Tampilkan postingan dengan label INGGRIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INGGRIS. Tampilkan semua postingan

Organisasi Anti Islam di Inggris akan Gelar Pameran Kartun Nabi Muhammad

Voa-Khilafah.com, JAKARTA -- Beberapa organisasi Muslim di Inggris mengecam rencana kelompok anti syariah bernama Sharia Watch. Dikabarkan, mereka akan menggelar pameran kartun Nabi Muhammad pada September mendatang.

Azad Ali dari Muslim Safety Forum mengatakan, pameran kartun Nabi yang akan digelar Sharia Watch meupakan upaya untuk melecehkan toleransi Muslim Inggris. Menurutnya tindakan tersebut sangat murahan.

Dilansir dari Al Jazirah, Jumat, (10/7), Ali menambahkan, kelompok anti Islam itu terus berupaya menguji kesabaran umat Islam, dan terus memancing reaksi Muslim. Mereka mencari cara untuk mendapatkan justifikasi dan menjelekkan orang Islam.

Rencananya, pameran itu juga akan dihadiri politikus anti Islam Belanda Geert Wilders. Sebelumnya, Sharia Watch yang berbasis di London menyatakan, acara tersebut digelar untuk menghormati orang-orang yang mengambil risiko demi membela kebebasan berekspresi, serta telah terbunuh karena kepentingan itu. (ROL/Voa-Khilafah.com)

Muslimah di Inggris Diserang dan Jilbabnya Dirobek

Muslimah di Inggris Diserang dan Jilbabnya Dirobek

VOA-KHILAFAH.COM, KAIRO -- Tindakan Islamofobia kembali terjadi di Inggris. Seorang perempuan muslim diserang dan dirobek jilbabnya oleh sekelompok perempuan yang berjumlah tiga orang. Insiden tersebut terjadi saat perempuan muslim ingin menjemput anaknya di sekolah.

"Mereka menarik jilbab saya dan mulai memukul dan menendang saya. Satu menyeret menunduk sementara yang lain memukul saya. Mereka begitu rasis dan menggunakan istilah menghina," ujar perempuan muslim tersebut seperti dilansir onislam.net, Sabtu (6/6).

Ia menceritakan, sebelum melakukan penyerangan, pelaku bertanya apakah hijab yang ia gunakan panas dan tidak nyaman.Setelah itu, pelaku langsung memukul dan merobek hijab korban. Penyerangan berhenti ketika salah serorang warga memanggil petugas kepolisian ke lokasi penyerangan.

Akibat penyerangan tersebut, korban mengalami luka akibat pukulan dan kehilangan sedikit rambutnya. Polisi telah menangkap pelaku penyerangan yang masing-masing berusia 18 dan 35 tahun. Inggris adalah rumah bagi minoritas Muslim yang berjumlah dua juta orang.

Ratusan pelanggaran kebencian anti-Muslim telah dilakukan di Inggris pada tahun 2013. Polisi Metropolitan Inggris mencatat kenaikan 49% dibandingkan tahun 2012. (ROL/ www.voa-khilafah.com)

William Si Calon Raja Inggris Sangat Jarang ke Gereja

William Si Calon Raja Inggris Sangat Jarang ke Gereja


Voa-Khilafah.tk - Pangeran William, cucu Ratu Inggris Elizabeth II yang akan mewarisi tahta, ternyata sangat jarang sekali pergi ke gereja. Demikian menurut laporan media Inggris yang dikutip Christian Post (14/1/2013).

William dan istrinya, Catherine 'Kate' Middleton, “sangat jarang” pergi ke gereja setiap hari Minggu pagi, atau kapanpun dalam satu pekan. Dalam satu tahun, kunjungan William ke gereja bisa dihitung dengan jari. Kunjungan itu pun hanya terkait dengan upacara seremonial resmi kerajaan atau acara tertentu seperti Natal dan Tahun Baru, serta pernikahan.

Frekuensi ke gereja William yang sangat jarang itu menjadi sorotan sebab sebagai raja Inggris nantinya dia akan menjadi Defender of the Faith and Supreme Governor of the Church of England (pembela agama dan pemimpin tertinggi Gereja Inggris). Artinya, William jika bertahta nanti menjadi pemimpin tertinggi Church of England, gereja penaung umat Kristen Anglikan sedunia.

William yang kini berusia 30 tahun, ditegaskan pada tahun 1997 menganut agama Kristen Anglikan, agama resmi keluarga Kerajaan Inggris.

Aliran Kristen Anglikan terbentuk berkaitan dengan pembatalan perkawinan antara raja Inggris Henry VIII dengan Catherine of Aragon, saat raja itu ingin mengawini selingkuhannya Anne Boleyn. Mereka menganut Katolik Roma yang merupakan agama kerajaan. Oleh karena ajaran Katolik tidak membolehkan perceraian, maka dibuatlah gereja Kristen baru yang bisa menceraikan pasangan bangsawan Inggris itu, yang sekarang dikenal sebagai Church of England, yang menaungi penganut Kristen aliran Anglikan. Nama Anglikan sendiri berasal dari bahasa Latin 'ecclesia anglicana' yang artinya Gereja Inggris. Sejak itu Anglikan menjadi agama resmi bangsawan Inggris menggantikan Katolik Roma.

Ratu Elizabeth II, nenek William, dikenal sebagai penganut Kristen yang taat dan mengunjungi gereja secara rutin setiap pekan. Ayah William, Pangeran Charles, juga dikenal sebagai jemaat yang rutin datang ke gereja, meskipun dia tertarik dengan ajaran agama-agama lain seperti Islam, tulis Christian Post.

William, yang menjadi pewaris tahta urutan kedua setelah ayahnya, sepertinya mengikuti kebiasaan para bangsawan muda seusianya yang kebanyakan sangat jarang ke gereja. Hanya kurang dari 8% bangsawan muda Inggris yang rutin beribadah ke gereja.

Menurut survei organisasi amal Kristen, Tearfund, Inggris termasuk negara Eropa yang paling sedikit tingkat ketaatan penganut Kristennya. Meskipun 53% mengaku beragama Kristen, dua pertiga responden yang mereka wawancarai mengaku tidak pernah mengunjungi gereja selama dua tahun terakhir, kecuali untuk pembaptisan, menghadiri acara pernikahan dan pemakaman.*(hid/voa-khilafah.tk)


Mahasiswa Inggris Tolak Tawaran Lobi Pro Yahudi

Voa-Khilafah.co.cc - Para mahasiswa University of York Inggris menolak keras tawaran untuk memperoleh kemitraan kembar dengan Hebrew University Israel.

Mereka menolak proposal yang diajukan oleh pelobi pro-Israel untuk menggalang dukungan atas rezim rasis Israel melalui skema kemitraan kembar, demikian dikurtip middleeastmonitor Jumat (09/12/2011).

Proposal itu diajukan oleh seorang mahasiswa University of York, Jacob Campbell, yang mengatakan dia ingin menghentikan apa yang digambarkan sebagai kegiatan anti-Semit di universitas-universitas Inggris.

Serikat Mahasiswa University of York meminta anggotanya untuk mendukung atau menolak program, yang berusaha membangun hubungan antara serikat mahasiswa dari dua universitas tersebut.

Dikutip Press TV, lebih dari 1.000 mahasiswa mengambil bagian dalam proses pemungutan suara, hasilnya 891 suara menentang usulan kemitraan kembar, 144 suara mendukung, dan 127 abstain.

Menurut presiden mahasiswa, jumlah pemilih yang relatif tinggi dalam pemungutan suara, mencerminkan pentingnya isu itu bagi mereka.

Lobi pro-Israel di Inggris, baik koalisi atau individu, berkomplot untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri London dalam mendukung Zionis dan tindakan brutal mereka.

Lobi-lobi Zionis di Inggris telah menyaksikan peningkatan pertumbuhan dan pengaruh dalam beberapa tahun terakhir, mengandalkan kekayaan dan jaringan mereka di negara itu. Sebagian besar politisi Inggris adalah anggota atau sponsor kelompok-kelompok lobi Zionis, yang berarti politik negara itu adalah alat bagi kepentingan Zionisme.

Publik Inggris pada umumnya tidak setuju dengan kebijakan yang ditempuh untuk mendukung Zionis. Sebelumnya, Badan Mahasiswa Inggris mengutuk King College London (KCL) karena bekerjasama dengan sebuah perusahaan Israel, yang terletak di sebuah pemukiman ilegal Zionis di Tepi Barat, Palestina.*gm/voa-khilafah.co.cc

Saif Tak Cukup Cerdas untuk Masuk Oxford


LONDON, Voa-Khilafah.co.cc — Pemerintahan Tony Blair pernah berusaha untuk menekan Universitas Oxford agar kampus itu menerima Saif Khadafy belajar di sana. Namun, Saif ditolak karena ia tak cukup cerdas.
Adalah Profesor Valpy Fitzgerald, Kepala Departemen Pembangunan Internasional Universitas Oxford, yang mengungkap upaya busuk rezim Blair itu, sebagaimana dilansir Daily Mail, Kamis (1/12/2011). Fitzgerald mengatakan, ia dihubungi seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Inggris tahun 2002. Pejabat itu meminta agar Oxford menerima Saif di program MA bidang ekonomi pembangunan atau studi pembangunan.
Prof Fitzgerald memberi tahu pejabat itu bahwa ia khawatir dengan kemampuan akademis Saif. Putra pertama dari istri kedua Kolonel Moammar Khadafy itu “tidak memiliki pelatihan ilmu sosial dan gelarnya tidak memenuhi standar kualitas yang diperlukan”.
Pengungkapan hal itu muncul setelah London School of Economics (LSE) menerima “sumbangan” senilai 1,5 juta poundsterling dari Saif, meskipun ada bukti bahwa uang itu berasal dari suap yang dibayarkan perusahaan-perusahaan asing demi mengamankan proyek menguntungkan mereka di Libya. Sebuah laporan resmi menyimpulkan, uang tunai itu telah dibayarkan kepada putra playboy dari Kolonel Khadafy itu oleh kontraktor-kontraktor yang berusaha untuk “mendapatkan bantuan” dari diktator tersebut. Yang mengherankan, donasi tersebut secara resmi diterima pada hari saat Saif meraih gelar PhD kontroversial dalam sebuah upacara wisuda di LSE.
Laporan itu, yang disusun mantan Hakim Agung Lord Woolf, mengungkapkan, karier akademis Saif di London dipenuhi keluhan akan kecurangan. Namun, meskipun ada tuduhan itu, sebuah kajian independen oleh University of London menyimpulkan bahwa Saif tidak seharusnya dilucuti gelar PhD-nya.
Saif ditangkap pemberontak Libya setelah rezim ayahnya tumbang. Ia kini ditahan dan akan diadili. Jika terbukti bersalah, ia sepertinya akan dieksekusi.
Dalam laporannya yang setebal 188 halaman, Lord Woolf mengatakan, gabungan tuduhan kecurangan dan sumbangan untuk LSE menimbulkan persepsi yang sangat disayangkan “tentang kegiatan LSE itu”.
Lord Woolf menyusun laporan itu menyusul pengunduran diri Sir Howard Davies sebagai direktur LSE pada Maret lalu di tengah berita mengejutkan terkait hubungan intensif LSE dengan rezim Khadafy. Selain sumbangan Saif, universitas itu juga ternyata menandatangani kontrak senilai 2,2 juta poundsterling untuk melatih pengawai layanan sipil Libya. Sir Howard juga mengambil peran ganda sebagai utusan ekonomi Tony Blair untuk Libya dan penasihat dana investasi Pemerintah Libya.
Laporan Lord Woolf merinci kegagalan yang terbilang mengejutkan dalam manajemen puncak LSE dalam penanganan donasi. Para pejabat universitas itu gagal mengungkapkan rincian asal-usul uang tersebut, yang mereka temukan di sebuah laporan due diligence, bagi dewan yang mengatur LSE ketika mempertimbangkan itu sebagai sumbangan. Uang tersebut seolah-olah sumbangan dari Yayasan Pembangunan dan Lembaga Amal Internasional Khadafy yang dikelola Saif Khadafy.
Namun, para pejabat LSE bisa menemukan bahwa uang itu pada kenyataannya berasal dari kontraktor-kontraktor yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di negara Afrika Utara itu. Jadi, uang itu masuk kategori uang suap. Lord Woolf mengatakan, bukannya menimbulkan “keprihatinan nyata”, laporan itu secara efektif diabaikan.
Laporan itu juga mengkritik Profesor David Held, yang kemudian menjadi kepala ilmu politik di LSE, yang membuat presentasi kepada dewan universitas tentang sumbangan tersebut meskipun ada “konflik kepentingan yang sangat jelas”.
(kompas/hti/voa-khilafah.co.cc)

Kegagalan Kapitalisme: Dua Juta Orang Mogok Kerja di Inggris

Voa-Khilafah.co.cc - Negara Barat benar-benar tengah menghadapi krisis panjang, akibat kerusakkan sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri itu. Berbagai aksi protes berkepanjangan terus berlangsung, baik di Amerika maupun di Eropa, termasuk di Inggris. 

Serikat kerja Inggris menyatakan sebanyak dua juta pekerja sektor layanan masyarakat mogok kerja pada Rabu (30/11), guna memprotes perubahan pensiun mereka, setelah pemerintah menanggapi ramalan pengurangan pertumbuhan dengan pemangkasan pengeluaran baru.

Dalam apa yang disebut serikat pekerja sebagai pemogokan terbesar dalam beberapa dasawarsa, ribuan sekolah ditutup, rumah sakit beroperasi dengan jumlah staf paling sedikit dan pemerintah lokal lumpuh, kendati pemerintah membantah jumlah yang disiarkan oleh serikat pekerja.

Ribuan pekerja berpawai di seluruh London tengah dan Manchester, bagian barat-laut Inggris, selama pemogokan 24-jam.

Namun, kekhawatiran mengenai penundaan lama di bandar udara Heathrow, London, salah satu pusat penumpang udara paling sibuk di dunia, tak terjadi saat sebagian besar pejabat imigrasi muncul untuk bekerja.

Kebanyakan pelabuhan feri dan layanan kereta lintas Channel --yang menghubungkan Inggris dengan Benua Eropa-- juga beroperasi secara normal.

Pemogokan itu adalah ujian terbesar sejauh ini bagi pemerintah Konservatif-Liberal Demokrat, pimpinan Perdana Menteri David Cameron --yang menyulut kemarahan serikat pekerja dengan membuat pekerja sektor layanan masyarakat membayar lebih besar bagi pensiun mereka dan bekerja lebih lama.

Demikianlah, para politisi Barat telah gagal menyejahterakan rakyatnya hingga rakyat di Eropa turun ke jalan melakukan berbagai protes, termasuk mogok masal. Ini semakin menunjukkan sistem kapitalisme semakin bangkruta.

Di saat inilah, rakyat dunia menanti sebuah sistem kepemimpinan yang akan melayani rakyat, bukan melayani para kapital seperti dalam sistem kapitalisme. Sistem itu tidak didapatkan kecuali hanya di bawah sistem Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah Islamiyyah, institusi pelaksana syariah, menyejahterakan dunia. Insya Allah, semakin dekat. [ant/syabab/voa-khilafah.co.cc]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL