Antara Bekasi dan Kupang (Bagian I)


Kupang (voa-khilafah.co.cc) – Selasa pagi (15 November 2011), pukul 06.00 WIB, Voa-Islam bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggunakan pesawat Batavia Air. Direncanakan, kami akan berada di Kupang selama lima hari.

Jarak tempuh menuju Kupang dengan menggunakan pesawat memakan waktu sekitar empat jam. Pukul 10.30, kami tiba di Bandara El-Tari, Kupang. Adapun waktu Kupang lebih cepat satu jam dari Jakarta.  Sesampai di Bandara El Tari, kami dijemput oleh seorang rekan dari alumni Gontor yang punya hobi unik, otomotif dan vokalis gambus.

Dari Bandara, kami diantar dengan menggunakan mobil jenis Hartop warna biru menuju Kampung Solor, sebuah pemukiman muslim, dimana kami dipertemukan dengan Haji Abdul Rachim bin Djamaluddin Mustafa, seorang tokoh masyarakat muslim Kupang yang juga merupakan Imam Masjid Agung Al-Baitul Qadim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Air Mata.

Dalam ta’aruf (perkenalan) di Kampung Solor tersebut, kami memulai perbincangan, dari yang ringan hingga hal-hal yang serius, yang berkaitan dengan persoalan umat Islam di wilayah ini, khususnya di Kota Kupang dan sekitarnya. Sambil berbincang, kami disuguhkan kue Bagia, makanan kecil khas Kupang.

Dari perbincangan awal tersebut, seperti yang telah diuraikan Haji Abd. Rachim, Imam Masjid Air Mata, kami menjadi sedikit tahu tentang peta dan persoalan yang tengah dihadapi kaum Muslimin di Kota Karang ini. Selama lima hari, Voa-Islam mengumpulkan banyak data yang Insya Allah akan dilaporkan dalam beberapa tulisan.

Mengungkap Sejarah

Yang jelas, banyak hal yang menarik dari perjalanan Jurnalistik voa-islam di Kota Kupang, diantaranya: Mengungkap Sejarah Masuknya Islam di Kupang dan sekitarnya, Sejarah Masjid Tua Air Mata, Tempat pembuangan Mujahidin (ulama) di Kampung Air Mata, seperti: Tubagus Abdus Salam (dari Banten).

Selanjutnya, berziarah ke makam tokoh pejuang dan penyebar agama Islam di Perkuburan umum Islam Batukadera, Kelurahan Air Mata, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang-NTT. Di TPU inilah terdapat makam Panglima Hamzah (Cing) bin Bahren (wafat tahun 1900) dan Depati bin Bahren (wafat tahun 1885) -- keduanya dari Bangka Belitung. Di tempat ini juga terdapat makam Habib Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Gadri (wafat tahun 1899), salah seorang penyebar agama Islam di Kupang, serta makam Sultan Dompu Muhamad Sirajudin dari Bima.  
Tak kalah menarik, voa-islam akan mengungkap keberadaan Kampung Islam di Batakte, Batu Plat, Kampung Solor, Air Mata dan sekitarnya. Di Batakte misalnya, voa-Islam melakukan kunjungan silaturahim ke Pesantren Hidayatullah, yang dikabarkan pernah akan dibakar oleh kaum Salibis saat Peristiwa Kupang tahun 1998.

Keberadaan Masjid tua, seperti Masjid Al-Fatah (berdiri tahun 1889) di Kampung Solor dan Masjid Air Mata (berdiri tahun 1806) di Kampung Air Mata juga menjadi perhatian voa-islam, tak terkecuali pengaruh Mahzab Imam Syafi’I yang begitu dominan yang identik dengan Maulid, Barzanji, Hadarat mewarnai suasana religius di kota ini.

Peristiwa Kupang 1998
Untuk lebih menyegarkan ingatan kembali, voa-islam akan mengurai kembali Peristiwa Kupang tahun 1998, dimana banyak keanehan yang terjadi di sini. Voa-Islam juga akan mengungkap persoalan kerukunan umat beragama di kota ini, termasuk adanya pelarangan pembangunan Masjid di Kelurahan Batu Plat, Kecamatan Alak-Kota Kupang oleh komunitas Kristen yang diprovokasi oleh pihak gereja.

Yang menyedihkan lagi adalah ihwal konflik internal di kalangan umat Islam di Kupang, khususnya di lingkungan Masjid Air Mata. Persoalan ini sampai dibawa ke ranah hukum, dimana Imam Masjid Air Mata harus bolak-balik ke Polresta Kupang untuk memberi keterangan BAP. Kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik.

Apalagi? Voa-Islam juga akan menurunkan tulisan khas (feature) tentang tradisi mabuk (miras) terutama para pemudanya. Tak aneh, akibat miras, jenis kejahatan yang terbilang tinggi di kota ini adalah penganiayaan. Yang juga tak kalah menarik adalah tulisan tentang Proyek Imigran Gelap di Kota Kupang, Rote dan sekitarnya.

Keunikan lain dari Kota Kupang adalah menaiki angkutan kota yang disebut dengan Bemo. Kebisingan akan terasa jika menumpangi kendaraan roda empat ini dengan musiknya yang menggelegar (dominan bass). Orang Kupang menyebutnya dengan “Diskotek Berjalan”. Di Kota Kupang pula, kami sempat menemui dan mampir ke Warung makan Betawi yang sudah ada sejak 14 tahun yang lalu. Ternyata, penjualnya adalah orang Betawi asli asal Ciledug, Tangerang.

Bahkan, kami juga turut menghadiri adat pernikahan ala Kupang yang unik. Ironisnya, mempelai pria yang muslim itu mempunyai ayah-ibu yang Kristen. Awalnya, sang ayah yang bernama Muhammad Jawes, seorang ketururanan Arab, beragama Islam. Namun setelah menikahi wanita Kristen, ia berpindah agama (Kristen). Kini sang ayah menjadi pendeta. Seluruh keluarga pun pindah agama dari Muslim ke Kristen. Hanya sang mempelai pria yang bertahan sebagai Muslim.

Dari Kampung Solor, setelah berta’aruf dengan Haji Abdul Rachim Mustafa, kami diantar ke Kampung Air Mata, tempat dimana kami bermalam di Kota Kupang selama lima hari. Nantikan laporan jurnalistik selengkapnya di situs voa-Islam. (Desastian, voa-islam/voa-khilafah.co.cc)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers