-orang Kristen menyerbu masuk ke rumah sakit umum itu, memeriksa para medis RSU dengan memeriksa KTP (kartu tanda penduduk), kalau ternyata Islam maka diserang. Sedang pasien-pasien yang luka yakni korban-korban akibat serangan orang Kristen yang kemudian dikirim ke RSU ini, lalu dibunuhi oleh orang-orang Kristen yang datang dan menyerang secara membabi buta itu. Ini jelas-jelas biadab, dan perang agama. Sampai-sampai, orang-orang Kristen itu menyerbu ke kantor-kantor Pemda (Pemerintah daerah), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Pos dsb di Ambon, dengan memeriksa KTP para pegawai. Kalau ternyata pegawai itu KTPnya bertanda agama Islam maka dibunuh. Ada yang dibunuh di halaman kantor. Itu semua tidak ada lain, hanya karena mereka itu benci kepada Islam.

APARAT LOKAL MEMBANTAI MUSLIMIN

Kebrutalan mereka yang sudah sebegitu itu masih pula ditambahi dengan pembunuhan atau penyelenggaraan pembunuhan yang dilakukan oleh aparat keamanan yakni polisi dan tentara lokal yang beragama Kristen terhadap umat Islam.

Bukti-bukti ikut sertanya aparat lokal membunuhi ummt Islam itu, pertama, di Masjid Al-Huda Kampung Rinjani Ambon, yakni peristiwa shubuh berdarah, 1 Maret 1999M. Yang ditembak mati di dalam masjid 1 orang, dan yang ditembak mati di luar masjid 2 orang, sedang yang luka tembak beberapa orang.

PENEMBAKAN DARI LUAR MASJID

Jama'ah shubuh itu imamnya yang imam rawatib (rutin tiap waktu) tak hadir. Maka digantikan yang lain. Di sinilah kemudian kalau ada perbedaan keterangan, itu karena yang dimintai keterangan itu imam rawataib yang ketika itu tak hadir. Nah, yang mati karena ditembak di dalam masjid (menembaknya dari luar masjid) itu seorang makmum masbuq(ketinggalan). Yang lain sudah selesai shalat, sedang dia belum, maka meneruskan shalatnya. Dia inilah yang ditembak mati sedang shalat. Yang menembak adalah polisi dari Polda Maluku (setempat). Saya ada rekaman video orang-orang yang ditembak itu. Yang masih hidup, di antaranya yang kakinya hancur kena tembak, masih bisa ngomong(bicara), menjelaskan. Jadi jelas yang menembak itu memang aparat keamanan lokal.

Bukti kedua, penembakan di Masjid Tantui Kampung Tomia di Kota Ambon. Tiga orang Muslim ditembak mati oleh polisi dan tentara lokal. Yang meninggal itu (1) Faisal Marasabessi, (2) Abu Bakar Nankatu dipukuli dan ditembak, dan (3) Baharuddin Bugis ditembak dengan senjata laras panjang ditempelkan di bawah tenggorokan lalu didor, maka pelurunya muncrat menembus ubun-ubun. Saya melihat dan memvideo (merekam dengan kamera video) korban beberapa saat setelah ditembak itu. Yang menembak itu aparat beragama Kristen dan masih tetangganya. Jadi masyarakat kenal semua: nama, pangkat, dan kesatuannya. Dan memang penembak itu orang Kristen (Protestan). Di Ambon, yang Kristen kebanyakan Protestan, sedang di Maluku Tenggara itu Katolik.

CARA-CARA MENYERANG

Cara-cara orang Kristen menyerang Muslimin yaitu mereka datang bergelombang, dalam keadaan mabok, matanya merah-merah karena habis minum-minuman keras. Mereka membawa panah beracun, panah berapi, parang, dan bom-bom molotov untuk membakar. Orang-orang Kristen itu sudah mempersiapkan diri untuk menyerang Muslimin. Parang (golok) yang dijadikan senjata tu sudah dipersiapkan sejak Oktober 1998. Mereka memesan ratusan parang dari Kampung Iha di Saparua. Hanya saja orang Islam tidak faham, untuk apa ratusan parang didatangkan ke Ambon oleh orang-orang Kristen itu. Ada juga yang merakit senjata.

Menurut sumber dari Korem --yang tentu saja tidak bisa dise­butkan namanya-- senjata-senjata itu diantaranya didatangkan dari Belanda dibarengkan dengan pengiriman mayat. Ada pengiriman mayat dari Belanda sebanyak 6 atau 7 kali, tidak sekaligus. Peti-peti mati yang dikirim dari Belanda itu diisi pula dengan senjata RPG7 Basoka (senjata Amerika ataupun NATO). Itulah yang kemudian untuk menyerang umat Islam, di antaranya di Saparua.

Tragedi berdarah itu, awal-awalnya yang banyak jadi korban adalah orang Islam, yakni penyerangan oleh orang Kristen terhadap umat Islam di Hari Raya Idul Fitri 1419H/ 19-20 Januari 1999M.

Karena orang Islam tidak siap, dan tidak tahu kalau akan diser­ang. Lantas, mulai Februari 1999M aparat dikirim ke Ambon, yakni Kostrad dari Ujung Pandang. Tugasnya mengamankan. Dalam logika aparat, pihak yang menyerang --yakni orang-orang Kristen-- itu perusuh, maka diberi tembakan peringatan ke atas. Tetapi orang-orang Kristen itu tetap saja menyerang umat Islam. Kemudian ada yang ditembak. Itulah kemudian yang mereka klaim sebagai banyak korban dari pihak mereka. Tapi sebenarnya tidak banyak.

Rumah-rumah orang Kristen dan gereja-gereja banyak yang utuh, karena memang orang Islam tidak membakar. Orang Islam hanya mempertahankan diri. Terakhir, untuk memancing umat Islam, malah mereka (orang-orang Kristen) sendiri yang membakari rumah-rumah mereka. Itu jelas-jelas diketahui oleh para saksi mata. Orang menyaksikan kejadian itu, dan memang mereka (orang Kristen) sendiri yang membakari rumah mereka yang telah dikosongkan. Licik, memang.

Dari segi korban orang-orang Kristen, karena umat Islam sifatnya hanya bertahan atau mempertahankan diri, maka pihak Kristen yang mati hanyalah yang menyerang. Jadi tidaklah wanita-wanita atau anak-anak atau orang-orang tua, yang terbunuh di pihak Kristen itu. Orang Islam tidak menyerang.

Sebenarnya, belum ada jumlah korban yang akurat secara pasti. Karena tidak terdata semuanya.

Para korban yang Muslim kita yakini sebagai syuhada', mati syahid karena mempertahankan Islam, agama Allah. Dibunuh oleh orang-orang Kristen yang menyerang. Maka para syuhada' itu tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tak dishalati, cukup dikubur bersama pakaiannya yang berlumuran darah, sebagai saksi di hadapan Allah SWT.

Mengenai orang Muslimah hamil tua lalu dibelah perutnya oleh orang Kristen, bayinya dikeluarkan lalu dicincang-cincang, saya datang ke sana sudah berlalu, saya tidak melihatnya. Namun berita itu diketahui oleh seluruh masyarakat.

Penyerangan di luar Ambon, selain di Ahuru, terakhir di Maluku Tenggara, tepatnya di Tual, di Kampung Larat, Jum'at berdarah (2 April 1999M). Dalam penyerangan brutal itu imam Masjid Larat, H Abdul Aziz Rahayantel dibunuh di dalam masjid, Jum'at itu, 3 orang Muslim dibunuh di dalam masjid. Tidak sampai seminggu, korban meninggal sudah mencapai lebih dari seratus orang. Di kampung Kei Besar yang meninggal paling banyak Muslim, sedang di Kampung Kei Kecil kebanyakan yang meninggal Katolik. Ini baru saja saya berhubungan dengan pihak sana.

Orang-orang Kristen menyerang umat Islam itu tidak tentu waktunya. Kadang-kadang malam, kadang-kadang subuh, kadang siang atau sore. Seperti di Hari Raya Idul Fitri itu penyerangan terhadap umat Islam dilakukan siang hari menjelang sore, tetapi saat lain, peristiwa subuh berdarah itu waktu subuh. Sedang di Larat, penyerangan terhadap umat Islam dilakukan ba'da Jum'at, siang hari. Itulah kebencian orang Kristen terhadap umat Islam yang diwujudkan dengan penyerangan, pembunuhan, pembakaran, dan pengerusakan, yang justru didukung oleh aparat keamanan setempat. [voa-islam/Voa-Khilafah.co.cc]
Analis Menengarai Keterlibatan Mossad Dalam Konflik Ambon

Analis Menengarai Keterlibatan Mossad Dalam Konflik Ambon

Voa-Khilafah.co.cc - Koordinator Kajian Zionisme Internasional, sekaligus Analis Messianisme Yahudi, Tri Putranto, menengarai ada keterlibatan agen Intelijen Israel, Mossad, dalam konflik Ambon yang meletus hari minggu kemarin, (11/9). Menurut pria yang aktif mengkaji gerakan Yahudi ini, jaringan Mossad sudah ada diseluruh dunia.

“Mossad itu dimana-mana ada. Tidak hanya di Indonesia. Khusus di Indonesia mereka kerap menyusup di berbagai daerah yang rentan akan konflik agama dan kultural. Apalagi Indonesia adalah negara dengan mayoritas Islam.” katanya kepada Eramuslim.com, selasa pagi (13/9).

Menurut Tri Putranto, kita tidak bisa menutup mata atas kehadiran Zionisme di Indonesia. Umat muslim harus sadar akan fenomnae ini, sebab zionisme tidak akan pernah berhenti menjalankan misinya sampai visinya dapat terlaksana.

“Tujuan mereka sudah jelas, yakni New World Order (tatanan dunia baru),” tandas pria yang sudah mengeluarkan buku "Israel Menjarah Organ Tubuh Muslim Palestina" ini.

Perayaan HUT Israel yang berencana akan digelar di Jakarta pada beberapa bulan lalu, menjadi satu kasus yang disorot oleh Tri Putranto. “Oleh karena itu umat muslim harus waspada, jangan sampai kita terpecah belah.” Pungkas analis gerakan Yahudi ini kepada Eramuslim.com

Sebelumnya, Pakar Intelijen AC. Manullang membenarkan adanya intervensi asing, khususnya Zionis Amerika dalam kerusuhan Ambon yang bertepatan dengan peringatan peristiwa ambruknya Gedung WTC.

Peringatan AS akan adanya serangan teroris, kata Manullang, juga ditujukan kepada negara-negara lain, "dan Ambon dijadikan target skenario itu dengan memunculkan kerusuhan yang bernuansa SARA,” imbuhnya.

Menurut AC Manullang, kerusuhan Ambon ini akan membuktikan pernyataan AS bahwa wilayah tersebut menjadi sarang teroris. ”Skenario yang akan dilakukan, Ambon rusuh, dan kelompok-kelompok Islam membantu, dan muncullah stigma teroris di Ambon,” tambah Manullang. (pz/Eramuslim/Voa-Khilafah.co.cc)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL