Tampilkan postingan dengan label KH Hasyim Asy'ari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KH Hasyim Asy'ari. Tampilkan semua postingan
Nasehat Menggugah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Untuk Menjaga Persatuan

Nasehat Menggugah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Untuk Menjaga Persatuan


Fahmi Salim

Para sahabatku yg mulia… Berikut ini adalah mutiara nasehat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari kepada ulama utk menjaga persatuan dan mencegah perpecahan karena persoalan furu’ agama. Bagus dijadikan pedoman kita semua…

Nasehat tersebut sangat aktual dan relevan dengan situasi kekinian kita, bikin mata dan hati saya meleleh…

Diterjemahkan dari kitab al-Mawa’idz karya Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Bismillahirrahmanirrahim…

(Risalah ini) dari makhluk yang termiskin, bahkan pada hakikatnya dari orang yang tidak punya sesuatu apapun, Muhammad Hasyim Asy’ari semoga Allah Swt. mengampuni keturunannya dan seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang mulia penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik ulama maupun masyarakat umum.

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Sungguh telah sampai kepadaku (sebuah kabar) bahwa api fitnah dan pertikaian telah terjadi di antara kalian semua. Kurenungkan sejenak apakah kiranya penyebab dari itu semua. Kemudian aku berkesimpulan bahwa penyebab itu semua adalah karena masyarakat zaman sekarang telah banyak yang mengganti dan merubah kitab Allah Swt. dan Sunnah Rasulullah Saw. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 10: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu.”

Sementara masyarakat sekarang menjadikan orang mukmin sebagai musuh dan tidak ada upaya untuk mendamaikan di antara mereka, bahkan ada kecenderungan untuk merusaknya. Rasulullah Saw. bersabda: “Jangan kalian saling menebar iri dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara wahai hamba-hamba Allah

Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam urusan dunia) dan akhirnya mereka menjadi bermusuhan. Wahai para ulama yang fanatik terhadap sebagian madzhab dan pendapat. Tinggalkanlah fanatik kalian dalam urusan-urusan far’iyyah (tidak fundamental) yang di dalamnya ulama (masih) menawarkan dua pendapat, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa “Setiap mujtahid (niscaya) benar”. Serta pendapat yang mengatakan “Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun (mujtahid) yang salah tetap mendapat pahala”.

Tinggalkanlah fanatik (kalian) dan tinggalkanlah jurang yang akan merusak kalian. Lakukanlah pembelaan terhadap agama Islam, berjuanglah kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba melukai al-Qur an dan sifat-sifat Allah Swt. Berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang yang berilmu sesat dan akidah yang merusak. Jihad untuk menolak mereka adalah wajib. Dan sibukkanlah dirimu untuk senantiasa berjihad melawan mereka.

Wahai manusia! Di antara kalian ada orang-orang kafir yang memenuhi negeri ini, maka siapa lagi yang yang bisa diharapkan bangkit untuk mengawasi mereka dan serius untuk menunjukkannya ke jalan yang benar?

Wahai para ulama, untuk urusan seperti ini (baca; membela al-Qur an dan menolak orang yang menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat far’iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah suatu hal yang tidak akan diterima Allah Swt. dan tidak senangi oleh Rasulullah Saw.

Yang membuat kalian semua bertindak seperti itu tiada lain kecuali hanya kefanatikan kalian (terhadap madzhab tertentu), bersaing dalam bermadzhab dan saling hasud. Sungguh, kalau saja Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramliy masih hidup, maka pasti mereka akan sangat ingkar dan tidak sepakat atas (perbuatan) kalian dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang kalian perbuat.

Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi para ulama, sementara kalian melihat banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat yang hukumannya menurut Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad adalah potong leher. Dan kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Bahkan ada di antara kalian yang telah melihat banyak melihat tetangganya tidak ada yang melaksanakan shalat, tapi diam seribu

Lantas bagaimana kalian mengingkari sebuah urusan far’iyyah yang terjadi perbedaan pendapat di antara ulama? Sementara pada saat yang sama kalian tidak (pernah) mengingkari sesuatu yang (nyata-nyata) diharamkan agama seperti zina, riba, minum khamar dll.

Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak kalian untuk terpanggil (mengurusi) hal-hal yang diharamkan Allah Swt. Kalian hanya terpanggil oleh rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’i dan Imam Ibnu Hajar. Yang hal itu akan menyebabkan tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian oleh orang yang bodoh-bodoh, jatuhnya wibawa kalian di mata masyarakat umum dan harga diri kalian akan jadi bahan omongan orang-orang yang tolol dan akhirnya kalian akan (membalas) merusak mereka sebab gunjingan mereka seputar kalian. (Itu semua terjadi) karena daging kalian telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat.

Wahai para ulama, apabila kalian melihat orang yang mengamalkan pendapat dari para imam ahli madzhab yang memang boleh untuk diikuti, walaupun pendapat itu tidak unggul, apabila kalian tidak sepakat dengan mereka, maka jangan kalian menghukuminya dengan keras, tapi tunjukkanlah mereka dengan lembut. Dan apabila mereka tidak mau mengikuti anjuran kalian, maka jangan sekali-sekali kalian menjadikan mereka sebagai musuh. Perumpamaan orang-orang yang melakukan hal di atas adalah seperti orang yang membangun gedung tapi merobohkan tatanan kota.

Jangan kalian jadikan keengganan mereka untuk mengikuti kalian, sebagai alasan untuk perpecahan, pertikaian dan permusuhan. Sesungguhnya perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa menutup pintu kebaikan.

Untuk itu, Allah Swt. melarang hambaNya yang mukmin dari pertentangan dan Allah Swt. mengingatkan mereka bahwa akibatnya sangat buruk serta ujung-ujungnya sangat menyakitkan. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Anfal ayat 46: “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”

Wahai orang-orang muslim, sesungguhnya di dalam tragedi yang terjadi hari-hari ini, ada ‘ibrah (hikmah) yang banyak serta nasehat yang sangat layak diambil oleh orang yang cerdas dari hanya mendengarkan mau’idzahnya para penceramah dan nasehatnya pada mursyid.

Ingatlah bahwa kejadian di atas adalah merupakan kejadian yang setiap saat akan selalu menghampiri kita. Maka apakah bagi kita bisa mengambil ‘ibrah dan hikmah? Dan apakah kita sadar dari lelap dan lupa kita?

Dan kita mesti sadar, kebahagiaan kita itu tergantung dari sifat tolong menolong kita, persatuan kita, kejernihan hati kita dan keikhlasan sebagian dari kita kepada yang lain. Ataukah kita tetap berteduh di bawah perpecahan, pertikaian, saling menghina, hasud dan kesesatan? Sementara agama kita satu, yaitu Islam dan madzhab kita satu, yaitu Imam Syafi’i dan daerah kita juga satu yaitu Jawa. Dan kita semua adalah pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah.

Maka demi Allah Swt., sesungguhnya perpecahan, pertikaian, saling menghina dan fanatik madzhab adalah musibah yang nyata dan kerugian yang besar.

Wahai orang-orang Islam, bertaqwalah kepada Allah Swt. dan kembalilah kalian semua kepada Kitab Tuhan kalian. Dan amalkan Sunnah Nabi kalian serta ikutilah jejak para pendahulu kalian yang shaleh-shaleh. Maka kalian akan berbahagia dan beruntung seperti

Bertaqwalah kepada Allah Swt. dan damaikanlah orang-orang yang berseteru di antara kalian. Saling tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan taqwa. Jangan saling tolong menolong atas dosa dan aniaya, maka Allah Swt. akan melindungi kalian dengan rahmatNya dan akan menebarkan kebaikanNya. Jangan seperti orang yang berkata: “Aku mendengarkan” padahal mereka tidak mendengarkan.

Wassalamu fi al-mabda’ wa al-khitam.

Sumber : https://www.facebook.com/profile.php?id=831844644

(hizbut-tahrir.or.id / voa-khilafah.com)

KH. HASYIM ASY’ARI DAN AJARAN ISLAM TRANS-NASIONAL

KH. HASYIM ASY’ARI DAN AJARAN ISLAM TRANS-NASIONAL

Oleh: Choirul Anam
10392544_648800718579298_9067041682915442185_n 10960086_648800735245963_8284347600124776871_o 10991271_648800728579297_3475106937161021536_n 
Voice of Khilafah - Menurut keyakinan semua Umat Islam di seluruh dunia, bahwa Islam adalah ajaran Allah untuk untuk seluruh umat manusia di dunia. Islam bukan untuk kelompok atau bangsa tertentu. Islam disebarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya ke seluruh dunia. Dari perjuangan tersebut, akhirnya sebagian penduduk dunia memeluk Islam, namun sebagiannya lagi masih belum memeluk Islam. Mereka yang telah memeluk Islam merasa, di mana pun mereka berada, mereka adalah saudara. Mereka saling mencintai saudaranya, meski belum pernah bertemu, dan meski mereka berbeda bangsa, bahasa dan adat istiadat. Mereka tidak mau terkungkung oleh ashobiyah nasionalisme atau isme-isme lain.

Namun, akhir-akhir ini, ada sebagian Umat Islam yang mulai mengenalkan istilah baru dalam Islam, yaitu tran-nasional. Menurutnya, ada Islam lokal yang unik dan berbeda dengan Islam lainnya. Mereka merasa berbeda dari Umat Islam lainnya. Bahkan, merasa Umat Islam lainnya bukanlah saudaranya.

Bagaimana pandangan KH. Hasyim Asy’ari tentang ajaran dan dakwah Islam? Apakah dakwah Islam itu hanya dibatasi pada masyarakat dengan kebangsaan tertentu? Ataukah Islam itu harus disebarkan ke seluruh dunia, apapun kebangsaan mereka? Lalu, apakah makna trans nasional itu menjadi pembatas bagi dakwah Islam?

Dari kajian penulis terhadap kitab-kitab KH. Hasyim Asy’ari, tidak ditemukan istilah trans-nasional atau kata lain yang sepadan dengannya. Jadi, kata ini, merupakan istilah baru dan substansinya juga suatu hal yang baru yang tidak dikenal dalam Islam. Lebih lanjut, KH. Hasyim justru menjelaskan bahwa Rasulullah dalam dakwahnya telah menembus batas-batas nasional. Rasulullah mendakwahi semua bangsa yang memang memungkinkan bagi beliau untuk berdakwah kepada mereka. Rasulullah telah mengirim surat kepada para pemimpin dunia, dari berbagai bangsa, untuk memeluk Islam. Saat mereka masuk Islam dan menjadi bagian wilayah Daulah Islam, kemudian Rasulullah mengankat amir atau wali di daerah-daerah tersebut. Hal ini telah beliau bahas dalam kitab An Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, pada bab Faslun: Fi Rusulihi Wa Umara’ihi Alaihis Sholatu Was Salam, hal 46-48. Berikut terjemahan bebasnya. Di sini juga disertakan teks aslinya dalam bahasa arab.

*****

PASAL TENTANG UTUSAN-UTUSAN RASULULLAH DAN AMIR-AMIRNYA

Pengiriman para utusan ke raja-raja dunia, maka hal itu bermula pasca Rasulullah menandatangi perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah kemudian mengutus utusan-utusannya kepada mereka. Maka saat itu disampaikan kepada Rasulullah: “Sesungguhnya mereka tidak akan membaca surat, kecuali surat tersebut diberi stempel.” Lalu Rasulullah membuat stempel yang terbuat dari perak dan diukir tiga kalimat dalam tiga baris. Baris pertama tertulis “Muhammad”, baris kedua tertulis “Rasul”, dan baris ketiga tertulis “Allah”. Dengan itu, Rasulullah menyetempel surat-surat beliau yang ditujukan kepada raja-raja.

Rasulullah kemudian mengutus beberapa orang, pada tanggal 1 Muharram tahun 7 H. Yang pertama adalah sahabat Amr bin Umayyah Adh Dhomri, beliau diutus ke An Najasyi, Raja Habasyah. Rasulullah mengutus sahabat Dihyah bin Khalifah Al Kalby ke Qaisar, Raja Romawi. Rasulullah mengutus sahabat Abdullah bin Hudzafah As Sahmi ke Kisra, Raja Persia. Rasulullah mengutus sahabat Hatib bin Abi Balta’ah ke Muqauqis, Raja Iskandariyah dan Pembesar Qibthi (Mesir). Rasulullah mengutus sahabat Syuja’ bin Wahab Al Asadi ke Haris bin Abi Syamr Al Ghossani, Raja Balqo’. Rasulullah juga mengutus sahabat Sulaith bin Amr ke Haudah bin Ali Al Hanafi, Pembesar Yamamah. Mereka itulah enam orang yang diutus Rasulullah SAW pada hari pertama.

Kemudian Rasulullah mengutus sahabat Amr bin Al Ash ke Jaifar dan Abd, kedua anak Al Julunda Al Adzdiyyin, di Uman. Rasulullah mengutus sahabat Al ‘Ala’ bin Al Hadromi bin Abi Umayyah ke Al Mundzir bin Sawi Al Abdi, Raja Bahrain. Rasulullah mengutus sahabat Al Muhajir bin Abi Umayyah ke Al Haris bin Abi Kilal Al Humairi, di Yaman. Rasulullah mengutus sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan Muadz bin Jabal ke penguasai Yaman. Kemudian setelah itu, Rasulullah mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib kepada mereka. Rasulullah juga mengutus Jarir bin Abdillah Al Bajli kepada Dzil Kila’ Al Humairi dan Dzi Amr. Rasulullah mengutus sahabat Amr bin Umayyah Adh Dhomri bersama As Saib Al Awam, saudaranya Zubair, ke Musailamah Al Kadzdzab. Rasulullah mengutus sahabat Iyash bin Abi Rabi’ah Al Makhzumi ke Al Haris, dan ke Masruh, serta ke Nuaim bin Abi Kilal.
Rasulullah juga mengutus pada hilal bulan muharram tahun ke 9 H, sahabat Uyainah bin Hisn al Fazari ke Tamim, sahabat Buraidah ke Aslam dan Ghofar, sahabat Iyadz bin Bisyr ke Sulaim dan Muzainah, sahabat Rofi’ bin Mukaiyis ke Juhainah, sahabat Amrn bin Ash ke Fazaroh, Adh Dhohhak bin Sufyan ke Bani Kilab, sahabat Yasar bin Sufyan al Ka’by ke Bani Ka’ab, sahabat Abdullah bin Allutbiyah ke Dzibyan, dan beliau mengutus seseorang dari Sa’ad Hudzaim ke kaumnya.

Adapun para amir (wali) Nabi SAW, diantaranya adalah Badzan bin Sasan, dari anak Bahrom. Beliau menunjuknya sebagai amir bagi penduduk Yaman seluruhnya setelah (lepas) dari Kisra. Beliau adalah amir pertama di dalam Islam di daerah Yaman, dan orang pertama yang masuk Islam dari raja ajam (non Arab). Kemudian setelah wafatnya Badzan, Rasulullah mengangkat anaknya, yaitu Syahr bin Badzan di wilayah Shan’a. Dan setelah terbunuhnya Syahr, beliau mengangkat Khalid bin Sa’id bin Al Ash.

*****
 
Dari penjelasan Syeikh Hasyim tadi sangat jelas, bahwa Islam disebarkan Rasulullah melewati batas-batas geografi suatu wilayah dan menembus batas-batas suatu bangsa. Sebab, Islam itu memang diturunkan Allah untuk semua manusia dan semua bangsa. Kemuliaan manusia tidak ditentukan dari kebangsaannya, tetapi oleh ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Memang benar, bahwa suatu masyarakat atau bangsa memiliki adat dan ciri khas. Tentu, itu sama sekali tidak dilarang Islam, selama memang tidak bertentangan dengan Islam. Perbedaan adat dan kebiasaan tertentu, itu suatu yang sangat lazim. Itu sesuatu yang tak dapat dihindari dan dipungkiri. Namun, semua itu sama sekali bukan alasan yang dibenarkan bagi mereka untuk merasa berbeda dari Umat Islam yang lain. Mereka adalah Umat yang satu, yaitu Umat Muhammad; yang diikat oleh akidah yang satu yaitu akidah Islam; dan diatur dengan aturan yang satu, yaitu syariah Islam.
Wallahu a’lam. [dakwahmedia/voa-khilafah]

KH. HASYIM ASY'ARI DAN KHILAFAH

Voice of KhilafahMenurut KH. Hasyim Asy'ari, sistem pengaturan umat Islam adalah Khilafah. Inilah yang terjadi pada generasi salafus sholih kita. Hal ini misalnya kita temukan pada kitab beliau yang berjudul: Irsyadul Mu'minin Ila Sirati Sayyidil Mursalin Wa Man Tabi'ahu Minas Shohabati Wat Tabi'in pada bab Kaifa Kaana Aslaafuna Ma'a Allah, hal 29-30. Berikut ini terjemahan bebasnya, juga disertakan teks asli dalam bahasa Arab.
1

BAGAIMANA SIKAP GENERASI SALAF KITA KEPADA ALLAH

Generasi salaf kita merupakan orang yang paling taat kepada Allah dan orang yang ibadahnya paling banyak. Saat mereka menegakkan sholat di hadapan Allah, mereka melakukannya dengan khusu' dan merasa hina di hadapan-Nya. Saat mereka ingat ayat-ayat Allah, pastilah mata mereka berlinangan air mata karena takut kepada Allah yang teramat sangat. Mereka benar-benar takut kepada Allah, sekaligus mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna.
2

Diceritakan bahwa Sayyidina Ali (karromallahu wajhahu), pernah suatu saat kakinya terkena duri yang sangat besar dan menancap sangat dalam. Ketika ada yang mau mencabutya, beliau merasakan kesakitan yang teramat sangat. Akhirya orang-orang menunggu hingga datang waktu sholat. Saat beliau sholat dan tenggelam dalam kekhusukan, orang-orang mencabut duri dari kakinya. Beliau tidak merasakan sakit sedikitpun karena kekhusukan beliau di hadapan Rabb-nya.

Generasi salaf kita menghabiskan kebanyakan waktu malamnya dengan ibadah dan membaca Al Qur'an, sementara di siang hari mereka sibuk berjihad di jalan Allah, dan mencari karunia Allah di muka bumi dalam perdagangan, perindustrian, pertanian, memakmurkan negeri dan memberikan kemanfaatan kepada sesama hamba Allah. Orang-orang memberi sifat mereka sebagai: "Malam hari layaknya pendeta (ruhban), dan siang hari layaknya panglima berkuda (fursan)." Contohnya Abu Bakar (radliyallahu anhu), pada zaman Nabi SAW beliau adalah seorang pedagang, dan sungguh beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan kebaikan (Islam). Dan saat beliau diangkat sebagai KHALIFAH, beliau meninggalkan perdagangannya dan menyibukkan diri untuk mengurusi (tadbir, ri'ayah) urusan kaum muslimin.

Diterjemahkan oleh Ustadz Choirul Anam

[alkhilafah/visimuslim/voa-khilafah]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL