Tampilkan postingan dengan label MUI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUI. Tampilkan semua postingan
Jubir HTI Bantah Kampanye Khilafah Dianggap Langgar Undang-Undang

Jubir HTI Bantah Kampanye Khilafah Dianggap Langgar Undang-Undang

Voa-Khilafah.Com - Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) membantah pernyataan Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla bila kampanye khilafah berarti menafikkan kebangsaan.

Menurut Ismail, yang juga Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Pusat, subtansi khilafah merupakan ajaran Islam. Khilafah itu menyerukan umat Islam untuk merubah negeri ke arah yang jauh lebih baik sesuai dengan ajaran syariat Islam dan bukan lagi membicarakan soal batas-batas negara.

“Batasan-batasan negara itu sesuatu yang bersifat dinamis. Dulu, kita menerima saat ada penambahan Timor Timur. Lalu bagaimana kalau ketambahan lagi dari Brunei, Malasyia dan seterusnya, pasti mau juga, “ demikian ujar Ismail kepada hidayatullah, Rabu (10/06/2015).

Pernyataan Ismail sampaikan menanggapai pernyataan dari Wapres JK yang dilontarkannya saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI Se-Indonesia Ke-5. JK mengatakan mengkampanyekan khilafah itu menafi’kan kebangsaan dan bisa disebut melanggar undang-undang serta juga membahas soal batas-batas negara kaitannya dengan khilafah. [Baca: Beginilah Khilafah Menurut Jusuf Kalla]

“Kita melihat batasan negara bersifat dinamis, bukan sesuatu yang tidak bisa berubah atau bersifat stagnan. Adakalanya kondisi-kondisi sosial politik memungkinkan juga terjadinya sebuah perubahan,” papar Ismail.

Ketika dikatakan mengkampanyekan khilafah melanggar atau tidak sesuai dengan undang-undang, Ismail mengungkapkan jika dulu banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan undang-undang, seperti partai politik tidak lebih dari 3 itu tidak sesuai dengan undang-undang, memakai jilbab juga tidak sesuai dengan undang-undang, bank syariat tidak sesuai dengan undang-undang dan sebagainya.

“Tetapi oleh sebab kesadaran dan desakan dari masyarakat, sesuatu hal yang tadinya tidak sesuai dengan undang-undang kemudian disesuaikan menjadi ajaran syariat Islam melalui khilafah,” pungkas Ismail yang juga Juru Bicara (Jubir) Hizbut Tahrir Indonesia. (HidayatullahCom/Voa-Khilafah.Com)

Hamdan Zoelva: Pemimpin Pengumbar Janji Muncul dari Sistem Demokrasi

Hamdan Zoelva: Pemimpin Pengumbar Janji Muncul dari Sistem Demokrasi

Voa-Khilafah.com, Jakarta – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva menegaskan, maraknya pemimpin yang kerap mengumbar janji, namun begitu mudah mengingkarinya disebabkan oleh sistem demokrasi yang berlaku saat ini.

“Persoalan janji pemimpin itu muncul pada pemerintahan dengan sistem demokrasi seperti ini,” kata Dr. Hamdan Zoelva, SH, MH saat menjadi pembicara di acara Diskusi Publik Pra Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI Se Indonesia Ke-5, di Kantor MUI Pusat Jakarta, Kamis (04/06).

Hamdan menjelaskan bahwa sebelum diberlakukannya pemilihan secara langsung, dulunya pemimpin dipilih oleh lembaga perwakilan. Dengan sistem ini yang terjadi adalah maraknya praktik suap calon pemimpin di daerah kepada anggota DPRD setempat.

Kemudian, pemilihan diubah dengan pemilihan langsung. Tujuannya, agar dapat menghilangkan praktik politik transaksional antara dewan dan kepala daerah. Namun, yang terjadi adalah para calon pemimpin semakin banyak mengumbar janji, dan justru aksi suap langsung diarahkan kepada rakyat yang akan memilih langsung kepala daerahnya.

Menurut Hamdan, praktik demokrasi ini telah menuai kegagalan di berbagai negara yang baru menerapkannya. Negara-negara yang gagal menjalankan sistem buatan Barat ini kebanyakan berada di wilayah Asia dan Afrika. Namun, pada kenyataannya proses penerapan itu masih saja dilakukan.

“Apakah proses itu sukses atau menemui ajalnya kita tidak tahu sistem yang kita gunakan ini,” ungkap Hamdan.

Janji pemimpin kepada rakyat akan menjadi salah satu topik yang akan dibahas dalam Ijtima’ Ulama ke-5 di Pondok Pesantren At Tauhidiyah, Cikura, Tegal. Acara yang akan dihadiri ulama fatwa dari seluruh Indonesia itu akan berlangsung mulai tanggal 7-10 Juni mendatang.
(KiblatNet/www.voa-khilafah.com)

Mahfud MD: Sistem Demokrasi Lahirkan Para Demagog, Bukan Pemimpin yang Bersih

Mahfud MD: Sistem Demokrasi Lahirkan Para Demagog, Bukan Pemimpin yang Bersih

Voa-Khilafah.com, Tegal – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan kerusakan yang terjadi di Indonesia disebabkan tidak adanya pemimpin yang berani dan bersih. Namun, pemimpin yang bersih tidak mungkin lahir dari rahim sistem demokrasi, yang justeru melahirkan para demagog.

“Bagaimana mewujudkan ini (pemimpin berani dan bersih, red) tidak mudah, karena kita ini adalah negara demokrasi,” kata Mahfud MD di hadapan peserta Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI Se-Indonesia V di Ponpes At Tauhidiyyah Cikura, Tegal pada Senin malam (08/06).

Mahfud menjelaskan, sebenarnya sejak awal sistem demokrasi telah disebut sebagai sistem yang jelek. Bahkan, hal itu dinyatakan langsung oleh tokoh-tokoh Yunani yang pertama-tama menerapkannya, seperti Plato dan Aristoteles.

Dilanjutkannya, Aristoteles menyatakan bahwa di dalam sistem demokrasi banyak demagog. “Demagog itu orang yang suka berpidato tapi bohong, nah itulah ingkar janji,” ujar Mahfud.

Para demagog, lanjut Mahfud, kadang kala menjual hal-hal yang tidak mungkin. Seperti halnya para politisi dan calon pemimpin yang mengatakan bahwa orang yang berobat kerumah sakit tidak perlu membayar, hal itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

“Memang yang percaya, yang bodoh saya bilang. Kenapa dipercaya, demokrasi itu memang melahirkan demagog,” tegas Mahfud.

Masalah janji pemimpin menjadi salah satu topik bahasan dalam Ijtima Ulama kali ini. Maraknya pemimpin yang sering ingkar janji melatar belakangi diangkatnya topik tersebut dalam Ijtima yang digelar tanggal 7-10 Juni tersebut. (KiblatNet/www.voa-khilafah.com)

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) : Sri Sultan HB X Ungkap Hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan Tanah Jawa

Pembukaan KUII VI di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Senin (09/02). (foto: KRYogya)
Voice of Khilafah - Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan tanah Jawa. “Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta, Senin (9/2).

Peresmian tersebut, lanjut Sri Sultan, ditandai dengan penyerahan bendera hijau bertuliskan kalimat tauhid. “Bendera hadiah Sultan Utsmani masih tersimpan baik di Keraton Yogya,” ujarnya.

Menurutnya, Sultan Turki pula yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai khalifatullah di Jawa. “Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa, ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan kalimat tauhid, dan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah,” bebernya.

Sri Sultan juga menyebutkan pada 1903 saat dilakukan kongres khilafah di Jakarta, Sultan Turki mengutus M Amin Bey yang menyatakan haram hukumnya penguasa Muslim tunduk pada Belanda.

Ia juga menyebut atas dorongan Sultan, salah satu abdi ngarso dalem Sultan Yogja kemudian mendirikan organisasi Muhammadiyah. “Dialah KH Ahmad Dahlan!” tegasnya.
 
Terkait KUII, Sri Sultan pun berpesan. “Ulama punya dua peran yaitu tanggung jawab kepemimpinan dan penunjuk arah. Oleh sebab itu, badan pekerja kongres harus berani melakukan amar maruf nahi munkar pada pemerintah dan umat Islam, khususnya saat terjadi ketidakpastian seperti sekarang,” pungkasnya.
 

Berikut kutipan pidato Sri Sultan Hamengkubuwono X selengkapnya:

Kongres Umat Islam ke-6 yang diselenggarakan di Yogyakarta dan kini pembukaannya Insya Allah berlangsung di Pagelaran Kraton Yogyakarta, mengandung makna simbolik sebuah ziarah spiritual, karena bangunan Pagelaran ini disangga oleh 64 buah tiang yang menandai usia Rasulullah Saw dan perhitungan tahun Jawa.

Sehingga, Kongres yang dirancang untuk napak laku Kongres sebelumnya yang juga dilaksanakan di Yogyakarta, (7-8 November 1945, Red) akan memberi makna historis, agar umat Islam melakukan introspeksi diri dan retrospeksi atas perjalanan sejarahnya.

Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

Ketika 1935 Ataturk mengubah sistem kalender Hijriyah menjadi Masehi, jauh pada zaman Sultan Agung tahun 1633 telah mengembangkan kalender Jawa dengan memadukan tarikh Hijriyah dengan tarikh Saka. Masa itu sering disebut sebagai awal Renaisans Jawa.

Jika kita melakukan retrospeksi, dalam sejarah pergerakan Islam modern disebutkan, pada abad 19-20 muncul gerakan kebangkitan Islam. Pelopornya adalah Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan Ali Jinah. Mereka menganjurkan agar kaum Muslim membumikan ijtihad dan jihad fi sabilillah, serta memperkokoh solidaritas Islam.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa keberangkatan KH Ahmad Dahlan, yang saat itu adalah abdi dalem Kraton, justru atas dorongan dan dukungan Sri Sultan HB VII. Bakda membaca dalam "Tafsir AL Manaar" karya Abduh, pada 1912 ia pun mendirikan perserikatan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Dalam artikel: "Indonersianisme dan Pan-Asiatisme", Bung Karno menulis "...abad-20 sudah tidak menjadi abad perbedaan warna kulit lagi, tapi sudah berubah menjadi abad yang memberikan jawaban terhadap problem of the colour-line.

Dalam tuylisan lain, "Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?", Bung Karno mengutip tulisan Frances Woodsmall, "Moslem Women Enter A New World", bahwa Turki Modern adalah anti-kolot, anti sosial lahir dalam hal ibadah, tetapi tidak anti agama.

Islam sebagai kepercayaan person tidaklah dihapuskan, sembahyang di masjid-masjid tidaklah diberhentikan, aturan-aturan agama pun tidak dhihgapuskan. "Kita datang dari Timur, Kita berjalan menuju ke Barat", demikian entri point artikel Bung Karno tersebut mengutip tulisan Zia Keuk Alp.

Di tahun 1903, saat diselenggarakan Kongres Khilafah di Jakarta oleh Jamiatul Khair, yang berdiri 1903, Sultan Turki mengirim utusan Muhammad Amin Bey. Kongres menetapkan fatwa, haram hukumnya bagi Muslim tunduk pada penguasa Belanda, dengan merujuk ajaran Islam "Hubbul wathan minal iman" (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Dari kongres inilah benih-benih dan semangat kemerdekaan membara.

Dalam bukunya: "The Rising Tide of Colour Against White World-Supremcy" (1920), Lothrop Stoddard mendalilkan keruntuhan supremasi kolonialisme Barat, karena cepatnya pertumbuhan (tide=pasang naik) populasi penduduk kulit berwarna. Dalam buku berikutnya, "The New World of Islam" (1921), ia meramalkan kebangkitan Dunia Islam di awal abad-20 untuk meraih kembali kejayaan masa silam adalah suatu keniscayaan sejarah.

Lalu, apa relevansinya uraian tersebut dalam konteks Kongres ini? Diharapkan Kongres ini menjadi jembatan antara penguasa dan rakyat melalui media forum komunikasi dan silaturahmi ulama. Sebagai forum ulama, paling tidak harus mencerminkan dua peran keualamaan, mas'uliyyatur ri'ayah -tanggungjawab kepemimpinan- dan ahdillatut thariqah -petunjuk jalan. Dengan dua peran utama itu, Kongres ini harus membawa aspirasi umat tanda membeda-bedakan mazhab sesuai fungsinya sebagai khadimul ummah -pelayan umat.

Sebagai wadah berkumpulnya para ulama, cendekiawan dan tokoh Muslim dalam beragam Mazhab, Badan Pekerja Kongres harus berani menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, berupa dakwah, pendirikan serta memberi nasihat politik berbasis keagamaan kepada pemerintah dan umat Islam atas suatu perkara, terutama saat terjadinya ketidakpastian seperti sekarang ini. Sehingga segala kebijakan, fatwa dan sikapnya selalu mengacu pada kemashlahatan umat atas dasar ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basariyah.

Dengan tema: "Penguatan Peran Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya yang Berkeadilan dan Berperadaban", berarti tidak hanya mencakup masalah ibadah atau ubudiyah, tetapi juga kemashlahatan di dunia, menyangkut mu'amalah -hubungan sosial- yang berkorelasi dengan urusan politik. Dengan berpedoman pada pendapat Bung Karno tersebut, kiranya Kongres ini akan menemukan solusi di jalan lurus-Nya.

Dengan harapan seperti itulah, Pemerintah dan Rakyat Yogyakarta menyambut digelarnya Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 ini. Semoga Allah Swt melimpahkan berkah serta rahmat-Nya, agar Kongres ini memberikan kemashlahatan bagi umat, bangsa dan negara dan rakyat Indonesia. Jangan sampai membuat bingung umat Islam, laksana biji-biji tasbih yang lepas dari tali perangkainya. Akhirul kalam, "Selamat ber-Kongres, semoga Sukses!"

Tertanda

Hamengku Buwono X
 
Selengkapnya bisa mendengarkan audio yang bisa diunduh di sini
 
[dari berbagai sumber, Voa-Khilafah]
Mubazir Saja,Tahun Baru Habiskan Uang Milyaran Rupiah Demi Kembang Api

Mubazir Saja,Tahun Baru Habiskan Uang Milyaran Rupiah Demi Kembang Api


Voice of Khilafah - Setiap malam Tahun Baru, petasan dan kembang api seakan menjadi ritual tersendiri. Jenis kembang api dijual dengan harga bervariasi. Ada yang berukuran kecil dengan harga Rp 5.000 hingga yang jutaan rupiah.

"Yang paling laku yang gede, ada yang harga Rp1,5 juta dan yang paling murah harganya Rp 5.000. Caranya, dibakar, terus satu demi satu menyusul, ada yang 50 kali, ada yang 100 kali nembak," jelas Ardiansyah, salah seorang pedagang kembang api.  

Dodi (27), seorang pembeli kembang api rela merogok kocek ratusan ribu untuk membeli kembang api menyambut malam pergantian tahun. Bahkan, dirinya mengaku pada tahun sebelumnya belanja kembang api hingga jutaan rupiah.

Dibalik kemeriahan tersebut, mungkin tak banyak yang tahu berapa biaya yang dihabiskan untuk pesta tersebut. Selain mendatangkan artis ibu kota, kemeriahan Tahun Baru di Jambi misalnya, diwarnai dengan pesta kembang api yang berlangsung sekitar 20 menit. Kabarnya biaya untuk kembang api itu saja mencapai sekitar Rp 75 juta. Sebuah sumber yang ikut berperan dalam pengadaan kembang api menyebutkan, kembang api seharga Rp 75 juta tersebut didatangkan khusus dari Jakarta.

“Hanya beberapa menit, terbang kembang api Rp 75 juta,” kata sumber ini berseloroh. Menurut dia, khusus biaya untuk pengadaan kembang api itu merupakan sumbangan dari salah seorang pengusaha di Kota Jambi.

Sedangkan Di Kota Batam, Kepulauan Riau, uang jutaan rupiah juga dibakar untuk membeli kembang api dalam perayaan malam Tahun Baru 2013."Saya beli yang enam tembakan, harganya Rp1 juta. Sengaja untuk perayaan tahun baru di rumah," kata Ridwan (bukan nama sebenarnya) warga Nagoya di Batam.

Ia mengatakan, sengaja membeli kembang api yang bisa menembak hingga bermeter-meter ke atas langit sebagai hadiah hasil rapor anaknya."Ini perayaan bersama, seluruh keluarga berkumpul," ujarnya. Menurutnya  tidak rugi mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk kembang api yang sudah menjadi tradisi turun temurun dalam keluarga besarnya.

Pedagang kembang api di Pasar Puja Bahari Batam, Anto, mengatakan bahwa penjualan kembang api menjelang pergantian tahun 2013 meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menjual berbagai jenis kembang api mulai seharga Rp5.000 hingga Rp5.000.000. Tidak hanya untuk warga, Anto juga melayani penjualan untuk hotel dan restoran yang menyediakan acara menyambut malam Tahun Baru 2013.

Bayangkan, Pemerintah Kota Batam juga menyiapkan kembang api dengan 2.200 tembakan dalam pesta pergantian tahun di Dataran Engku Putri. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Yusfa Hendri, mengatakan kembang api disajikan dengan musik yang ditembakan dari 500 titik. Yusfa menolak menjelaskan dana yang dihabiskan Pemkot Batam dalam pesta akhir tahun yang sekaligus menutup rangkaian kegiatan hari ulang tahun (HUT) Batam ke-183.

Mubazir Temannya Setan

Kabarnya, biaya untuk kembang api bisa menghabiskan 1.2 triuliun rupiah, bahkan untuk seluruh Indonesia, pembelian Kembang api selama setahun +/- 2 triliun dan umumnya impor dari China.  Sebuah Koran lokal Surabaya Pos memberitakan, seorang distributor kembang api, bahwa tahun ini akan ada peningkatan harga kembang api sebesar 15-20% dari tahun sebelumnya.

Jadi, kalau dikalkulasi biaya untuk kembang api di Indonesia akan menghabiskan sekitar Rp 2.100.000.000.000  -  Rp. 2.200.000.000.000. Triliunan rupiah pun dihabiskan untuk sesuatu keperluan kesenangan “mata” dan kesenangan “hati” semata.  Ribuan bahkan jutaan rakyat bersama-sama “membakar” uang triliunan rupiah yang konon katanya untuk memeriahkan suasana penyambutan Tahun Baru .  Fenomena yang aneh.

Seberapa pentingnya membakar kembang api senilai Rp. 2 triliun itu untuk “kesenangan mata dan hati sesaat”.  Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau, mengingatkan agar dalam menyambut dan merayakan pergantian tahun agar dilakukan secara sederhana.Jangan sampai berlebihan untuk menyambut dan merayakan datangnya pergantian tahun 2012 ke 2013 tersebut.

Menurutnya, apabila perayaan tahun baru itu dilakukan secara berlebihan, termasuk pekerjaan mubazir yang dilarang oleh ajaran Agama Islam. "Kita melihat, perayaan tahun baru itu dilakukan dengan pesta kembang api, dan diiringi acara lain. Sudah barang tentu menyedot banyak anggaran dan dinilai mubazir. Sehingga tak cocok dengan ajaran agama (Islam) kita," tegasnya. (voa-islam/voa-khilafah)
Tak Hanya FPI, Lembaga Adat Pun Juga Menolak Konser Lady Gaga

Tak Hanya FPI, Lembaga Adat Pun Juga Menolak Konser Lady Gaga


Voa-Khilafah.co.cc - Ternyata, tak hanya Front Pembela Islam (FPI) yang menolak konser Lady Gaga di Indonesia. Sejumlah ormas Islam lain, dan sebuah lembaga adat pun juga ikut menyatakan penolakan atas konser Lady Gaga di Indonesia.

FPI memang termasuk ormas Islam yang paling awal menolak konser Lady Gaga di Indonesia. Melalui pernyataan Habib Salim Alatas, Ketua DPD FPI Jakarta, FPI menyatakan penolakannya.



"Dia penyanyi vulgar, hanya mengenakan celana dalam dan kutang saat bernyanyi," kata Habib Salim Alatas, seperti dikutip dari BBC.


"Lady Gaga merusak moral dan tidak pantas untuk tampil di Indonesia. FPI tegas, sama seperti MUI dan Mabes Polri. Itu aliran sesat, musiknya penyembah setan," kata Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta itu.


Medio Maret 2012, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyatakan penolakan terhadap konser Lady Gaga. MUI Menyatakan bahwa menonton konser Lady Gaga merupakan keharaman.


"Alasannya normatif, yaitu mengumbar aurat dan gerakan yang merangsang lawan jenis," ujar KH. Khalil Ridwan mengungkapkan alasannya mengharamkan nonton konser Lady Gaga saat itu.


Langkah penolakan lebih jauh ditempuh oleh Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), serta Forum Umat Islam (FUI). Kedua ormas itu bahkan telah mengajukan penolakan atas konser penyanyi asal Amerika Serikat itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).


Surat permohonan penolakan itu telah ditanggapi Sekretariat Negera yang dilanjutkan kepada Polda Metro Jaya. Isi suratnya meminta polisi mempertimbangkan pelaksanaan konser penyanyi wanita yang memiliki nama asli Joanne Stefani Germanotta itu. Intinya, polisi diminta agar mengeluarkan kebijakan agar suasana Ibukota tetap kondusif.


Sementara Ketua Umum NU, KH Said Aqil Siroj, dalam menanggapi konser ini, dia melihat Lady Gaga itu sebagai pribadi yang negatif dan positif.


"Negatifnya, ya serba repot, dia sangat liberal, sangat bebas, sangat melanggar dan menabrak norma, juga sangat ekstrem. Tapi positifnya, eksklusif," ujarnya Selasa, 15 Mei 2012, seperti dikutip dari Vivanews. 


Penolakan tak hanya datang dari kalangan ormas Islam. Sebuah lembaga adat yang menamakan diri Lembaga Adat Besar Republik Indonesia (LABRI) juga menentang konser Lady Gaga.


Ketua LABRI, Iansyahrechza, sudah sejak lama meminta polisi agar tidak memberikan izin kepada penyelenggara konser. Karena penampilan seronok Gaga bertentangan dengan Pancasila.


Penolakan LABRI dianggap sebagai langkah penyelamatan generasi bangsa Indonesia. Dan tindakan yang mereka lakukan merupakan tindakan nyata untuk menolak serangan budaya luar.


Di beberapa negara, Lady Gaga juga ditolak konser, di antaranya di Korea Selatan, Cina, dan Malaysia.


[muslimdaily/bbs/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL