http://drise-online.com/cowok-maho-jijaynya-kaum-gay/
Cowok Maho! Jijaynya Kaum Gay
http://drise-online.com/cowok-maho-jijaynya-kaum-gay/

Oleh: Hana Annisa Afriliani, Penulis dan Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Kota Tangerang
PENGESAHAN legalitas pernikahan sejenis baru-baru ini di seluruh negara AS mengundang kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Sebagian besar masyarakat menolaknya, meski masih ada yang mendukungnya dengan alasan kebebasan HAM. Sebagai muslim tentu kita harus menilai segala sesuatu dari sudut pandang Islam.
Penyikapan ini jelas merupakan sesuatu yang sangat penting karena pengesahan LGBT oleh Mahkamah Agung di AS tersebut akan membawa dampak yang luar biasa bagi negara-negara di dunia. Sangat mungkin negara-negara lain akan menuntut pelegalan serupa di negaranya. “Di Filipina, para aktivis dari komunitas LGBT masih berupaya meyakinkan pemerintahnya untuk melegalkan pernikahan sejenis. Saya yakin keputusan yang dibuat AS dapat mempengaruhi kebijakan Pemerintah Filipina,” ujar salah seorang profesor di Universitas Filipina, Sylvia Estrada Claudio, yang juga mendukung pernikahan sejenis. (Sumber: Okezone.com/ 29-6-2015)
Secara asasi, paham LGBT jelas bertentangan dengan akidah Islam karena menabrak fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, Sang pencipta manusia. Dengan alasan apapun LGBT jelas tak dibenarkan dalam ajaran Islam, bahkan Allah melaknat orang-orang yang melakukan praktik Lesbian, Gay dan Biseksual.
Islam memberikan sanksi para pelaku homoseksual dengan hukuman yang sangat tegas dan keras, yakni pelakunya dijatuhkan dari gedung yang paling tinggi hingga mati. Hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa Islam sangat tegas dalam menjaga kemuliaan manusia dan keturunannya. Dapat dibayangkan kerusakan besar akan terjadi jika praktik Lesbian dan Gay dibiarkan, yakni kelestarian jenis manusia akan punah. Karena mustahil dari pasangan sesama jenis akan melahirkan seorang keturunan.
Kaum penyuka sesama jenis tersebut juga akan mengundang azab Allah atas mereka, hal ini ditunjukkan saat Allah menimpakkan azab kepada kaum Nabi Luth yang mempraktikkan homoseksual. Hingga Allah menghabiskan mereka semuanya tanpa sisa. Kisah tentang kaum Sodom tersebut banyak diceritakan dalam Al-Qur’an di antaranya dalam Surah Al-A’raf (7:80-84) berikut ini. “…dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya (yang beriman) kecuali istrinya (istri Nabi Luth); dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan), dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.”
Dan kini, saat umat manusia dinaungi oleh sistem sekuler-kapitalistik, penyimpangan seksual tersebut jutru dilegalkan oleh negara. Bahkan diberikan ‘restu’ untuk diresmikan melalui lembaga pernikahan. Hal tersebut merupakan sebuah kemunduran berpikir dari sebuah masyarakat.
Allah SWT telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan, laki-laki dengan perempuan. Yang kemudian dari keduanya lah keberlangsungan jenis manusia akan lestari. Sebagaimana firman Allah swt, “‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” [QS. An Nahl (16):72].
Islam kini tidak lagi tegak sebagai sebuah institusi, sehingga wajar jika hukum-hukum Islam terpinggirkan, berganti dengan dominasi paham liberal a la kaum sekuler. Dengan dalih kebebasan, mereka telah menabrak hukum-hukum Allah, memutilasi ketetapan Allah. Sehingga apa-apa yang Allah haramkan menjadi halal di negeri sekuler saat ini. Salah satunya adalah LGBT tersebut.
Dalam menyikapi hal tersebut, sudah selayaknya negeri-negeri muslim tidak ikut menunjukkan dukungannya, termasuk Indonesia sebagai negeri dengan mayoritas penduduknya adalah muslim. Sebab, dukungan atas sebuah penyimpangan terhadap hukum-hukum Allah adalah sebuah kemaksiatan yang sangat nyata.
Sudah selayaknya kita lebih takut ke pada Dzat yang menciptakan kita daripada takut pada tekanan AS jika kita tidak mendukung kebijakan mereka. Sudah selayaknya setiap muslim menunjukkan sikap tegas atas setiap perkara yang bersinggungan dengan akidah, bukan bermanis muka demi meraih sanjungan yang sifatnya semu. [Islampos/Voa-Khilafah.com]
Daayiee Abdullah, imam Gay di Amerika
Voa-Khilafah.com, TEXAS -- Daayiee Abdullah, 61 tahun, lahir dan dibesarkan di Detroit. Dia menjadi seorang gay pada usia 15 tahun. Ia masuk Islam pada usia 33 tahun saat ia belajar ke negeri Cina.
Usai belajar di Cina, ia juga mengambil studi agama di Mesir, Yordania dan Suriah. Abdullah kini menjabat sebagai Imam dan direktur pendidikan Masjid Reformasi di Washington Dc, khusus bagi mereka LGBT yang ingin mempelajari Islam. Sang Imam Gay, belakangan ini gencar mengkampanyekan gerakan cinta sesama jenis.
"Tidak ditemukan dalam Al-Quran yang dikatakan menghukum homoseksual. Dan sejarawan juga belum pernah menemukan kasus Nabi Muhammad berurusan dengan homoseksualitas," kata Daayiee dalam sebuah wawancara di sebuah radio Amerika, dilansir WND, Ahad (24/5).
Sejak 1990-an, Daayiee telah memberi advokasi untuk hak-hak Muslim LGBT di Amerika. "Ketika saya lulus SMA, saya berharap suatu hari gay Amerika akan bisa menikah. Dan sekarang, aku menginginkan masa depan mereka cerah," Jelas Daayiee Abdullah.
Dia mengatakan optimismenya berasal dari kenyataan bahwa ia telah menerima penerimaan yang berkembang di kalangan Muslim Amerika. "Semakin muda mereka, semakin mereka menunjukkan toleransinya. Muslim muda Amerika, menerima mereka Muslim LGBT," katanya,
Ditanya tentang mengapa beberapa negara Muslim masih menghukum atau membunuh kaum gay, ia menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena didasarkan pada budaya, mitologi, dan hukum pra-Islam. Sebelum menyemangati kemerdakaan LGBT, Daayiee juga pernah menjadi Imam shalat dan upacara pemakaman untuk Muslim gay yang meninggal karena AIDS.
"Mereka telah menghubungi sejumlah imam, dan tidak ada yang datang. Kami tergerak," katanya.
"Saya percaya setiap orang, tidak peduli apakah anda setuju dengan saya. Dan siapa pun boleh menilai, tapi keputusan tetap di tangan Allah," tegasnya.
Abdullah berencana untuk meluncurkan sebuah sekolah online yang disebut Mekkah Institute dengan tujuan menghubungkan Muslim dan non-Muslim untuk berdebat tentang Islam. Dia menjelaskan bahwa inspirasi proyek ini adalah "zaman keemasan Islam" (abad ke-7 sampai abad ke-13), yang ditandai dengan ulama dari berbagai agama berbagi ide. (ROL/Voa-Khilafah.com)