Tampilkan postingan dengan label SALAFUSH SHALIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SALAFUSH SHALIH. Tampilkan semua postingan
TAUBATNYA SANG PEMBEGAL (AL-FUDHAIL BIN IYADH rahimahullah)

TAUBATNYA SANG PEMBEGAL (AL-FUDHAIL BIN IYADH rahimahullah)


Ali bin Khasyram berkata:"Seorang tetangga al-Fudhail bin Iyadh rahimahullahmenceritakan, dulu al-Fudhail bin Iyadh membegal (merampok) sendirian. Suatu malam ia keluar untuk membegal, ternyata ia mendapati suatu kafilah (rombongan dagang) yang kemalaman. Seorang di antara mereka berkata kepada yang lainnya:'Mari kita kembali ke kampung itu, karena di hadapan kita ada seorang pembegal yang bernama al-Fudhail.' Ketika al-Fudhail mendengarnya, ia menjadi gemetar lalu berkata:'Wahai sekalian manusia, aku al-Fudhail. Silahkan kalian lanjutkan perjalanan. Demi Allah, aku akan berusaha untuk tidak bermaksiat kepada Allah selamanya.' Lalu ia kembali (bertaubat) dari jalan yang pernah ia tempuh (membegal)". 

Diriwayatkan dari jalur lainnya bahwa ia (al-Fudhail) menjamu mereka (mengajak mereka bertamu ke rumahnya) pada malam itu, dan berkata:"Kalian aman dari al-Fudhail." Lalu ia (al-Fudhail) keluar untuk mencari rumput untuk tunggangan mereka. Lalu ia kembali mendengarkan seseorang yang sedang membaca:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ {16} ' 
”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.”(QS. Al-Hadiid: 16) 

Ia menjawab:”Benar, demi Allah, sudah tiba waktunya.”Ia pun mulai menangis dan beristighfar. Inilah awal taubatnya. 

Ibrahim bin al-Asy'ats berkata:"Aku mendengar al-Fudhail pada suatu malam membaca surat Muhammad sambil menangis dan mengulang-ulang ayat ini:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَا أَخْبَارِكُمْ {31} 
”Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menampakkan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31) 

Ia mulai membaca firman-Nya: وَنَبْلُوَا أَخْبَارِكُمْ (Dan Kami menampakkan hal ihwalmu!) Ia terus mengulang-ulang ayat tersebut sembari berkata:”Kami menampakkan hal ikhwal kami, jika Engkau menampakkan hal ihwal kami (di hadapan manusia) maka Engkau membuka aib kami dan menyibak tirai kami. Jika Engkau menyatakan hal ihwal kami, Engkau membinasakan kami dan mengadzab kami.” 

Aku mendengarnya berkata (kepada dirinya sendiri):”Kamu berhias karena manusia, kamu bersandiwara untuk mereka, dan bersiap-siap untuk mereka. Kamu terus berbuat riya' sehingga mereka mengakuimu sebagai orang shalih. Lantas mereka memenuhi berbagai kebutuhanmu, melonggarkan (melapangkan) untukmu tempat duduk dalam suatu majelis, dan memuliakanmu. Kerugianlah yang kamu peroleh; betapa buruk keadaanmu, jika demikian perihalmu!” Aku mendengarnya berkata:”Jika kamu mampu agar tidak dikenal, lakukanlah. Tidak mengapa bila kamu tidak dikenal, tidak mengapa bila kamu tidak disanjung, dan tidak mengapa kamu dicela oleh manusia asalkan kamu terpuji di sisi Allah." 

Allahu Akbar! Semulia ini derajatnya, yakni jiwanya menjauhi harta duniawi dan dosa. Sampai-sampai jika engkau melakukan kebajikan, engkau tidak menginginkan seorang pun yang mengetahuinya. Bahkan seandainya orang-orang melihat segala kebajikanmu, maka engkau menilai perbuatanmu sebagai riya'. Betapa mengherankan apa yang dilakukan kaum yang dungu pada zaman ini! Yaitu para pengklaim, kaum yang melakukan kerusakan di muka bumi, dan kaum yang tiran lagi zhalim, mereka senang sanjungan, pujian, dan kemuliaan semu, yang menunjukkan kekosongan dan kekerasan dalam jiwa, ruh dan hati. Sungguh celakalah orang-orang yang keras hatinya dan orang-orang yang terpedaya. Demi Allah, Mereka adalah manusia yang paling menderita; karena mereka menghalangi diri mereka merasakan lezatnya kedekatan dengan Allah, cinta karena Allah, dan menangis karena takut kepada Allah. Karena itulah, seorang shalih pernah ditanya tentang pernyataannya:"Seandainya para raja mengetahui Allah, lezatnya kedekatan dengan Allah, meninggalkan negeri yang penuh tipu daya, dan dengan berdzikir, maka kegembiraan akan berlangsung terus.” 

(Sumber: Dinukil dengan sedikit perubahan dari buku Air Mata yang Menetes Karena Allah, Kisah Tangisan Para Nabi, Sahabat dan Orang Shalih karya: Muhammad Izzat Muhammad Arif', diterbitkan oleh Pustaka Darul Haq. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono) 

(alsofwah/voa-khilafah.co.cc)
Ibnu Hajar Al-Asqalani ,Hafal Alquran Sejak Kecil

Ibnu Hajar Al-Asqalani ,Hafal Alquran Sejak Kecil

Voa-Khilafah.co.cc - ''Wudunya ringkas, tapi tepat. Bila berniat (dalam ibadah), cepat jadi. Bahkan, dia mencela orang-orang yang dalam niat selalu waswas dan lama,'' demikian keterangan beberapa ulama tentang pribadi Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Ibnu Hajar Al-Asqalani bernama lengkap Al-Imam al-Allamah al-Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar al-Kinani al-Asqalani al-Syafi'i al-Mishri. Kemudian, ia dikenal dengan nama Ibnu Hajar Al-Asqalani dengan gelar Al-Hafizh. Nenek moyangnya berasal dari Asqalan, kota kuno yang terletak di pantai Suriah dan Palestina, dekat Jalur Gaza.

Beliau lahir di Mesir pada 22 Sya'ban 773 H dan wafat pada 8 Rabiul Akhir (Tsani) 852 H. Ibnu Hajar adalah putra dari pasangan Nuruddin Ali dan Nijar binti al-Fakhr Abu Bakar. Ayahnya dikenal alim dan hafal Alquran lengkap dengan qiraah sab'ah(tujuh bacaan Alquran--Red). Ayahnya wafat ketika dia berumur empat tahun (23 Rajab 777 H), sedangkan ibunya meninggal dunia ketika Ibnu Hajar masih bayi.

Sebelum wafat, ayahnya berwasiat kepada dua orang alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Mereka adalah Zakiyuddin Abu Bakar al-Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al-Mishri. Dalam pengasuhan Al-Kharrubi, Ibnu Hajar tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada usia lima tahun, Ibnu Hajar belajar Alquran dan usia sembilan tahun hafal Alquran. Beliau belajar Alquran kepada Shadruddin Muhammad bin Muhammad Al-Shafthi, seorang ulama ahli qiraah. Dalam usia yang masih kecil, beliau juga menghafal kitab-kitab ilmu pengetahuan agama, seperti Al-Umdah, Al-Hawi Al-Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib, dan Milhatil I'rab.

Semangat Ibnu Hajar untuk belajar ilmu agama begitu tinggi. Tidak hanya di Mesir, beliau juga belajar ilmu agama ke beberapa negara, antara lain Makkah dan Madinah. Pada usia 11 tahun, beliau melaksanakan ibadah haji bersama dengan Al-Kharrubi. Di Makkah, beliau dipertemukan dengan ulama hadis terkenal yang bernama Syekh Afifuddin An-Naisaburi An-Nisywari untuk belajar Shahih Bukhari.

Selain di Makkah, beliau juga ke Damaskus (Syria) untuk belajar sejarah kepada Ibnu Asakir, Ibnu Mulaqqin, dan Sirajuddin Al-Bulqini. Di daerah Palestina, seperti Nablus, Ramalah, Ghuzzah, dan Khalil beliau belajar dengan banyak ulama. Begitu juga di kota Yaman, Ibnu Hajar belajar dengan banyak ulama-ulama terkenal.

Ulama lainnya tempat Ibnu Hajar menuntut ilmu adalah Abul Fadhl al-Iraqi (wafat tahun 806 H). Al-Iraqi inilah yang menjuluki Ibnu Hajar dengan nama Al-Hafizh, dan meminta beliau untuk mengajar dan berfatwa. Abul Fadhl al-Iraqi sangat kagum dengan keilmuan yang dimiliki Ibnu Hajar, terutama dalam bidang ilmu hadis.

Dalam bidang ilmu bahasa arab, Ibnu Hajar belajar kepada Al-Fairuz Abadi RA, penyusun kitab Al-Qamus, juga kepada Ahmad bin Abdurrahman. Untuk masalah Qiraat al-Sab'ah, beliau belajar kepada Al-Burhan at-Tanukhi, dan ulama lainnya, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fikih dan hadis.
Sementara itu, murid-murid beliau, di antaranya Imam Al-Shakhawi (wafat 902 H), Al-Biqa'i (wafat 885 H), Zakaria Al-Anshari (wafat 926 H), Ibnu Qadhi Syuhbah (wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd al-Makki (wafat 871 H), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Karya Ibnu Hajar

Ibnu Hajar Al-Asqalani terkenal sebagai ulama yang sangat pandai, teguh dalam memegang prinsip, dan adil dalam menetapkan hukum. Selama hidupnya, beliau banyak menulis dan menghasilkan karya. Menurut sebagian ulama, jumlah karyanya mencapai 289 judul. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadis secara riwayat dan dirayat (kajian).

Dan, seluruh kitab yang ditulisnya senantiasa mendapatkan sambutan hangat dari umat Islam. Sampai saat ini, karyanya masih banyak dipelajari di berbagai lembaga pendidikan, termasuk di Indonesia. Di antara karyanya itu adalah Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari, Bulugh al-Maram min Adillatil Ahkam, al-Ishabah fi Tamyiz Al-Shahabah, Tahdzib al-Tahdzib, Al-Durar al-Kaminah, Taghliq al-Ta'liq, dan Inbaul Ghumr bi Anba'i al-Umr.

Hakim yang Adil dan Wara'

Ibnu Hajar Al-Asqalani, selain dikenal sebagai ulama yang sangat wara' (senantiasa berhati-hati terhadap sesuatu yang tidak jelas), beliau juga seorang hakim yang sangat adil ketika beliau menjabat sebagai Qadli al-Qudhat(hakim agung).Karena ketegasan dan kekritisannya terhadap sebuah permasalahan, jabatannya sebagai hakim sering kali mengundang ketidakpuasan dari penguasa (pejabat pemerintah) Mesir ketika itu. Dan, karena itu pula, beberapa kali jabatan beliau sebagai hakim agung terpaksa dicopot. Menurut catatan, pencopotan jabatan hakim agung itu terjadi hingga enam kali. Namun demikian, beliau tak pernah meminta jabatan itu, tapi justru penguasa sendiri yang akhirnya meminta beliau kembali untuk jabatan tersebut.

Pejabat pemerintah yang meminta beliau agar mau menjadi hakim agung tersebut adalah Sulthan Al-Muayyad dan Jalaluddin al-Bulqini. Saat pertama kali menerima jabatan hakim agung itu beliau sangat menyesalinya. Sebab, banyak masyarakat yang tidak menghormati seorang hakim, termasuk para pejabat negara yang suka mengancam apabila keinginan mereka ditolak, walaupun permintaan itu bertentangan dengan keadilan dan kebenaran.

Karena kondisi seperti itu, semangat beliau untuk menegakkan kebenaran dan keadilan semakin tegas. Beliau tak pernah takut terhadap kebijakan pemerintah yang memusuhinya. Berbagai pemberian maupun hadiah dari pejabat atau orang yang beperkara selalu ditolaknya. Beliau tidak mau menerima pemberian atau hadiah berupa apa pun. Penolakan itu beliau lakukan demi menjaga diri beliau dari hal-hal yang berbau suap (sogok). Memang, hadiah-hadiah yang ditawarkan kepada beliau berkaitan dengan jabatannya sebagai hakim. Ibnu Hajar menjabat sebagai hakim ini lebih dari 20 tahun.

Ibnu Hajar Al-Asqalani juga dikenal sangat wara'. Ia sangat hati-hati dalam soal makan. Bila terpaksa menghadiri sebuah undangan (walimah), ia pura-pura makan. Terkadang, ia memberikan makanan tersebut kepada orang yang duduk di sampingnya. Sehingga, yang punya hajat menyangka beliau menikmati hidangan tersebut. Hal itu dilakukannya untuk memuliakan tuan rumah. Padahal, tak satu pun makanan yang masuk ke perutnya. Beliau sangat hati-hati dalam hal ini karena takut ada barang yang tidak halal yang masuk ke perutnya.
Itulah Ibnu Hajar Al-Asqalani. Walaupun jabatan tertinggi dijabatnya, baik sebagai hakim agung maupun mufti (orang yang memberi fatwa), beliau tetap tawadlu' (rendah hati) dan senantiasa beribadah kepada Allah, tanpa diketahui orang lain. Beliau selalu berzikir, membaca tasbih, dan beristigfar dalam setiap kesempatan. Butiran tasbih yang dibawa, disembunyikan dibalik lengan bajunya agar tidak diketahui orang lain. Bila terjatuh, beliau cepat-cepat memungutnya dan menyembunyikannya kembali dibalik bajunya.
Di tengah-tengah tugas yang diembannya, beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan meneliti hadis-hadis, membacanya, mengajarkannya kepada umat, menyusun kitab-kitab, mengajar tafsir, hadis, fikih, dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan dengan hafalannya. Beliau mengajar sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya dan mengambil ilmu darinya.

Kepergiannya (wafat) meninggalkan umat, membawa kesedihan yang mendalam. Seluruh rakyat Mesir memberikan penghormatan kepadanya. Bahkan, pasar-pasar yang biasanya ramai, tutup saat beliau meninggal dunia Wa Allahu A'lamu. (republika/voa-khilafah.co.cc)
Teladan Salaf Dalam Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Teladan Salaf Dalam Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan kita pada bulan yang mulia, Ramadhan mubarak. Yang di dalamnya tersedia banyak kebaikan dan keberkahan. Padanya, kita memiliki kesempatan meraih pahala yang besar dan keutamaan yang agung serta ampunan dosa-dosa. Sehingga selayaknya, kaum beriman merasa bahagia dengan kedatangannya, berbunga-bunga hatinya, dan semakin bersinar hidupnya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang telah memberi teladan dalam memanfaatkan Ramadhan dan menghidupkan siang dan malamnya dengan banyak ibadah. Semoga juga, shalawat dan salam itu dilimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya.

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan dan keistimewaan. Salah satunya dengan Al-Qur'an. Karena pada bulan tersebut, kitab suci umat Islam diturunkan. Kitab yang mengandung hidayah untuk kebaikan agama dan dunia mereka. Kitab yang menjelasakan kebenaran dengan sangat terang. Kitab yang menjadi furqan (pembeda) antara hak dan batil, petunjuk dan kesesatan, orang beruntung dan orang celaka.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185)

Kita juga bisa lihat puasa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam diiringi dengan qira'ah Al-Qur'an dan mentadabburinya. Jibril 'alaihis salam selalu datang kepada beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam setiap bulan Ramadhan untuk memperdengarkan bacaan Al-Qur'annya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam orang yang paling pemurah dalam kebaikan. Beliau akan semakin dermawan pada Ramadhan saat Jibril mendatanginya dan mengkaji Al-Qur'an dengannya. Adalah Jibril mendatanginya setiap malam dari malam-malam bulan Ramadhan dan memperdengarkan Al-Qur'an darinya. Maka pada saat ditemui Jibril itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab berkata, "Hadits tersebut menunjukkan sunnahnya mengkaji Al-Qur'an pada bulan Ramadhan, berkumpul untuk mengkajinya. Di dalamnya juga terdapat dalil anjuran memperbanyak tilawah Al-Qur'an pada malam Ramadhan, karena pada malam hari kesibukan telah habis, tekad menguat, sementara hati dan lisan bersatu untuk merenungkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

"Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." (QS. Al-Muzzammil: 6)

Para ulama kita terdahulu juga telah memberi teladan dalam hal ini. Mereka sangat memperhatikan kitabullah di Ramadhan. Misalnya Utsman bin Affan radliyallah 'anhu, pada bulan Ramadlan menghatamkan Al-Qur'an sehari sekali. Sebagian ulama salaf yang lain menghatamkannya pada shalat malam/qiyam Ramadhan setiap tiga hari sekali. Sebagian lain menghatamkannya semingu sekali. Dan yang lainnya sepuluh hari sekali. Mereka membaca Al-Qur'an dalam shalat dan di luar shalat.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Adapun yang menghatamkan Al-Qur'an dalam satu raka'at, maka tidak dapat dihitung karena banyaknya. Di antara ulama terdahulu: Utsman bin 'Affan, Tamim al-Daari, Sa'id bin Jubair Radhiyallahu 'Anhu, beliau menghatamkan dalam satu raka'at di dalam Ka'bah."

Ibnul Hakam berkata, "Adalah Malik -rahimahullah-, apabila sudah masuk Ramadhan beliau lari dari membaca hadits dan berkumpul bersama ulama."

Imam al-Syafi'i rahimahullah, pada bulan Ramadhan menghatamkan Al-Qur'an sampai 60 kali dan itu di luar shalat. Imam Qatadah rahimahullah senantiasa menghatamkan setiap tujuh hari sekali. Pada bulan Ramadhan setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh hari terakhir, menghatamkannya setiap malam.

Imam al-Zuhri rahimahullah jika sudah memasuki Ramadhan tidak lagi membaca hadits dan tidak hadir di majelis ilmu, beliau hanya membaca Al-Qur'an dari mushaf. Beliau mengatakan saat sudah masuk Ramadhan, "Sesungguhnya (pekerjaan itu) hanya membaca Al-Qur'an dan memberi makan."

Abdurazaq berkata, "Sufyan ats-Tsauri jika sudah masuk Ramadhan meninggalkan segala bentuk ibadah dan hanya membaca Al-Qur'an"

Imam al-Dzahabi berkata, "Telah diriwayatkan dari banyak jalur bahwa Abu Bakar bin 'Ayyasy tinggal selama empat puluh tahun menghatamkan Al-Qur'an sekali dalam sehari semalam."

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "(Maksud) adanya larangan membaca Al-Qur'an (menghatamkannya) kurang dari tiga hari yaitu jika dirutinkan tiap hari. Namun, jika di kesempatan yang utama seperti bulan Ramadhan dan tempat yang mulia seperti di Makkah bagi penduduk luar makkah, dianjurkan memperbanyak tilawah Al-Qur'an di sana, untuk menghargai kemuliaan tempat dan waktu tersebut. Ini adalah pendapat imam Ahmad, Ishaq, dan imam-imam lainya. Hal ini didukung dengan amalan selain mereka."

Menangis ketika membaca al-Qur'an

Kebiasaan para ulama terdahulu, mereka tidak membaca Al-Qur'an sebagaimana membaca sair, yaitu tanpa diresapi dan difahami. Mereka sangat terpengaruh dengan kalamullah dan hati mereka terenyuh. Dalam shahih al-Bukhari, dari Abdullah bin Mas'ud radliyallah 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bacakan untukku." Aku menjawab, "Apa aku pantas membacakan Al-Qur'an kepada anda, sedangkan kepada andalah Al-Qur'an ini diturunkan?". Beliau bersabda, "Sungguh aku senang mendengarkan Al-Qur;an dari selainku." Dia berkata, "Aku membaca surah al-Nisa' sehingga ketika aku sampai:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (QS. An-Nisa': 41). Beliau bersabda: "cukup!". Lalu beliau berbalik, tiba-tiba kedua matanya sudah basah.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu berkata: ketika diturunkan

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ

"Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?" (QS. An-Najm: 59-60) Ahlu shuffah menangis sehingga air mata mereka mengalir di pipi-pipi mereka. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendengar tangisan mereka, beliau menangis bersama mereka dan kamipun menangis karena tangisan beliau. Lalu beliau bersabda, "Tidak akan tersentuh api neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah."

Ibnu Umar radliyallah 'anhu pernah membaca surat al-Muthaffifin, ketika sampai:

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

"(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?" beliau menangis hingga pingsan, dan tidak kuasa melanjutkannya.

Dari Muzahim bin Zufar berkata: "sufyan ats-Tsauri shalat Maghrib bersama kami, ketika bacaan beliau sampai

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5) lalu beliau menangis hingga terputus bacaan beliau kemudian mengulanginya lagi dari al-hamdu.

Dari Ibrahim bin al-Asy'asy berkata, "Aku mendengar Fudhail pada satu malam berkata saat ia membaca surat Muhammad, dia dalam keadaan menangis dan bertambah tangisannya saat sampai pada ayat,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (QS. Muhammad: 31)

Beliau berkata, "dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." Dia mengulanginya dan "(ia berkata) Engkau memberi tahu tentang hal ihwal kami, jika Engkau membuka hal ihwal kami berarti Engkau memperlihatkan kesalahan-kesalahan kami dan menyingkap penutup-penutup kami. Jika Engkau menyatakan hal ihwal kami pastinya Engkau membinasakan kami dan menyiksa kami." Dan beliau (Fudhail) menangis."

Demikianlah sekilas gambaran generasi shalih kita terdahulu dalam memakmurkan Ramadhan dengan bacaan Al-Qur'an. Tergerakkah kita untuk meniru mereka? Memperbanyak tilawah Al-Qur'an di bulan ini sekaligus juga mentadabburinya, merenungkan makna-makna-Nya?. Sudah berapa kali hatam-kah kita hingga sekarang? mampukah kita menghatamkan al-Qur'an, walau hanya sekali, dalam Ramadlan kali ini? semoga Allah memberi kekuatan pada kita untuk lebih mencintai kalam-Nya. (PurWD/voa-islam.com/voa-khilafah.co.cc)
Oleh: Badrul Tamam
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL