Tampilkan postingan dengan label WIKILEAKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WIKILEAKS. Tampilkan semua postingan

Informasi yang dipasok ke Kedubes AS oleh Politisi PKS Zulkieflimansyah bukti mahalnya ongkos Demokrasi


Jakarta - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Zulkieflimansyah mengaku pernah ditanya oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) soal uang yang harus dikeluarkan untuk bisa 'bertarung' dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Zul, sapaan akrabnya, diajak bincang-bincang oleh beberapa kedubes, bukan hanya Kedubes AS, saat dirinya maju sebagai calon gubernur Banten 2007.
"Mereka nanya-nanyalah pengeluaran jadi cagub Banten berapa, saya jawab sekitar Rp8 miliar sampai Rp10 miliar," ujarnya, Senin (5/9/2011).
Karena penyelenggaraan Pilkada Banten dan DKI digelar di tahun yang sama, beberapa kedubes menanyakan hal yang serupa. Zul menjawab sekitar Rp15 miliar sampai 20 miliar untuk Pilkada DKI.
PKS mengusung mantan Wakil Kepala Kepolisian RI Adang Daradjatun sebagai cagub. Namun, jagoan PKS tersebut kalah. "Saya ngomong asal saja karena tidak mengikuti urusan Pilkada DKI," imbuhnya.
Informasi dokumen kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta yang dibocorkan Wikileaks diakui oleh Zul. Dokumen tertanggal 25 April 2007 menyebutkan Adang harus membayar sebesar Rp15 miliar hingga Rp25 miliar untuk memperoleh dukungan PKS.
Perkiraan biaya yang harus dikeluarkan Adang yang pernah diucapkan Zul ternyata meleset. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKS Anis Matta pernah membeberkan jumlah uang yang diterima PKS lebih dari Rp20 miliar. Demokrasi, mahal ya?! Selamatkan indonesia dengan syari'ah dan khilafah, menuju indonesia lebih baik. [mah/inilah/voa-khilafah.co.cc]
Proyek Densus Dibiayai Amerika dan Dana Narkoba?

Proyek Densus Dibiayai Amerika dan Dana Narkoba?

BEKASI (voa-khilafah.co.cc) – Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) Munarman SH mengungkapkan, proyek antiterorisme yang dilakukan Densus 88 Antiteror didanai Amerika dan uang panas narkoba. Karenanya, DPR RI harus mengaudit keuangan Densus, dari mana saja sumbernya.

“Kita punya bukti konkret Densus itu dibiayai Amerika, pada awalnya sebesar sebesar $ 12.000.000 atau lebih kurang seratus miliaran lebih. Nah, dana itu kontinyu sampai sekarang,” ungkapnya dalam kuliah umum ilmiah bertema “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi” di Masjid Muhammad Ramadhan, Ahad (9/10/2011).

Salah satu buktinya, papar Munarman, terungkap dalam bocoran kawat diplomatik yang telah dibocorkan Wikileaks baru-baru ini. Salah satu bocorannya telah diberitakan di website bahwa sampai sekarang Densus 88 membagi-bagi hadiah berupa uang yang  salah satunya bersumber dari Amerika Serikat. “Jadi, setiap peristiwa terorisme, setelah penangkapan terhadap para aktivis Islam yang difitnah sebagai teroris itu akan ada bagi-bagi hadiah mereka,” paparnya di hadapan seribuan jamaah kajian yang diadakan oleh Majelis Ilmu Ar-Royyan itu. “Tempat bagi-bagi hadiah itu salah satu tempatnya di pangkalan kontra terorisme mereka. Pangkalan kontra terorisme mereka ini satu ada di Mega Mendung satunya lagi ada di Akpol Semarang.”

Uniknya, kedua pangkalan kontraterorisme itu tak bisa diakses oleh siapapun, bahkan oleh polisi biasa. Kasus ini sama dengan laboratorium Namru di Indonesia. “Namru itu milik Angkatan Laut Amerika Serikat kerjasama dengan Departemen Kesehatan tetapi bahkan Menteri Kesehatan tidak bisa masuk ke laboratorium Namru. Nah sekarang ini kejadian terhadap tubuh kepolisian kita, ada pangkalan-pangkalan mereka yang bahkan polisi sendiri tidak bisa masuk,” jelas Ketua An-Nashr Institute itu.

Munarman menambahkan, peristiwa penangkapan dan pembunuhan aktivis Islam itu diikuti dengan bagi-bagi uang hadiah yang sumbernya dari Amerika Serikat dan dari bisnis narkoba hasil tangkapan Badan Narkotika Nasional (BNN). “Gories Mere kenapa dia ditempatkan jadi kepala BNN? ini sumber uang sebetulnya, karena saat terjadi penangkapan besar-besaran kan barang buktinya ada di BNN itu tidak ada yang tahu kalau barang buktinya dijual kembali untuk biaya-biaya deradikalisasi, itu sumber keuangannya berasal dari situ,” ujarnya.

Menurut Munarman, biaya operasi itu seratus persen ditanggung oleh Amerika Serikat dan biaya dari narkoba, karena pemerintah RI tidak mampu membiayai. “Biayanya ditanggung sepenuhnya oleh Amerika Serikat dan biaya-biaya dari narkoba. Dalam laporan deradikalisasi itu bahkan Gories Mere sendiri menyebutkan, ‘Karena pemerintah tidak menyediakan dana yang cukup untuk program deradikalisasi maka saya dan teman-teman polisi lain mencari sumber dana dari non-APBN,’” ungkapnya.

Untuk itu, Munarman mendesak DPR RI agar mengaudit keuangan Densus. “Itu yang kita minta bersama ustadz Abu Jibriel ke Komisi III DPR RI supaya itu diaudit Densus itu, dari mana sumber duitnya?” desaknya. [taz/ahmed widad/voa-islam/gm/voa-khilafah.co.cc]

Wikileaks : Al Jazeera dikontrol oleh kedutaan Amerika di Qatar?

Wikileaks : Al Jazeera dikontrol oleh kedutaan Amerika di Qatar?

DOHA (voa-khilafah.co.cc) – Menurut informasi yang dirilis Wikileaks berdasarkan laporan kawat Amerika di kedutaan AS untuk Doha, Qatar, Chase Untermeyer, tertanggal 19 Oktober 2005, kepala departemen public relation kedutaan memanggil direktur Al Jazeera, Wadah Khanfar dan sangat menegurnya sehubungan dengan laporan oleh intelijen militer Amerika pada peristiwa perang Irak.

Para perwira Amerika memerintahkan Khanfar untuk mengidentifikasi sumber-sumber Al Jazeera di Irak untuk intelijen AS dan tidak menggunakan kata “kesepakatan” dalam laporan, ketika terjadi sebuah perjanjian lisan antara pemerintah boneka Irak dengan militer Amerika.

Dalam pembelaannya, Khanfar mengatakan :

1. Ada beberapa kesalahan kecil yang kita terima dan alamatkan

2. Laporan intelijen militer AS mengambil potongan-potongan dari keseluruhan dan tidak menyebutkan konteks.

3. Adapun statemen “teroris”, Al Jazeera telah melakukan sensor dan editing, keterangan “teroris” terpaksa digunakan dalam laporan. Namun Anda tidak bisa memaksa rakyat Irak biasa, yang diwawancarai dalam laporan untuk berbicara dalam bahasa demokratik. Dia, Khanfar, sebagai kepala manajer, memerintahkan wartawan untuk menggunakan bahasa demokratik pro-Amerika tetapi ia tidak bisa memberi perintah tersebut kepada rakyat Irak biasa.

Berkenaan dengan Laporan Khusus tentang pembantaian penduduk sipil oleh tentara Amerika di Tal Afar, ia sudah menghapus 2 foto pembantaian di situs Al Jazeera. Khanfar juga berjanji untuk menghapus bukti dari dokter setempat mengenai penggunaan gas beracun oleh tentara Amerika terhadap warga sipil Tal Afar.

Untuk menghindari kemarahan ini berulang, dia, Khanfar memberikan perintah kepada wartawan untuk mengirim semua bahan untuk “Laporan Khusus” kepada dirinya untuk dilakukan penyensoran, Duta Besar Amerika menulis dari Qatar dalam catatan hariannya. (haninmazaya/arrahmah/voa-khilafah.co.cc)
Wikileaks, agen BIN, & konspirasi zionisme Israel hancurkan gerakan Islam

Wikileaks, agen BIN, & konspirasi zionisme Israel hancurkan gerakan Islam

Voa-Khilafah.co.cc - Mencuatnya bocoran Wikileaks yang memfitnah FPI menguak keterlibatan agen BIN Yahya Assegaf dan menyeret pula nama anaknya, Hani Yahya Assegaf. Hani dengan nama alias Han Sagov bersama Benyamin Ketang terlibat mendirikan Indonesia Israel Public Affairs Comitte (IIPAC), sebuah LSM yang menjadi agen zionisme yahudi Israel dunia di Indonesia. Sebuah konspirasi untuk hancurkan gerakan Islam?

IIPAC, LSM kaki tangan zionis yahudi Israel di Indonesia!

IIPAC Logo

Sudah menjadi rahasia umum jika zionisme yahudi Israel berusaha masuk ke Indonesia- negeri dengan komunitas Muslim terbesar di dunia-dengan menghalalkan segala macam cara. Setelah terbongkarnya kedatangan rahasia Amira Arnon-Duta Besar Israel untuk Singapura-ke Jakarta pada tanggal 20-27 Maret lalu, kini tersebar sebuah dokumen yang memperlihatkan nama Hani Yahya Assegaf-anak dari agen BIN Yahya Assegaf-menjadi pendiri LSM Indonesia Israel Public Affairs Comitte (IIPAC), bersama Benyamin Ketang, selaku Direktur IIPAC.

Di dokumen Akta Pendirian IIPAC yang didaftarkan melalui Notaris Nirmawati Marcia SH di Jakarta tertanggal 21 Januari 2002, tercatat nama-nama pendiri IIPAC, yakni sebanyak 5 orang, yaitu :
Benyamin Ketang
Mr. Sakata Barus
Mr. Poppe Alexander Z
Mr. Hani Yahya Assegaf alias Han Sagov
Mr. Y. Gatot Prihandono, SSI

Di Pasal 2 Akta Pendirian tersebut dijelaskan tujuan IIPAC, yakni untuk menyelenggarakan kerjasama dengan lembaga-lembaga Israel, Yahudi Internasional, dan melindungi hak-hak warga Yahudi dan keturunan Yahudi di Indonesia serta memajukan kerjasama bisnis, investasi, IT, dan pendidikan tinggi dengan universitas di seluruh dunia.

Dalam artikel yang ditulis oleh Artawijaya berjudul “Waspada, Hubungan Gelap Penguasa dan Pengusaha Israel” dijelaskan bagaimana Direktur IIPAC, Benyamin Ketang, begitu bernafsu untuk bisa membuka hubungan dengan zionis yahudi Israel.

Benjamin Ketang

Benjamin Ketang mengatakan,”Saya rasa dampak ekspansi Israel di Indonesia tidak perlu 10 tahun dari sekarang. Tiga tahun saja kalau ada komando dari Israel, maka mereka akan beramai-ramai datang ke Indonesia,” ujarnya. Pria asal Jember, Jawa Timur, yang merupakan alumnus Hebrew University ini kemudian menegaskan, “Tradisi orang Yahudi itu kalau komunikasi selalu dengan high level, levelnya pasti presiden atau menteri…” Ketang yang membidani lahirnya lembaga lobi Yahudi di Indonesia ini menyatakan, investor Israel saat ini melirik sektor teknologi informasi dan pertanian. Dua sektor ini tentu sangat strategis dan penting, karena berkaitan denga hajat hidup orang banyak.

Sementara itu Munarman menjelaskan kaitan Hani Yahya Assegaf, sebagai pendiri ke-3 dari IIPAC dengan Benyamin Ketang, dan agenda zionisme yahudi internasional.

“Kalau kita perhatikan tujuan IIPAC dalam pasal dua jelas, yakni untuk menyelenggarakan kerjasama dengan lembaga-lembaga Israel, Yahudi Internasional. Yahudi Internasional ini jangan lupa, sebagaimana dalam buku “International Jews” karya Henry Ford, itu jelas sekali bagaimana kejahatan-kejahatan International Jews ini. Nah, dia bekerjasama dengan lembaga-lembaga internasional yahudi tersebut, dan melindungi hak-hak warga Negara Yahudi dan keturunan Yahudi di Indonesia. Jadi jelas sekali agendanya apa. Serta memajukan kerjasama bisnis, investasi, IT, dan pendidikan tinggi dengan universitas di seluruh dunia. Saya kira agendanya sangat jelas sekali. Benyamin Ketang sendiri kalau kita lihat di dokumennya, adalah lulusan Hebrew University. Jadi dia memang dididik di Yerusalem, dia lulus tahun 2006, dengan gelar Master of Arts. Jadi, kaitannya jelas sekali antara Hani Assegaf, Benyamin Ketang, dan Yahya Assegaf. Clearly!”

Dalam sebuah dokumen, nampak ijazah Benyamin Ketang, lelaki kelahiran 22 September 1972, asal Dusun Krajan RT 03/04 Desa Taman Sari Wuluhan, Jember, Jawa Timur, lulusan The Hebrew University of Jerusalem, Rothberg International School. Kelulusannya dalam ijazah tersebut ditanda tangani oleh Prof. Steven Kaplan, tertanggal 28 Juli, 2006.

Arta Wijaya

Menurut Artawijaya, Benjamin Ketang adalah kader muda NU binaan Gus Dur yang berhasil menyelesaikan studi masternya di Hebrew University, Jerussalem. Benjamin Ketang yang bernama asli Nur Hamid adalah kader muda NU yang diplot untuk membangun sebuah jejaring politik dan bisnis Yahudi di Indonesia. IIPAC yang diketuai Ketang beraliansi ke AIPAC dan Australia Jewish Comitte.

Menurut Benjamin Ketang sendiri, kemunculan IIPAC berawal dari kegagalan upaya Menteri Luar Negeri Alwi Shihab (1999-2001) atas sokongan Presiden Abdurrahman Wahid untuk membuka hubungan dagang dengan Israel. Tak lama setelah kegagalan rencana Wahid dan Alwi itulah, terbentuk sebuah lembaga berbasis di Jakarta yang bercita-cita mengarahkan opini publik dan elit Indonesia agar pro-Israel. Lembaga yang dikendalikan delapan orang itu bernama Indonesia-Israel Public Affairs Committee, disingkat IIPAC. Logonya Bintang Daud bersegi selusin tapi warna dasarnya merah dan putih.

Unggun Dahana

Benyamin Ketang, Unggun Dahana, dan komunitas yahudi di Indonesia yang dibangunnya pernah merencanakan untuk merayakan kemerdekaan Israel, Sabtu 14 Mei 2011 lalu. Selain itu, mereka bersama dengan aktivis yahudi isreal lainnya, pernah mengadakan seminar akhir zaman “Persiapan Pembangunan Bait Allah” di Kelapa Gading Trade Center Hypermart Lt.2, Sabtu (25/06/2011).

Dalam sebuah semiloka bertajuk “Mengungkap Jaringan Yahudi di Indonesia, Ahad (31/1/2010), Munarman, SH mengatakan bahwa jaringan yahudi menjalankan operasinya di Indonesia dengan menggunakan cover atau samaran. Salah satunya adalah kegiatan dagang.

“Cara yang paling ampuh dalam mengelabuhi masyarakat adalah dengan informasi. Alatnya adalah media massa untuk melakukan propaganda. Propaganda itu dilakukan dengan menampilkan citra diri baik, menyembunyikan keburukan dirinya, dan membongkar kejelekan pihak lawan. Itulah yg dilakukan oleh media massa zionis Israel“.

Wikileaks : Anti Islam, pro Israel!

Pendiri Wikieaks, Julian Assange

Kini menjadi lebih jelas mengapa Wikileaks membocorkan dokumen yang memfitnah FPI dan kaitannya dengan Yahya Assegaf, agen BIN, dan anaknya Hani Assegaf, yang merupakan pendiri IIPAC. Wikileaks, yang awalnya mendapat simpati seluruh dunia karena menjadi organisasi internasional pembocor dokumen Negara melalui situsnya, sejak November 2010, ternyata tidak lain hanya merupakan antek Zionism yahudi internasional. Hal ini semakin diperkuat dengan tidak adanya dan tidak beraninya Wikileaks membocorkan kawat diplomatik kedubes Amerika yang ada di Tel Aviv, Israel.

Hingga saat ini, belum penah ada rilis bahwa Wikileaks membocorkan dokumen kawat diplomatik kedutaan besar Amerika yang ada di Tel Aviv, Israel, yang mengungkapkan kebobrokan ataupun adanya skandal politik di negeri zionis tersebut. Bahkan, kalau kita telusuri ke halaman penyimpanan dokumen Wikileaks, kita hanya menemukan 3 buah artikel tentang Israel, yang itupun belum dipublikasikan.

Sebenarnya, keberadaan organisasi Wikileaks dan para pendirinya juga cukup misterius. Hingga saat ini, hanya Julian Assange yang diketahui identitasnya oleh publik. Assange juga menjabat sebagai direktur dan anggota dari Dewan Penasihat Wikileaks. Sebelum mendirikan Wikileaks, Assange yang berasal dari Australia merupakan seorang penerbit dan jurnalis. Julian Assange dipilih untuk mewakili Wikileaks di publik karena keadaan dirinya yang tidak memiliki rumah ataupun keluarga sehingga dianggap merupakan sosok yang tepat. Sementara itu, pendiri Wikileaks yang lainnya memilih untuk tidak mengungkapkan identitasnya.

Sayangnya, bocoran dari Wikileaks terlanjur dipercaya publik. Padahal, tidak sedikit informasi dari Wikileaks justru menyesatkan dan merugikan umat Islam, contohnya dalam kasus fitnah terhadap FPI.


Munarman SH, berpendapat bahwa bocoran-bocoran Wikileaks itu penuh dengan rekayasa dan keganjilan. Karenanya, Munarman menyayangkan ketidakkritisan media dalam mengutip bocoran Wikileaks. Semestinya, media mengungkapkan fakta-fakta ganjil dan pola kerja Wikileaks yang hanya bersumber pada kawat diplomatik Amerika kepada Washington, ungkapnya dalam sebuah wawancara, Senin (5/09/2011).

“Kalau kita lihat pola yang ada di Wikileaks maka mereka selalu mengambil sumbernya dari kawat diplomatik kedutaan Amerika di seluruh dunia, baik itu Indonesia, Malaysia, hampir semua Negara pernah dibocorkan oleh Wikileaks dan itu sumber satu-satunya adalah kawat diplomatik yang merupakan laporan diplomat-diplomat Amerika kepada Washington. Namun kita harus melihat dengan jernih, belum pernah ada bocoran kawat diplomatik oleh kedutaan Amerika di Tel Aviv, Israel. Jadi tidak pernah ada penilaian oleh diplomat Amerika terhadap kondisi Israel yang dibocorkan oleh Wikileaks. Ini adalah sebuah fakta yang harus menjadi perhatian. Dari sini sebetulnya kita bisa melihat sebetulnya fungsi dari Wikileaks adalah membuat destabilisasi di rezim-rezim dimana Negara yang rezimnya sudah tidak disukai Amerika, untuk menggoyang.”

Beliau menambahkan bahwa modus yang ditempuh Wikileaks penuh rekayasa dan menghalalkan segala cara. Salah satunya adalah dengan metode viktimisasi yang mengesankan pendiri Wikileaks sebagai sosok tertindas dan paling diburu Amerika. Padahal faktanya sampai sekarang pendiri Wikileaks masih aman-aman saja.

“Jadi mereka mau mengesankan kepada publik terlebih dahulu bahwa Jullian Assange diblame, dicap sebagai orang yang ditindas karena membocorkan informasi, agar Jullian Assange dan Wikileaks tidak lagi dicurigai informasinya tidak akurat. Dengan dia diburu oleh pemerintah Swedia dan kemudian Amerika pura-pura ikut. Tapi sampai sekarang tidak pernah ditindak, bahwa Amerika akan melakukan tuntutan hukum kepada Jullian Assange tidak pernah ketahuan sampai sekarang, gertak sambal itu. Dengan memposisikan sebagai korban tanpa reserve terlebih dahulu nantinya orang akan mendukung, ini yang terjadi dengan Wikileaks sekarang. Apa pun yang dikeluarkan oleh Wikileaks orang sudah tidak mempertanyakan lagi, karena menganggap Wikileaks ini bertentangan dengan Amerika, bertentangan dengan negara-negara barat tapi tidak ada satu pun informasi yang keluar mengenai Israel,” pungkasnya.

Kini, jelaslah sudah hubungan dan kaitan antara Wikileaks, agen BIN, dan konspirasi zionisme Israel untuk menghancurkan gerakan Islam. Waspadalah, Waspadalah…!

(M Fachry/arrahmah/voa-khilafah.co.cc)
WikiLeaks: Lee Kuan Yew Bilang, Islam Adalah Agama Beracun

WikiLeaks: Lee Kuan Yew Bilang, Islam Adalah Agama Beracun

Singapura (voa-khilafah.co.cc) - Menurut WikiLeaks, dalam laporan komunikasi bocor oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Singapura, mantan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Kuan Yew Lee berkata Islam adalah ‘agama yang beracun’ (venomous religion).

Lee menyampaikan hal tersebut saat bertemu Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton yang tengah berkunjung ke negaranya. Ketika itu, Clinton masih seorang senator. Namun, Lee yang dikutip Straits Times, menyangkal klaim ini. “Tak ada bagian dalam notulen pertemuan yang menyatakan saya mendeskripsikan Islam sebagai racun,” kata Lee.

Ia bahkan menyangkal melontarkan kalimat yang memberi kesan demikian. Bocoran dokumen dari WikiLeaks ini merupakan salah satu dari 700 dokumen yang berasal dari Kedubes AS di Singapura.

Lee Kuan Yew mengatakan bahwa dia mengaku salah atas pernyataannya bahwa masyarakat muslim di negeri kota itu menghadapi kesulitan dalam berintegrasi dengan penduduk Singapura lainnya, demikian media Singapura melaporkan seperti dikutip AFP, Selasa (8/3).

Dalam satu pernyataannya, Lee mengatakan bahwa pandangan kontroversialnya itu –yang termaktub dalam buku “Lee Kuan Yew: Hard Truths to Keep Singapore Going” dan diterbitkan pada Januari– telah usang.

“Hard Truths adalah sebuah buku yang didasarkan pada 32 wawancara dalam jangka waktu dua tahun. Saya menyampaikan komentar yang satu itu (yaitu) mengenai integrasi warga muslim dengan komunitas lainnya, kemungkinan besar dua atau tiga tahun lalu,” kata Lee dalam satu pernyataan tertulisnya di media lokal.

“Para menteri dan anggota parlemen, baik orang Melayu maupun non-Melayu, telah berkata pada saya bahwa warga Melayu Singapura sebenarnya telah melakukan upaya-upaya khusus untuk berintegrasi dengan komunitas lainnya, terutama sejak (Serangan Teror) 9 September, dan perkataan saya itu sudah ketinggalan zaman,” tambah Lee.

Singapura mayoritas berpenduduk keturunan Cina, sementara ras-ras minoritasnya di antaranya adalah Melayu dan India. "Saya mengaku keliru. Saya harap bahwa kecenderungan ini akan berlanjut di masa datang," kata Lee (87), yang tetap menjadi penasihat pemerintah berpengaruh lewat posisinya sebagai menteri utama.

Pernyataan ini disampaikan menyusul ungkapan ketidaksenangan komunitas muslim Singapura atas pernyataan Lee di bukunya itu, di tengah harapan besar bahwa pemerintah akan menyerukan pemilu tahun ini.

Dalam buku itu, Lee menegaskan bahwa kaum muslim Singapura menghadapi kesulitan berintegrasi karena kepatuhan mereka kepada ajaran-ajaran Islam, dan mendesak umat Muslim untuk “menjadi kurang ketat dalam menjalani ketaatan Islam.

“Saya akan katakan sekarang bahwa kita bisa mengintegrasikan semua agama dan ras, kecuali Islam,” kata Lee dalam bukunya itu.

“Saya kira kita tengah berproses sangat baik sampai kemudian Islam datang, dan jika Anda tanya mengenai pengamatan saya, maka komunitas-komunitas lain lebih mudah berintegrasi –dalam berteman, pernikahan dan seterusnya,” kata Lee. (Desastian, voa-islam/voa-khilafah.co.cc)
Wawancara Eksklusif dengan Munarman, SH : โ€œAgen BIN Yahya Assegaf ingin aborsi gerakan Islamโ€

Wawancara Eksklusif dengan Munarman, SH : “Agen BIN Yahya Assegaf ingin aborsi gerakan Islam”


Voa-Khilafah.co.cc - Ormas Islam kembali diobok-obok oleh tangan-tangan jahil yang membenci tegaknya syariat Islam. Kali ini Front Pembela Islam (FPI) yang menjadi sasaran tembak. Mengutip seorang pejabat senior BIN, Yahya Assegaf, Wikileaks mengumbar telegram rahasia yang mengungkapkan pemanfaatan FPI yang dianggap sebagai ‘attack dog’ Polri. Ada apa di balik ini semua? Berikut wawancana eksklusif dengan Munarman, SH., selaku Ketua Dewan Pengurus Pusat Front Pembela Islam (FPI) di kantor beliau, Senin (5/09/2011).
Arrahmah.com (AR) : Assalamu’alaikum.wr.wb!
Munarman (MR) : Wa’alaikumussalam.wr.wb!
AR : Sebelumnya Taqabbalallahu minna wa minkum, Bang!
MR : Taqabbal Ya Kariem…!
AR: Wikileaks membocorkan kawat diplomatik kedubes AS tertanggal 19 Februari 2006 yang mengutip pernyataan anggota BIN, Yahya Assegaf bahwa FPI adalah “attack dog” bagi kepolisian. Bagaimana menurut Abang?
MR : Pertama, penggunaan pilihan-pilihan kata yang digunakan oleh diplomat Amerika menurut saya adalah pilihan-pilihan kata yang sangat kasar, dengan “attack dog” tadi misalnya. Jadi, ini memang gaya Amerika, gaya koboi Amerika, yang memandang rendah semua yang di luar kelompok mereka. Kedua, yang perlu ditelusuri adalah sumber dari diplomat Amerika, karena Wikileaks mendapat sumber dari diplomat Amerika. Nah, diplomat Amerika ini mendapat sumber dari mana. Ternyata diplomat Amerika ini mendapat sumber dari orang BIN (Badan Intelejen Negara) yang bernama Yahya Assegaf. Itu disebut dalam kawat rahasia tersebut. Saya perhatikan, paling tidak ada dua kali, nama Yahya Assegaf ini keluar dari Wikileaks dan disebut sebagai orang BIN, yang pertama dokumen tentang FPI ini, dan yang sebelumnya adalah dokumen bahwa di lingkungan istana penasehat utamanya adalah istri presiden, itu sumbernya juga Yahya Assegaf. Ini artinya, sumber informasi ini adalah dari orang Indonesia juga,dan celakanya, dia adalah orang BIN. Nah, yang perlu kita perhatikan adalah, kalau di Amerika, identitas anggota CIA tidak bisa dibuka, bahkan para aparat pemerintah yang ada di Amerika, kecuali direktur CIA, dan menteri pertahanan, dan presiden, tidak tahu siapa agen CIA itu. Nah, di Indonesia ini aneh, agen BIN, jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai agen, itu diketahui oleh kedutaan asing. Jadi artinya apa, fungsi-fungsi kontra intelejen tidak bisa dilakukan lagi oleh BIN ini, karena agen-agennya sudah diketahui orangnya siapa saja. Justru yang sekarang ini terjadi, agen BIN membocorkan atau lebih tepatnya menjual informasi kepada diplomat Amerika. Ini sebuah keadaan yang sangat memprihatinkan. Karena jika agen BIN telah menjual informasi kepada pihak asing, apalagi Amerika, maka ini sudah masuk kategori pengkhianatan, apalagi kalau dijual ke pihak AS yang dikenal selalu memiliki agenda untuk intervensi. Inilah kondisi Negara ini, agen-agen intelejennya dikuasai oleh pihak-pihak asing. Ketiga, yang perlu dikritisi adalah akurasi berita yang disampaikan oleh Yahya Assegaf. Kenapa, Yahya ini dulu pernah mencoba menyusup kepada FPI untuk mengendalikan FPI tentunya, bahkan untuk mengaborsi FPI sebagai sebuah gerakan. Dengan cara apa, yakni dengan cara memprovokasi FPI supaya melakukan tindakan keras melawan polisi dengan cara zero sum game, mati atau hidup. Inikan provokasi yang dilakukan ketika FPI saat itu masih belum siap, baik dari sisi organisasi maupun segala macam, dan FPI tidak disiapkan untuk berkonfrontasi seperti itu. Karena dia gagal memprovokasi, maka kemudian dia mengatakan bahwa FPI adalah ‘attack dog’ polisi, karena tidak mau diprovokasi untuk melawan polisi. Itu sebetulnya kesimpulan Yahya Assegaf yang dijual kepada diplomat Amerika. Jadi bahasa bahwa FPI adalah ‘attack dog’ itu analisa Yahya Assegaf yang tidak bisa memprovokasi FPI untuk melawan polisi. Bahkan di dalam dokumen Wikileak disebut FPI akhirnya menjadi ‘monster’, ini artinya FPI tidak ada yang bisa mengendalikan, dan itu artinya kegagalan. Itu yang harus dilihat, jadi tidak ada yang bisa mengendalikan FPI!
Kemudian, pernyataan lainnya dari dia tentang FPI sudah jadi tradisi dibiaya oleh BIN dan polisi adalah hal yang tidak ada faktanya. Pernyataan itu keluar karena dia kecewa tidak bisa mengendalikan FPI dan dia ketahuan oleh para pengurus FPI bahwa dia adalah orang intelejen. Maka dia melakukan black propaganda, memfitnah FPI sebagai ‘attack dog’polisi. Jadi, ini poin penting dari dokumen yang telah dikeluarkan oleh Wikileaks.
AR : Apa motivasi Yahya Assegaf menyusup ke FPI?
MR : Sebetulnya dalam teori intelejen ada yang namanya aborsi gerakan, jadi yang dilakukan ke FPI dulu adalah menyusup lalu memprovokasi dan membunuh gerakan tersebut ketika sebelum waktunya, sebagaimana aborsi dalam pengertian medis, dikeluarkan sebelum waktunya. FPI diprovokasi untuk melakukan tindakan yang konfrontatif sebelum waktunya, jadi diharapkan, pada akhirnya tidak ada gerakan Islam di Indonesia yang mampu melakukan koreksi dan mampu menjalankan syariat Islam. Itu sebenarnya agenda utamanya.
AR : Apakah ada kaitan dengan Wikileaks yang selalu membocorkan informasi-informasi penting di negeri ini ?
MR : Saya kira begini, kalau kita lihat pola yang ada di Wikileaks maka mereka selalu mengambil sumbernya dari kawat diplomatik kedutaan Amerika di seluruh dunia, baik itu Indonesia, Malaysia, hampir semua Negara pernah dibocorkan oleh Wikileaks dan itu sumber satu-satunya adalah kawat diplomatik yang merupakan laporan diplomat-diplomat Amerika kepada Washington. Namun kita harus melihat dengan jernih, belum pernah ada bocoran kawat diplomatik oleh kedutaan Amerika di Tel Aviv, Israel. Jadi tidak pernah ada penilaian oleh diplomat Amerika terhadap kondisi Israel yang dibocorkan oleh Wikileaks. Ini adalah sebuah fakta yang harus menjadi perhatian. Dari sini sebetulnya kita bisa melihat sebetulnya fungsi dari Wikileaks adalah membuat destabilisasi di rezim-rezim dimana Negara yang rezimnya sudah tidak disukai Amerika, untuk menggoyang. Ini ada pemanfaatan. Jadi, bisa saja ketika pendiri Wikileaks Julian Assange didakwa memperkosa dan sebagainya itu adalah sebuah skenario, karena di dalam gerakan zionis internasional, para tokohnya diperankan diburu dan tertindas. Jadi, mereka ingin mengesankan kepada publik bahwa tokoh mereka ditindas, sebagaimana Julian Assange yang dikejar dan di cap sebagai orang yang ditindas karena telah membocorkan informasi. Itu agar Julian dan Wikileaks tidak lagi dicurigai. Terbukti Amerika sampai saat ini juga tidak melakukan apapun kepada Julian Assange. Jadi ini memang pola mereka. Ini taktik khas geraka zionisme internasional, yakni memberi kesan bahwa mereka adalah korban. Jadi, apa yang keluar dari Wikileaks langsung saja diterima dan tidak dipertanyakan lagi. Padahal, kalau kita perhatikan hingga saat ini Wikileaks tidak pernah membocorkan kawat rahasia tentang Israel! Ini khas betul sebagai sebuah gerakan zionis internasional.
AR : Kembali ke Yahya Assegaf, pemberi informasi ke Wikileaks. Siapa dia sebenarnya? Ada informasi, anaknya ternyata juga anggota BIN dan ikut mendirikan organisasi zionis internsional.
MR : Informasi yang kita punya, dan ini sudah ditulis oleh bocoran Wikileaks bahwa kedubes Amerika mendapatkan informasi dari agen senior BIN yang bernama Yahya Assegaf. Jadi bukan kita yang menginformasikan bahwa Yahya ini agen BIN, melainkan Wikileaks sendiri. Informasi yang lain juga menyebutkan bahwa dia memang agen BIN, dan memang tugasnya dia adalah masuk ke berbagai pergerakan Islam, termasuk anaknya. Anaknya yang bernama Hani Yahya Assegaf, yang menggunakan nama Israel, Hansagov, bahkan mendirikan Indonesia Israel Public Affairs Comitte (IIPAC), sebuah LSM yang memiliki agenda untuk mempromosikan zionisme internasional. Itu ada di anggaran dasar IIPAC, tujuannya jelas adalah membangun hubungan dengan Israel dan pada tingkatan yang kongkrit secara politik sampai berdirinya kedutaan besar Israel di Indonesia. Bahkan dalam beberapa wawancara di media, orang-orang IIPAC menyatakan akan mempromosikan beberapa nama untuk menjadi presiden. Itu artinya, supaya ketika mereka memiliki pengaruh kepada kandidat presiden dan berhasil menjadikan kandidat tersebut presiden, maka harapan mereka akan terwujud, yakni mendirikan kedutaan Israel di Indonesia. Itulah agenda utamanya. Beberapa  informasi lain bahkan menyebutkan bahwa Hani Yahya Assegaf ini juga menyusup ke berbagai aktivis Islam lainnya, termasuk aktivis-aktivis gerakan jihad, bahkan dikabarkan sempat tidur bersama, sempat membiayai. Bahkan dia sempat memberi uang sampai hampir 1.000 dollar kepada aktivis gerakan jihad, untuk mendapatkan informasi segala macam, membiayai keberangkatan ke luar negeri, membuatkan paspor palsu, kepada aktivis-aktivis gerakan Islam dan gerakan jihad, tujuan utamanya kembali kepada menggunakan taktik aborsi, agar ketika jaringannya diketahui lalu diprovokasi agar melakukan tindakan yang bisa dihukum, itu akan diserang dengan proses hukum agar gerakannya mati. Itu sebenarnya agenda mereka kepada gerakan Islam!
AR : Mengapa Wikileaks tiba-tiba keluarkan bocoran ini?
MR : Setelah beberapa waktu lalu media massa dipenuhi dengan agenda pembubaran ormas Islam, dan kini isu tersebut sudah menurun. Artinya mereka tidak berhasil menggunakan cara itu. Sekarang mereka mengubah taktik, dengan pembusukan. Oleh karena itu, mereka menyebarkan informasi yang kredibel tadi, yang orang tanpa reserve, yang orang tidak lagi kritis, dan akhirnya informasi tadi dikutip oleh pelbagai media, untuk menjatuhkan kredibilitas dengan menganggap gerakan-gerakan Islam adalah menjadi semata-mata alat suatu rezim tertentu saja, yang dalah hal ini adalah polisi. Itu yang mereka mau sebenarnya sekarang ini. Dan lagi-lagi cara-cara seperti ini, yakni menghancurkan kredibilitas gerakan Islam adalah ciri khas gerakan zionisme internasional.                
AR : Kalau begitu FPI difitnah?
MR : Dalam soal ini ya! Meski saya sendiri baru di FPI, tapi saya sudah klarifikasi ke pengurus-pengurus lama, dan mereka menyatakan bahwa tidak pernah ada itu, donator sebagaimana yang pernah mereka sebutkan, tidak pernah ada itu. Kalau benar ada, mungkin FPI gedungnya sudah 10 lantai. FPI juga tidak lagi repot minta sumbangan. Karena saat ini, kalau hendak mengadakan kegiatan tertentu, maka kita sumbangan, keluar dari kantong masing-masing, baik pengurus maupun jama’ah. Nah, itu yang coba mereka berangus, yakni eksistensi gerakan Islam, bukan cuma FPI saja.
AR : Kalau FPI sendiri memiliki prosedur standar operasional kalau ingin aksi?
MR : Jelas, ada di prosedur juang kita, ada 10 tahapan, 10 tahapan tersebut bisa memakan waktu sekitar 2 bulan sampai 1 tahun. Dimulai dengan berkirim surat terlebih dahulu, mengirimkan peringatan, mengirimkan surat protes kepada pejabat yang berwenang, sampai akhirnya demo dan aksi. Dalam setiap prosedur tersebut ada larangan melanggar hukum agama dan Negara. Jadi saya kira apa yang terjadi belakangan ini di berbagai tempat ada campur tangan dari agen-agen intelejen. Sebagaimana saya ceritakan tadi, dulu anaknya Yahya Assegaf, yakni Hani Assegaf, pernah menceritakan kepada seseorang bahwa dia pernah mencoba memprovokasi FPI agar melawan polisi dengan bambu runcing. Ini contoh dari penyusupan dan provokasi untuk melawan dengan membabi buta dan tanpa strategi.
AR : Melihat kondisi ini, apa pesan untuk ormas Islam dan kaum Muslimin?
MR : Saya kira yang penting untuk dibangun, baik itu aktivis Islam, maupun ormas Islam, adalah sense of intelegent, kemampuan atau daya sensitive untuk melakukan kontra terhadap intelejen. Saya kira ini yang masih lemah di pergerakan Islam. Karena saya kira aktivis pergerakan Islam ini berfikirnya husnudzon atau berprasangka baik, sebelum terbukti bersalah. Ini sah-sah saja dan juga tuntunan dari Rasulullah SAW. Hanya saja kita harus melihat kepada siapa kita harus su’udzon atau berprasangka buruk. Artinya kalau kepada fihak-fihak yang jelas-jelas memiliki agenda menentang penegakan syariat Islam, maka kita harus waspada betul. Hal ini juga dicontohkan sebagaimana dalam Al Qur’an Surat At Taubah, ayat 108 sampai 110.  
AR : Terakhir bang, bagaimana dengan Ahmadiyyah, FPI masih terus upayakan pembubarannya?
MR : Terus, itu terus. FPI akan menggunakan mekanisme yang disediakan untuk membubarkan Ahmadiyyah, yakni wewenang presiden. Untuk ditingkat awam umat Islam, kita sudah berhasil dengan mensosialisasikan bahwa Ahmadiyyah itu sesat. Orang sekarang sudah tahu semua bahwa Amadiyyah itu sesat. Satu agenda itu sudah tercapai. Tinggal lagi secara hukum, dan itu kewenangan Negara, kewenangan presiden untuk membubarkan Ahmadiyyah, dan itu akan kita desak terus! Jangan lupa juga, FPI melihat, di belakang Ahmadiyyah ini dan merupakan perisai mereka adalah kaum liberal, baik yang ada di lingkungan kekuasaan, kalangan LSM, maupun media. Mereka inilah yang melindungi Ahmadiyyah sebetulnya, sehingga Negara ini tidak mampu menjalankan tugasnya. Mereka-mereka inilah yang sebenarnya melanggar hukum, menentang hukum yang mereka buat sendiri. Mereka ini khawatir dengan gerakan Islam dan kebangkitan Islam. Jadi, mereka menginginkan gerakan Islam hilang atau hancur. Sehingga mereka berupaya mengaborsi gerakan Islam atau menghancurkan kredibilitasnya.              
AR : Jazakallah bang, Wassalamu’alaikum.wr.wb!
MR : Wa iyyakum, Wa’alaikumussalam.wr.wb!
(M Fachry/arrahmah/voa-khilafah.co.cc)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL