Tampilkan postingan dengan label KIYAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIYAI. Tampilkan semua postingan
Kyai Syiah Tajul Muluk dapat Dana 20 Milyar dari Iran

Kyai Syiah Tajul Muluk dapat Dana 20 Milyar dari Iran

 
SAMPANG - Permasalahan konflik antara Sunni - Syi'ah di Sampang sejatinya sudah lama, pada tahun 2006 sempat menggema, puncaknya di tahun 2008 yang diakhiri dengan perjanjian damai antara Sunni dan Syi’ah. Hal ini sudah dianggap selesai oleh umat Islam disana pada waktu itu.

Namun, beberapa hari yang lalu, konflik kembali mencuat. Ribuan warga Sunni yang baru saja pulang dari menghadiri sebuah pengajian langsung menuju kampung Syi'ah. Mereka berasal dari delapan desa: Nung Rancak, Tobaih, Lempong, Omben, Paleh, Pancor, Blu'uran dan Karang Gayam. Polisi pun tidak mampu menghalangi gelombang masyarakat yang marah.


Hal tersebut bermula ketika warga mendengar adanya aliran dana yang diterima kyai Syi'ah, Tajul muluk sebesar 20 milyar dari Iran untuk membangun ponpes Syiah, warga Sunni tidak bisa menerima karena dakwah Syi’ah makin gencar dan agresif. Syi’ah berhasil merekrut sekitar 700 orang, yang tadinya menganut paham Ahlus Sunnah menjadi murtad ke agama Syi’ah.


Pengajian yang diadakan oleh Syi’ah semakin rutin dan banyak warga yang sudah dikirim ke Bangil yang pusat pengajaran Syi’ah di Jawa Timur.


Sampai berita ini diturunkan warga Syi’ah masih diungsikan ke Pendopo Kabupaten Salpang, mereka ingin segera pulang karena banyak hewan peliharaan yang mereka tinggalkan, namun warga setempat masih belum bisa menerimanya. [
muslimdaily.net]

Kontributor Sampang : Roma Elmona Ruq

Seri Pahlawan: Syekh Yusuf al Makassari Terbuang hingga Afrika


Makassar tumpah darahnya, berilmu di tanah Makkah dan Madinah, Banten ladang jihadnya, terasing di Srilangka, terbuang hingga Afrika

Adalah Syekh Yusuf, putera asli Makassar, lahir di Kerajaan Gowa pada tahun 1626 M. Dari asal usulnya, beliau merupakan keturunan bangsawan di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa dan Bone.

Dari segi ketokohannya, ia bukan hanya ulama syariat, tapi juga sufi, pemimpin tarikat, pengarang, pejuang, dan musuh besar kompeni Belanda. Oleh pemerintah kompeni di Hindia Timur (Indonesia), Syekh Yusuf dianggap duri dalam daging, hingga ia diasingkan ke Ceylon (Srilangka), kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan dan wafat di pengasingannya, Cape Town, pada tahun 1699 M.

Pada zamannya (abad ke 17), Syekh Yusuf dikenal hingga empat negeri, yakni: Makkah, Banten, Sulawesi Selatan, Ceylon dan Afrika Selatan. Beliaulah peletak dasar kehadiran komunitas Muslim di Afrika Selatan dan Ceylon bahkan dianggap bapak bangsa rakyat Afrika Selatan, karena perjuangannya mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan perbedaan warna kulit.

Bayangkan, sejak usia 18 tahun (abad ke 17) Syekh Yusuf telah mengembara selama 20 tahun untuk mencari ilmu dari Makassar ke Banten, Aceh, Yaman, Makkah, Madinah dan Damaskus, mendalami tasawuf dan mengajar di Masjidil Haram pada usia 38 tahun. Begitu besar motivasi belajar anak muda ini.

Selama pengembaraannya mencari ilmu, Syekh Yusuf mengantongi ijazah dari beberapa tarekat, seperti tarekat Naqsabandiyah, Syattariyah, Ba’alawiyah, dan Qadariyah. Namun dalam pengajarannya, beliau tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri pada abad itu.

Menurut peneliti asal Belanda, B.F Matthes, Islam sudah hadir sebelum Syekh Yusuf terlahir. Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dibawa oleh Datok ri Bandang (juga disebut Katte toenggalak), yang berasal dari kota tengah Minangkabau. Tidak lama sesudah Islam diterima di Sulawesi Selatan, lahirlah seorang bernama Sehe Yusoepoe atau Sjaich Josef Toeang Salama. Beliau dikenal sebagai wali dibawah pemerintahan Raja Gowa ke-19, Abdul Djalil Tuemenanga  ri Lakiung.

Matthes mengungkapkan, selama Yusoepoe berdiam di Bantam (Jawa) sesudah kembali dari Makkah, ia mendapat kunjungan seorang wali dari Gowa bernama Toeang Rappang atau Abdoel Bashir Sehetta I Wodi. Toeang Rappang pernah bersama-sama dengan Yusoepoe di Makkah. Ia adalah seorang buta dan luas pengetahuannya, yang mendapat tugas oleh gurunya agar kembali ke Gowa untuk menyebarkan agama Islam. Tahun 1644, Syekh Yusuf pun meninggalkan tanah airnya dan bermaksud berziarah ke Makkah melalui Banten.

Pengembara Ilmu Sejati
Berdasarkan sumber buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Abu Hamid (Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin) berjudul:“Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang”, Syekh Yusuf meninggalkan negerinya Gowa menuju pusat Islam di Makkah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Dengan menumpang kapal melayu dari pelabuhan Somba Opu, ia berangkat untuk tujuan pertama, yakni ke Banten, sebagaimana jalur niaga pada masa itu di Laut Jawa. Nama Banten rupanya sudah sering didengar oleh Syekh Yusuf dari pelaut-pelaut dan pedagang-pedagang Melayu

Kapal niaga Melayu berlabuh di beberapa daerah niaga sekitar Laut Jawa, sehingga perjalanan ke Banten ditempuh dalam waktu delapan hari. Di Banten, Syekh Yusuf cepat menyesuaikan diri dan berkenalan dengan ulama-ulama, ahli agama, dan pejabat-pejabat agama. Bahkan Yusuf sempat bersahabat baik dengan putra mahkota Pangeran Surya yang dikenal dengan Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa.

Merasa belum puas dengan pengajian-pengajian yang dipelajarinya di Banten, maka ia memutuskan untuk berangkat ke Aceh, tepatnya pada masa pemerintahan Sultanah Tajul Alam dan menemui Syekh Nuruddin ar-Raniri.

Walaupun bukti-bukti dokumenter di Aceh atas kedatangan Syekh Nuruddin dalam periode ini tidak ada, namun dapat dilihat bahwa Syekh Yusuf pernah berguru pada Syekh Nuruddin dan menerima ijazah tarekat Qadariyah, seperti yang ditulis olehnya dalam risalah “Safinat an-Naja”
Setelah Syekh Yusuf menerima ijazah tarekat Qadariyah dari Syekh Nuruddin, ia berusaha ke negara Timur Tengah untuk menambah ilmunya dan menunaikan ibadah haji sebagaimana tujuan semula. Keseluruhan waktu yang digunakan oleh Syekh Yusuf selama di Banten dan Aceh kurang lebih lima tahun, sehingga diduga ia berangkat ke Timur Tengah pada tahun 1649. Menurut Buya Hamka, keberangkatannya ini bertolak dari Aceh dan bukan dari Banten.

Versi lain mengatakan, Syekh Yusuf berangkat dari pelabuhan Banten. Mengingat Banten merupakan pusat penyalur barang dagangan ke Eropa dan negara-negara lain, menggantikan posisi Malaka sesudah diruntuhkan oleh Kompeni Belanda tahun 1641.

Sumber-sumber lontarak menyebutkan bahwa perjalanan Syekh Yusuf dari Banten ke Saudi Arabia melalui Ceylon (Srilangka), memakan waktu 56 hari. Di Arab Saudi, Syekh Yusuf mula-mula mengunjungi negeri Yaman dan berguru dengan Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugrahi ijasah tarekat Naqsabandi.

Masih di negeri Yaman, Syekh Yusuf berguru dengan Syekh Maulana Sayed Ali. Dari gurunya ini, Syekh Yusuf menerima ijazah tarekat al-Baalawiyah. Setelah musim haji, ia ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah untut menuntut ilmu. Di Madinah, ia menjumpai Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani yang merupakan guru Syekh Abdurrauf Singkel. Dari syekh ini, ia diberi ijasah tarekat Syattariyah.

Belum puas juga dengan berbagai ijasah tarekat, Syekh Yusuf bertolak ke negeri Syam (Damaskus). Di Syam ia menemui Syekh Abu al Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi.  Sang guru memberi ijasah tarekat Khalwatiyah, dan mengukuhkannya dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah.

Dalam Risalah Syekh Yusuf Safinat an-Naja, selain lima tarekat tadi, ia juga mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syadziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, Makhduniyah dan lain-lain.

Syekh Yusuf kemudian membuka pengajian dalam Masjidil Haram. Ia dikenal sebagai Ulama Jawi dan beberapa jamaah haji dari Indonesia (Hindia Belanda) pernah berguru padanya. Melihat pelbagai  jenis aliran tarekat yang pernah dipelajarinya, bukti Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam. Betapa tidak, ia jelajahi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu tasawuf, di Timur Tengah sekitar 15 tahun, berkenalan dengan berguru pada syekh termasyhur di zamannya.

Sekembalinya dari Makkah, Syekh Yusuf berdiam diri di Banten dan menikah dengan seorang bangsawan puteri Sultan Banten Tirtayasa. Selama berada di Banten sekitar 20 tahun, Syekh Yusuf diangkat sebagai mufti kerajaan, guru bagi Sultan dan keluarganya, serta syeikh tarikat bagi penduduk. Ia mengajar selama 18 tahun.

Perang Gerilya
Ketika terjadi pertempuran antara Kerajaan Banten dengan kompeni Belanda, Syekh Yusuf berpihak pada Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam peperangan itu, kompeni dibantu oleh Sultan Haji. Saat Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap Belanda, Syekh Yusuf menggantikannya, ia memimpin pasukan dengan gagah berani, bergerilya melawan kompeni di hutan rimba Jawa Barat hampir dua tahun lamanya.

Perlawanan Syekh Yusuf bersama Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan kompeni, diuraikan F. de Haan dalam bukunya“Priangan Jilid III”, menceritakan tentang pengepungan dan pengejaran laskar-laskar Banten, termasuk Syekh Yusuf saat melakukan taktik perang gerilya. Disebutkan bahwa pada bulan Januari 1683, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Kidul mengadakan perang gerilya di daerah Tangerang. Dari Tangerang kemudian ke Cimuncang, lalu ke  Jasinga dan terus menyusuri Sungai Cidurian.

Kompeni memerintahkan Van Happel untuk mengejar gerilyawan itu. Dari daerah Jasinga, Syekh Yusuf menuju ke arah timur, tepatnya Jakarta Selatan untuk tujuan ke Cirebon. Pada tanggal 11 Februari 1683, Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukannya menuju Cikaniki, hingga tak terkejar oleh kompeni karena rintangan alam. Dari daerah Cikaniki, Syekh Yusuf menuju Cianten lewat Cisarua dengan membawa pasukan kurang lebih 5.000 orang, termasuk 1.000 orang Makassar, Bugis dan Melayu.

Pada tanggal 25 September 1683 di Padaherang, istri serta puteri Syekh Yusuf ditangkap kompeni, sedangkan Pangeran Kidul beserta pembesar Banten lainnya gugur di medan peperangan. Menyusul  putrinya yang bernama Asma ditangkap. Akhirnya pada tanggal 14 Desember, setelah Syekh Yusuf membuat pertahanan di daerah Mandala, Van Happel dengan berpakaian Islam menggunakan putri Syekh Yusuf yang dijadikan tawanan sebagai siasat.

Atas desakan Van Happel, putrinya diminta untuk membujuk  Syekh Yusuf agar keluar dari persembunyiannya. Alhasil, Syeikh Yusuf menebus putrinya dengan menunjukkan batang hidungnya. Saat itu pula Van Happel menangkap Syekh Yusuf untuk segera dibawa ke Cirebon, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Betawi (Jakarta). Sementara itu pasukannya yang terdiri dari orang-orang Makassar dan Bugis dikembalikan ke Sulawesi.

Pada tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon. Selama pengasingannya di Ceylon, ia isi waktunya dengan menulis karangan-karangannya yang dikirim melalui jamaah haji ke Indonesia. Ia juga mengajar tarekat Khalwatiyah. Kini, murid-muridnya tersebar mulai dari Banten, Sulawesi Selatan, Caylon, hingga Cape Town. Tak banyak riwayat hidup Syekh Yusuf yang terungkap ketika berada di Ceylon.

Dari pembuangannya di Ceylon kemudian dipindahkan ke Cape Town pada 7 Juli 1694 bersama 49 orang pengikutnya. Di sana pula, Syekh Yusuf menghabiskan waktunya dengan menulis. Karangan-karangannya di Afrika Selatan sampai sekarang belum ditemukan.

Riwayat hidup Syekh Yusuf di Cape Town (Afrika Selatan) mulai diceritakan oleh I.D du Plessis dalam bukunya “Die Bydrae van die Kaapse Maleier tot die Afrikaanse Volkslied” tahun 1935. dikatakan bahwa Syekh Yusuf adalah peletak dasar dari keberadaan Islam di Afrika Selatan. Syekh Yusuf wafat tahun 1699, sedangkan pengikut-pengikutnya masih tetap tinggal di Cape sampai tahun 1704. Sesudah tahun ini, diaturlah pengiriman kembali keluarganya ke Makassar, kecuali seorang anggota yang sudah menikah diizinkan tetap tinggal.

Sejak pengasingannya dipindahkan dari Ceylon ke Afrika Selatan, ketika itu pula penguasa kompeni Belanda berusaha mengikis habis pengaruh Syekh Yusuf di Makassar dan Banten. Berbagai cara dilakukan untuk memalingkan perhatian rakyat, terutama bekas anak buahnya di Priangan dan yang dikembalikan ke Sulawesi setelah Syekh Yusuf ditangkap.

Ketika murid-murid tarekat Yusuf amat menghormati murabbi-nya itu, penguasa kompeni mulai melancarkan siasahnya dengan mengaburkan ide perjuangan Syekh Yusuf, bahkan namanya diedarkan di kalangan rakyat dengan segala macam cerita kegaiban, dibungkus dengan berbagai paham-paham mistis, seolah-olah kegigihan Syekh Yusuf melawan kompeni tak pernah ada. Belanda menggunakan taktik untuk menekan pergolakan dan permusuhan terhadap kompeni atas pengaruh sebuah nama.

Usaha ini untuk beberapa waktu memang berhasil, dengan terciptanya hegemoni di darat dan lautan. Namun, kemasyhuran seorang Syekh Yusuf telah melampai batas benua. Sehingga kebesaran Syekh Yusuf, tak lagi menjadi milik bangsa Indonesia, atau sekadar pahlawan nasional, tapi sudah mendunia. Sampai-sampai makamnya berada di dua tempat, yakni di Afrika Selatan dan di Lakiung (Gowa), selalu ramai diziarahi. Syekh Yusuf yang masyhur sampai ke empat negeri, membuat ia dikenal oleh para peneliti dengan nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Maqassariy al-Bantaniy.

Berkembang Mitos
Syekh Yusuf wafat 23 Mei 1699 wafat didesa Maccasar, 40 km dari Cape Town dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan dibukit desa yang terletak di Teluk False. Karena desakan keluarga, maka 6 tahun kemudian VOC membawa keranda beliau menyeberangi samudera lalu dimakamkan di kampung halamannya di Lakiung. Ketika itu keranda Syekh Yusuf dibawa bersama oleh keluarganya dengan kapal de Spiegel yang berlayar langsung dari Kaap (Cape) ke Makassar.

Setelah disemayamkan di Istana Raja Gowa selama sehari semalam untuk memberi kesempatan kepada sanak keluarganya mengucapkan doa perpisahan terakhir, keesokan harinya, Syekh Yusuf dimakamkan di Lakiung pada hari Selasa, 6 April 1705 dengan upacara kebesaran  kaum bangsawan.

Sayang, Syekh Yusuf yang dikenal sebagai ilmuwan, pengarang dan pahlawan pertempuran melawan kolonialisme pada abad ke-17 ini, kuburannya jadi tempat bernazar serta berdoa memohon murah rezeki, enteng jodoh, pangkat, kesehatan, dan panjang umur. Masyarakat setempat menyebutnya makam Tuanta Salamuka. Ada pula yang menyebutnya Tuan Karamat. Setelah dibangun kubah, masyarakat menyebutnya Kobangga.

Kisah-kisah yang beredar di daerah asal mengenai pejuang besar ini, banyak diwarnai aroma mitos, mistis, legenda dan a-historis. Bahkan di Cape Town sendiri, bermacam-macam dongeng bisa didengar seputar hal-hal yang tidak rasional. Oleh pembawa kisah, Syekh Yusuf digambarkan sebagai sosok yang memiliki kesaktian mampu terbang melayang dan berjalan di atas lautan.

Pemerintah kolonial sepertinya sengaja membesar-besarkan berbagai dongeng tanpa dasar tarikh. Syekh Yusuf diredusir kebesaran pribadinya yang sejati, kedalaman ilmunya sebagai ulama dan kepemimpinan anti-kolonialnya yang gagah berani, diperkecil sehingga cukuplah semata-mata menjadi tokoh keramat yang kabur sosok teladannya. Padahal seorang Nelson Mandela pernah menyebut tokoh besar ini sebagai putera Afrika, pejuang teladan.

Selama di Banten dan pembuangan di Ceylon (1684-1693), Syekh Yusuf telah mewarisi risalah sebanyak 29 judul. Kebanyakan karya yang ditulisnya adalah ilmu tasawuf dan tarekat. Namun, sayang, tidak banyak orang yang membacanya. Bahkan ironinya, naskah-naskah itu terlantar 300 tahun lamanya, bisa dikatakan belum diterjemahkan dan belum dibaca oleh bangsanya sendiri. (Desastian/voa-islam/voa-khilafah.co.cc)

KH. ALI BAYANULLAH, AL HAFIDZ, Ulama Sumedang "Ketemu Setelah 15 Tahun Mencari"

Voa-Khilafah.co.cc - “Khilafah itu pernah ada, tapi kapan runtuhnya? Semua imam mahzab menyatakan mendirikan khilafah itu fardhu kifayah, tapi mengapa Arab kerajaan, Indonesia republik, dan negeri Muslim lainnya pun tidak ada yang menerapkan khilafah?"


Dua pertanyaan itu muncul dibenak, tatkala membaca bab imamah atau bab khilafah ketika aku diamanahi memegang kunci perpustakaan Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, saat aku nyantri di ponpes pimpinan KH Maimun Zubair itu.

Saat itu, saya benar-benar haus ilmu. Maka kulahap kitab-kitab yang ada, bahkan kitab-kitab yang besar pun kubaca. Kemudian aku berpikir, mengapa bab khilafah adanya di kitab-kitab besar, kalau di kitab-kitab kecil jarang sekali? Adanya di kitab Fathul Wahab karya Syeikh Zakaria Al Anshori. Dan itu memang dijelaskan ada.

Di kitab Bisarwani juga ada. Begitu juga dalam kitab Hayatul Hayawan tapi di situ tidak sampai Bani Ustmaniyah, ke Bani Fatimiyah juga tidak sampai, cuma sampai Bani Abasiyah. Dalam kitab bisyarahnya Fathul Wahab seperti Fujairrumi Wahab juga dijelaskan masalah imamah, tetapi sayangnya tidak dijelaskan secara rinci bagaimana cara pengangkatan seorang khalifah dan lain sebagainya?

Itu yang membuat penasaran, ingin mengetahui. Dari buka-buka kitab itu ditambah pengetahuanku ketika di sekolah belajar sejarah Islam itu, di situ khilafah dibahas mulai dari Khulafaur Rasyidin kemudian Bani Umayah dan Bani Abasiyah.

Saya ingin mengetahui sejarah khilafah dan bagaimana hancurnya. Dan bagaimana hubungannya ketika dulu, pada masa Nabi Muhammad SAW, kemudian diganti masa Khulafaurrasyidin, terus Bani Umayah dan Bani Abasiyah.

Lantas ke mana ini khalifah? Sekarang kok tidak ada di dunia Islam. Itulah yang menjadikan saya terus penasaran. Karena apa? Karena khilafah itu yang aku baca di kitab-kitab ketika di pesantren itu, ternyata wajib. Fardhu kifayah ini, semua imam mazhab menyatakan wajib tetapi mengapa sekarang tidak ada? Namun sayang, tidak ada satu pun kyai dan ustadz dapat memberikan jawaban yang dapat memuaskan rasa penasaranku.

Menemukan Jawaban

Tahun 1993, saya kembali ke kampung halaman, menikah dan mengamalkan ilmu yang saya dapat saat nyantri. Rasa penasaranku tidak hilang, namun saya pun bingung harus bertanya pada siapa? Terpaksa saya pendam sendiri.

Suatu hari pada tahun 2002, ketika melintas Jalan Pamager Sari, Sumedang saya benar-benar dikagetkan dengan adanya spanduk yang bertuliskan "syariah" dan "khilafah" membentang di atas jalan.

Nah, penasaranku membuncah kembali. Tapi aku bingung, siapa yang memasang spanduk ini? Satu-satunya indikasi hanya kata "Hizbut Tahrir" berarti yang memasang spanduk ini Hizbut Tahrir? Tapi apa itu Hizbut Tahrir? saya pun penasaran. Namun sayang, setiap orang yang kutemui dan kutanya, tidak ada yang mengenal "Hizbut Tahrir" itu.

Aneh, ada spanduk tetapi tidak ada orangnya. Padahal saya sangat berharap dari Hizbut Tahrir itulah pertanyaanku dapat terjawab. Sejak saat itu, pertanyaan yang menghantui benakku bertambah satu lagi, apa itu Hizbut Tahrir? Tapi lagi-lagi harus saya pendam sendiri karena orang-orang di sekelilingku tidak ada yang dapat memberikan petunjuk.

Sampailah pada suatu saat di tahun 2005, seorang pemuda bernama Acep Muhyiddin bertandang ke rumah saya. Ia menyatakan ingin bersilaturahmi. Namun betapa kagetnya saya ketika dia memperkenalkan diri bahwa dia adalah aktivis Hizbut Tahrir! Alhamdulillah, betapa senangnya saya.

Saya pun bertanya tentang Hizbut Tahrir dan khilafah. Subhunallah, meski lelaki itu berperawakan kecil, ilmunya sangat besar. Saya pun langsung kagum dengan jawabannya yang begitu gamblang terkait dua pertanyaan besarku itu.

Begitu rinci ia menjelaskan bahwa khilafah itu berdiri selama 13 abad, terhitung sejak Daulah Islam berdiri di Madinah ketika Rasulullah SAW hijrah, kemudian diteruskan oleh Khulafaurrasyidin, Bani Umawiyah, Bani Abbasiyah, dan berakhir pada 1924 saat ibukotanya berada di Turki pada masa Bani Utsmaniyah.

Keruntuhan itu terjadi bukan saja lantaran kemunduran kaum Muslim dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang mulia tetapi juga lantaran adanya konspirasi keji bangsa kafir penjajah Inggris dan para pengkhianat termasuk Mustafa Kamal Attaturk laknatullah. Sedangkan, Hizbut Tahrir adalah kelompok di antara kaum Muslim yang berjuang untuk mengembalikan tegaknya khilafah itu.

Di kesempatan berikutnya, ia datang kembali membawa kitab yang menjelaskan konspirasi meruntuhkan khilafah yakni kitab Kayfa Hudimat al Khilafah karya Syeikh Abdul Qadim Zallum.

Subhanallah, dari penjelasan sang aktivis dan kitab karya amir kedua Hizbut Tahrir itu terjawab sudah teka teki yang ada di dalam benak saya selama 15 tahun itu. Kemudian saya pun mendapatkan berbagai kitab lainnya yang diterbitkan Hizbut Tahrir. Dari situ, saya yakin tidak ada alasan untuk menolak ajakan Hizbut Tahrir untuk sama-sama berjuang menegakkan syariah dan khilafah.

Berdakwah

Sejak itu, saya sampaikan kepada yang lain yang datang ke Darul Bayan (majelis taklim dan tahfidz Alquran asuhannya—red) bahwa saya punya kitab-kitab Hizbut Tahrir, bila isinya bertentangan dengan kitab-kitab pesantren maka saya orang pertama yang akan menentangnya. Tapi kalau memang cocok dengan kitab yang saya jadikan patokan, ayo sama-sama kita dukung perjuangan Hizbut Tahrir.

Tapi sayang, tidak semua kyai, ustadz dan ajengan yang saya ajak menyambut ajakanku. Hanya sebagian saja di antara mereka yang mendukung. Kujelaskan pada mereka, bukankah kitab-kitab Hizbut Tahrir itu cocok dengan kitab-kitab yang selama ini kita pelajari di pesantren seperti Fathul Wahab, Fujurrami, Fujurrami Itsna, Sarwani, Muradhatut Thalibin.

Itu kan kitab-kitab yang tidak asing karena dikaji di pesantren. Itu yang saya ambil sebagai patokan. Ternyata semuanya malah sama."Jadi mengapa kita harus menolak ajakan Hizbut Tahrir?" ujarku pada mereka.
 
Yang menolakku itu setidaknya ada tiga tipe. Pertmaa, yang tidak percaya diri. Sebenarnya sebagian senang dengan ajakanku."Sebenarnya memang harusnya begitu. Ini memang harusnya diubah, hukum di kita ini harus diubah dengan Islam, ya tapi monggo woe, saya belum mampu," ujar mereka.

Kedua, mereka itu menjalankan agama bukan mengikuti manhaj agama, tapi yang diikuti itu adalah figur. Padahal saya sudah banyak memberikan dalil tentang bagaimana wajibnya khilafah kepada ustadz-ustadz, ajengan-ajengan itu. Mereka jawab, "Ya ini dalil tidak salah, cuma pemahaman Anda yang salah" Tapi ketika ditanya pemahaman yang benar terhadap dalil tersebut itu seperti apa, mereka tidak bisa jawab.

Bahkan ada yang berkata, "Ya pokoknya kita sudah punya guru lah” Tetapi ketika ditanya penjelasan gurunya seperti apa? Dia diam saja. Mungkin mereka anggap perjuangan khilafah ini perjuangan yang nyeleneh yang tidak pernah diperjuangkan oleh guru-guru mereka. Ini yang saya tangkap dari pemahaman mereka.

Yang ketiga, khawatir kehilangan jamaah. Saya katakan kembali kepada mereka jadi salah besar kalau sistem khilafah itu ide Hizbut Tahrir. Ini bukan ide Hizbut Tahrir tapi itu syariah Islam yang telah hilang kemudian dimunculkan kembali oleh Hizbut Tahrir. Jadi mestinya perjuangan khilafah itu harus diawali dari pesantren. Karena kitab-kitabnya itu banyak di pesantren itu. Nah itu yang menjadi keherananku, kenapa tidak muncul dari pesantren?

Mereka yang menolak ajakanku itu malah tidak datang lagi, aku pun tidak diundang lagi untuk acara-acara di pesantren mereka. Namun, saya tidak berputus asa. Saya tetap mengajak mereka dan umat untuk turut berjuang bersama Hizbut Tahrir. Allahu Akbar!

Oleh : joko prasetyo/seperti yang dituturkan KH Ali Bayanullah



Biodata Singkat Al Hafidz Pejuang Khilafah

Nama  : KH Ali Bayanullah, Al Hafidz
Lahir  : Sumedang, 1967
Pendidikan :
1975-1978 Madrasah Ibtidaiyyah, Sumedang, Jawa Barat
1978-1981 Madrasah Tsanawiyah, Surnedang, Jawa Barat
1981-1987 Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat
1987-1991 Pondok-Pesantren Al Anwar (KH Maimun Zubair), Sarang, Rembang, Jawa Tengah.
1991-1993 Ponpes Tahfidz Alquran Darul Furqah; (KH Abdul Qadir Urnar Basyir), Janggalan, Kudus; Jawa Tengah

Jabatan  : 1993-sekarang
Pimpinan Majelis Taklim wal Tahfidzil Quran Darul Bayan, Citeureup, Sumedang, Jawa Barat

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

SEPUTAR RAMADHAN

TSAQOFAH ISLAM

FIKIH

HADITS

TAFSIR AL QUR'AN

NAFSIYAH

HIKMAH

NASYID

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

AL-ISLAM

DAKWAH

ULAMA

SEJARAH

DOWNLOAD

ARTIKEL