Mengungkap Masjid Bersejarah Air Mata di Kupang (Bagian II)


Kupang (voa-khilafah.co.cc) – Bila anda ke Kupang, tidak afdhol rasanya jika tidak berkunjung ke Masjid Agung Al-Baitul Qadim Airmata atau yang dikenal dengan sebutan Masjid Airmata. Mengingat masjid yang terletak di Jl. Trikora No. 32, Kelurahan Air Mata, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini merupakan masjid tertua di Pulau Timor, dan dijadikan pusat penyebaran agama Islam di Kota Kupang dan sekitarnya.

Di Kelurahan Airmata inilah tempat pemukiman muslim pertama di Kupang, NTT. Di sini masih berdiam keturunan ke-10 penyebar agama Islam di daerah itu. Masjid Agung Baitul Qadim adalah masjid yang pertama, tertua di Kota Kupang dan di wilayah Pulau Timor. Tak mengherankan jika masjid tersebut dijadikan sebagai objek wisata religius di Kota Kupang.

Masjid yang sudah berusia sekitar lebih dari 200 tahun itu dibangun diatas tanah hibah Sya’ban bin Sanga Kala pada tahun 1806 bersama dengan Kyai Arsyad (tokoh pergerakan Banten yang dibuang Belanda ke Kupang). Konon, pembangunan masjid tersebut dibantu oleh umat Kristiani yang ada di sekitar kampung Airmata Kupang.

Syahban bin Sanga Kala merupakan warga Muslim pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Timor dalam pelayarannya dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Syahban bin Sanga Kala berasal dari Mananga, sebuah kampung di Pulau Solor bagian barat.

Masjid Air Mata ketika dibangun pertama kali tahun 1806 berarsitektur perpaduan seni arsitektur Jawa dan Cina, dengan muatan unsur budaya Flora Timur dan  Arab sebagai simbol perlawanan warga Airmata terhadap koloni Belanda dan Jepang pada masa itu. Dengan ukuran 10 x 10 meter, masji tersebut berbentuk joglo, dengan atap genteng. Tahun 1984 dilakukan pemugaran total dengan pemrakarasa Imam H. Birando bin Taher.

Pemugaran ini dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jemaah setempat, dengan sejumlah alasan, di antaranya bertambah pesatnya warga Muslim dam Muslimah. Pemugaran itu juga didasarkan pada kondisi rumah ibadah tertua ini tidak layak lagi, karena sebagian dinding dan atap mengalami perapuhan, sehingga perlu direnovasi, tanpa menghilangkan keasliannya yang tetap nampak pada sebagian dinding ruangan yang hingga kini masih ada.
   
Islam & Para Imam di Airmata
Seorang peneliti sejarah Munandjar Widiyatmika, Islam masuk pertama kali di NTT mulai dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur pada abad ke-15. Dimulai dari Mananga, Pulau Solor dilakukan oleh para pedagang yang juga Ulama dari Palembang, Sumatera selatan, ulama tersebut bernama Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Menanga.

Dari Mananga, Islam kemudian perlahan-lahan masuk ke Pulau Flores, Alor dan Kupang, termasuk di Airmata. Dapat difahami bila kemudian penyebar Islam pertama di daerah Airmata, Kupang adalah Ulama yang berasal dari Menanga, karena memang Islam di Pulau Timor bermula masuk dari sana.

Menurut tokoh masyarakat Kupang asal Papela, Pulau Rote, Darso Bakuama, dibanding wilayah Nusantara lainnya, Islam terbilang agak terlambat masuk ke wilayah ini. Karena itu tidak heran kalu umat Islam di kota ini terbilang minoritas.

Sebuah wilayah di tengah Kota Kupang bernama Airmata, bisa dipastikan menjadi titik sentral objek ziarah di sini. Dari namanya, sudah bisa dipastikan kalau wilayah ini memiliki identitas, dialek atau logat Melayu yang khas, berbeda dari seluruh nama wilayah di kota ini yang biasanya berawalan oe (air), seperti Oeba, Oesapa, Oebufu, Oenlain dan masih banyak lagi oe-oe lainnya.

Bagi masyarakat Airmata, nama wilayah ini sendiri memiliki dua makna. Pertama, dari wilayah inilah timbul mata air yang mengalir sungai jernih membelah Kota Kupang. Makna kedua, di tempat inilah banyak air mata yang tumpah akibat kekejaman penjajah.

Setidaknya ada beberapa ulama yang ditangkap dan diasingkan kompeni Belanda hingga mereka wafat dan dimakamkan di sini, diantaranya: Kiyai Arsyad asal Banten, Dipati Amir bin Bahren asal Bangka (Bangka Belitung), Panglima Hamzah (Cing) bin Bahren (juga dari Bangka Belitung), dan Sultan Dompu bernama Muhamad Sirajudin asal Bima.

Di perkuburan ini pula terdapat makam Habib Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Gadri (wafat tahun 1899), salah seorang penyebar agama Islam di Kupang. Makam para ulama itu terletak berdekatan dalam sebuah kompleks yang dikenal dengan Perkuburan umum Islam Batukadera, Kelurahan Air Mata, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang-NTT.
  
Berdasarkan cerita sesepuh Airmata, H. Imam Birando bin Taher -- Imam Masjid Agung Airmata ke tujuh yang juga tokoh masyarakat Airmata (kini sudah almarhum), Kiyai Arsyad paling banyak berperan dalam pengembangan Islam di Kupang. Sebelum ditangkap dan diasingkan di Kupang, Kiyai Arsyad memimpin perlawanan masyarakat Cilegon, Banten, terhadap Belanda (1926).

Sebelum menentap di Airmata, Kiyai Arsyad mula-mula tinggal di Oeba, sebuah kawasan pantai di belahan utara Kupang. Di sini Kiyai Arsyad mendirikan masjid. Baru beberapa tahun, masjid itu digusur Belanda dengan dalih akan dijadikan kompleks perumahan pejabat.

Kiyai Arsyad dan pengikutnya kemudian bergeser ke arah selatan kota, tepatnya di Funtein sekarang. Di sini Kiyai Arsyad dan pengikutnya kembali mendirikan masjid. Sayangnya, Belanda kembali menggusur masjid dan komunitas Kiyai Arsyad dengan alasan akan mendirikan perkantoran. Kantor Bupati Kupang (sebelum dipindah) diyakini sebagai lokasi berdirinya masjid  yang didirikan Kiyai Arsyad.

Setelah tergusur dari Funtein, Kiyai Arsyad beserta pengikutnya memindahkan komunitasnya ke Airmata,  kini tidak lagi digusur karena Belanda terlanjur angkat kaki dari Nusantara. Masjid Agung yang didirikan di Airmata ini dibangun di atas tanah wakaf Sya’ban bin Sanga Kala dan diberi nama Baitul Al-Qadim (rumah pertama).

“Sejatinya Masjid Agung Airmata bukanlah Masjid yang pertama kali berdiri di Kupang. Sebelumnya sudah dua kali didirikan masjid oleh Kyai Arsyad tapi dua kali pula di berangus oleh penjajah Belanda,” kata Imam Birando.

Tokoh Sya’ban bin Sanga
Orang kedua yang berjasa dalam pengembangan Islam di Kupang, khususnya di Airmata adalah Sya’ban bin Sanga, tokoh ulama asal Solor, Flores Timur. Untuk kepentingan masjid, Sya’ban mewakafkan sebidang tanah yang dimilikinya. Tanah wakaf Sya’ban ini oleh Kiyai Arsyad dibangun masjid yang kemudian diberi nama Baitul Qadim (rumah pertama).

Sya’ban bin Sanga pun mewakafkan anak-anaknya untuk kepentingan dakwah. Tiga puteranya, yakni: Birando, Abdullah, dan Bofid. Masing-masing anaknya, Birando diwakafkan sebagai imam, Abdullah sebagai khatib, dan Bofid sebagai muezzin. Tradisi mewakafkan diri pada masjid ini terus berlangsung hingga cucu-cucu Sya’ban. Salah seorang cicit dari Sya’ban bin Sanga, yakni H. Imam Birando bin Taher pun pernah memegang jabatan imam Masjid Airmata.

Kini, Masjid Agung Al-Baitul Qadim Airmata telah menurunkan tujuh orang imam kepala, di antaranya Birando bin Syaban, Ali bin Birando, Djamaludin, Abdul Gani, Tahin bin Ali Birando dan Birando bin Tahir. Kini Imam Masjid Airmata dipimpin oleh H. Abdul Rachim bin Dajamaluddin Mustafa.

Pada 1984, imam masjid turunan ketujuh, Birando bin Tahir, mulai melakukan pemugaran atas masjid bersejarah itu guna melestarikan keberadaannya sebagai pusat penyebaran Islam di Pulau Timor.

Saat voa-islam mengunjungi  masjid tua tersebut untuk shalat berjamaah, terdengar kabar, bahwa telah terjadi konflik internal di dalam tubuh kepengurusan Masjid Agung Baitul Qadim Airmata. Sungguh sangat disayangkan. Kami berdoa, semoga Allah mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.(Desastian, voa-islam/voa-khilafah.co.cc)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers