SUFI PUN BERPOLITIK DAN BERJIHAD




Ada beberapa pendapat yang menolak Syariat Islam tegak yaitu bahwa dalam beragama Islam yang penting itu adalahhakikat dan makrifat (dekatnya Allah dengan hamba-Nya), sedangkan orang yang bergelut pada tataran Syariat ( memperjuangkan Syariat Islam tegak ) adalah orang yang ilmu agamanya rendah dan hanya terjebak pada dalil-dalil Al Quran dan Sunnah.

Mereka berpendapat bahwa Syariat Islam tidak penting, dan tidak harus ditegakkan, dengan alasan ajaran Tasawuf adalah ajaran paling benar dan paling hakiki. Ketika orang sudah mendalami ajaran makrifat ini maka syariat tidak penting, bahkan ada yang mengatakan bahwa kalau sudah tahap makrifat, maka sholat sudah tidak wajib.

ANTARA SYARIAT, HAKIKAT DAN MAKRIFAT


Tarian Sufi ( Wirling Darwis )

Sufi sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, yaitu sophia ( cinta ), yang kemudian akibat penguasaan kekaisaran Bizantium yang bereroma Yunani di sebagian timur tengah, kata sophiadiaalih bahasakan ke bahasa Arab.

Oke tanpa ingin memecah belah umat Islam, maka penulis akan sedikit mengkoreksi paham sufi kontemporer ( saat ini ), yang sebenarnya berbeda dengan sufi jaman dahulu, yang senantiasa melaksanakan Syariat-Nya, dan juga berjihad di jalan-Nya.

Di sini penulis akan mengikuti nalar orang-orang yang menolak Syariat, dengan alasan mereka sudah mencapai derajat makrifat ( dekat dengan Allah Swt ). 




Mereka mengklasifikasikan Syariat sebagai kulit, Hakikat sebagai daging dan Makrifat sebagai isi. Mereka mengklaim jika sudah pada tahap isi maka daging dan kulit tak perlu lagi, sehingga tak usah mengurusi masalah Syariat, dan dalil-dalil-Nya.

Ajaran Islam terdiri dari akidah dan Syariat, syariat Islam adalah aturan Allah Swt untuk seluruh manusia di dunia ini. Syariat Islam harus ditegakkan oleh umat Islam, dan Allah menghedaki itu, serta tidak selayaknya manusia sebagai hamba Allah yang paling lemah menggunakan banyak alasan untuk menolak tegaknya Syariat Islam secara kaffah ( menyeluruh ).

Jika kita mengikuti klasifikasi mereka yaitu Syariat sebagai kulit, Hakikat sebagai daging, Makrifat sebagai isi, maka kita akan dapat sebuah logika yang logis yang bisa mematahkan logika mereka yang menolak penegakan Syariat Islam dengan alasan yang penting makrifat ( isi ). Kulit adalah pelindung, tanpanya daging dan isi pasti rusak, kalau gak percaya, silahkan buah mangga mentah dikupas dan dibiarkan, paling 2 hari busuk, tapi coba kalau tidak dikupas, pasti tahan lebih lama. Itu karena kulit buah mangga sebagai pelindung. Begitu juga dengan Syariat yang diibaratkan kulit, jika tidak ada syariat bagaimana hakikat dan makrifat bisa benar. Syariat diibaratkan benteng untuk mempertahankan apa saja di dalamnya dari serangan musuh dari luar, lha kalau bentengnya gak ada bagaimana isi di dalamnya bisa aman dari serangan musuh?. Mencari kedekatan dengan sang pencipta Allah Swt tentu saja pakai Syariat, bukankah sholat itu Syariat, puasa itu syariat, masa gak sholat gak puasa kok tiba-tiba ingin dekat dengan Allah Swt, nglindur kali...

Buat apa Nabi Muhammad Saw mendakwahkan Islam kepada masyarakat Arab Jahiliyyah, menegakkan Syariat Islam, hingga masyarakat Arab yang jahiliyah berubah menjadi masyarakat Arab yang beradab dan maju. Itu artinya Syariat itu sangat penting.
Untuk mencapai hakikat dan makrifat wajib mentaati syariat, mustahil mencapai derajat kedekatan hamba dengan Allah tanpa taat kepada Syariat.

SYAIKH YUSUF AN NABHANI, ULAMA, SUFI YANG BERPOLITIK





Beliau adalah kakek dari pendiri Hizbut Tahrir yaitu kakek dari Syaikh Taqiuddin an Nabhani, beliau berasal dari kabilah ( suku ) Nabhan, yaitu sebuah suku Arab badui ( kampung ) yang tinggal di desa Ijzim di Palestina. Beliau lahir pada tahun 1849. Beliau hidup pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah.

Syaikh Yusuf An Nabhani adalah ulama yang dikenal sangat alim, cerdas, takwa, dan ahli ibadah. Syaikh Yusuf An Nabhani biasa mengkhatamkan Al Quran 3 kali seminggu ( kalau kita boro-boro ). Beliau juga hafal Al Quran, ilmu menghafal Al Quran didapatkannya dari ayahnya yaitu Syaikh Ismail bin Yusuf An Nabhani. 

Selesai mengkhatamkan hafalan Al Quran, beliau kuliah di universitas Al Azar di Kairo Mesir. Beliau belajar dari berbagai ulama-ulama terkemuka dan terkenal. Dari mereka Syaikh Yusuf mampu mereguk samudra ilmu, dan kebijaksanaan tingkat tinggi.

Karir Politik Syaikh Yusuf An Nabhani
Sebagai ulama dan sufi ( orang yang selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah ), Syaikh Yusuf pun ingin mendarma baktikan ilmunya untuk kemaslahatan umat Islam, maka ketika namanya semakin terkenal, dan banyak orang yang menyukainya, akhirnya beliau diangkat sebagai Qadhi ( Hakim ) pengadilan tinggi di Beirut Libanon oleh Khalifah Abdul Hamid II ( Khalifah Utsmaniyah ), dan selanjutnya karir beliau berlanjut sampai menjadi hakim tertinggi Negara Khilafah.

Walaupun sibuk mengurusi amanah politik yang dibebankan kepadanya, namun beliau masih tetap menulis berbagai macam kitab, seperti kitab-kitab yang berisi pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad Saw, yang sebagian diantaranya menjadi amalan warga Nahdiyin ( NU ).


Syaikh Taqiuddin, sang cucu

Sebagai seorang yang sangat alim, beliau juga diyakini mendapat ilham kebenaran dari Allah Swt, sehingga kitab-kitab beliau mempunyai kandungan ilmu yang tinggi. Selain kitab-kitab pujian dan cara mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, beliau juga menyusun kitab-kitab sejarah, hadis, dan pembelaan-pembelaan terhadap Islam dari racun sekulerisme yang merambah dunia Islam pada akhir masa Khilafah. Syaikh Yusuf juga menjadi pembela Manhaj Sufi yang selalu ditentang oleh beberapa kelompok seperti Wahabi, dan beliau juga bertentangan dengan kelompok Ibnu Saud yang bernafsu ingin menguasai seluruh Jazirah Arab.

Syaikh Yusuf An Nabhani memang ulama sufi, namun beliau tetap berkarir di bidang politik, tentu saja bukan politik sampah busuk ala pemerintah sekuler jaman sekarang yang isinya Cuma korupsi, sogok sana sogok sini, Nazaruddin, Gayus Tambunan dan mafia-mafia hukum, politik dan sebagainya, namun politik Islam yang merupakan sistem politik sejati yang sepenuhnya mengurusi kepentingan rakyat, dan mengabdi sepenuhnya dalam mengemban amanah umat.


Beliaulah yang berjasa membentuk karakter cucunya Syaikh Taqiuddin An Nabhani sebagai seorang pejuang penegakan kembali Khilafah yang telah runtuh pada tahun 1924.

SYAIKH AAQ SYAMSUDDIN, ULAMA, SUFI YANG MENGOBARKAN JIHAD




Saya yakin engkaulah penakluk Konstantinopel”, demikian kata-kata dari pria yang sudah cukup berumur kepada seorang anak kecil berusia 6 tahun, muridnya. Syaikh Aaq Syamsuddin, demikian orang mengenalnya, beliau adalah ulama besar Khilafah Utsmani sekaligus guru ngaji Muhammad putra Sultan Murad II sejak kecil. Muhammad ini ketika menjadi Sultan dia bergelar Muhammad II, dengan harapan benar-benar menjadi tokoh seperti Nabi Muhammad, atau menjadi Muhammad yang kedua. Setelah menaklukan Konstantinopel, Sultan Muhammad diberi gelar Al Fatih. Kalau dinasab ( disilsilahkan ) Syaikh Aaq Syamsuddin masih keturunan sahabat Abu Bakar Asy Syidiq. Beliau adalah ulama dan sekaligus Imam Besar dan guru ayah Muhammad yaitu Sultan Murad II.

Tidak diketahui secara lengkap Biografi Syaikh Aaq Syamsuddin, atau orang Turki menyebutnya Syekh Aaq Samsetin. Namun beliau adalah ulama sufi, sosok manusia yang zuhud atau tidak tergila-gila pada dunia, mulutnya selalu mengucap zikir dan pujian kepada Allah Swt, sangat alim, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ibadah Sunnah, Sebuah Sarana Untuk Semakin Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt





Beliau selalu berpesan kepada murid-muridnya yang kebanyakan adalah calon pemimpin umat seperti si kecil Muhammad untuk senantiasa melaksanakan ibadah-ibadah sunnah selain ibadah wajib yang harus dikerjakan, seperti Shalat Rawatib, Tahajjud, puasa senin kamis. Bekal dari bimbingan dari seorang ulama besar sekelas Syaikh Aaq Syamsuddin inilah, muncul para pemimpin umat yang sejati salah satunya adalah Muhammad Al Fatih. Intinya gak kaya jaman sekarang, pemimpin umat hanya menjadi badut-badut politik, tahunya perutnya sendiri, urusan rakyat...au ah gelap, yang penting dirinya selamet kalau korupsi, yah karena sistemnya saja sekuler, gimana mau bener.


Badut-badut politik tidak pantas memimpin umat

Dengan bekal ajaran mendekatkan diri kepada Allah dari sang guru inilah Muhammad berhasil membentuk sebuah kesatuan pasukan elit yang disebut Inkisaria, pasukan dengan tingkat ketakwaan dan akhlak mulia, pasukan yang tak pernah meninggalkan sholat Tahajjud dan Rawatib, jaman sekarang ada pasukan kaya gitu???.

Karena selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt sedekat-dekatnya, maka Syaikh Aaq Syamsudin pun mendapatkan ilham kebenaran dari Allah, bahwa muridnya yaitu si kecil Muhammad kelak akan menaklukan Konstantinopel, dan membuktikan bisyarah Rasulullah Saw. 

Pengobar Semangat Jihad





Perkiraan Syaikh Aaq Syamsuddin pun dengan ijin Allah benar-benar terjadi, 17 Tahun kemudian tepatnya Jumat 29 Mei 1453,  Kota Konstantinopel berhasil ditaklukan. Sultan Muhammad Al Fatih beserta gurunya Syaikh Aaq Syamsuddin yang selama ini mendampinginya dalam Berjihad menaklukan Konstantinopel, memasuki Kota Bekas Romawi Timur itu.

Tentu saja dalam perang menaklukan Konstantinopel, Syaikh Aaq Syamsuddin selalu mendampingi muridnya, menyalakan dan mengobarkan semangat Jihad kepadanya, dan selalu mengingatkan bahwa mati di jalan Allah itu adalah mati syahid yang akan berbuah Surga di akhirat.

KESIMPULAN




Dalam Islam beribadah tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus bermanfaat bagi orang lain, makanya ada kewajiban zakat. Coba bayangin, kita sehari-hari hanya berzikir saja tapi kita tidak peduli pada rakyat sekitar yang menderita dan butuh solusi yang tepat atas penderitaan mereka, atau kita hanya mengejar hakikat dan makrifat semata, namun kita cuek kepada kaum muslim Palestina yang dibantai dan dibombardir Israel setiap harinya, atau kaum muslim Afganistan, Irak, Xinjiang dan lainnya yang menghadapi teror demi teror dan pembunuhan dari penjajah kafir, mungkinkah kita bisa mendapat cinta dari Allah yang berupa makrifat kalau kita cuek kepada nasib saudara seiman kita??.

Sebagaimana kisah salah satu murid Nabi Musa As yang kesehariannya hanya berzikir di Gua, sampai gua itu bersinar, namun ketika Nabi Musa bertanya kepada Allah Swt, mau dimasukkan kemana murid saya yang setiap hari hanya berzikir kepada-Mu, lalu Allah Swt menjawab, akan dimasukkan ke neraka. Kemudian hal itu disampaikan oleh Nabi Musa kepada muridnya, dengan sedih muridnya harus menerima kenyataan itu, namun ia memberikan syarat jika ia dimasukkan neraka, maka tolong tubuhnya dibesarkan sampai memenuhi neraka, sehingga tak ada manusia lain yang bisa masuk neraka, saat itu juga Allah Swt menjanjikan Surga kepada murid Nabi Musa itu.( buku Kisah-kisah teladan, Muhammad Thariq ).

Tentu saja karena agama Allah itu adalah sebuah sistem pengaturan kehidupan manusia, sehingga diharapkan ketika manusia beribadah menyembah-Nya tidak hanya terbatas pada ibadah ritual semata, tetapi juga memikirkan saudaranya, dan umatnya, dengan apa??, yah dengan sistem Syariat Islam yang sudah diturunkan oleh Allah Swt kepada manusia yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada murid Nabi Musa yang dianggap beribadah tapi tidak memikirkan orang lain, sehingga diancam neraka oleh Allah Swt, namun setelah dia meminta agar tubuhnya dibesarkan ketika masuk neraka agar tak ada manusia lain yang bisa masuk neraka, maka Allah justru memberikan Surga kepadanya, karena kali ini dia mau memikirkan nasib orang lain.
Rasulullah Saw bersabda “ Barang siapa yang bangun pagi tapi tidak memikirkan urusan umatku, maka ia bukan umatku”. HR. Bukhari.


Zuhud tidak harus meninggalkan segala macam kekayaan, justru dengan kaya kita bisa membayar Zakat, infak, sodaqoh, berangkat Haji dan sebagainya


Zuhud dunia tak berarti meninggalkan urusan dunia sama sekali, tapi tetaplah mencari dunia sebagai bentuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana para sufi ( apalah istilahnya jaman) pada dahulu, mereka tetaplah memikirkan dunia yaitu memikirkan umatnya, kemaslahatan rakyatnya, tetaplah mereka mencari harta untuk dibelanjakan di jalan Allah demi mendekatkan diri mereka kepada Allah Swt. (spiritofbeyond/voa-khilafah)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers