Tampilkan postingan dengan label KEBANGKITAN ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEBANGKITAN ISLAM. Tampilkan semua postingan
Kegagalan Kebangkitan Indonesia

Kegagalan Kebangkitan Indonesia

Voa-Khilafah.co.cc - Berbicara tentang kebangkitan sebuah bangsa, kita harus menetapkan dulu apa definisi kebangkitan itu; apa indikator sebuah bangsa dikatakan telah bangkit, maju, kuat dan mandiri; juga sebaliknya, kapan bangsa itu itu disebut bangsa yang gagal, terbelakang, lemah dan pengekor.
Pertama-tama kita bisa menggunakan definisi yang relatif berlaku umum. Bangkit berarti bangun dari suatu kondisi yang dianggap memiliki kemampuan lebih rendah, misalnya dari posisi berbaring ke duduk, dari duduk menjadi berdiri, dan dari berdiri menjadi berjalan atau berlari. Dalam konteks sosial-politik, bangkit adalah berubah dari posisi “mati” (statis) menjadi “hidup” (dinamis) secara sosial-politik.
Dari sisi kualitas, bangkit menuju hidup ini ada tiga tingkatan (level), yaitu:
1) Level-1: bergerak ke arah yang positif (self-build), tidak merusak diri sendiri (self-destroy);
2) Level-2: melakukan sesuatu yang ada hasilnya (produktif), yang tidak habis sekali pakai;
3) Level-3: memberikan sesuatu yang kontributif kepada orang banyak atau masa sesudahnya.
Untuk ukuran sebuah bangsa, bangsa yang statis adalah bangsa yang sepenuhnya bergantung kepada bangsa lain, baik dalam perkara mempertahankan hidupnya, menjaga martabatnya, maupun mewujudkan cita-citanya. Kehidupan maupun keamanannya ada di tangan bangsa lain. Bahkan mungkin untuk pangan, air dan energi harus disuplai atau disubsidi bangsa lain. Hukum yang berlaku dan siapa penguasa yang menjalankan hukum itu sepenuhnya juga ditentukan bangsa lain. Tentu saja, apa saja yang dianggap baik yang perlu diperjuangkan sebagai cita-citanya juga diberikan oleh bangsa lain yang menguasai bangsa tersebut. Bangsa tersebut menjadi “bangsa robot” meski mungkin memiliki kemajuan material yang tinggi seperti adanya konstruksi pencakar langit, pabrik-pabrik, perkebunan, pertambangan besar, atau penggunaan teknologi transportasi atau informasi yang canggih. Namun, semua kemajuan material ini dirancang asing, dioperasikan di bawah supervisi asing dan keuntungannya juga paling banyak dinikmati oleh asing.
Sebuah bangsa dikatakan keluar dari kondisi statisnya ketika dia mulai merintis untuk memiliki kemauan dan kemampuan sendiri guna mempertahankan kehidupannya, menjaga martabatnya dan mewujudkan cita-citanya. Proses inilah yang sering disebut perjuangan kemerdekaan. Persoalannya, sejauh mana kualitas “merdeka” setelah bangkit tersebut?
Sebuah bangsa dapat dikatakan telah bangkit pada Level-1 ketika setelah merdeka benar-benar bergerak positif, kondisinya tidak sama atau makin buruk dengan sebelumnya. Namun, jika setelah “merdeka” kemudian terjadi perang saudara, ekonomi memburuk, pendidikan tidak lagi berjalan, dan di jalanan berlaku hukum rimba, maka Level-1 ini pun tidak tercapai. Baru setelah Level-1 tercapai, bangsa itu dapat meraih Level-2 atau Level-3.
Level-2 adalah ketika kebangkitannya itu memberi dirinya kemampuan untuk produktif, menghasilkan SDM cerdas berkualitas, membuat sendiri fasilitas produksi yang mampu membuat dirinya mandiri, sekalipun belum lebih maju dari capaian material yang dimiliki negara lain. Intinya bukan kualitas capaian materialnya, tetapi bahwa itu dirancang sendiri, dioperasikan sendiri dan keuntungannya lebih untuk mereka sendiri.
Pada Level-3, mereka benar-benar dapat memberikan kontribusi ke luar, bahkan ke masa sesudahnya. Kontribusi ini bergantung pada visi yang dia emban; bisa positif, bisa negatif. Mereka bisa membebaskan atau memajukan bangsa lain, bisa pula menjajah bangsa lain.

Peta Kebangkitan Dunia
Saat ini ada bangsa-bangsa yang statis, misalnya sejumlah negeri jajahan Inggris, Prancis, Rusia atau Amerika. Irlandia Utara adalah jajahan Inggris dan Puerto Rico adalah negeri di Caribia jajahan Amerika Serikat. Sekalipun di sana ada kemajuan material, faktanya bangsa itu adalah bangsa “robot”. Mereka bergantung total pada politik negara penjajahnya.
Sebagian negara jajahan pernah bergolak menuju kemerdekaan, misalnya Chechnya di Rusia, atau Irlandia Utara di Inggris. Meski negeri tersebut sudah dimasukkan sebagai provinsi penuh dari negara penjajahnya, dan rakyatnya dianggap memiliki hak yang sama dengan rakyat di provinsi lain, mereka tetap merasa tidak puas karena merasa memiliki martabat dan cita-cita yang berbeda. Hal yang mirip pernah terjadi di Nusantara saat menjadi sebuah koloni Negeri Belanda dengan adanya seorang gubernur jenderal yang memerintah Hindia-Belanda.
Lalu ada bangsa-bangsa merdeka pada Level-1 yang sudah berangsur-angsur bergerak ke arah positif, seperti Vietnam atau Malaysia. Walau mungkin belum semaju Malaysia, Indonesia dapat dikatakan juga sedang menuju Level-1, dengan indikator bahwa sejak merdeka secara umum hampir tak ada lagi perang saudara yang berkepanjangan, walaupun masih ada bentrokan kecil-kecilan atau separatisme di daerah rawan konflik seperti di Papua. Ekonomi Indonesia juga secara umum tidak lagi memburuk dengan cepat; pangan atau energi masih relatif mudah diperoleh walaupun cenderung makin mahal dan utang negara semakin besar. Pendidikan bisa berjalan walaupun masih ada jutaan rakyat yang kesulitan mengaksesnya. Di jalanan hukum juga sedikit-banyak bisa berjalan walaupun ada mafia peradilan.
Namun, kebangkitan di Indonesia dapat dikatakan gagal mencapai Level-2. Level-2 dapat dikatakan telah diraih oleh negara-negara maju seperti Skandinavia, Switzerland atau negara berkembang seperti Cina atau India, bahkan oleh negara yang lebih kecil seperti Iran atau Venezuela. Cina dan India dalam tiga dekade terakhir dapat dikatakan berhasil mentransformasi masyarakatnya menjadi cerdas dan mandiri. Mereka berhasil merancang sendiri banyak hal terkait teknologi dan industri, mengoperasikannya sendiri, dan mereguk keuntungannya sendiri. Meski produk mereka belum sekaliber negara-negara adidaya, mereka sudah tidak akan melemah oleh suatu embargo, bahkan mereka mulai disegani di kancah global.
Karena Indonesia gagal meraih kebangkitan Level-2, maka tentu saja gagal meraih Level-3. Level-3 saat ini dimiliki oleh negara-negara adidaya atau mantan adidaya seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia dan mungkin ditambah Jepang atau Jerman. Umat Islam hanya memiliki negara pada Level-3 pada masa lalu, yakni Daulah Khilafah.
Pada masa Orde Lama, Soekarno ingin dengan cepat mentransformasi Indonesia yang baru saja merdeka menuju kebangkitan Level-3. Secara politik Indonesia di bawah pimpinan Soekarno berusaha tegak, tidak mengekor politik negara adidaya saat itu. Namun, fakta di lapangan, jangankan Level-3, Level-1 pun saat itu belum tercapai. Memang tentara penjajah tidak lagi bercokol di Indonesia, tetapi perang saudara saat itu masih berkecamuk di mana-mana. Inflasi sangat tinggi, harga-harga meroket dan rate-pendidikan sangat rendah.
Pada masa Orde Baru, Soeharto belajar dari pengalaman Soekarno, mencoba membangun Indonesia secara terencana dan berkelanjutan. Soeharto bahkan membangun berbagai industri strategis seperti PT IPTN, PT PAL, PT PINDAD dsb. Sayangnya, mayoritas ekonom dan teknokrat yang direkrut Soeharto kurang mandiri sehingga mengikuti arahan nyaris total dari asing. Ini tampak pada kebijakan utang luar negeri, pembuatan berbagai instrumen hukum yang lebih pro kapitalis (kurang pro UKM) serta kebijakan politik yang lebih represif. Semua ini ditambah lagi dengan korupsi, kolusi dan nepotisme yang justru ditunjukkan secara mencolok oleh keluarga Presiden. Akibatnya, kebangkitan Level-1 pun justru ditinggalkan lagi. Pada akhir kekuasaan Soeharto, ekonomi dengan cepat memburuk dimulai dari krisis moneter menjadi krisis ekonomi, dan krisis multidimensi, termasuk perang saudara yang meluas di Aceh, Ambon, Poso dll, Industri strategis yang telah disiapkan ditelantarkan kembali dan ribuan SDM cerdas yang pernah dididik ramai-ramai hengkang ke luar negeri.
Orde Reformasi sempat memberikan harapan. Krisis ekonomi sementara dapat diatasi. Perang saudara dapat diredam. Namun, liberalisasi yang membonceng reformasi justru membuat kebangkitan Level-1 saja semakin sulit didekati kembali. Berbagai perundangan yang dibuat di era reformasi justru membuat negeri ini makin “ramah” (baca: “dikuasai”) investor asing. Akibatnya, kesempatan kerja makin berkurang; semakin banyak rakyat yang kehilangan daya beli dan di sisi lain rakyat semakin tidak terurus oleh para petualang politik yang naik ke kekuasaan (legislatif dan eksekutif) melalui proses demokrasi yang sarat permainan uang.

Faktor Ideologi
Di dunia, ada bangsa dengan ideologi yang bermacam-macam berhasil bangkit hingga ke Level-3. Amerika bangkit dengan Kapitalisme. Soviet dulu bangkit dengan Sosialisme. Yang membedakan hanya pada Level-3 ini kontribusi seperti apa yang dihasilkan oleh bangsa itu. Faktanya, dua ideologi itu menebar kerusakan di luar negeri. Penjajahan, eksploitasi sumberdaya alam dan penggunaan tenaga kerja yang nyaris seperti budak menjadi menu sehari-hari. Sosialisme bahkan dalam jangka panjang tidak berhasil mempertahankan keberlangsungan negara Soviet. Sekarang Kapitalisme sedang menjadikan Amerika diujung tanduk.
Indonesia mengklaim menjadikan Pancasila sebagai ideologi kebangkitannya. Namun, ada yang terlupa, bahwa Pancasila sebenarnya baru sekadar falsafah, belum berupa ideologi yang lengkap. Karena itu, dalam praktiknya, Pancasila bisa ditarik-tarik ke arah sosialis seperti pada masa Orde Lama, ke arah kapitalis seperti pada masa Orde Baru, atau ke arah kapitalis-liberal seperti pada era Reformasi.
Hanya ideologi intelektual yang sehat dan secara rinci menunjukkan tak cuma tentang cita-cita, tetapi juga jalan yang terang untuk meraih cita-cita itu, yang akan mampu mengantarkan Indonesia ke kebangkitannya, tak hanya Level-1, tetapi hingga Level-3. Ideologi seperti itu ada dalam Islam. Pengalaman empiris dari sejarah menunjukkan bahwa itu hanya akan terjadi bila kita meraih cita-cita itu melalui kendaraan berupa Daulah Khilafah yang akan menerapkan seluruh paket sistem syariah.
Dengan ideologi Islam, visi kebangkitan sangat jelas, yaitu sampai mampu mewujudkan umat terbaik yang mampu melakukan amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah (QS 3: 110). Tugas ini memerlukan tipe-tipe manusia muttaqin, mereka yang hanya takut kepada Allah saja dan taat kepada semua yang diperintahkan syariah. Selanjutnya kebangkitan Level-1, 2, 3 akan terwujud dengan sendirinya seiring dengan penerapan syariah yang kaffah dan istiqamah.
Untuk konteks Indonesia, faktor ideologi ini juga akan berpengaruh pada seberapa cepat kebangkitan akan diraih. Karena 85% rakyat Indonesia adalah Muslim dan berbagai survei menunjukkan mereka masih memiliki ikatan emosional dan spiritual Islam yang tinggi, maka sudah seharusnya ideologi yang dipakai untuk membangkitkan adalah ideologi Islam.
Inilah rahasia mengapa kebangkitan Level-1 pun tidak sepenuhnya kita raih, karena kita lengah tidak menggunakan ideologi Islam sebagai ideologi kebangkitan. Hanya dengan ideologi Islam, tak cuma kebangkitan Level-1 yang akan kita raih, tetapi juga Level-2 dan Level-3.
Dalam konteks materialisme seperti pada bangsa Barat, kualitas suatu bangsa memang diukur dari produk peradaban (teknologi, industri, seni, arsitektur, dll). Namun, dalam konteks Islam, ukuran yang standar adalah kontribusi bangsa itu dalam amar makruf nahi munkar kelas dunia. Itulah kebangkitan yang kita dambakan. WalLahu a’lam. [Prof. Dr. Fahmi Amhar]

Hijrah Momentum Kebangkitan Umat Menuju Tegaknya Khilafah


Voa-Khilafah.co.cc - Demikianlah tema yang diusung oleh DPD HTI Metro Surabaya dalam agenda Liqo’ Muharram 1433 H. yang digelar secara maraton di 8 lokasi kecamatan berbeda selama bulan Muharram ini. Ini adalah cara HTI Metro Surabaya dalam menyambut tahun baru Islam kali ini dengan jalan mencerahkan umat untuk mengingatkan kembali kesadaran akan makna-makna penting dalam peringatan tahun baru Islam yang identik dengan peristiwa Hijrah. Sementara Hijrah sendiri identik dengan perubahan. Dan perubahan inilah yang sekarang diinginkan oleh umat manusia di seantero dunia termasuk yang tercermin dalam aksi global occupy wall street. Dunia harus berubah saat ini juga. Dan agar perubahan ini hakiki maka haruslah didorong kepada perubahan menuju kehidupan Islam dengan ditegakkannya Khilafah.
Acara yang dikemas santai namun penuh suasana semangat dan keakraban ini mengusung acara mulai dengan qiro’ah bit tartil, kalimah taqdim, kalimah hikmah dan seruan Muharram dengan diserta testimoni para tokoh yang menyampaikan mengapa mereka tertarik bergabung dengan HTI dan apa yang telah mereka rasa dan dapatkan sebelum dan sesudah bersama HTI. Juga diperkuat dengan multimedia berupa tayangan khusus dinamika dakwah HTI surabaya 2011 serta diselingi pembacaan puisi Hari Pertolongan.
Dalam kalimah taqdim shohibul bait menyampaikan bahwa sesungguhnya kita adalah bersaudara yang diikat oleh aqidah Islam yang sama. Untuk itu perjuangan penegakan syariah & khilafah hendaknya akan makin mengokohkan dan mewujudkan secara hakiki persaudaran dan persatuan umat Islam di dunia. Digambarkan pula bagaimana perjuangan ini telah mendapatkan dukungan semakin luas yang ditunjukkan dalam capaian event-event yang pernah digelar HTI selama ini. Alhamdulillah.
Adapun dalam kalimah hikmah dikupas tentang latar belakang dan urgensitas menyambut tahun baru hijrah. Yakni bahwa umat Islam jangan sampai gagal menangkap pelajar terpenting darinya yakni berupa tegaknya daulah Islam. Karena jika tidak maka umat akan melalui tahun baru-tahun baru ke depan tanpa perubahan dan hanya seremonial rutinitas belaka. Juga disampaikan tentang definisi hijrah serta makna dan aplikasi hijrah di masa kini yang ternyata sangat relevan dan aktual. Bahwa hijrah Nabi saw. telah mewujudkan 3 tonggak monumental yakni tonggak pemisah al haq dan al bathil, tonggak tegaknya negara Islam pertama dan tonggak kebangkitan umat Islam hingga mampu meyebarkan hidayah Islam ke 2/3 dunia.  Tongga pemisah kebenaran dan kebatilan, keimanan dan kekufuran ini sangat penting karena saat ini ketika tidak
ada lagi tonggak ini maka masyarakat kaum muslim didominasi oleh pemikiran, perasaan dan aturan kufur sebagaimana demokrasi yang harus dibaca sebagai pembajakan hak Allah dalam membuat hukum, perampasan posisi Al Hakim dimana mendudukan kedaulatan manusia (rakyat) di atas kedaulatan Allah Swt. Begitu pula keberadaan HAM yang harus dibaca sebagaimana realitasnya telah mengkriminalkan syariah Islam dan mengkriminalkan semua penyeru syariah para pengemban dakwah sampai-sampai untuk itu diperlukan untuk dibuatkan UU berupa UU intelijen. Sementara dominasi kapitalisme yang harus dibaca sebagai bentuk legalisasi perampokan harta dan aset kekayaan umat atau dengan kata lain penjajajahn yang telah menjadikan rakyat makin melarat dan masih banyak lagi pemikiran batil yang tidak bisa dibaca denang jelas oleh kaum muslim sendiri saat ini.
Yang paling menarik dalam acara ini adalah pengalaman para tokoh yang menyampaikan testimoni bagaimana mereka mengenal dan tertarik dengan HTI. Seperti yang diungkap oleh Pak Hardjo di Liqo
Muharram Tandes yang menyampaikan ada 4 hal yang membuat dirinya kepincut untuk bergabung HTI yakni pertama bahwa hanya HTI yang memiliki tujuan perjuangan paling jelas yang lain masih kabur, muter-muter dan tidak tahu mau dibawa ke mana. Jadi penerapan syariah dengan khilafah itu betul-betul clear, aplikatif dan sangat aktual. Kedua bahwa hanya HTI yang memiliki keunikan dakwahnya ada di mana-mana, diterima dan didukung oleh berbagai macam suku bangsa dis eluruh dunia, ada apa ini ? serunya penuh tanya. Jika bukan gerakan yang kuat, hebat dan teruji niscaya tidak mampu memiliki kemampuan seperti ini. Ternyata setelah saya renungkan faktor ketiga lah yang jadi jawabannya yakni bahwa dakwa HTI bukan untuk golongan tertentu tapi benar-benar untuk umat Islam sehingga diamnapun di dunia ada umat Islam maka perjuangan HT pasti didukung. Sementara yang lain masih sarat kepentingan individu, kelompok dan bersifat nasionalis bukan untuk umat Islam seluruhnya. Dan keempat faktor personalitas aktifisnya. Demikian cerita Bapak Hardjo secara panjang lebar.
Sementara Seruan Muharram mengajak semuanya untuk bersatu melaksanakan kewajiban besar yakni menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang akan membawa rahmatan lil ‘alamin.
Demikianlah acara liqo’ muharram 1433  yang telah dilaksanakan di 4 lokasi yakni di gedung pertemuan kelurahan Wiyung (26/11) dengan dihadiri 150 warga, di warung wulan Tandes (27/11) dihadiri 100 warga, di balai RW X rusun penjaringan sari Rungkut (3/12) yang dihadiri 70 warga dan di  aula PDAM Surabaya Tambaksari dengan peserta 350 orang (4/12). Dan akan menyusul berikutnya di aula penginapan remaja Sawahan (10/12), gedung YPAC Semolowaru (11/12), aula balitbang kesehatan Indrapura Krembangan (18/12) dan wisma bahagia IAIN Sunan Ampel (12/12). Semoga umat tercerahkan dan bersama menyongsong abad khilafah dengan melakukan kembali hijrah kedua di masa kini. (li-sby/HTI Press/Voa-Khilafah.co.cc)
Perempuan Terpelajar Berkontribusi dalam Kebangkitan Indonesia

Perempuan Terpelajar Berkontribusi dalam Kebangkitan Indonesia

Voa-Khilafah.co.cc. Pernyataan ini  menjadi kesimpulan  agenda Diskusi Terbatas yang berlangsung di Gedung QA Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Sabtu (12/11). Diskusi ini dihadiri sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa dari empat kampus besar di Lampung  yakni Universitas Lampung, IAIN Raden Intan Lampung, Polinela,  DCC Wisma Bandar Lampung dan juga dihadiri Pondok Pesantren Darul Hikmah.

Dengan latar belakang pergerakan organisasi kampus yang berbeda, para peserta memperoleh pemaparan tentang “Peran Perempuan Terpelajar terhadap Kebangkitan Umat”.

Ibu Siska Maylana Sari, S. Pd., praktisi pendidikan menyampaikan bahwa potensi perempuan terpelajar begitu besar di negeri ini. “Hanya saja potensi yang besar justru memberikan masalah. Ilmu, karya dan pemikiran kalangan terpelajar telah dibajak untuk memperkuat sistem demokrasi kapitalisme (pro status quo). Perempuan dipaksa keluar rumah (to be a career woman/worker), demi kesejahteraan dan aktualisasi diri,” papar Ibu Siska. Akibatnya, perempuan kehilangan jati diri. Kondisi yang dialami perempuan terpelajar saat ini tidak lain akibat kungkungan sistem liberalisme kapitalisme. Untuk itu, satu-satunya cara untuk bangkit dengan  mengemban ideologi Islam.

Suasana semakin mencair tatkala Erlida Amnie, Aktivis MHTI Lampung menjelaskan kontribusi kampus dan intelektual mewujudkan kebangkitan Indonesia .  Erlida  menguraikan bahwa hampir sebagian besar aktivis dalam setiap organisasi kampus adalah perempuan, namun  sayangnya mereka hanya  sebatas mengerjakan aktivitas teknis.

Oleh karenanya, wajar bila kontribusi intelektual muslimah  dalam kebangkitan sangat sedikit.  “Agar Indonesia mampu bangkit, agenda mendesak yang harus dilakukan adalah mensosialisasikan Ideologi Islam secara masif . Hanya dengan memahami hakikat ideologi Islam, aktivis muslimah bisa memahami apa saja yang harus dilakukan,” jelas Erlida.

Pada sesi diskusi, peserta aktif memberikan tanggapan. Setiap dari perwakilan yang menyampaikan tanggapan dan mereka menyatakan setuju terhadap pernyataan pemateri. Mereka mengeluhkan kondisi susahnya mendapatkan rekrutmen mahasiswi untuk UKM. Akibatnya terjadi “vacuum of power” dalam lembaga UKM. Peserta juga ada yang bertanya bagaimana caranya, agar aktivis muslimah mampu berkontribusi dalam kebangkitan Indonesia. Satu-per satu pertanyaan tersebut dijawab dengan jelas oleh narasumber. Selain itu, ada yang menyarankan agar setiap UKM hendaknya dibentuk divisi keputrian dan juga ada yang mengingin ruang share bagi aktivis muslimah di setiap UKM. Walhasil, semua bersepakat untuk melakukan proyek-proyek membangkitkan intelektualitas muslimah dan  bersedia untuk mengikuti forum lanjutan dari Diskusi Terbatas yang diadakan oleh MHTI Chapter Kampus Lampung. (ul)

Panji Royatul 'Uqob Berkibar di Tanah Rusia, Kebangkitan Islam Semakin Dekat!

Voa-Khilafah.co.cc - Islam benar-benar akan meliputi ujung timur dan barat muka bumi, termasuk bumi Rusia. Panji-panji royatul 'uqob, panjinya Rasulullah Saw. pun telah berkibar di bumi Rusia menandakan telah semakin dekatnya kebangkitan Islam dengan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyyah yang akan menyatukan seluruh negeri kaum Muslim.
Memeriahkan suasana Hari Raya Idul Adha atau hari Raya Kurban, kaum Muslim di Tatarstan menggelar sebuah acara istimewa di sebuah taman di ibu kota negara Tatarstan, Senin, 07/11/2011. 

Sekalipun dalam cuaca yang dingin, kaum Muslim berbondong-bondong dengan berbagai usia, baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda, serta anak dan juga para tokoh agama. 

Sebuah panggung raksasa berdiri di tengah-tengah taman ibu kota, dengan spanduk besar sebagai latar panggung bertuliskan ayat al-Quran surah Ali Imran ayat 104 dan hadits "kemudian akan ada khilafah yang sesuai dengan metode kenabian". 

Di pinggir kiri kanan panggung berkibar dua bendera masing-masing berwarna hitam dan putih bertuliskan laa ilaaha illallah muhammad rasulullah. Beberapa meja disediakan untuk tempat berjamu makanan dan hidangan, semakin menghangatkan suasana. 

Para tamu mendengarkan ucapan selamat hari raya serta berbagai laporan tentang keprihatinan umat yang disampaikan oleh para pembicara. Beberapa tamu juga mempersembahkan hewas kurban bagi Allah Swt. Acara semakin meriah dengan lantunan nasyid serta game bagi anak-anak.  

Tatarstan merupakan salah satu wilayah Rusia dengan populasi 3.779.265 jiwa, di mana mayoritas agama yang dianutnya adalah Islam. Ibukota Tatarstan adalah kota Kazan. Hizbut Tahrir, sebuah gerakan yang bertujuan melanjutkan kehidupan Islam melalui tegaknya Khilafah sangat aktif di kawasan tersebut. 

Berkibarnya panji-panji Islam, al-liwa dan ar-royah di kawasan tersebut semakin menandakan kebangkitan Islam semakin dekat. Sebagaimana diserukan oleh para pembicara, mereka merindukan kepimpinan Khilafah Islamiyyah yang akan menyatukan kaum Muslim di seluruh dunia serta membebaskan negeri-negeri Muslim dari cengkraman penjajah Amerika Serikat. 

Demikianlah, bila di Rusia saja, seruan syariah dan khilafah bergema, maka kaum Muslim di negeri Muslim harus semakin gencar lagi. Khilafah bukan saja kewajiban, tetapi juga janji dari Rabb Pencipta Alam Semesta Raya ini. Insya Allah, semakin dekat! [m/arryh/hizb-russia.info/syabab/voa-khilafah.co.cc]

Lihat Foto:
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!
  • Click to open image!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL