Tampilkan postingan dengan label HABAIB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HABAIB. Tampilkan semua postingan
Jauhkan Terompet & Kembang Api yang Tak Bermanfaat dari Kaum Muslimin

Jauhkan Terompet & Kembang Api yang Tak Bermanfaat dari Kaum Muslimin


Voice of Khilafah - Pada malam tahun baru biasanya akan banyak panggung-panggung hiburan, ribuan manusia berjingkrak ria, berjoget bahkan kebanyakan dari mereka hingga mabuk-mabukkan untuk merayakan malam pergantian tahun tersebut.

Untuk  mencegah dari perbuatan mudharat dan kemaksiatan, perayaan malam tahun baru,  Pimpinan Majelis Rasulullah Habib Munzir bin Fuad Al Musawa menghimbau agar umat Isam lebih baik meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.

"Hindarkanlah dirimu, anak-anakmu, keluargamu, tetanggamu, teman-temanmu, dari merayakan malam itu, hindarkan terompet-terompet tahun baru dari anak-anakmu, terompet itu ditiup oleh bibir-bibir muslimin, sebagai tanda kemenangan bagi kaum kuffar," urai Habib Munzir di Jakarta.

Dengan merayakan malam tahun baru menurut Habib Munzir menandakan anak-anak muslimin telah dibawah injakan kaki orang kuffar karena mereka turut memeriahkan perayaan orang-orang yang bukan agamanya.

Seperti diberitakan, jelang tahun baru, polisi merazia ribuan petasan dan miras di wilayah Jadebotabek. Setidaknya, botol miras dan 8.200 petasan disita aparat Polsek Teluknaga dalam operasi cipta kondisi, Sabtu (30/12) malam. Operasi digelar dalam rangka pengamanan menjelang Tahun Baru 2012.

Razia tersebut dipimpin langsung Kapolsek Teluknaga AKP Endang Sukma. Puluhan personel yang diterjunkan melakukan penyisiran di Desa Pangkalan dan Salembaran, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang."Kita razia warung-warung yang menjual miras dan petasan. Hasilnya, kita berhasil menemukan 20 dus miras berisi 50 botol dan 8.200 petasan. Langsung kita sita," kata Endang.

Menurut Endang, razia tersebut merupakan upaya untuk menciptakan suasana kondusif dan mencegah tindak kriminal atau gangguan ketertiban pada perayaan malam tahun baru. "Ini langkah antisipasi. Kita ingin malam tahun baru berjalan dengan tertib," paparnya.

Sementara untuk penjual petasan dan miras, kata Endang, meski tidak bisa dikenakan sanksi, pihaknya akan mengamankan untuk dimintai keterangan. "Kita kan kembangkan ke pembuatnya. Pelaku bisa diancam Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat no 12/1951 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara," tegasnya. (Voa-Islam/Voa-Khilafah)
Bela Syi'ah, Prof Dr Umar Shihab Terdiam Dimarahi Habib Zein Alkaff

Bela Syi'ah, Prof Dr Umar Shihab Terdiam Dimarahi Habib Zein Alkaff

JAKARTA (voa-khilafah.co.cc) – Ada yang unik dalam pertemuan antara puluhan ulama Jawa Timur dengan pengurus MUI Pusat di Jakarta, Selasa (24/1/2012).

Dalam pertemuan di kantor MUI Pusat, Jalan Proklamasi Jakarta Pusat itu, salah seorang Ketua MUI, Prof Dr Umar Shihab mati kutu terdiam seribu bahasa. Padahal selama ini dia lantang berbicara mengatasnamakan MUI Pusat untuk membela Syi’ah.

Dalam forum resmi tersebut, Umar Shihab terdiam ketika dimarahi Habib Achmad Zein Alkaf yang mewakili para ulama Jawa Timur.

“Umar Shihab itu kan sebelumnya mengeluarkan fatwa bahwa Syi’ah tidak sesat, jadi saya marah kepada Umar Shihab,” papar Habib Zein kepada voa-islam.com, Jumat Sore.

Di hadapan puluhan ulama, Habib Zein yang dalam posisi berhadapan dengan Umar Shihab, menyatakan secara terang-terangan bahwa Umar Shihab itu jadi orang sesat kalau tidak mau mengakui kesesatan Syi’ah. “Saya menyesalkan ada pengurus MUI seperti Umar Shihab menyatakan Syi’ah tidak sesat. Maka saya katakan, kalau Umar Shihab mengatakan Syi’ah tidak sesat berarti Umar Shihab yang sesat, saya katakan langsung di depan dia, tidak peduli saya,” ujar A'wan Syuriyah Pimpinan Wilayah NU (PWNU) Jatim itu dengan logat Jawa Timur.

Mendapat tantangan dari ulama daerah, rupanya Umar Shihab ciut nyali, hingga tak berani menjawab sepatah kata pun. “Saya tunggu jawaban Umar Shihab tapi dia tidak berani menjawab,” jelas Habib Zein.

Tidak hanya menantang Umar Shihab, Habib Zein juga berani menantang adu argumen secara ilmiah kepada siapapun yang tidak mengakui kesesatan Syi’ah. “Saya tantang kalau ada yang membela Syi’ah. Al-Bayyinat siap berhadapan dengan siapa saja yang membela Syi’ah. Kami siap, kami ini berbicara bertanggung jawab kepada Allah Ta’ala, jadi kalau kami berbicara bertanggung jawab kepada Allah, apa saja akan kami tempuh, termasuk mubahalah,” cetusnya.

Habib berani bertanding di forum ilmiah, karena dia sudah puluhan tahun meneliti Syi’ah. Bahkan belasan karya ilmiah tentang Syi’ah telah ditulisnya, di antaranya: Mengenal Syi’ah, Export Revolusi Syiah Ke Indonesia, Dialog Apa Dan Siapa Syi’ah, Fatawa Para Imam Dan Ulama Tentang Syi’ah, Tragedi Karbala, Aqidah Ahlussunnah Adalah Aqidah Ahlul Bait, Asyura, Fathimah At-Thohiroh RA, Al-Hasan dan Al-Husin RA, Imamah Dan Khilafah, Ummunaa Fathimah RA wa Ahlul Kisa, Ali bin Abi Thalib wa Ahlul Kisa', Al-Firqah An-Najiah, dan masih banyak lagi. [taz, ahmed widad/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]
Menantu Habib Kwitang Kutip Ayat Alkitab Mathius

Menantu Habib Kwitang Kutip Ayat Alkitab Mathius


Voa-Khilafah.co.cc, Jakarta - Ahmad Basarah, anggota Komisi Hukum DPR RI yang juga sebagai Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan juga merupakan menantu pendiri Islamic Center Kwitang yakni Habib Muhammad Alhabsyi bin Habib Ali Alhabsyi atau lebih akrab disapa Habib Kwitang.
Saat hari terakhir uji kelayakan dan kepatutan Capim KPK, Kamis (1/12/2011) yang menghadirkan Capim KPK Bambang Widjojanto dan sidang akan ditutup oleh ketuk palu pimpinan sidang Benny K Harman, Basarah ngotot untuk interupsi. "Mohon izin ketua, saya terakhir, satu menit saja," pinta Basarah.
Benny yang mendengar permintaan Basarah menanyakan apa keperluan untuk minta waktu? Basarah menjawab "Saya akan memberi taushiyah (nasihat)," cetus Basarah.
Mendengar jawaban mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu, pimpinan sidang tampak enggan memberikan kesempatan kepada Basarah. Namun tidak kehilangan akal, Basarah terus meminta agar diberi kesempatan berbicara.
Akhirnya, Basarah pun diberi kesempatan memberikan pernyataan. Dia mengatakan akan memberi nasihat kepada Bambang Widjojanto. "Saya mengutip Matius 10 ayat 16: 'Lihat aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati'," demikian Basarah.
Setelah menyampaikan nasihat kepada Bambang Widjojanto dan mengakhiri pembicaraannya, Basarah mengutip penutup salam yang lazim dilakukan oleh kader Nahdlatul Ulama (NU) "Wallahul Muwaffiq ilaa Aqwamithariq, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Basarah.
Ketika dikonfirmasi tentang nasihatnya mengutip Mathius, Basarah menyebutkan agar Bambang Widjojanto dan Pimpinan KPK lainnya harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati sehingga dapat melaksanakan tugas dengan penuh amanah dan konsisten agar selamat dunia dan akhirat, ujar Basarah. (inilah/voa-khilafah.co.cc)

Antara Bekasi dan Kupang (Bagian I)


Kupang (voa-khilafah.co.cc) – Selasa pagi (15 November 2011), pukul 06.00 WIB, Voa-Islam bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggunakan pesawat Batavia Air. Direncanakan, kami akan berada di Kupang selama lima hari.

Jarak tempuh menuju Kupang dengan menggunakan pesawat memakan waktu sekitar empat jam. Pukul 10.30, kami tiba di Bandara El-Tari, Kupang. Adapun waktu Kupang lebih cepat satu jam dari Jakarta.  Sesampai di Bandara El Tari, kami dijemput oleh seorang rekan dari alumni Gontor yang punya hobi unik, otomotif dan vokalis gambus.

Dari Bandara, kami diantar dengan menggunakan mobil jenis Hartop warna biru menuju Kampung Solor, sebuah pemukiman muslim, dimana kami dipertemukan dengan Haji Abdul Rachim bin Djamaluddin Mustafa, seorang tokoh masyarakat muslim Kupang yang juga merupakan Imam Masjid Agung Al-Baitul Qadim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Air Mata.

Dalam ta’aruf (perkenalan) di Kampung Solor tersebut, kami memulai perbincangan, dari yang ringan hingga hal-hal yang serius, yang berkaitan dengan persoalan umat Islam di wilayah ini, khususnya di Kota Kupang dan sekitarnya. Sambil berbincang, kami disuguhkan kue Bagia, makanan kecil khas Kupang.

Dari perbincangan awal tersebut, seperti yang telah diuraikan Haji Abd. Rachim, Imam Masjid Air Mata, kami menjadi sedikit tahu tentang peta dan persoalan yang tengah dihadapi kaum Muslimin di Kota Karang ini. Selama lima hari, Voa-Islam mengumpulkan banyak data yang Insya Allah akan dilaporkan dalam beberapa tulisan.

Mengungkap Sejarah

Yang jelas, banyak hal yang menarik dari perjalanan Jurnalistik voa-islam di Kota Kupang, diantaranya: Mengungkap Sejarah Masuknya Islam di Kupang dan sekitarnya, Sejarah Masjid Tua Air Mata, Tempat pembuangan Mujahidin (ulama) di Kampung Air Mata, seperti: Tubagus Abdus Salam (dari Banten).

Selanjutnya, berziarah ke makam tokoh pejuang dan penyebar agama Islam di Perkuburan umum Islam Batukadera, Kelurahan Air Mata, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang-NTT. Di TPU inilah terdapat makam Panglima Hamzah (Cing) bin Bahren (wafat tahun 1900) dan Depati bin Bahren (wafat tahun 1885) -- keduanya dari Bangka Belitung. Di tempat ini juga terdapat makam Habib Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Gadri (wafat tahun 1899), salah seorang penyebar agama Islam di Kupang, serta makam Sultan Dompu Muhamad Sirajudin dari Bima.  
Tak kalah menarik, voa-islam akan mengungkap keberadaan Kampung Islam di Batakte, Batu Plat, Kampung Solor, Air Mata dan sekitarnya. Di Batakte misalnya, voa-Islam melakukan kunjungan silaturahim ke Pesantren Hidayatullah, yang dikabarkan pernah akan dibakar oleh kaum Salibis saat Peristiwa Kupang tahun 1998.

Keberadaan Masjid tua, seperti Masjid Al-Fatah (berdiri tahun 1889) di Kampung Solor dan Masjid Air Mata (berdiri tahun 1806) di Kampung Air Mata juga menjadi perhatian voa-islam, tak terkecuali pengaruh Mahzab Imam Syafi’I yang begitu dominan yang identik dengan Maulid, Barzanji, Hadarat mewarnai suasana religius di kota ini.

Peristiwa Kupang 1998
Untuk lebih menyegarkan ingatan kembali, voa-islam akan mengurai kembali Peristiwa Kupang tahun 1998, dimana banyak keanehan yang terjadi di sini. Voa-Islam juga akan mengungkap persoalan kerukunan umat beragama di kota ini, termasuk adanya pelarangan pembangunan Masjid di Kelurahan Batu Plat, Kecamatan Alak-Kota Kupang oleh komunitas Kristen yang diprovokasi oleh pihak gereja.

Yang menyedihkan lagi adalah ihwal konflik internal di kalangan umat Islam di Kupang, khususnya di lingkungan Masjid Air Mata. Persoalan ini sampai dibawa ke ranah hukum, dimana Imam Masjid Air Mata harus bolak-balik ke Polresta Kupang untuk memberi keterangan BAP. Kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik.

Apalagi? Voa-Islam juga akan menurunkan tulisan khas (feature) tentang tradisi mabuk (miras) terutama para pemudanya. Tak aneh, akibat miras, jenis kejahatan yang terbilang tinggi di kota ini adalah penganiayaan. Yang juga tak kalah menarik adalah tulisan tentang Proyek Imigran Gelap di Kota Kupang, Rote dan sekitarnya.

Keunikan lain dari Kota Kupang adalah menaiki angkutan kota yang disebut dengan Bemo. Kebisingan akan terasa jika menumpangi kendaraan roda empat ini dengan musiknya yang menggelegar (dominan bass). Orang Kupang menyebutnya dengan “Diskotek Berjalan”. Di Kota Kupang pula, kami sempat menemui dan mampir ke Warung makan Betawi yang sudah ada sejak 14 tahun yang lalu. Ternyata, penjualnya adalah orang Betawi asli asal Ciledug, Tangerang.

Bahkan, kami juga turut menghadiri adat pernikahan ala Kupang yang unik. Ironisnya, mempelai pria yang muslim itu mempunyai ayah-ibu yang Kristen. Awalnya, sang ayah yang bernama Muhammad Jawes, seorang ketururanan Arab, beragama Islam. Namun setelah menikahi wanita Kristen, ia berpindah agama (Kristen). Kini sang ayah menjadi pendeta. Seluruh keluarga pun pindah agama dari Muslim ke Kristen. Hanya sang mempelai pria yang bertahan sebagai Muslim.

Dari Kampung Solor, setelah berta’aruf dengan Haji Abdul Rachim Mustafa, kami diantar ke Kampung Air Mata, tempat dimana kami bermalam di Kota Kupang selama lima hari. Nantikan laporan jurnalistik selengkapnya di situs voa-Islam. (Desastian, voa-islam/voa-khilafah.co.cc)

Turut Mensahkan UU Intelijen, PKS Harus Bertanggungjawab

Turut Mensahkan UU Intelijen, PKS Harus Bertanggungjawab


Jakarta (voa-khilafah.co.cc) - Sejumlah aktivis, terutama dari kalangan umat Islam  menyesalkan disahkannya Undang-Undang Intelijen belum lama ini. Pasalnya, meski banyak mengalami perubahan dari naskah aslinya, undang-undang tersebut tetap memuat sejumlah pasal yang bila tidak diwaspadai bisa melahirkan kembali rezim represif yang menindas rakyat.
Dalam Undang-Undang Intelijen tersebut, terdapat kalimat atau frasa yang tidak didefinisikan dengan jelas, sehingga berpeluang menjadi pasal karet. Seperti frasa ’’ancaman nasional” dan ’’keamanan nasional”.

Seperti diberitakan sebelumnya, pasca Bom Solo, UU Intelijen disahkan DPR melalui sidang paripurna, Selasa (11/10/2011). UU yang dinilai controversial oleh banyak kalangan ini lahir atas desakan Badan Intelijen Negara (BIN), dengan didukung Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang dipimpin oleh Ansyad Mbai.

Masih segar dalam ingatan, di masa Orde Baru, banyak darah umat Islam yang tumpah, lantaran menjadi korban dari kepentingan status quo, umat Islam pun dianggap sebagai ancaman stabilitas keamanan negara.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat Front Pembela Islam (DPP FPI) Munarman, tanpa payung hukum saja aparat negara seperti Densus 88 sudah bertindak seenaknya terhadap kaum muslimin, seperti menangkapi, menyiksa, membunuh. Padahal ini jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan disahkannya UU Intelijen, akan terbuka perlakuan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya terhadap umat Islam.

Munarman khawatir, UU Intelijen akan dijadikan payung hukum untuk menjerat para aktivis Islam. “UU Intelijen ini kan untuk mempersiapkan payung hukum terhadap upaya penangkapan-penangkapan, terutama kepada aktivis Islam,” ujarnya.

Ironis, di tubuh DPR RI, terutama Komisi I, terdapat “partai Islam” yang seharusnya memperjuangkan kepentingan umat Islam, justru mengabaikan kepentingan Islam. Seperti kita ketahui, Komisi I dipimpin oleh Mahfudz Siddik yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dengan demikian, PKS harus bertanggungjawab atas UU Intelijen yang telah disahkan secara aklamasi.

Sekjen FUI (Forum Umat Islam) Ustadz Muhammad al- Khaththath menambahkan, pemimpin negeri ini akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Seorang pemimpin itu laksana penggembala yang akan dimintakan pertanggungjawabannya atas gembalaannya.

“Setahu saya, meski UU Intelijen ini tidak memberikan kewenangan untuk melakukan penangkapan, tapi tetap ada kegiatan memata-matai rakyat, itu yang tidak boleh dalam pandangan Islam. Jadi, intelijen itu harus diarahkan ke luar negeri, bukan ke dalam negeri. Jujur saja, kita ini lemah saat menginteli luar negeri, sementara intel asing jumlahnya bisa mencapai sekitar enam puluh ribuan. Seharusnya UU Intelijen ini dibuat untuk kontra intelijen asing, menginteli negara-negara asing yang berpotensi sebagai ancaman bagi Indonesia, bukan menjadikan rakyat ancaman bagi negara,” kata al-Khaththath kepada voa-islam.

Al-Khaththath tegas menolak UU Intelijen yang telah disahkan ini, karena UU tersebut ditujukan untuk menginteli rayatnya sendiri. Karena itu, FUI menolak kegiatan intelijen kepada rakyat. Katanya negara demokrasi? “FUI hanya setuju, kalau intelijen itu diarahkan untuk luar negeri,  tapi bukan untuk menginteli rakyatnya sendiri, ini tidak benar,” tegas al-Khaththath. (Ahmad Widad/Voa-Islam/Voa-Khilafah.co.cc)

Pernyataan Kontroversial Habib Mundzir Tentang Khilafah Hizbut Tahrir


Jun13
Voa-Khilafah.co.cc - Saya pernah membaca artikel yang dikutip dari ceramahnya Habib Mundzir Al Musawa, dengan judul Habib Mundzir menjawab tentang khilafah ala Hizbut Tahrir. Sepintas dari judulnya terlihat sangat mengesankan, karena jarang-jarangnya ada seorang yang katanya ulama besar dan sering masuk TV berkali-kali terutama di tvOne di acara indahnya Indonesiaku, berbicara mengenai khilafah. Mula-mulanya sih benar, dengan berucap “Daulah islamiyah ini sebenarnya tak pernah dikenal dalam islam, hanya istilah yg diada adakan saja, karena islam tak pernah mengenal negara islam, yang ada adalah khilafah islamiyah, Islam adalah untuk dunia, bukan untuk indonesia, malaysia atau nama nama negara yang dibuat buat oleh manusia”. Memang istilah daulah islam itu tidak ada dalam islam, karena istilah tersebut baru muncul ketika kaum muslimin pada saat itu telah tersusufi juga menerima paham-paham filsafat dijaman kerajaan bani Abbasiyah. Jadi yang ada itu hanyalah sebutan atau istilah khilafah islamiyah(pemerintahan islam). Dan memang, konstitusi khilafah serta kholifahnya hanya ada satu-satunya di dunia ini, alias bersatu, sehingga tidak akan ada yang namanya indonesia, malaysia atau nama nama negara yangg dibuat-buat oleh manusia.

Akan tetapi setelah saya baca artikel tersebut, ternyata isinya 100% kontra. Bahkan dengan gagah beraninya ia mengatakan “bila anda dengar kelompok manapun yang ingin mendirikan negara islam dengan syariahislam maka gerakan itu adalah gerakan kesusu (Bahasa jawa: tergesa-gesa), muncul dari ide-ide yg tak memahami syariah islam dan berfatwa semaunya“. Pernyataan ini sesungguhnya adalah kesalahan besar. Dan justru Habibnya sendiri yang kesusu. Kenapa? Karena suatu negara bisa dikatakan negara islam apabila peraturan-peraturan yang digunakan oleh negara itu bersumber kepada kalamullah/hukum syara, bersumber kepada Al Qur'an dan sunnah, sekalipun mayoritas penduduknya adalah non muslim. Sedangkan negara kufur adalah negara yang menganut peraturan-peraturan yang tidak bersumber pada hukum syara, melainkan itu adalah hukum buatan manusia, dan hukum buatan manusia tidak ada bedanya dengan hukum jahiliyah, thoghut, dll, sekalipun mayoritas penduduknya adalah muslim (lihat di mafahim HT). Jadi dari perihal itu, kita bisa mengatakan kalau indonesia, arab saudi, mesir, irak, dsb diseluruh dunia adalah negara kufur. Kenapa demikian? Karena mereka telah berhukum selain dengan hukum Allah. Lagipula, apabila memang benar adanya kalau indonesia ini adalah negara islam bahkan terbesar didunia kata Habib Mundzir, lantas, apakah pantas apabila masyarakatnya banyak yang bermaksiat, pejabatnya banyak yang korup, terutamaUndang-undangnya bahkan bertentangan dengan syari'at islam? Itukan suatu hal yang tidak pantas sama sekali.

Terus katanya lagi “presidennya islam, menterinya mayoritas muslimin, pejabatnya mayoritas muslimin, konglomeratnya mayoritas muslimin, buruhnya mayoritas muslimin, pengusahanya mayoritas muslimin, lalu apa lagi yang mereka inginkan?“ Untuk menjawabnya sangat mudah sekali, yaitu syari'ah-Nya yang belum ditegakkan. Negara kita ini dan semua negara pada umumnya, menganut ideologi yang sifatnya sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga hukum Allah akan dicampakkan dan diganti dengan hukum buatan manusia yang banyak cacatnya. Toh sejenius atau sepintar apapun manusia, adakalanya mempunyai keterbatasan. di tengah cengkeraman sekularisme dan tanpa adanya Khilafah seperti kondisi saat ini, akan banyak hukum-hukum Islam yang terbengkalai dan tidak bisa dijalankan. Padahal menerapkan semua hukum Syariah Islam adalah suatu kewajiban (QS 2:208). Maka kondisi ini sudah pasti tak akan mampu mewujudkan taqarrub ilallah yang kaffah. Dan selanjutnya yang terjadi hanyalah kerusakan demi kerusakan belaka, sebagaimana disinyalir oleh Ibnu Taimiyah,"Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau agama terpisah dari kekuasaan, maka kondisi masyarakat akan rusak." (As-Siyasah Asy-Syar'iyyah, 1/174).

“Ini negara islam dan ini sudah negara yang dikuasai muslimin, yang kita perlukan adalah masyarakatnya yang mesti dibenahi...Karena khilafah islamiyah bila ditegakkan maka yang akan menolaknya adalah muslimin sendiri, mereka tak mau kehilangan diskoteknya, mereka tak mau kehilangan mirasnya, mereka tak mau menutup auratnya, nah..,” Memang benar masyarakatnya yang harus dibenahi. Tapi Kalau ingin melakukan perubahan secara menyeluruh thdp masyarakat, ya tidak bisa kalau caranya hanya dengan mendengarkan ceramah-ceramah saja. Hal itu tidak efektif dan efisien. Karena itu hanya akan dapat merubah pribadi/individu saja, bukan jema'ah/masyarakat. Kalau ingin dapat menerapkan syari'at islam secara kaffah, ya dengan cara menerapkan peraturan-peraturan yang sifatnya mengikat terlebih dahulu kepada masyarakat, sehingga orang-orang yang bermaksiat kapok, dalam artian mereka yang tak mau kehilangan diskoteknya, mereka yang tak mau kehilangan mirasnya, mereka yang tak mau menutup auratnya, semuanya dapat teratasi karena dengan menerapkan peraturan yang bersifat mengikat itu tadi. Nah agar kita bisa menerapkan peraturan-peraturan itu tadi, caranya ya jelas, kita hapuskan dulu sekularisme, dan jadikan islam sebagai suatu konstitusi negara. Dengan begitu, maka islam akan dapat diterapkan secara kaffah. Hal ini yang disadari oleh Rasulullah SAW dulu ketika mendirikan khilafah di Madinah, tanpa menunggu akhlak semua warga madinah dan mekkah baik, tanpa menunggu ibadah maghdah umat islam keseluruhan baik, beliau sangat terdorong mencari kabilah/masyarakat yg mau diatur oleh sistem islam/syariat islam dgn beliau sebagai pemimpinnya agar umat terlindungi dari hal-hal yang diharamkan dan dapat mengerjakan hal-hal yang diwajibkan dengan baik. Sehingga terjadilah peristiwa bai'at oleh pemimpin kabilah-kabilah dari yastrib/madinah dan akhirnya para sahabat hijrah kesana untuk mendirikan khilafah yang pertama kalinya. Kalau aspek politik tersebut dianggap kurang penting oleh Rasulullah SAW kenapa beliau melakukan hal tersebut? Kenapa beliau tidak hanya memperbaiki akhlak saja sampai akhir hayatnya/masa kenabiannya? Kenapa tidak terus membina ibadah maghdah saja dan tidak usah mengurusi masalah-masalah lainnya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan seluruh aspek kehidupan umatnya saat itu? Namun Rasulullah saw telah menentukan bahwa aspek politik adalah bagian yg teramat penting akan keselamatan umatnya. Dan inilah yang harus disadari oleh umat islam saat ini ditengah banyak paham-paham/isme-isme yang dihembuskan oleh kaum orientalis barat agar umat islam lemah dan mudah untuk dijajah.

“anda lihat Rasul saw berkuasa di madinah, namun pemimpin madinah tetap Abdullah bin Ubay bin salul, (pemimpin munafik dan musuh islam), mengapa Rasul saw tak merebut kekuasaan darinya?, Rasul saw membiarkan Ibn Ubay tetap memimpin madinah, dan Abu sofyan (sblm msk islamnya) tetap memimpin Makkah, Rasul saw tak pernah merebut kekuasaan, dan memang tidak cinta jabatan.(Kata-kata ini sindiran untuk Hizbut Tahrir) Cita-cita utama Hizbut Tahrir sebagaimana disebut dalam Kitab Hizbut Tahrir adalah sebagai berikut:Tujuan Hizbut Tahrir adalahmelangsungkan kembali kehidupan Islam, mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini bermakna mengembalikan kaum Muslim ke kehidupan islami di Darul Islam dan masyarakat Islam. Di dalamnya seluruh urusan kehidupan masyarakat berjalan sesuai dengan hukum-hukum Islam dan sudut pandang masyarakat adalah halal dan haram di bawah naungan Daulah Islamiyah, yakni Daulah Khilafah, yang di dalamnya kaum Muslim mengangkat seorang khalifah yang dibaiat atas dasar pendengaran dan ketaatan, untuk berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan untuk mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad (Hizb at-Tahrir, hlm. 6). Benar, kekuasaan dibutuhkan untuk bisa melanjutkan kehidupan Islam, namun itu bukanlah tujuan. Kekuasaan hanyalah thariqah (metode) untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh.

“Kesimpulannya adalah Rasulullah saw dan kesemua para Imam dan Muhaddits ahlussunnah waljamaah tidak satupun menyerukan pemberontakan dan kudeta (Kata-kata ini dialamatkan kepada Hizbut Tahrir), selama pemimpin mereka muslim maka jika diperintah maksiat mereka tidak perlu taat, bila diperintah selain dosa maka mereka taati.”Adakah kalian pernah melihat atau hanya mendengar dan membaca dari tulisan-tulisan secara mutawatir kalau Hizbut Tahrir pernah melakukan suatu pemberontakan kepada pemerintah? Sejauh ini saya membaca kitab-kitab Hizbut Tahrir tidak pernah sekalipun isinya yg menyatakan, untuk menerapkan sistem khilafah dengan cara-cara pemberontakan seperti halnya kudeta. Karena memang kudeta diharamkan oleh agama. Sekalipun para anggotanya banyak yang telah dianiaya, dizalimi dan dibunuh di dalam penjara-penjara para penguasa despot, Hizbut Tahrir tetap hanya menjalankan aktivitas intelektual dan politik; tanpa sedikitpun menggunakan cara-cara kekerasan, apalagi anarkis. Semua itu dilakukan bukan karena tidak berani atau tidak mampu, tetapi semata-mta karena Hizbut Tahrir berpegang teguh pada garis perjuangan Nabi saw. dan tidak ingin menyimpang sedikitpun, meski hanya seutas rambut.

Perlu kalian ketahui, bahwa hukum asal amar makruf nahi mungkar harus dilakukan secara terang-terangan, dan tidak boleh disembunyikan. Ini adalah pendapat mu’tabar dan perilaku generasi salafus sholeh. Hizbut Tahrir menasihati penguasa dan mengkritik kebijakan mereka secara terbuka justru karena mereka tidak mau tunduk dan patuh pada hukum Allah. Umumnya, mereka adalah para penguasa boneka dan kaki tangan negara penjajah, pengkhianat Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh kaum Muslim.

OK, Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan kepada kalian dalam Catatan Akbar kali ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung baik dikatakan dengan sengaja ataupun tidak sengaja.Pahamilah soal khilafah islamiyyah dg benar. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, karena isti’jal itu berasal dari syaithon.” Alangkah bijaknya Habib Mundzir dkk, Apabila mau mempelajari kitab-kitab Hizbut Tahrir mengenai khilafah disini, jangan hanya mengetahui khilafah dari satu sumber saja, sehingga hal tersebut bisa menjauhkan diri anda dari taklid buta. Karena itu adalah salah satu bentuk dari ashobiyah. Atas perhatiannya saya ucapkan jazakumullah khoiron katsiron. (duniawebra-inspirasiku/voa-khilafah.co.cc)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL